Hallo teman-teman pembaca, author balik lagi. Kali ini author balik sama anak-anak papa Rega, papi Leo dan anak papa Dio. Semoga kalian suka dengan karya baruku nanti.
Selamat membaca
💗💗💗💗💗💗💗💗
Suasana riuh anak-anak di pagi hari mendominasi ruang makan yang mengarah langsung ke taman belakang, sebuah taman asri dengan rerumputan dan tanaman hijau yang ada di villa keluarga di daerah Bali. Bocah-bocah dengan berbagai usia tersbut duduk di kursi masing-masing, menanti para mama yang sedang mengambilkan sarapan untuk mereka semua.
Sementara itu para papa sibuk dengan ponsel mereka di ruang keluarga yang masih menjadi satu dengan ruang makan. Ada yang sedang memeriksa pekerjaan, ada pula yang hanya melihat media sosial dan beberapa dari mereka sedang mengobrol. Hingga suara tangis pecah terdengar dari meja makan, sudah pasti ada yang jahil diantara bocah-bocah yang ada di sana.
“Ehek… huaa, mama.” Queena merentangkan kedua tangannya kearah sang mama, bocah empat tahun tersebut menangis. “Ma-maa,”
Rhea menghela napas, dia bergegas menuju putri kecilnya yang sedang menangis. Sudah bisa di pastikan siapa yang membuat gadis kecil itu menangis. Arlo! Yaps, putra sulung Leo dan Hana tersebut memang selalu berhasil membuat putri sulung Rega dan Rhea menangis.
Rhea berjongkok di samping kursi putrinya, dia mengusap lembut pipi Queena. “Apanya yang sakit, sayang?”
“Lambut Ueena di talik Allo,” adunya pada sang mama, Arlo menarik kuncir rambut Queena hingga putri Rega tersebut merasa rambutnya seperti ikut tertarik dari kepala oleh Arlo.
“Arlo!” Hana langsung menatap tajam putranya, padahal belum lama tadi bocah itu membuat masalah dengan menumpahkan semua sabun cair ke dalam bak mandi. Sekarang justru kembali membuat masalah dengan menjahili Queena. “Minta maaf dulu sama Ueena!” pinta mi-mom Hana pada putranya, Arlo memang selalu saja membuat kepala Hana dan Leo nyut-nyutan.
Arlo nyengir kuda, kemudian dia tersenyum jahil. Arlo meluncur turun dari kursinya, dia menghampiri Queena yang duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Gadis kecil itu sedang di tenangkan mama Rhea.
“Queen,” Arlo berdiri di samping kursi Queen.
Queena menoleh.
Cup…
Arlo meng3cup pipi kiri Queena. Bukannya minta maaf karena sudah membuat Queena menangis, Arlo justru kembali menjahili Queena.
Ehek…huaaa
Queena kembali menangis, kali ini tangisannya lebih keras hingga membuat gadis kecil itu sesegukan.
Rhea langsung menggendong putri kecilnya, dia mengusap pipi sang putri yang masih berderai air mata. “Cup…cup, anak cantiknya mama sudahan yuk, nangisnya. Kepalanya masih sakit ya, sayang?” Rhea kembali mengusap kepala Queena, gadis kecil itu langsung menyembunyikan wajahnya pada dada sang mama. Matanya sembab karena menangis dan hidungnya juga memerah.
Arlo memang suka sekali iseng pada Queena, padahal di sana tidak hanya ada Queena. Ada Azalea, Jingga, Kala, Jenny, Xabiru dan Zahra. Tak ada satupun dari mereka yang Arlo ganggu, dan hanya Queena yang selalu menjadi sasaran empuk untuk Arlo jahili.
