Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Rahasia Tuan Arjuna

Satu

"Kondisi ibu kamu semakin buruk, beliau harus segera dioperasi dan segera dipasangi ring pada jantung nya!"

Ucapan seorang dokter pria menghantam dada Aluna hari itu. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis, terlebih kenyataan jika kondisi sang ibu yang tidak baik-baik saja

Sang ibu adalah satu-satunya orang tua yang dirinya miliki dan ia akan melakukan apapun demi kesembuhan Wanita yang paling berharga baginya itu

"Kalau boleh saya tau, biayanya berapa yaa dok?" Tanya Aluna ragu

"Sekitar 150 juta, untuk biaya operasi sekaligus pemasangan ring"

Tubuh Aluna seolah ingin luruh, rasanya tulang-tulangnya tidak sanggup lagi untuk menopang berat tubuhnya

Dari mana dirinya mendapat uang sebanyak itu, dirinya hanya bekerja disebuah toko pakaian dengan gaji yang kecil, sementara sang ibu hanya berjualan kue keliling kampung

"150 juta?"

"Iya, saya akan berikan kemudahan. Kamu bisa membayar 50 juta lebih dulu!" Ucapan sang dokter tidak serta-merta membuatnya tenang

Uang 50 juta bukanlah angka yang kecil, bahkan untuk makan saja mereka kadang kesulitan

"Bisa gak dok, kalau saya minta ibu saya dioperasi dulu! Saya akan mencari uang itu secepatnya!" Pinta Aluna dengan penuh harap

"Maaf Aluna, tapi itu tidak bisa. Setidaknya kamu harus bayar setengah biayanya lebih dulu, baru ibu kamu bisa dioperasi! Saya sudah memberi kemudahan dengan hanya membebani kamu dengan 50 juta"

"Baik dok, saya akan segera menyiapkan uangnya!" Ucap Aluna pada akhirnya, entah kemana dirinya akan mendapatkan uangnya

Aluna tidak bisa lagi menahan air matanya, tubuhnya bersandar di dinding depan ruang pribadi sang dokter

Pertahanan nya runtuh, bagaimana dirinya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, namun ia juga tidak ingin kehilangan ibunya

Hanna masuk keruang perawatan ibunya, disana sang adik tengah menangis disamping brankar dimana seorang wanita paruh baya tengah terbaring lemah

"Gimana kak?"

Aluna memaksakan senyumnya, ia tidak akan membebani gadis remaja ini dengan masalah yang menimpa keluarga mereka

"Ibu harus segera dioperasi" Jawabnya lemah "Kamu jaga ibu sebentar yaa! Kakak akan cari uangnya!"

"Kakak mau cari kemana?" Tanya gadis berusia lima belas tahun itu

"Kakak masih belum tau, tugas kamu hanya jaga ibu! Biar kakak yang pikirin ini!" Aluna mengusap lengan sang adik, mencoba menyalurkan kekuatan agar sang adik tidak merasa sedih

"Cepat yaa kak! Aku gak mau kehilangan ibu" Remaja cantik itu sudah menangis' dan Aluna membawanya dalam dekapan. Saling berbagi kekuatan untuk menjalani cobaan hidup yang tidak mudah

Aluna memasuki toko tempatnya bekerja, beberapa rekan kerja telah memulai pekerjaannya dan Aluna segera bergabung

"Ada apa Lun? Muka kamu keliatan banyak pikiran?" Tanya seorang teman

"Ibu aku masuk rumah sakit"

Sahabat Aluna itu terlihat terkejut, ia tahu bagaimana sayangnya Aluna pada ibunya itu

"Sabar yaa Lun!" Aluna tersenyum menampilkan wajah yang seolah baik-baik saja

"Makasih yaa Ra"

"Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa bilang sama aku!"

Aluna tampak ragu, Rani tidak mungkin memiliki uang 50 juta. Tapi dengan bicara mungkin saja sahabatnya ini punya solusi

"Aku butuh 50 juta untuk biaya operasi ibu, kamu punya kenalan gak? Yang bisa aku pinjem uangnya gitu?"

