Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi: Bercerai Dari Suami Brengsek Jatuh Ke Pelukan Vilain

Cerai

Rasa sakit terakhir yang diingat Celeste Seraphina bukanlah suara jeritan ketakutan, melainkan getaran sengit peluru berkaliber tinggi yang menembus tengkoraknya secara telak di sebuah gang gelap gulita di distrik pelabuhan.

Sebagai seorang bodyguard profesional dengan lisensi militer tertingginya, Celeste tidak pernah menyangka akhir hidupnya akan semengenaskan itu. Ia gugur bukan karena kalah bertarung secara fisik, melainkan demi menyelamatkan nyawa nona muda yang ia kawal. Ia dibius, dikepung selusin orang bersenjata laras panjang, dan tewas seketika saat timah panas menembus kepala.

Maka, ketika kesadaran itu kembali, hal pertama yang memicu kebingungannya bukanlah bunyi alarm rumah sakit atau bau antiseptik yang menyengat. Melainkan sensasi basah yang asing, hangat, dan lengket di antara kedua pahanya.

(Sial... kenapa rasanya aneh banget? Kepala gue ditembak, tapi kenapa bagian bawah gue yang berdarah?) batin Celeste meronta dalam gelap, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa amat berat bagaikan ditimpa beban berton-ton.

Ia tidak langsung sadar sepenuhnya. Tubuh itu ambruk kembali dalam kegelapan, terlelap selama dua hari penuh dalam demam tinggi dan rasa sakit luar biasa yang mengoyak perut bagian bawahnya.

Ketika ia akhirnya benar-benar membuka mata pada hari ketiga, pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit apartemen minimalisnya, melainkan kamar mewah bergaya Victorian klasik yang bernuansa kelam dan menyesakkan.

Ingatan-ingatan asing mendadak menghantam kepalanya. Rasa sakit langsung membuat Celeste tanpa sadar mencengkeram rambutnya dengan kuat.

Di ambang kesadarannya di atas ranjang itu, Celeste sempat bermimpi melihat sosok Orielle. Dalam mimpi tersebut, bayangan Orielle yang asli menatapnya dengan air mata berlinang, berbisik lirih penuh keputusasaan, "Tolong bantu aku... aku sudah tidak sanggup lagi." Setelah itu, bayangan tersebut melangkah pergi ke dalam kabut, meninggalkan tubuh kosong yang langsung diambil alih sepenuhnya oleh jiwa Celeste Seraphina.

"Nona... Anda sudah sadar?"

Suara isakan tertahan yang gemetar membuyarkan lamunan Celeste. Ia menolehkan kepala secara perlahan ke samping tempat tidur. Seorang perempuan sekitar tiga puluh tahunan berambut dikepang rapi dengan balutan seragam pelayan berdiri di sana, menatapnya dengan mata bengkak penuh air mata kecemasan.

Dia adalah Serena, pelayan pribadi setia yang sudah merawat Orielle sejak gadis itu belum menikah—satu-satunya manusia waras dan berhati tulus yang tersisa di dalam rumah neraka ini.

"Serena..." panggil Celeste, suaranya terdengar serak parah. Tenggorokannya terasa kering seperti ampas kopi.

Serena langsung menghambur maju, menggenggam jemari Celeste yang terasa dingin. "Astaga, Nona... Saya sangat takut. Kehilangan darah sebanyak itu... Dokter pribadi yang saya panggil bilang... bayi dalam kandungan Nona tidak bisa diselamatkan. Nona keguguran..."

Celeste terdiam seribu bahasa. Tidak ada satu pun air mata yang tumpah dari manik matanya. Sebagai seorang mantan pengawal profesional yang terbiasa menghadapi medan maut, jiwanya tidak tersusun dari ratapan cengeng yang mudah patah. Tapi begitu kata "keguguran" itu meluncur keluar dari bibir Serena, gelombang kemarahan yang begitu pekat mendadak meluap-luap di dalam dadanya, membakar setiap jengkal urat nadinya.

Api kebencian yang menyala-nyala terpancar jelas di balik manik mata tajam milik Orielle. Sifat ramah, penakut, dan mudah diinjak-injak yang dulu melekat pada diri Orielle telah mati secara resmi bersama genangan darah di atas seprai sutra itu. Yang tersisa sekarang di balik raga tersebut adalah jiwa Celeste Seraphina—seorang petarung berdarah dingin yang siap merobek leher siapa saja yang berani mencari masalah dengannya.

