"Selamat pagi, Evan."
Evan mengangguk singkat tanpa menghentikan langkahnya. Jas hitam yang membungkus tubuh rampingnya tampak rapi tanpa cela. Rambut pendek yang sedikit menutupi dahi, kacamata tipis membingkai wajah tampan yang terkesan dingin. Suara yang sengaja dibuat lebih berat, serta ekspresi dingin di wajahnya membuat tak seorang pun meragukan identitasnya.
Selama tiga tahun terakhir, semua orang mengenalnya sebagai seorang pria.
Tak ada yang tahu... Nama asli Evan Hold sebenarnya adalah Evelyn Velora Harley. Putri kedua keluarga Harley dari istri pertamanya Tuan Harley.
"Direktur Damian sudah tiba lebih dulu. Beliau meminta semua kepala divisi segera masuk ke ruang rapat." Sera, staf administrasi kantor.
Evan melirik jam tangan, tepat pukul delapan.
"Tidak ada perubahan jadwal?" tanya Evan.
"Tidak." jelas Sera mantap.
"Oke."
Ia melangkah menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Ding. Pintu lift tertutup, Menuju ke lantai 27 - ruang meeting utama.
Selama dua puluh enam tahun hidupnya, tidak ada tau tentang kebenaran tersebut. Termasuk keluarganya sendiri.
Sang ibu, Chatarina Harley telah menyembunyikan hal ini bahkan sejak Evelyn masih didalam kandungan.
Saat itu sang ayah membawa kembali seorang wanita yang telah menjadi istri keduanya, bersama seorang anak laki-laki karena Nyonya Chatarina tak kunjung hamil di usia pernikahan mereka yang telah memasuki tahun kelima.
Karena takut seluruh harta Harley akan dikuasai oleh anak dari madunya, Nyonya Chatarina yang tengah hamil anak perempuan itu terpaksa menyembunyikan identitas sang putri sebagai seorang laki-laki.
•••
Sementara itu.. Didalam ruang meeting, semua orang tampak telah duduk dikursi mereka masing-masing dengan map dan segelas air putih diatas meja.
"Mana Evan?"
Suara berat Damian Foster menggema di ruang rapat.
"Sedang mengambil berkas untuk Tuan." balas Haris, asisten pribadinya.
Belum sampai kalimat itu selesai, pintu ruang rapat terbuka.
Cklek.
"Maaf terlambat."
Evan masuk sambil membawa tablet dan beberapa map. Ia langsung menundukkan sedikit kepalanya, memberikan hormat.
"Evan. Masuk." titah Damian.
Begitu perintah tersebut keluar, Ervan langsung melangkah menghampiri pria tersebut.
Damian mengulurkan tangan tanpa melihat. "Kontrak kerja sama."
"Sudah saya siapkan." jawab Ervan cepat, memberikan berkas tersebut.
"Jadwal besok?" tanya Damian sambil membuka dan memeriksa berkas tersebut.
"Pukul sembilan rapat dengan Direksi Ocean Group. Pukul satu makan siang bersama investor. Malamnya menghadiri Gala Anniversary di kapal pesiar Ocean Majesty."
Damian mengangguk puas. "Itu saja."
"Iya, Tuan."
Rapat kembali berjalan.
Pria bernama Evan itu sesekali menghela napas pelan setiap kali Damian berada terlalu dekat dengannya.
Tiga tahun berada di samping Damian Foster, pria berrahang tegas, bermata tajam, dan berparas tampan luar biasa, sebagai sekretaris pribadinya, membuat Evelyn tak bisa memungkiri bahwa ia juga menyimpan rasa kagum pada pria tersebut.
Namun, tak ada ruang sedikit pun baginya untuk memikirkan perasaan itu. Ia memilih mematikan getaran di hatinya dan tetap fokus pada tujuan utamanya, yaitu menjalankan misi penyamaran, mengumpulkan informasi penting, dan menjatuhkan musuh besar keluarganya.
Damian dikenal sebagai sosok yang sangat ketat, tegas, dan tertutup dalam urusan bisnis. Ia tak pernah lengah, bahkan terhadap orang-orang terdekatnya sekalipun. Hal itu membuat waktu tiga tahun yang Evelyn lalui terasa belum cukup untuk menembus benteng pertahanan pria itu, apalagi mendapatkan informasi rahasia yang menjadi sasaran utamanya. Evelyn harus bekerja ekstra hati-hati dan cerdik, karena satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan seluruh misinya.
