"Air mineral rasa semangat?"
Yuna menghela napas panjang.
Tatapan serius di balik kacamata bulat berbingkai tebal itu menyapu deretan minuman dingin di minimarket untuk ketiga kalinya.
Rambut pendeknya yang sebatas rahang mulai berantakan karena berkali-kali ia garuk dengan ekspresi datar.
Matanya kembali melirik ke secarik kertas berisi daftar perlengkapan Masa Orientasi Siswa.
Air pemadam kebakaran.
Air minum rasa semangat.
Roti isi tawa.
Permen anti ngantuk.
Susu sapi yang belum pernah melihat sapi.
Yuna meremas pinggirannya. Seolah ingin melampiaskan kekesalannya kepada kertas yang tak bersalah.
Padahal dalam hati...
Kenapa setiap angkatan harus mengulang tradisi absurd begini...?
Ia melangkah pelan menyusuri lorong makanan ringan. Mata hijaunya bergerak cepat membaca satu demi satu merk di rak. Sembari berharap ada produk yang secara ajaib bertuliskan "rasa semangat".
Yang jelas... tidak ada.
Yang ada hanya rasa jagung bakar, balado, rumput laut, keju, dan barbeque.
"... seharusnya memang tak ada, Para Kambing!"
(Kambing \= Kakak Pembimbing)
Saat sedang menghela napas untuk kesekian kalinya, ponselnya bergetar.
Ting!
Sebuah notifikasi muncul di layar. Tangannya membukanya dengan tatapan malas.
Azka: Masih nyari barang buat MPLS?
Yuna menatap layar tanpa ekspresi.
Azka: Kalau mau, aku kasih bocoran arti semua kodenya.
Alis Yuna berkedut.
Azka: Biar gak makin manyun tuh bibir.
"..."
"..."
Yuna hanya memutar bola mata pelan.
"Pelakunya malah menawarkan bantuannya sendiri. Benar-benar aneh."
Tanpa membalas sepatah kata pun, ia menekan tombol yang ada di sisi ponsel, hingga layarnya mati. Lalu memasukkannya kembali ke dalam tas bahunya.
Tatapannya kembali jatuh pada daftar perlengkapan yang diberikan panitia orientasi.
"Air pemadam kebakaran..." gumamnya lirih.
Matanya mengerjap cepat seperti sedang mencerna kata-kata itu.
"Lama-lama akan ku bawa nitrogen cair untuk orang-orang itu minum."
Ia mendengus sekali. Tatapannya bergantian antara kertas yang menampilkan daftar kode orientasi dan deretan rak di kanan kirinya.
Sesekali ia berhenti beberapa detik untuk membaca nama produk, lalu kembali menggeleng pelan karena tidak menemukan petunjuk apa pun.
Tepat saat ia hampir membuka kulkas yang berisi berbagai minuman dingin, terdengar bunyi pintu otomatis minimarket bergeser.
Ding...
Seseorang baru saja masuk.
Yuna hanya melirik sekilas ke arah pintu masuk. Sebelum kembali memusatkan perhatian pada daftar pada kertasnya.
Hanya pengunjung lain.
Namun saat ia hampir ingin mencondongkan tubuhnya untuk mengambil salah satu kaleng minuman—
"Loh? Yuna?!"
Suara itu memecah keheningan minimarket.
Sedikit terlalu keras.
Membuat Yuna refleks menoleh.
Seorang gadis seusianya sedang berjalan cepat ke arahnya. Ia mengenakan sweater longgar berwarna krem yang dipadukan dengan celana rumahan merah muda bermotif kotak-kotak.
Rambutnya diikat asal ke belakang, seolah ia hanya berniat membeli sesuatu sebentar sebelum pulang.
Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, gadis itu memperlambat langkahnya.
"K-kamu... Yuna, kan?"
Nada suaranya berubah sedikit ragu, seakan takut salah mengenali orang.
Yuna mengamatinya beberapa detik.
Wajahnya terlihat asing. Atau memang dirinya tadi pagi yang terlalu sibuk untuk menganalisis semuanya hingga mengabaikan sesuatu yang lebih penting.
Wajah dan nama teman sekelasnya.
"Ehm..."
Yuna menggaruk pelipisnya pelan.
"Maaf... kita pernah bertemu?"
Gadis itu langsung tertawa kecil.
"Ya ampun."
"Aku Melody."
Ia menjulurkan tangan kanannya dengan senyum ceria.
"Kita satu kelas, loh! Masa lupa?"
Yuna membeku beberapa detik.
"Melody?"
Lalu pandangannya berpaling ke arah rak sampingnya. Seolah ingin segera keluar dari kecanggungan ini.
Namun kemudian—
"Huaaah..."
Rengekan itu berhasil membuat Yuna tersentak. Seketika ia menoleh ke arah gadis di depannya. Dan langsung disambut oleh uluran kedua tangan yang menggenggam ponsel di setinggi dada.
