Hujan deras mengguyur Kota Semarang sejak sore tadi, membasahi aspal jalanan yang mulai lengket, serta mengaburkan cahaya lampu kota yang berkedip-kedip di balik tirai air tebal. Angin malam yang berhembus dari arah pantai membawa aroma tanah basah yang tajam, bercampur dengan bau asap kendaraan yang tertahan di jalanan.
Di sudut ruang arsip kantor hukum tua di kawasan Simpang Lima, Nayara Adiswara masih sibuk merapikan tumpukan berkas yang sepertinya tak ada habisnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hanya dia dan penjaga gedung yang tersisa di sana.
"Terlalu banyak pekerjaan, Ra?" tanya Pak Joko saat lewat di depan pintu, sambil membetulkan posisi sarungnya.
"Harus selesai malam ini, Pak. Besarannya harus diserahkan besok pagi," jawab Nayara sambil tersenyum tipis, meski matanya terasa berat. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu baru lulus dan bekerja sebagai staf administrasi. Ia tak ingin mengecewakan atasannya, meski berarti harus pulang saat malam semakin larut.
Setelah menutup laci terakhir, Nayara meraih tas kerjanya, mematikan lampu, dan melangkah keluar. Hujan belum juga reda. Ia berdiri di bawah atap kanopi sejenak, menunggu mereda sedikit. Namun sepertinya hujan justru makin ganas. Dengan berat hati, ia melangkahkan kaki menerobos rintik air, berharap bisa segera mendapatkan taksi atau ojek daring.
Jalanan sepi. Biasanya masih ramai, tapi hujan malam ini seolah menyuruh semua orang tetap di dalam rumah. Nayara berjalan menyusuri trotoar yang licin, merapatkan jaket ke tubuhnya yang kurus. Langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah gang kecil yang biasanya ia lewati untuk mempersingkat jalan pulang. Biasanya ia tak berani lewat sana malam-malam begini, tapi cuaca yang buruk membuatnya nekat.
"Paling cepat lima menit sudah sampai," gumamnya pelan, meyakinkan diri sendiri.
Gang itu remang-remang, hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip-kedip. Di ujung sana, terdapat sebuah bangunan tua yang sudah lama kosong. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Suara langkah kaki berat terdengar, diikuti suara bentakan rendah yang penuh ancaman.
Nayara mematung. Ia bersembunyi di balik tiang beton tua, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan mendorongnya mengintip sedikit.
Di sana, di bawah sorot lampu yang redup, berdiri sekelompok pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam. Di tengah mereka, seorang pria dengan jas hitam yang pas di badan berdiri tegak. Posturnya menjulang, memancarkan aura yang begitu mendominasi, dingin, dan menakutkan. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tapi Nayara bisa melihat rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam seperti elang yang mengincar mangsa.
Itu adalah Arya Satria. Nama yang sering ia dengar berbisik-bisik di telinga orang-orang Semarang. Pemimpin organisasi bayangan yang konon memegang kendali atas sebagian besar bisnis gelap kota ini. Sosok yang tak pernah tersentuh hukum, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri.
"Kau pikir kau bisa lari begitu saja dari kami?" suara Arya terdengar rendah namun bergetar, penuh amarah yang tertahan. Ia menatap pria yang sudah terjatuh di hadapannya, wajah pria itu penuh darah dan ketakutan.
"Saya... saya minta maaf, Tuan Satria... saya hanya..." pria itu tergagap, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Kau melanggar aturan. Kau mencuri dari kami. Dan kau tahu apa akibatnya?" Arya mengangkat tangannya perlahan. Gerakannya begitu tenang, namun justru itulah yang membuatnya semakin mengerikan. Tanpa teriakan, tanpa amukan, ia melambaikan tangan singkat.
Salah satu anak buahnya maju dan—
Duar!
Suara letusan peluru tertahan terdengar memecah keheningan malam. Darah memercik ke tanah yang basah.
