Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Bab 1_Hinaan

"Mas... uang belanja minggu ini cuma segini lagi?" tanya Rani lirih. Bibirnya bergetar, sementara matanya menatap beberapa lembar uang di atas meja dengan wajah cemas.

"Iya. Memangnya kenapa?" jawab Arga ketus. Keningnya berkerut, rahangnya mengeras, sementara sorot matanya penuh rasa tidak sabar.

"Sayur sudah habis. Beras tinggal sedikit. Gas juga mau habis..." ucap Rani pelan. Wajahnya terlihat gugup, sementara jemarinya saling menggenggam menahan gelisah.

Arga mendengus.

"Dasar boros! Uang segitu saja nggak cukup." bentak Arga. Wajahnya memerah, alisnya bertaut tajam, sementara rahangnya mengeras menahan emosi.

Rani terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha tetap tersenyum tipis agar tidak memperpanjang pertengkaran.

"Aku benar-benar hemat, Mas." ucap Rani lirih. Bibirnya bergetar, sorot matanya penuh kesedihan, sementara senyumnya dipaksakan agar air matanya tidak jatuh.

"Hemat?" Arga tertawa sinis. Sudut bibirnya terangkat mengejek.

"Lihat badanmu dulu! Makan terus kerjaannya. Pantas uang belanja cepat habis." ejek Arga. Tatapannya menyapu tubuh Rani dengan penuh hinaan, sementara senyum sinisnya semakin lebar.

Kalimat itu menusuk tepat ke hati Rani.

Ia hanya menundukkan kepala. Bahunya perlahan turun, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku... nggak makan sebanyak itu, Mas." jawab Rani pelan. Suaranya bergetar, bibirnya gemetar menahan tangis, sementara matanya tak berani menatap wajah suaminya.

"Sudahlah! Jangan membela diri."hardik Arga. Tangannya mengibas kesal, wajahnya dipenuhi rasa jengkel, sementara sorot matanya tetap dingin tanpa sedikit pun rasa iba.

Arga berdiri sambil mengambil tas kerjanya.

"Lagian perempuan kayak kamu mana perlu dandan. Badan gendut begitu mau pakai skincare jutaan juga tetap saja jelek." ucap Arga dengan nada menghina. Bibirnya melengkung sinis, matanya menatap tajam, seolah sengaja ingin melukai perasaan Rani.

Rani menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya memucat, sementara dadanya terasa sesak mendengar penghinaan itu.

Pintu rumah dibanting keras.

Brak!

Rani terduduk di kursi. Air matanya akhirnya jatuh satu per satu. Ia menatap cermin kecil yang sudah kusam.

Kulit wajahnya memang mulai terlihat kusam. Bekas jerawat semakin banyak. Bukan karena ia malas merawat diri. Melainkan karena ia memang tidak mampu.

Beberapa bulan lalu ia pernah melihat diskon skincare di sebuah toko. Harganya hanya seratus ribuan. Ia sudah sangat senang.

Namun uang itu akhirnya dipakai membeli minyak goreng karena persediaan di rumah habis.

Rani mengusap air matanya.

"Lupakan saja..." gumamnya pelan. Bibirnya memaksakan senyum tipis, sementara matanya masih memerah karena terlalu banyak menangis.

Ia membuka dompet.

Di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang lima ribuan yang ia sisihkan sedikit demi sedikit dari uang belanja.

Uang itu bahkan belum mencapai lima puluh ribu rupiah.

"Kalau terus nabung... mungkin dua bulan lagi cukup buat beli facial wash." bisiknya lirih. Tatapannya tertuju pada lembaran uang yang sudah mulai kusut, sementara matanya kembali berkaca-kaca membayangkan keinginan sederhana yang terasa begitu sulit diwujudkan.

Ia tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa begitu pahit.

Malam harinya...

Arga pulang dengan wajah masam.

"Ada makan nggak?" tanyanya datar. Alisnya terangkat tipis tanpa sedikit pun senyum.

"Ada, Mas." jawab Rani lembut. Ia segera berdiri dengan senyum tipis yang dipaksakan, meski wajahnya masih terlihat lelah.