Aluna berharap jika Rani memiliki jalan keluarnya, tidak masalah jika dirinya harus berhutang pada seorang rentenir

"Aku gak punya sih, tapi apa kamu mau kerja? Mungkin kamu bisa dapat uang segitu"

Aluna tanpa ragu mengangguk, sekarang pekerjaan apapun akan dirinya lakukan demi kesembuhan sang ibu

"Aku mau Ran! Aku mau kerja apa saja"

Rani tampak ragu, namun hanya ini yang bisa ia lakukan "Kamu yakin?"

Aluna mengangguk lagi "Kamu mungkin gak akan suka Lun, tapi aku gak punya solusi lain"

Senyum diwajah Aluna meredup, sepertinya ia tahu pekerjaan apa yang sahabatnya ini maksud kan

"Kamu jadi wanita malam, apa kamu bersedia?" Tanya Rani ragu

Aluna diam, pekerjaan yang Rani berikan sangat bertentangan dengan ajaran yang ibunya berikan

Sang ibu juga tidak akan setuju jika dirinya bekerja sebagai wanita malam. Tapi dari mana dirinya bisa mendapatkan uang dengan cepat

"Gimana? Aku gak akan maksa" Rani menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu

"Aku mau!" Tidak ada pilihan lain, jika hal ini adalah satu-satunya jalan maka akan ia lakukan

"Kamu yakin?"

Aluna mengangguk lagi "Aku akan lakukan apapun untuk kesembuhan ibuku"

"Oke! Nanti malam aku bawa kamu ketempat nya!" Ujar Rani

"Makasih yaa Ran"

"Jangan bilang makasih Lun! Ini bukan hal yang baik"

Aluna tersenyum, akhirnya ada jalan untuk menyembuhkan sang ibu walaupun ia harus menjadi wanita 'kotor' setelah ini

Malam harinya, Aluna dan Rani benar-benar mendatangi tempat yang siang tadi Rani ucapkan

Hal ini sudah Aluna pikirkan dengan matang, baginya tidak ada yang lebih penting dari kesembuhan sang ibu

Mereka masuk kesebuah club malam, Aluna yang baru sekali mengunjungi tempat seperti ini jelas saja tidak nyaman

Dentuman musik yang begitu memekakkan telinga, serta lampu yang remang-remang membuat nyalinya menciut

"Kita keatas!" Ajak Rani dan Aluna mengangguk

Mereka tiba disebuah ruangan, cahaya dikamar ini juga tidak begitu terang. Ada seorang wanita paruh baya dengan pakaian minim ditemani dua orang pria muda

"Tante"

"Rani! Ayo masuk!"

Rani masuk sambil memegangi tangan Aluna yang sudah sedingin es

"Tante Zora, aku bawa sahabat aku yang tadi aku bilang" Ujar Rani mengenalkan Aluna

"Dia cantik, kamu yakin dia masih virgin?" Tanya wanita dengan riasan tebal itu

"Pasti Tante! Dia butuh uang untuk biaya berobat ibunya"

"Kamu yakin mau bekerja disini?" Tanya Zora pada Aluna yang dibalas anggukan kepala oleh gadis cantik itu

"Kamu butuh berapa?"

"Li-ma puluh ju-juta" Aluna tergagap, ada sisi dirinya yang menolak pekerjaan ini namun bayangan kesakitan sang ibu ikut membayangi

Zora menarik sudut bibirnya "Saya akan berikan kamu 50 juta jika pekerjaan kamu memuaskan"

Aluna terlihat berbinar, ibunya akan segera mendapat penanganan dan bisa sembuh

"Tapi hanya setelah kamu melayani tamu pertama!" Aluna kembali menganggukkan kepalanya membuat Zora berdiri

"Bagus! Besok malam kamu kesini lagi! Mengerti"

Aluna mengangguk takut, entah kenapa ia merasa tatapan wanita dihadapannya begitu mencekam

"Bawa teman kamu ini Rani!"

