Seorang pria usia 40 tahun berdiri di depan sebuah penjara. Hari ini dia keluar dari sana.
Dulu dia adalah seorang polisi, namun ditangkap karena mengeksekusi seorang penjahat yang membunuh keluarga di panti asuhan tempatnya dibesarkan.
Dia menghela napas. Matanya menunjukkan kelelahan yang dalam. "Entah ke mana aku harus kembali. Aku tidak memiliki tempat untuk pulang."
Perlahan, dia melangkahkan kaki dari sana. Pergi tanpa tahu tujuan. Kota Bintang sekarang sudah banyak berubah.
Teknologi semakin canggih dan Nathan tertinggal banyak hal karena dipenjara. Bahkan saat ia ingin mulai hidup baru, diskriminasi terjadi padanya. Tentu saja, itulah realita hidup.
Dia sudah menyewa sebuah rumah sederhana di distrik kumuh, tempat yang biasa terjadi kejahatan.
Nathan sekarang bekerja sebagai kasir supermarket. Saat dia sedang berjaga, dia mendengar sebuah teriakan.
"Kebakaran! Kebakaran!"
Matanya terbuka lebar, lalu dengan cepat berlari keluar. "Apa?! Kebakaran!" Benar saja, saat dia berlari menuju sumber suara, sudah ada beberapa orang yang berkumpul.
"Katanya masih ada anak kecil di dalam sana, bagaimana ini?"
"Semoga pemadam kebakarannya cepat sampai," bisik mereka.
Nathan menatap kobaran api tersebut. Dia teringat saat kecil orang tuanya meninggal karena kebakaran hingga ia berakhir di panti asuhan.
Ada rasa takut, tapi di sisi lain ada rasa iba. Dengan berani, Nathan berlari masuk ke dalam.
Dia membuka pakaiannya lalu membasahinya dengan air. Setidaknya dengan itu dia bisa bertahan lebih lama.
Orang-orang berteriak.
"Eh? Mau ngapain kamu?!"
"Itu berbahaya!"
Nathan mendobrak pintunya, lalu berlari masuk berusaha menghindari api.
Rasanya benar-benar panas. Pandangannya menyapu segala arah.
Dia mencari cukup lama. Saat sampai di sebuah kamar, dia melihat seorang ibu dan anak yang pingsan.
Nathan dengan cepat merobek kain basahnya dan memberikan kepada mereka berdua, lalu memanggul mereka.
Beberapa kayu mulai berjatuhan. Saat sudah dekat dengan pintu keluar, Nathan melihat tiang atas akan roboh.
Jika tidak cepat, mereka bisa terjebak. Dengan sekuat tenaga, dia melemparkan mereka berdua ke luar. Saat mereka berhasil selamat, tiang tadi runtuh dan menindih Nathan.
Orang-orang di luar terkejut dan berlari mendekat.
"Ke mana orang tadi?!"
"Istri dan anakku!"
Nathan merasa sakit, tapi entah kenapa dia merasa tenang. Matanya tertutup dan ia meninggal dalam rasa lega.
[Sistem diaktifkan!]
[Hiduplah dengan lebih baik, tolong orang lain, dan semoga beruntung.]
Suara asing menggema di kepalanya. Nathan heran. Perlahan dia membuka mata dan mendengar suara samar.
Dia merasa aneh. "Di mana... aku? Bukannya aku tadi tertimpa ya?"
Di sekitar terdengar suara berisik. "Senior, silakan makan daging ini. Katanya ini enak sekali lho."
"Ah, benarkah? Kalau begitu aku coba."
Suara-suara yang tidak asing ini... Nathan seperti pernah mengalaminya.
Seseorang menepuk tubuhnya. "Nathan, kenapa kamu malah tidur?"
"Hah? Niko...?" gumam Nathan bingung. Orang dengan wajah biasa saja dan mata sipit ini adalah Niko, temannya di kepolisian.
Tapi kenapa dia bisa berada di sini? Ini kenyataan atau mimpi?
"Apa ini ingatan orang yang akan mati?" pikirnya.
Di depannya, sudah ada anggota kepolisian lainnya yang sedang berkumpul makan-makan.