Rani segera menyajikan nasi, tempe goreng, dan sayur bening.

Arga baru satu suapan langsung meletakkan sendok.

"Tempenya keras." keluhnya. Keningnya berkerut, bibirnya mengerucut kecewa, sementara tatapannya penuh ketidakpuasan.

"Maaf, Mas. Minyaknya tinggal sedikit." jawab Rani pelan. Wajahnya tampak cemas, sementara kedua tangannya saling menggenggam di depan perut.

"Alasan lagi!" bentak Arga. Rahangnya mengeras, telapak tangannya menghantam meja pelan, sementara nada bicaranya semakin meninggi.

Rani menunduk.

"Besok aku usahakan lebih baik." ucapnya lirih. Bibirnya bergetar, sementara suaranya hampir tak terdengar.

"Tahu nggak? Teman-teman kantorku istrinya cantik-cantik." kata Arga sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah sengaja membandingkan istrinya dengan wanita lain.

Rani diam.

"Mereka langsing." lanjut Arga. Matanya menatap Rani dari ujung kepala hingga kaki dengan penuh penilaian.

Diam lagi.

"Wajahnya bersih." sambung Arga lagi. Senyum sinisnya semakin terlihat, sementara nada suaranya terdengar meremehkan.

Rani semakin menunduk.

"Nggak kayak kamu." ucap Arga dingin. Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun rasa bersalah setelah melontarkan kata-kata yang menyakitkan.

Kalimat terakhir membuat ruang makan seketika sunyi. Rani mencoba tersenyum meski hatinya hancur.

Bab 2_Harapan untuk Rani

"Aku akan berusaha berubah." ucapnya pelan. Sorot matanya dipenuhi harapan, meski di balik itu tersimpan luka yang begitu dalam.

Arga tertawa pelan.

"Berubah?" tanyanya sinis. Alisnya terangkat, sementara bibirnya melengkung meremehkan.

"Iya." jawab Rani singkat. Ia mengangguk perlahan dengan wajah yang masih tertunduk.

"Dengan uang siapa?" sindir Arga. Tatapannya menusuk, sementara senyum mengejek masih menghiasi wajahnya.

Rani tidak mampu menjawab. Karena memang benar. Ia bahkan tidak pernah memiliki uang sendiri. Semua kebutuhannya bergantung pada pemberian Arga yang sangat pas-pasan.

Keesokan paginya...

Rani pergi ke pasar. Ia menghitung uang belanja berkali-kali. Seorang pedagang sayur memperhatikannya.

"Bu Rani, kok dihitung terus?" tanya pedagang itu ramah. Wajahnya dipenuhi senyum hangat.

"Takut kurang, Bu." jawab Rani pelan. Bibirnya tersenyum tipis, tetapi sorot matanya tampak cemas sambil terus menghitung lembaran uang di tangannya.

"Suami belum gajian ya?" tanya pedagang itu lagi dengan nada iba. Alisnya terangkat pelan, sementara senyumnya mulai memudar.

Rani hanya mengangguk pelan.

Selesai berbelanja, ia melewati sebuah toko kosmetik. Di etalase depan terpajang paket skincare yang sudah lama ia inginkan.

Diskon besar.

Rani berhenti. Matanya berbinar sebentar. Namun setelah melihat isi dompetnya... Ia tersenyum getir.

"Lain kali saja..." gumamnya lirih. Ia menghela napas panjang, lalu memalingkan wajah dengan senyum pahit yang dipaksakan.

Baru beberapa langkah meninggalkan toko... Seorang wanita berpakaian rapi menghampirinya.

"Permisi..." sapa wanita itu lembut. Wajahnya tersenyum sopan, sementara sikapnya terlihat tenang dan percaya diri.

Rani menoleh.

"Iya?" jawabnya bingung. Alisnya sedikit berkerut, sementara matanya menatap wanita asing itu dengan hati-hati.

Wanita itu tersenyum ramah.

"Maaf mengganggu." ucapnya sopan. Senyumnya hangat, membuat suasana terasa lebih nyaman.

