Malam menyelimuti Ibukota Kekaisaran Zhou, Weiyang.
Di sudut Penginapan Kayu Mawar, sebuah taman kecil tampak sunyi. Cahaya bulan jatuh lembut di atas rerumputan yang masih basah oleh embun. Sesekali angin malam berembus, menggoyangkan dedaunan dan membuat bayangan pepohonan menari perlahan di atas tanah.
Seorang remaja duduk sendirian di bangku kayu. Tatapannya mengarah ke langit yang dipenuhi bintang. Itu adalah Gao Rui. Hari ini, usianya genap empat belas tahun.
Beberapa saat yang lalu, aula utama penginapan dipenuhi tawa dan suara ucapan selamat. Lampion-lampion merah menghiasi setiap sudut ruangan. Meja-meja dipenuhi hidangan terbaik, sementara para tamu dari berbagai kalangan memenuhi aula untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.
Sampai sekarang pun, Gao Rui masih merasa semuanya seperti mimpi.
Ia tersenyum tipis.
"...Bibi Ya..."
Lan Suya, nama itu langsung terngiang di kepalanya. Lan Suya adalah pemimpin kelompok dagang yang cukup besar di Kekaisaran Zhou. Nama kelompok dagangnya adalah Harta Langit.
Ia benar-benar tidak menyangka Lan Suya telah menyiapkan kejutan sebesar itu. Bahkan, temannya, Pangeran Hong ikut bekerja sama demi membawa dirinya keluar dari penginapan selama hampir dua hari penuh agar semua persiapan bisa dilakukan tanpa diketahui.
Kalau dipikir-pikir sekarang, ajakan berburu itu memang terasa sangat mendadak. Perburuan yang biasanya selesai dalam sehari justru diperpanjang hingga keesokan harinya. Mereka bahkan sempat berhenti di sebuah desa hanya untuk mandi dan berganti pakaian sebelum kembali ke ibukota.
Saat itu Gao Rui sempat merasa semuanya terasa aneh. Namun kini semuanya telah terjawab.
Ia terkekeh pelan.
"...aku benar-benar dikerjai."
Senyumnya perlahan berubah menjadi lebih hangat.
Sejak kecil, ia bahkan tidak pernah tahu seperti apa rasanya merayakan ulang tahun. Tidak pernah ada hadiah dan tidak pernah ada orang yang mengingat tanggal kelahirannya. Baginya, hari ulang tahun hanyalah hari yang sama seperti hari-hari lainnya.
Namun malam ini berbeda. Ada orang-orang yang mengingatnya dan ada orang-orang yang dengan tulus berharap dirinya bahagia. Perasaan itu begitu asing. Namun juga sangat hangat.
Gao Rui kembali mengangkat kepalanya menatap langit. Senyumnya perlahan memudar, berganti menjadi tatapan yang sedikit jauh.
Tanpa sadar ia bergumam.
"...setahun..."
Baru satu tahun berlalu. Namun kehidupannya benar-benar berubah dalam waktu yang sangat singkat.
Pikirannya perlahan kembali ke masa lalu. Saat itu, ia hampir mati. Kakak seperguruannya sendiri berusaha membunuhnya karena alasan yang konyol. Tubuhnya dibuang ke sungai yang deras.
Dalam keadaan terluka parah, ia hampir tenggelam. Kalau saat itu tidak ada seseorang yang menolongnya, mungkin namanya menghilang dari dunia ini.
Bayangan seseorang perlahan muncul di benaknya. Boqin Changing, pria itulah yang menyelamatkan hidupnya.
Tidak hanya menyelamatkan. Boqin Changing bahkan mengubah seluruh hidupnya.
Di bawah bimbingan pria itu, ia belajar ilmu pedang. Ia juga belajar memanah, bertarung, dan belajar mengenal dunia persilatan. Ia menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dibanding dirinya dulu.
Bukan hanya itu. Boqin Changing juga memberinya kekayaan yang bahkan tidak berani ia bayangkan sebelumnya. Kepemilikan saham di Rumah Dagang Harta Langit, hubungannya dengan Lan Suya, berbagai harta langka, bahkan orang-orang hebat yang kini berada di sekitarnya. Semua itu bermula karena satu pertemuan di sungai.