(Anjing... bajingan keparat itu benar-benar membunuh bayinya sendiri!) batin Celeste menggeretakkan giginya hingga berbunyi, rahangnya mengeras sempurna.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Celeste langsung meraba nakas di sebelah ranjang, mengambil ponsel pintar milik Orielle, dan mendial satu nomor darurat yang sudah dihafalnya di luar kepala.

Nomor sahabat sejatinya, Cassandra.

Cassandra adalah satu-satunya teman Orielle sejak masa SMA di sekolah elit dulu—seorang gadis dengan latar belakang keluarga kaya raya yang sangat loyal, yang tidak pernah peduli pada status sosial Orielle yang jatuh miskin, dan tetap setia bersahabat hingga usia mereka menginjak dua puluh dua tahun ini.

“Halo? Cele? Ya ampun, tumben nelpon, kangen ya lo?” suara riang Cassandra langsung terdengar di seberang sana.

"Cassa. Kirim mobil apapun ke mansion Lucian sekarang juga," ucap Celeste tanpa basa-basi, nadanya begitu dingin, datar, dan penuh otoritas mutlak. "Yang muat buat ngangkut semua barang-barang gue. Dan carikan gue tempat tinggal baru hari ini juga. Gue mau cabut dari neraka jahanam ini."

Cassandra di seberang sana langsung terdiam seketika, merasakan ada hawa membunuh yang tidak beres dari intonasi suara sahabatnya. “Wait... Lo serius? Ada apa? Suara lo serem banget kayak mau bunuh orang.”

"Gue serius. Nanti gue ceritain semuanya. Cepetan," balas Celeste dengan mutlak, lalu langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Ia menoleh ke arah Serena yang masih berdiri ketakutan di samping ranjang.

"Serena."

"Ya, Nona?" jawab Serena cepat.

"Gue mau keluar dari rumah ini. Lo mau ikut gue, atau mau tetap tinggal di sini melayani bajingan keparat itu?" tanya Celeste to the point, menatap lurus ke dalam mata sang pelayan tanpa keraguan sedikit pun.

Serena terkesiap mendengar tawaran itu, namun sesaat kemudian ia mengangguk mantap dengan air mata yang kembali berlinang.

"Saya ikut Nona Orielle! Saya sudah muak melihat penderitaan Nona selama ini!"

"Bagus. Jangan nangis. Sekarang ambilkan makanan apa saja yang ada di dapur. Gue harus isi tenaga sebelum bikin perhitungan terakhir sama si bangsat itu."

Setelah menelan beberapa suap makanan untuk mengembalikan tenaga fisiknya yang sempat terkuras habis akibat kejadian diluar nalar yang terjadi.

Serena, pelayan setianya, tengah sibuk membereskan barang-barang di kamar tamu. Sementara Celeste duduk seorang diri di sofa beludru merah, menikmati makanannya dan menatap ke luar jendela kaca besar yang memperlihatkan lanskap kota malam hari.

Isi kepala Celeste berputar. Ia mencoba menyusun kembali kepingan ingatan yang kini menjadi miliknya.

Sebagai Celeste Seraphina, ia dulunya adalah seorang bodyguard yang hidup di dunia nyata, mati karena peluru menembus kepala saat melindungi nonanya. Namun, raga yang kini ia tempati adalah milik Orielle Celeste—karakter dari sebuah novel fiksi yang pernah ia baca, maki-maki, dan khatamkan sebelum ia mati.

(Lucu juga ya... Dulu gue cuma pembaca novel yang misuh-misu tiap baca kebodohan Orielle, sekarang malah gue sendiri yang harus nanggung beban hidupnya,) batin Celeste sinis, sudut bibirnya terangkat sebelah.

Di dalam ingatannya sebagai Orielle, hidup gadis malang itu benar-benar sebuah tragedi beruntun. Orielle yang asli adalah anak tunggal dari keluarga pemilik perusahaan besar. Namun, setelah kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis, seluruh aset dan perusahaan direbut paksa oleh pamannya sendiri tanpa sisa, meninggalkan Orielle sebatang kara dan jatuh miskin.

Demi bertahan hidup, Orielle terpaksa banting tulang bekerja sebagai pelayan kafe. Di titik terendah itulah ia bertemu dengan Lucian—pria brengsek yang merenggut kesuciannya. Bagi Orielle yang naif, Lucian adalah tempat bersandar satu-satunya, membuat gadis itu bucin setengah mati dan bertahan dalam pernikahan neraka meskipun diperlakukan layaknya sampah. Puncak dari kebodohan itu adalah ketika Orielle bertahan meski Lucian membawa selingkuhannya, Viona, tinggal bersama mereka.

(Bener-bener ya si Orielle asli ini definisi 'bucin tolol',) gerutu Celeste dalam hati, menghela napas panjang.

