Indonesia
NovelToon NovelToon

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Penyamaran Sang Miliader

Lantai 50.

Di sinilah puncak dari rantai makanan dunia bisnis ibu kota berkumpul.

Dari balik dinding kaca setinggi empat meter yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu jalanan mirip hamparan debu intan,.

Andra berdiri dalam keheningan.

Asap tipis dari rokok yang dijepit jemarinya mengepul pelan,

membuyar di udara berpendingin ruangan sebelum akhirnya lenyap.

Di luar sana,

jutaan orang berdarah-darah membanting tulang demi sesuap nasi.

Sementara di ruangan ini—dengan satu jentikan jari saja—Andra bisa mengubah jalannya roda ekonomi sebuah negara.

Di usianya yang baru menginjak kepala tiga,

titelnya terdengar mengerikan bagi para pesaing: CEO Utama PT Adhikari Corp.

Konglomerat raksasa yang mencengkeram sektor properti hingga teknologi.

Tapi apa gunanya punya brankas yang takkan habis dalam tujuh turunan.

Kalau setiap kali memandang cermin, yang kau lihat hanyalah sekumpulan topeng?

Andra mematikan puntung rokoknya di asbak kristal.

Ia menghela napas panjang, berat.

Semenjak posisinya di puncak, hidupnya berubah jadi panggung sandiwara raksasa.

Wanita-wanita berbalut gaun haute couture dan wangi parfum mahal antre mendekatinya.

Mereka tersenyum manis,

memuji ketampanannya,

menatapnya dengan binar penuh puja-puji.

Akan tetapi Andra tidak tergiur sedikit pun dengan semua itu.

Andra tahu betul apa yang sebenarnya mereka tatap.

Bukan wajahnya.

Bukan hatinya.

Mereka sedang menatap lembar saham,

saldo rekening berseri-seri,

dan kunci mobil sport yang tergeletak di atas meja.

Mereka mencintai statusnya, bukan orangnya.

Belum lagi intrik busuk dari para dewan direksi yang mulai berani menikam dari belakang demi merebut kursi kekuasaannya.

"Sudah terlalu lama aku hidup di dalam sangkar emas ini,"

gumam Andra pelan, suaranya berat bergesek dengan keheningan malam.

Malam itu, sebuah kegilaan merayap di kepalanya.

Sebuah ide nekat yang kalau didengar oleh sekretaris pribadinya mungkin bakal membuat pria tua itu jantungan di tempat.

Andra ingin berhenti jadi orang kaya.

Ia ingin turun ke jalan, menanggalkan seluruh atribut kekuasaannya, dan mencari satu hal yang paling langka di dunianya: ketulusan yang murni tanpa embel-embel harta.

Langkah kakinya menggema tegas di atas lantai marmer ruangan kerjanya.

Tanpa memanggil siapa pun, Andra membuka lemari rahasia di sudut ruangan.

Di dalam sana tersimpan sebuah ransel kain kumal dan beberapa helai pakaian murah—pakaian yang dibelinya secara anonim beberapa hari lalu.

Ia melepas jam tangan berlapis emas putih berharga miliaran rupiah dari pergelangan tangannya.

Menggantinya dengan jam tangan plastik murah yang mati sebelah.

Setelan jas rancangan desainer Italia miliknya dilepas, lalu ditukar dengan jaket kain usang yang sudah sedikit pudar warnanya.

Di depan cermin besar, pria yang tadinya memancarkan aura penguasa mutlak itu kini bertransformasi menjadi sosok pria biasa, nyaris seperti gelandangan kota.

"Mari kita lihat,

siapa yang benar-benar tulus melihatku saat aku tak punya apa-apa,"

bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.

Pukul dua belas malam, lift pribadi lantai 50 membawanya turun ke basement sunyi, menghindari sorot mata para pengawalnya.

Andra melangkah keluar gedung.

Langkah kakinya menapak keluar dari pintu belakang basement.

