Hujan mengguyur Jakarta malam itu tanpa ampun. Seolah langit ikut menangis untuk nasibku.
Aku, *Aira Putri*, berdiri mematung di teras KUA dengan baju kurung putih pinjaman dari tetangga. Ujung kerudungku basah kuyup, sandal jepitku penuh lumpur. Di sampingku, kursi roda mama berderit pelan. Selang infus masih menempel di punggung tangannya yang kurus dan pucat.
Tiga hari lalu dokter spesialis jantung bilang dengan nada datar: _“Butuh operasi bypass segera, Bu. Biayanya 500 juta. Kalau telat, kami tidak bisa jamin.”_
Tiga hari juga aku keliling. Ke bank ditolak karena gak punya jaminan. Ke saudara, semua ngeles. Ke rentenir, bunganya bikin aku mual.
Sampai akhirnya dia datang.
*Arka Mahendra.*
Langkahnya mantap membelah hujan. Jas hitam mahal yang pasti harganya 20 juta, dasi dilepas setengah, rambutnya agak basah tapi tetap rapi seperti habis dari salon. Aura CEO. Dingin. Jauh. Menakutkan.
Di belakangnya, dua bodyguard berbadan tegap memayungi. Tapi bukan aku yang dipayungi.
“Waktunya,” katanya singkat. Suaranya berat, datar, tanpa emosi. Seperti robot.
Aku menelan ludah yang rasanya pahit. “P-Pak... makasih udah mau nolongin mama saya.”
Dia menatapku sekilas. Tatapan cokelat tuanya kosong. Tidak ada iba. Tidak ada apa-apa. “Aku bukan nolongin. Ini transaksi.”
Dari dalam map kulit hitam, dia mengeluarkan selembar kertas tebal. *SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.* Kop surat Mahendra Group di atasnya.
Jantungku berdegup kencang pas baca poin-poinnya dengan mata berkaca-kaca.
*Pasal 1:* Masa pernikahan 1 tahun terhitung sejak hari ini.
*Pasal 2:* Tidak ada hubungan suami istri. Tidak ada cinta. Tidak ada publikasi ke media.
*Pasal 3:* Pihak Aira menerima 500 juta untuk biaya pengobatan Ibu Sari. Pihak Arka menerima status “sudah menikah” untuk memenuhi permintaan terakhir Nenek Mahendra.
*Pasal 4:* Setelah 1 tahun, wajib cerai. Pihak Aira tidak boleh menuntut harta, nama, atau anak jika ada.
“Tangan basah, tintanya bisa luntur,” katanya dingin sambil menyodorkan pulpen Montblanc.
Aku menatap mama. Wajahnya semakin kuning. Dia mengangguk pelan sambil menggenggam tanganku. _“Jalanin nak. Demi mama.”_
Dengan tangan gemetar, aku menandatangani. Nama _Aira Putri_ terlihat kecil dan rapuh di samping tanda tangannya yang besar, tegas, dan penuh tekanan: _Arka Mahendra_.
Di dalam ruang akad, hanya ada kami berempat. Aku, Arka, mama di kursi roda, dan penghulu tua yang terlihat bingung.
“Dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai, saya nikahkan Arka Mahendra bin Mahendra Wijaya dengan Aira Putri binti Hartono...”
Sah.
Deg.
Cincin emas polos melingkar di jari manisku. Dingin. Tidak ada ukiran. Tidak ada janji. Hanya formalitas.
Usai akad dan foto formalitas 3 detik, Arka langsung melangkah keluar. Gak nungguin. Gak nengok. Seolah aku ini angin.
“Pak, Nyonya kehujanan,” bisik asistennya, Mas Bayu, dengan gugup.
Arka berhenti di depan mobil Alphard hitamnya. Menoleh setengah. Wajahnya tetap datar. “Dia dewasa. Bisa naik taksi. Aku ada meeting penting 30 menit lagi.”
Pintu mobil tertutup. Meninggalkanku, mama, dan hujan.
Mas Bayu yang akhirnya nyuruh sopir nganterin kami ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku hanya bisa memeluk mama dan menahan tangis.
---
Malam itu aku dibawa ke rumah Arka. Rumah mewah 3 lantai di Menteng. Marmer Italia, lampu kristal, kolam renang, dan taman yang lebih luas dari kontrakan kami sekeluarga.