"Yuna..."
"Tolongin aku, dong."
Nada suaranya terdengar manja. Bukan dibuat-buat, melainkan benar-benar seperti seseorang yang sudah menyerah setelah berpikir terlalu lama.
Pandangan Yuna tanpa sengaja jatuh pada kondisi Melody.
Beberapa helai rambut gadis itu mencuat ke sana kemari, seolah berkali-kali diacak karena frustrasi. Sweater krem yang dikenakannya pun ternyata sedikit melorot ke satu sisi, membuat penampilannya jauh dari kata rapi.
Yuna hampir meringis prihatin.
Kenapa penampilannya seperti dosen yang baru tiga hari begadang mengejar revisi jurnal?
"Eee anu..."
"Mau ya, Yunaa..." bujuknya sembari memasang wajah paling memelasnya.
"Tapi..."
"Please! Ratu Ahimsa Yunanda!"
"Hah?"
Jantungnya melambat sepersekian detik.
"Dia sampai mengingat namaku?" batinnya cemas. Namun ia buru-buru memalingkan wajah ke arah rak.
"...Bagian mana yang membuatmu bingung?"
Melody mengangkat layar ponselnya.
"Semuanya."
Yuna menghela napas panjang.
"Semuanya ya? Duh..."
Mereka akhirnya menyusuri lorong minimarket bersama.
Sesekali Melody menunjuk sebuah produk.
"Lah, kalau 'biskuit anak kos mapan' itu maksudnya apa?"
"Mungkin biskuit kaleng."
"Oalah..."
"Kalau 'permen senyum lima detik'?"
"Permen mint."
"Hah? Kok tahu?"
"Karena sensasi dinginnya tidak bertahan lama."
"Oooo..."
Melody mengangguk berkali-kali, meski raut wajahnya masih menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar memahami alur berpikir Yuna.
Obrolan ringan itu terus mengalir.
Hingga sebuah pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di benak Yuna, akhirnya lolos begitu saja.
"Oh ya, Mel..."
"Hm?"
Melody yang sedang memperhatikan rak mi instan langsung menoleh.
Yuna memiringkan kepala sedikit.
"Kok... kamu bisa langsung tahu kalau ini aku?"
Melody berkedip. Lalu tawanya pecah pelan.
"Hihihi..."
Ia menutup mulutnya sebentar sebelum menjawab.
"Soalnya..."
"Tatapanmu."
Yuna membeku.
"...Tatapanku?"
"Yep."
Melody mengangguk mantap.
"Pas sesi perkenalan tadi."
"Aku langsung mikir, 'wah... anak ini serem amat.'"
Yuna berkedip pelan.
Melody buru-buru melambaikan kedua tangannya.
"Bukan serem jahat loh, ya!"
"Cuma..."
"Gimana, ya..."
"Kayak kamu lagi melihat semua orang, terus kek sedang memindai kami gitu loh!"
"Makanya aku langsung tahu."
Jantung Yuna seolah berhenti berdetak sesaat.
Ketahuan...?
Refleks, tangannya naik menggaruk tengkuk. Kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia gugup.
Apa selama ini aku benar-benar semencolok itu?
Ia menelan ludah pelan.
Tenang...
Mulai sekarang... bersikaplah lebih normal.
Setidaknya, menurut standar kebanyakan orang. Bukan menurut standar dirinya. Apalagi menurut standar buku-buku yang memenuhi rak kamarnya.
Ia mengangguk pelan pada dirinya sendiri.
"Baiklah!"
....
Selama hampir dua puluh menit, keduanya berpindah dari satu lorong ke lorong lain.
Membaca kode.
Menebak maksudnya.
Lalu saling memastikan.
Rasanya lebih mirip berburu harta karun daripada berbelanja kebutuhan orientasi.
Hingga akhirnya mereka berdiri di depan meja kasir.
"Totalnya tiga puluh lima ribu ya, Dek."
Penjaga minimarket tersenyum ramah sembari memasukkan seluruh barang ke dalam kantong plastik.
Sementara itu, Yuna justru kembali menatap langit-langit.
Pikirannya melayang jauh.
Mungkin...
...aku harus berhenti membaca ensiklopedia sebanyak itu.
Kalau terus begini... aku benar-benar akan dianggap aneh.
"Sini belanjanya, Dek."
Panggilan itu hanya terdengar bagaikan gema samar diantara suara di pikirannya. Membuat Melody dan sang penjaga toko saling bertatapan kebingungan.
"Yun? Yunaa!"
Suara Melody langsung membuat gadis berambut pendek itu tersentak kecil.
"Oh, iya."
Ia buru-buru menyodorkan barang belanjaannya.
Penjaga toko mengeluarkan satu persatu isi keranjang itu.
