Indonesia
NovelToon NovelToon

AYO BERCERAI, MAS!

BAB. 1, Anak Yang Dilahirkan Untuk Menjadi Raja

Fajar baru saja mengusap langit Jakarta Utara dengan semburat keemasan ketika bus Transjakarta yang ditumpangi Anna dan Jeevan berhenti di sebuah halte. Jarum jam menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Jalan ibu kota telah terbangun lebih dulu daripada matahari; deru kendaraan mengalun seperti orkestra yang tak pernah mengenal jeda. Gedung-gedung bertingkat memantulkan cahaya pagi, sementara aroma roti disudut jalan bercampur dengan embusan angin yang membawa samar bau laut.

Anna melangkah turun terlebih dahulu, jemarinya menggenggam sebuah buket bunga berisi mawar putih, lili, dan eucalyptus yang dibungkus kertas krem sederhana. Hadiah itu dipilihnya semalam dengan hati-hati sebagai ucapan selamat kepada adik iparnya yang baru saja lulus kedokteran dengan predikat cumlaude. Satu-satunya dokter di keluarga besar itu, kebanggaan semua orang.

Gaun hijau emerald yang dikenakannya jatuh anggun hingga betis. Potongannya sederhana tanpa hiasan berlebihan. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, hanya sebagian besar dipilin ke belakang menggunakan jedai bergaya Korea yang membuat wajahnya tampak lembut. Penampilannya tidak mencolok, tetapi menyimpan keelokan yang tenang, layaknya daun muda setelah di guyur hujan.

"Ayo," ujar Jeevan singkat.

Anna mengangguk sembari menyesuaikan langkah suaminya.

Rumah keluarga Jeevan berdiri dikawasan perumahan yang padat, dikelilingi pagar putih dengan halaman mungil penuh tanaman hias. Dari luar saja sudah terdengar suara riuh suara tawa para tamu.

Belum sempat memencet bel di dinding benteng rumah, pintu pagar besi tinggi itu terbuka.

"Jeevan! Anna!" seru salah seorang kakak sepupunya Jeevan.

Suasana mendadak hangat. Saudara-saudara berdatangan menyambut. Adik Jeevan yang hari itu menjadi pusat perhatian tampak mengenakan kemeja putih rapi. Senyumnya lebar menerima ucapan selamat dari setiap tamu.

"Selamat ya, Dokter!" Anna menyerahkan buket bunga itu.

"Wah, Kak Anna...cantik sekali bunganya. Terima kasih." Katanya seraya memandang buket bunga itu.

"Semoga ilmunya membawa manfaat." Ucap Anna lagi seraya tersenyum.

Ucapan itu tulus, lahir dari hati yang ikut berbahagia.

Tak lama kemudian acara syukuran dimulai. Doa dipanjatkan. Aroma nasi kebuli, sate, sop buntut, ayam bakar, serta aneka kue memenuhi rumah. Gelak tawa saling bersahutan memenuhi ruang makan.

Anna duduk di samping Jeevan.

Awalnya ia menikmati obrolan ringan. Sampai akhirnya ibu mertuanya, Bu Ratih, meletakkan sendok perlahan dan menatap mereka dengan senyum tipis.

"Anna..."

"Iya, Bu?"

"Kalian menikah sudah berapa tahun sekarang?"

"Hampir lima tahun, Bu."

"Oh..."

Satu kata itu terdengar ringan, tetapi mengandung sesuatu yang membuat udara mendadak terasa berat.

"Kapan punya anak?"

Suara percakapan di meja seolah melambat.

Anna masih mempertahankan senyumnya.

"Do'akan saja ya, Bu."

"Doa terus sih. Tapi kalau cuma doa tanpa hasil bagaimana?"

Beberapa anggota keluarga terkekeh kecil.

Belum selesai disana.

"Memangnya kamu sibuk apa sih? Jangan sampai lupa, perempuan itu tugas utamanya melahirkan. kalau belum kasih saya cucu, nanti keburu saya meninggal."

"Iya, benar," sahut salah satu bibi. "Adik iparmu saja sudah jadi dokter. Masa kamu belum jadi ibu? Jangan-jangan memang susah punya anak?"