“Ini anak turunan siapa sih?” mi-mom Hana menatap tajam putranya, dia memperingati Arlo. “Arlo! Mi-mom marah ini. Hari ini tidak boleh main game!” tegas mi-mom Hana, Arlo langsung diam karena kali ini dia tahu sang mama marah sungguhan. Bocah itu melihat kearah papi Leo, berniat meminta pertolongan pada sang papi. “Tidak ada minta tolong sama ayah atau bunda ya, kamu Arlo!” lanjut mi-mom Hana, dia tahu pasti kalau putranya tersebut pasti minta bantuan ayah Arka dan bunda Kia.
Arlo langsung diam, dia kembali duduk di kursinya. Pagi itu sudah dua kali Queena di buat menangis Arlo, dan barusan adalah ketiga kalinya setelah tadi Arlo merebut sedotan tumbler milik gadis kecil itu. Kemudian Arlo menarik kuncir rambut Queena hingga lepas pada saat hendak sarapan. Dan barusan meng3cup pipi putri Rhea dan Rega tanpa minta ijin lebih dulu.
Leo bahkan hanya bisa menghela napas saat melihat tingkah putranya yang kelewat usil pada putri sahabatnya tersebut. “Sorry, Ga. Arlo memang biang rusuh,” Leo minta maaf pada papa Queena tersebut.
“Anakmu itu benar-benar, Leo.” Rega menggeleng. “Sebenarnya turunan kamu atau Hana dia itu,” lanjut Rega.
Dio dan yang lain terkekeh melihat frustasinya dua bapak-bapak tersebut. “Besanan saja berdua kalau nanti mereka sudah dewasa, cocok. Tinggal tentukan tanggalnya,” celetuk Dio yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa dari Rega.
“Kamu tidak lihat itu, Dio! Arlo saja bikin anakku nangis terus. Enak saja mau jadi menantuku,” ucap Rega. “Sorry saja nih, Leo. Arlo bener-bener deh itu anak,” gemas Rega bercampur kesal melihat jahilnya Arlo pada Queena.
“Jangankan kamu, Ga. Aku dan Hana saja heran dengan putra kami sendiri,” balas Leo.
Begitulah Arlo yang selalu iseng pada Queena, Arlo tidak berubah. Dari Queena masih bayi hingga gadis itu tumbuh menjadi perempuan cantik dan lembut, tetap saja Arlo masih sering menjahili Queena.
\*\*\*
Arlo Sagara Pradipta
Seminggu ini Arlo tidak hanya di sibukkan dengan tugas kuliahnya, tapi dia juga harus membantu abang sepupunya yang sedang jatuh cinta. Siapa yang jatuh cinta, siapa juga yang harus ikut repot. Sepupu Arlo yang bernama Gavin tersebut sedang berusaha mengambil hati seorang perempuan bernama Aretha, bahkan kemarin malam Gavin minta Arlo untuk menemani ke rumah Queena. Menurut Gavin, satu-satunya yang bisa membantunya adalah gadis itu. Queena adalah sepupu Aretha, dan keduanya dekat. Gavin harus bisa membuat Queena setuju membantu untuk mendapatkan hati Aretha.
“Gara-gara bang Gavin aku telat,” monolognya yang kesal karena Arlo bangun kesiangan, dia harus menyelesaikan tugasnya lebih dulu sebelum ke kampus.
Arlo berlari menyusuri lorong-lorong menuju ruang kuliahnya, beberapa kali dia sambil melihat arlojinya. Dia harus sampai di kelas sebelum dosen masuk, kalau tidak tepat waktu bisa diusir dia dari kelas dan tidak bisa mengumpulkan tugas.
Arlo membelalak begitu melihat dari arah berlawanan dosen berjalan menuju ruang kuliah, tentu saja langkah seribu menjadi andalannya saat itu. Untunglah dia sempat masuk lebih dulu ke dalam ruang kuliah sebelum sang dosen.
“Psstt… Arlo. Sini!” panggil Jose.