Memindainya.
Hingga ketika barang terakhir hampir di tempelkan barcode pada scanner—
"Loh? Barangnya sama semua kek temennya ya, Dek."
Yuna mengangguk singkat.
"Iya, Kak."
"Ya sudah. Berarti totalnya sama juga ya, Dek," ucapnya sembari mengemasi barang-barang itu ke dalam kantong kresek besar.
Yuna sudah membuka dompetnya. Namun sebuah tangan lebih dulu mengulurkan uang.
"Sini! Sama aku aja."
Yuna langsung menoleh.
"Hah? Tidak usah, aku—"
"Gapapa."
Melody memotong sambil tersenyum.
"Anggap aja ucapan terima kasih karena udah nolongin aku."
Yuna terdiam. Membiarkan penjaga toko menerima uang Melody tanpa protes darinya lagi.
Tak lama kemudian, dua kantong plastik disodorkan ke arah mereka.
"Terima kasih, Kakak Cantik!" puji Melody ke arah sang penjaga toko, sembari mengambil dua kantong itu.
Lalu ia menyodorkan salah satunya kepada Yuna.
"Nih. Yang punyamu."
Yuna menerimanya pelan.
Entah karena masih ragu, atau memang tidak terbiasa menerima kebaikan dari orang yang baru dikenalnya. Tubuhnya bahkan sempat sedikit terdorong ke depan.
"Apakah ini... pola timbal-balik?" batinnya mencoba menelaah.
Tetapi gadis di depannya malah terkikik pelan.
"Gapapa loh! Gak usah sungkan..."
Melody melambaikan tangannya sekilas.
"Kita kan teman."
Yuna mengangkat wajahnya.
"Teman?"
Kata itu bergema pelan di kepalanya.
Sesederhana itu...?
Tatapan Melody tetap hangat. Tidak ada maksud tersembunyi. Tidak ada perhitungan.
Hanya senyum tulus yang membuat Yuna perlahan mengendurkan bahunya.
"Kan?"
Kalimat itu membuat Yuna mengembuskan napas pelan.
"Terima kasih atas intervensi—"
Yuna langsung membeku.
Melody memiringkan kepala.
"Inter... apa?"
Pipi Yuna memanas. Cepat-cepat ia menggeleng hingga rambut yang membingkai sisi wajahnya bergoyang.
"M-maksudku..."
"Terima kasih."
Melody kembali tersenyum lebar.
"Sama-sama!"
Jawabannya begitu ringan. Seolah tidak ada yang aneh dengan percakapan mereka.
Gadis itu kemudian melambaikan tangan kecil.
"Duluan ya!"
Lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar.
Langkahnya ringan. Nyaris seperti seluruh beban yang tadi ia keluhkan telah hilang bersama kantong belanja di tangannya.
Yuna masih berdiri di tempat. Menatap punggung Melody yang perlahan menjauh.
Tanpa sadar...
Sudut bibirnya ikut terangkat.
Bukan senyum karena berhasil menganalisis seseorang. Bukan pula senyum sopan yang selama ini ia latih.
Melainkan senyum kecil yang muncul begitu saja.
"...Mungkin."
"Belajar menjadi orang yang lebih normal..."
"...bisa dimulai darinya."
"Dek."
Suara penjaga toko kembali memanggilnya.
"Belanjaannya."
"Oh!"
Yuna tersadar.
"Iya. Terima kasih."
Di depan pintu otomatis, Melody sudah berjalan beberapa meter di depannya.
Untuk pertama kalinya hari itu...
Yuna mempercepat langkahnya.
Jleg!
Pintu belakang mobil menutup sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Membuat Yuna tersentak sampai memejamkan matanya.
Padahal...
Suara itu sama sekali tidak mengganggu orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Hanya saja, entah mengapa telinganya menangkap bunyi itu terlalu jelas. Mungkin karena jantungnya memang sedang bekerja sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Udah semua, Dek?"
Suara lembut itu membuat Yuna mengalihkan pandangan.
Nazwa tersenyum hangat dari balik kemudi. Sabuk pengamannya masih terpasang rapi. Sementara mesin mobil masih berdengung halus menunggu untuk dijalankan.
Jemari Yuna merapikan kerah putih seragamnya. Dasi abu-abu yang menggantung kembali ia luruskan. Lalu tangannya. Lalu naik ke rambut pendeknya—merapikan beberapa helai yang bahkan belum sempat berantakan.
Dan terakhir, membetulkan posisi kacamata bulatnya yang berbingkai hitam.
Rupanya untuk menjadi normal...
...ternyata jauh lebih sulit daripada dugaanku.
Bukan normal menurut versinya.
Melainkan...
Normal menurut kebanyakan orang.
"Sudah rapi semua, Kakak ipar," ucapnya tanpa senyum sama sekali.
