Indonesia
NovelToon NovelToon

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

[Arc 1]Jangkar yang Tidak Ingin Berlayar Jauh

Hujan tipis turun di atas Aldenmere sejak subuh, jenis hujan yang tidak cukup deras untuk membuat orang berlari, tapi cukup untuk membuat batu-batu jalan berkilau kelabu dan asap dari cerobong-cerobong toko roti tertahan rendah di udara. Dari jendela lantai dua markas Jangkar Kelabu, Arden Voss bisa melihat siluet Menara Verlanth menjulang di ujung barat kota, bayangan raksasa berwarna batu tua yang puncaknya selalu tertutup kabut, seolah menara itu sendiri enggan menunjukkan seluruh dirinya kepada siapa pun.

Ia sudah cukup lama menatapnya sampai tehnya dingin.

"Kalau kau menatapnya cukup lama, apa dia akan

menatap balik?"

Arden tidak perlu menoleh untuk tahu itu Ilsa Corrin. Hanya dia yang bisa masuk ke ruangan tanpa suara dan tetap berhasil membuat pertanyaannya terdengar seperti ejekan.

"Aku sedang berpikir," jawabnya, akhirnya berbalik.

Ilsa duduk di ambang jendela dengan satu kaki terlipat, pisau kecilnya berputar di antara jari-jarinya, kebiasaan yang lebih untuk menjaga tangan tetap sibuk daripada persiapan tempur. Rambut hitamnya masih basah oleh gerimis, menempel di pelipis.

"Kau selalu 'sedang berpikir' kalau ada laporan dari Ness yang belum ingin kau baca," katanya. "Aku kenal wajah itu. Itu wajah 'aku-tahu-ini-akan-jadi-perdebatan'."

"Bukan perdebatan. Cuma keputusan."

"Keputusan yang, kalau aku tebak, sudah kau buat sebelum kau bahkan membaca isinya." Ilsa menyeringai kecil. "Kau selalu begitu, Arden. Kau memutuskan dulu, baru mencari alasan."

Arden tidak membantah, karena tidak ada gunanya

membantah Ilsa soal hal-hal yang memang benar. Ia meletakkan cangkir tehnya di ambang jendela dan

melangkah menuruni tangga kayu yang berderit di anak tangga ketiga dan ketujuh, bunyi yang sudah begitu akrab hingga terasa seperti detak jantung markas itu sendiri.

Lantai bawah markas Jangkar Kelabu bukan aula megah seperti balai-balai guild besar yang berdiri angkuh di dekat gerbang barat kota. Ini dulunya gudang penyimpanan gandum, dibeli murah dua belas tahun lalu, diubah perlahanlahan menjadi sesuatu yang lebih terasa seperti rumah: meja

panjang di tengah ruangan yang penuh bekas gores pisau dan tumpahan anggur lama, rak-rak senjata di sepanjang dinding yang disusun rapi meski tidak seragam, dan perapian besar di sudut yang selalu menyala kecuali di tengah musim panas.

Di depan perapian itu, Wick Farrow sedang berkutat dengan panci besar, lengan bajunya digulung sampai siku, wajahnya memerah karena uap. Aroma bawang yang ditumis dengan mentega menyebar ke seluruh ruangan, bercampur dengan bau kayu basah dan logam senjata yang baru diminyaki.

"Arden!" seru Wick begitu melihatnya, tanpa menoleh dari pancinya. "Tolong bilang pada kakakku bahwa aku tidak butuh dia mengawasiku memasak seperti aku anak berumur delapan tahun."

Dari sudut lain ruangan, di meja yang penuh gulungan kertas dan sebuah alat pemindai kecil berbentuk prisma, Ilena Farrow tidak mengangkat kepala dari catatannya. "Aku tidak mengawasimu memasak. Aku sedang bekerja, kebetulan mejaku menghadap dapur."

"Kau memindahkan mejamu tiga hari lalu."

"Kebetulan."

Arden tersenyum tipis, satu-satunya jenis senyum yang benar-benar ia biarkan muncul tanpa berpikir dulu. Ada sesuatu yang menenangkan dari perdebatan kecil kakakberadik Farrow ini, sesuatu yang tidak pernah berubah, hujan atau tidak, misi berbahaya atau tidak. Ia mengambil sepotong roti dari keranjang di meja panjang, menggigitnya sambil berjalan ke arah papan pengumuman kayu di dekat pintu masuk, tempat kontrak-kontrak baru biasa disematkan.

Papan itu kosong.

"Kalau kau mencari kontrak baru," suara Ness Calder terdengar dari pintu belakang, membawa map kulit tebal di bawah lengannya, "kau tidak akan menemukannya di sana. Aku belum menyematkannya. Belum yakin kau mau melihatnya."

Ness selalu berjalan seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya, karena memang begitu. Rambut abuabunya disisir rapi meski hujan, jubahnya yang berwarna cokelat tua nyaris tidak pernah kusut, dan di tangannya selalu ada sesuatu untuk ditandatangani, dihitung, atau dinegosiasikan ulang.

"Kenapa tidak?" tanya Arden.

"Karena aku sudah kenal kau tujuh tahun, dan aku tahu tawaran macam apa yang akan langsung kau buang ke laci paling bawah."

Dari meja dekat perapian, Petra Wynn, anggota termuda kelompok, baru delapan belas tahun dengan pedang latihan yang selalu ia bawa ke mana pun meski sedang tidak bertugas, mendongak dengan mata berbinar. "Tawaran besar? Seberapa besar?"

"Cukup besar sampai aku harus menghitung ulang tiga kali,"

kata Ness, meletakkan map di meja panjang dan

membukanya dengan gerakan hati-hati, seperti sedang meletakkan sesuatu yang bisa meledak. "Sebuah keluarga bangsawan dari Ostrenmark ingin menyewa kelompok kecil dan diskret untuk mengawal ekspedisi mereka menuju lantai bawah Menara Kaldreth. Bayarannya," ia menunjuk angka di kertas itu, "cukup untuk membeli markas ini dua kali lipat, dengan sisa untuk memperbarui semua perlengkapan tim."

Ruangan menjadi hening sesaat. Bahkan Wick berhenti mengaduk pancinya.

"Kaldreth," gumam Halden Roos dari kursinya di dekat rak senjata, di mana ia sedang mengasah pedangnya dengan gerakan lambat dan berirama, kebiasaan yang lebih untuk menenangkan pikiran daripada kebutuhan sebenarnya. Suaranya berat dan tenang, khas seorang veteran yang sudah kehilangan minat pada hal-hal yang membuat orang muda gemetar. "Lantai bawahnya dikenal buruk. Tiga ekspedisi guild besar gagal tahun lalu."

"Empat," koreksi Doran Vex dari dekat jendela, tempat familiarnya, seekor Grypin muda bernama Ashe, sedang bertengger dengan bulu-bulu masih berkilat karena hujan. "Aku dengar cerita dari pemburu lain. Yang keempat kembali dengan separuh anggota."

Petra sudah berdiri, matanya menyala. "Itu artinya kalau kita berhasil, nama kita—"

"Tidak," kata Arden.

Satu kata. Tidak keras, tidak tegas berlebihan, tapi cukup untuk membuat ruangan hening lagi. Petra menoleh cepat. "Kau bahkan belum membaca

detailnya."

"Aku tidak perlu membaca detailnya untuk tahu jawabanku." Arden mengambil map dari tangan Ness, melihat sekilas, cukup untuk memastikan sopan santun, bukan untuk mempertimbangkan, lalu menutupnya kembali. "Empat ekspedisi gagal, Petra. Itu bukan tantangan yang menarik. Itu artinya sesuatu di sana lebih besar dari yang bisa

diperkirakan siapa pun yang menawarkan kontrak ini, termasuk keluarga Ostrenmark itu sendiri."

"Kita bisa jadi yang kelima yang berhasil."

"Atau kita bisa jadi angka lima dalam daftar kegagalan yang sama."

Ilsa bersiul pelan dari ambang jendela, sudah turun dan bersandar di dekat rak senjata, menikmati perdebatan ini seperti menonton pertandingan. Corym Duras, yang sejak tadi berdiri diam di dekat pintu, lengannya bersilang, perisai bundarnya masih tersandar di punggung meski ia sudah pulang dari latihan pagi, akhirnya bicara, suaranya lebih pelan dari biasanya.

"Petra ada benarnya soal satu hal," katanya. "Kita tidak selamanya bisa memilih kontrak kecil. Cepat atau lambat, nama kita akan terdengar, mau kita mau atau tidak."