Arlo menghampiri temannya tersebut, Jose sengaja menaruh tas miliknya di kursi tersebut agar tidak di tempati orang lain. Karena dia memang sengaja agar Arlo duduk di sana. Arlo lantas duduk di kursi tersebut, napasnya masih ngos-ngosan karena habis lari.
“Habis di kejar-kejar se tan mana? Sampai ngos-ngosan begitu,” tanya Jose.
“Aku habis lomba lari sama pak Darma,” jawab Arlo. “Tuh! Orangnya datang,” lanjut Arlo menunjuk dengan dagunya.
Jose dan Indra menahan tawanya. “Tumben kamu telat, Ar?” kepo Indra dengan lirih.
“Gara-gara abang sepupuku,” mereka lantas tidak bertanya lagi, karena pak Darma sudah masuk ke dalam ruang kuliah.
Pak Darma memang salah satu dosen yang disiplin, dia tidak membiarkan ada kegaduhan di dalam ruang kuliah yang sedang diampunya.
Selamat pagi anak-anak. Silahkan kumpulkan tugas kalian dan taruh diatas meja, yang tidak mengerjakan nilai E semester ini.
Semua langsung bergegas mengumpulkan tugas, untungnya tadi pagi Arlo masih sempat menyelesaikan tugas dari sang dosen. Meskipun dia harus merelakan sarapan paginya, setidaknya kerja kerasnya tidak sia-sia.
*Aku harus minta ganti rugi nih sama bang Gavin*.
Queena El-Meera Regantara
Queena tumbuh menjadi perempuan cantik, dia penuh kelembutan seperti Rhea sang mama. Hanya pada satu orang dia tidak akan bisa lemah lembut, siapa lagi kalau bukan Arlo.
Saai ini Queena sedang sibuk dengan projectnya, siang itu dia bersama salah satu sahabatnya baru saja keluar dari laboratorium. Mereka baru saja selesai melakukan cek kultur bakteri, dia menjadi salah satu mahasiswa jurusan mikrobiologi di salah satu Universitas yang ada di Bandung.
“Kantin atau pohon rindang?” tanya Raya.
“Pohon rindang saja,” jawan Queena. “Mau langsung ke sana atau ke kantin?” lanjutnya bertanya pada Raya.
Raya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kantin dulu, lah. Mama mana sempat buatin bekal buatku ngampus,”
Queena mengangguk. “Aku tunggu di tempat biasa,” dia menuju taman yang sering di sebut di bawah pohon rindang, sementara itu Raya sudah ngibrit ke kantin membeli makan siang. Queena memang jarang ke kantin kampus, pasalnya dia lebih sering membawa bekal makan siang. Sedari kecil memang Queena dan adiknya yang bernama Dean terbiasa membawa bekal ke sekolah, dan itu berlanjut hingga gadis itu kuliah.
Queena duduk beralaskan rerumputan hijau di bawah pohon rindang yang ada di taman kampus, taman yang sekaligus menjadi batas antara fakultas Ilmu dan Teknologi dengan fakultas Teknik Elektro dan Informatika. Sambil menunggu Raya ke sana, Queena mengeluarkan kotak bekal dan tumbler berisi minuman dari tas bekalnya. Garis bibirnya perlahan membentuk lengkungan saat melihat sticky note yang menempel pada tempat sendok dan garpu.
Makan siang yang cantik untuk anak mama dan papa yang cantik. Selamat makan Ueena nya mama dan papa.
“Ueena sehat, kan Ray?” Intan heran saat melihat Queen yang senyum-senyum sendiri, dia baru saja datang dari kantin bersama dengan Raya.
“Sehat. Kita habis kultur bakteri tadi,” jawab Raya santai.
“Terus kenapa itu dia senyum-senyum sendiri?”
Raya melihat Queena yang duduk di rerumputan. “Dia lagi lihat ponselnya, dasar o-neng.”
“Oh, hehe. Kirain lagi kena sa wan,” jawab Intan.
