Indonesia
NovelToon NovelToon

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Seolah pacar

[Cerita ini ringan, mungkin bakal santai dan berjalan pelan ya. konflik bakal datang secara perlahan. Happy reading guys]

Pukul 15.15. Parkiran kampus Eastbridge University masih dipenuhi mahasiswa yang baru selesai kuliah. Matahari sore menyorot aspal dan memantulkan cahaya ke bodi kendaraan.

Cheyrin melangkah keluar dari gedung dengan raut wajah datar. Ia pendiam, tidak banyak bicara, dan selalu tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tas selempang di bahunya berisi laptop dan buku sketsa untuk pekerjaan paruh waktu.

Di ujung parkiran, suara mesin Ninja 250R hitam doff terdengar halus. Jayden bersandar pada motornya, mengenakan jaket bomber kebesaran. Helm tergantung di spion. Meskipun usianya satu tahun lebih tua dari Cheyrin, tingkah lakunya justru lebih kekanak-kanakan. Ia mudah tertawa, suka mengganggu, dan akrab dengan semua orang.

Begitu melihat Cheyrin, mata Jayden langsung berbinar. Ia berjalan cepat menghampiri tanpa menunggu disapa.

"Akhirnya putri es keluar juga," seru Jayden, lalu langsung merampas tas Cheyrin. "Wih berat banget. Lo nyolong batu bata dari lab arsitek ya?"

Cheyrin hanya menatapnya sekilas. "Buku."

"Nah makanya. Pacar— eh, maksud gue temen, nggak usah bawa buku segede gaban pulang sore," kata Jayden cepat, lalu nyengir lebar seolah tidak terjadi apa-apa.

Cheyrin tidak menanggapi candaan itu. Ia sibuk mengikat rambutnya, sama sekali tidak peka terhadap maksud tersirat dalam ucapan Jayden.

Jayden menyodorkan helmnya. "Pakai ini. Wangi. Gue semprot parfum tadi biar lo betah di bonceng gue." Ia lalu membuka jok motor dan mengeluarkan permen mint. "Nih, biar nggak ngantuk di jalan. Anggap aja uang jajan dari pacar lo."

"Jay..."

"Apa? Gue bercanda doang. Santai aja. Anggap aja gue pacar bayaran lo yang tugasnya nganter jemput," ujarnya sambil tertawa kecil.

Cheyrin menghela napas pelan, lalu naik ke boncengan. Ia tetap menjaga jarak, memeluk tasnya erat. Bagi Cheyrin, semua itu hanya candaan biasa. Jayden memang selalu seperti itu kepada siapa saja.

Dari kejauhan, Juno dan Steven menatap sambil menggeleng. "Tua-tua keladi. Kelakuannya kayak anak SMP naksir ketua OSIS," gumam Steven.

Motor menyala pelan. Cheyrin duduk diam di belakang tanpa menyentuh punggung Jayden. Sementara Jayden di depan menahan senyum, berpikir dalam hati: "Kapan ya lo sadar kalau gue rela muter jauh tiap sore cuma buat nganter lo?"

Motor Ninja hitam doff berhenti tepat di depan gerbang kos Cheyrin. Bangunan dua lantai. Cat krem. Dengan pagar hitam tinggi. lingkungannya cukup tenang. Lampu jalan di depan kos belum menyala karena masih sore.

Cheyrin turun dengan gerakan cepat. Ia mengambil tasnya dari tangan Jay tanpa banyak bicara. Wajahnya tetap datar, seolah perjalanan tadi hanyalah rutinitas biasa.

Jayden melepas helmnya, lalu bersandar pada motor sambil tersenyum nakal. Rambutnya berantakan terkena angin. Sikapnya jauh dari kesan kakak tingkat yang dewasa. Ia justru tampak seperti adik kelas yang sedang mencari perhatian.

"Gimana? Lancar kan perjalanannya? Aman, nyaman, ada hiburannya gue," ujar Jay sambil menepuk jok motornya. "Nanti jam 5 gue jemput lagi ya. Gue anter lo berangkat kerja ke kafe itu. Anggap aja layanan antar-jemput pacar 24 jam. Gratis. Nggak ada biaya admin."

Cheyrin menatapnya sekilas. Ekspresinya tidak berubah. "Nggak usah. Gue bisa naik angkot."

"Angkot jam 5 sore? Isinya manusia sarden, Chey. Lo mau gepeng?" Jayden mengerutkan dahi, lalu terkekeh. "Udah, gapapa. Anggap gue sopir pribadi lo. Job desk gue: nganter putri es biar nggak meleleh di jalan."