"Ada apa ya?" tanya Rani ragu-ragu. Bibirnya mengerucut pelan, sementara tangannya otomatis menggenggam erat kantong belanja.

"Saya dari sebuah perusahaan kecantikan." jelas wanita itu. Wajahnya tetap ramah, sementara matanya menatap Rani dengan penuh ketertarikan.

Rani tampak bingung.

"Kami sedang mencari beberapa ibu rumah tangga untuk mengikuti program perubahan penampilan." lanjut wanita itu. Senyumnya semakin lebar, seolah ingin meyakinkan Rani.

Rani menggeleng pelan.

"Saya nggak punya uang." jawabnya cepat. Wajahnya langsung canggung, sementara matanya menunduk malu.

Wanita itu tersenyum.

"Program ini gratis." katanya tenang. Ekspresinya tetap santai, seolah hal itu bukan masalah besar.

Rani terdiam.

"Gratis?" tanyanya tidak percaya. Suaranya terdengar lirih, sementara sorot matanya mulai dipenuhi harapan kecil.

"Iya." jawab wanita itu sambil mengangguk lembut. Senyumnya tulus dan menenangkan.

"Kenapa saya?" tanya Rani pelan. Wajahnya masih ragu, sementara jemarinya mencengkeram tali tas dengan gugup.

Wanita itu memperhatikan wajah Rani beberapa detik.

"Karena kami melihat sesuatu yang berbeda." ucapnya perlahan. Senyumnya tipis, tetapi matanya berbinar penuh keyakinan.

"Apa?" tanya Rani makin bingung. Alisnya terangkat, sementara napasnya terasa tertahan menunggu jawaban.

"Kami melihat perempuan yang sebenarnya cantik... tetapi kehilangan rasa percaya dirinya." kata wanita itu lembut. Tatapannya hangat, tanpa sedikit pun nada mengejek.

Jantung Rani berdegup lebih cepat.

Belum pernah ada orang yang mengatakan dirinya cantik. Apalagi setelah bertahun-tahun mendengar hinaan suaminya.

Namun sebelum Rani sempat menjawab... Terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"RANI!" bentak seseorang dari kejauhan. Suaranya menggelegar penuh amarah, sementara wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras.

Tubuh Rani langsung membeku. Ia menoleh perlahan.

Arga berdiri beberapa meter di belakang mereka. Wajah pria itu merah padam dipenuhi amarah. Sorot matanya tajam menatap wanita asing di depan Rani.

"Kamu ngobrol sama siapa?!" bentaknya. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat.

Rani langsung gugup.

"Mas... ini tadi..." ucapnya terbata-bata. Bibirnya bergetar, wajahnya pucat pasi, sementara matanya bergantian menatap Arga dan wanita itu dengan panik.

Belum selesai menjelaskan...

Arga menarik lengan Rani dengan kasar hingga kantong belanjaannya jatuh berserakan di jalan.

Sayuran, cabai, dan tomat menggelinding ke mana-mana. Orang-orang mulai memperhatikan mereka.

Wanita berpakaian rapi itu langsung maju.

"Pak, tolong jangan kasar." ucapnya tegas. Tatapannya lurus menatap Arga, sementara ekspresinya tetap tenang tanpa menunjukkan rasa takut.

Arga menatap tajam ke arahnya.

"Kamu jangan ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentaknya. Wajahnya semakin merah, napasnya memburu, sementara telunjuknya menunjuk tepat ke arah wanita itu.

Rani menahan sakit di lengannya.

"Mas... lepaskan..." pinta Rani lirih. Suaranya bergetar, matanya memohon, sementara bibirnya gemetar menahan rasa sakit dan malu karena menjadi tontonan banyak orang.

Namun Arga justru menggenggamnya semakin erat. Di saat itulah wanita asing itu mengeluarkan sebuah kartu identitas dari tasnya.

"Kalau Bapak tetap melakukan kekerasan di tempat umum..." ucapnya tenang dengan tatapan tajam, "maka saya tidak akan diam."

Bab 3_Tekad yang kuat

"Aku tidak mau terus seperti ini..." batinnya.