“Kamu sendiri itu yang lagi kena sa wan, Ntan.”
“Sa wan aa Arlo,” balas Intan.
“Sa rav,” ucap Raya, gadis itu mempercepat langkahnya sebelum Intan mengoceh tentang Arlo dari a sampai z.
Sahabatnya yang satu itu memang salah satu fans Arlo, mahasiswa fakultas sebelah jurusan Teknik Informatika. Di tambah Intan tahu kalau Arlo dan Queena itu teman dari orok, sudah begitu rumah mereka juga hanya berjarak berapa langkah.
Raya duduk di samping Queena. “Sorry lama, Ueena. Gara-gara bocah satu itu!” tunjuk Raya kearah Intan.
“Bukan lama ya, Ray. Aku kan lagi milih-milih menu tadi,” bela Intan pada dirinya sendiri, dia duduk di samping Raya.
“Padahal menu di kantin dari dulu itu-itu saja, timbang pilih pakai lama. Bilang saja lagi nyari-nyari aa Arlo,” gerutu Raya.
Queena terkekeh mendengar perdebatan dua sahabatnya tersebut, selalu saja ada Arlo dalam bahasan yang menjadi perdebatan keduanya.
Queena membuka kotak-kotak bekal buatan sang mama, dia mengulurkan satu kotak kearah dua sahabatnya tersebut. “Buat kalian,” cuapnya.
“Aunty Rhea memang terbaik,” Intan langsung mencomot katsu buatan mama Rhea.
“Kalo aku jadi kamu nih, Ueena. Aku juga bakalan bawa bekal terus, habisnya masakan aunty Rhea memang paling top.” Raya menyuapkan potongan katsu ke dalam mulutnya.
“Habiskan, girl’s! Mama memang sengaja taruh satu kotak katsu lagi tadi. Khusus buat kalian katanya,” Queena sempat bilang pada mamanya tentang kedua sahabatnya yang suka dengan mamasakan mama Rhea, karena itulah mama Rhea membuat lauk lebih agar putri cantik nya tersebut bisa berbagi makan siang dengan Raya dan Intan.
Mereka bertiga mulai makan siang, cuaca hari itu memang bagus. Tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu mendung. Di dukung angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan semakin membuat teduh, suasana makan siang mereka di bawah pohon rindang cukup nyaman.
Sebenarnya bukan hanya mereka bertiga, karena ada beberapa mahasiswa lain juga yang suka berkumpul di sana membentuk circlenya sendiri. Ada yang makan siang juga seperti Queena dan kedua sahabatnya, beberapa sekedar bersantai sambil menunggu jam kuliah berikutnya. Ada juga yang mengobrol sambil minum dan makan camilan, atau memang sengaja berkumpul untuk membahas tugas.
***
“Minuman sepesial untuk nona cantik,” seorang pemuda tiba-tiba menghampiri mereka bertiga yang sedang menikmati makan siang, dia memberikan air mineral dingin pada Queena.
“Ck… air mineral di bilang sepesial. Ada yang nggak beres sama mata kak Bagas itu,” sahut Raya.
“Meskipun ini hanya air mineral, tapi aku kasihnya tulus. Dari yang sepesial untuk adik tingkat yang sepesial,” jawab pria yang bernama Bagas tersebut.
Raya dan Intan kompak menunjukkan ekspresi mual pada Bagas.
“Maaf, kak. Tapi aku sudah bawa minum,” tolak Queena dengan sopan.
“Aku beli sambil panas-panasan lho ini, Ueena. Masa iya kamu tolak, terima dong. Ya…ya,” Bagas menampilkan ekspresi memelas.