Melihat ekspresi itu, Nazwa langsung mendesah panjang.
"Duh, Yuna..."
Ia tersenyum geli.
"Panggil 'Kakak' aja. Gak usah pakai embel-embel 'ipar'."
Yuna mengangguk pelan.
"Baik, Kak."
Jawaban itu singkat. Namun cukup membuat senyum Nazwa melebar sedikit.
Pandangan Yuna beralih ke arah gerbang besi yang terbuka lebar. Berdiri dibaliknya sebuah bangunan tiga lantai bercat putih dengan deretan pohon ketapang yang berjajar rapi di sepanjang halaman.
Beberapa siswa berseragam putih abu-abu mulai berdatangan.
Ada yang berjalan berkelompok.
Ada yang masih diantar orang tuanya.
Ada pula yang sibuk berfoto di depan papan nama sekolah.
Yuna menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan.
"Nervous?" tanya Nazwa dari sebalik kemudi.
Yuna menoleh setengah.
"Sedikit."
"Wajar, atuh."
Nazwa tersenyum hangat.
"Hari pertama memang biasanya bikin deg-degan."
Yuna mengangguk singkat. Lalu berjalan menuju gerbang.
"Semoga saja tidak ada sesuatu yang menarik perhatian."
"Hm?"
"Tidak apa-apa."
Nazwa terkekeh pelan.
"Yang rajin ya sekolahnya!"
"Terus... semoga nanti rankingnya bagus."
Yuna menggeleng pelan.
"Aku justru berharap sebaliknya loh."
Nazwa berkedip.
"Lho? Maksudnya?"
Tak ada jawaban.
Yuna hanya mengedipkan sebelah matanya sembari menjulurkan lidahnya kecil. Lalu berlari kecil menjauh dari mobil Nazwa.
"Dasar Yuna..."
"Orang lain berlomba-lomba jadi ranking satu. Kamu malah gak mau."
....
Yuna melangkah melewati gerbang sekolah. Sepatu hitamnya beradu pelan dengan jalur paving yang masih sedikit basah oleh embun pagi.
Tatapannya perlahan menyapu sekeliling.
Bangunan utama sekolah berdiri kokoh dengan dominasi warna putih gading yang dipadukan aksen abu-abu gelap. Jendela-jendela kaca besar memantulkan cahaya matahari pagi. Sementara taman kecil yang dipenuhi bunga kertas dan tanaman hias membuat suasananya terasa sejuk.
"Tata ruangnya cukup baik..."
Pandangannya beralih ke koridor yang membentang lurus.
"Lebar lorong sekitar tiga meter. Cukup untuk menghindari kepadatan saat pergantian jam pelajaran."
Yuna buru-buru mengalihkan pandangan ke taman sekolah. Memaksa dirinya menikmati bunga-bunga itu, meski pikirannya masih ingin menghitung jumlah pot yang berjajar.
Ia mengangguk kecil pada dirinya sendiri. Lalu mulai mencari papan petunjuk yang menunjukkan letak kelas X.
Namun...
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki berlari dari belakang membuat telinganya menangkap sesuatu.
Refleks, Yuna menoleh terlalu cepat.
Terlambat—
"YUNAAA!"
Bruk!
Dua lengan langsung melingkar di bahunya dari belakang. Sampai-sampai tubuh Yuna ikut terdorong setengah langkah ke depan.
"Aku seneng banget bisa ketemu kamu!"
Suara ceria itu menggema di antara siswa-siswi yang berlalu-lalang. Beberapa orang bahkan sempat menoleh penasaran.
Yuna menutup mata sejenak.
"Melody..."
Ia menggeliat kecil.
Bukan karena marah.
Melainkan...
Ia benar-benar tidak terbiasa dipeluk.
Namun nasihat Nazwa sebelum berangkat sempat terlintas di kepalanya.
"Cari teman."
Yuna akhirnya mengurungkan niat untuk melepaskan diri. Ia hanya membiarkan Melody memeluknya sambil berusaha bernapas senormal mungkin.
"Wah!"
Melody tiba-tiba memperhatikan sesuatu.
"Yun!"
"Kamu pakai bando hari ini?"
Tangannya langsung memainkan bando biru tua sederhana yang bertengger di atas rambut bob Yuna.
"Cocok banget! Kamu jadi lucu!"
Yuna berkedip.
"Itu hanya untuk merapikan rambutku."
"Iya, tapi lucuu!"
"T-terima kasih..."
Yuna berusaha tersenyum tipis. Namun beberapa detik kemudian wajahnya mulai memerah.
"...Mel."
"Hm?"
"Kamu..."
"Iya?"
"...terlalu dekat."
Melody masih belum sadar.
Baru ketika Yuna mengeluarkan suara lirih,
"Arkk..."
Ia buru-buru melepaskan pelukannya.