Setelah rapat usai, Damian berjalan kembali menuju ruang kerjanya ditemani Haris. Di sepanjang lorong, pria itu tampak masih memikirkan persiapan acara besar malam ini. Sesampainya di ruangan, Damian berbalik menatap asistennya.
"Haris, ada laporan penting dari kantor cabang yang harus kamu selesaikan hari ini juga. Kamu tidak bisa ikut bersamaku malam ini," ucap Damian tegas.
Haris mengangguk paham. "Baik, Tuan. Lalu, siapa yang akan mendampingi Tuan?"
"Evan," putus Damian tanpa ragu. "Dia sudah sangat hafal dengan segala kebiasaanku, detail jadwalku, dan cara kerjanya sangat teliti. Aku lebih tenang jika dia yang berada di sisiku di sana."
"Baik, saya sampaikan sekarang juga," jawab Haris mantap.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja Evan diketuk. Haris masuk.
"Tuan Damian menunjukmu secara langsung untuk mendampinginya malam ini," ucap Haris. "Saya harus tetap berada di kantor untuk mengurus tugas mendesak. Pastikan kau menyiapkan segala keperluan beliau di lokasi dengan sangat baik, jangan sampai ada yang terlewat."
Evan mengangguk paham, meski dalam hati ia sedikit terkejut mendengar penunjukan itu secara langsung. "Baik, saya mengerti. Saya akan memastikan semuanya berjalan lancar dan tidak akan mengecewakan kepercayaan Tuan Damian," ucapnya tegas.
Haris tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi. "Bagus. Segera persiapkan dirimu, acara ini cukup besar dan butuh ketelitian tinggi."
Evan mengangguk mantap. "Baik, saya akan persiapkan semuanya dengan matang."
Setelah Haris keluar dari ruangan, tak lama kemudian telepon di meja kerjanya berdering. Evan melihat nama di layar, lalu mengangkatnya dengan nada berubah lebih dingin.
"Halo?"
"Bagaimana Evan? Apa Damian akan hadir di kapal pesiar malam ini?" tanya suara berat dari seberang, Arlos Harley saudara tirinya.
"Benar," jawab Evan singkat. "Dan kali ini, dia akan datang bersamaku. Akulah yang mendampinginya."
"Bagus," ucap Arlos penuh kepuasan. "Gunakan kedekatanmu malam ini untuk mencari celah atau informasi penting yang selama ini sulit kau dapatkan. Ini kesempatan emas, jangan sampai terlewat."
Panggilan pun terputus. Evan menatap layar ponselnya yang gelap, lalu menarik napas panjang, sebelum mempersiapkan semuanya.
••
••
Kapal pesiar Ocean Majesty berlayar tenang di tengah samudra. Pesta berlangsung meriah dan berkelas. Banyak orang penting hadir di sana, para pebisnis, rekan kerja, dan petinggi perusahaan berkumpul dengan penuh keramahan.
Evan berdiri setia di sisi Damian, seperti biasa. Ia tampak tenang, mengikuti langkah atasannya, memastikan segala kebutuhan terpenuhi tanpa banyak bicara. Tak jauh dari sana, Evan sempat melihat sosok Arlos juga hadir di antara kerumunan, berbaur dengan para tamu lainnya.
Suasana berjalan lancar, penuh percakapan sopan dan tawa ringan. Namun, di balik ketenangan itu, Evan tetap waspada, menjalankan tugasnya layaknya seorang sekretaris profesional yang sudah berpengalaman lama.
Suasana pesta berjalan hangat dan akrab. Tak lama kemudian, Tuan Reynold, selaku tuan rumah acara, berjalan menghampiri Damian dengan senyum lebar. Evan tetap berdiri setia di samping atasannya, turut mendengarkan percakapan mereka.
"Selamat datang, Damian. Terima kasih sudah meluangkan waktunya hadir malam ini," ucap Tuan Reynold ramah.
"Terima kasih atas undangannya, Tuan Reynold. Acaranya sangat megah," jawab Damian sopan namun berwibawa.
Mereka berbincang sejenak mengenai perkembangan bisnis dan suasana kapal pesiar malam itu. Setelah merasa cukup, Tuan Reynold pun berpamitan.
"Silakan dinikmati acaranya. Saya harus menyapa tamu lainnya," pamit Tuan Reynold, lalu melangkah pergi.