Ingatan Orielle tentang kehamilannya yang berujung pada penyiksaan keji oleh Lucian dan Viona kembali melintas, membuat genggaman tangan Celeste pada cangkir tehnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Kehilangan bayi itu adalah titik putus asa. Jiwa Orielle yang rapuh menyerah sepenuhnya, memberikan jalan bagi jiwa Celeste Seraphina untuk mengambil alih dan membalaskan semua penderitaan itu.

Sekarang, status Orielle sudah dipegang alih oleh Celeste sepenuhnya. Dendam Orielle adalah dendamnya juga, dan aturan main di dunia novel ini akan ia ubah dengan caranya sendiri.

Celeste bangkit berdiri dari tempat tidur. Langkah kakinya terasa ringan namun mematikan. Ia tahu betul seluk-beluk mansion itu dari ingatan Orielle, termasuk tempat penyimpanan barang-barang pribadi Lucian.

Dulu, Lucian selalu menggunakan surat cerai resmi yang sudah ditandatangani pria itu—sebuah surat yang sengaja disiapkan Lucian untuk sewaktu-waktu mendepak Orielle jika keluarga besarnya menuntut pembagian harta—sebagai alat ancaman.

Surat itu disimpan di dalam laci khusus di meja kerja pribadi Lucian yang terletak di lantai bawah.

Dengan langkah tegap tanpa rasa takut, Celeste berjalan menyusuri koridor mansion mewah berkarpet tebal tersebut. Begitu ia mendekati pintu ruang kerja Lucian yang kebetulan tidak tertutup rapat, suara-suara menjijikkan dan desah napas tertahan langsung terdengar begitu jelas dari dalamnya.

Celeste mendorong daun pintu kayu jati itu dengan kasar tanpa mengetuk sedikit pun.

Di dalam ruangan yang luas itu, pemandangan vulgar langsung menyambutnya. Lucian sedang duduk di atas meja kerjanya yang besar, sementara selingkuhannya yang bernama Viona—perempuan berambut pirang dengan dandanan tebal—duduk di pangkuan Lucian dalam posisi yang sangat panas dan tidak senonoh. Mereka sedang make out dengan liar, mengabaikan segala norma kesopanan di dalam rumah tempat istri sahnya baru saja kehilangan anak.

Celeste sempat membatin dalam hati sambil memutar bola matanya jijik, (Jir... gede juga tetek tu cewe, tapi sayang moralnya nggak ada dan nggak punya harga diri.)

Mendengar pintu terbuka secara kasar, Lucian dan Viona sontak menoleh ke arah pintu. Lucian merenggangkan pelukannya dengan wajah merah padam karena kesal, menatap Orielle dengan sorot mata penuh jijik dan kebencian luar biasa.

"Orielle! Berani sekali kamu masuk ruang kerja saya tanpa—"

Sebelum Lucian sempat merampungkan kalimat tegurannya, Celeste bergerak secepat kilat bak macan kelaparan. Tanpa membuang sepatah kata pun untuk berdebat, ia menerjang meja kerja, membuka laci yang dimaksud dengan sekali sentak bertenaga, menyambar selembar surat cerai resmi yang sudah ditandatangani, dan menggenggamnya erat.

Ia langsung mencengkeram kerah kemeja mahal Lucian dengan kuat, lalu menarik paksa wajah pria itu mendekat, menatapnya tajam tepat di sepasang bola mata Lucian yang membelalak kaget karena tidak menyangka Orielle berani melakukan ini.

"Gue pastikan lo bakal nyesel seumur hidup sampe lo mati, anjing," desis Celeste dengan suara rendah, penuh ancaman mematikan yang sukses membuat bulu kuduk Lucian meremang seketika.

Belum sempat Lucian memproses keterkejutannya, Celeste menggunakan seluruh memori pelatihan fisik miliknya sebagai mantan bodyguard profesional. Ia mencengkeram kuat tengkuk Lucian dan membanting kepala pria brengsek itu sekuat tenaga menghantam sudut keras meja kerjanya sendiri!

BGHAM !

Suara benturan keras menggema nyaring di seluruh sudut ruangan mewah itu. Darah segar seketika muncrat dari pelipis dan hidung Lucian yang remuk akibat hantaman tersebut. Pria itu mengerang kesakitan, terjatuh dari atas meja dan tersungkur di lantai marmer sambil memegangi wajahnya yang kini berlumuran darah.

Viona yang melihat kejadian mengerikan itu langsung memekik histeris sekencang-kencangnya, wajahnya pucat pasi ketakutan melihat Lucian tersungkur bersimbah darah di depannya.

