Indonesia
NovelToon NovelToon

Mantan Komandan Muda

ditepi sungai

Bima dirgantara. Ya, sebuah nama yang singkat, padat, sekaligus menyimpan kesan dingin yang mendalam. Dia memang Bima, seorang pria yang seolah sengaja menghapus seluruh identitas masa lalunya demi bisa menyatu dengan kesunyian alam.

Bagi orang-orang yang mendiami Desa Sukamaju—sebuah pemukiman agraris terpencil yang letaknya terisolasi di balik bentangan bukit dan dikelilingi hutan tropis lebat, dia hanyalah seorang pemuda asing berumur dua puluh lima tahun yang dikenal sangat pendiam. Sikapnya yang tertutup membuat penduduk desa segan untuk terlalu banyak bertanya. Kulitnya yang legam terbakar matahari khas daerah tropis serta kapalan tebal yang menghiasi telapak tangannya menjadi saksi bisu betapa kerasnya dia bekerja setiap hari di ladang. Pekerjaannya sekarang hanyalah seorang petani jagung biasa. Sebuah profesi bersahaja yang amat jauh dari hiruk-pikuk, ketegangan, dan karut-marut dunia modern di luar sana.

Kehidupan di Desa Sukamaju menawarkan sebuah rutinitas monoton yang berjalan lambat, sesuatu yang justru sangat Bima cari dan butuhkan untuk memulihkan jiwanya. Jika sedang tidak pergi ke area perbukitan untuk mengurus ladang jagungnya yang mulai menguning dan siap panen, dia pasti akan menghabiskan waktu berjam-jam duduk di tepi sungai yang membelah desa hanya untuk memancing. Kehidupan yang damai, tenang, atau jika ingin jujur secara objektif, sebuah pengasingan diri yang sengaja dia rancang dengan rapi untuk melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu yang terus memburunya.

Siang itu, matahari musim kemarau bersinar dengan sangat terik di atas kepala, seolah membakar permukaan tanah hingga memunculkan riak gelombang panas semu yang bergoyang di udara. Namun, Bima memilih untuk berlindung di tepi sungai yang sejuk, tepat di bawah lambaian rindang sebatang pohon beringin tua berukuran raksasa yang akar-akarnya menghujam dalam ke tepian air. Angin sepoi-sepoi yang berembus pelan di atas permukaan air sungai perlahan-lahan membuat kelopak matanya terasa sangat berat dan sayu. Sembari menunggu pelampung umpannya disambar oleh ikan, fokus Bima mulai melonggar.

Pikirannya perlahan terbang menjauh dari realitas di sekitarnya. Jiwanya seolah ditarik paksa keluar dari raga petaninya saat ini, melintasi lorong waktu yang gelap, kemudian melemparkannya kembali ke masa beberapa tahun yang lalu ketika takdir hidupnya masih ditentukan oleh sebutir peluru.

Memorinya berputar kembali dengan sangat jelas ke masa-masa kelam saat tubuh tegapnya masih dibalut oleh seragam loreng tebal yang berat. Kala itu, dia memikul tanggung jawab besar sebagai seorang komandan regu pasukan khusus angkatan darat yang disegani. Bima ingat betul bagaimana atmosfer yang sangat mencekam, dingin, dan mengintimidasi mental pada hari operasi militer itu berlangsung. Telinganya seolah kembali mendengar pekikan bising dari rentetan tembakan senapan serbu yang memekakkan telinga, dentuman dahsyat dari ledakan granat yang menggetarkan permukaan tanah, serta bau gosong bubuk mesiu bercampur aroma anyir darah yang menyengat tajam ke dalam hidung.

Dia ingat dengan sangat detail bagaimana dia dan para anggota regunya bergerak dengan taktik tingkat tinggi, saling melindungi di bawah komando tegas yang dia teriakkan di tengah desingan peluru. Mereka menerobos barikade kawat berduri milik musuh, menghancurkan pertahanan garis depan dengan granat asap, dan menyerbu masuk secara agresif hingga berhasil menguasai jantung markas lawan. Secara perhitungan militer, mereka menang mutlak hari itu. Tugas negara berhasil diselesaikan dengan sangat gemilang, dan mereka berhak pulang sebagai pahlawan.

Namun, senyum nostalgia yang sempat terukir sangat tipis di bibir Bima memudar seketika, digantikan oleh tarikan napas yang sangat berat dan melelahkan. Rasa bangga yang membuncah sebagai seorang prajurit itu langsung lenyap tanpa bekas, digantikan oleh rasa sesak luar biasa yang menghimpit rongga dadanya saat bayangan wajah Joni melintas di benaknya. Joni adalah bawahannya yang paling setia di dalam regu, seorang penembak jitu berdarah dingin yang selalu bisa diandalkan dalam kondisi genting apa pun, sekaligus sahabat terbaik yang pernah dia miliki dalam hidupnya. Namun, Joni juga merupakan orang yang harus gugur dalam penyerbuan berdarah tersebut, mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi posisi Bima dari terjangan peluru senapan mesin musuh.