Meninggalkan kemegahan lobi utama gedung Adhikari Corp yang biasa dijaga ketat oleh barisan satuan pengamanan.

Udara malam ibu kota langsung menyergap kulitnya, terasa jauh lebih pekat dan berat dibandingkan udara steril dari pendingin ruangan lantai 50 tadi.

Bau aspal basah bercampur asap knalpot jalanan menyambutnya—sebuah aroma realitas yang sudah bertahun-tahun tidak ia hirup secara langsung.

Di saku jaket kain usang miliknya, ponsel mewahnya telah ia matikan dan dibuang ke dalam laci meja kerjanya.

Sebagai gantinya, sebuah ponsel jadul dengan kartu SIM prabayar tanpa nama terselip di sana.

Uang tunai secukupnya hasil tarikan ATM terakhir bergesekan dengan lembar-lembar uang lecek di dalam dompet kulit sintetis yang murah.

Andra berjalan kaki meninggalkan kawasan segitiga emas perkantoran.

Semakin jauh ia melangkah, gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca yang menjulang angkuh itu perlahan-lahan berganti rupa.

Lampu-lampu neon kota yang tadinya berpendar mewah mulai meredup.

Digantikan oleh deretan warung tenda emperan jalan, lampu petromak pedagang kaki lima, dan lorong-lorong permukiman padat penduduk.

Kakinya terus membawa menyusuri trotoar yang mulai sepi.

Di sebuah sudut persimpangan jalan yang remang-remang, di bawah naungan jembatan penyeberangan yang catnya sudah mengelupas, hiruk-pikuk malam terasa berbeda.

Di sinilah denyut nadi kehidupan kelas bawah berdetak kencang—tempat orang-orang berjuang mati-matian hanya untuk memastikan perut mereka tidak lapar keesokan paginya.

Tiba-tiba, suara rintihan kecil dan suara barang terjatuh menghentikan langkah Andra.

Di dekat sebuah warung kopi kecil yang hampir tutup, seorang wanita berpenampilan sederhana sedang membereskan kursi plastik yang berserakan.

Sebuah kotak kardus berisi botol-botol sirup kemasan tidak sengaja tersenggol oleh sikunya sendiri.

Membuat benda-benda itu meluncur jatuh dan berserakan di atas paving block yang kasar.

Beberapa botol bahkan pecah, meninggalkan genangan cairan manis yang langsung dikerubungi semut.

Wanita itu langsung berjongkok panik, mencoba memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar tanpa alas pelindung apa pun.

"Aduh...

ya ampun, malah tumpah,"

gumamnya lirih,

terdengar keputusasaan yang kentara di balik suaranya yang lelah.

Tanpa berpikir panjang, Andra mengubah arah langkahnya.

Ia mendekati wanita itu, lalu ikut berjongkok di atas dinginnya tanah.

Jemari tangannya yang biasa meneken kontrak triliunan rupiah kini bergerak memunguti pecahan kaca yang berserakan dengan hati-hati.

"Pelan-pelan, nanti tanganmu bisa terluka,"

suara Andra terdengar tenang, memecah kesunyian malam di sudut jalan itu.

Wanita itu tertegun, mendongakkan kepalanya perlahan.

Di bawah lampu neon warung yang berkedip-kedip, wajah wanita itu terlihat penat, namun sorot matanya memancarkan kelembutan yang luar biasa tulus.

Rambut sebahunya sedikit berantakan karena angin malam.

Itulah pertama kalinya Andra menatap mata Kirana—wanita yang kelak mengubah arti hidupnya secara keseluruhan.

Sentuhan tangan Andra yang ikut memungut pecahan kaca membuat Kirana buru-buru menarik napas.

Wanita itu mengedipkan mata beberapa kali, seolah tak percaya ada orang asing yang mau repot-repot membantunya di jam rawan seperti ini.

"Ah... tidak usah, Mas.

Nanti tangan sampeyan ikut terluka.