Tapi rasanya sedingin kulkas.
“Ini kamar tamu di lantai 1. Jangan pernah masuk ke lantai 2 tanpa izin Tuan,” kata Bu Yati, ART senior yang mengantarku. Nadanya hati-hati.
Kamarnya luas, ada TV, kamar mandi dalam. Tapi kosong. Hanya ada kasur king size, lemari, dan aku. Tidak ada foto. Tidak ada kehangatan.
Jam 11 malam. HP bututku bergetar. Nomor tak dikenal.
*:* _Aturan main sudah jelas. Jangan cari perhatian. Jangan berharap lebih. Jangan ikut campur urusan kantorku. Besok jam 7 sarapan sendiri. Aku sibuk._[Arka]
Aku balas dengan tangan gemetar: _Baik, Pak. Terima kasih._
Dia tidak membalas lagi. Centang dua biru pun tidak.
Aku duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. 500 juta sudah masuk ke rekening rumah sakit siang tadi. Mama akan dioperasi besok pagi. Seharusnya aku lega. Seharusnya aku sujud syukur.
Tapi kenapa dada rasanya sesak? Seperti ada batu besar yang menindih.
---
*3 MINGGU KEMUDIAN*
Hidup kami seperti dua orang asing satu rumah.
Pagi dia berangkat jam 6. Pulang jam 11 malam. Kadang jam 2 pagi.
Aku urus mama di rumah sakit, lalu pulang ke rumah besar yang sepi. Makan sendiri. Tidur sendiri.
Kami belum pernah sarapan bareng. Belum pernah ngobrol lebih dari 5 kalimat.
Sampai hari itu...
Aku kerja part time sebagai admin di butik temanku. Gaji 2 juta buat jajan dan bayar kos yang belum sempat aku keluarin.
Tiba-tiba dunia berputar. Mual. Kepalaku berdenyut. Pandanganku gelap.
Pas sadar, aku sudah terbaring di sofa ruang istirahat. Dan di depanku... Arka.
Dia yang biasanya cuek dan telat 5 menit aja marah, sekarang duduk di depanku. Jasnya dilepas. Kemeja putihnya kebuka 2 kancing. Dahi mengerut.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Suaranya masih dingin, tapi ada nada khawatir yang dia sembunyikan buruk.
“A-aku... pusing Pak. Mungkin masuk angin,” jawabku lemah sambil mau duduk.
Tanpa banyak bicara dia mengangkatku. Gendong.
Tubuhnya keras. Hangat. Wangi parfum mahalnya menusuk sampai ke paru-paru.
“Turunkan saya! Saya bisa jalan!” protesku dengan pipi merah.
“Diam. Kamu mau jatuh,” jawabnya ketus. Tapi langkahnya hati-hati sekali. Seolah aku ini barang pecah belah.
Di mobil, dia diem aja. Tapi tangannya sesekali menyentuh dahiku. Mengecek demam. Gerakan itu cepat, lalu dia menarik tangannya seolah malu.
Di rumah, dia nyuruh dokter pribadi datang dalam 15 menit.
“Gastro. Kurang makan. Istirahat,” kata dokter setelah periksa.
Setelah dokter pergi, Arka berdiri di pintu kamarku. Bayangannya tinggi dan menekan.
“Makan yang bener mulai besok. Jam 8, 12, 7. Jangan bikin repot,” katanya lalu pergi. Pintu ditutup pelan.
Malamnya, aku ke kamar mandi. Iseng beli tespek kemarin karena haid telat 2 minggu. Kupikir karena stres.
Dua garis.
Merah. Jelas. Tidak bisa dibantah.
Tanganku gemetar hebat. Ini... anaknya Arka?
Mustahil. Kami bahkan belum pernah bersentuhan selain pas akad.
Tapi ingat 3 minggu lalu? Hari pertama pindah. Dia pulang mabuk. Aku yang disuruh Bu Yati antar dia ke kamar karena dia salah jalan. Dia menarik tanganku, menarikku ke ranjang. Pagi harinya dia sudah tidak ada. Dan aku... aku tidak ingat apa-apa karena ketiduran karena kecapekan.
Pintu kamarku diketuk keras 3 kali.
“Aira! Buka!”
Suara Arka. Marah. Menekan.
Aku buka pintu dengan wajah pucat dan tespek masih di tangan.