Celeste melangkah mundur selangkah, merapikan lengan bajunya yang sedikit bergeser dengan tenang, lalu meludah jijik ke lantai tepat di dekat kaki Lucian. Ia menggenggam surat cerai di tangannya dengan senyum kemenangan kemenangan yang dingin.

"Nikmati sisa hidup lo, bajingan," ucap Celeste sarkas, lalu berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ke belakang lagi.

Nohhh buat yg suka cere!

Pindah

Di depan gerbang besi tinggi mansion Lucian yang dingin itu, sebuah sedan hitam berhenti tepat saat Celeste dan Serena melangkah keluar. Pintu pengemudi terbuka, dan sosok tinggi berjaket kulit melompat turun dengan langkah terburu-buru.

"Cele!"

Cassandra langsung berlari mendekat, matanya membelalak lebar menatap sosok sahabatnya yang dulu selalu tampak tertunduk lemah, kini berdiri tegak dengan dada membusung, sorot mata setajam pisau, dan surai rambut yang berantakan namun tidak lagi memancarkan ketakutan sedikit pun.

"Gila, lo beneran mau pindah?" seru Cassandra sambil langsung memeluk Celeste erat, lalu menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. "Muka lo pucat banget, tapi... kok kayak beda ya? Rasanya kayak liat orang lain yang pakai baju temen gue."

Celeste melepaskan pelukan itu, lalu menyeringai tipis. Ia melirik Serena yang membawa dua tas besar berisi barang-barang penting, lalu memberi isyarat agar pelayan itu masuk ke dalam mobil duluan.

"Gue cuma pengen coba gaya baru aja, Cassa," jawab Celeste santai, menyunggingkan senyum yang sama sekali tidak pernah terlihat di wajah Orielle asli. "Udah capek jadi orang tolol ketakutan tiap hari. Masa depan harus diubah."

Cassandra menggeleng-gelengkan kepala takjub, lalu membukakan pintu belakang untuk Celeste. "Gaya baru lo... serem tapi keren sih. Sekarang ikut gue. Gue kasih lo kunci apartemen gue yang di pusat kota. Lo tau kan gue masih tinggal di rumah besar sama orang tua, jadi tempat itu kosong terus, aman dan nyaman buat lo sama Serena. Nggak usah cari tempat lain"

Mobil melaju membelah jalanan yang mulai sepi. Sepanjang perjalanan, mata Cassandra tak pernah lepas dari pantulan Celeste di kaca spion.

"Eh, dari tadi lo pakai 'lo-gue' sama gue... Dulu kan lo selalu sopan banget."

Celeste menyandarkan punggungnya ke kursi empuk, menatap jendela yang berlalu-lalang lampu kota. "Emang nggak boleh? Kita udah temenan lama, kan? Udah gede juga, ngapain masih pakai bahasa kaku kayak sama orang gila begitu. Kalau lo nggak suka, ya maaf deh."

"Bukan nggak suka! Malah gue seneng," sahut Cassandra cepat, lalu tersenyum lebar. "Gue malah kangen Orielle yang dulu berani ketawa kencang dan ngomong apa adanya sebelum orang tua lo kecelakaan. Rasanya lo kayak balik lagi ke jaman itu, tapi lebih kuat."

Celeste hanya mendengus pelan, tidak menjawab lebih lanjut. Ia tidak bisa menceritakan kebenaran yang mustahil dipercaya siapapun.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gedung apartemen tertinggi di distrik bisnis. Pintu masuknya dilapisi marmer putih, dan keamanan di setiap lantai sangat ketat.

"Ini kuncinya," ujar Cassandra menyerahkan selembar kartu akses dan kunci besi kepada Celeste begitu mereka masuk ke dalam unit di lantai dua puluh lima. "Kamarnya ada tiga, dapur lengkap, fasilitas olahraga sama kolam renang juga bisa dipakai. Belum ada yang pernah pakai selain gue sesekali."

Celeste berjalan ke arah jendela kaca yang menghadap ke seluruh pemandangan kota yang berkilauan. Udara di sini segar, tidak bau kemewahan palsu dan keputusasaan seperti di mansion Lucian.

"Bagus," gumamnya pelan. "Cukup buat istirahat sebentar sebelum mulai bergerak lagi."

Cassandra mendekat, menepuk bahu Celeste pelan. "Dengerin ya, Cele. Apapun yang terjadi sama lo, apapun yang lo tanggung... gue ada di sini. Kalau lo butuh bantuan, uang, orang, atau cuma temen ngobrol panggil gue kapan aja, ya kalo gue nggak sibuk. Jangan pernah hadapin masalah sendirian lagi."