Namun tatapan Gao Rui sedikit meredup. Pada akhirnya mereka tetap harus berpisah. Gurunya memilih berjalan di jalannya sendiri. Sedangkan dirinya harus menempuh jalannya sendiri pula.
Ia menghela napas panjang.
"Guru..."
Rasa rindu perlahan muncul di dalam dadanya.
Padahal, kalau dihitung, mereka belum berpisah terlalu lama. Namun entah kenapa. Malam ini ia benar-benar ingin bertemu lagi dengan pria itu.
Ia kembali menatap langit yang dipenuhi bintang. Lalu tersenyum kecil.
Gao Rui nampak berdoa.
"Semoga... aku bisa segera berpetualang lagi bersamamu, Guru."
Hum...
Begitu kalimat itu selesai terucap, udara di samping taman tiba-tiba bergetar.
Alis Gao Rui langsung berkerut.
"...?"
Ia menoleh.
Di ruang kosong beberapa meter di samping bangku tempatnya duduk, muncul sebuah retakan. Retakan itu perlahan membesar.
Krak... Krak... Krak...
Ruang di sekitarnya seperti pecah layaknya kaca.
Cahaya hitam dan biru berputar di dalam retakan tersebut. Semakin lama, semakin besar. Dalam hitungan napas, retakan itu berubah menjadi sebuah lingkaran besar. Itu adalah portal dimensi.
Mata Gao Rui langsung membesar.
"Apa itu...?"
Belum sempat ia bereaksi, sebuah langkah kaki terdengar dari dalam portal.
Tap.
Seorang pria bertubuh tinggi besar berjalan perlahan melewati cahaya hitam kebiruan itu. Pundaknya lebar, tubuhnya tinggi besar.
Ia mengenakan pakaian gelap sederhana tanpa sedikit pun hiasan mencolok. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat panjang. Sementara di pinggangnya, tergantung sepasang pedang hitam kembar.
Begitu kedua kakinya benar-benar menginjak tanah...
Krek...
Tongkat panjang di tangannya mendadak dipenuhi retakan. Retakan itu menyebar sangat cepat.
Plak!
Tongkat tersebut pecah menjadi serpihan-serpihan cahaya. Serpihan itu melayang sesaat sebelum menghilang ke udara.
Pada saat yang sama portal dimensi di belakang pria itu mulai mengecil.
Hum...
Beberapa detik kemudian, portal itu benar-benar lenyap.
Taman kembali sunyi. Pria bertubuh besar itu berdiri diam. Ia mengamati sekeliling dengan ekspresi kebingungan.
Tatapannya menyapu pepohonan, bangunan penginapan dan jalan setapak. Lalu ia bergumam pelan,
"...tempat ini..."
Ia berhenti sejenak.
"...sudah jauh berbeda."
Sejak tadi Gao Rui hanya memperhatikannya dari bangku taman. Naluri seorang pendekarnya mengatakan bahwa pria ini sangat kuat. Namun anehnya, pria itu seakan belum menyadari keberadaannya.
Sementara itu, pria bertubuh besar tersebut akhirnya memutar tubuhnya. Tatapannya bergerak ke arah bangku taman dan mata mereka bertemu.
Suasana mendadak menjadi sunyi. Tidak ada yang berbicara dan tidak ada yang bergerak. Hanya saling menatap.
Mata Gao Rui perlahan membesar. Di saat yang sama mata pria bertubuh besar itu juga membesar. Keduanya tampak sama-sama terkejut.
Lalu, hampir dalam waktu yang bersamaan mereka spontan berseru,
"...Eh?"
Suasana kembali hening. Gao Rui dan pria bertubuh tinggi besar itu masih saling memandang. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.
Beberapa saat kemudian, pria itu perlahan mengangkat telunjuknya. Bukannya mencabut pedang atau bersiap menyerang. Ia justru menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.
"Sst..."