Bayangan ruangan rumah sakit lapangan militer yang dingin, steril, and pekat oleh bau cairan karbol mendadak terasa begitu nyata di pelupuk mata Bima, menepis keindahan pemandangan aliran sungai jernih di depannya saat ini. Saat itu, tubuh Joni bersimbah darah, dipenuhi luka tembus yang parah akibat rentetan peluru kaliber besar yang bersarang di dada dan perutnya. Berbagai jenis selang infus, alat bantu napas, dan monitor medis dipasang di sekujur tubuhnya yang melemah, mengeluarkan bunyi detak digital yang nyaring namun terasa seperti lonceng kematian yang menghitung mundur sisa hidupnya. Dengan napas yang tersengal-sengal, mencoba sekuat tenaga menahan sisa-sisa kesadaran yang kian meredup dan pandangan mata yang mulai kabur, Joni menggunakan seluruh sisa kekuatan ototnya untuk menggenggam erat lengan baju loreng Bima yang penuh noda tanah.

"Ketua... sepertinya... kita tidak bisa pulang dan minum bersama lagi kali ini," bisik Joni dengan suara yang sangat parau, lirih, dan terbata-bata, menahan rasa sakit luar biasa yang tak mungkin bisa dibayangkan oleh manusia biasa yang tidak pernah berperang. "Aku punya satu permintaan terakhir... Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain ibu dan seorang adik perempuan yang masih sekolah. Tolong... cari dan jaga mereka untukku."

Dengan sisa tenaga terakhir yang ada di ambang batas kematiannya, Joni merogoh saku seragam militernya yang sudah koyak dan basah oleh noda darah kering. Dengan jari-jari yang gemetar hebat menahan dingin, dia mengeluarkan selembar foto usang berukuran kecil yang sedikit terlipat di bagian sudutnya. Foto itu merekam senyum hangat Joni bersama seorang wanita paruh baya berwajah teduh dan seorang gadis remaja yang sedang memegang sebuah piala sekolah dengan bangga. Joni kemudian melepas kalung identitas militer dari pelat baja (dog tag) yang melingkar di lehernya dengan sisa kekuatan yang tersisa, lalu menyerahkannya langsung ke atas telapak tangan Bima yang ikut gemetar menahan bendungan air mata.

Aku sudah terlalu lama terpisah dari mereka karena tugas-tugas rahasia kita... dan sekarang, aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal kepada mereka secara langsung," ucap Joni sangat lirih, nyaris seperti bisikan angin malam sebelum akhirnya kelopak matanya menutup dan suaranya hilang sama sekali dari dunia.

Tak lama setelah kalimat terakhir yang sangat memilukan itu terucap, cengkeraman jari-jari Joni di lengan baju loreng Bima perlahan-lahan melonggar, lalu terkulai lemas tanpa daya di atas ranjang rumah sakit. Matanya perlahan tertutup rapat untuk selamanya, dan garis hijau di layar monitor jantung seketika berubah menjadi sebuah garis lurus statis yang berdenging panjang tanpa putus. Joni telah mengembus napas terakhirnya tepat di hadapan Bima. Sahabatnya itu pergi selamanya, meninggalkan sebuah janji suci yang kini terasa seperti bongkahan batu besar seberat berton-ton, menekan pundak sang mantan ketua regu itu setiap hari dengan rasa bersalah yang amat sangat.

Zzztt!

Lamunan masa lalu Bima buyar seketika menjadi serpihan kecil. Gagang joran pancing di dalam genggaman tangannya tiba-tiba saja bergetar dengan sangat hebat dan liar. Tali nilon pancing menegang lurus, ditarik oleh sesuatu makhluk air dengan kekuatan yang sangat besar menuju bagian lubuk sungai yang dalam. Sentakan mendadak yang kuat itu memaksa seluruh kesadaran mental Bima melompat kembali ke realitas masa kini. Dengan cekatan, efisien, dan menggunakan insting bertarung yang ternyata belum sepenuhnya tumpul oleh waktu, Bima langsung menahan jorannya kuat-kuat.

Dia memutar reel pancing dengan ritme yang konstan, bertarung sejenak melawan arus sungai yang deras dan tarikan liar dari bawah air. Setelah beberapa menit drama tarik-ulur yang cukup melelahkan fisik, seekor ikan gurame liar berukuran besar berhasil dia taklukkan. Ikan itu melompat keluar dari permukaan air, lalu mendarat dengan suara debukan keras di atas rumput tepi sungai, menggelepar-gelepar hebat mencoba mencari air.

Kenangan kelam, berdarah, dan penuh penyesalan tentang perang serta ruang rumah sakit militer itu perlahan-lahan mulai pudar kembali dari kepalanya, digantikan oleh realitas hidup yang tenang namun terasa hampa yang harus dia jalani hari ini di Desa Sukamaju.

Sore harinya, ketika langit di ufuk barat mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan yang pekat, ikan hasil pancingannya siang tadi sudah selesai dibersihkan dari sisik, dibumbui dengan garam dan ketumbar seadanya, lalu digoreng di atas tungku hingga kering dan garing. Hidangan sederhana yang aromanya menggugah selera itu kini tersaji di atas meja makan kayu jati yang permukaannya sudah mulai lapuk, kusam, dan berlubang di sana-sini karena dimakan usia. Bima menyantap hidangannya dengan lahap dalam gigitan-gigitan yang sunyi tanpa suara. Dia mencoba menikmati hasil keringatnya hari itu di dalam rumah panggung kayunya yang sepi. Dia benar-benar hidup sendirian di rumah itu, hanya ditemani oleh suara ritmis dari jangkrik dan serangga malam di luar dinding bambu, seiring dengan kegelapan malam yang mulai turun menyelimuti seluruh area pedesaan.

