Udara sore di ruang tamu rumah kecil itu terasa begitu berat, seolah setiap butuh udara yang dihirup membawa rasa perih yang tak terucap. Nadia duduk di tepi sofa, tangannya saling meremas di atas pangkuan. Gaun sederhana berwarna krem yang ia pakai sudah kusut sedikit, sama seperti perasaannya yang selama dua tahun ini ia rajut dengan penuh kesabaran dan harapan—namun kini terancam hancur berantakan.
Di hadapannya, Rian berdiri tegak. Wajahnya dingin, tak ada sedikit pun ragu atau belas kasih yang terlihat di mata yang dulu sering menatapnya penuh kasih sayang. Dengan gerakan santai namun tajam, ia meletakkan selembar kertas bertuliskan surat perceraian di atas meja kayu yang pernah mereka beli bersama dengan menabung sedikit demi sedikit.
"Tanda tangani," ucapnya singkat. Suaranya datar, seolah yang ia minta hanyalah tanda terima barang yang tak berharga, bukan mengakhiri ikatan suci yang pernah mereka janjikan di hadapan Tuhan dan orang banyak.
Nadia menatap kertas itu lama, lalu perlahan mendongak menatap pria yang telah menjadi seluruh dunianya selama ini. "Rian... apa tidak ada jalan lain? Kita sudah lewati banyak hal bersama. Bukankah kita bilang akan membangun semuanya pelan-pelan?" suaranya bergetar, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
Rian mendengus pelan, menatapnya dengan pandangan yang terasa merendahkan. "Membangun apa? Rumah sempit seperti ini? Hidup pas-pasan setiap hari? Nadia, aku punya mimpi besar. Aku tidak mau habiskan sisa hidupku hanya untuk bertahan hidup seperti ini. Kamu tidak mengerti dunia yang aku tuju. Kamu terlalu biasa, terlalu lemah untuk menemaniku meraih semua itu."
Kata-kata itu menghujam tepat di jantungnya. Nadia menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu benar betapa besar ambisi Rian. Selama dua tahun pernikahan mereka, ia rela melepaskan segalanya—pekerjaan yang dulu ia tekuni, kemewahan yang sebenarnya bisa ia dapatkan kapan saja, bahkan identitas aslinya sendiri—semata-mata agar dicintai apa adanya, sebagai Nadia yang sederhana, bukan sebagai pewaris tunggal Grup Arka yang namanya disegani di dunia bisnis.
Ia ingin Rian mencintainya bukan karena harta atau nama besar keluarganya, melainkan karena dirinya sendiri. Namun ternyata, pengorbanan itu dianggap sebagai kelemahan oleh pria yang ia cintai sepenuh hati.
"Jadi... karena aku tidak bisa memberimu kemewahan atau koneksi yang kamu butuhkan? Kamu memilih wanita lain yang bisa membantumu lebih cepat?" tanya Nadia pelan, meski di dalam hatinya ia sudah tahu jawabannya. Kabar itu sudah ia dengar berhembus pelan beberapa minggu terakhir, namun ia masih berharap ada penjelasan lain, ada sedikit saja rasa sayang yang tersisa.
Rian tidak menyangkal. Ia malah mengangkat dagunya sedikit, seolah apa yang ia lakukan adalah keputusan yang paling tepat. "Diana bisa membukakan semua pintu yang selama ini tertutup bagiku. Keluarganya punya pengaruh besar. Bersamanya, aku bisa mencapai puncak dalam waktu singkat. Sedangkan kamu? Kamu hanya akan menjadi beban yang memperlambat langkahku."
Kalimat terakhir itu membuat hati Nadia seolah diremas kuat-kuat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga, mengalir di pipi yang mulai pucat. Namun ia tidak berteriak, tidak memohon dengan merendahkan diri. Perlahan, rasa sakit itu mulai berganti dengan kesadaran yang menyakitkan: orang yang ia perjuangkan ternyata tidak pernah benar-benar mengenal dan menghargainya.