Kalimat terakhir jatuh seperti batu ke permukaan danau. Riaknya menyentuh setiap sudut hati Anna.

Tangannya menggenggam ujung serbet di bawah meja.

Ia ingin menjawab.

Namun kata-kata terasa membeku.

Di sampingnya, Jeevan membuka mulut.

"Bu, soal itu---"

"Jeevan!"

Suara ayahnya memotong.

"Ayah dengar, kantormu akan mengeluarkan inovasi baru ya?"

Jeevan menoleh. "Iya, Yah."

"Hebat..."

Percakapan berpindah begitu saja.

Dalam hitungan detik perhatian Jeevan terseret menuju pembahasan pekerjaan bersama saudara-saudara Ayahnya.

Anna melirik suaminya sekilas.

Ia berharap lelaki itu kembali pada percakapan sebelumnya. Namun harapan kadang rapuh seperti gelembung sabun; indah sesaat, lalu lenyap tanpa suara.

Pertanyaan demi pertanyaan masih berdatangan.

"Kamu sudah periksa ke dokter kandungan?"

"Jangan pilih-pilih makanan."

"Katanya stres bikin susah hamil."

"Kasihan Jeevan kalau belum punya keturunan."

Anna hanya tersenyum.

Senyum yang dipakainya seperti patung saat badai-- tidak mampu menghentikan hujan, hanya menyembunyikan betapa basah dirinya.

...🌼🌼🌼...

Menjelang siang, acara syukuran selesai.

Para tamu mulai berpamitan.

Laki-laki berkumpul di ruang tengah menikmati kopi sambil membicarakan pekerjaan, investasi, hingga keberhasilan sang dokter baru dalam keluarga.

Sementara itu, tanpa perlu di minta secara langsung, Anna berdiri membawa piring-piring kotor menuju dapur.

Istri dari adiknya ayah mertuanya, Bibi Maya, sudah lebih dulu menggulung lengan baju.

"Ayo, Na. Kita kerjakan bareng."

"Iya, Bi."

Bak cuci piring segera dipenuhi busa. Suara gemericik air mengiringi kesibukan mereka. Piring bertumpuk seperti menara kecil, gelas-gelas berdenting lembut ketika disusun di rak.

Anna mencuci.

Bibi Maya membilas.

Sesekali mereka saling tersenyum.

Berbeda dengan ruang tengah yang riuh, dapur terasa jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara bunyi keran dan sesekali tawa samar dari luar.

Beberapa menit berlalu.

Bibi Maya menghentikan gerakannya.

Ia menoleh kepada Anna.

"Na.."

"Iya, Bi?"

"Sulit ya...menikah dengan Jeevan?"

Pertanyaan itu begitu pelan, bahkan nyaris tenggelam oleh suara air.

Anna terdiam.

Tangannya tetap menggosok piring, ia memilih tidak menjawab dan pada akhirnya Bibi Maya menghela napas.

"Menurutku, Jeevan pria yang baik. Tapi...dia dari kecil dimanja. Semua kebutuhan diurus Mamanya."

Anna menatap buih yang perlahan hanyut menuju saluran pembuangan.

Lalu ia mengangkat wajah. Senyumnya tetap sama, tipis dan lembut. Seperti embun yang tetap bertahan meski matahari mulai menghangat.

Anna hanya mengangguk. "Iya, Bi."

Tidak ada keluhan atau pun air mata pada mata Anna. Hanya sebuah senyum yang menyembunyikan seribu kalimat yang memilih dikubur.

Bibi Maya memandang Anna dengan iba. "Yang sabar, ya."

"Iya."

Jawaban itu begitu lirih hingga hampir larut bersama suara air.

...🌼🌼🌼...

Di ruang tengah, Jeevan akhirnya memperhatikan ke arah dapur.

Ia melihat istrinya masih berdiri sejak tadi.

Tanpa banyak bicara, ia bangkit.

"Aku ke dapur bentar."

Ayahnya mengangguk santai.

Jeevan berjalan menuju dapur tepat ketika Anna selesai mengikat kantong sampah hitam berisi sisa makanan dan plastik bekas.

