Lantai marmer dingin di dalam rumah megah itu tak pernah benar-benar terasa hangat, tapi malam ini dinginnya terasa merayap sampai ke tulang.
Arga Pratama melepas dasinya yang terasa mencekik. Lampu gantung kristal di ruang tamu memantulkan bayangan tubuhnya yang tegap namun lelah.
Jarum jam dinding menunjuk ke angka sebelas malam. Ia baru saja menyelesaikan rapat darurat dengan investor luar negeri—satu lagi langkah besar untuk mengamankan proyek bernilai miliaran.
Semua demi satu alasan sederhana yang selalu ia pegang teguh : memastikan Nabila mendapatkan apa pun yang wanita itu impikan.
"Nabila?" panggil Arga. Suaranya berat, khas pria yang terbiasa memberi perintah di ruang direksi, namun ada kelembutan tersendiri ketika ia menyebut nama istrinya.
Hening. Hanya desis halus dari Air Conditioner yang menyapa.
Arga melangkah ke dapur, menuang air putih ke gelas kaca. Tangannya sedikit gemetar karena kelelahan, namun garis wajahnya yang tegas dan dingin perlahan melunak saat matanya menangkap sebuah kotak beludru merah di atas meja kerjanya yang belum sempat ia serahkan. Besok adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima.
Lima tahun lalu, Arga berjanji di depan ayah Nabila bahwa ia akan membahagiakan wanita itu, walau harus memeras keringat hingga darah. Dan Arga menepatinya. Dari pria biasa yang merintis usaha dari nol, kini ia adalah nama yang disegani di dunia bisnis.
Langkah kakinya menaiki tangga kayu jati tanpa suara. Di dalam hatinya, ada sedikit rasa bersalah karena belakangan ini ia terlalu sering pulang melampaui larut malam. 'Sedikit lagi ', pikirnya. ' Setelah proyek ini selesai, aku akan membawanya liburan ke Italia, tempat yang selalu ia ceritakan saat kami masih menyewa kontrakan sempit dulu.'
Namun, saat Arga berdiri di depan pintu kamar utama, ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Pintu itu tidak tertutup rapat. Sebuah celah kecil membiarkan cahaya samar dari dalam kamar menembus kegelapan koridor. Dan dari celah itu, terdengar bisikan. Bukan suara televisi, melainkan suara tawa halus seorang wanita yang sangat ia kenali, disusul oleh suara berat seorang pria yang tak kalah akrab di telinganya.
Darah Arga seolah berhenti mengalir.
Ia tidak langsung mendobrak pintu. Insting bisnisnya yang selalu tenang dalam situasi krisis secara otomatis mengambil alih, menahan emosinya yang mulai bergejolak di dalam dada. Didekatkannya wajahnya ke celah pintu.
"Kamu yakin Arga enggak bakal pulang cepat malam ini?" suara Nabila terdengar begitu manja, jenis suara yang dulu selalu berhasil meluluhkan rasa lelah Arga.
"Tenang saja, Bi. Arga itu gila kerja.
Di kepalanya cuma ada angka dan uang. Dia pikir dengan kasih kamu fasilitas mewah, kamu bakal cukup?"
Suara itu milik Reza. Sahabat terbaiknya. Pria yang dulu dibantu Arga saat bisnisnya hampir hancur, pria yang selalu duduk di sampingnya saat merayakan setiap pencapaian perusahaan.
"Dia memang membosankan, Za," balas Nabila, disusul suara sentuhan kain dan tawa renyah. "Dingin, kaku, dan selalu sibuk. Aku cuma suka fasilitas yang dia kasih, tapi kalau soal perhatian... cuma kamu yang paham."
Di luar pintu, Arga berdiri mematung.
Tangan kanannya yang menggenggam gagang pintu perlahan mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ada rasa sakit yang teramat sangat, menjalar dari dadanya, menusuk hingga ke kepala. Sebuah pengkhianatan dari dua orang terpenting dalam hidupnya, disajikan secara telanjang di depan matanya sendiri, tepat di ambang hari ulang tahun pernikahan mereka.