Namun, setelah perutnya terasa kenyang dan keheningan malam yang pekat kembali melanda ruangan tengah, pikiran tentang Joni yang tadinya sempat teralihkan kini datang lagi menerjang. Pikiran itu menyerang pertahanan mentalnya dengan jauh lebih agresif dan bertubi-tubi. Bima perlahan meletakkan sendoknya, lalu menatap sisa-sisa duri ikan di atas piring tanah liatnya dengan pandangan mata yang kosong, redup, dan penuh dengan keputusasaan.

Berbagai pikiran logis dan analisis mulai berputar kacau di dalam kepalanya yang mulai pening. Jika dia hanya terus memilih untuk berdiam diri di desa terpencil yang sangat terisolasi dari arus informasi luar ini, bekerja bertani dari fajar hingga petang lalu memancing di sungai, bagaimana mungkin dia bisa mengabulkan janji terakhir kepada mendiang temannya? Menyimpan, meratapi, dan mengingat janji suci itu terus-menerus setiap hari tanpa melakukan sebuah tindakan nyata apa pun hanya akan membuatnya dihantui oleh rasa bersalah yang akan menggerogoti jiwanya seumur hidup. Dia akan tumbuh menjadi seorang pengecut yang gagal menjaga kehormatan sumpah seorang prajurit.

Bima akhirnya beranjak dari kursi kayunya yang mengeluarkan bunyi derit nyaring, berjalan lambat dengan langkah kaki yang terasa berat menuju ke dalam kamar tidur kecilnya yang pengap. Dia membuka laci meja kayu yang berada di samping tempat tidur tidurnya, lalu mengambil selembar foto usang yang kondisinya sudah mulai rapuh serta sebuah kalung militer pelat baja milik Joni yang selama ini dia simpan dengan sangat rapat dan hati-hati di sana. Pria itu kemudian duduk di pinggir ranjang, memandangi dengan sangat saksama setiap detail wajah Joni, wajah sang ibu, dan adik perempuan temannya itu di bawah temaram cahaya kuning dari sebuah lampu minyak yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin malam yang masuk melalui celah-celah papan jendela.

Namun, hantaman kenyataan pahit yang realistis langsung menampar logikanya dengan sangat keras. Jika dia nekat mengemas seluruh pakaiannya ke dalam tas ransel dan pergi meninggalkan desa ini esok hari untuk mencari mereka, dia harus melangkah ke arah mana?

Ke kota mana dia harus pertama kali memesan tiket bus?

Dunia ini teramat luas, dan negara kepulauan yang besar ini memiliki ribuan kota besar serta puluhan ribu desa kecil yang tersebar luas dari ujung sabang sampai merauke. Jika proses pencariannya hanya bermodal selembar foto tanpa ada secercah alamat rumah yang jelas, ditambah lagi dengan fakta bahwa nama sahabatnya itu adalah sebuah nama yang sangat pasaran di negeri ini. maka peluang untuk bisa menemukan keberadaan keluarga tersebut secara tidak sengaja hampir mustahil untuk terjadi.

Itu adalah sebuah analogi yang sama persis dengan mencoba mencari sebatang jarum kecil yang berkarat di dasar lautan yang sangat gelap, dalam, dan luas. Kalo hanya bermodal selembar foto lama dan nama panggilan saja tanpa adanya petunjuk spesifik lain, mereka tidak akan pernah bisa ditemukan sampai kapan pun, bahkan hingga Bima menua. Bima menghela napas panjang yang terasa sangat berat, merasakan gelombang frustrasi yang hebat di antara benturan sumpah setia seorang prajurit sejati dan realitas keterbatasan materi yang mengikat mati kedua kakinya di desa terpencil ini.

Bima membolak-balik foto itu berkali-kali di bawah cahaya kuning lampu minyak, berharap ada sebuah keajaiban kecil atau mungkin ada detail tersembunyi yang terlewatkan oleh indra penglihatannya selama bertahun-tahun ini. Matanya yang tajam, yang dulu dilatih keras sebagai seorang pengintai andalan dalam operasi malam, tiba-tiba saja menyipit fokus pada satu titik. Dia menyadari ada sesuatu yang janggal pada bagian belakang kertas foto yang warnanya sudah berubah menjadi kekuningan dan berbintik-bintik cokelat tersebut. Di pojok kanan paling bawah, terdapat sebuah cetakan cap pudar berukuran sangat kecil berwarna biru tua yang bentuknya hampir terhapus total oleh gesekan jari dan jalannya waktu.