Gerakannya sangat pelan. Seolah sedang memberi isyarat agar Gao Rui tidak mengeluarkan suara.
Gao Rui berkedip. Entah mengapa, ia justru menganggukkan kepala kecil.
"..."
Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti kenapa ia menuruti isyarat pria asing itu. Mungkin karena ia tidak merasakan sedikit pun niat membunuh dari orang tersebut.
Melihat Gao Rui mengangguk, pria itu tersenyum tipis. Senyum itu terlihat sangat tulus.
Pria itu bergumam pelan, seolah sedang mengingat sesuatu.
"...kalau tidak salah..."
Tatapannya menyapu jalan setapak di depannya.
"...dari tempat ini... aku harus berjalan dua puluh langkah ke depan."
Gao Rui yang masih duduk di bangku taman memasang telinga. Pria itu mulai melangkah. Ia berjalan perlahan sambil sesekali melihat ke sekeliling.
Gao Rui tanpa sadar ikut menghitung langkahnya.
Satu... Lima... Sepuluh... Lima belas... Dua puluh. Pria itu akhirnya berhenti.
Di depannya terbentang sebuah kolam ikan yang airnya memantulkan cahaya bulan. Di sekeliling kolam terdapat beberapa batu besar yang ditata dengan indah sebagai hiasan taman. Tempat itu tampak sangat biasa.
Namun, begitu sampai di sana, pria bertubuh besar itu perlahan berlutut.
Bruk.
Kedua lututnya menyentuh tanah. Kepalanya tertunduk.
Beberapa detik kemudian, bahu pria itu mulai bergetar. Setetes air mata jatuh ke rerumputan. Lalu disusul tetesan berikutnya.
Gao Rui terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka pria yang tampak sangat kuat, justru menangis sendirian di tengah taman.
Dengan suara lirih, pria itu membuka mulut.
"...Ayah... Ibu..."
Ia menarik napas panjang.
"...maaf... aku baru sempat menjenguk kalian."
Suara itu terdengar begitu berat. Penuh penyesalan yang telah dipendam sangat lama.
Gao Rui tidak berani bergerak sedikit pun. Ia hanya mendengarkan dari kejauhan.
Pria itu tersenyum tipis di sela tangisnya.
"...sekarang aku sudah berubah."
Tangannya mengepal perlahan.
"...tidak ada lagi orang yang takut kepadaku."
Ia mengusap air matanya.
"Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi."
Ia tertawa kecil. Meski tawa itu terdengar jauh lebih menyedihkan daripada tangisan.
"...aku juga sudah punya teman dan seseorang yang sangat ku hormati."
Pria itu terus berbicara. Menceritakan kehidupannya sekarang. Tentang perjalanan panjang yang telah ia lalui. Tentang dirinya yang akhirnya menemukan tujuan hidup.
Sesekali ia tertawa kecil. Sesekali kembali terdiam. Seolah benar-benar sedang berbincang dengan kedua orang tuanya.
Di kejauhan, Gao Rui hanya bisa memandang tanpa mengganggu. Dalam benaknya mulai muncul sebuah kesimpulan.
"...dia sedang mengunjungi... makam kedua orang tuanya."
Namun, beberapa detik kemudian alis Gao Rui perlahan berkerut. Tatapannya kembali mengarah ke depan pria itu.
Di sana hanya ada kolam ikan, air yang tenang, dan beberapa batu besar yang mengelilinginya. Tidak ada batu nisan dan tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu adalah sebuah makam.
"...eh?"
Gao Rui semakin bingung.
“Kalau begitu dengan siapa pria itu berbicara?”
Ia mulai berpikir. Siapa sebenarnya pria aneh yang tiba-tiba muncul dari sebuah portal dimensi di taman Penginapan Kayu Mawar, tepat di tengah malam seperti ini?
Gao Rui tetap duduk di bangku taman. Pandangannya tidak pernah lepas dari pria bertubuh tinggi besar itu.
Bahu pria itu masih bergetar pelan. Isak tangisnya belum berhenti. Tangannya sesekali menyentuh tanah di depan kolam, seolah benar-benar sedang berada di hadapan makam kedua orang tuanya.