Kalau tidak salah ingat, acara ini untuk merayakan kenaikan pangkat seorang polisi tampan bernama Gavin menjadi komandan tim. Dia berhasil menangani kasus pembunuhan.
"Makan saja sepuasnya, hari ini aku yang traktir," ucap Gavin.
"Wah, Senior baik sekali."
"Terima kasih, Senior."
Gavin tampak senang menerima pujian itu. Nathan tidak terlalu peduli. Orang ini dulu pernah satu tim dengannya, dan dia terlalu egois serta haus validasi.
Karena orang ini juga Niko mati. Nathan berdiri. Niko terkejut. "H-hei, kamu mau ke mana? Tidak sopan sama mere—"
"Makan saja. Ini juga hanya ingatan sebelum aku mati. Ternyata mati tidak seburuk itu."
Gavin dan belasan polisi di sana menatapnya heran.
"Siapa dia? Arogan sekali."
"Dia polisi junior baru kalau tidak salah."
"Wajahnya lumayan, tapi sikapnya tidak sopan sekali."
Gavin membelalak, lalu tertawa canggung. "Ah, hei. Namamu Nathan, kan? Ayolah, kenapa kamu mau pergi? Acaranya baru saja akan dimulai."
Nathan menepis tangannya. "Jangan ganggu aku!"
Gavin melotot. Baru kali ini dia diperlakukan seperti ini. Dia cukup kesal, tapi di hadapan yang lain dia menahannya.
Niko menggeleng. "Ada apa dengannya hari ini?"
"Cih, benar-benar tidak memiliki sopan santun. Apa dia tidak punya orang tua?"
"Aku dengar dia yatim piatu dan tinggal di panti asuhan."
"Pantas saja sikapnya seperti itu. Tidak punya kasih sayang."
Nathan tidak peduli, dia sudah merasakan pahit manisnya hidup.
Saat dia keluar dari restoran tersebut, dia menghirup udara luar. "Ini terlalu nyata untuk disebut sebagai ingatan sebelum mati."
"Pencuri! Tolong, ada pencuri!"
Seorang pria berlari panik ke arahnya. Saat menyenggol bahunya, Nathan merasa sakit. Dia menjadi ragu jika ini cuma ingatan.
Di kejauhan, seorang wanita paruh baya berusaha mengejar. "Tolong tangkap dia!"
Nathan berbalik dan berlari mengejar pencuri tersebut.
Si pencuri melotot. "Sial! Aku tidak sadar dia polisi."
Nathan dengan cepat menangkap pencuri tersebut. "Kena juga kamu!"
Pencuri tersebut tidak bisa bergerak. "T-tolong lepaskan saya, Pak. Saya terpaksa, saya dan anak saya belum makan."
"Itu tidak bisa dijadikan alasan. Anda harus ikut saya ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih detail."
Tidak lama kemudian, wanita paruh baya tadi sampai dengan napas memburu. "T-terima kasih sudah menangkap orang ini."
Dia mengambil paksa tasnya. "Dasar pencuri bodoh! Kamu pikir saya orang kaya?! Sama-sama susah malah menyusahkan!"
Dia memukul-mukul pencuri itu dengan tasnya. Pencuri tersebut berteriak. "Aduh, aduh! Berhenti, maafkan saya."
"Sudah, Bu. Saya yang akan urus. Ibu bisa ikut saya ke kantor."
Wanita tersebut mengangguk. Mereka pun berjalan bersama. Sesampainya di kantor polisi distrik 1, Nathan menyerahkan pencuri tersebut.
Karena kasusnya tidak terlalu parah, pencuri itu hanya diberi hukuman satu bulan penjara.
"Entah bohong atau tidak? Setelah kubaca, rumahnya berada di distrik 1 juga."
Nathan berjalan, ia ingin membantu kondisi orang tadi. "Anaknya umur berapa ya?"
Saat sampai di sebuah rumah kumuh dan jelek, Nathan berdiri mematung. "Apa yang ini?"
Dia mengetuk pintunya. "Permisi..."
"Sebentar...!"
Tidak lama kemudian pintu terbuka. Seorang gadis muda kisaran usia 18 tahun muncul. Dia tampak kurus dan tidak terawat. "Ada apa ya?"