Bima langsung bangkit berdiri dari ranjangnya, mendekatkan lembaran kertas foto tua itu sangat dekat ke arah lidah api lampu minyak, hingga hawa panasnya mulai terasa menyengat di ujung ibu jarinya. Tulisan pada cap berbentuk lingkaran yang samar-samar dan pudar itu kini mulai bisa dieja, disusun, dan dibaca dengan jelas oleh matanya yang membelalak lebar: "Studio Foto Abadi - Pasar Lama, Kota Barat".

Jantung Bima seketika berdegup dengan sangat kencang, memompa darahnya dengan cepat ke seluruh tubuh hingga menimbulkan sensasi desiran yang kuat. Rasa hangat menjalar dari dada hingga ke ujung-ujung jarinya. Rasa frustrasi yang mengungkungnya sejak tadi lenyap menguap begitu saja. Itu adalah sebuah nama tempat yang nyata di dunia fisik. Sebuah titik awal pencarian yang sangat valid dan logis. Langkah pertamanya untuk keluar dari pengasingan diri, melangkah kembali ke dunia luar yang bising, dan menepati janji suci pada mendiang sahabatnya baru saja terbuka lebar malam itu di bawah kesaksian malam yang sunyi.

langkah pertama dikota barat

Matahari bahkan belum sempat memecah ufuk timur ketika Bima sudah mulai mengayuh sepeda tuanya keluar dari pekarangan rumah panggungnya yang sepi. Udara pagi yang menusuk tulang hingga ke dalam pori-pori kulit sama sekali tidak dihiraukannya. Di boncengan belakang sepedanya, sebuah keranjang bambu besar berisi puluhan bonggol jagung pilihan berukuran besar bergoyang-goyang ritmis mengikuti irama kayuhan kakinya yang kokoh. Jagung-jagung segar yang masih menyisakan embun pagi itu sengaja dia bawa dari ladang desa untuk dijual ke pasar induk kota. Bima sadar betul, perjalanannya mencari keluarga Joni membutuhkan ongkos logistik yang tidak sedikit. Menjual habis seluruh hasil panen hari ini adalah cara paling realistis untuk mengumpulkan modal awal sebelum dia mulai melacak keberadaan studio foto yang menjadi petunjuk satu-satunya.

Perjalanan panjang yang melelahkan dari desa terpencilnya menuju pusat kota memakan waktu hampir dua jam penuh, melintasi jalanan tanah berlubang dan aspal kasar yang sepi. Sesampainya di pusat Kota Barat, riuh rendah suara klakson kendaraan langsung menyambut pendengarannya. Bima segera menuntun sepedanya menuju pasar induk utama yang sudah mulai menggeliat ramai oleh aktivitas perdagangan subuh. Dengan senyum ramah yang sedikit dipaksakan untuk menutupi sifat aslinya yang kaku, dia mulai mendatangi satu per satu lapak pedagang sayur besar yang berada di deretan depan. Ia menawarkan jagung hasil panennya dengan tutur kata yang sopan namun lugas.

Beberapa pedagang besar langsung menolak mentah-mentah, beralasan bahwa mereka sudah memiliki pemasok tetap yang mengikat kontrak sejak lama. Namun, kerja keras Bima tidak sepenuhnya sia-sia. Setelah berpindah ke area grosir di bagian dalam, beberapa pengepul besar tampak sangat tertarik setelah memeriksa kualitas biji jagung Bima yang padat, kuning cerah, dan manis. Setelah proses tawar-menawar yang singkat namun adil, seluruh jagung di keranjang bambunya habis terjual diborong oleh salah satu agen. Bima menghela napas lega seraya mengantongi beberapa lembar uang hasil penjualannya. Urusan dagangnya hari itu telah selesai dengan sukses. Rencana selanjutnya adalah segera pergi dari pasar ini untuk mencari Studio Foto Abadi di kawasan Pasar Lama.

Namun, saat dia kembali menuntun sepeda tuanya melewati bagian tengah pasar yang merupakan area terbuka luas untuk menuju pintu keluar, langkah kakinya mendadak terhenti sepenuhnya.

Tepat di tengah-tengah pasar, suasana yang tadinya hanya riuh oleh transaksi jual beli mendadak berubah menjadi sangat bising dan penuh gejolak. Ratusan orang, mulai dari kuli panggul yang bertelanjang dada, pedagang asongan, hingga para preman pasar setempat tampak berkerumun sangat padat membentuk lingkaran besar. Mereka saling berbisik, berteriak, dan menunjuk ke satu arah yang sama dengan ekspresi wajah penuh gairah. Rasa penasaran yang kuat seketika menggelitik naluri pengintai dalam diri Bima. Mengabaikan tujuannya yang ingin segera pergi mencari studio foto, dia memutuskan memarkirkan sepedanya di dekat tiang listrik tua yang berkarat, menguncinya, lalu ikut merangsek masuk ke dalam kerumunan manusia yang padat demi melihat apa yang sedang terjadi.

Rupanya, di dinding papan pengumuman pasar yang berukuran besar, tertempel sebuah baliho baru dengan logo megah bergambar kepalan tangan yang sangat mencolok mata. Di sana tertulis sebuah pengumuman resmi dengan huruf kapital tebal bahwa pada hari Minggu ini akan dilaksanakan sebuah turnamen besar bertajuk Kompetisi Pertarungan Tangan Kosong.