Dengan tangan yang masih gemetar, Nadia mengambil pulpen yang diletakkan Rian di samping surat itu. Ia membaca sekali lagi baris per baris isi surat tersebut, memastikan bahwa semuanya benar-benar berakhir. Saat namanya ditulis di sana, setiap goresan tinta terasa seperti mengukir luka baru, namun sekaligus menjadi tanda bahwa ia harus berhenti menahan diri.
Setelah tanda tangan itu selesai, ia mendorong kertas itu kembali ke arah Rian. Tatapannya kini sudah lebih tenang, meski sorot matanya menyimpan kepedihan yang mendalam. "Semoga apa yang kamu cari darinya benar-benar bisa kamu dapatkan. Semoga kamu tidak pernah menyesali keputusan ini."
Rian menyambar surat itu dengan cepat, melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Ia tidak melihat ke arah Nadia lagi, seolah wanita yang ada di hadapannya sudah tidak ada artinya baginya. "Aku tidak akan menyesal. Hidupku baru saja dimulai," ucapnya dingin, lalu berbalik berjalan menuju pintu.
Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Aku akan ambil barang-barangku besok pagi. Kamu bisa tinggal di sini sampai kamu menemukan tempat lain. Sewanya sudah dibayar sampai akhir bulan."
Pintu tertutup. Bunyi kunci yang diputar terasa seperti penutup bab terakhir dari hidupnya sebagai istri sederhana Rian. Ruangan itu kini sunyi senyap, hanya terdengar isak tangis yang akhirnya meledak tak terbendung. Nadia merosot ke lantai, memeluk lututnya, membiarkan segala rasa sakit, kekecewaan, dan harapan yang hancur meluap bersama air matanya.
Namun di tengah kepedihan itu, sebuah tekad perlahan mulai tumbuh dari dalam hatinya yang paling dalam. Ia tidak akan terus terpuruk seperti ini. Jika dunia menganggapnya lemah dan tak berharga, maka ia akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Mulai hari ini, tidak ada lagi Nadia yang menyembunyikan identitasnya demi cinta yang salah. Mulai hari ini, ia kembali menjadi Nadia Kirana—pewaris sah Grup Arka, wanita yang mampu berdiri tegak di puncak tanpa harus bergantung pada pria manapun.
Matahari sore perlahan tenggelam, menyisakan cahaya kemerahan yang memudar di balik jendela. Dan bersamaan dengan lenyapnya cahaya itu, berakhirlah masa lalu yang penuh kebohongan, serta dimulainya perjalanan baru yang penuh kejutan bagi mereka yang pernah meremehkannya.
Malam itu, hujan turun membasahi kaca jendela, seolah turut meratapi berakhirnya pernikahan mereka. Nadia duduk bersandar di dinding, air matanya sudah kering, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan teguh. Ia meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja—ponsel tua yang sengaja ia pakai selama menikah dengan Rian, menyembunyikan nomor-nomor penting dari masa lalunya.
Jari-jarinya yang masih sedikit gemetar menekan tombol panggil pada satu nomor yang tak pernah ia hubungi selama dua tahun ini. Hanya berdering dua kali, sebelum suara berat dan penuh hormat terdengar dari seberang.
"Nona Nadia?"
Suara Pak Haris—sekretaris pribadi ayahnya yang sudah seperti keluarga sendiri—terdengar tak percaya.
"Pak Haris..." suara Nadia pelan namun mantap, "Aku sudah pulang."
Di ujung telepon terdengar hening sejenak, lalu disusul nada lega yang bercampur khawatir. "Syukurlah, Nona. Kami semua sangat merindukan Anda. Di mana Anda sekarang? Saya akan segera menjemput Anda."
"Di rumah sewa, Pak. Tolong jemput aku. Dan... siapkan semua dokumen yang berkaitan dengan Grup Arka. Aku akan mengambil alih peran Ayah, mulai hari ini."