"Biar aku buang."

Anna menoleh. "Ngga usah, Mas. Biar aku saja."

"Gak apa-apa, ini berat loh."

Jeevan mengambil kantong itu.

Belum sempat melangkah ke luar pintu belakang---

"JEEVAN!"

Suara Bu Ratih menggema dari ambang dapur.

Semua orang menoleh.

Jeevan berhenti.

Ibunya berjalan cepat dengan wajah berubah masam.

"Kamu sedang apa?"

"Mau buang sampah, Bu." Jawab Jeevan.

"Taruh!"

Suasana mendadak membeku.

"Sejak kapan kamu buang sampah?"

"Bu, cuma sebentar---"

"Ibu bilang taruh!"

Anna mendekat ke arah suaminya, lalu menepuk lengan suaminya pelan. Seraya mendongak ia menatap wajah suaminya.

"Taruh, Mas. Biar aku saja." Ucap Anna pelan.

"Tapi, Na. Tadi kamu kesusahan loh..." sela Jeevan.

Bu Ratih menoleh tajam ke arah menantunya.

"Anna."

"Iya, Bu."

"Kamu itu istri."

Anna menunduk sopan.

"Jangan biasakan suamimu melakukan pekerjaan seperti ini."

Jeevan mendekat ke arah ibunya lalu memegang lengan sang ibu penuh kelembutan.

"Bu, sudah. Aku cuma mau bantu Anna saja, dia---"

"Dengar baik-baik."

Nada suara Bu Ratih terdengar penegasan.

"Jeevan itu putraku. Dia di besarkan seperti seorang raja. Dari kecil dia tidak pernah di suruh mencuci piring. Tidak pernah mengepel, tidak pernah menyapu, apalagi membuang sampah."

Kalimat demi kalimat menghantam seperti ombak yang tak memberi jeda.

"Kalau setelah menikah malah kamu suruh kerja begini, buat apa dia punya istri?"

...🌼🌼🌼...

Hai, apa kabar?

Ada yang sama perlakuan ibu mertua kepada kalian? Dan untuk reader yang belum menikah jangan sampai punya mertua kaya Anna ya heheh.

Jangan lupa komen, vote, like, subscribe dan jangan pernah loncat-loncat bab!!!

Next chapter 🤍🤍🤍🤍🤍

...BERSAMBUNG...

BAB. 2, Upah?

Malam telah merayap jauh melewati pukul sembilan ketika bus terakhir yang mereka tumpangi berhenti di dekat kawasan apartemen. Kilauan lampu Jakarta Utara masih menyala seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Gedung-gedung menjulang memantulkan warna keemasan, sementara kendaraan tetap mengalir di jalan layang, seolah ibu kota tak pernah benar-benar mengenal kata istirahat.

Anna berjalan di sisi Jeevan tanpa banyak bicara.

Buket bunga yang tadi di bawanya telah berganti menjadi tas kecil berisi kotak makanan sisa acara syukuran. Langkahnya pelan. Bahunya terasa berat, bukan karena barang bawaan, melainkan karena kata-kata yang sedari siang masih bergema di dalam kepala.

Lift berhenti di lantai unit mereka berada.

Pintu logam terbuka perlahan.

Koridor apartemen yang panjang diterangi lampu kekuningan. Sunyi. Hanya terdengar dengungan pendingin udara dan sesekali suara pintu tentangga yang menutup dari kejauhan.

Jeevan membuka pintu apartemen.

Ruangan itu tidak terlalu luas, tetapi tertata rapi. Sofa abu-abu menghadap televisi berukuran sedang. Balkon kecil memperlihatkan pemandangan gedung-gedung Jakarta yang masih bercahaya. Semua benda di dalamnya dipilih sedikit demi sedikit dari hasil kerja keras Jeevan. Bahkan apartemen itu sendiri sudah di tempati Jeevan sejak sebelum menikah dengan Anna, mirisnya apartemen itu belum sepenuhnya menjadi milik mereka; cicilan bulanannya masih harus di bayar beberapa tahun lagi.