Belakangan sosok Tuan Reynold menghilang di keramaian, seorang wanita cantik bergaun seksi berjalan mendekat dengan langkah anggun dan penuh percaya diri. Dialah Eliza Laurent, seorang model populer yang kerap menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada.
"Damian..." sapa Eliza lembut seraya tersenyum manis menatap pria itu dengan membawa segelas wine ditangannya. "Senang sekali rasanya bisa bertemu denganmu lagi di sini."
Evan tetap diam di tempat, memperhatikan dari samping. Ia tahu siapa wanita itu. Eliza memang sudah lama menyimpan rasa suka kepada Damian. Ia bahkan sudah berkali-kali mencoba mendekati Damian di berbagai kesempatan sebelumnya, namun usahanya selalu berakhir sia-sia karena sikap Damian yang dikenal sangat dingin dan sulit didekati oleh siapa pun.
•
•
❤️
Damian hanya menatap Eliza sekilas, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang tetap datar.
"Eliza," sapanya singkat, tanpa nada hangat sedikitpun.
Namun, Eliza seolah tak peduli dengan sikap dingin itu. Ia justru melangkah lebih dekat, nyaris tak menjaga jarak.
"Kau tahu, sejak mendengar kau akan hadir malam ini, aku sengaja menyiapkan waktu khusus agar bisa berbincang denganmu," ucapnya lembut, matanya tak lepas menatap wajah Damian. Ia sengaja memiringkan tubuhnya, berusaha menarik perhatian pria itu sepenuhnya.
Evan yang berdiri di samping hanya diam seribu bahasa, menunduk sedikit seolah menghormati privasi mereka, namun matanya tetap waspada mengamati setiap gerak-gerik.
"Maaf, aku sedang sibuk," jawab Damian tegas, tanpa ragu sedikitpun. Ia bahkan tak berusaha bertele-tele.
Eliza tersenyum canggung, berusaha menutupi rasa malunya. "Hanya sebentar saja, Damian. Atau mungkin setelah ini kita bisa duduk berdua di tempat yang lebih tenang?"
"Tak perlu," potong Damian dingin. "Aku hadir di sini untuk urusan bisnis, bukan untuk bersantai. Dan saat ini, waktuku sedang penuh."
Damian tak menunggu balasan lagi. Ia langsung berbalik arah, menatap Evan yang ada di sampingnya.
"Ayo kita berkeliling," titahnya tegas.
"Baik, Tuan," jawab Evan sigap.
Mereka pun berjalan meninggalkan Eliza yang terpaku di tempat dengan wajah memerah padam karena malu. Tatapan wanita itu sempat melirik tajam ke arah Evan, seolah menyalahkan keberadaan sekretaris itu yang dianggap menghalangi jalannya.
Sepanjang perjalanan, Evan tetap berjalan selangkah di belakang Damian. Hatinya sedikit lega melihat sang atasan mampu menolak dengan tegas tanpa memberi celah sedikitpun. Namun, di sisi lain, ia juga merasa beruntung karena tak menjadi sasaran kemarahan wanita itu.
Malam semakin larut, suasana kapal pesiar perlahan mulai terasa lebih pengap bagi Evan. Menyamarkan identitas di tengah keramaian yang mengenalnya sebagai pria terasa menguras tenaga batin.
"Tuan, izinkan saya mengambilkan minum sejenak," ucap Evan pelan saat mereka berada di area yang agak sepi.
Damian mengangguk singkat, matanya menatap samudra di luar pagar pembatas. "Lakukan. Aku akan menunggu di sini."
Evan melangkah cepat menuju meja minuman di ujung lorong. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa berdebar tak beraturan. Di tengah keheningan sejenak itu, ia kembali teringat pesan Arlos, harus mencari celah. Namun bagaimana caranya, jika Damian selalu tertutup rapat dan tak pernah lengah sedetikpun?
Belum sempat Evan berpikir lebih jauh, sebuah suara berat terdengar dari arah belakang.
"Kau lama sekali, Evan."
Evan tersentak, segera memutar tubuhnya dan kembali menata ekspresi dinginnya.
"Maaf, Tuan Damian. Sedikit antre," jawabnya tenang.
"Kalau begitu jangan lama-lama. Bergabunglah di mejaku." ujar Damian.
Evan mengangguk sopan, lalu berjalan mengikuti Damian menuju meja panjang yang agak terpisah namun penuh sesak. Di sana, puluhan tamu penting duduk berjejer, sibuk berbincang hangat seputar perkembangan pasar dan kerja sama bisnis. Evan mengambil posisi di sisi dekat Damian, mendengarkan sambil sesekali tersenyum sopan.