Biar saya saja,"

ujar Kirana dengan suara lembut yang terdengar serak karena kelelahan seharian bekerja.

"Sudah terlanjur pegang.

Lagian bahaya kalau dibiarkan berserakan di jalan begini, nanti kena kaki orang lewat," balas Andra santai.

Suaranya yang berat dan tenang berhasil meredakan kepanikan di wajah Kirana.

Setelah pecahan kaca dan barang-barang yang berserakan berhasil dibersihkan, Andra turut membantu merapikan kursi-kursi plastik warung tersebut hingga tersusun rapi di dekat meja.

Kirana menatap pria berjaket usang itu dengan penuh rasa terima kasih.

Melihat kondisi Andra yang tampak sebatang kara dan tidak membawa barang bawaan, nurani wanita itu terketuk.

"Kawasan sini sudah sepi, Mas.

Kalau belum punya tempat tinggal malam ini, silakan berteduh di bilik kecil samping warung," kata Kirana menawarkan tempat secara tulus.

"Ada tikar tipis di sana yang bisa dipakai istirahat sampai pagi."

Andra menatap kunci dan pintu bilik yang ditunjukkan Kirana.

Untuk seorang mantan miliarder, tempat itu tentu jauh dari kata layak.

Namun, kehangatan dan ketulusan yang ditunjukkan oleh wanita di hadapannya jauh lebih berharga daripada seluruh kemewahan di lantai 50 yang baru saja ditinggalkannya.

"Terima kasih, Kir," jawab Andra singkat namun penuh makna.

Malam itu, di bawah atap seng warung sederhana yang sunyi, sang mantan CEO merebahkan tubuhnya di atas lantai semen yang dingin.

Menatap langit-langit gelap dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya.

Sebuah babak baru dalam hidupnya resmi dimulai, mengubah jalan takdirnya selamanya dan bersiap menyambut badai baru yang menanti di keesokan harinya.

Pagi Pertama di Dunia Baru

Sisa-sisa malam perlahan tersapu oleh sinar dari cahaya matahari pagi.

​Yang mulai mengintip di antara celah-celah gedung pencakar langit ibu kota.

​Menembus kabut tipis yang menyelimuti jalanan aspal basah.

​Di sudut gang sempit tempat warung kecil itu terdengar ​Suara bising kendaraan bermotor mulai menggantikan keheningan malam yang pekat.

​Deru knalpot angkutan umum bersahutan dengan klakson kendaraan.

​Membangunkan denyut kehidupan kota yang bergerak tanpa kenal lelah.

​Andra membuka matanya perlahan di atas balai bambu sederhana.

​Tanpa kasur pegas empuk buatan Jerman.

​Tanpa selimut tebal berbalut bulu angsa yang biasa melindunginya.

​Hanya beralaskan jaket kain usang miliknya sendiri.

​Udara pagi yang dingin menyapa permukaan kulit wajahnya.

​Namun ada ketenangan asing yang meresap ke dalam dadanya.

​Jauh berbeda dari tekanan berat yang biasa ia rasakan di lantai 50 menara megah.

​Di dekat meja racik warung yang bersahaja.

​Kirana sudah tampak sibuk bergerak lincah.

​Menyalakan kompor gas kecil berukuran satu tungku.

​Merebus air di dalam panci aluminium legendaris.

​Untuk persiapan seduhan kopi hitam pekat bagi para pelanggan pagi.

​Tangannya bergerak terampil menata stoples kerupuk.

​Mengenakan apron katun bermotif kotak-kotak yang sama seperti semalam.

​Serta jilbab instan sederhana yang membingkai wajah lelahnya.

​Andra bangkit dari balai bambu tempatnya tidur.

​Merenggangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku karena udara malam.

​Lalu melangkah mendekati area warung dengan langkah pasti.

​"Pagi, Kirana,"

sapanya ramah dengan suara bariton yang tenang.

​Kirana mendongak dari kesibukannya menyeduh air.