Pemandangan itu terasa begitu ganjil. Pria itu memiliki tubuh yang besar. Pundaknya lebar dengan kedua pedang hitam di pinggangnya memancarkan aura yang membuat siapa pun akan menganggapnya sebagai pendekar yang kuat. Namun sekarang, pria yang terlihat begitu kuat itu justru menangis sesenggukan seperti seorang anak kecil yang telah lama menahan kesedihan.
Gao Rui menghela napas pelan. Ia sebenarnya mengerti alasan pria itu menangis.
Sejak tadi, diam-diam ia meningkatkan kemampuan pendengarannya hingga beberapa kali lipat. Seluruh ucapan pria itu terdengar jelas di telinganya.
Ia tahu, pria itu seolah sedang berbicara kepada ayah dan ibunya. Bukan sekadar berbicara melainkan sedang mencurahkan seluruh isi hatinya kepada mereka. Namun justru itulah yang membuat Gao Rui semakin bingung.
Tatapannya kembali mengarah ke kolam ikan. Airnya tenang. Beberapa ikan koi berenang perlahan di bawah cahaya bulan. Batu-batu besar yang mengelilinginya hanyalah hiasan taman yang sengaja dibuat agar terlihat indah.
Ini adalah Penginapan Kayu Mawar. Salah satu penginapan paling mewah di Ibukota Weiyang.
"...apa benar ada makam di taman seperti ini?"
Gao Rui bergumam dalam hati.
Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Namun ia memilih tetap diam. Ia tidak berniat mengganggu pria itu. Sebaliknya, ia terus mendengarkan.
Suara pria bertubuh besar itu terdengar lirih.
"...Ayah... Ibu... aku benar-benar minta maaf... aku terlalu lama baru bisa kembali."
Tangisnya kembali pecah.
Ia menceritakan kehidupannya sekarang. Tentang perjalanan yang sangat panjang. Tentang bagaimana akhirnya ia bertemu seseorang yang mengubah hidupnya.
Tentang bagaimana kini ia tidak lagi dibenci. Tidak lagi ditakuti dan tidak lagi hidup sendirian.
Nada suaranya begitu pelan. Namun justru karena itulah setiap kalimat terdengar semakin menyedihkan.
Gao Rui tanpa sadar mengepalkan tangannya. Masa lalunya sendiri sebenarnya juga tidak indah. Ia pernah dikhianati, hampir dibunuh, dan dibuang ke sungai hingga nyaris kehilangan nyawa.
Namun entah kenapa. Setelah mendengar cerita pria asing itu, Gao Rui justru merasa masa lalunya sendiri masih jauh lebih ringan. Pria itu sepertinya telah melalui penderitaan yang bahkan tidak sanggup ia bayangkan.
Suasana taman kembali sunyi. Hanya terdengar suara isakan pelan.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba langkah kaki terdengar dari arah lorong penginapan.
Gao Rui langsung menoleh. Empat orang penjaga Penginapan Kayu Mawar sedang berjalan cepat menuju taman.
Salah seorang dari mereka berbisik.
"Itu dia."
"Ada orang asing masuk ke taman."
"Entah bagaimana dia bisa masuk."
Penjaga lain mengangguk.
"Ayo. Kita usir sebelum mengganggu para tamu."
Mereka segera mempercepat langkah.
Gao Rui yang melihat itu langsung mengerti situasinya. Para penjaga jelas tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Bagi mereka, pria bertubuh besar itu hanyalah penyusup yang tiba-tiba muncul di tengah malam.
Namun Gao Rui tahu. Pria itu sedang "menjenguk" kedua orang tuanya. Apa pun alasan sebenarnya, ia tidak tega melihat pria itu diusir saat sedang menangis seperti sekarang.
"..."
Gao Rui terdiam beberapa saat. Ia mulai bimbang. Haruskah ia membiarkan para penjaga menjalankan tugas mereka? Atau ia harus membantu pria asing yang bahkan belum ia kenal?
Sesaat kemudian, ia mengambil keputusan.
Tap!