Arden menatapnya. Ada sesuatu di mata Corym yang tidak seperti biasanya, bukan tantangan, lebih seperti kekhawatiran yang dibungkus dengan nada santai. Mereka berdua sudah saling kenal cukup lama untuk tahu kapan yang satu sedang menyembunyikan sesuatu di balik kalimat yang terdengar biasa saja.

"Mungkin," kata Arden akhirnya. "Tapi tidak hari ini, dan tidak lewat Kaldreth."

Ness sudah menutup map dengan gerakan yang

menunjukkan ia sudah menduga jawaban ini sejak awal, meski ia tetap menawarkannya karena itu tugasnya. "Akan kutulis penolakan yang sopan. Mungkin dengan sedikit... penyesalan berlebihan, supaya mereka tidak tersinggung dan tetap mau bekerja sama lain kali."

"Kau selalu tahu cara menolak orang tanpa membuat mereka membenci kita," kata Arden, dengan nada yang mendekati pujian.

"Itu bakat langka," jawab Ness, tanpa senyum, meski matanya berkilat geli.

Petra duduk kembali dengan gerakan agak keras, lengan bersilang, wajahnya cemberut jelas. Halden menepuk bahunya sekali, ringan, tanpa berkata apa-apa, tapi cukup untuk membuat Petra sedikit rileks, seperti seorang murid yang tahu gurunya tidak marah, hanya ingin ia belajar sabar.

"Kalau kita terus menolak tawaran besar," gumam Petra, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun, "kapan orang akan tahu kita layak dipercaya untuk hal besar?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu secara langsung. Tapi Arden mendengarnya, dan sesuatu di dalamnya, sesuatu kecil, yang jarang ia biarkan naik ke permukaan, bergema sejenak sebelum ia mendorongnya kembali ke tempat biasa ia menyimpannya.

Makan malam malam itu adalah salah satu dari sedikit ritual yang benar-benar dijaga ketat oleh Jangkar Kelabu, terlepas dari apa pun yang terjadi hari itu. Wick akhirnya menyelesaikan masakannya, semur daging dengan akarakaran dan roti gandum hangat, dan seluruh dua belas anggota berkumpul di meja panjang, kursi-kursi berderit, piring-piring berdenting, dan suara tawa yang bercampur dengan bunyi hujan di luar yang mulai mereda menjadi gerimis halus.

Brann Oswick, alkemis kelompok, sedang menjelaskan dengan penuh semangat kepada siapa pun yang mau mendengar, kali ini korbannya adalah Tomas Reyk, yang lebih memilih mendengarkan dalam diam sambil membersihkan busur panahnya di sela suapan, soal eksperimen terbarunya membuat ramuan yang bisa membuat api tetap menyala meski terkena hujan deras.

"Masalahnya," kata Brann, mengangkat sendoknya seperti tongkat sihir, "adalah menyeimbangkan komponen anti-air dengan komponen pembakar tanpa membuat keduanya saling meniadakan. Aku sudah coba tujuh formula berbeda dan..."

"Dan yang keenam meledak di wajahmu," sela Ilsa dari ujung meja, tanpa mendongak dari piringnya.

"Itu insiden kecil yang tidak perlu diungkit-ungkit lagi."

"Alismu belum tumbuh penuh sampai sekarang."

Tawa pecah di sepanjang meja. Bahkan Sister Yuna Solvain, yang biasanya paling tenang di antara semua orang, tersenyum sambil menundukkan kepala, jari-jarinya masih memegang kalung kayu sederhana di lehernya, kebiasaan kecil sebelum ia mulai makan, semacam doa singkat tanpa kata.

Arden duduk di kepala meja, tempat yang selalu ia tempati bukan karena ia menuntutnya, tapi karena begitulah kebiasaan yang terbentuk sejak bertahun-tahun lalu, dan tidak ada yang pernah mempermasalahkannya. Ia menyaksikan semua ini: Brann yang masih membela dirinya, Doran yang diam-diam menyelipkan potongan daging untuk Ashe di bawah meja meski dilarang Ness berkali-kali, Petra yang perlahan kembali ceria setelah kekecewaannya soal Kaldreth, Corym yang tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak pagi.

Dua belas nama. Dua belas orang yang mempercayakan hidup mereka pada keputusan-keputusannya.

Ia tidak butuh Kaldreth untuk merasa bahwa hidupnya sudah cukup penuh.

Setelah makan malam, ketika sebagian besar anggota mulai membubarkan diri (Doran membawa Ashe kembali ke kandang kecilnya di belakang markas, Halden dan Corym bermain kartu di dekat perapian dengan taruhan recehan yang tidak pernah benar-benar dibayar, Sister Yuna pergi ke kapel kecil di sudut markas untuk doa malamnya), Arden menyempatkan diri berkeliling, sesuatu yang selalu ia lakukan tanpa benar-benar merencanakannya, hanya kebiasaan yang tumbuh dari bertahun-tahun memimpin orang yang ia sayangi.

Ia menemukan Petra masih di ruang latihan kecil di belakang markas, berlatih ayunan pedang sendirian di bawah cahaya lentera, meski jam sudah larut.

"Kau seharusnya istirahat," kata Arden, bersandar di ambang pintu.

Petra tidak berhenti mengayun. "Aku baik-baik saja."

"Aku tidak bilang kau tidak baik-baik saja. Aku bilang kau seharusnya istirahat."

Ayunan Petra melambat, lalu berhenti. Ia menoleh, napasnya sedikit terengah. "Kau pikir aku marah soal Kaldreth."

"Aku pikir kau kecewa. Ada bedanya."

Petra menghela napas, menyandarkan pedang latihannya ke dinding. "Aku hanya... aku ingin kelompok ini dikenal karena sesuatu yang besar, Arden. Bukan cuma pengawalan karavan dan pengambilan relik kecil. Aku ingin orang-orang tahu nama Jangkar Kelabu bukan cuma sebagai kelompok kecil yang aman-aman saja."

"Aku tahu." Arden melangkah masuk, duduk di bangku kayu dekat rak senjata latihan. "Dan aku tidak menyalahkanmu untuk itu. Tapi ambisi itu seperti api, Petra, berguna kalau kau tahu cara mengendalikannya, berbahaya kalau kau biarkan ia membakar segalanya di sekitarmu, termasuk dirimu sendiri."

"Itu terdengar seperti sesuatu yang akan dikatakan orang tua bijak dalam cerita."

Arden tertawa kecil, jarang, tapi tulus. "Mungkin aku

memang mulai terdengar seperti itu."

Petra duduk di sebelahnya, lebih tenang sekarang. "Kau tidak pernah bercerita kenapa kau begitu... hati-hati. Lebih dari kebanyakan pemimpin lain."

Ada jeda kecil, hampir tak terlihat, sebelum Arden menjawab. "Karena aku pernah melihat apa yang terjadi kalau seseorang tidak cukup hati-hati." Ia berdiri sebelum Petra bisa bertanya lebih jauh. "Sekarang istirahatlah. Besok masih ada kontrak-kontrak kecil yang perlu kita urus, seaman apa pun itu bagimu."

Petra tersenyum kecil, setengah menyerah, setengah masih tidak setuju. "Baik, Kapten."

Arden menemukan dirinya sendiri di kamarnya sendirian larut malam itu, jendela terbuka sedikit untuk membiarkan udara dingin pasca-hujan masuk. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya secara refleks bergerak ke leher, di mana sebuah rantai tipis tersembunyi di balik kerah bajunya.

Ia menariknya keluar perlahan. Sebuah liontin perak kecil, sudah usang di beberapa bagian, ukirannya nyaris tak terbaca lagi karena bertahun-tahun disentuh dan digosok tanpa sadar. Ia menatapnya dalam diam, seperti yang sudah ia lakukan ratusan, mungkin ribuan, malam sebelumnya.

Pintu diketuk pelan.

Arden buru-buru menyembunyikan liontin itu kembali ke balik bajunya. "Masuk."

Ilsa membuka pintu, bersandar di kusen dengan lengan bersilang, ekspresinya tidak seringan biasanya. "Aku melihatmu memegang itu lagi."

"Memegang apa?"

"Jangan lakukan itu padaku, Arden. Bukan padaku." Suaranya lembut, tapi tegas. "Kau tahu aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi jangan berpura-pura aku tidak melihatnya."

Arden menghela napas panjang, menatap ke arah jendela, ke kegelapan kota yang basah oleh hujan. "Belum saatnya, Ilsa."

"Kau selalu bilang begitu."

"Karena selalu belum saatnya."