​Tersenyum lebar menyambut kehadiran pria asing tersebut.

​Menampakkan guratan lelah di matanya yang berbinar tulus.

​"Pagi juga, Mas."

​"Wah, rajin banget pagi-pagi udah bangun."

​"Tidurmu nyenyak semalam di balai bambu?"

​"Nggak masuk angin kan cuma pakai jaket tipis begitu?"

​Pertanyaan sederhana itu kembali menyentuh sisi batin Andra yang paling dalam.

​Selama bertahun-tahun hidup di lingkaran elit korporasi.

​Tidak ada satu pun orang yang peduli apakah ia bisa tidur dengan nyenyak.

​Semua orang di dunianya yang dulu hanya memikirkan angka dan keuntungan.

​Tapi di tempat kumuh ini.

​Seorang wanita penjaga warung kecil menunjukkan ketulusan yang luar biasa.

​"Puji Tuhan, nyenyak sekali, Kir."

​Jawab Andra dengan senyuman tipis yang tulus.

​"Jauh lebih tenang daripada kamarku yang dulu."

​Kirana tertawa kecil mengira itu hanya candaan ringan.

​"Ah, Mas bisa aja bercandanya."

​"Mana ada orang lebih suka tidur di balai bambu daripada kasur empuk."

​"Oh iya, kalau mau cuci muka, air keran ada di sebelah sana ya."

​Andra mengangguk pelan penuh terima kasih.

​Ia melangkah ke arah keran air di sudut tembok.

​Memercikkan air dingin ke wajahnya.

​Merasakan kesegaran yang membersihkan sisa penat di kepala.

​Di dalam hatinya, ia bersyukur takdir membawanya ke tempat ini.

​Bukan ke sel penjara dingin akibat rekayasa pamannya.

​Bukan pula ke tangan musuh-musuhnya yang ingin menghancurkan hidupnya.

​Melainkan ke sebuah tempat sederhana yang memberinya ruang bernapas.

​Sambil merapikan kursi-kursi plastik yang berserakan.

​Andra kembali mendekati meja racik tempat Kirana meracik pesanan.

​"Kir..." panggil Andra serius.

​Sambil membantu menata wadah sendok dan garpu.

​"Boleh aku terus bantu-bantu di sini?"

​"Aku nggak butuh bayaran besar."

​"Cukup tempat tinggal di balai itu dan makan seadanya setiap hari."

​Kirana menghentikan aktivitasnya sejenak.

​Menatap lurus ke dalam mata pria di hadapannya itu.

​Mencari keraguan, kebohongan, atau niat terselubung di balik tatapannya.

​Namun ia hanya menemukan tekad yang bulat dan kejujuran mutlak.

​Di tengah kerasnya ibu kota tempat orang saling sikut demi uang.

​Permintaan tulus seperti itu adalah pemandangan paling langka.

​"Beneran serius mau kerja di sini, Mas?"

​Tanya Kirana memastikan sekali lagi.

​"Pekerjaannya capek, panas, berdebu, dan penghasilannya kecil."

​Andra mengangguk mantap tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya.

​"Aku siap belajar semuanya dari nol, Kir."

​Senyuman hangat terukir di wajah Kirana,

​Memberi tanda dimulainya lembaran hidup baru bagi sang mantan miliarder.

Dan pada saat malam nya tiba,.

​Udara dingin ibu kota menusuk hingga ke balik jaket usang yang dikenakan Andra.

​Namun obrolan kecil di samping warung itu membuat suasana terasa sedikit hangat.

​"Iya, suami saya lagi cari tambahan di luar," ucap Kirana melanjutkan kalimatnya sembari merapikan sisa kardus basah.

​"Jadi saya bantu beresin warung peninggalan bapak sebelum pulang ke kontrakan."

​Mendengar kata "suami" meluncur dari bibir Kirana, ada secercah rasa asing yang tiba-tiba bergeming di dada Andra.

​Sebuah ironi kecil yang menggelitik batinnya.