Celeste menoleh, menatap mata Cassandra yang tulus tanpa kepura-puraan.

"Makasih, Cassa. Lo temen terbaik yang pernah gue punya."

Cassandra mengangguk puas, lalu melangkah ke arah pintu. "Ya udah, gue pamit dulu ya. Besok gue bawain makanan sama baju buat lo. Istirahat yang cukup, pulihkan tenaga lo. Dunia belum selesai buat lo, Cele."

Pintu tertutup rapat. Celeste berdiri diam sejenak di ruang tamu yang luas itu. Serena yang sudah menaruh barang-barang di kamar, muncul dari lorong dengan wajah lega.

"Nona Orielle... tempat ini sangat indah dan aman," bisik Serena.

Celeste mengangguk pelan. "Iya Serena. Kita aman sekarang."

Ia kembali menatap ke luar jendela, ke arah cakrawala yang mulai memudar.

Nama Lucian, nama Viona, dan semua penderitaan yang mereka tabur, akan ia petik buahnya satu per satu.

Pintu tertutup rapat di belakang Cassandra, menyisakan keheningan yang nyaman namun terasa asing bagi Celeste. Serena sudah masuk ke kamar tamu untuk beristirahat, menyadari bahwa tuannya butuh waktu sendiri.

Celeste berjalan perlahan menyusuri lorong apartemen yang luas itu. Matanya menelusuri setiap sudut.

Dinding yang bersih, perabotan yang tertata rapi, jendela kaca yang menghadap ke lautan lampu kota. Namun matanya tidak lelah, dan kelopak matanya sama sekali tidak terasa berat.

Tidur? Itu hal yang paling mustahil saat ini. Di dalam dadanya masih menyala bara api kemarahan yang belum padam, setiap detik bayangan darah di seprai sutra dan wajah jijik Lucian kembali menghantui benaknya.

Langkah kakinya terhenti di ruangan yang tersembunyi di hal lorong, ruang olahraga pribadi milik Cassandra. Di tengah ruangan itu, berdiri kokoh sebuah samsak tinju berat yang tergantung dari langit-langit, kulitnya sudah terlihat sedikit aus karena sering dipakai.

Tanpa pikir panjang, Celeste melangkah mendekat. Ia melepas jaketnya, menggulung lengan kaosnya hingga ke siku, lalu mengepalkan kedua tangannya erat. Napasnya ditarik dalam, lalu dihembuskan perlahan.

"Biar gue salurin semua ini dulu," gerutunya pelan.

Tiba-tiba ia melompat maju, pukulan pertamanya mendarat keras di tengah samsak. Suara buk yang berat menggema di ruangan sunyi itu.

"BRENGSEK LO LUCI!" teriaknya pelan tapi penuh amarah, lalu pukulan kedua menyusul lebih cepat. "LO NGIRA GUE MASIH ORIELLE YANG BIARIN LO INJAK-INJAK GUE?!"

Pukulan demi pukulan dilayangkan tanpa henti. Setiap kali kepalan tangannya bertemu kulit samsak, ia membayangkan wajah Lucian yang penuh kesombongan itu ada di sana.

"ANJING KEPARAT!" bentaknya lagi sambil menendang keras bagian bawah samsak hingga benda itu berayun liar. "Berani-beraninya lo sakiti dia... berani-beraninya lo bunuh darah daging lo sendiri!"

Ia kembali memukul dengan tenaga penuh, peluh mulai membasahi pelipisnya. Matanya menyala merah menatap samsak yang kini bergoyang hebat di hadapannya.

"Abis burung lo gue babat nanti," desisnya dengan nada rendah yang mengerikan.

"Gue pastiin lo nggak bisa senyum, nggak bisa berdiri, bahkan nggak bisa tidur nyenyak seumur hidup lo. Gue ambil semuanya... persis kayak yang lo lakuin ke Orielle."

"Viona" bibir Celeste berdesis.

"Mak bapak lo kan yang ambil semua harta gue? Tunggu aja anjir, gue bikin lo hamil nanti"

Hingga napasnya terengah dan otot lengannya terasa pegal, Celeste baru berhenti. Ia menumpukan keningnya ke permukaan samsak yang masih bergoyang pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang memburu.

Ia berjalan keluar dari ruangan itu, duduk di tepi tempat tidur utama, lalu mulai menyusun rencana satu per satu dalam kepalanya yang jernih.

Ambil kembali semua aset dan hak milik Orielle yang dirampas paksa oleh pamannya dan dikuasai secara tidak sah.