Ilsa menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk sekali, tidak sepenuhnya puas tapi tahu kapan harus mundur.

"Baiklah. Tapi suatu hari, Arden Voss, 'belum saatnya' itu akan habis." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti di ambang pintu. "Untuk apa pun itu."

Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Arden duduk sendirian lagi, tangannya kembali ke liontin di balik bajunya, meski kali ini ia tidak mengeluarkannya. Di luar, awan mulai bergerak, membiarkan sedikit cahaya bulan menembus dan jatuh di atas siluet jauh Menara Verlanth, masih berdiri seperti biasa, masih menyimpan kabut di puncaknya, masih tidak menunjukkan seluruh dirinya.

Ia tidak tahu bahwa esok pagi akan membawa sepucuk kertas yang akan mengubah arah hidupnya lebih dari yang bisa ia bayangkan malam itu.

Pagi berikutnya datang lebih cerah, sisa hujan semalam sudah mengering di atap-atap markas, meninggalkan bau tanah basah yang khas dan langit yang untuk sekali ini benar-benar biru tanpa kabut menutupi puncak Menara Verlanth di kejauhan.

Arden baru saja selesai sarapan (roti dengan madu dan teh yang untuk sekali ini masih hangat karena ia benar-benar meminumnya tepat waktu) ketika Ness masuk lagi dengan map kulit lain di tangannya, kali ini lebih tipis dari yang kemarin, wajahnya menunjukkan ekspresi yang lebih santai dibanding hari sebelumnya.

"Jangan khawatir," kata Ness, sebelum Arden sempat bertanya, "ini bukan Kaldreth."

"Syukurlah," gumam Petra dari meja lain, meski masih setengah tersenyum menggoda.

Ness membuka map itu di meja panjang, dan kali ini

beberapa anggota lain, Ilena yang baru turun dari ruang kerjanya, Brann yang penasaran seperti biasa, Corym yang berdiri di belakang Arden, ikut mendekat untuk melihat.

"Lord Edmar Draymoor," kata Ness, membaca dari lembar pertama. "Bangsawan lokal, tanahnya di sisi timur Aldenmere. Ia meminta kelompok kecil untuk mengambil sebuah relik dari lantai menengah Menara Verlanth." Ia menunjuk angka di bawah, jauh lebih kecil dari tawaran Ostrenmark, tapi cukup wajar untuk misi yang terdengar rutin. "Bayarannya standar. Risikonya, menurut deskripsi kontrak, rendah, lantai menengah, bukan lantai dalam. Sudah sering dieksplorasi guild-guild kecil sebelumnya."

Arden mengambil map itu, membacanya lebih teliti kali ini. Relik yang dimaksud memang terdengar biasa, sebuah artefak kecil yang menurut catatan sejarah keluarga Draymoor pernah menjadi milik leluhur mereka, hilang sejak lantai itu terakhir dieksplorasi puluhan tahun lalu. Tidak ada indikasi bahaya luar biasa. Tidak ada catatan kegagalan sebelumnya seperti Kaldreth.

Ini persis jenis kontrak yang biasa mereka terima. Kecil, jelas, aman.

"Terlihat baik-baik saja," kata Arden, mulai mengangguk pelan.

"Memang," kata Ness. Lalu ia berhenti sejenak, seperti mempertimbangkan apakah perlu menyebutkan detail berikutnya. "Ada satu catatan tambahan. Sedikit tidak biasa, tapi bukan sesuatu yang aneh untuk klien bangsawan."

"Apa itu?"

Ness menunjuk sebuah baris kecil di bagian bawah kontrak, ditulis dengan tinta yang sedikit berbeda dari bagian utama, seolah ditambahkan belakangan.

"Lord Draymoor secara khusus meminta relik ini diambil secepat dan sediam mungkin," kata Ness. "Tidak ada perayaan, tidak ada laporan publik ke Guild soal detail relik itu sendiri, dan sebisa mungkin tidak menarik perhatian pihak lain."

Ruangan hening sesaat. Corym mengangkat alis, menatap Arden dari balik bahunya.

"Aneh," gumam Brann, menyipitkan mata membaca catatan itu sendiri. "Bukan sesuatu yang mustahil, orang kaya sering paranoid soal barang keluarga mereka dicuri sebelum sampai rumah. Tapi kata-katanya... 'sediam mungkin.' Itu pilihan kata yang cukup spesifik untuk sekadar kehati-hatian biasa."

Arden menatap baris kecil itu lebih lama dari yang

seharusnya, jarinya mengetuk pelan tepi meja, kebiasaan kecil saat ia berpikir. Di sudut ruangan, Ilena yang sejak tadi diam mengamati dari mejanya sendiri, alat pemindainya masih menyala pelan di sampingnya, menatap Arden dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Tapi pada akhirnya, ini hanya kontrak kecil. Lantai

menengah. Rutin. Sama seperti puluhan kontrak lain yang sudah mereka selesaikan tanpa insiden berarti.

Arden menutup map itu dan meletakkannya kembali di meja. "Kita ambil," katanya. "Persiapkan tim. Kita berangkat lusa."

Ness mengangguk, sudah mulai menulis catatan

persetujuan di kertas terpisah. Petra bersorak pelan, senang akhirnya ada misi baru meski bukan yang ia harapkan. Brann sudah mulai berceloteh soal ramuan apa yang perlu ia bawa untuk lantai menengah Menara Verlanth.

Tapi di sudut ruangan, saat semua orang mulai sibuk dengan persiapan masing-masing, Arden menoleh sekali lagi ke arah map yang sudah tertutup di meja, ke baris kecil yang masih terngiang di kepalanya.

Secepat dan sediam mungkin.

Ia tidak tahu kenapa kalimat sesederhana itu terasa seperti sesuatu yang lebih besar dari sekadar permintaan seorang bangsawan yang berhati-hati.

Malam itu, jauh setelah sebagian besar anggota sudah tidur, Ilena masih di mejanya.

Ia sudah biasa bekerja larut, mencatat hasil pemindaian rutin tim setelah setiap misi, menyusun laporan kecil yang tidak pernah benar-benar diminta siapa pun tapi selalu ia buat, karena begitulah cara Ilena menjaga semuanya tetap dalam kendali. Malam ini, lentera di mejanya menyala pelan, dan di sampingnya alat pemindai berbentuk prisma miliknya berdiri diam, cahayanya yang biasanya redup konstan.

Kontrak Draymoor tergeletak di sudut meja, dibiarkan Ness di sana untuk disalin ke buku catatan kelompok sebelum diarsipkan. Ilena tidak benar-benar memperhatikannya, sampai, tanpa alasan jelas, ia meletakkan tangannya di atas kertas itu untuk menggesernya, dan prisma di sampingnya berkedip.

Sekali.

Ia berhenti, menatapnya. Alat itu tidak seharusnya bereaksi terhadap kertas. Ia menunggu, pena masih di tangannya, tapi tidak ada apa-apa lagi selama beberapa detik, hanya cahaya redup biasa, konstan seperti sebelumnya. Ilena mengernyit, mengangkat alat itu, memeriksanya dari berbagai sisi. Tidak ada retakan, tidak ada kerusakan yang bisa menjelaskan kedipan tiba-tiba itu.

Ia menggeser kembali kertas kontrak itu, sengaja kali ini, mendekatkannya ke prisma.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi, menggeser lebih dekat, hampir menyentuhkan kertas ke permukaan alat itu.

Masih tidak ada apa-apa.

Ilena duduk diam sejenak, menatap prisma itu dengan alis berkerut, lalu menghela napas dan menggeleng pelan pada dirinya sendiri. Alat tua, pikirnya. Sudah dipakai bertahun-tahun, wajar kalau sesekali ada gangguan kecil yang tidak berarti apa-apa. Ia menuliskan satu baris singkat di catatan pribadinya, bukan laporan resmi, hanya pengingat untuk dirinya sendiri (periksa kalibrasi prisma, ada kedipan tak wajar), lalu melipat kertas kontrak dan meletakkannya kembali ke tempat semula, memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh malam itu.

Ia tidak melihat bahwa, untuk sepersekian detik setelah ia berpaling, cahaya prisma itu berkedip sekali lagi, lebih redup, nyaris tak terlihat, seolah merespons sesuatu yang sudah tidak ada lagi di dekatnya.

Arden turun untuk mengambil air beberapa saat kemudian, tidak bisa tidur meski sudah larut. Ia menemukan Ilena masih di mejanya, menguap, mulai membereskan kertas-kertasnya untuk akhirnya beristirahat.

"Masih bekerja?" tanya Arden pelan, tidak ingin membangunkan yang lain.