Nayara menutup mulutnya dengan kedua tangan sekuat tenaga agar tak mengeluarkan suara. Matanya membelalak lebar, air mata seketika menggenang. Kakinya lemas seketika. Ia baru saja menyaksikan sebuah pembunuhan secara langsung.
Nafasnya tercekat. Ia mencoba mundur perlahan, berniat lari secepat mungkin dari tempat terkutuk itu. Namun, tumit sepatunya tersandung batu kecil.
Krak!
Suara itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam.
Segera saja, semua kepala menoleh ke arahnya. Sepasang mata tajam milik Arya Satria terkunci tepat pada manik mata Nayara. Waktu seolah berhenti berputar. Hujan semakin deras, membasahi tubuh mereka, namun tak ada yang bergerak sedetik pun.
Arya menatapnya lekat, dari ujung kaki hingga wajah pucat gadis itu. Ada kebingungan sesaat, lalu digantikan oleh amarah yang membara namun dingin. Seorang gadis asing telah melihat apa yang seharusnya tak pernah dilihat oleh siapa pun.
"Tangkap dia," perintah Arya singkat, datar, namun mematikan.
Dua orang pria berbadan besar segera berlari mendekat. Nayara sadar ia tak punya kesempatan untuk melawan. Ia berbalik hendak lari, tapi kakinya yang gemetar tak mampu mengimbangi kecepatan mereka. Dalam hitungan detik, tangannya sudah dicengkeram erat. Perlawanannya sia-sia. Ia diseret mendekat ke arah pria yang kini menjadi mimpi buruknya.
Arya melangkah maju, berhenti tepat di hadapan Nayara. Tingginya menjulang, membuat gadis itu harus mendongak menatapnya. Bau parfum mahal bercampur bau tembakau dan besi berkarat tercium dari dirinya.
"Siapa kau?" tanyanya, suaranya rendah dan menekan.
"Saya... saya hanya lewat..." suara Nayara bergetar hebat, air mata akhirnya menetes membasahi pipi yang basah karena hujan. "Saya tidak melihat apa-apa... saya janji..."
Arya menunduk sedikit, menatap lekat ke dalam mata cokelat Nayara yang bening namun penuh ketakutan. Ia melihat ketulusan di sana, kepolosan yang begitu kontras dengan dunia kelam yang ia tinggali. Namun, tak ada pengecualian bagi siapa pun yang tahu rahasianya.
"Kau sudah melihat cukup banyak," ucap Arya dingin. Ia mengangkat tangan, menyentuh rahang Nayara dengan jari yang kasar namun sentuhannya entah bagaimana terasa sangat lembut, membuat gadis itu bergidik bukan karena takut semata. "Sekarang kau tidak boleh pergi ke mana-mana."
"Tolong... lepaskan saya..." Nayara meronta pelan, namun tatapan Arya seolah mematikan seluruh tenaganya.
"Namaku Arya Satria. Dan mulai detik ini, kau milikku. Sampai aku yakin kau tidak akan membocorkan apa yang kau lihat malam ini," ucapnya tegas. Ia memberi isyarat, dan anak buahnya segera membawa Nayara masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
Nayara dipaksa masuk ke kursi belakang, tepat di sebelah Arya. Pintu tertutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar. Suara hujan kini terdengar samar. Mobil melaju membelah jalanan kota Semarang yang sepi, menuju ke arah perbukitan tempat kediaman pribadi Arya.
Di dalam mobil yang sunyi itu, Nayara menekuk lututnya, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar. Di sampingnya duduk pria yang menakutkan, pria yang bisa mengakhiri hidupnya kapan saja. Namun entah mengapa, di tengah ketakutan yang melumpuhkan akal sehatnya, ada rasa aneh yang terselip—sebuah perasaan yang belum ia pahami, bahwa takdirnya kini telah terikat rapat dengan pria bernama Arya Satria.