Tubuh Gao Rui menghilang dari bangku taman. Dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di depan para penjaga.
Keempat penjaga itu langsung menghentikan langkah. Mereka terkejut.
"Tuan Muda Rui?"
Begitu mengenali wajah Gao Rui, keempatnya buru-buru membungkukkan badan dengan hormat.
"Salam, Tuan Muda."
Gao Rui tersenyum canggung.
"Ehm..."
Ia melirik sekilas ke arah pria bertubuh besar yang masih berlutut di dekat kolam. Lalu kembali menatap para penjaga.
"Orang itu..."
Ia berhenti sesaat.
"...pamanku."
"..."
Keempat penjaga berkedip hampir bersamaan.
Gao Rui berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya.
"Ia sedang..."
Ia mencari alasan secepat mungkin.
"...e...e..e... sedang mengenang sesuatu."
"Jadi... bisakah kalian tidak mengganggunya dulu?"
Para penjaga saling berpandangan. Tatapan mereka bergantian mengarah kepada Gao Rui, lalu kepada pria bertubuh besar yang masih menangis sendirian. Suasana menjadi sedikit canggung.
Sementara itu, Gao Rui sendiri mulai merasa gugup. Ia hampir tidak pernah berbohong kepada siapa pun. Terlebih lagi, kebohongan ini terdengar sangat mendadak.
Beberapa detik kemudian, salah seorang penjaga akhirnya tersenyum lega.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kami sempat mengira ia penyusup atau pengunjung gelap."
Penjaga lainnya ikut mengangguk.
"Kalau ternyata keluarga Tuan Muda Rui, kami jadi tenang."
"Maaf sudah mengganggu."
Mereka kembali membungkukkan badan dengan sopan.
"Kalau begitu kami kembali berjaga."
Tanpa bertanya lebih jauh, keempat penjaga itu segera berbalik dan meninggalkan taman. Langkah kaki mereka perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang.
Baru setelah mereka benar-benar pergi, Gao Rui mengembuskan napas panjang.
"Huff..."
Ia mengusap pelan dahinya.
"...untung mereka percaya."
Gao Rui masih berdiri di tempatnya. Ia melirik sekilas ke arah pria bertubuh tinggi besar yang masih berlutut di depan kolam.
Pria itu sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Atau mungkin ia menyadarinya, tetapi terlalu tenggelam dalam kesedihannya hingga tidak peduli.
Gao Rui memperhatikannya beberapa saat lagi. Lalu tanpa sadar ia menguap.
"Huaaah..."
Kelopak matanya mulai terasa berat.
Malam sudah terlalu larut. Hari ini juga merupakan hari yang sangat panjang baginya. Mulai dari pesta ulang tahun, kejutan yang disiapkan Lan Suya, hingga kemunculan pria misterius dari sebuah portal dimensi. Ia benar-benar lelah.
Gao Rui menggaruk pelan pipinya.
"...lebih baik aku kembali."
Ia melirik sekali lagi ke arah pria asing itu. Pria tersebut masih duduk berlutut di tempat yang sama. Bahunya sesekali bergetar, sementara suaranya terdengar lirih diterpa angin malam.
Gao Rui menghela napas pelan. Ia memutuskan tidak mengganggunya. Kalau pria itu memang sedang mengenang kedua orang tuanya, mungkin saat ini ia memang membutuhkan waktu sendirian.
Gao Rui pun berbalik. Langkahnya perlahan menjauh meninggalkan taman.
Tidak lama kemudian, suasana kembali sunyi. Hanya cahaya bulan yang menemani seorang pria bertubuh besar yang masih berlutut sendirian di tepi kolam.
...*******...
Keesokan harinya, sinar matahari sudah cukup tinggi ketika Gao Rui akhirnya membuka matanya.
"...hmm..."
Ia berkedip beberapa kali. Biasanya ia sudah bangun sejak fajar. Namun mungkin karena semalam tidur terlalu larut, kali ini ia benar-benar terlambat bangun.
Setelah merapikan tempat tidur, ia segera membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, Gao Rui keluar dari kamarnya.