"Saya dari kepolisian. Ayah Anda ditangkap."
"A-apa?!"
Gadis tersebut menatap Nathan dengan tatapan ragu. Ia tidak percaya ayahnya tega melakukan hal tersebut.
Tidak lama kemudian, seorang wanita setengah baya keluar dari pintu yang setengah terbuka. "Ada siapa, Del?"
Gadis bernama Delia itu mendekat lalu berbisik pelan ke telinga ibunya. Sang ibu seketika membelalak, wajahnya berubah pucat dan tampak terkejut.
Dia menatap Nathan dengan pandangan meminta kepastian. "Apa benar, Pak?"
"Iya, benar sekali," jawab Nathan tegas namun tenang.
Setelah itu, Nathan mendengarkan cerita singkat tentang kondisi sang kepala keluarga tersebut.
"Jadi begitu, dia sudah beberapa bulan dipecat, kesulitan mencari kerja, dan terpaksa melakukan itu. Tapi sepertinya mereka tidak sampai kelaparan," batinnya sembari mengamati kondisi rumah yang minim perabot tersebut.
Nathan mengerti situasi sulit itu. "Baiklah kalau begitu, saya undur diri dahulu. Masih ada hal yang harus saya urus. Nanti saya usahakan datang lagi."
Sang ibu dan Delia mengangguk hormat, raut lega sedikit terpancar di wajah mereka. "Terima kasih banyak, Pak, sudah mau repot-repot datang ke sini."
"Tidak apa-apa, ini memang tugas saya. Kalau begitu saya pamit."
Nathan berjalan pergi meninggalkan area pemukiman padat itu. Di sepanjang perjalanan, ia menghela napas panjang. "Mungkin aku harus membantu mencarikan pekerjaan paruh waktu untuk keluarga itu," pikirnya.
Sembari melangkah, pikiran Nathan melayang. Dia mulai menyadari bahwa dirinya benar-benar telah kembali ke masa lalu.
Walaupun rasanya sulit dipercaya dan seperti mimpi, sensasi kenyataan ini terlalu kuat untuk diabaikan.
Dia kembali berjalan menuju kantor polisi. Saat sampai di sana, suasana terasa sepi dan hanya ada beberapa orang saja. Pegawai yang bertugas di shif malam memang selalu tampak lesu dan tidak bersemangat.
Niko yang sedang duduk di meja kerja segera mendekat. "Hei, kamu dari mana saja?"
"Ada urusan mendadak," jawab Nathan singkat sambil berjalan menuju tumpukan berkas yang bisa ia baca.
Ia mulai membolak-balik lembaran informasi untuk mencari lowongan pekerjaan bagi keluarga tadi. Niko yang memperhatikan tingkah temannya itu menjadi penasaran. "Kamu lagi cari kerjaan tambahan?"
"Tidak, ini untuk keluarga orang yang kutangkap tadi. Sepertinya cukup susah mencari kerja akhir-akhir ini. Pantas saja tingkat kriminalitas cukup naik."
Niko mengangguk-angguk setuju. "Ada benarnya juga. Tapi kalau aku harus berurusan dengan kriminal kelas kakap, jujur aku takut sekali. Masih mending ditugaskan di kantor distrik begini, tugasnya tidak terlalu mengancam nyawa. Aku tidak mau terjadi apa-apa dan meninggalkan istri serta anakku."
Nathan tersenyum getir ketika teringat nasib tragis yang menimpa Niko di kehidupan sebelumnya. "Semoga saja kamu bisa bertahan hidup kali ini," batinnya.
"Semoga saja kamu hidup kali ini," cetus Nathan tanpa sadar.
Niko tersentak. "Hei! Apa maksudmu dengan 'kali ini'?!"
"Tidak ada apa-apa."
"Ayolah, Nathan. Kamu jadi berbeda sekali hari ini."
Dari arah ruangan utama, seorang pria paruh baya berjalan keluar. Wajahnya suram, memiliki lingkaran hitam tebal di bawah matanya, dan tampak sangat tidak bergairah. Pria itu adalah komisaris kantor polisi distrik 1.