Cheyrin mengangguk kecil. Jawabannya singkat dan datar seperti biasa. "Makasih, Jay."

Ia berbalik dan berjalan masuk ke gerbang kos tanpa menoleh lagi. Langkahnya tenang, tanpa ragu.

Jayden masih berdiri di tempat, menatap punggung Cheyrin sampai pintu kos tertutup. Ia menghela napas, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri. "Makasih doang? Nggak ada iya, jemput ya? Hadeh, keras kepala banget sih anak ini."

Pukul 16.10. Kamar kos Cheyrin berukuran 3x4 meter. Tidak luas, tetapi tertata sempurna. Buku berjajar rapi berdasarkan tinggi. Baju dilipat presisi di lemari. Meja belajar bebas debu.

Cheyrin memang telaten merawat diri dan ruangnya. Kerapian adalah satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan penuh.

Ia merebahkan diri di kasur tanpa berganti baju dulu. Mata menatap langit-langit kosong. Tubuh lelah, tapi pikirannya tetap tenang. Ia pendiam bukan karena sombong. Ia hanya lelah berbicara.

Ponsel di meja bergetar. Nada deringnya sama seperti biasa, tetapi Cheyrin sudah tahu siapa di seberang tanpa melihat layar.

Ia menggeser tombol hijau dengan ekspresi datar. "Halo."

"Chey, pulang. Mama sama Papa udah baikan. Rumah ini sepi tanpa kamu," suara ayahnya terdengar berat, dipenuhi rasa bersalah.

Cheyrin memejamkan mata. "Aku nggak mau, Pa."

"Jangan kekanak-kanakan. Kamu anak satu-satunya. Perusahaan, rumah, semua buat kamu nanti. Ngapain ngekos kayak gini? Capek-capek kerja di kafe."

"Justru karena itu aku di sini," jawab Cheyrin pelan tapi tegas. "Aku capek sama situasi rumah. Capek jadi penengah kalian. Capek pura-pura keluarga kita normal."

Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. "Kamu mau hidup susah demi apa?"

"Demi tenang," jawab Cheyrin singkat.

Panggilan diputus sepihak oleh ayahnya. Cheyrin meletakkan ponsel di meja, lalu menarik selimut sampai ke dada. Wajahnya tetap datar. Tidak ada air mata, tidak ada amarah. Hanya kelelahan yang ia simpan rapat.

Ia memilih kos kecil ini, kerja paruh waktu di kafe, kuliah sendiri. Bukan karena kekurangan uang. Tapi karena ini satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura.

Di luar, ia anak orang kaya yang kabur dari rumah. Di dalam kamar ini, ia hanya Cheyrin. Sendiri, tapi bebas.

Pukul 16.55. Gerbang kos Cheyrin tampak sepi. Udara sore cukup tenang, hanya terdengar suara kendaraan yang melintas sesekali.

Suara mesin Ninja 250R berwarna hitam dof terdengar mendekat dari ujung jalan. Jayden datang tepat waktu, seperti kebiasaannya. Ia mengenakan jaket bomber yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Helm tergantung di tangan kanan. Matanya tetap tajam memperhatikan lingkungan sekitar.

Cheyrin keluar dari gerbang tepat pukul 17.02. Raut wajahnya datar seperti biasa, tetapi sorot matanya tampak murung. Percakapan dengan ayahnya beberapa saat sebelumnya masih membekas di pikirannya.

Begitu melihat Cheyrin, Jayden langsung tersenyum lebar. "Tuh kan, putri es keluar dari freezer tepat waktu. Disiplin banget pacar— eh, temen gue."

Cheyrin mengabaikan kata "pacar" yang sengaja diucapkan Jayden. Ia menerima helm yang disodorkan. "Makasih."

"Enggak perlu berterima kasih. Itu memang tugas gue," jawab Jayden sambil menyalakan mesin motor. Nadanya terdengar ceria, tetapi matanya tidak luput mengamati ekspresi Cheyrin. Ia cukup peka terhadap perubahan kecil pada diri Cheyrin. "Lo kenapa? Muka lo kayak habis disuruh ngerjain skripsi sepuluh bab."

Cheyrin menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."

"Bohong. Murungnya jelas banget. Udah, cerita aja sama gue. Gue kan pendengar yang baik. Ditambah lagi gue lucu. Paket lengkap," ucap Jayden dengan nada bercanda, tetapi suaranya sengaja dilembutkan.