Perutnya mulai terasa lapar. Ia pun berjalan menuju ruang makan utama Penginapan Kayu Mawar. Saat memasuki ruangan itu, Gao Rui sedikit terkejut.
"...sepi?"
Biasanya pada jam seperti ini sudah ada beberapa anggota Harta Langit yang sedang sarapan sambil membahas urusan dagang.
Harta Langit merupakan salah satu kelompok dagang terbesar di Kekaisaran Zhou. Kelompok itu dipimpin langsung oleh Lan Suya.
Sedangkan dirinya kini juga merupakan salah satu pemilik Harta Langit. Semua itu berawal dari campur tangan gurunya di masa lalu yang memberinya bagian kepemilikan kelompok dagang tersebut.
Namun pagi ini tidak terlihat satu pun wajah yang dikenalnya. Mungkin Lan Suya dan yang lainnya sedang keluar mengurus bisnis.
Gao Rui tidak terlalu memikirkannya. Ia memilih sebuah meja di dekat jendela lalu duduk. Tidak lama kemudian beberapa pelayan menghidangkan sarapan. Semangkuk bubur hangat, beberapa lauk sederhana, dan secangkir teh.
Gao Rui mulai makan dengan santai. Suasana ruang makan begitu tenang.
Sambil menikmati makanannya, pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam. Tentang pria asing yang tiba-tiba muncul dari portal dimensi.
Tentang pria bertubuh tinggi besar yang menangis sesenggukan di depan sesuatu yang ia anggap sebagai makam kedua orang tuanya. Malam tadi, ia benar-benar bisa merasakan kesedihan pria itu. Bahkan sampai sekarang pun suara tangisnya masih terngiang di telinganya.
Namun entah kenapa, saat mengingatnya di pagi hari, bayangan itu justru terasa sedikit lucu. Gao Rui membayangkan kembali sosok pria yang begitu besar, membawa dua pedang hitam, namun menangis seperti anak kecil.
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.
"Hehehe..."
Ia tertawa kecil seorang diri. Saat itulah sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
"Boleh aku duduk di sini?"
"...!"
Senyum Gao Rui langsung membeku. Tubuhnya menegang. Ia mengenali suara itu.
Perlahan, dengan gerakan yang sedikit kaku, Gao Rui menoleh ke belakang. Di sana berdiri seorang pria bertubuh tinggi besar. Pundaknya lebar dengan pakaian gelap sederhana. Di pinggangnya, masih tergantung sepasang pedang hitam kembar yang sama seperti semalam.
Itu adalah pria misterius yang muncul dari portal dimensi di taman penginapan ini semalam.
Gao Rui langsung menelan ludah. Ia buru-buru berdiri dari kursinya.
"...Si-silakan, Senior."
Pria bertubuh tinggi besar itu mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Tanpa banyak bicara, ia menarik kursi di hadapan Gao Rui lalu duduk dengan tenang. Kursi kayu itu bahkan sedikit berderit ketika menerima berat tubuhnya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri meja mereka.
"Tuan ingin memesan apa?"
Pria itu melihat daftar hidangan sebentar sebelum menjawab dengan santai.
"Satu ekor bebek panggang."
"Seporsi besar daging sapi rebus."
"Dua mangkuk mi."
"Lima bakpao isi daging."
"Tiga piring nasi."
"Sup ayam."
"Dan... tambahkan semua makanan penutup yang ada."
Pelayan itu berkedip.
"...Ba-baik."
Ia segera mencatat semuanya sebelum bergegas menuju dapur. Sementara itu, Gao Rui hanya bisa memandang pria tersebut dengan wajah sedikit tercengang.
"..."
Menu yang pria ini pesan banyak sekali. Ia sempat mengira pria itu sedang memesan makanan untuk sepuluh orang. Namun dari tadi, pria itu datang sendirian.
Pria bertubuh besar itu seolah menyadari tatapan Gao Rui. Ia tertawa.
"Aku memang saat ini, ingin sedikit lebih banyak makan. Hahaha...."
Gao Rui hanya mengangguk pelan.
"...begitu ya."