Dan di balik wajah dingin Arya yang tak menunjukkan emosi apa pun, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Sesuatu yang sudah lama mati, kini kembali berdenyut pelan saat melihat air mata yang jatuh dari mata gadis itu
Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai jendela yang tebal, menyinari lantai marmer kamar yang luas itu. Nayara terbangun dengan perasaan bingung yang seketika berubah menjadi panik hebat saat menyadari ia tidak berada di kamarnya sendiri. Ingatan semalam berputar kembali dengan cepat—hujan deras, gang gelap, suara tembakan, dan sosok pria dingin bernama Arya Satria yang kini menguasai seluruh hidupnya.
Ia bangkit duduk perlahan, menatap sekeliling ruangan yang terasa asing namun kini menjadi tempat perlindungan sekaligus penjara baginya. Di atas meja rias sudah tersedia pakaian ganti yang pas dengan ukuran tubuhnya, serta nampan berisi sarapan sederhana namun terlihat lezat. Perutnya sebenarnya terasa lapar, tapi tenggorokannya terasa kering setiap kali ia mencoba menelan ludah.
Nayara melangkah mendekati pintu, mencoba memutar gagangnya. Terkunci. Jantungnya mencelos. Rasa takut kembali menyergap. Ia mengetuk pintu pelan, lalu sedikit lebih keras. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki berat berhenti di seberang sana.
"Nona Nayara?" suara Bima terdengar samar dari balik pintu. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Bima... pintunya terkunci," ucap Nayara dengan suara bergetar. "Bolehkah saya keluar sebentar? Saya ingin mencuci muka, atau sekadar berjalan-jalan sedikit..."
"Maafkan saya, Nona," jawab Bima dengan nada sungguh-sungguh. "Itu perintah Tuan Arya. Nona belum boleh keluar kamar sampai beliau datang menjemput atau memberi izin. Tapi jika Nona butuh apa saja, katakan saja lewat pintu ini, saya akan siapkan."
Nayara menghela napas panjang, menahan air mata yang hendak menetes. Ia mundur perlahan, kembali duduk di tepi tempat tidur yang empuk namun terasa sangat dingin. Di luar sana, orang tuanya pasti sudah mulai gelisah, teman-temannya mungkin bertanya-tanya mengapa ia tidak muncul. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang dikatakan Arya semalam, kembali ke kehidupan lamanya saat ini sama saja dengan membawa maut bagi orang-orang yang ia sayangi.
Tak berapa lama, pintu terbuka dari luar. Arya berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kekar yang membalut otot yang terlatih. Wajahnya masih setajam semalam, namun ada sedikit perbedaan—kini ia tidak memakai jas hitam yang membuatnya tampak semakin mengintimidasi.
Nayara segera bangkit berdiri, merapatkan tubuhnya ke sisi tempat tidur seolah ingin menghilang ke dalam dinding. Tatapan Arya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti tepat pada wajah gadis itu.
"Kau belum makan?" tanyanya singkat, melangkah masuk dan menutup pintu kembali.
"Saya... saya belum lapar," jawab Nayara menunduk, tak berani menatap mata pria itu.
Arya mendekat, membuat Nayara semakin menekan punggungnya ke dinding. Pria itu berhenti berjarak satu langkah darinya, lalu menatap lekat wajah pucat gadis itu.
"Di rumah ini, kau akan makan, tidur, dan berperilaku layaknya penghuni rumah ini," ucapnya tegas. "Bukan karena aku menyayangimu, tapi karena aku butuh kau dalam keadaan sehat dan waras. Jika kau sakit atau lemah, kau hanya akan menjadi beban bagiku."
Kata-katanya terdengar kasar dan dingin, namun entah mengapa cara bicaranya begitu teratur, seolah ia sedang menetapkan aturan yang harus dipatuhi demi kebaikan bersama.
"Duduklah. Makanlah," perintahnya lagi, kali ini nadanya sedikit lebih rendah namun tetap tak bisa ditawar.
Nayara mengangguk pelan, duduk kembali dan mulai menyantap sarapannya dengan tangan yang masih gemetar. Arya berdiri tak jauh dari sana, bersandar pada lemari pakaian sambil melipat tangan di dada, mengawasinya terus-menerus. Setiap kali Nayara menoleh sedikit, ia selalu mendapati tatapan tajam itu tak lepas darinya.