Mata Arka melebar pas lihat itu. Rahangnya mengeras. Urat di lehernya timbul.
“Apa ini?” tanyanya dengan suara rendah yang menakutkan.
Aku menggeleng. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. “Aku... aku nggak tau Pak... sumpah...”
Dia merebut tespek itu dari tanganku. Meremasnya sampai remuk.
“Jangan harap aku percaya. Dan jangan pernah berpikir mau pakai anak ini buat mengikatku! Aku benci dijebak!” bentaknya. Matanya merah.
Lalu dia pergi. Membanting pintu sampai rumah bergetar.
Dari balik pintu, aku terduduk di lantai. Dingin.
Aku dengar dia berteriak ke telepon di ruang kerjanya:
*“Nenek! Aku bilang aku nggak mau! Pernikahan ini cuma kontrak! Aku nggak akan punya anak sama dia! Aku nggak akan jadi seperti Ayah!”*
Ternyata, pernikahan kontrak ini... lebih menyakitkan dari yang aku kira.
Malam itu aku tidak tidur. Hanya memeluk guling dan tespek yang sudah remuk.
Di lantai atas, lampu kamar Arka menyala sampai subuh.
Kami... terjebak dalam kontrak yang sama. Tapi dengan luka yang berbeda.
---
*BERSAMBUNG KE BAB 2 - "KAMU MAU ABORSI?"*
*CLiFFHANGER BUAT BAB 2:*
Arka ngajak Aira ke dokter buat mastiin. Tapi di jalan mereka kecelakaan kecil. Dan Arka yang lindungin Aira duluan.
---
Tanganku masih gemetar hebat memegang tespek yang sudah remuk. Plastiknya penyok karena diremas Arka semalam.
Suara bentakannya masih terngiang jelas di kepala. _“Jangan pernah berpikir mau pakai anak ini buat mengikatku! Aku benci dijebak!”_
Aku tertawa getir sambil duduk di lantai kamar mandi. Mengikat?
Aku aja yang terikat di pernikahan ini karena utang 500 juta dan nyawa mama.
Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Matahari belum terbit. Tapi aku sudah tidak bisa tidur sama sekali. Perutku masih kosong, tapi mualnya datang bergelombang.
Di lantai atas, aku dengar suara langkah kaki. Bolak-balik. Arka pasti juga tidak tidur.
Pukul 5.15 pagi. Pintu kamarku diketuk 3 kali. Ketukannya tegas, tapi tidak sekasar semalam.
“Aira. Turun. 10 menit.”
Suara Arka. Dingin. Datar. Tanpa emosi seperti biasa.
Aku buru-buru bangun. Wajahku pasti kusut. Mata bengkak karena semalaman nangis. Aku wudhu, ganti baju dengan dress biru polos lengan panjang dan kerudung segi empat. Sengaja pilih yang longgar. Menutupi perut yang bahkan belum terlihat.
Di ruang makan, dia sudah duduk. Jas hitam rapi, dasi sudah terpasang, kopi hitam di depannya mengepul. Di sebelahnya ada koran bisnis dan laptop yang terbuka. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
“Silakan duduk,” perintahnya tanpa menatapku.
Aku duduk di ujung meja. Jarak kami 3 kursi. Jarak yang aman. Jarak yang dia inginkan.
Bu Yati meletakkan sarapan. Bubur ayam, roti, buah. Aku tidak nafsu sama sekali. Tapi tetap aku paksa suapin ke mulut. Takut kalau protes malah dimarahi.
“Jam 8 kita ke rumah sakit,” katanya akhirnya. Matanya masih di layar laptop. “Cek. Kalau positif... kita diskusi.”
Diskusi. Kata itu terdengar mengerikan.
“Diskusi apa, Pak?” tanyaku pelan, suaraku hampir tidak terdengar.
Baru kali ini dia menatapku. Tatapan cokelatnya tajam. “Kamu pintar. Pasti tau maksudku.”
Jantungku mencelos. Gugurkan. Dia mau aku menggugurkan anak ini.
“Aku... aku tidak mau, Pak,” jawabku memberanikan diri. Air mata sudah menggenang.