"EH! MAAF!"
Melody mundur satu langkah sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Hehehe aku keblabasan."
Yuna menarik napas panjang beberapa kali sambil mengelus dadanya.
"Paru-paruku hampir kehilangan kapasitas kerja normal."
Melody berkedip.
"Hah?"
Yuna ikut membeku.
Ia buru-buru merevisi ucapannya.
"M-maksudku... aku agak sesak."
"Oh!"
Melody tertawa kecil.
"Maaf yaa!"
Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Yuna.
"Yaudah! Yuk kita masuk bareng!"
"Apa—"
Belum sempat selesai berbicara...
Grep!
Melody melangkah cepat sambil menarik tangan Yuna hingga membuat tubuhnya ikut terseret.
"Awh! Energimu terlalu banyak!" serunya sembari membenarkan kacamata bulatnya disela larinya.
Melody hanya menoleh sambil tertawa lepas.
Yuna dibelakangnya pun hanya bisa memandangi tangan mereka yang masih saling menggenggam.
"Apa seperti ini cara berinteraksi kebanyakan orang?"
Ia tidak tahu jawabannya.
Namun...
Untuk pertama kalinya...
Pertanyaan itu tidak terasa terlalu buruk untuk dicari jawabannya.
...
Keduanya akhirnya tiba di depan sebuah ruangan.
X IPS 1
Tulisan itu terpampang rapi di atas kusen pintu.
Yuna menghentikan langkahnya sejenak sembari membetulkan kacamatanya.
Tatapannya menyapu isi kelas.
Ruangan itu belum sepenuhnya terisi. Beberapa siswa sudah duduk berkelompok sambil mengobrol, sebagian lainnya masih sibuk memilih tempat duduk terbaik.
"Hari kedua berinteraksi dengan teman-teman baru. Semoga aku bisa," batinnya sembari menganalisis beberapa sikap teman yang berhasil ia tangkap.
Namun—
Terasa sedikit lebih lama berdiri di ambang pintu tanpa distraksi oleh seseorang.
"Loh?"
Alisnya terangkat ketika ia menoleh ke samping. Karena mendapati bahwa Melody saat ini, sedang menggigit bibir bawahnya.
"Dia juga nervous."
Yuna pun menggenggam jemari Melody dengan sentuhan lembut. Membuat tubuh gadis dengan cardigan krem itu tersentak kecil.
"Lebih baik... kita segera cari tempat duduk."
Melody melirik sekilas.
Seolah mendapat energi yang tersalurkan dari dalam tubuh Yuna, gadis itu kembali tersenyum. Kemudian melangkah masuk lebih dulu.
Cahaya matahari yang masuk membentuk garis lurus memaksa masuk dari jendela yang berada di selatan ruangan. Memantul sempurna pada papan tulis digital di depan kelas yang layarnya masih gelap.
Di sampingnya, terdapat meja guru dengan taplak meja bermotif bunga dengan dasar hijau muda. Disertai pot bunga plastik yang semakin menambah kesan estetik.
"Begitu rapi..." gumam Yuna.
Gadis itu terus berjalan menuju bangku paling belakang yang berada di sudut ruang. Dekat dengan rak peralatan kebersihan kelas yang tertata rapi—warisan kakak kelas sebelumnya.
"Perfect!"
Bangku itu strategis untuk memberikan vision ke penjuru kelas. Juga tak terlalu menarik perhatian dari tatapan tajam guru killer.
Sudut bibir Yuna terangkat tipis. Posisi yang terlalu efisien menurut kalkulasinya.
Ia memang sengaja memilih jurusan IPS.
Bukan karena tidak mampu mengikuti IPA. Melainkan karena sejak kecil ia jauh lebih tertarik pada manusia daripada rumus.
Mengapa sebuah negara bisa berkembang.
Mengapa budaya berbeda mampu melahirkan cara berpikir yang berbeda pula.
Bahkan mengapa tiap negara bisa saling bertempur dengan alasan yang katanya demi perdamaian.
Baginya...
Tidak ada laboratorium yang lebih menarik daripada kehidupan itu sendiri.
"Sip."
Yuna meletakkan tasnya di kursi pojok belakang.
Menarik kursi perlahan.
Lalu ketika ia hendak menurunkan lutut belakangnya untuk duduk—
"Yun!"
Suara Melody menghentikan tindakannya.
Ia mendongak.
Lalu mendapati Melody yang sedang menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.
"Sini!"
Yuna mematung.
Tatapannya bergeser perlahan ke bangku sebelahnya Melody.
Barisan...
Paling depan.
Tepat menghadap papan tulis.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Karena posisi yang Melody pilih terlalu berisiko.
Yuna menelan ludah gugup.
"Yun!"
"Ayooo!"
Yuna pun menstabilkan ritme napasnya.
Lalu—
"...Baik."