Perintah itu keluar begitu saja, tanpa ragu sedikitpun. Rasa sakit yang tadi mencekiknya kini berubah menjadi api semangat yang tak akan pernah padam.
Kurang dari satu jam kemudian, deru mobil mewah berhenti tepat di depan rumah sederhana itu. Saat pintu terbuka, Pak Haris turun dengan terhormat, namun sorot matanya memancarkan rasa sedih melihat sosok majikannya yang tampak lelah namun tetap berwibawa.
"Nona," sapa Pak Haris dengan sopan, lalu segera membukakan pintu mobil.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman lamanya yang megah dan luas, Nadia menatap jalanan yang berlalu-lalang. Dua tahun menyembunyikan sayapnya, dan kini ia kembali mengepaknya dengan gagah. Sesampainya di rumah besar itu, para pelayan menyambutnya dengan takjub dan haru—banyak dari mereka yang mengira Nadia sudah hilang entah ke mana.
Malam itu juga, di ruang kerja luas yang pernah menjadi milik ayahnya, Nadia duduk di kursi besar berbalut kulit hitam. Di hadapannya terbentur tumpukan dokumen setebal puluhan sentimeter.
"Semua saham dan hak waris sudah tertulis atas nama Anda, Nona. Tuan Arka selalu berpesan, jika suatu saat Anda kembali dan siap memimpin, seluruh kekuasaan ada di tangan Anda," jelas Pak Haris sambil meletakkan pena emas di samping dokumen terpenting.
Nadia meraih pena itu. Dulu, tanda tangannya pada surat perceraian terasa menyakitkan dan memilukan. Namun kali ini, setiap goresan tinta yang membentuk nama Nadia Kirana Arka terasa penuh kekuatan, janji pada dirinya sendiri untuk bangkit dan melangkah lebih jauh dari siapapun yang pernah meremehkannya.
Begitu tanda tangan itu sah, statusnya sebagai pewaris tunggal sekaligus pemimpin utama Grup Arka telah resmi diakui secara hukum. Perusahaan raksasa yang menguasai berbagai bidang bisnis—dari properti, teknologi, hingga perdagangan internasional—kini berada sepenuhnya di bawah kendalinya.
"Besok pagi," ucap Nadia sambil menutup dokumen itu perlahan, "Panggil seluruh direksi untuk rapat. Dan tolong siapkan profil lengkap perusahaan-perusahaan yang sedang naik daun belakangan ini. Termasuk usaha baru yang baru saja dirintis oleh Rian."
Pak Haris sedikit terkejut namun segera mengangguk patuh. "Baik, Nona. Akan saya persiapkan."
Nadia menatap pantulan dirinya di jendela kaca besar yang memandang ke arah kota yang mulai gelap. Dulu ia rela menjadi bayangan demi dicintai apa adanya. Kini ia akan menjadi cahaya yang paling terang, hingga siapapun yang pernah memalingkan wajah darinya, terpaksa harus menoleh kembali—meski itu terlambat.
Dan di sudut hati yang paling dalam, ia tahu takdir tak akan membiarkan mereka berpisah begitu saja. Jalur mereka pasti akan bersilang kembali. Dan saat itu tiba, Rian baru akan sadar betapa besarnya harta yang telah ia buang dengan tangan sendiri.
(Lanjut ke Bab 3?)
Sinar matahari pagi menembus tirai sutra tebal, menerangi ruangan yang begitu megah namun dulu terasa asing bagi Nadia. Kini, saat ia melangkah keluar dari kamar tidur utamanya, setiap sudut rumah besar itu menyambutnya sebagai pemilik sah.
Di ruang makan, meja panjang sudah terisi hidangan lengkap. Namun Nadia tak banyak menyentuhnya—pikirannya sudah tertuju pada satu hal: Grup Arka.