Arka menutup laptopnya. Suaranya pelan tapi menusuk. “Aira. Ini bukan tentang mau atau tidak mau. Ini tentang tanggung jawab. Aku tidak bisa memberikan itu.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau jadi seperti ayahku,” potongnya cepat. “Orang yang meninggalkan. Orang yang berbohong. Lebih baik tidak ada, daripada ada tapi menyakiti.”
Dia berdiri. “Bersiap. 15 menit lagi berangkat.”
---
Jam 7.45 kami berangkat. Mas Bayu yang menyetir. Aku di belakang bersama Arka. Tapi jarak di antara kami sejauh kutub utara dan selatan.
Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Hanya suara ketikan HP Arka dan suara hujan rintik-rintik.
Tiba-tiba dari gang kanan, sebuah motor matic menerobos lampu merah. Kencang.
“Hati-hati!” teriak Mas Bayu.
BRAKKK!!!
Mobil banting setir ke kiri. Badanku terlempar ke kanan.
Refleks, tubuh Arka yang besar itu langsung menutupi tubuhku. Dia melindungiku dengan badannya. Punggungnya menghantam pintu mobil.
“Aduh,” rintihnya pelan.
“Pak! Tuan!” Mas Bayu panik.
“Nggak apa-apa,” jawab Arka dengan napas tertahan. “Lanjut ke RS. Sekarang.”
Setelah kejadian itu, suasana makin tegang. Tapi ada yang berbeda. Tangan kirinya masih memegangi lenganku. Bukan menggenggam. Hanya menahan. Takut aku jatuh lagi.
Aku menatap tangannya. Tangan besar dengan jam mahal. Hangat.
“Pak, sakit?” tanyaku hati-hati.
Dia menarik tangannya cepat. “Tidak.”
Sampai di RS, kami langsung menuju poli kandungan. Perawat yang ramah menyuruhku masuk. Arka menunggu di luar. Duduk. Tidak main HP. Hanya menatap lantai.
Proses USG berlangsung 10 menit yang terasa seperti 10 tahun.
_“Selamat ya Bu. Usia kandungan 5 minggu 3 hari. Detak jantung janin bagus dan kuat.”_
Dokter menunjukkan layar. Bintik kecil yang berdenyut. Anakku.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Di luar ruangan, Arka berdiri. Wajahnya tetap datar. Tapi aku lihat, tangannya mengepal di samping tubuh.
“Ke ruangan saya,” katanya singkat.
Kami masuk ke ruangan dokter. Pintu ditutup.
Arka langsung ke intinya. Tanpa basa-basi. “Dok, ada cara untuk... menggugurkan kandungan ini dengan aman?”
Dunia ku runtuh.
“Pak!” Aku menatapnya tidak percaya. “Ini anak kita!”
Arka menoleh padaku. Matanya dingin. “Ini bukan anak ‘kita’. Ini kecelakaan. Dan kecelakaan harus diperbaiki.”
Dokter batuk canggung. “Maaf Pak, Bu. Untuk aborsi kami tidak bisa sembarangan. Harus ada alasan medis kuat.”
“Uang bukan masalah,” kata Arka dingin. “Saya transfer 50 juta sekarang juga.”
Aku tidak kuat lagi. Lututku lemas. “Nggak,” isakku. “Aku nggak mau. Aku mau jaga anak ini. Meskipun... meskipun aku sendirian.”
Arka mendekatiku. Tinggi 185cm itu menekan. Aku bisa mencium wangi parfumnya yang familiar.
“Kamu pikir gampang jadi single parent? Kamu pikir aku akan biarkan anakku hidup tanpa ayah? Sama seperti aku dulu?” suaranya rendah, penuh amarah dan... sakit.
“Aku tidak minta kamu jadi ayah,” jawabku dengan suara bergetar. “Aku cuma minta hak untuk menjaga darah dagingku sendiri.”
Kami saling diam. Saling adu tatap.
Akhirnya Arka mengalah. Dia mengusap wajahnya kasar. “Pulang.”
---
Malamnya, aku demam tinggi. Mungkin karena stres, mungkin karena kehamilan.
Jam 2 pagi. Aku menggigil di atas ranjang. Pintu terbuka pelan.
Arka masuk. Tidak pakai jas. Hanya kaos hitam dan celana rumah. Di tangannya ada nampan. Bubur, air putih, obat, dan handuk kecil.
“Duduk,” katanya.
Aku nurut. Lemah.