"Baik Tante!" Jawab Rani "Ayo Aluna!"

Malam berikutnya Rani tetap mengantarkan Aluna kembali ketempat sebelumnya. Zora tersenyum saat melihat kartu AS miliknya datang

"Bagus Aluna!" Zora tersenyum "Pakai itu!" Titahnya dan Aluna hanya mengangguk patuh

"Antar dia ke hotel! Tuan besar menunggu disana!" Titah Zora pada seorang pria muda disampingnya

"Kamu siap-siap dulu Aluna! Dan jangan membuat ulah, mengerti!"

Lima belas menit mobil yang membawa Aluna tiba di depan sebuah hotel berbintang

Pria muda yang membawanya tadi telah pergi setelah menyerahkannya pada seorang wanita

"Cepat!" Wanita yang berpakaian formal itu melangkah lebih dulu dan Aluna mengikutinya

"Tunggu disini sampai tuan besar datang! Jangan mencoba untuk membuat ulah!" Aluna mengangguk, lalu wanita itu berlalu keluar dari kamar

Kini ia telah berada didalam kamar hotel, kamar yang besar dan mewah. Bahkan dalam mimpi pun ia tidak pernah berpikir ada ditempat seperti ini

Aluna menunggu sambil saling meremas jemari nya. Ia benar-benar gugup. Bayangan seorang pria tua dengan perut buncit menyentuhnya

"Ini semua demi ibu, Aluna! Kamu pasti bisa"

Ia meyakinkan dirinya untuk menerima semuanya demi kesembuhan sang ibu. Biarlah ia menjadi buruk asalkan ia bisa melihat senyuman dari wanita yang sudah melahirkan nya itu

DUA

Aluna berdiri dengan cepat saat mendengar suara pintu dibuka. Jantung nya berdetak kencang

Aluna terdiam, mulutnya terbuka lebar saat melihat seorang pria muda nan tampan masuk kedalam kamar yang ia tempati

"Aku pikir pelanggannya tua, kayak di TV-TV" Batinnya

"Ini mah bukan om-om, astaga aku kok deg-degan gini!"

"Aluna.."

"I-iya tuan"

"Dengar!" Suara pria itu begitu mendominasi "Saya tidak suka dibohongi! Jika kamu sudah tidak Virgin! Nyawa kamu jadi jaminannya!"

Aluna membeku, Rani tidak bilang jika bekerja seperti ini taruhannya adalah nyawa

"Saya tidak menipu, tuan. Saya memang masih perawan" Ucapnya dengan suara teramat pelan

"Sebentar lagi tuan akan datang! Bekerjalah dengan baik"

Apa ini? Apa Aluna salah paham? Ternyata yang akan ia layani bukan pria tampan ini. Sekarang ia semakin takut, pasti yang akan bersamanya adalah pria tua dengan perut buncit

Ia begitu menyayangkan saat pria tampan dengan tubuh tegap itu meninggalkan kamarnya

Tak lama pintu kembali terbuka dan Aluna kembali berdiri. Entah siapa lagi ini, harapannya sudah pupus untuk bersama pria tampan seperti ini

Tatapan itu membuat tubuhnya meremang, seolah dengan tatapan mata saja bisa menelanjanginya

Pria itu duduk dengan begitu angkuh di sofa, tangannya terbuka lebar dengan kaki kanan ia letakkan diatas kaki kirinya. Menunjukkan jika dia adalah pria berkuasa

Sekarang Aluna bingung, apa yang harus ia lakukan? Bagaimana cara menggoda seorang pria? Bahkan dirinya belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis

"Siapa namamu?" Suara itu begitu dingin, bahkan Aluna tidak memiliki keberanian hanya untuk sekedar mengangkat wajahnya

"Aluna"

"Usiamu?"