Pak Haris menunggunya dengan membawa map tebal berlogo emas perusahaan yang bergambar elang terbang tinggi. "Nona, persiapan sudah selesai. Seluruh anggota direksi sudah menunggu di ruang rapat utama. Ada beberapa yang terkejut mendengar Anda yang akan memimpin langsung, namun sebagian besar sudah sangat menantikan kehadiran Anda."
Nadia mengambil map itu, jari-jarinya menyentuh logo yang dulu sering ia lihat di saku jas ayahnya. "Biarkan mereka tahu. Grup Arka bukan milik orang lain. Dan mulai hari ini, tidak ada lagi keputusan yang diambil tanpa sepengetahuanku."
Perjalanan menuju gedung pusat Grup Arka terasa singkat namun penuh makna. Saat mobil hitam mewah berhenti di depan lobi utama, seluruh petugas keamanan dan staf yang sedang beraktivitas serentak menoleh. Belum pernah ada yang melihat sosok pewaris tunggal secara langsung selama bertahun-tahun.
Saat Nadia melangkah keluar—dengan setelan jas berwarna merah marun yang menegaskan wibawanya, rambut yang disusun rapi, dan tatapan mata yang tegas—suasana lobi seketika hening. Ia bukan lagi wanita sederhana yang rela berjalan kaki demi menghemat uang. Ia adalah Nadia Kirana Arka, penerus tongkat estafet kekaisaran bisnis terbesar di negeri ini.
Di ruang rapat lantai paling atas, suasana terasa kaku. Para direktur yang berusia jauh lebih tua, yang selama ini mengira pewarisnya masih anak-anak atau tak tertarik pada bisnis, kini terpaku melihat sosok muda yang duduk di kursi kepemimpinan utama.
Tanpa banyak basa-basi, Nadia meletakkan dokumen pengesahan hak waris di tengah meja kaca.
"Aku tahu banyak dari kalian yang meragukan kemampuanku," suaranya tenang namun berwibawa, bergema memenuhi ruangan luas itu. "Ayahku mendirikan Grup Arka bukan hanya untuk mengumpulkan harta, tapi untuk membangun kepercayaan dan melangkah lebih jauh dari siapapun. Dua tahun ini aku pergi, belajar banyak hal yang tidak bisa kalian temukan di ruangan mewah ini. Aku belajar bertahan, bekerja keras, dan melihat bagaimana dunia memperlakukan orang yang dianggap lemah."
Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya. "Mulai hari ini, kita tidak akan berjalan di tempat. Kita akan memperluas jangkauan, memperketat kerja sama, dan memastikan tidak ada satu pun pihak yang bisa meremehkan nama Grup Arka lagi. Dan satu hal lagi—jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilannya."
Tak ada sanggahan. Kata-kata itu begitu tegas dan penuh keyakinan, membuat siapa saja yang mendengarnya tak ragu lagi untuk tunduk pada kepemimpinannya. Satu per satu direktur mulai mengangguk, menyadari bahwa di hadapan mereka bukanlah gadis yang lemah, melainkan pemimpin yang lahir dari garis keturunan terbaik.
Sementara itu, di sisi lain kota, Rian baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan perantara yang disarankan oleh Diana. Wajahnya tampak berseri, merasa langkahnya menuju kesuksesan semakin terbuka lebar.
"Kamu lihat kan? Semua berjalan lancar berkat bantuan Diana," ucapnya bangga pada diri sendiri sambil merapikan berkas usahanya. "Nadia benar-benar hanya akan menjadi beban jika aku bawa sampai sejauh ini. Dia tak akan pernah paham betapa berharganya kesempatan seperti ini."
Ia sama sekali tak menyadari, bahwa kesempatan yang ia banggakan itu—satu per satu—terletak di bawah kendali wanita yang baru saja ia tinggalkan. Dan tak lama lagi, ia akan mengetuk pintu itu dengan penuh harap, tanpa tahu siapa yang akan berdiri di baliknya.
(Lanjut ke Bab 4?)
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!