Bongkar segala kebusukan, kejahatan, yang dilakukan Lucian selama ini biar seluruh dunia tahu siapa sebenarnya pria gila itu.

Berikan pelajaran yang pantas bagi Viona (yg sayangnya adlh sepupu Orielle) dan semua orang yang pernah menyakiti Orielle. Pastikan Lucian merasakan kehancuran yang sama persis, bahkan seribu kali lebih sakit dari apa yang ia berikan.

Sementara itu, di sisi lain kota...

Di kamar mewahnya yang kini berantakan dan berbau darah, Lucian baru saja diobati oleh dokter pribadi. Kepalanya dibalut perban tebal, hidungnya bengkak, dan rasa nyeri yang menyengat masih terasa setiap kali ia bergerak sedikit saja.

Namun alih-alih merasa takut atau khawatir ditinggalkan, Lucian malah tertawa kecil dengan nada meremehkan, meskipun tawa itu membuat kepalanya berdenyut sakit.

"Dasar caper. Dia cuma emosi sesaat," gumamnya pelan, menatap kosong ke arah pintu kamar. "Dia sakit hati dan marah sebentar. Nanti juga dia balik lagi."

Viona yang duduk di tepi tempat tidur masih terlihat gemetar, tapi ia mencoba menyetujui ucapan Lucian. "Iya sayang... Orielle nggak mungkin pergi jauh. Dia nggak punya tempat lain, nggak punya uang, dan dia... dia cinta mati sama kamu kan?"

Lucian menyeringai bangga, matanya berkilat dengan penuh keyakinan. "Tentu saja. Dia nggak bisa hidup tanpa aku. Mau dia lari ke mana aja, mau dia marah sekeras apa pun... pada akhirnya dia bakal ngerengek minta maaf dan kembali ke sini. Dia nggak berani hidup sendiri."

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang ia anggap lemah dan tak berdaya itu sudah tidak ada lagi. Yang tersisa sekarang adalah badai yang siap menghancurkan seluruh dunianya sampai ke akar-akarnya.

Tawaran

Meja di apartemen Cassandra kini tertutup oleh tumpukan berkas yang tersusun rapi namun penuh coretan merah, catatan kecil, dan salinan dokumen yang sudah diverifikasi keasliannya.

Celeste duduk di kursinya, jari telunjuknya menekan lembaran terakhir yang berisi bukti pemalsuan tanda tangan almarhum orang tua Orielle. Ia sudah berhari-hari mengumpulkan semua ini dari catatan transaksi lama (koneksi Cassandra juga sih), kesaksian mantan pegawai yang dulu takut bicara, hingga dokumen tanah yang dialihkan secara diam-diam ke nama Om Dimas, ayah kandung Viona.

Semua harta yang dirampas dari Orielle, kini buktinya sudah lengkap di tangannya. Tinggal melangkah ke kantor hukum dan melancarkan serangan balik yang takkan bisa dielakkan oleh siapa pun.

"Pasti bisa gue ambil semuanya balik, gue bikin lo semua jadi gelandangan" gumamnya pelan, menutup berkas itu dengan kepuasan yang perlahan berganti kecemasan. Ia tahu seberapa berkuasa keluarga omnya, dan seberapa banyak koneksi licik yang dimiliki Lucian. Bukti saja mungkin belum cukup.

"Tolong bantu gue" doa Celeste dalam hati.

Belum sempat ia merapikan barang-barangnya, ketukan keras namun berirama terdengar di pintu utama. Bukan ketukan tamu yang sopan tapi.

Celeste bangkit berdiri dengan waspada, tangan kanannya tanpa sadar meraba pinggiran meja mencari benda yang bisa dijadikan senjata. Serena berlari membukakan pintu, namun saat melihat siapa yang berdiri di ambang, pelayan itu langsung mundur selangkah, wajahnya pucat pasi dan napasnya tercekat di tenggorokan.

Dua sosok melangkah masuk.

Yang berjalan di depan adalah pria dengan jas hitam yang pas di badan, wajahnya tegas, tatapannya tajam dan penuh perhitungan, Xanderion, tangan kanan yang paling dipercaya.

Namun mata Celeste tak berhenti pada pria itu. Punggungnya seketika merinding saat ia melihat sosok yang berjalan di belakangnya, dengan tenang seolah tempat ini miliknya sendiri.

Caspian Orion Devereux.

Pria itu berdiri tegak, posturnya menjulang tinggi. Matanya gelap dan datar, seolah tak ada satu pun hal di ruangan ini yang layak mendapat perhatiannya. Aura dingin yang memancar darinya membuat udara di ruangan terasa menurun drastis, membuat napas Celeste terasa berat.