Queena menghela napas, sebenarnya dia cukup risih dengan Bagas yang hampir tiap hari berusaha mendekatinya. Bukan hanya Bagas, tapi juga beberap pria yang ada di kampusnya berusaha mendekati Queena. Namun tak ada satupun dari mereka yang Queena respon, mana mungkin putri papa Rega tersebut merespon sebelum mereka berhadapan dengan papa Rega lebih dulu. Terlebih Queena hanya ingin fokus pada kuliahnya tanpa memikirkan soal cinta, dia masih ingin mengejar karir. Bahkan Queena berencana melanjutkan untuk mengambil pendidikan di bidang Biomolekuler untuk S2 nya nanti.
“Sekali ini saja, kak! Tidak untuk lain kali,” ucap Queena, dia mengulurkan tangan untuk mengambil botol air mineral dingin tersebut dari tangan Bagas.
Namun ada yang lebih dulu meraih botol air mineral dingin tersebut sebelum Queena.
Gluk… gluk… gluk
“Lega sekali tenggorokan ini,” ucapnya setelah berhasil menegak setengah air mineral dingin dari dalam botol, Bagas hanya ternganga saat melihat kejadian itu. “Terimakasih untuk air mineralnya, bro. Segar sekali,” lanjut Arlo, dia dengan santainya langsung duduk di samping Queena.
“Ka-kamu! Beraninya kamu minum air mineral untuk Ueena,” Bagas langsung murka melihat tingkah Arlo, dia meraih kerah kemeja Arlo.
Arlo justru terlihat santai dan tidak terpancing, dia malah mengambil kotak bekal milik Queena yang sudah gadis itu makan setengah. Arlo mencomot katsu dari kotak bekal Queena. “Aku lapar nih, bang. Kalau mau marah tunggu aku selesai makan dulu,” dengan santainya Arlo melahap katsu milik Queena.
“Aa Arlo so sweet sekali,” ucap Intan yang sedang mode terbucin-bucin pada salah satu mahasiswa Teknik Informatika tersebut, gadis itu bahkan sudah memu kul gemas lengan Raya.
“Apaan sih ini anak. Lebay banget,” Raya menghempas kedua tangan Intan dari lengannya.
Bagas makin emosi. “Kamu anak dari jurusan mana? Berani sekali denganku,”
“Kalian bisa tidak, kalau tidak ribut? Ada banyak orang di sini,” sahut Queena karena kesal, satu adalah musuh bebuyutan yang selalu iseng padanya hampir tiap hari selama dia bernapas di bumi. Sedangkan satunya lagi adalah kakak tingkat yang tidak tahu diri.
“Dia yang mulai duluan, Ueena. Kamu lihat sendiri tadi,” jawab Bagas, dia masih mencengkeram kerah kemeja Arlo.
“Bagas! Di cari pak Ibra,” teriak salah satu mahasiswa jurusan Pertanahan. “Ck… si alan dosen bangkotan itu, tidak tahu apa kalau aku sedang ada urusan. kalau tidak kesana bisa dapat nila E lagi ini,” gerutu Bagas. “Kali ini pak Ibra menyelamatkanmu, bocah. Lain kali kamu tidak akan bisa lepas,” lanjut Bagas mengancam Arlo.
Arlo hanya manggut-manggut karena dia masih mengunyah, dia juga mengibas-ngibas tangannya sebagai tanda mengusir Bagas dari sana. Mau tak mau, Bagas langsung bergegas menemui dosennya tersebut.
Sementara itu di taman, Arlo kembali duduk dengan santai. Dia melanjutkan acara makan bekal milik Queena.
“Kok jadi kamu yang makan bekalku sih, Arlo! Aku kan belum selesai makan,” kesal Queena.
Kali ini Arlo meraih tumbler milik Queena, dia menegak minuman yang ada dalam tumbler tersebut. “Keburu habis kalo nungguin kamu makan dulu, Queen. Aku belum sarapan gara-gara bang Gavin,” ucapnya.