Beberapa saat kemudian, setelah pelayan benar-benar pergi, pria itu kembali menatap Gao Rui.
"Ngomong-ngomong... terima kasih."
Gao Rui berkedip.
"...?"
Pria itu melanjutkan dengan nada tenang.
"Semalam. Karena dirimu, para pendekar penjaga penginapan itu tidak menggangguku."
Gao Rui sedikit terkejut.
"Senior... tahu?"
Pria itu mengangguk kecil.
"Aku tahu. Walaupun saat itu aku sedang larut dalam pikiranku, bukan berarti aku tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarku."
Tatapannya terlihat tulus.
"Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin aku sudah diusir sebelum sempat menyelesaikan urusanku."
Gao Rui langsung melambaikan kedua tangannya.
"Ah... tidak masalah. Aku juga sebenarnya hanya kebetulan."
Pria itu memiringkan kepala.
"Kebetulan?"
Gao Rui mengangguk cepat.
"Iya. Aku sebenarnya hendak kembali ke kamar." Lalu bertemu para penjaga penginapan."
"Aku hanya meminta mereka untuk tidak menuju taman dulu untuk sementara waktu."
Ia tersenyum canggung. Jelas Gao Rui beralasan agar kebaikannya tidak diketahui pria ini.
Pria bertubuh besar itu menatap Gao Rui beberapa saat. Lalu...
"Hahaha!"
Ia tertawa cukup keras hingga beberapa tamu lain sempat menoleh ke arah mereka.
"Kau bocah yang menarik."
Gao Rui hanya ikut tersenyum malu.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali merendahkan suaranya.
"Ada satu hal lagi."
Ia menatap lurus ke arah Gao Rui.
"Aku berharap kau bisa merahasiakan kedatanganku. Tentang portal dimensi semalam."
"Aku tidak ingin membuat keributan."
Gao Rui hampir tanpa berpikir langsung menganggukkan kepala.
"Baik, Senior."
Entah mengapa, sejak semalam ia sama sekali tidak merasa pria ini datang dengan niat buruk. Sebaliknya, ia justru merasa pria itu sedang pulang. Pulang ke tempat yang sangat ia rindukan.
Keheningan kembali menyelimuti meja mereka beberapa saat. Akhirnya Gao Rui memberanikan diri bertanya.
"Senior... Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
Pria itu mengangguk.
"Tanyakan saja."
Gao Rui menarik napas pelan.
"Apakah Senior berasal dari Kekaisaran Zhou?"
"Dan... tempat yang Senior datangi semalam..."
"...benarkah itu makam kedua orang tuamu?"
Pria bertubuh besar itu terdiam cukup lama. Kemudian ia mengangguk perlahan.
"Benar. Aku memang berasal dari kekaisaran ini."
"Dan tempat itu..."
Ia berhenti sejenak.
"...seharusnya memang makam kedua orang tuaku."
Gao Rui langsung menangkap satu kata yang terasa janggal.
"Seharusnya?"
Pria itu tersenyum pahit.
"Aku sudah meninggalkan tempat ini sangat lama. Sangat... sangat lama."
"Baru sekarang aku sempat kembali."
Tatapannya menerawang ke luar jendela.
"Dulu... di tempat berdirinya penginapan ini... pernah berdiri sebuah sekte. Orang tuaku dimakamkan di sana."
"Namun sayang, sekte itu telah hancur.."
Gao Rui hanya mengangguk pelan. Ia memang bukan penduduk asli Ibukota, Kota Weiyang.
Selama ini ia hanya mengetahui tempat ini, Penginapan Kayu Mawar sebagai salah satu penginapan terbaik di kota. Tentang sejarahnya, ia sama sekali tidak tahu.
Pria itu kembali bercerita. Tentang sekte yang dahulu berdiri megah. Tentang para murid yang hidup bersama. Tentang kehancuran yang akhirnya datang.
Ia juga menceritakan tentang dirinya yang akhirnya meninggalkan sektenya. Tentang perjalanan yang berlangsung bertahun-tahun.
Gao Rui hanya mendengarkan. Sesekali ia mengangguk. Sesekali matanya membelalak.