"Baru selesai," jawab Ilena, meregangkan bahunya. "Prismaku sedikit rewel malam ini. Mungkin perlu kukalibrasi ulang besok."

"Rewel bagaimana?"

"Berkedip tanpa alasan jelas. Bukan hal besar." Ilena mengangkat bahu, sudah berdiri, menyampirkan selendangnya. "Alat tua. Kadang begitu."

Arden mengangguk, tidak terlalu memikirkannya, sampai matanya, tanpa sengaja, jatuh ke map kontrak Draymoor yang masih tergeletak di sudut meja Ilena, terlipat rapi seperti biasa. Sesuatu yang kecil, tak berbentuk, membuat tangannya terhenti di udara alih-alih meraih gelas air yang ia tuju.

Ia tidak bisa menjelaskannya. Bukan rasa sakit, bukan juga firasat yang jelas, lebih seperti seseorang memanggil namanya dari kejauhan, terlalu pelan untuk didengar, cukup untuk membuatnya menoleh tanpa tahu ke mana harus menoleh. Dadanya terasa sedikit sesak selama satu tarikan napas, tepat di tempat liontin di balik bajunya biasa bersandar.

Lalu itu hilang, secepat ia datang.

"Arden?" Ilena menatapnya, sudah di ambang tangga. "Kau baik-baik saja?"

"Ya," katanya, meski suaranya sendiri terdengar kurang yakin di telinganya. "Cuma lelah."

Ilena mengangguk, tidak mencurigai apa pun, dan naik ke kamarnya, meninggalkan Arden sendirian di ruangan yang mulai gelap kecuali cahaya lentera terakhir di meja Ilena.

Arden berdiri diam sejenak, menatap map kontrak itu tanpa benar-benar tahu kenapa. Lantai menengah Menara Verlanth. Relik keluarga tua. Kontrak yang seharusnya sesederhana puluhan kontrak lain yang pernah mereka selesaikan.

Secepat dan sediam mungkin.

Ia mengambil gelas airnya akhirnya, meminumnya, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa yang baru saja ia rasakan hanyalah kelelahan biasa setelah dua hari yang panjang.

Tapi ketika ia melewati jendela dalam perjalanan kembali ke kamarnya, matanya terhenti sesaat di siluet Menara Verlanth yang masih bisa terlihat di kejauhan malam itu, diterangi cahaya bulan.

Kabut di puncaknya, kabut yang selalu ada, yang tidak pernah benar-benar hilang seingatnya, untuk sepersekian detik tampak bergerak. Bukan tertiup angin, bukan bergulung seperti biasanya.

Bergeser. Seperti sesuatu di dalamnya baru saja menarik napas.

Arden mengerjapkan mata, dan ketika ia menatap lagi, kabut itu sudah kembali seperti biasa, diam, tebal, menyembunyikan puncak menara seperti yang selalu ia lakukan sejak ia pertama kali mengingat kota ini.

Ia berdiri di sana cukup lama, menunggu apakah itu akan terjadi lagi. Tidak terjadi.

Mungkin hanya bayangan awan. Mungkin hanya matanya sendiri, lelah dan terlalu lama menatap kegelapan.

Meyakinkan dirinya sendiri seperti itu, sepanjang jalan kembali ke kamarnya, sepanjang malam ia berbaring menatap langit-langit sebelum akhirnya tertidur.

Tidak tahu bahwa dua hari dari sekarang, ketika kakinya benar-benar menginjak lantai menengah Menara Verlanth, ia akan mengingat malam ini, dan bertanya-tanya apakah menara itu sudah mencoba memberi tahu sesuatu padanya jauh sebelum ia mendengarkannya.

Dua Belas Nama yang Ingin Kujaga

Malam sebelum keberangkatan selalu terasa berbeda dari malam-malam biasa di markas Jangkar Kelabu, bukan karena ada yang berubah secara nyata, tapi karena Arden selalu memperhatikannya lebih dari biasanya. Seolah dengan memperhatikan lebih lama, ia bisa menyimpan sesuatu dari malam itu untuk dibawa ke mana pun mereka pergi esok.

Hujan sudah benar-benar reda sejak siang, menyisakan langit yang bersih dan dingin, ditaburi bintang yang jarang terlihat sejelas ini di atas Aldenmere. Dari halaman belakang markas, suara logam beradu terdengar berirama, ayunan pedang, jeda, ayunan lagi.

Arden menemukan Petra masih di sana, seperti dugaannya. Kali ini bukan sekadar berlatih ayunan sendirian seperti dua malam lalu. Petra sedang bertukar serangan lambat dengan Halden, gerakan mereka lebih menyerupai tarian daripada pertarungan sungguhan, Halden membimbing, mengoreksi posisi kaki Petra dengan ujung pedangnya sendiri, suaranya rendah dan sabar seperti biasa.

"Bahu, bukan pergelangan tangan," kata Halden. "Kalau kau mengandalkan pergelangan tangan untuk tenaga, kau akan kelelahan sebelum lawanmu."

"Aku tahu," gerutu Petra, meski memperbaiki posisinya.

"Kalau kau tahu, kenapa masih salah?"

Petra membuka mulut untuk membalas, tapi melihat Arden berdiri di ambang pintu, ia justru menurunkan pedangnya. "Kapten. Aku pikir kau sudah tidur."

"Belum. Aku suka berkeliling malam sebelum kita berangkat." Arden melangkah masuk, menyandarkan diri ke tiang kayu di dekat rak senjata latihan. "Jangan berhenti karena aku."

Halden mengangguk sekali padanya, sapaan singkat khas seorang veteran yang tidak pernah membuang kata lebih dari yang perlu, lalu melangkah mundur, memberi ruang untuk Petra melanjutkan latihannya sendiri, mengulang gerakan yang baru saja dikoreksinya.

Arden mengawasi dalam diam sesaat, memperhatikan bagaimana Petra mencoba keras untuk tidak terlihat berusaha keras, dagunya terangkat sedikit terlalu tinggi, seolah menantang siapa pun yang menilainya kurang.

"Kau gugup," kata Arden akhirnya, bukan pertanyaan.

Petra berhenti, menyeka keringat dari dahinya dengan lengan baju. "Aku tidak gugup. Ini cuma lantai menengah. Kita sudah pernah ke tempat yang lebih sulit."

"Aku tidak bilang kau takut. Aku bilang kau gugup. Ada bedanya."

Petra menatapnya sejenak, lalu menghela napas, duduk di bangku kayu dekat dinding, pedang latihan disandarkan di sebelahnya. "Baiklah. Mungkin aku sedikit... ingin membuktikan sesuatu. Setelah Kaldreth, setelah kau bilang tidak—"

"Aku tidak menolak Kaldreth karena aku meragukanmu."

"Aku tahu itu juga." Petra menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. "Tapi rasanya seperti... setiap kali ada kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita lebih dari sekadar kelompok kecil-kecil aman, kau selalu menariknya kembali. Dan aku mengerti kenapa. Aku benar-benar mengerti. Tapi kadang aku bertanya-tanya, kalau kita terus begini, apa aku akan pernah punya kesempatan untuk membuktikan diri sebelum aku terlalu tua untuk itu."

Ada kejujuran mentah dalam kata-kata itu yang membuat Arden diam sesaat, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Petra," katanya akhirnya, "kau pikir kekuatan seseorang diukur dari seberapa besar lawan yang mereka kalahkan, atau seberapa besar nama yang mereka bawa pulang."

"Bukankah memang begitu?"

"Tidak selalu." Arden duduk di bangku seberangnya, sikunya bersandar di lutut. "Aku sudah melihat orang-orang kuat, Petra. Orang-orang yang namanya diucapkan dengan penuh kekaguman di seluruh benua. Sebagian dari mereka layak mendapatkannya. Sebagian lagi..." ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya. "Sebagian lagi membayar nama besar itu dengan hal-hal yang tidak pernah bisa mereka dapatkan kembali."

"Seperti apa?"

Arden tidak menjawab langsung. Matanya sekilas terarah ke bawah, ke dada, tempat rantai tipis tersembunyi di balik bajunya, gerakan yang begitu cepat hingga hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Petra mengernyit sedikit, seolah menyadari sesuatu tanpa benar-benar tahu apa itu.

"Aku hanya percaya," lanjut Arden, mengalihkan pandangannya kembali ke Petra, "lebih baik cukup dan hidup, daripada hebat dan mati. Bukan karena aku tidak menghargai kehebatan. Tapi karena aku sudah melihat harganya, dan aku tidak ingin kau atau siapa pun di kelompok ini membayar harga itu hanya demi nama yang diucapkan orang lain."