Queena mengerutkan dahinya. “Gara-gara bang Gavin tapi bekal makan siangku yang di rebut, harusnya minta bang Gavin pesan antar. Itu kan makan siangku, Arlo. Aku juga lapar,” kesal Queena, Raya dan Intan hanya saling tatap. Keduanya sudah tidak heran lagi dengan mereka berdua yang seperti Tom and Jerry.
“Kamu juga harus ikut tanggung jawab. Mbak Aretha kan kakakmu, gara-gara mereka berdua aku bangun kesiangan. Hampir gagal kumpulin tugas,” oceh Arlo. “Aaaa… katanya lapar, buka mulutnya!” Arlo menyodorkan sendok berisi makan siang kedepan mulut Queena, dan anehnya Queena membuka mulutnya. Dia melahap makanan yang Arlo suapkan.
“Good girl’s, Queena El-Meera Regantara.” setelah itu Arlo kembali menghabiskan makan siang milik Queena, gadis itu hanya bisa ternganga. Dia kembali di jahili Arlo karena makan siang dan es coklat buatan mama Rhea sudah di habiskan Arlo.
“Alhamdulillah kenyang. Masakan aunty Rhea memang best,” ucap Arlo tanpa rasa bersalah. “Thank’s makan siangnya, Queen. Aku masuk kelas dulu,” dia langsung berdiri dan pergi begitu saja.
“Arlo si alan!” pekik Queena, Arlo hanya mengangkat tangannya. Namun bibirnya membentuk lengkungan karena kembali berhasil membuat seorang Queena El-Meera Regantara berteriak di tempat umum. Hanya Arĺo ysng bisa membuat gadis cantik nan kalem tersebut bisa tantrum. “Kalian menertawakanku?” lanjutnya menunjuk Raya dan Intan.
Kedua sahabatnya tersebut menggeleng sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, mereka menahan tawanya karena tidak ingin Queena ngambek.
“Assalamu’alaikum,” Queena sampai di rumahnya, dia menyapa kedua orang tua dan sang adik yang sedang bercengkeram di ruang keluarga.
“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka bertiga yang duduk di sofa ruang keluarga.
Dengan langkah gontai dia berjalan menuju sang mama. Queena duduk di samping mama Rhea, gadis itu memeluk dan mendusel mama Rhea dari samping. Rhea mengusap lembut puncak kepala putrinya. “Kenapa lemas begitu, sayang?” tanya mama Rhea.
“Istri papa itu, sayang.” Papa Rega menggoda putrinya, dia menyingkirkan tangan Queena yang memeluk pinggang mama Rhea.
“Papa, ih!”gerutu Queena, dia kembali memeluk pinggang mama Rhea. “Lapar, ma. Makan siangku di habisin sama begundal red flag,” Queena menjawab pertanyaan sang mama.
“Arlo?” tebak mama Rhea diangguki Queena.
“Pfff… musuh bebuyutan kakak dari orok tidak ada peningkatan sama sekali,” ledek Dean.
“Satu Arlo saja sudah buat kepalaku ini pusing, Dean. Dari pada ganti musuh, mending aku nge lab kultur bakteri saja. Lebih asik dari pada Arlo,” balas Queena.
“Butuh bantuan papa, sayang? Biar papa kasih paham itu anak Leo,” sahut papa Rega.
Mama Rhea langsung mengerutkan dahi, dia menoleh pada suaminya.
“Eskpresimu itu, yank. Kamu meragukan suami tampanmu ini?” protes papa Rega saat sang istri menatapnya penuh ragu.
“Bukan ragu, mas. Coba mas Rega ingat-ingat lagi, sudah berapa kali dan apa saja yang mas lakukan buat negur Arlo. Ada yang mempan, tidak?” mama Rhea tersenyum penuh tanya.
Papa Rega tersenyum kikuk, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sudah tak terhingga, yank.”
Mereka tertawa setelah mendengar jawaban papa Rega, pasalnya apa yang di katakan mama Rhea memang benar adanya. Sampai hari ini belum ada satu orang pun yang berhasil membuat Arlo berhenti untuk tidak menjahili Queena, makin hari ada saja ide Arlo dalam menjahili Queena.