Tak lama berselang, seorang pria paruh baya bernama Tuan Fernando, salah satu pemegang saham besar, menyodorkan gelas tinggi berisi cairan jernih.
"Mari, Tuan Muda, dan kau juga Evan. Cicipi ini, brasil murni, beralkohol tinggi, pilihan terbaik malam ini," tawarnya ramah sambil menyodorkan gelas tepat ke hadapan Evan.
Evan sedikit mundur, menolak halus. "Maaf Tuan Fernando, saya tidak terbiasa meminum alkohol sekuat ini."
Tuan Fernando justru tertawa keras, menarik bahu Evan agar tetap duduk. "Aduh, jangan kaku begitu! Kau ini kan pria tangguh, asisten kepercayaan Direktur Damian. Tidak ada salahnya minum sedikit untuk melepas penat, apalagi malam ini hari perayaan besar."
Evan terdiam. Ia sempat melirik ke arah Damian. Pria itu sedang berbicara dengan orang lain, namun sesaat matanya melirik sekilas ke arah Evan seolah menunggu kesesuaian sikapnya. Demi menjaga rahasia besarnya, agar tak ada satu pun yang curiga, dan menyempurnakan citra dirinya sebagai pria biasa, Evan tak punya pilihan lain.
"Baiklah, Tuan," ucapnya pelan.
Evan pun meminumnya. Rasanya panas dan tajam, langsung terasa membakar kerongkongan. Namun mereka terus menyodorkan gelas demi gelas, bersulang berkali-kali memuji keberaniannya. Evan yang tak terbiasa dengan kadar setinggi itu akhirnya menuruti saja demi keamanan identitasnya.
Satu gelas, dua gelas, hingga tak terasa jumlahnya menumpuk banyak sekali. Tak lama kemudian, kepala Evan mulai terasa berat dan berputar. Pandangannya kabur, telinganya berdengung, dan tubuhnya terasa melayang tak berpijak. Alkohol itu telah merasuk cepat ke dalam pembuluh darahnya, membuatnya mabuk berat tanpa sanggup ia tahan lagi.
Di tengah keramaian itu, Damian juga menerima tawaran serupa dari Tuan Fernando. Ia meminumnya hanya satu gelas saja dengan tegukan tenang, namun baru beberapa menit berselang, tubuhnya bereaksi sangat aneh dan tak terduga. Rasa panas luar biasa seketika menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, seolah api kecil menyala di dalam dadanya. Wajahnya perlahan memerah, pandangannya mulai sedikit berkunang, dan keringat dingin mulai mengucur halus di pelipisnya. Damian benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, rasa itu begitu asing, menyengat, dan membuatnya sulit berkonsentrasi.
Ia merasakan tenggorokannya terasa kering dan napasnya mulai berat. Tanpa sadar, tangannya terulur untuk melonggarkan ikatan dasinya yang terasa makin mencekik, lalu membuka sedikit kancing atas kemejanya agar udara lebih bisa masuk. Melihat kondisinya yang tak lagi prima, Damian pun berpaling kepada rekan-rekan di mejanya.
"Maafkan saya, sepertinya saya kurang enak badan. Saya izin pamit sebentar," ucapnya dengan suara yang berusaha tetap tegas namun terdengar sedikit berat.
Para tamu mengangguk sopan mengerti. Damian pun berbalik hendak melangkah pergi mencari ketenangan, namun langkahnya terasa sedikit limbung dan tak seimbang.
Tak sanggup lagi bertahan di tempat, Damian lebih dulu berdiri hendak pergi menenangkan diri. Namun langkahnya terhuyung sedikit, hingga tak sengaja ia menabrak sosok yang baru lewat di depannya.
"Damian? Kamu tidak apa-apa?" seru Eliza terkejut, segera menahan bahu pria itu.
Damian menggeleng lemah, berusaha mengabaikan wanita itu, namun hawa panas yang melanda tubuhnya terlalu kuat untuk ia sembunyikan. Wajahnya memerah padam, napasnya mulai tersengal.
"Biarkan aku yang membantumu masuk ke kabinmu," ucap Eliza lembut, segera merangkul pinggang Damian dan bersandar padanya.