Petra terdiam lama, menatap tangannya sendiri. "Itu terdengar seperti kebijaksanaan yang datang dari sesuatu yang menyakitkan."

"Mungkin," kata Arden, berdiri kembali, "suatu hari nanti aku akan bercerita semuanya. Tapi malam ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku melihat kesungguhanmu, Petra. Aku tidak pernah meragukannya. Aku hanya tidak ingin kesungguhan itu membawamu ke tempat yang tidak bisa kau kembali darinya."

Petra mengangguk pelan, sesuatu di matanya melunak. "Baik, Kapten."

"Sekarang istirahatlah untuk sungguhan kali ini. Aku serius."

"Kau selalu serius."

"Salah satu dari kita harus."

Petra tertawa kecil, pertama kalinya malam itu terdengar tulus, dan akhirnya berdiri, membawa pedang latihannya kembali ke rak.

Arden menemukan Brann berikutnya di ruang kerjanya sendiri, sebuah sudut markas yang penuh dengan botol-botol kaca berbagai ukuran, sebagian berisi cairan berwarna aneh, sebagian kosong dan menunggu untuk diisi, rak-rak dipenuhi buku catatan yang sudah lecek di ujung-ujungnya karena terlalu sering dibuka dan ditutup.

Brann sedang duduk di kursinya dengan kepala tertunduk ke meja, salah satu tangannya masih memegang sendok pengaduk kecil, sementara di depannya sebuah wadah kaca mengeluarkan asap tipis berwarna kehijauan yang berbau seperti telur busuk bercampur mint.

"Kau baik-baik saja?" tanya Arden, sedikit was-was mendekat.

"Aku gagal lagi," gumam Brann tanpa mengangkat kepala. "Formula kedelapan. Aku pikir aku sudah menemukan keseimbangan yang tepat kali ini, tapi hasilnya justru lebih buruk dari formula keenam."

"Yang meledak di wajahmu?"

"Yang itu setidaknya meledak dengan terhormat." Brann akhirnya mengangkat kepala, matanya merah karena kurang tidur, tapi masih menyala dengan semangat khasnya yang tak pernah benar-benar padam. "Ini hanya... berbau busuk dan tidak melakukan apa-apa. Setidaknya ledakan memberitahuku aku sedang melakukan sesuatu yang salah dengan cara yang menarik."

Arden tidak bisa menahan senyum kecil. "Kenapa kau begitu ingin menyelesaikan ramuan api anti-air ini sekarang, dari semua waktu?"

Brann meletakkan sendoknya, menyandarkan diri ke kursi. "Karena kita akan berada di dalam Menara besok, Arden. Lantai menengah, tapi tetap saja, dunia saku, aturan aneh, cuaca yang tidak selalu masuk akal. Kalau kita terjebak dalam hujan yang tidak seharusnya ada di dalam sebuah lantai batu, aku ingin kita punya cara untuk tetap menyalakan api." Ia menghela napas panjang. "Tapi sepertinya aku harus puas dengan formula lama untuk sekarang."

"Formula lama sudah cukup baik selama ini."

"'Cukup baik' bukan standar yang memuaskan bagi seorang alkimis, Kapten." Brann mengetuk mejanya dengan jari. "Tapi kau benar. Aku akan membawa yang lama. Dan mungkin," tambahnya, sedikit lebih pelan, hampir malu, "aku hanya perlu istirahat sebelum otakku bisa memikirkan sesuatu yang benar-benar baru."

"Itu ide bagus," kata Arden. "Ramuan yang gagal tidak akan menjadi lebih baik karena kau memaksanya jam sepuluh malam sebelum misi."

Brann tertawa, suara lelah tapi tulus. "Baiklah, baiklah. Aku akan tidur. Tapi kalau besok aku menemukan sesuatu yang brilian dalam mimpi, aku akan membangunkanmu untuk memberitahumu."

"Aku menantikannya," kata Arden, meski nada suaranya menunjukkan sebaliknya, cukup untuk membuat Brann tertawa lagi saat Arden melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan asap kehijauan yang perlahan mulai memudar.

Kapel kecil di sudut markas hampir tidak pernah ramai, dan itulah yang membuatnya terasa seperti tempat yang benar-benar berbeda dari sisa markas, dinding batunya lebih dingin, cahaya lilinnya lebih redup dan lebih stabil, dan suara-suara dari ruangan lain nyaris tidak terdengar sama sekali begitu pintu kayunya tertutup.

Sister Yuna Solvain duduk di bangku kecil di depan altar sederhana, bukan altar dewa tertentu, hanya sebuah meja batu dengan ukiran spiral halus dan beberapa lilin yang menyala pelan, tradisi yang lebih personal daripada institusional, sesuatu yang ia bangun sendiri sejak bergabung dengan Jangkar Kelabu bertahun-tahun lalu.

Ia tidak menoleh ketika Arden masuk, tapi bahunya sedikit rileks, tanda bahwa ia sudah tahu siapa yang datang tanpa perlu melihat.

"Kau selalu datang malam sebelum kita berangkat," kata Yuna, suaranya lembut, hampir seperti bisikan meski ruangan itu kosong selain mereka berdua.

"Kau selalu di sini malam sebelum kita berangkat," balas Arden, duduk di bangku sebelahnya, cukup jauh untuk memberi ruang, cukup dekat untuk terasa seperti kebersamaan.

Mereka duduk diam sejenak, memandang nyala lilin yang bergoyang pelan meski tidak ada angin.

"Kau tidak pernah bertanya apa yang aku doakan," kata Yuna akhirnya.

"Aku pikir itu bukan urusanku untuk bertanya."

"Kau bisa bertanya. Aku tidak keberatan menjawab." Yuna tersenyum tipis, matanya masih tertuju pada lilin. "Aku mendoakan mereka semua. Setiap malam sebelum kita berangkat. Dua belas nama, satu per satu, meski aku tidak menyebutnya keras-keras."

"Termasuk aku?"

"Terutama kau." Yuna akhirnya menoleh padanya, ekspresinya tenang tapi tajam dengan caranya sendiri. "Kau membawa beban dua belas orang di pundakmu setiap kali kita melangkah keluar dari markas ini, Arden. Aku pikir kau butuh doa lebih dari siapa pun, meski kau tidak akan pernah mengakuinya."

Arden tidak menjawab segera. Ia menatap lilin-lilin itu, cahayanya yang kecil namun stabil, memantul lembut di batu dingin dinding kapel.

"Kau tahu kenapa aku begitu berhati-hati, Yuna?"

"Aku punya dugaan. Tapi aku tidak akan memaksamu mengatakannya kalau kau belum siap."

"Bukan karena aku takut mati," kata Arden pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Yuna. "Aku sudah berdamai dengan itu sejak lama. Aku takut... membawa orang lain ke tempat yang tidak bisa mereka kembali darinya. Aku sudah pernah melakukannya sekali. Aku tidak berniat melakukannya lagi."

Yuna tidak bertanya lebih jauh, tidak mendorong, hanya mengangguk pelan, membiarkan kata-kata itu mengambang di udara tanpa perlu dijawab atau dijelaskan.

"Itu sebabnya," lanjut Arden, suaranya lebih ringan sekarang, seolah mengeluarkan sedikit beban hanya dengan mengucapkannya, "aku lebih memilih cukup dan hidup, daripada hebat dan mati. Bukan karena aku tidak percaya pada kalian semua. Justru karena aku terlalu percaya."

"Itu bukan kelemahan, Arden," kata Yuna lembut. "Kebanyakan orang mengira kehati-hatian adalah tanda ketakutan. Tapi aku sudah melihat cukup banyak orang yang gegabah demi keberanian palsu, dan aku sudah melihat cukup banyak dari mereka yang tidak pernah pulang. Kehati-hatianmu sudah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada yang mungkin kau sadari."

Arden menghela napas panjang, sesuatu di dadanya terasa sedikit lebih ringan. "Terima kasih, Yuna."

"Untuk apa?"

"Untuk mendengarkan tanpa memaksa aku menjelaskan semuanya."

Yuna tersenyum, kali ini lebih lebar, hangat di bawah cahaya lilin. "Itu tugasku. Salah satunya, setidaknya." Ia berdiri, menyentuh bahunya sekali dengan lembut sebelum melangkah menuju pintu. "Tidurlah, Arden. Menara akan tetap di sana besok pagi, seperti biasa."