“Mama sama mbak Yuyun buat zuppa soup tadi, kakak mau?” mama Rhea menepuk lembut lengan putrinya.
“Apapun asal masakan mama, Ueena mau. Masakan mama selalu enak,” pujinya pada masakan mama Rhea. “Dean juga mau, ma. Perutku bilang mau masakan mama,” ujarnya sambil mengusap perutnya sendiri.
Mama Rhea tersenyum. “Mama hangatkan zuppa supnya dulu untuk kakak sama Dean. Kakak bersih-bersih, ganti baju. Anak mama masa bau formalin,”
Queena mengangguk. “Mama memang terbaik,” putri pasangan Rega dan Rhea tersebut meng3cup pipi sang mama.
“Pipinya papa belum ini, sayang.” papa Rega menunjuk pipi kirinya.
“Ish… papa iri banget sih,” ucap Queena yang selanjutnya meng3cup pipi kiri sang papa.
“Bener bau formalin ternyata,” celetuk papa Rega. “Papa…” cebik Queena yang kemudian mendapatkan rangkulan di pundak dari sang papa. “Tapi tetap cantik ini anak papa,” ujar papa Rega.
Mama Rhea terkekeh, dia hanya menggeleng melihat suaminya sedang menggoda sang putri. “Mas Rega mau zuppa sup juga?” tanya mama Rhea diangguki papa Rega.
Mama Rhea bangkit dari sofa, dia menuju dapur untuk menghangatkan zuppa sup. Begitupun dengan Queena, dia menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
“Kakak mandi bebek?” celetuk Dean yang sedang menikmati zuppa sup bersama sang papa.
“Enak saja. Aku beneran mandi ya, Dean. Sudah wangi ini,” Queena Mengen dus aroma tubuhnya sendiri.
“Habisnya kakak mandi cepet banget. Biasanya cewe kalau mandi kan lama,” ujarnya lagi.
Queena hanya mengangkat kedua bahunya, tidak perduli dengan ocehan Dean. Dia duduk dan ikut menikmati zuppa sup buatan sang mama.
***
Usai makan malam, Queena dan keluarganya menikmati desert sambil menikmati pemandangan langit malam dari balkon kamarnya. Mereka berempat duduk di sofa yang ada di balkon kamar Queena.
“Liburan dong, pa! Ini kepala isinya sudah mau luber-luber,” pinta Dean.
“Coba sini papa lihat! Mau meluber ke kanan atau ke kiri itu isi kepala,” Rega memiting kepala putranya di bawah lengan, dia mengusak rambut putranya yang sebentar lagi tujuh belas tahun tersebut.
“Ck… seriusan ini, pa. Biar fresh sebelum ujian,” ucap Dean.
“Belum ada sebulan kamu dari US, Dean. Masa iya mau liburan lagi,” jawab papa Rega.
“Olimpiade itu, pa. Bukan liburan,” Dean memang sering pergi ke luar negeri untuk mengikuti olimpiade sains bersama dengan Aila sepupunya dan juga Aqila adik Arlo, kebetulan memang mereka satu sekolah. Ketiganya sering ikut lomba sains nasional maunpun internasional.
“Nanti tunggu kamu lulus dulu. Papa mau lihat bagaimana nilai akhirmu nanti,” jawab papa Rega.
Dean menghela napas, dia tahu sang papa tidak bisa dengan mudah dia taklukkan. Pawang papa Rega hanyalah mama Rhea, dan Dean tidak enak hati jika harus minta bantuan sang mama. Karena mama Rhea sebulan lalu sudah membantu membujuk papa Rega untuk membelikan Dean PC terbaru.
Putra kedua pasangan Rega dan Rhea tersebut tidak kehilangan akal, dia bealih merayu sang kakak. Dean tersenyum penuh makna pada Queena, dia bahkan sudah menempeli sang kakak.