Keringat dingin menetes di pelipisnya. Rasa ini... rasa persis seperti saat ia melihat senjata di tangan orang-orang yang membunuhnya—orang-orang yang bergerak dengan dingin, terlatih, dan tak peduli pada nyawa manusia sama sekali. Orang-orang yang seperti dia.

Ia menatap Caspian dengan pandangan yang bercampur rasa ngeri dan kewaspadaan tertinggi. Tubuhnya kaku, ingatannya melesat kembali ke halaman novel yang dulu ia baca sambil memaki.

Villain paling kejam, penguasa bayangan yang tak tersentuh hukum, yang konon hatinya sedingin es dan tak pernah luluh pada siapa pun... kecuali pada satu-satunya cinta pertamanya yang sudah lama hilang.

"Kenapa kalian ada di sini?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha menahannya agar tetap terdengar tegas. "Gue nggak pernah ngundang orang asing."

Xanderion melangkah maju sedikit, menatap lurus ke arah Celeste tanpa basa-basi sedikit pun.

"Kami datang untuk menyampaikan satu hal," ucapnya datar, tanpa senyum atau sapaan sopan. "Anda harus menikah dengan Tuan Caspian. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada alasan penolakan."

Celeste melotot lebar-lebar, tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Ia mundur selangkah, menatap bergantian antara Xanderion dan Caspian yang masih diam menatapnya dengan tenang yang menakutkan.

"Kalian gila ya?!" serunya tak percaya, nada bicaranya meninggi karena kaget sekaligus kesal. "Gue baru aja cerai! Gua keguguran. Belum seminggu gue lepas dari suami brengsek, sekarang kalian minta gue nikah lagi? Apalagi sama dia?!"Ia menunjuk ke arah Caspian dengan jari gemetar.

"Gue tau siapa dia! Dia iblis di dalam cerita ini! Pria berdarah dingin yang nggak peduli sama siapa pun! Kenapa harus gue?!" batin Celeste panik.

Xanderion tak berubah ekspresinya sedikit pun. "Ini keputusan yang sudah diambil. Dan untuk meyakinkan anda... kontrak pernikahan ini hanya berlaku selama dua bulan. Setelah masa itu berakhir, anda bebas melakukan apa saja."

Belum sempat Celeste memproses penjelasan itu, Caspian akhirnya bergerak. Ia melangkah maju perlahan, setiap langkahnya terasa berat dan penuh kekuasaan, hingga ia berdiri tepat di depan meja Celeste. Dengan santai tanpa kata, ia meletakkan selembar dokumen tebal bermeterai emas di atas tumpukan berkas bukti yang sudah disiapkan Celeste.

Matanya yang gelap menatap lurus ke manik mata abu Celeste, suaranya berat, tenang, namun mengandung janji yang tak bisa diingkari.

"Menikahlah denganku," ucapnya pelan namun jelas. "Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu dan siapa pun yang pernah menyakitimu... menerima balasan yang setimpal. Tak ada satu pun yang lolos dari apa yang pantas mereka dapatkan."

Celeste terdiam sejenak, menatap dokumen itu, lalu menatap kembali wajah Caspian yang tampan namun mengerikan. Di satu sisi, tawaran itu terdengar terlalu bagus untuk ditolak. Di sisi lain, bahaya yang mengikutinya tak kalah besar. Namun...

Di dalam hatinya, tiba-tiba muncul pikiran yang tak terduga, membuatnya hampir tersenyum sendiri.

(Sabi juga sih... daripada capek-capek cari cara, langsung dapat pelindung paling berkuasa sekaligus paling ganteng seantero kota. Lumayan banget, tiap hari bisa cuci mata liat cowok cogan setinggi tiang listrik begini. Lagian cuma dua bulan doang kok...)

Ia menghela napas panjang, lalu menegakkan badannya kembali, menatap Caspian dengan tatapan yang kini lebih tenang, bahkan sedikit penasaran.

"Baiklah," jawabnya akhirnya. "Gue terima tawaran itu."

Setelah Celeste mengatakan itu, keheningan mendadak menyelimuti ruangan. Serena menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya tuannya baru saja menyetujui hal yang terdengar mustahil. Sementara Xanderion sedikit mengangkat alis seolah menyangka gadis itu akan berdebat lebih lama, bukannya langsung setuju begitu saja.

Caspian pun tak banyak bicara. Ia hanya mendorong dokumen itu sedikit lebih dekat ke arah Celeste, lalu menyodorkan pena mahal dengan gagang berukir perak.

"Baca dulu isinya," ucapnya singkat. "Jangan sampai kau menyesal setelah tinta menempel."