​Ia sendiri sedang menyamar menjadi pria miskin tanpa tujuan hidup.

​Sementara wanita di depannya ini sedang berjuang menanti suaminya pulang bekerja.

​"Kalau begitu, biar ku bantu merapikan bangku-bangku ini sekalian,"

kata Andra tanpa ragu.

​Ia langsung melangkah maju.

​Tangannya yang terbiasa memegang dokumen penting perusahaan kini sigap mengangkat kursi-kursi plastik.

​Menumpuknya dengan rapi di dekat meja utama.

​Kirana sempat tertegun sejenak.

​Berdiri mematung sambil menatap punggung pria asing berjaket usang itu.

​Yang bekerja dengan cekatan membantunya.

​Di tengah dinginnya malam ibu kota yang menusuk tulang.

​Dan himpitan hidup yang sering kali terasa menyesakkan dada.

​Uluran tangan sederhana dari seorang pengembara malam tanpa identitas itu.

​Mendadak terasa begitu hangat.

​Memberikan secercah cahaya harapan di tempat yang paling redup.

​"Makasih banyak ya, Mas," ucap Kirana lirih dengan nada tulus.

​"Jarang-jarang ada orang mau bantu begini malam-malam."

​Andra menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis.

​"Sama-sama, Kir. Anggap saja sekalian menghabiskan waktu luangku."

​Setelah semua kursi dan meja selesai dibereskan, suasana di sekitar warung menjadi jauh lebih lengang.

​Hanya tersisa cahaya lampu jalanan yang berpendar redup di atas aspal basah.

​Kirana menyeka peluh di dahinya menggunakan ujung jilbab.

​Ia kemudian menoleh ke arah Andra yang berdiri tegap di sampingnya.

​"Ngomong-ngomong,

Mas beneran tidak punya tempat tinggal untuk malam ini?"

tanya Kirana dengan nada cemas.

​"Kawasan sini lumayan rawan kalau malam, apalagi buat orang asing."

​Andra menggeleng pelan.

​Tatapan matanya menerawang menatap jalanan gang yang gelap.

​"Aku sudah kehilangan segalanya, Kir."

​"Rumahku, pekerjaanku, dan semua orang yang kuanggap keluarga."

​"Malam ini, aku benar-benar tidak tahu harus melangkah ke mana."

​Mendengar kejujuran yang terdengar begitu pilu itu, hati Kirana tergerak.

​Sebagai seseorang yang juga sering diuji oleh kerasnya hidup, ia tahu persis rasanya berada di titik terbawah.

​"Kalau Mas tidak keberatan..."

​Kirana menunjuk ke arah samping bangunan warung yang agak menjorok ke dalam.

​"Di sebelah sana ada balai bambu kecil."

​"Biasanya bapak dulu suka pakai buat istirahat kalau kemalaman jaga warung."

​"Memang tidak ada kasur empuk, tapi setidaknya aman dari angin malam."

​Andra mengikuti arah telunjuk Kirana.

​Sebuah balai bambu sederhana berukuran satu setengah meter tampak di balik bayangan dinding.

​Jauh dari kata layak jika disandingkan dengan gaya hidupnya dulu.

​Namun saat ini, tempat itu terasa seperti istana keselamatan baginya.

​"Terima kasih, Kirana," ujar Andra tulus.

​"Bantuanmu malam ini sangat berarti."

​"Sama-sama, Mas.

 Sesama manusia memang harus saling tolong," balas Kirana ramah.

​"Ya sudah, karena warung sudah beres, saya harus buru-buru pulang ke kontrakan."

​"Takut suami saya sudah selesai kerja dan nunggu di rumah."

​"Hati-hati ya, Mas. Semoga besok keadaan bisa jadi lebih baik."

​"Iya, silakan hati-hati di jalan," jawab Andra.

​Kirana lantas melangkah pergi meninggalkan area warung.

​Bayangannya perlahan menghilang di ujung gang yang gelap.