Mata Bima menyipit tajam, menggunakan kemampuan visualnya untuk membaca baris demi baris detail informasi yang tertulis di bawahnya. Nilai hadiah utamanya benar-benar tidak main-main dan sangat fantastis untuk ukuran orang-orang kelas bawah: uang tunai sebesar 100 juta rupiah bersih untuk juara pertama. Tidak hanya sampai di situ saja daya tariknya, sang pemenang utama juga akan mendapat kesempatan langka yang sangat berharga untuk berkenalan dan bertatap muka langsung dengan Viona.

Viona adalah cucu semata wayang dari sang konglomerat penguasa tunggal wilayah Utara yang mengendalikan hampir seluruh roda bisnis di kota ini. Bagi orang-orang kecil yang mengais rezeki di pasar ini, Viona adalah sosok yang tak tersentuh di puncak menara gading—cantik, kaya, berkuasa, dan memiliki pengaruh sosial yang sangat besar untuk mengubah nasib seseorang dalam semalam.

"Minggir! Aku duluan yang mau daftar! Jangan menghalangi jalan!" teriak seorang pria berbadan kekar dari arah belakang."Jangan dorong-dorong! Sadar diri, badan krempeng begitu mau ikut tarung! Cari mati saja kamu!" sahut suara lain dari tengah kerumunan yang mulai memanas.

Suasana di sekitar papan pengumuman mendadak berubah menjadi chaos dan tidak terkendali. Warga saling dorong dan berdesakan demi bisa mencapai meja pendaftaran darurat yang dijaga ketat oleh beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian rapi serba hitam. Arus massa yang saling sikut di area sempit itu terasa sangat kuat dan liar. Entah bagaimana jalannya cerita, tubuh tegap Bima yang tadinya hanya berniat berdiri diam untuk menonton di lingkaran luar sebelum pergi, justru terdorong hebat oleh kepungan orang-orang di belakangnya. Kekuatan dorongan massa yang masif itu melemparkannya maju ke barisan paling depan, tepat menubruk pinggiran meja kayu di hadapan petugas pendaftaran yang sedang sibuk.

Pria paruh baya yang bertugas mencatat nama para pendaftar seketika mendongak akibat guncangan meja. Ia menatap Bima yang tampak kebingungan di depan mejanya dengan pandangan menilai. Tanpa bertanya lebih lanjut, petugas itu langsung menyodorkan selembar kertas formulir putih dan sebuah pena hitam ke hadapan Bima.

"Silakan, Nak, isi formulirnya sekarang selagi antrean belum semakin menggila," ucap petugas itu dengan suara yang ramah namun bernada tegas, tidak ingin membuang waktu sedetik pun.

Bima tertegun memandangi kertas di depannya. Kesadarannya langsung pulih, lalu dengan cepat dia menggelengkan kepala sambil melambaikan kedua tangannya di udara sebagai tanda penolakan. "Ti-tidak, Tuan. Saya ke sini hanya untuk melihat karena penasaran. Saya sama sekali tidak berniat mendaftar. Saya terdorong dari belakang oleh kerumunan tadi hingga sampai ke sini.

Saya harus segera pergi karena ada urusan penting yg lain."

Petugas pendaftaran itu terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap postur tubuh Bima secara mendalam dari ujung kepala hingga dada. Ia memperhatikan tubuh Bima yang tinggi, tegap, proporsional, dan terutama memiliki sorot mata yang sangat tajam serta dingin—sebuah tatapan yang sangat berbeda jauh dari warga pasar kebanyakan yang penuh dengan ketakutan atau keserakahan yang dangkal.

"Ahhh... pemuda tanpa ambisi bukan pemuda namanya," sindir petugas itu pelan, senyum misterius terukir di wajahnya yang keriput sambil tangannya kembali menepuk-nepuk lembaran formulir di atas meja, mengisyaratkan Bima untuk berpikir ulang.

Isi saja, Nak. Siapa tahu dewi keberuntungan sedang berpihak padamu hari ini. Ingat, hadiahnya cukup besar untuk mengubah seluruh jalan hidupmu. Seratus juta rupiah tunai bisa mengubah nasibmu di kota ini, menjadi orang terpandang dalam sekejap," lanjut sang petugas, mencoba meyakinkan Bima dengan nada membujuk yang sangat halus namun menusuk tepat ke dalam ruang logikanya.

Bima menatap diam pena di tangan petugas tersebut selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Pandangan matanya kemudian beralih, menatap angka nominal "100.000.000" yang tertulis dengan warna merah menyala di baliho besar di atas kepala mereka. Otak taktisnya yang lama mati suri kini mulai berputar dengan sangat cepat, melakukan kalkulasi matematis yang rumit di luar kendalinya.

Uang sebanyak itu jelas bukan jumlah yang sedikit bagi seorang petani jagung seperti dirinya. Jika dia memiliki uang seratus juta rupiah, dia tidak perlu lagi mencemaskan biaya logistik yang harus dikeluarkan selama proses pencarian keluarga Joni yang entah akan memakan waktu berapa lama. Lebih dari itu, uang tersebut bisa menjadi modal yang sangat besar untuk menjamin kelayakan hidup ibu serta membiayai pendidikan adik perempuan mendiang sahabatnya jika nanti mereka berhasil ditemukan. Janjinya pada mendiang Joni bisa terlaksana dengan sangat mapan tanpa terkendala masalah finansial sama sekali.