Ia mengangkat tasnya kembali. Lalu melangkah menuju bangku depan.
"Nah, gitu dong! Temenin aku."
Yuna hanya membalas dengan senyum tipis.
Ia duduk perlahan.
Tangannya langsung merapikan posisi buku tulis, tempat pensil, dan botol minumnya hingga sejajar sempurna di atas meja.
Melody memperhatikannya sambil tersenyum geli.
"Kamu rapi banget."
"Efisiensi."
"Efisiensi?"
Yuna hanya mengangguk. Karena pikirannya tanpa diminta kembali berlari.
Bangku depan.
Berarti peluang guru mengajukan pertanyaan sekitar dua hingga tiga kali lebih besar dibanding barisan belakang.
"Mudah-mudahan..."
"Hari pertama berjalan tanpa kejadian yang tidak perlu."
Tepat saat itu...
Teng... Teng... Teng...
Bel masuk berbunyi nyaring. Suara obrolan di seluruh kelas perlahan mereda.
Dan tanpa Yuna sadari...
Keputusannya menerima ajakan Melody untuk duduk di bangku depan menjadi langkah pertama yang akan membuat rencananya hidup "biasa-biasa saja" mulai runtuh, sedikit demi sedikit.
Sepuluh menit berlalu, bel masuk telah lama berbunyi. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar di sisi selatan mulai perlahan naik.
Namun...
Guru yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Suasana kelas yang sempat hening mulai kembali dipenuhi bisik-bisik kecil.
Yuna yang ikut merasakan kegelisahan itu pun ikut bertopang dagu menggunakan punggung tangannya.
"Hambatan apa yang membuat sang guru belum datang ya?" gumamnya lirih.
"Entahlah. Keknya ada perubahan jadwal," sahut Melody mencoba menebak-nebak.
Tatapan matanya melongok keluar jendela, seolah sedang ikut mencari sang guru wali kelas.
Beberapa detik dalam kebingungan, tiga orang siswa berseragam almamater OSIS tiba-tiba merangsek masuk. Sontak, seluruh kepala menoleh ke arah ambang pintu.
Almamater biru muda yang mereka kenakan tampak rapi, dipadukan dengan seragam putih abu-abu yang disetrika licin. Yang membuat penampilan mereka jauh lebih modis dibanding siswa kebanyakan.
Beberapa siswi langsung berbisik pelan.
"Wah..."
"Kakak OSIS..."
"Ternyata bener, masih MPLS..."
Yang berdiri paling kiri adalah seorang siswi berambut panjang dengan senyum hangat.
"Kak Nia."
Di sebelahnya, seorang siswi berambut pendek dan berkacamata dengan frame hitam. Menunjukkan sosok yang ramah dan terkesan baik hati
"Kak Raizel."
Dan sosok terakhir berdiri paling depan. Dengan senyum lebar yang menurut sebagian besar siswa terlihat ramah.
Namun...
Di mata Yuna...
"Huh..."
"Semesta benar-benar sedang mengujiku," keluhnya sembari menopang pipinya.
Azka.
Kakak tingkat.
Ketua OSIS.
Sekaligus...
Adik kandung Nazwa.
Yang berarti...
Kakak iparnya.
Yuna memejamkan mata sesaat.
"Tak kusangka yang datang malah dia..."
Azka melangkah masuk lebih dulu sembari membusungkan dada. Langkahnya nampak terlalu dibuat-buat agar terkesan berwibawa.
Setelahnya, pandangan matanya menyapu seluruh kelas. Dengan senyum yang ia kira akan tampak hangat, terus terhias di wajahnya.
Seketika langsung disambut beberapa siswa yang mulai duduk lebih tegap.
Kecuali Yuna...
Ia justru memicingkan mata tipis.
Di sebelahnya, Melody malah berbisik antusias.
"Keren banget Kak Azka!" gumamnya tanpa sadar. Yuna yang mendengar hal itu pun meringis keheranan.
Ketiga kakak pembimbing itu akhirnya berdiri tepat di depan ruang kelas. Dengan posisi Azka yang berada di tengah—diapit oleh dua orang rekan lainnya.
Tanpa sengaja, tatapan Azka bertemu dengan Yuna.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuatnya mengangkat sebelah alis.
Lah? Adek gue ada disini?
Mungkin seperti itulah kalimat yang hendak diucapkan dari ekspresinya tersebut. Yuna pun menyipitkan matanya curiga.
Kak Nia melangkah setengah langkah ke depan dengan senyum hangat. Kemudian tangannya terangkat kecil—hendak melakukan sesuatu.
"Selamat pagi, adik-adik—"
"SELAMAT PAGI ADIK-ADIK SEMUAAA!"
Suara lantang itu langsung menelan ucapan Nia mentah-mentah. Membuat seluruh bahu para siswa menegang dalam satu tarikan napas.