​Menyisakan Andra seorang diri dalam keheningan malam.

Tamu Tak di Undang

Matahari perlahan meninggi.

Sinarnya menembus celah-celah bangunan padat ibu kota.

Warung kecil milik Kirana mulai didatangi oleh para pekerja harian.

Ada kuli panggul pasar, pengemudi ojek online, hingga pedagang keliling.

Mereka duduk berdesakan di bangku-bangku plastik sederhana.

Menikmati sarapan hangat dan seduhan kopi hitam.

Andra bergerak sigap melayani para pembeli.

Meskipun ia terbiasa duduk di balik meja direktur yang megah.

Tangannya kini terbiasa mengangkat gelas, mengantar piring, dan membereskan meja.

Tidak ada rasa canggung di wajahnya.

Bahkan senyum tipis selalu terlukis saat ia menyapa para pelanggan.

Kirana yang memperhatikan dari balik meja racik merasa takjub.

Ia tidak menyangka pria berjaket usang yang tidur di balai bambu semalam.

Memiliki etos kerja dan kesopanan yang begitu luar biasa.

Biasanya, orang asing yang datang mengemis pekerjaan akan mengeluh dalam hitungan jam.

Tapi Andra justru melakukan semuanya tanpa ada keluhan sedikit pun.

"Mas Andra, istirahat dulu sebentar,"

panggil Kirana saat suasana warung mulai sedikit lengang menjelang siang.

"Nih, minum teh hangat dulu biar tidak terlalu lelah."

Andra mengangguk pelan.

Ia melangkah mendekati meja racik dan menerima uluran gelas plastik dari tangan Kirana.

"Terima kasih, Kir," ucap Andra tulus.

"Kamu sendiri dari tadi belum duduk sedari pagi."

Kirana tersenyum tipis, menyeka peluh di dahinya.

"Sudah biasa, Mas."

"Kalau tidak kerja keras begini, dapur di kontrakan tidak akan ngebul."

Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika deru motor matic tua berhenti tepat di depan warung.

Seorang pria berbadan kurus dengan jaket kulit sintetis yang sudah kusam turun dari kendaraan.

Wajahnya tampak lelah, dipenuhi guratan emosi dan sisa amarah yang tertahan.

Ia melepas helmnya dengan kasar dan langsung membantingnya ke atas meja kosong.

"Kir! Mana uang hasil jualan hari ini?"

 tanya pria itu dengan nada suara tinggi.

Suasananya langsung berubah tegang.

Andra yang berdiri tidak jauh dari tempat itu menyipitkan mata.

Mengamati gerak-gerik pria asing yang baru saja datang dengan sikap arogan.

Kirana terlihat menegang seketika.

Wajahnya yang ramah mendadak pucat pasi.

Senyuman di bibirnya seketika lenyap digantikan rasa takut yang yang terlihat jelas

"B-biar aku beresin dulu piringnya, Mas,"

jawab Kirana dengan suara sedikit gemetar.

"Aku tanya mana uangnya!"

 bentak pria itu lebih keras, sama sekali tidak peduli ada orang lain di sekitar warung.

"Jangan pura-pura tuli kamu!"

Andra langsung mengenali situasi ini.

Pria kasar di hadapannya ini bukanlah sekadar orang asing.

Melainkan sosok suami yang tadi sempat dibicarakan oleh Kirana.

Pria yang selama ini menjadi sumber ketakutan dan penderitaan dalam hidup wanita tegar tersebut.

Darah di dalam diri Andra mendidih seketika.

Insting pelindungnya sebagai seorang mantan pemimpin besar langsung bangkit.

Namun ia harus menahan diri agar penyamarannya tidak terbongkar terlalu cepat.

Ia tidak boleh bertindak gegabah di hadapan musuh-musuh kecil seperti ini.

Pria berjaket kulit kusam itu melangkah maju dengan angkuh.

Tanpa rasa risih sedikit pun pada pandangan orang-orang di sekitar warung.