Bima menarik napas dalam-dalam, merasakan beratnya keputusan yang harus dia ambil dalam hitungan detik di tengah riuh rendah suara ratusan manusia yang saling berteriak di sekelilingnya. Pikirannya kini terbelah hebat antara fokus utamanya untuk segera mencari studio foto hari ini, atau mengambil peluang emas di depan mata yang bisa mempermudah misinya ke depan. Jemari tangannya perlahan bergerak maju, mendekati pena yang disodorkan oleh petugas pendaftaran.

perjodohan

Pada Minggu sore, alun-alun bergemuruh oleh sorakan penonton yang mengelu-elukan nama Bima. Yah, Bimalah yang menjadi juara pertama pada pertarungan itu. Keberanian dan ketangguhannya di atas arena berhasil menyihir seluruh pasang mata yang menyaksikannya. Tidak terkecuali para penonton wanita yang langsung bersorak histeris tanpa malu-malu.

"Bimaaaaaa, aku cinta kamu...!"

"Bimaaaaa, kita nikaaaahhhh yuukkk!"

"Bimaaa, rahimku hangat...!"

Mendengar seruan yang kelewat berani itu, para penonton lain langsung menoleh serentak ke arah sumber suara. Keheningan sempat tercipta sesaat sebelum akhirnya desas-desus menggelitik mulai terdengar di antara kerumunan pria.

"Hedeh, wanita sekarang memang terlalu agresif," komentar mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala, separuh tak habis pikir dan separuh lagi iri dengan pesona sang juara baru.

Bima yang berdiri di tengah arena hanya bisa tersenyum canggung, mencoba mengabaikan sorakan liar yang membuat telinganya sedikit memerah. Di saat riuh rendah penonton masih memenuhi udara sore, tak lama ada seorang pelayan yang mulai menaiki arena dan berjalan menghampiri Bima dengan langkah teratur.

"Maaf, Tuan Bima. Aku disuruh Nyonya Besar untuk menyambut Anda," ucap pelayan itu sambil membungkuk hormat, memotong keriuhan di sekitar mereka.

"Terima kasih, Pak," kata Bima sambil menyeka keringat di pelipisnya. Namun, dia melihat ke bawah, memperhatikan kondisi tubuhnya yang penuh debu arena. "Namun, seperti yang Anda lihat, badan saya lengket dan bau. Saya harus membersihkan diri dulu. Tak pantas rasanya kalau menghadap Nyonya Besar dengan keadaan begini."

Pelayan itu tersenyum tipis, seolah sudah memprediksi kekhawatiran Bima. "Tuan Bima ikut saja. Semua keperluan sudah kami sediakan."

Tanpa memberikan ruang untuk mendebat, pelayan tersebut mengarahkan Bima menuju sebuah mobil hitam mewah yang sudah menunggu di balik barisan pengawal. Bima akhirnya melangkah masuk, membiarkan dirinya dibawa pergi meninggalkan riuh pasar yang perlahan mengecil di kejauhan.

Mobil mewah dengan suspensi empuk itu akhirnya berhenti tepat di depan teras sebuah mansion megah bergaya Eropa klasik. Pintu mobil terbuka, dan Bima melangkah keluar dengan penampilan yang benar-benar berubah drastis.

Pakaian lamanya yang berupa celana kain lusuh penuh noda tanah dan kaus oblong yang pudar telah digantikan oleh setelan modern yang disiapkan khusus untuknya. Bima kini mengenakan celana bahan premium berwarna hitam pekat yang jatuh dengan pas di kakinya, dipadukan dengan kemeja putih bersih yang kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka satu, serta dibalut dengan jas kasual berwarna abu-abu tebal. Potongan pakaian yang pas badan itu mencetak dengan jelas lekuk tubuh Bima yang atletis, dada yang bidang, dan bahu kokoh yang terbentuk dari latihan militer bertahun-tahun.

Rambutnya yang hitam kini tertata rapi setelah basah oleh air. Kombinasi antara wajah maskulin dengan tegas, kulit sedikit kecokelatan yang eksotis, dan gaya berpakaian kasual-elegan tersebut memancarkan aura karisma yang sangat kuat. Siapa pun wanita yang melihat perubahan drastis ini pasti akan langsung terpesona, terpaku memandang ketampanan yang matang dan berwibawa dari sang mantan komandan regu pasukan khusus.

Pelayan tua yang bertemu di depan sepasang pintu gantung berukiran emas yang megah, lalu membukanya dengan gerakan perlahan. "Silakan masuk, Tuan Bima. Nyonya Besar dan Nona Viona sudah menunggu Anda di dalam," ucap pelayan itu sembari membungkuk hormat.

Bima mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih, lalu melangkah melewati ambang pintu. Ruang tamu utama mansion tersebut jauh lebih luas dari perkiraannya, didominasi oleh perabotan klasik bergaya Eropa dengan jendela-jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah taman bunga yang asri di area luar. Di salah satu sudut ruangan, tepat di atas sofa beludru berwarna merah marun, duduk dua orang wanita yang menjadi pusat perhatian di tempat itu.