Arden mengangguk, tapi tidak segera berdiri. Ia duduk sendirian beberapa saat lebih lama di kapel kecil itu, menatap nyala lilin yang masih bergoyang pelan tanpa angin, pikirannya melayang entah ke mana sebelum akhirnya ia juga bangkit dan meninggalkan ruangan itu, membiarkan lilin-lilin menyala sendirian dalam kesunyian.

Ilena sudah menunggu di ruang utama ketika Arden akhirnya turun sepenuhnya, membawa selembar kertas ringkas di tangannya, laporan pemindaian yang selalu ia lakukan malam sebelum misi, kebiasaan yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan kelompok mereka, serutin memeriksa perbekalan atau mengasah senjata.

"Hasil pemindaian malam ini," kata Ilena, tanpa basa-basi, menyerahkan kertas itu. "Semua orang dalam kondisi baik. Kapasitas Anima seluruh anggota berada dalam rentang normal, tidak ada tanda kelelahan berlebih atau ketidakseimbangan yang perlu dikhawatirkan sebelum kita berangkat."

Arden membaca sekilas, angka-angka dan catatan singkat untuk masing-masing anggota, rutinitas yang sudah ia hafal formatnya luar kepala setelah bertahun-tahun. "Bagus. Seperti biasa, kau selalu teliti."

"Itu pekerjaanku." Ilena berhenti sejenak, menatapnya dengan ekspresi yang sedikit lebih hati-hati dari biasanya. "Soal prismaku semalam—"

"Sudah kau perbaiki?"

"Sudah kukalibrasi ulang. Tidak menunjukkan masalah lagi sejak itu." Ilena mengangkat bahu, meski ada sesuatu di suaranya yang tidak sepenuhnya yakin. "Mungkin memang cuma gangguan kecil."

"Kalau kau bilang begitu, aku percaya."

"Aku tidak bilang aku sepenuhnya yakin," koreksi Ilena, lebih jujur dari yang biasa ia tunjukkan. "Aku bilang tidak menunjukkan masalah lagi. Ada bedanya."

Arden menatapnya sejenak, mengenali kehati-hatian dalam kata-kata itu, sesuatu yang sangat khas Ilena, selalu tepat memilih kata agar tidak pernah mengatakan lebih dari yang benar-benar ia ketahui. "Beri tahu aku kalau itu terjadi lagi."

"Akan kulakukan." Ilena mengangguk sekali, lalu melipat kertas laporannya sendiri dan menyelipkannya ke dalam tas kerja miliknya. "Kita berangkat besok pagi. Istirahatlah yang cukup, Arden. Kau selalu yang terakhir tidur dan pertama bangun."

"Seseorang harus melakukannya."

"Seseorang tidak harus selalu itu kau." Ilena tersenyum kecil, hampir menggoda, sebelum berbalik menuju tangga menuju kamarnya sendiri.

Arden akhirnya sendirian di ruang utama yang mulai gelap, hanya diterangi bara terakhir dari perapian yang perlahan meredup. Ia duduk sejenak di kursi dekat perapian itu, kelelahan hari yang panjang mulai terasa di bahunya, dan tanpa benar-benar berpikir, tangannya bergerak ke leher, menarik rantai tipis dari balik bajunya.

Liontin perak kecil itu berkilau lemah di bawah cahaya bara yang hampir padam. Ia menggenggamnya dalam diam, ibu jarinya menelusuri ukiran yang sudah nyaris hilang karena bertahun-tahun disentuh, kebiasaan yang lebih untuk menenangkan diri daripada untuk mengingat sesuatu yang sudah selalu ada di pikirannya.

"Kau tahu," suara Ilsa muncul tiba-tiba dari arah tangga, cukup pelan hingga membuat Arden nyaris tersentak, "kalau kau terus menggenggam itu setiap malam sebelum misi, suatu hari aku benar-benar akan bertanya apa isinya."

Arden buru-buru menyembunyikan liontin itu kembali ke balik bajunya, gerakannya sedikit terlalu cepat, terlalu canggung untuk seseorang yang biasanya begitu terkendali. "Aku pikir kau sudah tidur."

"Aku pikir kau sudah berhenti berpura-pura tidak melakukan itu saat aku di dekatmu." Ilsa berjalan mendekat, duduk di lengan kursi seberangnya, matanya menatapnya dengan campuran geli dan sesuatu yang lebih lembut. "Apa itu, Arden? Sungguh. Bukan untuk menggodamu kali ini. Aku benar-benar penasaran."

"Ilsa—"

"Kau tidak harus menjawab," potongnya cepat, mengangkat tangan sebelum Arden bisa melanjutkan penolakannya yang biasa. "Aku hanya... aku sudah melihatmu melakukan itu bertahun-tahun, dan aku tidak pernah benar-benar bertanya langsung. Mungkin sekarang aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Bukan apa itu. Kau."

Ada sesuatu dalam cara Ilsa mengatakannya, lebih pelan, lebih tulus dari biasanya, tanpa nada sarkastis yang biasa melindunginya, yang membuat Arden terdiam lebih lama dari yang seharusnya. Untuk sesaat, mulutnya terbuka, seolah kata-kata sudah siap keluar setelah bertahun-tahun tertahan.

Lalu ia menutupnya lagi.

"Aku baik-baik saja," katanya akhirnya, suaranya lebih hati-hati dari yang ia inginkan. "Ini hanya... sesuatu yang kubawa. Untuk mengingatkanku pada seseorang."

"Seseorang yang penting."

"Sangat penting."

Ilsa menunggu, jelas berharap ada lebih banyak lagi yang menyusul. Tapi Arden hanya berdiri, meregangkan bahunya, mencoba membuat gerakan itu terlihat sewajar mungkin meski jantungnya masih berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Kita berangkat pagi-pagi sekali besok," katanya, mengalihkan pembicaraan dengan cara yang bahkan ia sendiri tahu terlalu jelas. "Sebaiknya kau tidur, Ilsa."

Ilsa menatapnya lama, cukup lama untuk membuat Arden hampir menyerah dan mengatakan lebih banyak, tapi akhirnya ia hanya mengangguk, turun dari lengan kursi. "Baiklah. Untuk sekarang." Ia melangkah menuju tangga, lalu berhenti di anak tangga pertama, menoleh sekali lagi. "Tapi jangan pikir aku akan berhenti bertanya selamanya, Arden Voss. Suatu hari, kau akan cerita. Aku bisa menunggu."

Ia menghilang menaiki tangga, meninggalkan Arden sendirian di ruang utama yang kini hanya diterangi bara terakhir perapian.

Arden berdiri diam sejenak, tangannya kembali secara refleks ke dada, merasakan bentuk liontin di balik bajunya tanpa mengeluarkannya kali ini. Di luar jendela, malam sudah semakin larut, bintang-bintang masih bertahan jelas di langit yang dingin, dan jauh di ujung barat kota, Menara Verlanth berdiri diam seperti biasa, meski kali ini, entah kenapa, Arden tidak bisa sepenuhnya meyakinkan dirinya bahwa itu benar-benar diam.

Ia naik ke kamarnya tak lama kemudian, tapi tidur datang lambat malam itu, pikirannya berputar antara wajah Petra yang gelisah, tawa lelah Brann, ketenangan Yuna di kapel kecil, dan pertanyaan Ilsa yang masih menggantung di udara, belum terjawab, mungkin untuk waktu yang masih sangat lama.

Esok pagi, mereka akan berangkat menuju Menara Verlanth.

Dan entah kenapa, malam itu, Arden tidur dengan tangan masih menggenggam rantai tipis di lehernya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Menara yang Sudah Dikenal

Pagi itu, Aldenmere bangun lebih awal dari biasanya, atau mungkin hanya terasa begitu bagi mereka yang sudah berjalan menyusuri jalan-jalan batunya sejak sebelum matahari sepenuhnya terbit. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara atap-atap toko, dan asap pertama dari tungku roti mulai naik pelan ke udara yang dingin, membawa aroma gandum panggang yang bercampur dengan bau basah jalanan sisa hujan beberapa hari terakhir.

Arden berjalan di depan rombongan kecilnya, langkahnya tenang meski ranselnya berat berisi perlengkapan untuk tiga hari perjalanan pulang pergi. Di belakangnya, sembilan orang mengikuti dengan formasi longgar yang sudah terbentuk secara alami dari kebiasaan bertahun-tahun: Corym di sisi kanannya, perisai bundar tersandar di punggung; Ilena beberapa langkah di belakang, tasnya berisi alat-alat pemindaian yang dibungkus rapi dalam kain tebal agar tidak terguncang; Tomas paling depan bersama Petra, matanya sudah mulai membaca jalanan seperti kebiasaannya, meski di kota sendiri tidak ada yang perlu benar-benar dilacak.