Azka berdiri tegap di tengah. Seakan benar-benar ingin menonjolkan aura sang ketua OSIS yang mulai merambat ke seisi ruangan.
Sementara di sampingnya, senyum Kak Nia perlahan menghilang. Kelopak matanya berkedut pelan.
Baru juga mau ngomong gua, Anjir!
Padahal lima menit sebelum memasuki kelas ini, ia sudah bertekad bulat.
Hari ini aku harus terlihat seperti kakak pembimbing yang anggun, lembut, dan penuh kasih sayang.
Sayangnya... semua niat mulia itu langsung runtuh begitu Azka mulai membuka mulut.
"Saya tanya!"
Azka kembali berseru.
"SELAMAT PAGI SEMUANYA!"
Kali ini suaranya menggema lebih keras lagi. Laksana seorang vokalis band rock tersesat ke ruang kelas.
Para siswa baru yang sempat kebingungan akhirnya tersadar.
"Pagi!"
"Pagi!"
"Luar biasa!"
Yang jawab baru lima orang. Dan sisanya bengong.
Azka pun terbatuk singkat. Entah karena debu, tetapi ruangan ini cukup bersih untuk membuat seseorang terbatuk.
"Sekali lagi..."
Beberapa siswa mengerjap cepat. Dan mulai mengingat akan yel-yel yang kemarin sempat para kakak pembimbing ajarkan.
"SIAPA KITA?!"
Azka kembali berteriak lantang.
"SEPULUH IPS SATU!"
Akhirnya sebagian mulai menyahut.
"APA MOTTO KITA?!"
"BANGKIT!"
"TUMBUH!"
"MENJADI JUARA KELAS!"
Suara mereka mengguncang ruang kelas. Semangat yang tadinya masih setengah mengantuk kini benar-benar menyala.
Azka mengangkat kedua tangannya.
"Bagus!"
"Sekarang..."
"Kita nyanyikan yel-yel kebanggaan kelas kita!"
"SIAP?!"
"SIAAAP!"
"LET'S GO!"
"YO-AYO!"
Tepukan tangan yang dicampur oleh tepukan di pundak mulai beradu. Hentakan kaki ikut menyusul. Mulai melantunkan irama yel-yel yang menggema memenuhi ruangan.
Kalau didengar sekilas... lebih mirip lagu penyemangat pasukan yang hendak berangkat perang daripada lagu penyambutan siswa baru.
Di sisi lain, Kak Nia hanya menarik napas panjang. Dengan wajah datar, ia ikut bertepuk tangan pelan.
Plok!
Plok!
Semangatnya nyaris tidak ada—langsung anjlok pasca seruan sang ketua OSIS barusan.
Sementara Kak Raizel yang ada di sampingnya hanya tersenyum tipis. Seolah sudah terbiasa melihat tingkah ketua OSIS yang kadang terlalu sulit ditebak akan jalur pikirnya.
Di barisan depan, semua siswa sudah berdiri mengikuti irama. Kecuali satu orang.
Yuna.
Ia berdiri tegak. Kedua tangannya ikut bertepuk dengan tempo yang benar. Namun wajahnya tetap datar.
Tatapannya kosong ke arah depan. Pikirannya kembali berputar karena mencoba menghubungkan sangkut pautnya akan kegiatan yang sedang mereka lakukan saat ini.
"Apa hubungan antara yel-yel yang menyerupai mars militer..."
"daftar barang berkode yang harus dipecahkan kemarin..."
"dengan efektivitas proses belajar mengajar setelah ini?"
Beberapa detik berlalu, ia mencoba mencari pola. Mencoba menghubungkan sebab dan akibat. Mencoba menemukan tujuan pendidikan di balik semua kegiatan itu.
Lalu...
Yuna menghela napas pelan.
"Tidak ada."
"Ini hanyalah akal-akalan Kak Azka semata..."
"untuk melakukan perpeloncoan secara massal terhadap peserta didik baru."
Kesimpulan itu terasa begitu masuk akal di kepalanya.
Sementara di depan kelas, Azka justru berseru semakin lantang.
"SEMANGATNYA MANA?!"
Yuna memejamkan mata sepersekian detik.
"Yep! Hipotesisku semakin kuat."
....
Yel-yel akhirnya mencapai bait terakhir. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Beberapa siswa bahkan bersiul. Yang lain saling menepuk bahu.
Suasana yang terasa lebih mirip tribun suporter yang baru menyaksikan tim kesayangannya mencetak gol daripada ruang kelas pada hari pertama sekolah.
Azka mengangguk puas akan rencananya berhasil secara meriah.
Tepat ketika hendak melanjutkan bicara, pandangannya kembali jatuh ke barisan depan.
Lebih tepatnya... ke bangku tempat Yuna duduk.
Alisnya terangkat tipis.