Airmata tidak menetes dari mata Arga. Untuk seorang pria yang menempa dirinya di kerasnya dunia bisnis, rasa sakit itu terlalu dalam untuk diluapkan dengan tangisan. Rasa sakit itu, dalam hitungan detik, mengeras menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kehampaan yang dingin.
' Bocah malang yang bekerja siang malam demi kamu... ternyata hanya dianggap mesin pencetak uang,' batin Arga. Tatapannya yang tadi penuh kelelahan kini berubah menjadi tajam, kelam, dan tanpa ampun.
Ia bisa saja menendang pintu itu sekarang. Ia bisa saja menghancurkan Reza dengan tangannya sendiri dan mengusir Nabila malam ini juga tanpa membawa apa pun.
Tapi Arga sadar, kemarahan yang meluap-luap hanya akan memberikan mereka jalan keluar yang cepat. Pembalasan yang sesungguhnya tidak boleh emosional. Pembalasan yang sesungguhnya harus disusun dengan rapi, sistematis, dan menghancurkan mereka hingga ke akar-akarnya, tanpa mereka sadari siapa yang sedang menarik tali gantungannya.
Arga merenggangkan pegangannya pada gagang pintu. Secara perlahan, tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun, ia melangkah mundur.
Satu langkah. Dua langkah.
Ia turun kembali ke lantai bawah, berjalan menuju ruang kerjanya, dan menutup pintu rapat-rapat. Dalam kegelapan ruangan itu, Arga duduk di kursi kebesarannya. Ia menyalakan korek api, membakar ujung rokok yang jarang ia sentuh, lalu menatap kotak beludru merah di atas mejanya.
Asupan asap tipis memenuhi udara. Di balik kepulan itu, wajah Arga Pratama tak lagi menunjukkan kehangatan seorang suami. Suami yang mencintai istrinya sepenuh hati telah mati malam ini. Yang tersisa hanyalah seorang pria asing yang dingin—siap memulai permainan paling mematikan dalam hidup mereka.
Matahari pagi menembus tirai tipis di ruang kerja, membakar bayangan malam yang belum sepenuhnya pergi dari dada Arga. Ia tidak tidur. Sepanjang malam, matanya menatap kekosongan di atas meja, merajut kembali setiap potongan ingatan tentang Nabila dan Reza. Setiap tawa, setiap pelukan, dan setiap bantuan finansial yang pernah ia berikan pada Reza kini terasa seperti duri yang sengaja ia tanam sendiri di jantungnya.
Namun, saat jam dinding berdentang enam kali, Arga berdiri. Ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut, membasuh wajahnya dengan air dingin di kamar mandi bawah, dan memasang topeng paling sempurna yang pernah ia ciptakan.
Suami yang penuh kasih. Suami yang bodoh.
Langkah kakinya ringan saat menaiki tangga menuju kamar utama. Pintu sudah terbuka sedikit—Reza pasti sudah pergi lewat pintu belakang atau saat hari masih gelap, cara pengecut yang biasa digunakan seorang pengkhianat.
Arga mendorong pintu perlahan. Di atas ranjang luas itu, Nabila masih tertidur pulas dengan selimut membalut tubuhnya. Wajahnya terlihat begitu polos dan tanpa dosa, gambaran wanita yang dulu membuat Arga rela mempertaruhkan seluruh hidupnya.
Arga duduk di tepi ranjang. Kasur berderit pelan. Tangannya terulur, mengusap helai rambut Nabila yang terurai di bantal.
Sentuhan itu terasa asing. Dulu, jemarinya akan gemetar penuh rasa sayang, tapi kini kulit istrinya terasa seperti es yang mati rasa.
"Nabila..." bisik Arga, suaranya dibuat sedatar dan sehangat mungkin. "Bangun, Sayang."