"Apakah... apakah saya benar-benar tidak boleh menghubungi Ayah dan Ibu?" tanyanya tiba-tiba, memberanikan diri meski suaranya nyaris tak terdengar.
Rahang Arya mengeras seketika. "Bima sudah mengurusnya. Mereka diberitahu kau ditempatkan di asrama kantor karena ada tugas mendesak yang harus diselesaikan berhari-hari. Jika kau menelepon atau datang ke rumah, jejakmu akan terbaca oleh musuh-musuhku. Dan saat itu terjadi, kau bukan satu-satunya yang akan mati."
Kalimat itu menampar kesadaran Nayara sekali lagi. Ia mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah. "Baiklah... saya mengerti."
Arya melangkah maju, mengambil kursi di seberang meja makan lalu duduk berhadapan dengan gadis itu. "Sekarang dengarkan aturan yang harus kau ikuti selama di sini. Pertama, jangan pernah mencoba melarikan diri. Penjagaan di luar sangat ketat, dan kau pasti akan tertangkap sebelum kau sampai di gerbang. Kedua, jangan bertanya hal-hal yang tidak perlu tentang urusanku. Kau cukup tahu apa yang perlu kau ketahui. Ketiga, jangan berbicara sembarangan pada siapa pun yang kau temui di rumah ini, kecuali Bima atau aku sendiri."
Ia berhenti sejenak, menatap lekat mata Nayara yang mulai berkaca-kaca. "Dan yang terakhir... jangan berharap aku akan menjadi pria yang lembut atau penuh kasih sayang. Aku bukan pahlawanmu, Nayara. Aku adalah orang yang kau temukan di tempat pembunuhan semalam. Satu-satunya alasan kau masih bernapas hari ini adalah karena aku memutuskan begitu."
Nayara meletakkan sendok dan garpunya perlahan. "Lalu kenapa? Kenapa Anda tidak membiarkan saya mati saja semalam? Bukankah lebih aman jika tidak ada yang tahu apa yang terjadi di gang itu?"
Arya terdiam. Matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap kota Semarang yang mulai terang benderang. Bayangan masa lalu kembali melintas di benaknya—seorang wanita yang dulu ia cintai, yang memiliki mata persis seperti gadis di hadapannya ini. Wanita yang harus ia korbankan demi keamanan organisasinya.
"Karena," jawabnya pelan, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menahannya, "membunuh orang yang tidak bersalah... adalah hal yang tidak akan pernah aku lakukan lagi."
Kalimat itu keluar begitu saja, dan seketika suasana di ruangan itu berubah. Ada sisi lain dari Arya yang tersembunyi di balik topeng kekejamannya—sebuah penyesalan mendalam yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Namun jangan salah paham," lanjutnya cepat, kembali memasang wajah dinginnya. "Itu bukan berarti aku membiarkanmu bebas. Kau akan tinggal di sini, di bawah pengawasan ketatku. Sampai aku yakin rahasia itu aman, dan kau tidak akan menjadi ancaman bagiku."
Nayara hanya bisa diam, merasakan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ia takut setengah mati pada pria yang duduk di hadapannya. Namun di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa pria yang dikenal sebagai pemimpin mafia kejam itu ternyata memiliki luka yang tak terlihat, luka yang mungkin lebih dalam daripada apa yang bisa ia bayangkan.
"Baiklah," ucap Nayara akhirnya, menatap lurus ke manik mata Arya. "Saya akan menuruti semua aturan Anda. Saya berjanji tidak akan melarikan diri, dan tidak akan memberitahu siapa pun tentang apa yang saya lihat semalam. Tapi tolong... janjilah Anda tidak akan mencelakai orang tuaku."
Arya menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk. "Selama kau menuruti perkataanku, mereka akan aman. Dan kau pun akan aman."
Ia bangkit berdiri, berjalan menuju pintu. "Selesaikan sarapanmu. Nanti Bima akan mengantarmu berkeliling rumah, tapi ingat—hanya di area yang diizinkan. Jangan mencoba melangkah keluar pagar."