Cerita itu terdengar begitu luar biasa. Bahkan lebih pantas disebut legenda daripada kisah nyata.
Dalam hati Gao Rui mulai memiliki satu keyakinan.
“Orang ini... jelas bukan orang biasa.”
Tiba-tiba pria bertubuh besar itu tersenyum kecil.
"Kalau dipikir-pikir... Dulu..."
"...akulah orang terkuat di Kekaisaran Zhou."
Gao Rui yang sedang meminum tehnya hampir tersedak.
"Uhuk!"
Ia buru-buru meletakkan cangkirnya. Alisnya langsung berkerut. Orang terkuat?
Setahunya, orang terkuat di Kekaisaran Zhou saat ini adalah Naga Langit, Yan Luo. Sedangkan sebelum era Yan Luo, gelar itu berada di tangan Hakim Langit, Yuang Dao.
Tatapan Gao Rui kembali jatuh kepada pria di hadapannya. Jangan-jangan pria misterius ini berasal dari generasi yang bahkan lebih tua daripada Yan Luo dan Yuang Dao?
Waktu berlalu tanpa terasa. Satu per satu hidangan di atas meja akhirnya habis. Bebek panggang yang semula utuh kini hanya menyisakan tulangnya. Mangkuk mi telah kosong, begitu pula sup ayam, bakpao, dan berbagai makanan penutup yang tadi memenuhi meja.
Gao Rui sempat beberapa kali melirik pria bertubuh besar itu. Ia benar-benar heran. Dengan tubuh sebesar itu, ternyata semua makanan tersebut benar-benar habis dimakan sendirian. Pelayan yang sejak tadi beberapa kali datang untuk menuangkan teh pun diam-diam ikut tercengang.
Tidak lama kemudian, suasana kembali tenang. Obrolan mereka yang sejak tadi mengalir tanpa henti akhirnya perlahan berakhir.
Pria bertubuh besar itu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengembuskan napas lega.
"Haa..."
Ia kemudian menatap Gao Rui sambil tertawa kecil.
"Hahaha... Sepertinya... aku terlalu banyak bercerita, ya."
Tawanya terdengar ringan, jauh berbeda dengan tangis yang diperlihatkannya semalam.
Gao Rui segera menggeleng sopan.
"Tidak, Senior. Justru aku merasa mendapatkan banyak pengetahuan dari cerita Senior."
Ia tersenyum tulus.
"Selama ini aku belum pernah mendengar kisah seperti itu."
Pria bertubuh besar tersebut memandang Gao Rui beberapa saat. Tatapannya tampak sedikit lebih hangat dibanding sebelumnya. Kemudian ia tertawa kecil.
"Hahaha... Bocah."
"Aku dari tadi terus bercerita."
"Tapi lucunya... aku bahkan belum tahu siapa namamu."
Gao Rui langsung duduk lebih tegak. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya memberi salam hormat.
"Namaku Gao Rui, Senior."
Pria itu mengangguk pelan.
"Gao Rui..."
Ia mengulang nama itu perlahan.
"Nama yang bagus."
Kini giliran Gao Rui yang bertanya.
"Kalau boleh tahu... siapa nama Senior?"
Pria bertubuh tinggi besar itu terdiam sesaat. Lalu senyum lebar perlahan muncul di wajahnya.
"Hahaha..."
Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Gao Rui.
"Namaku... Sha Nuo."
Tatapannya terlihat tenang.
"Salam kenal, Bocah."
Gao Rui segera menyambut uluran tangan itu.
"Salam kenal juga, Senior Sha Nuo."
Keduanya saling berjabat tangan. Tidak ada ledakan aura, hanya sebuah jabat tangan sederhana.
Namun tidak satu pun dari mereka menyadari, momen yang tampak biasa itu, takdir dua pendekar dari generasi yang berbeda mulai saling terhubung.
Salah satunya adalah murid kesayangan Boqin Changing. Sedangkan yang lainnya adalah pengikut paling setia dari orang yang sama. Keduanya saling mengenal tanpa tahu latar belakang mereka yang saling terkait.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!