Niko menyapa dengan senyum ramah. "Malam, Pak."
"Ya, malam," sahutnya singkat.
Nathan merasa senang dan hangat saat melihat sosok itu lagi.
Pria bernama Martin ini adalah orang yang sangat berjasa dalam kehidupan Nathan sebelumnya mulai dari memberi pelajaran berharga, hingga beberapa kali menyelamatkan nyawanya saat berada dalam bahaya.
Martin berdecak kesal sembari memijat pangkal hidungnya. "Sialan! Kenapa kantor kepolisian pusat kota memberikan banyak pekerjaan kepadaku! Aku jadi tidak bisa pulang."
Niko bergerak cepat ke area dapur kecil dan kembali membawa beberapa cangkir kopi panas. "Pak, silakan kopinya."
Mata Martin mendelik segar melihat asap tipis dari cangkir tersebut. "Wah, terima kasih banyak!"
"Hehe, tidak apa-apa, Pak. Lagi waktu senggang juga," sahut Niko santai.
Nathan menerima satu cangkir kopi, menyesapnya perlahan sembari menyimak layar gawai untuk mencari informasi pekerjaan di internet.
"Kamu sedang cari apa, Nathan?" tanya Martin sembari menyeruput kopinya.
"Saya sedang mencari pekerjaan paruh waktu untuk orang lain, Pak."
Mendengar jawaban itu, Martin mengernyitkan dahi. Jarang sekali ada polisi muda yang mau meluangkan waktu dan pikirannya untuk hal-hal kecil seperti itu.
"Pekerjaan, ya? Kalau tidak salah... aku pernah dengar ada lowongan di restoran dekat persimpangan sana. Coba saja kamu rekomendasikan ke mereka."
Nathan tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak, atas sarannya."
"Ah, kamu terlalu berlebihan, ini hanya hal kecil. Ngomong-ngomong, bukannya tadi kalian pergi makan-makan dengan yang lain?" tanya Martin heran.
Niko mengeluh, "Sudah selesai, Pak. Mereka semua sudah pulang dan kita malah terjebak di sini. Kenapa coba aku harus dapat shif malam?"
Martin malah terkekeh geli melihat keluhan bawahannya. "Hahaha, saat aku masih muda dulu pun aku sering mengeluh begitu. Tapi memang melelahkan kalau harus kerja malam hari."
Martin kemudian meraih sebuah lembaran berkas laporan dari mejanya. "Aku dengar ada keluhan warga terkait kasus pencurian di distrik 1. Lebih baik kalian cepat pergi patroli."
Nathan dan Niko saling tatap sejenak. "Baik, Pak."
Mereka berdua mengenakan seragam lengkap dan topi polisi, lalu melangkah keluar kantor, membiarkan anggota lain melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Di tengah jalanan malam yang sepi dan remang-remang, Niko menyalakan senternya.
Ia sengaja mengarahkan cahaya senter dari bawah ke arah wajahnya sendiri dengan ekspresi dibuat-buat. "Kalau tiba-tiba ada hantu... hihihi! Aku sepertinya lebih takut hantu daripada pencuri kalau patroli malam-malam begini."
"Mana ada hantu. Kamu terlalu banyak baca cerita horor," sahut Nathan malas.
"Hantu bisa saja ada! Contohnya seperti senior kita itu. Menyebalkan sekali dia, suka tiba-tiba muncul dengan wajah suramnya!"
Begitu Niko berbalik badan, langkahnya mendadak terhenti.
Matanya membelalak lebar, dan bulu kuduk di sekujur tubuhnya meremang seketika. Tepat di depannya, berdiri seorang pria dengan wajah suram yang tersorot langsung oleh cahaya senternya.
"Apa kau sedang membicarakanku, Junior?!"
"Arrghh! Hantuuuu...!" teriak Niko histeris karena terkejut setengah mati.
Nathan dan polisi senior bernama Reno saling tatap, lalu tertawa bersama menertawakan Niko.
"Hahaha, apa-apaan reaksimu itu, Niko?!"
"Entahlah, dia ini terlalu percaya hantu. Sudah kubilang hantu itu tidak ada. Senior kita ini malah lebih menyeramkan dari hantu," ujar Nathan.