Nabila mengeliat pelan, mengerjapkan matanya yang masih dibalut kantuk. Begitu melihat Arga duduk di sampingnya, senyum manis langsung terukir di bibirnya—senyuman yang semalam Arga tahu hanyalah palsu.
"Mas Arga? Kapan pulang?" suara Nabila serak khas bangun tidur. Ia langsung duduk dan melingkarkan tangannya di leher Arga, menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Kemarin malam aku nungguin Mas sampai ketiduran..."
Dada Arga bergemuruh. Bau parfum maskulin yang samar—parfum milik Reza—masih tertinggal tipis di leher baju tidur Nabila, berbaur dengan wangi tubuh istrinya. Rasa mual menusuk perut Arga, tapi ia menahannya. Ia merangkul bahu Nabila, membiarkan wanita itu berada dalam pelukannya.
"Maafkan Mas, ya. Rapat kemarin malam sangat alot," ujar Arga lembut, jemarinya mengelus punggung Nabila. "Mas baru pulang menjelang subuh dan langsung tertidur di ruang kerja karena takut mengganggu tidurmu."
Nabila melepaskan pelukannya, menatap wajah Arga dengan binar mata yang tampak memprihatinkan. "Mas itu selalu saja begitu. Banting tulang siang malam, kerja keras sampai lupa istirahat. Nanti kalau Mas sakit, bagaimana?"
' Keringatku yang buat kamu bisa pakai perhiasan ini, Nabila ' batin Arga. Matanya menatap lekat kalung berlian yang melingkar di leher istrinya—hadiah ulang tahun tahun lalu yang dibeli Arga dari hasil lembur seminggu penuh.
"Mas melakukan ini semua demi kamu, Nabila. Agar kamu tidak perlu merasa kekurangan sedikit pun," kata Arga, menatap dalam ke pupil mata istrinya, mencari apakah ada sedikit saja rasa bersalah di sana.
Tidak ada. Hanya ada kepuasan dan rasa aman karena merasa kebohongannya tertutup rapi.
"Aku tahu, Mas. Aku beruntung banget punya suami seperti kamu," Nabila mendaratkan kecupan singkat di pipi Arga. "Oh iya, hari ini Mas ingat, kan?"
Arga berpura-pura mengernyitkan dahi, memainkan perannya dengan sangat wajar. "Hari ini? Ada jadwal pertemuan penting?"
Nabila cemberut, menepuk lengan Arga pelan. "Mas Arga! Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang kelima! Masa Mas lupa?"
Arga terkekeh pelan—suara terkekeh yang terdengar sangat alami, padahal di dalam hatinya ada luka yang kembali terbuka dan berdarah. Ia merogoh saku jasnya yang tergantung di kursi, lalu mengeluarkan kotak beludru merah yang semalam ia tatap dalam kegelapan.
"Mana mungkin Mas lupa pada hari paling berharga dalam hidup Mas?" Arga membuka kotak itu, menampilkan sebuah gelang emas putih bertatahkan permata langka. "Selamat ulang tahun pernikahan, Nabila."
Mata Nabila berbinar seketika. Rona bahagianya begitu terpancar tajam. Ia mengambil gelang itu dan langsung memeluk Arga erat-erat. "Ini bagus banget, Mas! Pasti mahal banget... Terima kasih, Mas Arga! Kamu memang suami terbaik!"
Di dalam pelukan hangat itu, wajah Arga sama sekali tidak tersenyum. Mata hitamnya menatap lurus ke arah cermin di sudut kamar. Di sana, ia melihat dirinya sendiri—seorang pria yang telah mengorbankan seluruh hidup dan keringatnya untuk menyuapi ular yang kini melilit lehernya.
"Sama-sama, Sayang. Apapun untuk senyumanmu," jawab Arga pelan, hampir menyerupai bisikan pengutukan. "Hari ini, Mas juga berniat mengajak Reza makan malam bersama kita untuk merayakan ini. Bagaimanapun, dia sahabat Mas yang selalu ada, kan?"