Namanya Doni.

Pria yang bertahun-tahun menghisap tenaga dan mental Kirana tanpa sisa.

Suami yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjelma menjadi beban terberat dalam hidup wanita itu.

"Cepat keluarkan dompetmu, Kir!"

bentak Doni sekali lagi sambil menatap tajam.

Tangannya menepuk-nepuk meja kayu dengan kasar.

Membuat beberapa mangkuk kosong berdering nyaring.

"Jangan bikin aku emosi pagi-pagi begini."

"Uang hasil kemarin malam ke mana saja?"

"Jangan bilang kamu habiskan lagi buat beli obat ibumu yang sakit-sakitan itu!"

Kirana menunduk dalam-dalam.

Bahu kecilnya bergetar hebat menahan rasa takut dan malu yang teramat sangat.

Di hadapan para pelanggan warung yang mulai berbisik-bisik.

Harga dirinya seolah diinjak-injak tanpa ampun.

"B-belum ada, Mas..." jawab Kirana dengan suara tercekat di tenggorokan.

"Semalam pembelinya sepi."

"Uang kas pegangan warung juga baru cukup buat belanja bahan baku hari ini..."

"Bohong!" teriak Doni memotong ucapan Kirana.

Ia menarik kerah apron yang dikenakan Kirana dengan kasar.

Membuat tubuh wanita itu terhuyung ke depan hingga hampir menabrak meja racik.

"Kamu sengaja kan mau menyembunyikan uang dariku?"

"Buat foya-foya di belakangku, hah?!"

Suasana di dalam warung mendadak berubah menjadi sunyi mencekam.

Para pelanggan yang sedang menikmati sarapan langsung menghentikan suapannya.

Mereka memilih menunduk karena takut ikut terseret masalah keluarga orang lain.

Tidak ada satupun yang berani maju membela.

Karena di lingkungan kumuh seperti ini, ikut campur urusan rumah tangga orang adalah malapetaka.

Namun, di tengah ketakutan yang melanda seisi warung.

Seseorang melangkah dengan tenang tanpa ada rasa gentar di matanya.

Andra.

Mantan CEO korporasi besar yang kini berbalut jaket usang.

Ia bergerak pelan dari balik meja saji.

Lalu berdiri tepat di samping Doni.

Tangannya yang kokoh terulur lurus ke depan.

Mencengkeram pergelangan tangan Doni yang sedang mencengkeram kerah baju Kirana.

Cengkraman itu tidak terlalu kuat pada detik pertama.

Namun memiliki tekanan yang membuat Doni langsung meringis kesakitan.

"Lepaskan tangan kotor itu dari tubuhnya,"

ucap Andra dengan suara rendah.

Dingin, datar, namun penuh dengan wibawa mutlak seorang pemimpin.

Doni terkejut bukan kepalang.

Ia menoleh dengan wajah merah padam karena amarah yang tersulut.

"Bangsat!

Siapa kamu, hah?!"

teriak Doni sambil mencoba melepaskan tangannya.

"Berani-beraninya ikut campur urusan rumah tangga orang!"

"Lepasin tanganmu atau—”

Kalimat ancaman Doni terhenti seketika.

Saat ia mendongak dan menatap langsung ke dalam mata Andra.

Ada tatapan tajam yang begitu mematikan di balik mata pria berjaket usang itu.

Tatapan mata seorang predator puncak rantai makanan.

Yang biasa membuat para direktur besar ketakutan di ruang rapat tertutup.

Bukan tatapan seorang pengemis jalanan yang lemah.

Keringat dingin mendadak mengucur di pelipis Doni.

Nyalinya ciut seketika dalam waktu kurang dari tiga detik.

"Aku tidak peduli apa statusmu di sini," lanjut Andra dengan nada suara yang semakin menusuk tulang.

"Tapi memperlakukan wanita dengan cara kasar di depan umum adalah tindakan paling pengecut."

"Sekarang..."