Anna langsung menuju kamar.

Ia mengganti gaun hijau emerald dengan piyama berwarna krem, lalu duduk di tepi ranjang sambil melepaskan jedai dari rambutnya. Untaian hitam itu jatuh menutupi bahu, membuat wajahnya tampak semakin lelah.

Di depan meja rias, ia memandang bayangannya sendiri.

Senyum yang sejak pagi di pakainya sebagai tameng kini perlahan memudar.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.

Jeevan masuk sembari mengusap tengkuknya.

"Capek juga," gumamnya.

Anna hanya mengangguk pelan.

Keheningan memenuhi kamar malam itu, sedangkan suara pendingin ruangan menjadi satu-satunya irama yang terdengar.

Jeevan menghampiri istrinya.

Ia berdiri tepat di belakang Anna yang masih duduk di depan cermin.

"Na." Panggilnya.

"Iya, Mas?"

"Soal kejadian tadi siang..."

Anna mengangkat pandangan melalui pantulan kaca.

Jeevan menghembuskan napas panjang. "Ucapan ibu jangan dimasukkan ke hati."

Anna tidak menyela.

"Coba pahami ibu, ya."

"Beliau sudah tua."

"Kadang ngomongnya keras."

"Tapi sebenarnya nggak ada maksud jahat."

Setiap kalimat terdengar seperti kapas yang berusaha menutupi luka, tetapi tidak pernah benar-benar menghentikan darah yang mengalir.

Anna menatap wajah suaminya beberapa detik.

Ia ingin bertanya.

Kalau memang tidak bermaksud menyakiti, kenapa setiap kata terasa begitu tajam?

Namun pertanyaan itu tetap tinggal di dalam dadanya.

Jeevan merogoh saku celananya. Dari sana ia mengeluarkan sebuah amplop putih.

"Nih." Ucapnya seraya menyerahkan amplop itu.

Anna menerimanya seraya mengeryit. "Apa ini, Mas?"

"Buat kamu."

Perlahan Anna membukanya dan ketika amplop itu di buka, beberapa lembar uang tersusun rapi di dalamnya. Anna menatap amplop itu, lalu kembali menatap Jeevan.

"Kamu gajian? Bukannya belum waktunya? Tumben juga pake amplop segal."

"Itu ibu yang kasih." Jawab Jeevan santai.

"Ibu? Maksudnya?" Anna masih belum mengerti.

Jeevan menjawab santai, seolah tidak ada sesuatu yang aneh. "Katanya.... sebagai ucapan terima kasih."

Anna belum mengerti. "Terima kasih?"

"Iya." Jawab Jeevan seraya mengangguk. "Tadi kan kamu bantu beres-beres rumah. Cuci piring, bersih-bersih dapur, angkat-angkat."

Jeevan memandang istrinya yang kini menatap uang di dalam amplop itu, lalu tersenyum tipis.

"Anggap saja upah."

Seketika dunia di sekitar Anna seperti kehilangan suara. Tangannya membeku menggenggam amplop itu.

'Upah' satu kata yang sederhana. Tapi malam itu terdengar begitu asing, begitu dingin, begitu menusuk.

Padahal tadi pagi ia datang sebagai menantu, sebagai keluarga, bukan seseorang yang bekerja lalu pulang membawa bayaran.

Tatapannya kembali jatuh pada lembar-lembar uang berwarna merah di dalam amplop itu, entah mengapa benda itu mendadak terasa jauh lebih berat daripada nilainya.

Anna mengangkat wajahnya. Ingin sekali ia mengatakan sesuatu, tetapi bibirnya tak sanggup ia buka. Rasanya lelah jika harus memperdebatkan masalah sepele.

Hingga pada akhirnya ia memilih tersenyum kecil, senyum yang bahkan tidak sampai ke matanya.

"Terima kasih," ucapnya lirih.

Jeevan mengangguk puas. "Ya sudah. Aku nonton bola dulu."

Tanpa menyadari badai yang baru saja ditinggalkannya di dalam hati sang istri, ia berbalik menuju ruang tengah.