"Dua puluh satu tahun!" Jawabannya, entah kenapa ia merasa jika dirinya tengah melamar pekerjaan

"Kamu benar-benar ingin bekerja seperti ini? Usiamu bahkan masih sangat muda" kata-kata itu menginterupsi nya untuk menatap kearah pria itu

Wajahnya tampan, usianya mungkin tiga puluh tahunan. Berbeda dengan pria sebelumnya yang mungkin berusia dua puluhan

Tubuhnya jauh lebih tegap dan sepertinya begitu berotot. Bahkan tergambar jelas dari balik pakaian mahalnya

"Kamu tidak bisa bicara?" Aluna menggeleng, bisa-bisanya ia malah terpesona pada pria dihadapannya

"Saya butuh uang tuan!" Jawab Aluna dengan takut-takut

"Kamu butuh berapa banyak?" Tanyanya dengan suara teramat dingin

"Saya butuh 150 juta untuk biaya operasi ibu saya" Jawab Aluna

"Saya akan berikan kamu satu milyar!"

Mata bulatnya terbelalak, ia bahkan tidak bisa membayangkan sebanyak apa satu Milyar itu

"Ss-satu Milyar?" Tanya Aluna tak percaya

"Hmm" Pria itu mengubah posisinya dengan menopang dagunya "Bagaimana?"

"Tapi, tuan ingin saya melakukan apa?" Tanya Aluna takut, bagaimana jika didepannya ini orang jahat yang ingin menjual organ tubuh nya

Bisa saja kan, mereka sindikat penjualan organ tubuh manusia? Dia tidak boleh tertipu dengan wajah tampan

"Pertanyaan bagus!" Pria dewasa itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam jas mahalnya

"Baca dan tandatangani!" Titah nya

Dengan tangan bergetar, Aluna meraih kertas tersebut dan membacanya

Aluna membaca setiap poin yang tertera. Tidak banyak, hanya saja pandangannya terfokus pada point ke-lima yang disana tertera jika dirinya akan mendapatkan uangnya setelah melahirkan penerus bagi keluarga Bimantara

"Anak?"

"Ya, saya akan berikan satu Milyar setelah kamu melahirkan anak laki-laki untuk saya!"

Aluna terlihat ragu, ia hanya ingin mendapatkan uang demi biaya sang ibu. Tapi ini? Dirinya akan bersama pria ini selama satu tahun lamanya

Ia tidak ingin menjual diri, ia hanya ingin melakukan sekali lalu kembali menjalani hidupnya

"Pikirkan baik-baik! Kamu mungkin butuh beberapa pelanggan untuk mendapatkan uang 150 juta"

Aluna terdiam, pria ini benar. Mungkin ia akan terus menjadi seorang wanita penghibur demi melunasi biaya pengobatan sang ibu

Tapi jika ia menerima tawaran ini? Sang ibu bisa menjalani pengobatan selama dirinya bersama pria dewasa ini

"Saya bersedia"

Ya, keputusan ini adalah jalan terbaik, ia akan bebas setelah melahirkan bayi laki-laki. Setelah itu dirinya bisa kembali bersama keluarganya dan menikmati uang satu Milyar

"Bagus!" Pria itu bangun dari duduknya "Kamu segera bersiap! Katakan pada keluarga kamu jika kamu akan ikut bersama saya selama satu tahun!"

Alanna meneguk ludahnya dengan berat, astaga apa yang sudah ia lakukan? Bagaimana bisa dirinya mengambil keputusan sebesar ini dalam hidupnya

"Tuan"

"Ya?"

"Bisakah saya minta 200 juta diawal? Saya butuh untuk operasi dan biaya pengobatan ibu saya?" Tanyanya penuh harap

"Baiklah! Besok ibu kamu bisa memulai pengobatannya!"

"Bisakah saya ikut bersama tuan setelah ibu saya sadar?"

"Kamu jangan melunjak! Saya sudah berbaik hati dengan memberikan 200 juta di muka!" Pria itu menatap dengan mata yang tajam bak elang

"Saya tidak akan lari, saya akan ikut! Tapi saya hanya ingin memastikan jika ibu saya baik-baik saja"

Pria itu lebih dulu menghela napasnya lalu mengangguk "Baiklah! Tapi jika kamu berani melawan! Saya akan membuat kamu menyesal seumur hidup!"