Dia duduk di tepi ranjang. Menyuapiku pelan. Satu suap. Dua suap.
“Kenapa... kenapa Bapak nolongin saya?” tanyaku lirih di antara suapan.
Arka diam lama. “Karena kontrak. Kamu dan anak itu... tanggung jawabku selama 1 tahun ini.”
“Bukan karena kasihan?”
“Jangan tanya hal bodoh,” jawabnya ketus. Tapi tangannya mengusap dahiku untuk cek demam. Gerakannya lembut. Sangat bertolak belakang dengan kata-katanya.
Setelah aku habis makan dan minum obat, dia berdiri mau pergi.
“Pak,” panggilku.
“Apa.”
“Besok... boleh saya minta pindah kamar? Kamar ini jauh dari kamar mandi. Saya sering mual.”
Alasan bohong. Kamar ini terlalu sepi. Terlalu mengingatkanku pada penolakan semalam.
Arka menatapku lama. “Baik. Besok pindah ke kamar tamu sebelah kamarku. Di lantai 2.”
Lantai 2. Tempat yang selama ini terlarang.
“Terima kasih, Pak.”
Dia berjalan ke pintu. Berhenti. Tanpa menoleh dia bilang, “Jaga diri baik-baik. Dan... jaga anak itu.”
Pintu tertutup.
Aku memeluk bantal dan menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena untuk pertama kalinya, CEO dingin itu... terdengar seperti manusia.
---
*BERSAMBUNG KE BAB 3 - "PINDAH KAMAR TERLARANG"*
---
*CATATAN PENULIS* ✍️
Hii readersku yang paling sabar dan paling aku sayang 😭❤️
*MAKASIH* udah nunggu bab 2 yang panjang ini ya! Aku ngetiknya sambil nangis juga sumpah.
*EKSPLANASI SEDIKIT:*
*Kenapa Arka nolak anak itu?* Karena trauma. Ayahnya dulu selingkuh dan ninggalin ibunya pas ibunya hamil. Jadi dia takut mengulang sejarah.
*Adegan kecelakaan* itu penting banget. Itu pertama kalinya Arka secara insting melindungi Aira. Tandanya es di hatinya mulai retak pelan-pelan.
*Pindah kamar* di bab 3 bakal jadi awal mula mereka sering ketemu. Dan bakal ada adegan: Arka masakin bubur buat Aira yang ngidam tengah malam 😏
*VOTING YUK!*
Menurut kalian Arka bakal luluh di bab berapa?
A. Bab 10
B. Bab 20
C. Gak akan pernah luluh
Komen alasannya yaa! Aku bakal pilih 3 komen terbaik buat dapat shoutout di bab 5!
*JANGAN LUPA:*
Vote ⭐, Komen 💬, dan Follow biar gak ketinggalan update!
Bab 3 rilis *Besok jam 8 malam* judulnya "PINDAH KAMAR TERLARANG"
Spoiler: Bakal ada adegan Arka cemburu pas liat Aira video call sama temen cowoknya!
Makasih udah baca sampai akhir. Peluk jauh buat kalian semua 🤍
Love you❤
Koper kecilku ditaruh di depan pintu kamar lantai 2. Isinya cuma 3 baju, mukena, dan beberapa buku kehamilan yang aku pinjam dari perpustakaan.
Jantungku deg-degan. Ini pertama kalinya aku naik ke lantai terlarang itu. Tangga marmernya dingin, karpet merahnya tebal sampai tenggelam kaki. Sepi. Terlalu sepi.
“Kamar itu, Nduk,” kata Bu Yati sambil menunjuk pintu kayu berwarna cokelat tua dengan ukiran. “Sebelah kamar Tuan. Yang pintunya paling besar.”
Aku mengangguk pelan. Tangan gemetar pas dorong gagang pintu.
Kamarnya 2x lebih besar dari kamar tamu di bawah. Ada jendela besar menghadap taman belakang, kasur king size dengan seprai putih, sofa kecil, meja rias, lemari 3 pintu, dan... kamar mandi dalam. Wangi lavender. Bersih. Hangat.
Tapi yang bikin aku kaget dan langsung mundur selangkah: ada pintu kecil di sudut kamar. Pintu kayu polos tanpa kunci.
“Bu... ini pintunya tembus kemana?” tanyaku dengan suara bergetar.