Saat Arya hendak membuka pintu, Nayara tiba-tiba memanggilnya. "Tuan Arya..."
Pria itu berhenti, menoleh sedikit tanpa membalikkan badan sepenuhnya.
"Terima kasih," ucap Nayara lirih, meski ia sendiri tak yakin harus berterima kasih atas apa—atas nyawanya yang terselamatkan, atau atas penjara yang kini ia tempati.
Arya tak menjawab. Ia hanya melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, meninggalkan Nayara sendirian dengan ribuan pertanyaan yang kini mulai merayap di benaknya. Siapa sebenarnya Arya Satria? Apa yang menyembunyikan di balik tatapan matanya yang kelam? Dan yang paling penting—bagaimana nasibnya selanjutnya, terkurung di antara perlindungan dan ancaman dari pria yang kini menjadi tuannya?
Di luar kamar, Arya menyandarkan punggungnya ke dinding sejenak, menutup matanya rapat-rapat. Hatinya yang selama ini keras bagaikan batu, seakan retak sedikit demi sedikit setiap kali ia melihat wajah Nayara. Ia tahu membawa gadis itu masuk ke dalam hidupnya adalah kesalahan besar. Namun melihat ketulusan yang terpancar dari mata gadis itu, ia tak sanggup melakukannya. Entah ini adalah awal dari perubahan, atau justru awal dari kehancuran yang lebih dahsyat lagi.
Sinar matahari semakin tinggi, menembus jendela kaca besar yang memantulkan cahaya ke seluruh sudut rumah yang begitu luas. Setelah selesai makan, pintu kamar terbuka dan Bima masuk dengan senyum tipis yang tetap sopan.
"Silakan ikut saya, Nona Nayara. Tuan Arya mengizinkan Nona melihat sekeliling rumah, dengan syarat tidak melangkah ke area yang dilarang," ucapnya pelan.
Nayara mengangguk, menyusul langkah pria paruh baya itu keluar dari kamar. Langkah kakinya ragu, matanya tak henti memandangi setiap sudut yang ia lewati. Lorong yang panjang dilapisi marmer hitam mengkilap, dindingnya dihiasi lukisan-lukisan bernilai tinggi yang gaya lukisannya begitu gelap dan mendalam. Di setiap ujung lorong selalu ada pria berpakaian serba hitam yang berdiri diam bagaikan patung, menatapnya sekilas dengan tatapan waspada sebelum kembali memandang lurus ke depan.
"Ini ruang tengah," tunjuk Bima saat mereka memasuki ruangan yang sangat besar. Langit-langitnya tinggi, ditopang pilar-pilar kokoh. Di tengahnya ada perapian besar yang kini sudah dingin, dan sofa kulit hitam yang terlihat sangat nyaman namun tak ada yang berani duduk di sana sembarangan. "Tuan Arya biasanya menerima tamu di sini. Tapi Nona dilarang masuk ke ruang kerja, ruang rapat, dan lantai dasar sebelah barat."
Nayara menelan ludah. "Kenapa ada begitu banyak larangan, Pak Bima? Padahal ini rumah..."
Bima berhenti sejenak, menatap ke arah jendela yang menghadap ke halaman belakang yang luas. "Bagi orang biasa, rumah adalah tempat beristirahat. Tapi bagi Tuan Arya, rumah ini adalah benteng. Setiap sudutnya menyimpan rahasia, setiap pintunya menyembunyikan bahaya. Tuan hanya ingin Nona aman, walau caranya mungkin terasa kaku."
Mereka berjalan menuju dapur yang bersih dan modern, lalu ke ruang makan yang mejanya saja sepanjang lima meter. Di ujung lorong sebelah kiri, Nayara sempat melihat pintu kayu besar yang sedikit terbuka. Dari celahnya, ia melihat tumpukan berkas berlabel rahasia dan peta yang dipaku di dinding. Tanpa sadar ia melangkah hendak mengintip lebih jauh, namun tangan Bima segera menahannya dengan lembut namun tegas.