Celeste mengambil pena itu, namun matanya tak lekas membaca. Ia justru menatap Caspian tajam. "Gue bukan anak kecil yang mudah tertipu. Gue tau apa yang gue ambil."

Baru kemudian ia menyusuri baris demi baris tulisan di atas kertas itu. Isinya jelas: pernikahan kontrak sah secara hukum namun tanpa ikatan perasaan, berlaku tepat enam puluh hari kalender. Selama masa itu, Celeste berstatus sebagai istri sah Caspian, berhak mendapatkan perlindungan penuh, akses ke sumber daya dan jaringan keluarga Devereux, serta jaminan keamanan. Sebagai gantinya, ia harus menjaga citra keluarga di depan umum, tidak membuat skandal, dan tidak menuntut hak waris atau harta pribadi Caspian setelah perjanjian berakhir.

Semuanya terasa adil bahkan terlalu menguntungkan bagi Celeste. Namun ia tahu, di balik perjanjian yang tampak sederhana ini, pasti ada harga lain yang belum ia ketahui.

"Gak ada yang disembunyikan kan?" tanyanya sekali lagi, menatap lurus ke mata Caspian.

Pria itu menggeleng. "Semua sudah tertulis jelas. Aku tidak suka main petak umpet dengan orang yang akan berdiri di sisi ku."

Tanpa ragu lagi, Celeste membalik halaman terakhir, menandatangani namanya dengan tegas sangat berbeda dengan coretan tangan gemetar milik Orielle dulu. Tinta biru pekat membentuk nama Orielle Celeste di atas garis yang disediakan.

Baru setelah ia meletakkan pena, Caspian maju selangkah, mengambil alih dokumen itu, dan menandatanganinya di sebelah namanya dengan gerakan yang luwes namun berwibawa. Saat ia menutup berkas itu, suara kertas yang saling bersentuhan terdengar seperti penutup bab lama sekaligus pembuka jalan baru yang penuh misteri.

"Besok pagi jam sepuluh," ucap Caspian sambil menyerahkan satu salinan dokumen kepada Celeste. "Kau sudah siap dijemput. Kita akan mengurus administrasi pernikahan sipil tanpa undangan, tanpa pesta. Cukup saksi yang diperlukan."

"Gue siap," jawab Celeste mantap.

Caspian menatapnya sejenak lebih lama dari yang diperlukan. Sudut bibirnya bergerak sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. "Bagus. Aku suka orang yang cepat mengambil keputusan."

Ia berbalik badan, memberi isyarat pada Xanderion untuk ikut keluar. Namun sebelum melangkah melewati ambang pintu.

Pintu tertutup rapat. Langkah kaki mereka perlahan menghilang, menyisakan Celeste dan Serena yang masih terdiam di tengah ruangan.

"Nona Orielle..." Serena akhirnya berani bersuara, suaranya masih bergetar. "Apakah Nona yakin? Tuan Caspian... orang-orang bilang dia lebih berbahaya daripada apapun yang ada di dunia ini."

Celeste menatap salinan kontrak di tangannya, lalu menyimpannya rapi di laci terkunci. Ia tersenyum tipis, senyum yang penuh tekad.

"Justru karena dia yang paling berbahaya, Serena," jawabnya pelan namun tegas. "Hanya iblis yang bisa mengalahkan iblis lain. Dan kalau dia berani berjanji... gue percaya dia akan menepatinya. Lagian..."

Ia menoleh ke arah jendela, tempat mobil hitam Caspian perlahan menjauh di jalan raya.

"...dua bulan itu singkat kok. Dan melihat wajah setampan itu tiap hari, kayaknya gak bakal jadi beban berat deh," tambahnya pelan, kali ini dengan nada bercanda yang sedikit melembutkan ketegangan di udara.

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang melaju tenang membelah lalu lintas kota...

Xanderion melirik sekilas ke arah tuannya yang duduk bersandar di kursi belakang, menatap keluar jendela dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tuan," panggilnya pelan. "Anda yakin dengan keputusan ini? Gadis itu... sangat berbeda dari yang kita duga. Dan perjanjian dua bulan itu—"

"Perjanjian itu sudah tertulis," potong Caspian datar, namun matanya masih terpaku pada pemandangan luar. "Tapi rencana bisa berubah. Lihat saja seberapa jauh dia berani melangkah."

Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar foto lama yang terlipat rapi.

"Selama ini aku hanya menunggu seseorang yang berani menatapku tanpa berlutut," bisiknya lirih, hanya bisa didengar oleh angin di dalam kabin tertutup itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!