Aluna mengangguk, wajahnya sudah pucat. Seolah tak ada darah yang mengalir diwajahnya

***

Akhirnya Aluna bisa hidup dengan tenang, hari ini adalah jadwal operasi jantung bagi ibunya

Operasi itu dilakukan secepatnya terlebih Aluna membayar lunas seluruh biaya nya

Aluna dan Azura sang adik tengah menunggu dengan cemas didepan ruang operasi

"Kakak dapat uang dari mana?" Tanya remaja lima belas tahun itu

Azura pasti bertanya, baru kemarin mereka kesulitan mencari uang untuk biaya operasi tapi besoknya sang kakak datang dengan kabar jika ibu mereka akan segera mendapat penanganan

"Kakak dapat kerjaan baru, kamu tenang aja! Setelah ini kamu jaga ibu yaa!" Aluna tersenyum pada adik perempuannya itu

"Kakak kerja dimana?"

"Dirumah orang kaya, kakak jadi pembantu disana" Jawab Aluna

Hanya ini jawaban yang paling bisa ia berikan, tidak mungkin juga ia mengatakan jika dirinya akan menjadi seorang ibu pengganti

"Kakak yakin? Artinya Kak Aluna akan pergi?" Wajah Azura seketika berubah sendu, mereka tidak pernah terpisah dan sang kakak harus bekerja ditempat yang jauh

"Gak akan lama kok dek, mungkin satu tahun! Tapi setelah itu kita akan berkumpul lagi"

Keduanya saling berpelukan sambil menunggu ruang operasi terbuka

Tiga jam berlalu, lampu didepan ruang operasi padam. Aluna yang semula duduk seketika berdiri, menunggu dokter yang akan memberitahu tentang keadaan sang ibu

Setelah beberapa menit, seorang pria dalam balutan pakaian khas ruang operasi keluar sambil membuka masker yang menutupi wajahnya

"Bagaimana keadaan ibu saya dokter?" Tanya Aluna tidak sabaran, dari matanya terpancar harapan agar ibunya baik-baik saja

"Operasinya berjalan dengan lancar, ibu kamu juga sudah melewati masa kritisnya. Kita berdoa saja semoga pasien secepatnya sadar"

Tidak ada yang membuat Aluna lebih lega selain kabar ini, Aluna hanya berharap sang ibu bisa beraktivitas seperti sediakala

Biarlah ia jauh dari keluarganya untuk sementara waktu, asalkan orang yang paling ia sayangi bisa tetap hidup

Dua kakak beradik itu masih harus menunggu sampai sang ibu dipindahkan keruang perawatan

Azura bahkan sudah terlelap diatas pangkuan sang kakak, keduanya masih berada didepan ruang operasi

TIGA

Mereka harus menunggu hingga keesokan harinya sampai wanita paruh baya itu membuka matanya

Aluna tersenyum pada sang ibu yang tengah menatapnya. Dokter melakukan pemeriksaan lalu membuka beberapa alat yang terpasang ditubuh wanita paruh baya itu setelah memastikannya dalam keadaan baik

"Ibu" Aluna ingin memeluk namun urung mengingat kondisi sang ibu yang baru saja selesai melakukan operasi besar

"Nak.." Wanita paruh baya itu mencoba mengangkat tangannya walaupun lemah "Sini!"

Aluna memeluk sang ibu walaupun dengan gerakan yang sangat hati-hati. Azura yang melihat itu jelas saja merajuk

"Aku juga mau Bu"

Diah terkekeh "Sini!" Ketiganya saling berpelukan, menumpahkan kegelisahan yang sejak kemarin mereka rasakan

"Terima kasih karena ibu masih mau bersama kami" Lirih Aluna dalam dekapan sang ibu

"Maafkan ibu, ibu pasti merepotkan kalian"

Aluna menggeleng masih dalam dekapan wanita yang paling berarti dalam hidupnya itu

"Kita bersyukur karena operasi ibu sukses" Kali ini Azura yang bicara

"Oh iya nak, kalian dapat uang dari mana? Biaya operasinya pasti sangat mahal" Diah melepas pelukannya

"Ibu tenang aja! Aluna udah urus semuanya!" Aluna tersenyum saat mengatakannya

"Tapi dari mana uangnya nak? Kamu gak ngutang kan?"