Doran berjalan agak menyamping, satu tangan terangkat ke arah bahu untuk menyeimbangkan Ashe yang bertengger di sana, sayap kecilnya masih terlipat rapat karena udara pagi terlalu dingin untuk terbang jauh. Di belakang mereka, Brann menggerutu pelan soal ranselnya yang terlalu berat karena ia memaksakan diri membawa tiga jenis ramuan cadangan, sementara Halden berjalan santai di sampingnya, sesekali menawarkan diri membawakan sebagian beban tanpa benar-benar dijawab. Wick berjalan paling belakang, membawa bekal makan siang yang sudah ia siapkan sejak subuh, wajahnya masih setengah mengantuk tapi tetap bersemangat karena ini kali pertama ia ikut misi sejauh ini.

Menuju Menara Verlanth, jalan utama Aldenmere perlahan berubah. Toko-toko dan rumah biasa mulai digantikan oleh bangunan yang lebih besar dan lebih baru: kantor-kantor pendaftaran guild, gudang penyimpanan relik sementara, kios-kios penjual perlengkapan ekspedisi dengan etalase penuh senjata dan jubah pelindung. Semakin dekat ke kaki menara, semakin ramai pula jalanan, dipadati petualang dari berbagai latar belakang, sebagian mengenakan lambang guild besar yang disulam rapi di dada mereka, sebagian lain seperti Jangkar Kelabu, tanpa lambang apa pun selain kepercayaan mereka satu sama lain.

"Selalu aneh," gumam Petra, berjalan di sisi Arden sekarang, matanya menyapu deretan bangunan tinggi di sekitar mereka, "betapa cepat kota berubah begitu kita mendekati menara. Seolah seluruh kota ini dibangun untuk melayani satu bangunan saja."

"Karena memang begitu," jawab Corym dari sisi lain. "Aldenmere tidak akan ada tanpa Menara Verlanth. Bahkan nama kota ini konon diambil dari kata lama yang berarti 'gerbang penjaga'."

"Aku tidak pernah dengar itu."

"Karena kau tidak pernah bertanya pada orang yang tepat," kata Corym, tersenyum tipis.

Mereka berbelok memasuki jalan yang lebih lebar, dan di sanalah Menara Verlanth akhirnya berdiri utuh di hadapan mereka, bukan sekadar siluet jauh dari jendela markas. Dari dekat, ukurannya terasa berbeda sepenuhnya. Dindingnya terbuat dari batu abu-abu gelap yang tidak seperti batu bangunan lain di kota, permukaannya halus tanpa bekas pahatan tangan manusia, seolah menara itu tumbuh dari tanah alih-alih dibangun oleh siapa pun. Puncaknya, seperti biasa, tertutup kabut tipis yang tidak pernah benar-benar hilang, bahkan di pagi paling cerah sekalipun.

Arden mendongak sejenak, kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang meski ia sudah ratusan kali berdiri di titik yang sama. Ada sesuatu tentang menara ini, tentang semua menara di seluruh benua, yang membuat siapa pun yang menatapnya cukup lama merasa kecil, bukan karena ketinggiannya, tapi karena ketidaktahuan tentang apa yang sebenarnya ada di dalamnya.

Kali ini, ia menahan diri untuk tidak menatapnya terlalu lama.

...----------------...

Gerbang akses Menara Verlanth berupa struktur batu besar di kaki menara, dijaga oleh petugas Guild berseragam yang duduk di balik meja pendaftaran panjang, memeriksa dokumen izin satu per satu dengan kecepatan yang tidak pernah cukup cepat bagi mereka yang mengantre. Antrean pagi itu cukup panjang, sebagian besar terdiri dari kelompok-kelompok yang mengenakan lambang guild besar, seragam mereka rapi dan seragam, senjata mereka mengilap seolah baru saja dipoles semalaman.

Ness sudah mengurus dokumen kontrak dan izin akses mereka sebelumnya, jadi Arden hanya perlu menyerahkan segel kecil berukir yang menandakan status Jangkar Kelabu sebagai kelompok terdaftar resmi, meski independen. Petugas di meja memeriksanya sekilas, membandingkannya dengan catatan di buku besar di depannya, lalu mengangguk singkat.

"Lantai menengah, kontrak Draymoor," kata petugas itu, lebih pada dirinya sendiri saat mencatat. "Durasi maksimal tiga hari sesuai izin. Kalau melewati itu tanpa laporan, tim pencari akan dikirim menyusul."

"Kami paham," kata Arden.

"Baik. Selamat berburu."

Mereka melangkah menjauh dari meja pendaftaran menuju area tunggu, tempat kelompok-kelompok lain berkumpul menunggu giliran memasuki gerbang utama menara itu sendiri. Di sanalah mereka berpapasan dengan rombongan besar yang mengenakan lambang emas dan biru Guild Aldenmere Utama, kelompok yang jumlahnya hampir dua kali lipat Jangkar Kelabu, lengkap dengan seorang pemimpin bertubuh tegap yang berdiri paling depan, tangannya bersandar di gagang pedang besar dengan gaya yang terlalu dibuat-buat untuk terlihat santai.

Pemimpin itu, seorang pria bernama yang tidak sempat didengar jelas oleh Arden, melirik rombongan mereka dengan tatapan menilai, matanya berhenti sejenak di lambang kecil Jangkar Kelabu yang disulam di bahu jubah Corym.

"Jangkar Kelabu," katanya, cukup keras untuk didengar oleh anggotanya sendiri, nada suaranya jelas bukan sapaan. "Masih di lantai menengah, ya? Kupikir kalian sudah cukup lama beroperasi untuk setidaknya mencoba lantai bawah sekali-sekali."

Beberapa anggota rombongan itu tertawa kecil, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk terdengar oleh siapa pun yang berdiri dekat.

Petra menegang di sebelah Arden, rahangnya mengencang, tangannya secara refleks bergerak sedikit ke arah gagang pedangnya sebelum ia menahan diri. Halden meletakkan tangan ringan di bahunya dari belakang, tidak menahan secara fisik, hanya sebuah pengingat halus.

Arden menoleh ke arah pria itu dengan ekspresi yang tetap datar, tenang, hampir terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya menyulut kemarahan.

"Kami mengambil kontrak yang sesuai dengan kebutuhan klien kami," kata Arden, suaranya tidak naik satu nada pun. "Kebetulan kontrak kali ini berada di lantai menengah. Bukan berarti kami tidak mampu lebih dalam, hanya saja kami tidak pernah mengambil misi berdasarkan seberapa dalam lantainya, melainkan seberapa perlu misi itu diselesaikan."

"Alasan yang bagus untuk kelompok yang tidak pernah benar-benar diuji," balas pria itu, senyumnya masih terpasang, meski sedikit lebih kaku sekarang.

"Mungkin," kata Arden, "atau mungkin kami hanya lebih pandai memilih pertempuran yang benar-benar layak diperjuangkan."

Ada jeda singkat, cukup lama untuk terasa canggung bagi sebagian anggota rombongan besar itu sendiri. Pemimpin mereka akhirnya mendengus pelan, memutuskan untuk tidak melanjutkan, dan berbalik memberi aba-aba pada anggotanya untuk bergerak menuju gerbang utama yang baru saja terbuka bagi giliran mereka.

Begitu rombongan itu cukup jauh, Petra menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan, bahunya turun sedikit. "Aku tidak percaya kau bisa sesantai itu."

"Aku tidak santai," kata Arden, pelan, hanya untuk didengar rombongannya sendiri. "Aku hanya tahu bahwa membalas ejekan dengan amarah tidak pernah mengubah pendapat orang seperti itu tentang kita. Yang bisa mengubahnya hanya hasil kerja kita sendiri, bukan kata-kata di depan gerbang."

"Tapi rasanya menyebalkan," gerutu Petra, meski nada suaranya sudah lebih tenang.

"Aku tahu," kata Arden. "Kadang hal yang benar tetap terasa menyebalkan untuk dilakukan."

Corym menepuk bahu Petra sekali, lebih ringan dari Halden sebelumnya. "Kau menahan diri dengan baik tadi. Itu bukan hal kecil di usiamu."

Petra hanya mengangguk, meski senyum kecil muncul di ujung bibirnya, tanda bahwa pujian itu cukup untuk meredakan sisa kekesalannya.

...----------------...