Cheyrin hanya mengikat rambutnya dan duduk di boncengan. Jarak di antara mereka tetap terjaga sekitar lima sentimeter. "Udah, jalan. Nanti telat."

Jay menghela napas kecil. Ia tidak memaksa. Jika Cheyrin mengatakan tidak apa-apa, berarti ia memang belum ingin bercerita.

"Nih, pegang," Jayden mengeluarkan permen mint dari saku jaketnya lalu menyodorkannya. "Untuk ngilangin murung. Katanya permen bisa memperbaiki suasana hati. Kalau nggak berhasil, gue masih punya cadangan candaan bapak-bapak."

Cheyrin menerima permen itu tanpa banyak bicara. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat, sekitar satu milimeter. Hampir tidak terlihat, tetapi cukup bagi Jayden untuk menyadarinya.

Motor melaju perlahan meninggalkan gang kos. Jayden sengaja tidak memacu kecepatan. Ia memahami bahwa Cheyrin tidak menyukai angin kencang ketika sedang tidak bersemangat.

Ketika berhenti di lampu merah, Jayden sedikit memutar tubuhnya ke arah belakang. "Chey, lo tahu nggak perbedaan lo sama WiFi?"

Cheyrin tidak menjawab.

"Lo bikin gue pengin konek terus," kata Jayden sambil tertawa kecil.

Cheyrin tetap diam. Akan tetapi, raut murung di wajahnya berkurang sedikit.

Jayden tersenyum dalam hati. Misi pertamanya untuk mengusir murung Cheyrin berhasil.

Jayden ezakiel arran

Meja no 7

Pukul 17.20. Kafe Luna Bloom berada di area kampus Eastbridge. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi selalu ramai mahasiswa. Interiornya hangat, dengan lampu kuning dan rak buku di sudut ruangan.

Hari itu Cheyrin bekerja rangkap sebagai kasir sekaligus waiters. Rekan kerjanya sedang berhalangan masuk. Ia tetap menjalankan tugasnya dengan teliti. Meskipun lelah setelah kuliah dan percakapan dengan ayahnya, Cheyrin tidak pernah menunjukkan raut letih kepada pelanggan.

Cheyrin memang gadis yang cantik. Senyumnya manis dan tulus. Sikapnya yang sopan membuat banyak pelanggan menyukainya. Bahkan ketika buru-buru mencatat pesanan atau membawa nampan penuh, ia tetap menyapa dengan senyum.

Seorang pelanggan wanita paruh baya menghampiri kasir. "Nak, kamu cantik sekali kalau senyum. Rajin ya kerjanya. Semoga lancar kuliahnya."

Cheyrin membungkuk sedikit. "Terima kasih, Bu. Silakan duduk, pesanannya segera saya antar."

Setelah itu, ia membawa nampan berisi kopi dan roti panggang menuju meja nomor 7. Di sana duduk empat orang pria seusianya. Mereka mengenakan jaket klub motor. Tawa mereka terdengar keras sejak Cheyrin mendekat.

Cheyrin meletakkan pesanan satu per satu dengan gerakan hati-hati. Ia tersenyum ramah seperti biasa. "Pesanan lengkap, Kak. Silakan dinikmati."

Salah satu pria dengan tato di lengan sengaja menahan pergelangan tangan Cheyrin saat ia menarik nampan. Sentuhannya disengaja dan berlangsung beberapa detik. "Wih, tangannya halus banget. Mbak kasir emang beda ya," ujarnya sambil menyeringai.

Cheyrin terkejut. Ia segera menarik tangannya dengan cepat. Bagi Cheyrin, tindakan itu tidak sopan bagi nya. Wajahnya yang biasanya datar seketika menegang.

Namun para pria itu justru tertawa terbahak-bahak. "Ah, bercanda doang kali, Mbak. Jangan baper gitu. Lagi kerja harus senyum dong," canda pria lainnya.

Cheyrin tidak menjawab. Ia menunduk sebentar, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah kasir di belakang. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Senyum manisnya lenyap, digantikan ekspresi kaku yang ia sembunyikan dengan baik.

Di balik meja kasir, Cheyrin menarik napas panjang. Tangannya mengepal sebentar sebelum kembali merapikan struk. Ia terbiasa menanggung hal seperti ini sendirian. Baginya, menangis atau marah di depan pelanggan bukanlah pilihan.

Suara pintu kafe terbuka cukup keras.