Namun di sudut lain, Evan yang sedang dalam keadaan mabuk berat melihat pemandangan itu. Meski kepalanya terasa berputar dan kakinya melayang, nalurinya sebagai pelindung dan rasa memiliki yang tak terjelaskan seketika bangkit. Ia berusaha keras menegakkan tubuhnya, lalu berjalan terhuyung namun cepat mendekat, langsung memisahkan mereka berdua.
"Maaf, Nona," ucap Evan dengan suara berat namun tegas, berdiri tegak menghalangi di depan Damian. "Biar saya saja."
•
•
❤️
Eliza tertegun sejenak, menatap tajam ke arah Evan yang meski tampak goyah dan berbau alkohol, berdiri kokoh bagai benteng tak tergoyahkan di hadapannya.
"Kau yakin sanggup menuntunnya dalam keadaanmu sendiri yang begitu?" sinis Eliza, menatap merendah penampilan Evan yang tampak linglung.
"Saya baik-baik saja, Nona. Tuan Damian adalah tanggung jawab saya," jawab Evan tegas, meski bicaranya sedikit pelan dan berat. Tanpa menunggu balasan lagi, Evan langsung menyangga tubuh Damian yang berat dan hangat luar biasa itu.
Damian yang sadarnya mulai menipis, hanya pasrah membiarkan dirinya dituntun. Ia merasakan bahu yang kokoh namun entah mengapa terasa kecil dan ramping itu menopangnya dengan hati-hati. Panas di dalam tubuhnya semakin tak tertahankan, membuatnya tanpa sadar merapatkan tubuh lebih dekat ke sumber dukungan di sampingnya, mencari kenyamanan sesaat.
Mereka pun berjalan beriringan, langkah mereka terhuyung namun terus maju menembus keramaian menuju lorong kabin yang lebih sepi. Evan berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya, berjuang melawan kepala yang berputar hebat, namun nalurinya tak membiarkan ia menyerahkan tuannya pada orang lain.
Sesampainya di depan pintu kabin utama, Evan mengeluarkan kartu akses dengan tangan gemetar, lalu mendorong pintu itu terbuka. Ia menuntun Damian masuk ke dalam, lalu perlahan merebahkan tubuh pria itu di atas ranjang empuk.
Evan menghela napas panjang, hendak berbalik untuk pergi dan beristirahat di kabinnya sendiri yang ia rasa sangat butuhkan. Namun, belum sempat ia melangkah, tangan Damian tiba-tiba mencengkeram kuat pergelangan tangannya. Sentuhan itu begitu hangat dan membakar kulit.
"Jangan pergi..." bisik Damian parau, matanya terpejam rapat, napasnya memburu tak beraturan. "Tubuhku... terasa sangat panas...."
Belum sempat Evan bergerak menjauh, tiba-tiba tarikan kuat terasa pada pergelangan tangannya. Tubuhnya yang sedang limbung tak berdaya menahan sentakan itu, seketika terhuyung dan jatuh terbaring di atas kasur empuk.
Belum sempat Evan mengumpulkan kesadarannya kembali, bayangan tubuh besar dan berat langsung menindihnya. Damian kini berada di atasnya, napasnya panas dan memburu, kedua tangannya menahan pergelangan tangan Evan di samping kepala dengan kekuatan yang tak terduga. Mata pria itu terlihat sayu namun memancarkan hasrat yang membara, seolah hilang sudah sikap dingin dan berwibawanya.
"Tu... Tuan Damian?!" seru Evan terkejut, kepalanya serasa berputar hebat, bercampur rasa panik luar biasa. Ia berusaha memberontak pelan, namun tubuh Damian terasa begitu berat dan tak tergoyahkan, sementara efek alkohol di kepalanya membuat tenaganya terkuras habis.
Damian seolah tak mendengar panggilan itu. Ia menunduk mendekatkan wajahnya, mencium aroma samar yang tercium begitu memikat. Bibirnya bergerak mendekat ke telinga Evan, suaranya terdengar berat dan penuh kegelapan.
"Panas... semuanya terasa membakar..." gumamnya tidak jelas, lalu tanpa sadar ia mulai menggesekkan wajahnya di leher Evan yang lembut, membuat gadis di bawahnya membeku ketakutan sekaligus mendebarkan.
Evan merasa darahnya seolah berhenti mengalir. Tubuhnya kaku sebatang kayu, terperangkap di bawah beban pria yang ia hormati sekaligus ia takuti identitasnya terbongkar. Rasa panas yang memancar dari tubuh Damian terasa menular, bercampur dengan efek alkohol yang masih menguasai akal sehatnya, membuat pikirannya semakin kabur.