Tumben dia dandan...
Bando biru tua yang melingkar di atas rambut pendek Yuna membuat penampilannya sedikit berbeda dari biasanya.
Jauh lebih rapi.
Sedikit lebih manis.
Di sisi lain, Yuna yang baru saja duduk merasakan ada seseorang sedang menatapnya.
Kepalanya mencoba memindai ruangan untuk mencari siapa sosok yang menatap dirinya. Sampai pandangan mereka bertemu.
Yuna menatap tajam ke arah wajah itu. Dengan harapan, tatapan itu cukup untuk menjelaskan isi kepalanya.
Tetapi respon yang di dapat justru sebaliknya. Senyum Azka justru semakin melebar. Lalu mengalihkan pandangannya ke seluruh kelas.
"Adik-adik. Sudah kenal semua sama teman-temannya?"
Hening.
Tak ada satu pun yang menjawab.
Karena memang pertanyaan itu terlalu sulit dijawab.
Baru dua hari orientasi. Sebagian besar dari mereka saja masih sulit untuk menghafal nama wali kelas.
Azka mengangguk pelan. Lalu mengulanginya dengan suara yang jauh lebih lantang.
"SAYA TANYA!"
"SUDAH SALING MENGENAL BELUM?!"
Yang terdengar hanya dengungan pendingin ruangan.
"Hmmmm..."
Azka menyipitkan mata.
Tatapannya menyapu seluruh kelas perlahan. Persis seekor harimau yang sedang memilih rusa mana yang akan dikejar lebih dulu.
Lalu...
"Kamu."
Ia menunjuk seorang siswa bertubuh tinggi di bangku belakang.
"Iya, Kak?"
Siswa itu refleks berdiri. Wajahnya langsung pucat.
"Siapa nama teman yang duduk di depan saya ini?"
Azka menunjuk ke arah Yuna.
Yuna ikut menoleh dengan tatapan datar dan dingin.
Namun Azka sama sekali tidak bergeming. Dan malah semakin santai.
"Eee..."
"Yang..."
"Anu..."
Beberapa suara tawa mulai terdengar meski masih tertahan. Namun cukup untuk membuat suasana kelas mencair.
Azka mengangguk pelan.
"Baik."
Ia lalu menunjuk siswi lain yang duduk di dekat jendela.
"Kalau kamu. Siapa nama teman di sampingmu?"
Siswi itu tersenyum canggung.
"...Belum hafal, Kak. Ehe..."
Azka terus berpindah dari satu siswa ke siswa lain.
Jawabannya...
Tetap sama.
Belum tahu.
Belum hafal.
Masih lupa.
Mata Azka perlahan berbinar. Laksana seorang pengacara yang baru saja menemukan bukti paling menentukan di ruang sidang.
"Ish..."
"Ish..."
"Ish..."
Ia menggeleng pelan sambil mendecak prihatin.
"Sedih sekali belum saling kenal."
Kak Nia mulai curiga terhadap ekspresi itu.
Dan benar saja, Azka menepukkan kedua tangannya.
"Baik!"
"Kalau begitu!"
"Agar kalian lebih cepat akrab..."
Ia berhenti sesaat. Senyumnya semakin lebar sembari menyisir ke seluruh kelas. Bagaikan ingin melihat wajah-wajah terakhir yang akan ia eksekusi.
"...kita akan mengacak seluruh posisi duduk."
Ruangan mendadak sunyi.
Lalu...
"HAH?!"
Protes spontan menggema dari berbagai sudut kelas.
"Kok gitu, Kak?!"
"Baru nyaman duduk di sini!"
"Yaah..."
Bahkan Kak Nia sampai membelalakkan mata.
"Kak Azka..."
Bisiknya pelan.
"Itu nggak ada di rundown."
Azka belum menyadari tatapan Nia. Dan tetap melanjutkan rencana yang entah sejak kapan terlintas di kepala sang ketua OSIS sotoy itu.
Nia pun hanya bisa melipat kedua tangannya di depan dada sembari menghela napas sabar.
"Keknya ide itu baru datang dua detik yang lalu deh..."
Sementara itu di bangku depan, Yuna memejamkan mata perlahan. Karena satu per satu rencana yang ia susun sejak memasuki kelas mulai runtuh.
Posisi duduk optimal.
Jarak pandang.
Kemungkinan ditunjuk guru.
Interaksi sosial minimum.
Semuanya...
Lenyap dalam satu kalimat.
Yuna membuka mata.
Tatapannya kembali tertuju pada Azka.
"Kamu memang datang bukan untuk membimbing kami, Kak Azka..." desisnya jengkel.
"Melainkan untuk menghancurkan stabilitas mental peserta didik baru."
Sementara di depan kelas, Azka masih tersenyum puas.
Baginya...
MPLS baru benar-benar dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!