Aluna tersenyum "Aluna dapet kerjaan dirumah orang kaya, Aluna jadi pembantu disana" Ucapnya sedikit berbohong

"Bos-nya baik banget mau minjemin Aluna uangnya, nanti dipotong dari gaji Luna setiap bulan"

"Syukurlah!" Diah mengucap syukur "Ibu hanya tidak mau menyusahkan kalian"

"Sudah kewajiban kami untuk melakukan apapun demi ibu"

"Sini! Peluk ibu lagi!" Keluarga kecil itu kembali saling berpelukan hingga kedatangan seseorang memaksa mereka memisahkan diri

Diah menatap penuh tanya pada seorang pria dalam balutan pakaian formal. Pemuda ini begitu tampan dan terlihat berkelas

"Tuan, anda disini!"

Aluna ingat pria ini, pria ini yang datang menemuinya pertama kali, Aluna tidak mungkin melupakan wajah tampannya

Setiap kali menatapnya membuat jantung ini berdetak tidak karuan, astaga, Aluna tidak pernah merasa seperti ini terhadap seorang pria

"Nona Aluna! Sekarang sudah saatnya!" Ucap pria mempesona itu

"Bisa kita bicara diluar sebentar tuan"

Pria itu hanya mengangguk kecil lalu melangkah keluar "Aluna bicara diluar sebentar yaa Bu"

Sesampainya diluar ruang perawatan, Aluna menunduk didepan pria berwibawa ini

"Saya mendapat perintah dari tuan, untuk segera membawa anda!" Ucapnya

"Bisa nggak tunggu sebentar lagi! Setidaknya sampai ibu saya diizinkan pulang" Aluna benar-benar berharap jika pria didepannya ini bersedia mengerti

"Maaf nona! Jika anda seperti ini, bukan kesalahan saya jika anda mendapat masalah!" Tegasnya "Tuan besar jelas tidak akan menyukai hal ini"

"Iya saya tau, tapi.." ucapan Aluna tergantung di udara karena pria didepannya segera memotong

"Segera nona! Saya tidak bisa menunggu lama! Malam ini anda sudah harus berada dihadapan tuan"

Aluna tidak bisa lagi menghindar, memang sekarang saatnya karena jika ia menunda, maka nyawanya mungkin akan lenyap bersama uang satu Milyar itu

"Baiklah! Berikan saya lima menit untuk pamit pada ibu dan adik saya"

"Baiklah! Saya akan menunggu disini"

Aluna kembali masuk, tersenyum pada sang ibu agar wanita itu tidak merasa khawatir

"Ada apa nak?" Tanya Diah saat putri sulungnya itu masuk

"Aluna harus pergi sekarang! Ibu baik-baik yaa disini! Jangan khawatir sama Luna, Luna akan baik-baik saja" Ucapnya dengan tersenyum

"Tapi kamu yakin sama mereka? Mereka bukan orang jahat kan?"

"Enggak Bu, buktinya majikan Luna mau bayarin operasi ibu, ibu tenang aja!"

Aluna lalu menatap sang adik "Kakak titip ibu yaa! Jaga ibu baik-baik, kamu juga harus sekolah yang bener"

"Iya kak"

"Ibu gak usah keliling jualan kue lagi!" Aluna memberikan buku tabungannya "Disini ada uang lima puluh juta, ibu sebaiknya jualan gado-gado atau apapun didepan rumah"

"Apa ini juga dari majikan kamu?"