"Jangan ke sana, Nona. Itu ruang kerja Tuan Arya. Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin beliau, bahkan saya sekalipun."
Belum sempat Nayara meminta maaf, suara berat yang sudah sangat ia kenali terdengar dari belakang mereka.
"Kau melangkah terlalu jauh."
Nayara menoleh dengan terkejut. Arya berdiri di sana, tangannya memegang selembar kertas, rahangnya mengeras. Wajahnya tidak menunjukkan amarah meledak-ledak, tapi justru ketenangan yang jauh lebih menakutkan.
"Saya... saya hanya penasaran, saya tidak bermaksud..." Nayara tergagap, mundur selangkah.
Arya melangkah mendekat, menatap tajam ke dalam mata gadis itu. "Keingintahuanmu itu yang akan membunuhmu, Nayara. Duniaku bukan tempat untuk kau telusuri sesukamu. Setiap hal yang tidak kau ketahui, justru itulah yang menjagamu tetap hidup."
Ia melewati samping Nayara, berhenti sejenak berbisik tanpa menoleh: "Jika kau ingin bertahan hidup di sini, pelajari aturannya. Atau kau akan menyesal telah melihat apa yang tak seharusnya kau lihat malam itu."
Setelah Arya masuk ke ruang kerjanya dan pintu tertutup rapat, tubuh Nayara terasa lemas seketika. Bima menghela napas pelan. "Jangan ambil hati perkataan Tuan, Nona. Beliau keras karena pernah kehilangan banyak orang yang disayanginya. Beliau tak ingin hal yang sama terjadi lagi pada Nona."
Siang berganti sore. Nayara duduk di teras belakang yang menghadap ke taman luas dan kolam renang yang jernih. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa aroma bunga melati yang tumbuh rimbun di sudut taman. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat hamparan Kota Semarang yang mulai berwarna-warni seiring matahari yang mulai turun. Namun keindahan itu terasa begitu jauh, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia luar.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Arya duduk di ujung bangku kayu itu, tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh. Ia memegang segelas kopi, menatap lurus ke arah cakrawala yang berwarna jingga kemerahan.
"Kau rindu rumah?" tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh.
Nayara mengangguk pelan, lalu sadar pria itu tidak melihatnya. "Sangat. Saya rindu suara Ibu yang memanggil saat makan, rindu tawa Ayah saat menonton televisi. Di sini... terlalu sunyi. Terlalu sempurna hingga terasa palsu."
Arya diam cukup lama. "Aku pernah merasakan hal itu. Dulu rumahku penuh suara tawa. Sampai satu malam, semuanya hilang dalam sekejap. Sejak saat itu, aku belajar bahwa kesunyian lebih aman daripada kebisingan yang bisa menyembunyikan musuh."
Ada getaran sedih yang samar dalam suaranya. Untuk pertama kalinya, Nayara berani menatap samping wajah pria itu dengan leluasa. Ia melihat garis halus di sudut matanya, bekas luka yang tak terlihat namun terasa begitu dalam.
"Siapa yang melukai Anda, Tuan Arya?" tanyanya lirih.
Arya menoleh perlahan, menatapnya. Kali ini tatapannya tidak lagi dingin, melainkan penuh peringatan namun lembut. "Banyak orang. Termasuk orang yang paling aku percaya. Dan itulah sebabnya aku tidak membiarkan siapa pun masuk terlalu jauh ke dalam hidupku. Sampai kau datang... secara tidak sengaja."
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit kelam yang mulai dihiasi bintang. Di rumah mewah itu, di antara kemewahan yang tak ternilai harganya, Nayara sadar ia memang hidup di dalam sebuah penjara. Namun entah mengapa, penjara itu dijaga oleh seseorang yang tampaknya lebih dulu dipenjara oleh masa lalunya sendiri.
Dan di balik tatapan tajam Arya, Nayara mulai menyadari satu hal: pria yang disebut kejam itu mungkin adalah orang yang paling kesepian yang pernah ia temui.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!