Giliran mereka tiba tidak lama setelahnya. Gerbang utama Menara Verlanth berupa lorong batu besar yang mengarah langsung ke ruang masuk pertama, tempat sebuah lingkaran ukiran raksasa terpahat di lantai, bercahaya redup kebiruan yang berdenyut pelan seperti detak jantung yang sangat lambat. Di sinilah para petualang memilih tujuan lantai mereka, disesuaikan dengan izin yang sudah mereka miliki.

"Aku akan mengecek jalur dari udara dulu," kata Doran, sudah bersiap di dekat celah cahaya alami yang masuk dari salah satu sisi ruang masuk, tempat Ashe bisa terbang keluar menuju bukaan yang menghubungkan lantai-lantai bawah menara dengan langit terbuka di luar, sebuah fitur yang hanya dimiliki beberapa lantai teratas dan sedikit lantai menengah tertentu. "Lantai menengah Verlanth punya beberapa area terbuka. Aku bisa memetakan sebagian rute sebelum kita masuk penuh."

"Berapa lama?" tanya Arden.

"Setengah jam, mungkin sedikit lebih." Doran mengelus bulu Ashe sekali, familiarnya mengeluarkan suara decitan pelan seolah menjawab, lalu melompat dari bahunya, sayapnya membentang penuh saat meluncur menuju celah cahaya itu dan menghilang ke arah langit.

Sambil menunggu, Tomas memeriksa peta lantai menengah yang diberikan pihak Guild bersama izin akses mereka, membandingkannya dengan catatan singkat yang disertakan dalam kontrak Draymoor soal lokasi terakhir relik keluarganya terlihat.

"Petanya cukup usang," gumam Tomas, lebih pada dirinya sendiri, meski cukup keras untuk didengar Arden yang berdiri dekat. "Beberapa area ditandai belum dipetakan ulang sejak dua puluh tahun lalu."

"Wajar untuk lantai menengah yang jarang dieksplorasi ulang," kata Ilena, sudah duduk di bangku kayu dekat dinding, mengeluarkan alat pemindainya dari bungkus kainnya untuk melakukan pemeriksaan rutin sebelum memasuki lantai. Prisma kecil itu menyala dengan cahaya redup yang stabil, berbeda dari kedipan aneh yang sempat mengganggunya beberapa malam lalu. "Selama kita berpegang pada arah umum, kita seharusnya bisa menemukan jalan meski petanya tidak sepenuhnya akurat."

Brann duduk di sebelahnya, memeriksa isi ranselnya sekali lagi, menghitung botol-botol ramuan dengan bibir bergerak pelan tanpa suara. Wick duduk di dekat mereka, mengamati seluruh ruang masuk dengan mata lebar, jelas ini pertama kalinya ia benar-benar berdiri sedekat ini dengan gerbang utama Menara.

"Ini beda sekali dari yang aku bayangkan," gumam Wick, lebih pada dirinya sendiri.

"Lebih besar atau lebih kecil?" tanya Halden, yang berdiri tak jauh darinya, mengasah ulang pedangnya meski sudah tajam, kebiasaan yang tidak pernah benar-benar berhenti bahkan saat menunggu.

"Lebih... hidup," kata Wick, mencoba mencari kata yang tepat. "Aku pikir tempat seperti ini akan terasa mati. Tapi cahayanya bergerak seperti itu berdenyut, dan udaranya terasa seperti sedang menunggu sesuatu."

Halden tersenyum tipis, tidak mengejek. "Kau tidak salah. Menara memang terasa begitu bagi kebanyakan orang pertama kali masuk. Kau akan terbiasa."

Setengah jam kemudian, seperti janjinya, Doran kembali melalui celah cahaya yang sama, Ashe mendarat di bahunya dengan napas terengah kecil, bulu-bulunya sedikit berantakan karena angin di ketinggian.

"Jalur utara terbuka," lapor Doran, langsung menuju kelompok. "Ada beberapa area terbuka yang cocok dengan tanda di peta lama, kemungkinan besar mengarah ke bagian menara yang disebutkan dalam catatan Draymoor. Tidak ada tanda bahaya besar dari udara, hanya beberapa monster kecil yang biasa ditemukan di lantai ini."

"Bagus," kata Arden, mengangguk. "Kita ikuti jalur itu. Tomas, pimpin di depan."

Tomas mengangguk sekali, tanpa banyak kata, melangkah ke arah lingkaran ukiran raksasa di lantai, tempat petugas menara sudah menunggu untuk mengaktifkan jalur menuju lantai menengah sesuai izin mereka. Sisa rombongan mengikutinya, formasi mereka kembali tersusun rapi tanpa perlu diperintahkan lagi, kebiasaan yang sudah tertanam dalam dari bertahun-tahun bekerja sama.

...----------------...

Petugas menara mengucapkan mantra singkat, lebih mirip perintah teknis daripada sihir yang mengesankan, dan lingkaran ukiran di lantai berdenyut lebih terang sesaat sebelum sebuah pintu besar di ujung ruangan, yang sebelumnya tampak seperti dinding batu biasa, mulai terbuka perlahan dengan suara gesekan batu yang dalam dan berat.

Di baliknya, kegelapan lantai menengah Menara Verlanth menunggu, hanya sebagian tersinari oleh cahaya kebiruan lemah yang berasal dari kristal-kristal kecil yang tumbuh alami di sepanjang dinding lorong masuk, memberi kesan seperti memasuki gua bawah tanah yang sudah lama ditinggalkan namun masih hidup dengan caranya sendiri.

Arden melangkah maju terlebih dahulu, seperti biasa, memimpin dari depan bukan karena ia menuntut posisi itu, tapi karena begitulah kebiasaannya sejak kelompok ini pertama kali terbentuk.

Di belakangnya, Ilena berhenti sejenak di ambang pintu, prisma kecilnya masih menyala di tangannya. Ia menatapnya sekilas, alisnya mengerut tipis.

"Tunggu," katanya, cukup pelan hingga hanya beberapa orang terdekat yang mendengar.

Arden menoleh. "Ada apa?"

Ilena tidak menjawab segera. Ia menarik napas dalam, seolah mencoba mencium sesuatu yang tidak seharusnya ada, matanya menyipit menatap kegelapan di depan mereka.

"Udaranya," katanya akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "terasa salah."

"Salah bagaimana?" tanya Corym, sudah berdiri siaga di sisi Arden.

"Aku tidak tahu persis." Ilena menggeleng pelan, frustrasi dengan ketidakmampuannya sendiri untuk menjelaskan apa yang ia rasakan. "Bukan sesuatu yang bisa kubaca dari prismaku. Hanya... perasaan. Seperti udara ini sudah menunggu sesuatu terlalu lama, dan sekarang ia tahu kita datang."

Ruangan hening sejenak. Wick, yang berdiri di dekat pintu, secara refleks melangkah setengah langkah lebih dekat ke arah Halden, meski tidak ada apa pun yang terlihat mengancam di kegelapan lorong itu.

Arden menatap ke dalam lorong yang masih diselimuti bayangan, kristal-kristal biru berkedip pelan seperti mata yang setengah terjaga, dan untuk sesaat, ia teringat kabut di puncak menara yang bergeser aneh malam itu, teringat sesak sesaat di dadanya saat menyentuh map kontrak Draymoor.

Ia mendorong ingatan itu ke belakang, seperti yang selalu ia lakukan pada hal-hal yang tidak bisa ia jelaskan.

"Kita tetap waspada," katanya akhirnya, suaranya tenang meski sesuatu di dalam dirinya tidak sepenuhnya setenang itu. "Tapi kita sudah datang sejauh ini. Kontrak ini masih terlihat seperti misi rutin, dan kita tidak akan mundur hanya karena firasat."

Ilena mengangguk, meski matanya masih menatap kegelapan di depan mereka dengan waspada, prismanya belum sepenuhnya ia simpan kembali.

Tomas melangkah maju lebih dulu, memimpin seperti yang diperintahkan, langkahnya hati-hati menyusuri lorong yang mulai menyempit. Satu per satu, anggota Jangkar Kelabu mengikuti masuk ke dalam kegelapan berkilau biru itu, meninggalkan cahaya pagi di belakang mereka.

Di ambang pintu, sebelum melangkah masuk sepenuhnya, Arden menoleh sekali lagi ke arah gerbang yang mulai tertutup perlahan di belakang mereka, ke sekilas langit pagi Aldenmere yang masih terlihat melalui celah yang menyempit.

Lalu pintu batu itu menutup sepenuhnya dengan suara berat yang bergema panjang di sepanjang lorong, dan kegelapan lantai menengah Menara Verlanth menelan mereka seutuhnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!