Steven masuk bersama Juno. Mereka baru selesai latihan basket di lapangan kampus. Keringat masih membasahi kaosnya. Namun sorot matanya langsung tajam begitu melihat meja nomor 7.

Steven melihat jelas dari pintu tadi. Ia melihat pria bertato menahan tangan Cheyrin. Ia juga melihat Cheyrin menarik tangannya dan berbalik ke kasir tanpa sepatah kata.

Tanpa berkata pada Juno, Steven langsung berjalan cepat ke meja para pria itu. Langkahnya berat, rahangnya mengeras. Ia berhenti tepat di samping meja, menatap mereka dari atas.

"Gue dengar dari sini," ucap Steven, suaranya rendah tapi dingin. "Tangan lo panjang amat, ya?"

Keempat pria itu terdiam sesaat. Salah satunya, yang bertato, menyenderkan punggung ke kursi sambil terkekeh. "Lah, siapa nih? Abang-abangan? Bercanda doang bang, santai."

"Bercanda?" Steven mencondongkan tubuhnya sedikit. "Nyentuh orang tanpa izin itu namanya pelecehan. Bukan bercanda. Minta maaf sekarang."

Suasana kafe yang tadinya ramai mendadak hening. Beberapa pelanggan menoleh.

Pria bertato itu tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Apaan sih, lebay banget. Dia juga senyum-senyum tadi. Berarti suka dong."

Steven mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. "Gue ulang sekali lagi. Minta maaf."

Di balik meja kasir, Cheyrin berdiri diam. Ia mendengar semuanya. Namun ia tidak ikut campur. Wajahnya tetap datar. Tangannya merapikan struk dengan gerakan teratur. Bagi Cheyrin, ini bukan urusannya lagi. Ia sudah menjauh dari situasi itu.

Ia hanya menatap nampan kosong di depannya, seolah mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.

Juno yang dari tadi berdiri di belakang Steven akhirnya bersuara, mencoba meredam. "Udah, Ven. Jangan bikin ribut di tempat orang."

Steven tidak menoleh. Matanya tetap mengunci pria bertato itu. "Gue nggak akan diem kalau ada cewek dilecehin di depan mata gue."

Suasana kafe Luna Bloom mendadak tegang.

Pria bertato itu berdiri dari kursinya. Tubuhnya lebih besar dari Steven. Ia mendorong dada Steven pelan. "Woi, jangan sok jagoan lo. Ini kafe umum, bukan lapangan basket lo."

Dorongan itu membuat Steven mundur setengah langkah. Matanya menyipit. "Jangan sentuh gue."

Kata itu seperti pemantik. Pria bertato mendorong lagi, kali ini lebih keras. Steven tidak terima. Ia membalas dengan mendorong balik bahu pria itu.

Situasi langsung memanas. Pria lainnya ikut berdiri. Meja nomor 7 bergetar karena sikut dan kursi bergeser.

Juno yang dari tadi memperhatikan langsung maju. "Waduh waduh, slow bro slow. Ini kafe, bukan ring tinju UFC. Kalo mau gelut, bayar sewa lapangannya dulu," ucapnya sambil nyelip di antara mereka dengan gaya konyol. Ia mengangkat kedua tangannya seperti wasit.

Tapi Steven sudah keburu naik darah. Ia mengayunkan tangan ke arah kerah pria bertato. Pukulan itu meleset karena pria itu menangkis.

Keributan kecil pecah. Gelas di meja bergetar, beberapa tumpah.

Dari balik kasir, Cheyrin langsung bereaksi. Ia berlari kecil ke arah mereka. Wajahnya tetap datar, tetapi langkahnya cepat dan tegas.

"Berhenti," suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk memotong keributan.

Cheyrin menyelipkan tubuhnya di antara Steven dan pria bertato. Ia mendorong pelan dada Steven dengan kedua tangannya. "Steven, cukup."

Steven tertegun. Ia tidak menyangka Cheyrin yang diam sejak tadi tiba-tiba maju dan memisahkan mereka.

Cheyrin lalu menoleh ke pria bertato. Tatapannya dingin, tanpa ekspresi. "Kalian udah nggak boleh pesan di sini lagi. Silakan keluar."

Pria bertato meludah ke lantai. "Cih, drama banget. Mbaknya juga senyum manis tadi. Nggak usah munafik." Ia dan teman-temannya keluar sambil mengumpat.