Tubuh Nabila sempat sedikit tegang selama seperseribu detik dalam pelukan Arga sebelum ia melepaskannya dengan canggung. "E-eh? Reza? Harus ada Reza juga, Mas?"
"Tentu," Arga tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman dingin yang tak sampai ke mata. "Dialah orang yang paling ingin Mas temui hari ini. Mas ingin mengucapkan terima kasih secara langsung... atas semua yang sudah dia lakukan di belakang Mas."
Nabila menatap Arga dengan sedikit keraguan, namun senyum percaya diri Arga menyapu bersih kecurigaannya. "Ah... iya, Mas benar. Reza kan sahabat terbaik Mas."
Arga berdiri dari ranjang, merapikan kemejanya. Panggung sandiwara telah dibuka, peran sudah dibagikan, dan Arga Pratama baru saja memulai babak pertama dari permainan hidup yang akan menghancurkan mereka semua.
Ruang kerja Arga di lantai teratas gedung Pratama Group menyajikan pemandangan lanskap kota yang megah, namun atmosfer di dalamnya terasa begitu dingin dan pekat. Udara berpendingin seolah membeku di sekitar meja kayu mahoni tempat Arga terduduk. Di hadapannya, secangkir kopi hitam yang mulai dingin tak tersentuh.
Ketukan di pintu memecah keheningan. Sebelum Arga sempat merespons, pintu itu sudah terdorong terbuka dengan gaya santai yang terlalu akrab.
"Arga! ' Happy anniversary' , Bro!"
Reza melangkah masuk dengan senyum lebar, mengenakan setelan jas buatan penjahit ternama—jas yang dibeli menggunakan bonus dividen dari proyek yang Arga limpahkan padanya tiga bulan lalu. Reza berjalan penuh percaya diri, memegang sebuah kotak hadiah berbungkus kertas perak, lalu meletakkannya tanpa rasa canggung di atas meja kerja Arga.
Arga tidak langsung berdiri. Ia menatap wajah pria di hadapannya. Pria yang sepuluh tahun lalu datang menemuinya dengan pakaian lusuh, memohon bantuan modal usaha saat keluarganya terjerat utang. Pria yang selama ini ia panggil saudara. Wajah itu... tak memiliki sedikit pun raut bersalah. Tidak ada tremor di tangannya, tidak ada kegugupan di matanya. Hanya ada kelicikan yang terbungkus rapi oleh keramahan palsu.
' Bagaimana bisa seseorang berpura-pura seindah ini setelah menghancurkan rumah orang lain?' batin Arga. Sebuah rasa muak membakar tenggorokannya, tapi Arga menahannya dengan hembusan napas halus.
"Terima kasih, Za," jawab Arga. Suaranya datar, namun ia memaksa sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan ilusi senyuman tipis. "Kamu selalu jadi orang pertama yang ingat."
Reza tertawa renyah, merobohkan tubuhnya ke kursi kulit di depan Arga, menyilangkan kaki dengan sangat santai. "Ya jelaslah. Kita ini bukan cuma rekan bisnis, Ga. Kita sahabat sejati. Bahagia kamu, bahagia aku juga. Nabila pasti senang banget hari ini. Tadi pagi dia sempat kirim pesan, bilang kamu kasih dia gelang baru."
Pernyataan itu terlontar begitu mudah dari mulut Reza. ' Tadi pagi dia sempat kirim pesan.' Mereka bahkan masih berkomunikasi di balik punggung Arga, merayakan hadiah yang dibeli dengan uang Arga, seolah Arga adalah lelucon terbesar dalam hidup mereka.
Arga menyandarkan punggungnya, jemarinya bertaut di atas meja. Tangannya sangat tenang, padahal di dalam dadanya, setiap urat sarafnya menegang. "Nabila suka sekali gelangnya. Kamu tahu sendiri, Za... apapun yang Nabila mau, selalu aku usahakan. Karena buat aku, kesetiaan dan kebahagiaan keluarga itu nomor satu."