Reno terdiam sejenak. "Sembarangan sekali kamu, Nathan. Kalian lagi patroli, ya? Aku ikut."
Niko mengusap dadanya yang masih berdebar. "Tidak apa-apa nih?"
"Santai, aku baru saja dari sana."
"Melirik gadis-gadis muda, maksudmu?" goda Nathan.
"Hei, bagaimana kamu bisa tahu?!"
Nathan tidak menjawab dan hanya tersenyum. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan bersama sambil mengamati kondisi sekitar.
"Oh, iya. Hebat juga ya si Gavin. Padahal umurnya baru 25 tahun, sedangkan aku sudah 26. Gaji dia sekarang jauh lebih besar kalau tidak salah," ujar Reno dengan nada sedikit iri.
Niko menepuk pundak Reno. "Santai saja, kamu kan om-om lajang. Aku saja yang baru 22 tahun sudah menikah dan punya anak. Senior kapan?"
"Kapan-kapan saja, haha," jawab Reno santai.
Nathan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. "Mungkin nanti di pertengahan rute aku akan mengambil jalan lain. Aku ingin sekalian mampir ke panti asuhan."
"Ah, kamu masih sering pergi ke sana? Bukannya kamu sudah pindah dan punya tempat tinggal baru?" tanya Reno.
Nathan menjawab, "Aku terkadang masih datang. Anak-anak di sana juga katanya sering menanyakan keberadaanku kepada ibu panti."
"Aku mengerti. Tapi kapan kamu mau main ke rumahku, woi? Aku belum pernah memperkenalkan keluargaku kepada kalian," potong Niko.
Reno mengupil dengan wajah malas. "Kapan-kapan."
"Lain kali saja," tambah Nathan.
Baru saja mereka sampai di sebuah area gang, hidung mereka mencium aroma sesuatu.
"Seperti bau darah, ya?"
"Coba periksa."
Mata Nathan membelalak ketika melihat barang-barang berantakan di sekitar gang. Ia teringat pernah ada kasus pembunuhan di kisaran waktu ini pada kehidupan lalunya.
"Apa hari ini?!" pikirnya kaget. Dia langsung berlari menuju arah gang yang gelap itu.
Dua rekannya menyusul dari belakang. "Tunggu, woi!"
Benar saja, saat sampai di ujung gang, mereka menemukan sebuah mayat pria berusia sekitar 30-40 tahunan tergeletak miring bersandar di dinding.
"Ada mayat?!" pekik Niko terkejut.
Nathan segera mengambil kendali. "Amankan lokasi! Kita harus memberikan laporan terlebih dahulu."
Dia langsung menelepon sang komisaris.
"Halo, ada apa, Nathan?" suara Martin terdengar dari seberang telepon.
"Pak, ada mayat di distrik 1, area gang belakang rumah nomor 34."
Martin menghela napas berat, lalu meletakkan berkas pekerjaannya. "Baiklah, jangan sampai ada yang berubah di TKP. Aku akan segera ke sana."
Martin berdiri dari kursinya. Sudah cukup lama tidak ada kasus pembunuhan yang terjadi di area distrik 1 ini. "Tim investigasi, cepat ikuti aku!"
"Baik, Pak!"
Beberapa saat kemudian, Martin sampai di lokasi kejadian. Pria itu bersidekap dada sembari menatap tim investigasi yang sedang bekerja di area TKP.
"Setelah kulihat, dia ditusuk di area dada, tapi darah di lokasi tidak terlalu banyak," gumam Martin.
Nathan berdiri diam memperhatikan bersama dua rekannya.
Setelah mengumpulkan beberapa informasi awal di TKP, Martin berkata, "Katanya ponselnya hilang, tapi dompetnya masih ada, ya?"
"Iya, Pak. Apa mungkin ini kasus perampokan?" tanya salah satu polisi tim investigasi.
Nathan menyela, "Tidak, tidak mungkin. Kalau perampokan, kenapa dompetnya tidak diambil?"
Reno yang baru selesai memeriksa ulang lokasi juga setuju dengan pendapat Nathan. "Sepertinya ini memang bukan kasus perampokan. Aku melihat uangnya masih aman dan jam tangan masih terpasang. Hanya ponselnya saja yang hilang."