Juno menghela napas panjang lalu menepuk bahu Steven. "Nah kan, gara-gara muka lo yang kayak hakim garis, kafe jadi sepi. Lain kali pake jurus ngelawak gue aja, Ven. Dijamin aman," katanya sambil nyengir, berusaha mencairkan suasana.

Steven tidak menjawab. Ia menatap Cheyrin yang berdiri di depannya. Napasnya masih sedikit tidak beraturan.

Cheyrin hanya menunduk, lalu membungkuk sedikit ke arah Steven. "Makasih udah belain gue. Tapi lain kali, jangan berantem di tempat kerja gue."

Suaranya datar. Tidak marah, tidak berterima kasih berlebihan. Seperti biasa.

Steven mengangguk pelan. Juno hanya bisa garuk-garuk kepala di belakang mereka.

STEVEN ALVARO

Pelukan di bawah lampu

Pukul 23.05. Jalan di depan kafe Luna Bloom sudah sepi. Lampu jalan berwarna kuning pucat menerangi area parkir yang hampir kosong. Pintu kaca kafe baru saja dikunci dari dalam.

Jayden sudah menunggu sejak pukul 22.50 di bawah tiang lampu, tepat di seberang kafe. Itu sudah menjadi kebiasaannya setiap malam. Ia duduk di atas motor Ninja hitam dof-nya, bersandar santai. Matanya fokus pada layar ponsel, tetapi telinganya selalu waspada mendengar suara pintu kafe terbuka.

Begitu melihat Cheyrin keluar membawa tas selempang, Jayden langsung berdiri dan tersenyum lebar seperti biasa. "Nah, Ratu Kasir shift malam akhirnya pulang. Capek nggak?"

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat dengan langkah pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya berbeda. Lelah yang ia tahan seharian akhirnya muncul.

Tanpa sepatah kata, Cheyrin berhenti tepat di depan Jayden. Lalu ia memeluknya.

Jayden terpaku. Tubuhnya menegang seketika. Ini pertama kalinya Cheyrin memeluknya. Selama ini jarak di antara mereka selalu terjaga, bahkan saat di boncengan motor.

Jantung Jayden berdebar lebih cepat. Ia sempat membisu, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Chey? Kenapa, ada yang nyakitin lo?" tanyanya pelan, suaranya sedikit serak karena panik.

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan di bahu Jayden. Lalu pelukannya mengerat.

Jayden akhirnya menyadari bahu Cheyrin sedikit bergetar. Ia tidak menangis dengan suara. Tidak ada isakan. Tapi Jayden tahu. Cheyrin sedang menangis. Diam-diam, seperti kebiasaannya menanggung semuanya sendiri.

Entah mengapa Cheyrin melakukan itu. Yang ia tahu hanya satu: ia lelah. Lelah menghadapi  semua nya.

Untuk sekali ini, ia hanya ingin ada seseorang yang tidak bertanya banyak.

Jayden menarik napas. Ia mengangkat tangannya perlahan, lalu mengusap punggung Cheyrin dengan lembut. Gerakannya hati-hati, seolah takut Cheyrin akan melepaskan pelukan itu

"Udah, nggak apa-apa," bisik Jayden. Nada bercandanya hilang, diganti suara yang sangat lembut. "Gue di sini. Lo nggak harus kuat terus, Chey."

Cheyrin tetap diam, memeluk lebih erat. Air matanya jatuh tanpa suara ke jaket bomber Jayden.

Keesokan harinya.

Pukul 10.15. Area gazebo Fakultas Teknik, kampus Eastbridge. Angin cukup kencang karena pohon-pohon besar di sekitarnya.

Jayden, Steven, dan Juno duduk melingkar di bangku kayu. Di meja ada dua kaleng minuman soda dan satu bungkus roti. Mereka sedang jam kosong sebelum kuliah selanjutnya.

Juno membuka bungkus roti sambil nyengir. "Nih, roti sisa kemarin. Buat gue aja ya. Eh ngomong-ngomong, Ven, lo kemarin keren banget sih ngebelain Chey."

Jayden yang dari tadi fokus scroll HP langsung mendongak. "Chey? Maksud lo Cheyrin?"

"Siapa lagi kalo bukan putri es kesayangan lo," jawab Juno sambil menggigit roti. "Kemarin gue sama Steven mampir ke Luna Bloom. Terus ada empat cowok rese nyentuh tangan Cheyrin pas dia nganter pesanan. Steven langsung mode abang-abangan, maju marahin mereka."

Steven hanya diam. Ia menatap ujung sepatunya, tidak menyela cerita Juno. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Tangannya meremas kaleng soda sampai agak penyok.