Arga sengaja menekankan kata ' kesetiaan ' . Ia menatap lurus ke dalam pupil mata Reza, mencari getaran mikro di sana.
Reza sempat tertegun sejenak. Ada jeda seperseribu detik di mana mata Reza berkedip lebih cepat, namun dengan cepat ia menguasai diri kembali. "Tentu, Ga. Kamu suami idaman. Tapi ya... kadang wanita itu bukan cuma butuh materi, Ga. Mereka butuh kehadiran. Kamu terlalu gila kerja. Jangan sampai kamu lengah, nanti ada orang lain yang ngisi kekosongan itu."
Ucapan Reza terdengar seperti nasihat seorang sahabat, namun Arga bisa merasakan racun yang terselip di balik setiap suku katanya. Reza sedang mengejeknya secara tidak langsung. Reza sedang membanggakan keberhasilannya mengisi "kekosongan" itu di ranjang Arga.
Tekanan darah Arga memuncak, tapi pikirannya yang dingin dan dingin tetap memegang kendali. ' Nikmati kemenangan serumu sekarang, Reza. Karena semakin tinggi kamu memanjat, semakin menyakitkan saat kamu jatuh nanti.'
"Kamu benar, Za," balas Arga dengan nada yang sangat tenang, hampir menakutkan jika saja Reza tidak terlalu percaya diri. "Makanya, malam ini aku mau merayakan ulang tahun pernikahan kami secara spesial. Dan aku mau kamu ikut bergabung."
Reza agak terkejut. "Aku? Ah, enggak usah, Ga. Ini kan momen pribadi kamu sama Nabila. Aku enggak mau jadi pengganggu."
"Pengganggu?" Arga terkekeh pelan—sebuah tawa yang kering dan tanpa jiwa. "Mana ada sahabat sejati yang jadi pengganggu? Tanpa bantuan kamu mengurus anak perusahaan, aku enggak akan bisa sampai di titik ini. Kamu punya peran besar dalam hidup kami, Za. Sangat besar."
Arga berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Reza, lalu mendaratkan tangan kanannya di bahu pria itu. Pegangannya cukup erat—sebuah cengkeraman yang terselubung sebagai kehangatan persahabatan, padahal Arga sedang menyalurkan seluruh kepedihan dan niat membunuh yang ia tahan sejak semalam.
Reza merasa bahunya agak tertekan, namun ia hanya tertawa canggung. "Oke, oke, kalau kamu yang memaksa. Di restoran mana?"
"Restoran biasa. Jam delapan malam," kata Arga, melepaskan cengkeramannya dari bahu Reza dan menepuknya pelan dua kali. "Oh iya, Za... soal ajuan pinjaman dana segar 50 miliar untuk perusahaanmu yang kemarin... aku sudah meninjau dokumennya."
Mata Reza langsung berbinar serakah. "Gimana, Ga? Disetujui, kan? Proyek itu bakal melipatgandakan keuntungan kita!"
Arga tersenyum—senyuman paling beracun yang pernah ia sunggingkan. "Sudah aku tandatangani persetujuannya pagi ini. Uangnya akan segera ditransfer ke rekening operasionalmu."
' Bukan ke rekening operasional,' batin Arga saat menatap binar keserakahan di mata sahabatnya. 'Uang itu adalah umpan pertama dari perangkap yang akan memenjarakanmu seumur hidup.'
"Terima kasih banyak, Ga! Kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku punya!" Reza berdiri dan memeluk Arga dengan erat.
Dalam pelukan sang pengkhianat, mata Arga menatap tajam ke arah dinding kaca ruang kerjanya. Dingin, hampa, dan penuh dendam.
"Sama-sama, Reza," bisik Arga pelan di samping telinga Reza. "Sama-sama."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!