Wanita pertama adalah seorang lansia berambut putih yang disanggul rapi. Meskipun usianya sudah senja dan wajahnya dipenuhi garis-garis keriput, pandangan matanya tetap terlihat tajam, cerdas, dan memancarkan wibawa yang luar biasa besar sebagai Nyonya Besar dari keluarga konglomerat penguasa wilayah Utara. Sementara di sebelah wanita tua itu, duduk seorang gadis muda yang kecantikannya sanggup membuat siapa saja menahan napas.

Gadis itu adalah Viona. Dia memiliki sepasang mata bulat yang indah dengan bulu mata lentik, hidung mancung yang sempurna, serta bibir tipis kemerahan yang saat ini tampak sedikit dikerutkan. Rambut panjangnya yang berwarna hitam kecokelatan dibiarkan tergerai indah membingkai wajahnya yang oval. Viona mengenakan gaun kasual berwarna biru muda yang mengekspos bagian bahunya, memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya yang sangat proporsional, ramping, sekaligus elegan khas seorang putri bangsawan modern. Namun, di balik penampilannya yang bak malaikat tersebut,

Sifat tsundere-nya masih melekat sangat kuat. Ego dan harga dirinya yang tinggi sebagai cucu tunggal semata wayang dari orang paling berpengaruh di wilayah Utara membuatnya enggan menunjukkan rasa kagum secara terang-terangan kepada orang lain, terutama kepada seorang pemuda yang baru saja datang dari kalangan bawah seperti Bima.

Melihat kehadiran Bima, Nyonya Besar tersenyum hangat dan mengangguk ramah, menyiratkan rasa puas setelah melihat ketegasan pemuda yang memenangkan kompetisi tersebut. Di sisi lain, Viona sempat terkesima beberapa detik saat matanya menangkap sosok Bima yang sekarang. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat melihat betapa gagah dan karismatiknya pria yang berdiri di depannya sekarang. Ada semburat merah tipis yang sempat mampir di kedua pipinya, namun dengan cepat dia memalingkan wajahnya ke arah lain, melipat kedua tangannya di depan dada, dan memasang wajah cemberut yang ketat untuk menutupi rasa gugup serta ketertarikannya.

"Jadi, ini yang namanya Bima? Si pemenang turnamen pasar itu?" ucap Viona dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan meremehkan. Dia melirik Bima dari sudut matanya dengan dahi berkerut. "Penampilanmu setelah berganti baju memang lumayan, tidak seburuk saat di ring tadi penuh keringat. Tapi tetap saja, aku tidak menyangka Nenek sampai harus mengadakan kompetisi besar-besaran hanya untuk mencari orang seperti ini. Padahal banyak pria terhormat di luar sana yang jauh lebih meyakinkan daripada seorang petarung jalanan."

Mendengar ucapan ketus dari cucunya, Nyonya Besar hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepala perlahan, memaklumi tabiat Vioan yang selalu sulit jujur pada perasaannya sendiri. "Viona, jaga bicaramu. Tidak sopan menyambut tamu kehormatan kita dengan kata-kata seperti itu," tegur Nyonya Besar dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan. Beliau kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Bima, memberi isyarat tangan agar pemuda itu duduk di sofa tunggal yang berada di hadapan mereka. "Silakan duduk, Bima. Jangan masukkan ke dalam hati ucapan cucuku ini. Dia memang anak yang manja dan keras kepala, tetapi sebenarnya dia tidak bermaksud buruk."

Bima tersenyum santai, sama sekali tidak merasa tersinggung oleh sikap sinis yang ditunjukkan oleh Viona. Baginya, intimidasi atau kata-kata ejekan seperti itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tekanan mental yang pernah dia hadapi di medan pertempuran yang sesungguhnya. Dia melangkah maju lalu menduduki sofa tersebut dengan posisi tubuh yang tetap tegak namun santai.

"Terima kasih atas sambutannya, Nyonya Besar. Saya sama sekali tidak mempermasalahkannya," jawab Bima dengan suara baritonnya yang tenang dan terdengar sangat dewasa. Dia kemudian mendapat kesempatan melirik ke arah Vioan yang masih memalingkan wajah dengan ekspresi angkuh. "Nona Viona benar, saya hanyalah seorang pemuda biasa yang kebetulan beruntung hari ini. Jadi sangat wajar jika Nona merasa sangsi dengan kehadiran saya."

Mendengar jawaban Bima yang begitu tenang dan tidak terpancing emosi, Viona justru merasa sedikit kesal sekaligus penasaran. Biasanya, para pemuda kaya atau pria-pria yang mencoba mendekatinya akan langsung gugup, salah tingkah, atau justru pamer kekuatan di hadapannya demi mendapatkan perhatian. Namun, pria di depannya ini justru bersikap sangat acuh, tenang, dan memiliki sorot mata yang begitu dalam seolah-olah bisa membaca setiap isi pikirannya.