Beberapa detik kemudian suara televisi memenuhi apartemen. Sorak penonton dari stadion menggema, komentar berbicara semangat lalu sesekali terdengar suara tepuk tangan Jeevan ketika tim favoritnya mendapatkan peluang.

Sementara itu di dalam kamar, Anna masih duduk memandangi amplop putih tersebut. Perlahan ia memasukkannya ke dalam laci meja rias.

Tangannya gemetar nyaris tak terlihat. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Akan tetapi bayangan siang tadi kembali datang silih berganti.

" Kapan kasih cucu?"

"Jeevan di besarkan seperti seorang raja."

"Kalau setelah menikah malah kamu suruh kerja begitu..."

"Anggap saja upah."

Kalimat-kalimat itu terus berputar tanpa henti, seperti hujan yang mengetuk jendela sepanjang malam.

Anna memejamkan mata.

Dadanya mendadak terasa penuh, seolah ada tangan tak kasat mata yang perlahan mengikat rongga napasnya. Ia mencoba menarik udara lebih dalam, tetapi napas itu berhenti di tenggorokan.

Ia kembali menghirup perlahan.

Masih terasa sempit, dan jantungnya mulai terasa berdetak lebih cepat daripada biasanya. Telapak tangan mulai berbuah terasa dingin, ujung jemarinya sedikit bergetar.

Anna memilih berdiri dari kursi, berniat mengambil segelas air. Namun baru beberapa langkah, pandangannya terasa sedikit berkunang.

Ia segera berpegangan pada sisi lemari. "Nggak apa-apa..."

Bisiknya kepada diri sendiri.

"Hanya...capek."

Ia mencoba mengatur napas, menghitungnya secara perlahan.

Satu...

Dua...

Tiga...

Empat...

Tetapi rasa sakit itu justru semakin memenuhi dada, seperti ombak yang terus meninggi tanpa memberinya kesempatan menghirup udara dengan utuh.

Di ruang tengah, suara komentator bola semakin riuh.

"Gol!"

Seruan kemenangan menggenggam dari televisi, di susul sorakan kecil Jeevan yang larut dalam pertandingan.

Sedangkan di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Anna menundukkan kepala sambil memeluk dirinya sendiri.

Tak ada yang melihat bagaimana bahunya mulai bergetar pelan. Tak ada yang mendengar napasnya yang semakin pendek.

Dan di malam yang tampak biasa bagi semua orang, tubuh Anna kembali mengirimkan isyarat bahwa tidak semua luka meninggalkan bekas yang bisa di lihat dengan mata.

"Mas Jeevan..." bisiknya lemah.

Air matanya mulai mengalir membanjiri kedua pipinya. Perempuan itu tampak ketakutan dalam kamar yang sunyi, ia memeluk dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, pintu kamar perlahan terbuka. Saat itulah, Jeevan melihat istrinya tampak duduk bersimpuh di lantai dengan menggenggam erat ujung ranjang kasur.

"Anna, kamu kenapa?"

...🌼🌼🌼...

Hai, Yehppee menulis novel ini berdasarkan riset beberapa ibu rumah tangga yang mengalami seperti yang di rasakan Anna.

Orang-orang yang memilih diam dan selalu berkata aku pasti baik-baik saja pasti atau kurang lebihnya akan mengalami yang namanya anxiety disorder. Untuk itu, yuk belajar menjadi seorang perempuan yang berani mengatakan TIDAK pada sesuatu yang tidak kita sukai.

...BERSAMBUNG ...

PENOKOHAN

Hai, semoga dengan adanya visual karakter ini reader semua bisa membayangkannya hehe.

...ANNA SAVITRI ...

...JEEVAN ADITYA ...

...IRENE...

...ABIMANYU ...

...SHERLY ...

...DEAN...

...ARUMI ...

...RENDRA ...

Semoga reader suka dengan visualisasi mereka semua.

Dan bisa lebih mudah membayangkan karakter mereka semua di setiap adegan. Yehppee juga berharap semoga novel AYO BERCERAI, MAS! Bisa menghibur reader semuanya.

Salam hangat dari Yehppee 🫶

...SELAMAT MEMBACA ...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!