Niko memegang kepalanya bingung. "Apa mungkin pelakunya menginginkan sesuatu yang ada di ponsel korban?"
Martin tersenyum tipis. Entah kenapa dia tertarik dengan pemikiran kritis mereka. "Bagaimana menurutmu, Nathan?"
"Izinkan saya untuk memeriksa area sekitar lebih detail terlebih dahulu, Pak."
Melihat gerak-gerik dan ketenangan Nathan yang bertindak sangat berpengalaman, Martin merasa heran sekaligus penasaran.
Seorang polisi dari tim investigasi menyela dengan nada tidak suka, "Seorang polisi amatir dilarang melaku—"
"Boleh, biarkan saja dia," potong Martin dengan senyum menantang.
Nathan dengan hati-hati memeriksa area sekitar secara lebih mendalam.
Dia menemukan jejak sepatu samar yang tidak mengarah ke jalan keluar utama, melainkan menuju ke pintu belakang sebuah rumah.
Selain itu, posisi dan pola darah tidak cocok dengan tempat tubuh korban tergeletak. Ada tetesan darah kecil beberapa meter dari posisi mayat.
Luka tusukan terlihat seperti serangan langsung, tetapi tidak ada banyak percikan darah di dinding. Korban kemungkinan besar tidak dibunuh di tempat tersebut.
Melihat cara investigasi yang dilakukan Nathan, mata Martin mendelik. "Dia tidak terlihat seperti seorang amatir. Bahkan caranya menganalisis sudah seahli diriku, atau bahkan lebih," pikirnya penuh keterkejutannya.
Setelah selesai memeriksa, Nathan kembali mendekati Martin. Beberapa polisi dari tim investigasi menatapnya dengan raut jengkel.
"Ck, beruntung dia dekat dengan Pak Komisaris."
"Biarkan saja. Aku dengar dia juga bersikap arogan kepada Gavin tadi."
Bisik-bisik ketidaksukaan terdengar di antara mereka.
Nathan mengabaikan mereka dan berkata, "Setelah saya periksa, kemungkinan besar korban tidak dibunuh di area ini."
"A-apa?! Apa kamu yakin?!" Polisi di sebelahnya terkejut.
Niko ikut terperanjat, sementara Reno yang menyadari adanya ketidakpercayaan dari yang lain berkata, "Bisa jelaskan lebih detail, Nathan?"
Nathan mengangguk. "Darahnya terlalu sedikit. Kalau luka sebesar ini terjadi di sini, pola darah di sekitar korban seharusnya jauh lebih banyak. Tubuhnya kemungkinan besar dipindahkan."
Karena informasi mengenai korban masih kurang, kepolisian akan melakukan investigasi lebih lanjut dengan menghubungi keluarga korban.
Martin berbalik badan. "Baiklah, urus sisanya. Nanti aku terima laporannya."
Nathan dan dua rekannya saling tatap, lalu melanjutkan perjalanan. Mereka akan melihat perkembangan kasus ini besok.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ke panti, ya," pamit Nathan.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Mereka berpisah. Nathan tidak terlalu memikirkan kasus itu, walaupun di kepalanya ia mulai memetakan siapa pelakunya. Dia hanya perlu mengumpulkan bukti-bukti agar bisa menangkap pelaku tersebut.
"Baru saja kembali ke masa lalu, tapi sudah disuguhkan kasus pembunuhan..." batinnya.
Beberapa menit berlalu, dia akhirnya sampai di depan Panti Asuhan Memberi Kasih.
Panti inilah tempat dia tumbuh besar dan dirawat dengan baik. Penampilan panti asuhan ini terbilang bersih, meskipun tempatnya sudah tua dan harus diperbaiki.
Saat Nathan hendak melangkah masuk, tiba-tiba sebuah layar transparan muncul mengambang tepat di depannya.
[Misi: Selesaikan kasus pembunuhan dan dapatkan hadiahnya.]
[Hadiah penangkapan pencuri tadi: 10 juta telah diberikan.]
Mata Nathan mendelik lebar. Dia terkejut hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. "B-benda apa ini?!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!