"Hmph! Baguslah kalau kamu sadar diri," sahut Viona ketus, meskipun dalam hatinya dia mulai mengagumi ketenangan yang ditunjukkan oleh Bima. Dia membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Bima dengan pandangan menyelidik. "Jangan kira karena kamu sudah menang tarung tangan kosong di luar sana, kamu bisa bersikap santai di sini. Menjadi pemenang di kompetisi itu hanya memberimu kesempatan untuk mengenalku, bukan berarti kamu bisa langsung menjadi bagian penting dari keluarga ini. Uang 100 juta itu sudah lebih dari cukup untuk membayar keringatmu, kan?"

"Viona, cukup," potong Nyonya Besar, kali ini dengan nada yang sedikit lebih berat, membuat cucunya itu akhirnya terdiam dan memilih untuk mengerucutkan bibirnya melirik ke jendela luar. Nyonya Besar kemudian menatap Bima dengan tatapan yang penuh arti dan kehangatan. "Bima, aku sengaja menyuruh pelayanku untuk membawamu langsung ke sini karena aku tidak hanya mencari seorang pemenang pertarungan. Kompetisi yang diadakan hari ini sebenarnya adalah cara terselubung untuk menyaring pemuda-pemuda terbaik di kota ini."

Nyonya Besar menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah Vioan yang mulai tampak gelisah, lalu kembali menatap Bima dengan senyum penuh rencana. "Vioan adalah cucu tunggal sewenang-wenangku, satu-satunya penerus silsilah keluarga konglomerat Utara yang tersisa. Aku sudah terlalu tua untuk terus mengurusnya, dan aku membutuhkan seorang pria yang kuat, bermental baja, serta mampu membimbingnya di masa depan. Singkatnya, Bima... aku ingin menjodohkanmu dengan cucuku, Viona."

Mendengar pernyataan blak-blakan dari neneknya, Viona langsung melompat berdiri dari sofanya dengan mata terbelalak kaget dan wajah yang memerah sempurna sampai ke telinga.

"Apa?!

Nenek, apa-apaan ini?!

Dijodohkan?!

Kenapa tiba-tiba bicara soal perjodohan, apalagi dengan orang asing yang baru beberapa menit lalu masuk ke rumah kita ini?!

Aku tidak mau! Aku tidak sudi dijodohkan dengan pria dari pasar!" protes Viona dengan nada suara yang meninggi dan napas yang terengah-engah. Dada besarnya naik turun menahan rasa campur aduk antara kesal, malu, dan debaran jantung yang tiba-tiba berpacu sangat liar membayangkan dirinya menjadi istri dari pemuda gagah di depannya.

"Duduk kembali, Viona. Keputusanku tidak bisa diganggu gugat," ujar Nyonya Besar dengan nada tenang namun mematikan, seketika membuat Viona mati kutu. Gadis cantik itu akhirnya dengan terpaksa menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa dengan kasar, memalingkan wajahnya sejauh mungkin ke arah jendela luar, menutupi rona merah merona di pipinya yang semakin matang. Dia terus mendengus kesal dengan melipat tangannya erat-erat, benar-benar menunjukkan sisi tsundere-nya yang sedang meledak-ledak.

Sementara itu, Bima tertegun di tempat duduknya. Lamaran mendadak ini benar-benar di luar kalkulasinya. Menolak mentah-mentah tawaran dari penguasa Wilayah Utara tentu akan menutup semua jalannya untuk bertahan di kota ini. Namun di sisi lain, menerima perjodohan ini berarti dia akan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan tertinggi Kota Barat—sebuah posisi yang sangat strategis untuk mengumpulkan dana besar, membangun relasi, dan mempermudah segala tujuannya di masa depan untuk menepati janji pada mendiang Joni. Hadiah 100 juta saja sudah di tangan, dan kini status sebagai calon menantu konglomerat Utara terbuka lebar di hadapannya.

Bima menarik napas dalam-dalam, menatap Nyonya Besar dengan pandangan mata yang mantap dan penuh rasa hormat. "Nyonya Besar, sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya yang hanya orang biasa ini. Jika Nyonya Besar menaruh harapan sebesar itu kepada saya untuk mendampingi Nona Vioan, maka saya tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Saya bersedia menerima perjodohan ini."

Mendengar kalimat persetujuan Bima yang terdengar begitu jantan, tegas, dan tanpa keraguan, jantung Viona kembali berdenyut hebat bagai dihantam ombak. Dia melirik Bima dari balik helaian rambutnya, menggigit bibir bawahnya karena merasa kalah telak. Namun dasar sifat gengsinya yang setinggi langit, dia tetap saja mendengus pelan dan bergumam dengan suara yang sangat lirih, "Dasar pria tidak tahu malu... langsung setuju saja karena melihat kekayaan keluargaku. Awas saja kamu nanti..."

Nyonya Besar tertawa renyah, merasa sangat puas karena rencananya berjalan mulus. Pertemuan sore itu akhirnya menutup lembaran kompetisi pasar dan resmi membuka babak baru yang penuh dengan intrik dalam kehidupan Bima. Status barunya sebagai calon suami dari putri konglomerat Utara kini telah resmi dimulai, mengikat takdirnya bersama sang gadis tsundere dalam lingkaran takdir yang baru.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!