"Tu... Tuan, sadarlah... Saya Evan..." suaranya bergetar hebat, berusaha mengingatkan meski napasnya tersendat.
Namun Damian seolah tak mendengar. Ia terlalu terbuai oleh rasa terbakar yang menyiksa di dalam dirinya, dan kehangatan tubuh di bawahnya terasa begitu pas untuk meredakannya. Tangannya yang besar mulai bergerak tak sadar, meraba lekuk tubuh Evan yang ramping, terasa berbeda, jauh lebih lembut dibandingkan tubuh laki-laki pada umumnya.
Damian mengerang pelan, bibirnya menyapu rahang Evan turun ke leher, membuat gadis itu merinding hebat.
"Kau... lembut sekali..." gumam Damian samar, pikirannya sudah terlalu terbelenggu obat itu untuk mempertanyakan keanehan tersebut. Ia hanya tahu, ia menginginkan sentuhan ini lebih jauh lagi.
Evan merasakan bahaya yang mengancam nyawanya sekaligus topeng yang ia pakai selama tiga tahun mulai retak perlahan. Ia memberontak lemah, namun tenaganya telah habis tersedot mabuk.
"Jangan... Tuan, tolong..." mohonnya lirih, matanya berkaca-kaca terperangkap dalam situasi yang mustahil ini.
Tanpa menunggu perlawanan lebih lanjut, tangan Damian mulai meraba kerah kemeja yang dikenakan Evan. Dengan gerakan kasar namun terburu-buru, ia merobek sedikit kancing atasnya, membuat bahu halus dan kulit putih bersih itu terekspos keluar di bawah cahaya remang kamar.
Evan memejamkan mata rapat, napasnya tercekat. Rasa malu dan takut bercampur menjadi satu, namun tubuhnya yang sedang di bawah pengaruh alkohol tak sanggup berbuat banyak.
"Wangi..." gumam Damian samar, menempelkan bibirnya tepat di bahu yang terbuka itu. Ia menciumi kulit itu dengan penuh lapar, seolah menemukan sumber ketenangan yang selama ini ia cari dalam kebingungannya.
Evan gemetar hebat. Setiap sentuhan itu terasa begitu nyata, membakar kulitnya, dan mengancam akan membongkar jati dirinya yang paling rahasia. Ia sadar, satu langkah lagi, dan tak akan ada yang bisa menghentikan semuanya.
Damian tak lagi menahan diri. Ia menunduk dalam, menyatukan bibirnya dengan bibir Evan dalam ciuman yang lapar, panas, dan penuh kebutuhan.
"Eumh..." desah Evan lolos halus, matanya terpejam rapat merasakan hebatnya tekanan itu. Tangannya tanpa sadar mencengkeram bahu pria itu erat.
Damian merespons dengan gerakan semakin liar, tangannya bergerak lincah merambat ke seluruh lekuk tubuh di bawahnya. Setiap sentuhan jari yang hangat membuat tubuh Evan melengkung tak berdaya.
"Akh..." desahannya kembali terdengar lebih nyaring, napasnya memburu dan wajahnya memerah padam.
Pakaian mereka perlahan terlepas satu per satu. Kulit mereka bersentuhan langsung, membara dan panas. Damian menciumi setiap inci tubuh yang terbuka itu, membuat Evan merinding hebat.
"Ahh... eughh..." Evan tergagap, kepalanya semakin pening namun perasaannya terbawa arus yang tak bisa dilawan.
Saat akhirnya mereka menyatu sepenuhnya, desahan panjang dan dalam lolos dari mulut keduanya bersamaan.
"Aahh..." Damian mengerang berat, menekan gerakannya penuh gairah.
"Eumh... Akh..." Evan menggigit bibirnya namun suaranya tetap lolos di setiap gerakan yang dilakukan Damian. Tubuhnya berguncang hebat, terasa nikmat namun asing, membuatnya semakin terbuai dalam kegelapan malam itu.
"Eughh... Ahh..." Suara napas dan desahan mereka saling bersahutan, memenuhi ruangan kabin yang remang itu. Damian bergerak dengan ritme yang memabukkan, seolah melepaskan semua beban dan rasa panas yang menyiksa di dalam dirinya.
Semuanya berlangsung panjang dan mendalam, penuh dengan suara desahan yang bergema di setiap puncak kenikmatan yang mereka rasakan bersama, hingga kelelahan akhirnya menyelimuti keduanya.
•
•
❤️
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!