“Aku tidak bisa, Dean. Satu tahun kedepan jadwalku padat,” ucap Queena yang paham maksud sang adik.
“Padahal aku belum bilang. Sudah tahu saja apa yang aku mau,” gerutu Dean.
Queena mengusak rambut adik beda usia empat tahun dengan dirinya itu. “Maaf. Kamu tahu sendiri, Dean. Kakak sudah semester tujuh,” selain sudah harus mempersiapkan skripsi, Queena juga masih punya tanggung jawab sebagai asisten dosen. Satu tahun kedepan dia benar-benar sibuk.
“Nasib punya kakak cerdas diatas rata-rata,” celetuk Dean.
Papa Rega terkekeh mendengar putranya menggerutu. “Papa kasih ijin kalau kamu liburan ke Lembang, nginap di Villa om Arka. Tapi hanya boleh bawa teman-teman laki-laki. Tidak ada teman perempuan, tidak ada alkohol. Tidak ada yang aneh-aneh,”
Dean langsung tersenyum lebar. “Siap yang mulia Regantara Setyadarma. Hamba patuhi perintah,” jawabnya membuat semua tertawa ringan.
Mereka masih berbincang di balkon kamar Queena, karena memang belum terlalu larut malam. Hingga obrolan mereka terhenti karena ponsel mama Rhea berdering. “Mommynya mbak Aretha,” ucap mama Rhea, dia lantas mengusap tombol hijau dan muncul wajah mommy Rena pada layar.
“Kak Rena. Ada apa?”
“Aku tidak mengganggu kalian, kan?”
“Tidak, kak. Aku, mas Rega sama anak-anak sedang bersantai. Ada yang penting?”
“Azura lagi ngambek gara-gara Aretha lembur di kantor, Rhea. Jadinya dia minta vidcall mama Rhea. Princess kangen mama Rhea katanya,”
Azura langsung menyembul entah dari mana.
“Mama Lhea, plincess Zula lindu. Mau cheese cakenya mama,”
“Kangen mama Rhea atau kangen sama cheese cakenya mama ini?”
“Dua-duanya,”
“Besok mama buatkan untuk princess. Besok princess ke mari sama pak Aji, ya! Ambil cakenya,”
“Jangan banyak-banyak makan cake, cil. Nanti itu gigi di bawa semut,”
“Abang pololo belicik,”
Queena tiba-tiba menyembul dari balik badan sang mama. “Kalau Ueena saja yang jemput princess boleh, mom? Sekalian mau jalan-jalan sebentar,”
“Boleh, sayang. Azura jangan di tanya mau atau tidak kamu ajak jalan. Jawabnya sudah pasti mau,”
“Siap mommy,”
“Holle…plincess becok jalan-jalan,”
Setelah perbincangan menghebohkan tersebut, mereka mengakhiri panggilan video. Kebetulan malam juga sudah makin larut, papa dan mama juga Dean sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Queena juga memutuskan untuk segera istirahat, karena besok dia ada kuliah pagi.
Si manusia red flag
“Jangan lupa pemintaan bang Gavin.”
Little Queen
“Besok jemput Azura jam sebelas di sekolah. Suruh bang Gavin ke flowers café,”
Si manusia red flag
“Oke,”
Queena menghela napas setelah membaca pesan dirinya dengan Arlo. “Bang Gavin benar-benar nyusahin, segala pakai bikin mbak Aretha ngambek. Ujung-ujungnya aku juga yang ikut repot, mana harus sama manusia red flag satu itu.” Gumam Queena, dia lantas menaruh ponselnya diatas nakas. Setelah itu dia merebahkan dirinya, menarik selimut hingga menutupi dada. Dia memang butuh istirahat setelah energinya sudah habis untuk kegiatan di laboratorium pagi tadi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!