Rani menatap dirinya sendiri di depan cermin kecil yang sudah kusam. Wajahnya terlihat lelah, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya masih menyimpan luka dari perkataan Arga kemarin.

"Aku memang pernah jatuh..." bisiknya pelan. Sorot matanya berkaca-kaca, sementara bibirnya bergetar menahan rasa sakit yang selama ini ia pendam. "Tapi bukan berarti aku harus selamanya berada di bawah orang lain."

Ia mengusap air matanya perlahan.

"Aku akan berubah." ucap Rani dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. Tatapannya mulai menguat, sementara rahangnya mengeras menahan segala rasa sakit yang selama ini dipendam.

Kali ini suara Rani terdengar lebih tegas. Wajahnya mulai menunjukkan tekad, meski masih terlihat ada rasa takut di dalam dirinya.

"Aku akan membuktikan kalau aku juga bisa berdiri sendiri." lanjutnya mantap. Dagunya terangkat perlahan, sorot matanya dipenuhi tekad yang membara, sementara kedua tangannya mengepal erat seolah sedang menguatkan dirinya sendiri.

Sejak kejadian di pasar itu, perkataan wanita dari perusahaan kecantikan tersebut terus terngiang di pikirannya.

"Kamu bukan kehilangan kecantikanmu. Kamu hanya kehilangan kepercayaan dirimu."

Kalimat itu membuat Rani berpikir sepanjang malam. Selama ini ia selalu percaya bahwa dirinya tidak berharga karena Arga terus mengatakan hal itu.

Namun sekarang....Untuk pertama kalinya, Rani ingin mempercayai dirinya sendiri.

Keesokan harinya, setelah Arga berangkat kerja, Rani tidak kembali duduk diam di rumah seperti biasanya.

Ia mengenakan pakaian sederhana, merapikan rambutnya, lalu keluar rumah dengan langkah perlahan.

Ia mendatangi sebuah toko kecil yang membutuhkan pegawai paruh waktu.

"Permisi..." sapa Rani pelan. Wajahnya terlihat gugup, sementara tangannya saling menggenggam karena merasa canggung.

Seorang wanita paruh baya yang sedang menyusun barang menoleh.

"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah. Wajahnya tersenyum hangat melihat Rani berdiri dengan ragu di depan toko.

Rani menarik napas panjang.

"Apakah... masih membutuhkan orang untuk membantu di sini?" tanyanya pelan. Matanya sedikit menunduk, sementara suaranya terdengar penuh harapan.

Wanita itu memperhatikan Rani sebentar.

"Kamu pernah bekerja sebelumnya?" tanya pemilik toko itu

Rani menggeleng.

"Belum, Bu." jawab Rani pelan. Wajahnya terlihat sedikit malu.

"Tapi saya bisa belajar." lanjutnya cepat. Matanya mulai menunjukkan kesungguhan, sementara kedua tangannya mengepal kecil penuh tekad.

Wanita itu tersenyum.

"Kenapa ingin bekerja?" tanya pemilik toko itu memastikan lagi.

Pertanyaan sederhana itu membuat Rani terdiam.

Ia ingin mengatakan bahwa ia lelah diremehkan. Ia ingin mengatakan bahwa ia ingin membuktikan sesuatu kepada suaminya.

Namun akhirnya...

"Saya ingin punya sesuatu yang saya hasilkan sendiri." jawab Rani pelan. Sorot matanya menguat, sementara senyum tipis muncul di wajahnya.

Wanita itu tersenyum bangga.

"Baik. Kamu bisa mulai besok." ucapnya hangat. Senyumnya semakin lebar, sementara tatapannya memancarkan kepercayaan kepada Rani.

Rani membelalakkan mata.

"Benarkah?" tanyanya dengan suara bergetar karena terkejut. Kedua matanya berbinar penuh harapan, sementara bibirnya sedikit terbuka seolah tidak percaya dengan kabar yang baru didengarnya.

Wajahnya tampak tidak percaya, sementara bibirnya perlahan membentuk senyum bahagia.

"Iya. Saya lihat kamu orang yang mau berusaha." jawab wanita itu lembut. Ia menganggukkan kepala pelan dengan senyum tulus, sorot matanya dipenuhi rasa yakin dan apresiasi.