Aluna mengangguk "Luna pergi dulu yaa Bu! Ingat pesan Luna"

"Iya nak, kamu bawel"

Aluna kembali memeluk tubuh sang ibu, ia ingin menangis rasanya. Namun ia tidak ingin membuat sang ibu merasa khawatir

"Luna pergi yaa Bu"

"Hati-hati yaa nak" Aluna mengangguk sambil menahan tangisnya

"Kakak pergi dulu yaa dek, jaga ibu!" Azura mengangguk lalu memeluk sang kakak

***

Mibil mewah itu melaju membelah jalanan ibukota. Aluna hanya menatap jalan dari dalam mobil

"Saya mau ambil baju dirumah sebentar!" Lirih Aluna dengan suara terdengar takut

"Tidak perlu, Nona! Semua keperluan anda sudah ada dirumah tuan"

Pasrah, Aluna kembali memfokuskan perhatian nya pada pohon-pohon yang bergerak

Setelah ini hidupnya akan berubah, berada dalam sangkar emas hingga waktu yang telah ditentukan

Sekitar satu jam perjalanan, mobil mewah itu berhenti didepan gerbang berwarna hitam lalu seorang pria membukanya

Mobil melaju lagi dan saat ini Aluna telah melihat sebuah rumah yang menurutnya begitu mewah

Rumah dua lantai bergaya eropa, Aluna bahkan tidak bisa berkedip saat melihat bangunan dihadapannya

"Mari Nona!"

Aluna mengangguk lagi, ia berjalan dibelakang pria tinggi yang berdiri tegap. Punggungnya yang lebar seakan mengundang Aluna untuk meletakkan kepalanya disana

"Semat datang tuan Joseph!" Seorang wanita berseragam pelayan menunduk

Sekarang Aluna tau siapa nama pria dengan manik biru ini, wajahnya memang menggambarkan jika ia bukanlah keturunan asli Indonesia

"Panggil semua pekerja!"

"Baik"

Mereka masih berdiri diruang depan sampai beberapa orang berdiri dihadapan mereka dengan kepala yang senantiasa menunduk

Ada sekitar delapan orang, lima perempuan dan tiga orang laki-laki, dimana salah seorangnya menggunakan pakaian security

"Perkenalkan! Dia nona Aluna! Dia adalah nyonya rumah ini, hormati dia sebagaimana kalian menghormati tuan Arjuna!" Suara pria bernama Joseph begitu tegas

"Selamat datang dirumah nona, saya Wulan, saya kepala pelayan dikediaman ini" Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan menyahut

Aluna hanya tersenyum sambil mengangguk, ia tidak berani membuka mulutnya

"Bona"

"Saya tuan" Wanita disisi kiri kepala pelayan menyahut

"Kamu akan menjadi pelayan pribadi nona Aluna! Siapkan semua keperluannya! Buat dia nyaman dan jangan berpikir untuk menyakiti nya!"

"Baik tuan"

Bagi Aluna ini terdengar berlebihan, ia pikir dirinya akan menjadi pekerja, tapi sepertinya ia akan dilayani layaknya seorang ratu

"Ingat ini!" Wajah tampan pria blasteran itu terlihat serius "Jangan sampai keberadaan nona Aluna sampai dirumah utama! Karena jika itu terjadi, maka nyawa kalian yang akan menjadi bayarannya!"

"Baik tuan" Sahut kedelapan orang itu

"Baiklah nona! Semoga anda betah berada disini! Jika ada keperluan atau ada sesuatu yang Anda inginkan bisa beritahu mereka!" Ujar Joseph pada Aluna

Gadis bermata indah itu mengangguk "Baik tuan"

"Bona!" Yang dipanggil maju satu langkah "Tunjukkan kamar nona Aluna dan siapkan segala keperluannya!"

"Baik tuan!" Wanita muda yang usianya mungkin sama dengan Aluna itu menatap kearah Aluna "Mari Nona!"

Aluna menurut, ia melangkah dibelakang wanita pelayan ini. Keduanya menaiki tangga hingga tiba didepan sebuah kamar

Gadis bernama Bona itu membuka pintu lalu mempersilahkan nyonya rumah ini untuk masuk

"Silahkan nona! Ini kamarnya!" Aluna masuk, langkahnya terhenti saat melihat kamar yang begitu mewah

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!