Andra mempererat cengkeramannya hingga tulang pergelangan tangan Doni berbunyi pelan.

"Pergi dari sini, atau kamu akan tahu akibatnya."

Doni meringis kesakitan.

Rasa sakit yang menjalar dari pergelangan tangannya membuat sekujur tubuhnya bergetar.

Ia ingin sekali marah dan membalas gertakan itu.

Namun nyalinya benar-benar sudah ciut melihat sorot mata Andra yang begitu tajam.

Tidak ada keraguan sedikit pun di sana.

Pria berjaket usang itu benar-benar terlihat berbahaya.

"I-iya... baik!

Lepasin dulu tangan gua!"

 rintih Doni dengan suara parau penuh rasa sakit.

Andra perlahan mengendurkan cengkeramannya.

Lalu mendorong tangan Doni dengan kasar ke belakang hingga pria itu hampir kehilangan keseimbangan.

Doni terhuyung mundur beberapa langkah.

Ia memegang pergelangan tangannya yang sudah memerah akibat cengkeraman kuat Andra.

Napasnya memburu karena rasa malu bercampur dengan takut.

Ia menatap tajam ke arah Andra dan Kirana secara bergantian.

"Awas kamu ya, Kir!"

 cibir Doni sambil menunjuk-nunjuk penuh ancaman.

"Berani-beraninya kamu cari pelindung laki-laki lain sekarang!"

"Urusan kita belum selesai!"

Setelah melontarkan ancaman pengecut itu.

Doni buru-buru membalikkan badannya.

Ia lansung mengambil helm yang tergeletak di atas meja.

Lalu berjalan tergopoh-gopoh menuju motor matic usang nya.

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung menyalakan kendaraannya dengan kasar.

Dan pergi meninggalkan area warung dengan kecepatan tinggi.

Meninggalkan kepulan asap tipis di jalanan gang yang sempit.

Suasana di dalam warung perlahan-lahan kembali tenang.

Namun ketegangan masih terasa jelas menyelimuti udara pagi itu.

Para pelanggan yang tadinya menunduk kini mulai mengangkat kepala mereka kembali.

Berbisik-bisik pelan membicarakan kejadian dramatis yang baru saja terjadi.

Kirana masih berdiri terpaku di dekat meja racik.

Kedua matanya berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tumpah.

Bahu kecilnya masih sedikit bergetar hebat.

Selama ini, ia selalu pasrah menanggung segala perlakuan kasar suaminya seorang diri.

Tidak pernah ada satu pun orang yang sudi berdiri di sisinya dan melindunginya seperti ini.

Andra menarik napas panjang.

Ia merapikan jaket usang nya sekilas.

Lalu melangkah mendekati Kirana dengan ekspresi wajah yang jauh lebih lembut.

"Kamu tidak apa-apa, Kir?"

tanya Andra pelan.

Suaranya kini tidak lagi sedingin tadi saat menghadapi Doni.

Kirana mengangkat kepalanya.

Menatap wajah pria di hadapannya dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang teramat dalam.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga membasahi pipi.

"Mmmm-makasih, Mas..."

ucap Kirana lirih.

Suaranya bergetar parah.

"Kalau tidak ada kamu tadi, aku benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa..."

Andra tersenyum tipis.

Ia mengambil selembar tisu bersih dari wadah di atas meja.

Lalu mengulurkannya secara perlahan kepada wanita itu.

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi," kata Andra menenangkan.

"Laki-laki seperti itu hanya berani pada perempuan lemah."

"Kalau dia berani datang lagi dan mengganggumu, biar aku yang urus."

Mendengar ucapan yang begitu tegas dan menenangkan itu.

Hati Kirana yang selama bertahun-tahun merasa kesepian dan tertekan, mendadak merasakan kehangatan yang luar biasa.

Di balik penampilan lusuh dan status tanpa asalnya saat ini.

Andra baru saja menunjukkan sisi pelindung yang membuat Kirana merasa aman.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!