"Terus berantem dikit," lanjut Juno. "Gue yang jadi wasit UFC dadakan. Untung Cheyrin nya cepet misahin. Dingin-dingin tapi tegas banget. Terus si empat cowok itu kita usir dari kafe."

Jayden terdiam. Otaknya langsung memutar ulang kejadian semalam. Pelukan Cheyrin di bawah lampu jalan. Bahunya yang bergetar tanpa suara. Lelah yang ia tahan seharian.

"Jadi... itu alasannya," gumam Jayden pelan. Suaranya yang biasanya ceria mendadak rendah.

Baru sekarang Jayden sadar kenapa Cheyrin memeluknya semalam. Bukan karena tugas kuliah. Tapi karena ia dilecehkan di tempat kerjanya, lalu harus tetap tersenyum sampai shift selesai.

Steven akhirnya bersuara tanpa menatap Jayden. "Gue nggak bilang ke lo kemarin. Takut lo malah ngamuk ke kafe. Cheyrin juga nggak mau dibesar-besarin."

Jayden mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras. Tapi ia tidak marah pada Steven. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak tahu.

"Kenapa lo nggak cerita ke gue, Ven?" tanya Jayden, nadanya bukan menuduh, lebih ke menahan emosi.

Steven mengangkat bahu. "Karena Cheyrin nggak minta dibelain. Dia cuma mau cepat selesai. Itu cara dia."

Juno yang melihat suasana jadi berat langsung coba mencairkan. "Udah udah, jangan muka duka gitu Jay. Untung ada Steven. Kalo nggak, gue doang yang bisa ngandelin jurus ngelawak. Dijamin nggak mempan lawan cowok bertato."

Jayden tidak menanggapi lelucon Juno. Ia berdiri dari bangku, lalu bergegas. "Gue ke kelas dulu."

Langkahnya cepat, tapi pikirannya kalut. Malam tadi ia hanya mengusap punggung Cheyrin dan bilang "nggak apa-apa". Padahal Cheyrin sudah menanggung sesuatu yang jauh lebih berat sendirian.

Steven menatap punggung Jayden yang menjauh.

Koridor lantai 2.

Deretan loker besi berjajar rapi. Suara mahasiswa lalu lalang terdengar ramai karena jam istirahat.

Jayden berjalan cepat menyusuri koridor sambil menoleh ke setiap kelas. Setelah mengobrol di gazebo tadi, pikirannya tidak tenang. Ia harus bicara langsung dengan Cheyrin.

Matanya berhenti di ujung koridor. Di sana Cheyrin berdiri bersandar pada loker, sedang berbicara dengan Lisa, teman sekelasnya yang cerewet. Cheyrin mendengarkan dengan wajah datar seperti biasa, sesekali mengangguk pelan. Lisa terlihat antusias bercerita sambil menunjuk-nunjuk buku catatannya.

Jayden menarik napas, lalu menghampiri mereka. Langkahnya berhenti dua meter di depan Cheyrin.

"Chey," panggil Jayden. Suaranya lebih rendah dari biasanya. Tidak ada nada ceria atau godaan seperti hari-hari sebelumnya.

Lisa langsung menoleh. Ia melirik Jayden dari atas ke bawah, lalu ke Cheyrin dengan senyum jahil. "Waduh, ada pangeran kampus nyamperin. Gue minggir dulu deh," bisik Lisa ke Cheyrin sambil menutup mulutnya.

Cheyrin tidak menanggapi Lisa. Ia hanya menatap Jayden sebentar, lalu mengangguk sekali. "Tunggu bentar," ucapnya datar ke Lisa.

Lisa langsung mengerti dan menjauh sambil melambaikan tangan. "Kalian ngobrol aja. Gue ke kantin dulu."

Begitu Lisa pergi, koridor itu terasa lebih sepi. Jayden dan Cheyrin berdiri berhadapan. Angin dari jendela koridor menerpa rambut Cheyrin.

Jayden memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Ia tidak langsung bicara. Ia memperhatikan wajah Cheyrin dulu. Masih datar. Masih dingin. Tapi Jayden ingat jelas bahu Cheyrin yang bergetar semalam.

"Gue mau ngomong bentar," kata Jayden pelan. "Boleh?"

Cheyrin menatap mata Jayden. Tidak menghindar. Tidak juga menyetujui. Hanya diam, menunggu Jayden melanjutkan.

Juno Pradana

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!