Rani menunduk.

"Terima kasih, Bu." ucapnya lirih penuh haru. Senyumnya mengembang dengan mata yang mulai berkaca-kaca, sementara ia membungkukkan badan sedikit sebagai ungkapan rasa syukur dan hormat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...Rani merasa dirinya dibutuhkan.

Hari-hari berikutnya, kehidupan Rani mulai berubah.

Setiap pagi, setelah Arga pergi bekerja, Rani langsung berganti pakaian dan pergi ke toko.

Ia belajar melayani pelanggan, mencatat barang, membersihkan rak, hingga membantu mengatur stok.

Awalnya ia sering merasa lelah. Tangannya pegal. Kakinya sakit.

Namun setiap kali mengingat hinaan Arga... Semangatnya kembali muncul.

"Aku tidak boleh menyerah." Ucapnya dalam hati dengan wajah penuh tekad.

Sementara itu, Arga sama sekali tidak mengetahui perubahan istrinya.

Setiap sore sebelum Arga pulang, Rani sudah kembali ke rumah.

Ia memasak seperti biasa. Membersihkan rumah. Dan berpura-pura menjalani hari seperti sebelumnya.

Suatu malam, Arga pulang dan melihat Rani sedang menyiapkan makan malam.

"Kamu di rumah terus kan hari ini?" tanya Arga dingin. Wajahnya datar, sementara matanya menatap Rani dengan curiga.

Rani menoleh.

"Iya." Jawabnya singkat.

Ia tersenyum kecil sambil meletakkan makanan di meja.

Arga duduk.

"Kamu memang tidak bisa melakukan apa-apa selain mengurus rumah." Sindiran itu kembali keluar dari mulutnya.

Rani terdiam.

Dulu kalimat itu pasti akan membuatnya menangis. Namun sekarang... Ia hanya menarik napas panjang.

"Kamu benar, Mas." Jawab Rani pelan.

Wajahnya tenang, sementara sorot matanya tidak lagi selemah dulu.

Arga mengangkat alis.

"Kamu tidak marah?"Tanyanya heran.

Rani tersenyum tipis.

"Tidak." Ia menatap Arga. "Karena suatu hari nanti, kamu akan tahu apakah aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa."

Wajah Arga langsung berubah.

Alisnya mengernyit.

"Apa maksud kamu?" Tanyanya tajam. Sorot matanya mulai curiga.

Rani hanya tersenyum kecil.

"Tidak ada." Jawabnya sambil kembali menyiapkan makanan.

Namun di dalam hatinya...Ia tahu. Hari itu akan datang.

Hari ketika Arga melihat bahwa perempuan yang selama ini ia anggap lemah ternyata mampu berdiri sendiri.

Sebulan berlalu.

Rani mulai menyisihkan sebagian uang hasil kerjanya. Tidak banyak. Tetapi setiap lembar uang itu memiliki arti besar baginya.

"Itu hasil kerja keras aku." Ucapnya pelan sambil melihat uang yang ia simpan di dalam kotak kecil. Matanya berbinar, sementara senyum bangga terlihat di wajahnya.

Dengan uang itu, ia mulai membeli kebutuhan kecil untuk dirinya sendiri.

Sebuah pakaian baru. Produk perawatan wajah sederhana. Dan beberapa barang yang selama ini hanya bisa ia lihat dari etalase toko.

Perlahan...Rani mulai merawat dirinya kembali. Ia mulai tersenyum lebih sering. Mulai percaya diri. Bahkan beberapa tetangga mulai menyadari perubahan itu.

"Bu Rani, sekarang kelihatan beda ya." Ucap salah satu tetangganya. Wajahnya terlihat kagum, sementara matanya memperhatikan perubahan Rani.

Rani tersenyum malu.

"Benarkah?" Tanyanya pelan dengan wajah sedikit tersipu.

"Iya. Kelihatan lebih segar." lanjutnya.

Rani hanya tersenyum.

Namun ia tahu...Perubahannya bukan hanya tentang penampilan. Tetapi tentang dirinya yang kembali menemukan harga dirinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!