Bu Yati canggung, meremas ujung celemeknya. “Itu... pintu darurat Tuan. Dulu buat kalau ada kebakaran. Nyambung langsung ke kamar Tuan. Tapi udah 3 tahun nggak dipake.”
Deg.
Berarti dia bisa masuk kapan aja? Dan aku juga bisa?
“Mulai sekarang Nduk tidur sini ya. Biar deket kalau butuh apa-apa,” lanjut Bu Yati cepat lalu buru-buru turun.
Aku duduk di tepi kasur. Kasurnya empuk banget. Tapi hatiku tidak tenang.
---
*MALAM PERTAMA DI KAMAR BARU*
Jam 11 malam. Perutku melilit. Mual. Ngidam aneh yang datang tiba-tiba.
Pengin bubur ayam. Pake sambel banyak, suwiran ayam, dan kerupuk.
Aku ragu mau turun ke dapur. Takut ketemu Arka. Tapi kalau tidak makan, perut makin sakit.
Pas buka pintu kamar, aku kaget. Arka berdiri di lorong. Bersandar di dinding, depan pintu kamarnya. Pakai kaos hitam polos dan celana training abu-abu. Rambutnya masih basah habis mandi. Tanpa kacamata. Terlihat... lebih muda. Lebih manusiawi.
“Mau kemana jam segini?” tanyanya dingin. Tapi tidak membentak.
“A-aku... mau ke dapur Pak. Mual. Pengin bubur.”
Dia menatapku dari atas ke bawah. Wajahku pasti pucat dan keringat dingin. “Tunggu sini.”
Tanpa nunggu jawabanku, dia masuk ke kamarnya. 5 menit kemudian keluar lagi bawa nampan. Bubur ayam mengepul, kerupuk, teh hangat, dan buah potong.
“Duduk,” katanya. Meletakkan nampan di meja kecil di kamar tamu sebelah.
Aku duduk di sofa. Dia duduk di kursi seberang. Jarak kami 2 meter. Tapi ini pertama kalinya kami makan bareng di satu ruangan.
Suasana hening. Hanya suara sendok beradu dengan mangkok.
“Kenapa Bapak belum tidur?” tanyaku pelan, memberanikan diri.
“Meeting online sama kantor Singapore,” jawabnya singkat. Matanya masih di laptop. “Kamu kenapa tiap malam mual?”
“Ngidam Pak.”
Arka mengerutkan kening. “Ngidam apa aja?”
“Bubur ayam. Tadi. Terus... kadang pengin es krim tengah malam.”
Dia diam. Mengetik sesuatu di HP. “Besok bilang ke Bu Yati. Jangan turun sendiri tengah malam. Bahaya kalau pingsan di tangga.”
“Baik Pak. Makasih.”
Pas aku mau masuk kamar, dia tiba-tiba manggil. “Aira.”
Aku menoleh. Jantung dag dig dug.
“Pintu itu...” dia menunjuk pintu kecil di kamarku. “Jangan dibuka. Dari dua sisi. Itu privasi.”
Aku mengangguk cepat. “Baik Pak.”
Tapi dalam hati... penasaran banget.
---
*2 HARI KEMUDIAN*
Siang itu aku libur kerja. Gabut. Akhirnya video call sama Raka, teman kuliahku dulu. Dia sekarang kerja di Bandung.
“Kamu kok kurusan Ai? Suamimu nggak ngasih makan apa?” canda Raka di layar. Dia cowok tinggi, berkacamata, ketawanya lepas.
Aku ketawa kecil. Udah lama gak ketawa lepas gini. “Ngasih kok. Kebanyakan malah. Tiap jam disuruh makan.”
Tanpa sadar pintuku terbuka pelan.
Arka berdiri di sana. Jas hitam, dasi dilepas, kemeja kebuka 1 kancing. Wajah datar seperti biasa. Tapi matanya... menatap layar HP ku. Tajam.
“Siapa?” tanyanya. Suaranya lebih rendah dari biasanya. Menekan.
“T-teman kuliah Pak. Raka. Temen satu kampus.”
Arka melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Lanjutin.”
Raka di layar langsung diem. Senyumnya kaku. “Eh... itu siapa Ai?”
“Suami saya,” jawabku cepat. Agak gugup.
Arka tidak berkata apa-apa. Hanya duduk di sofa, buka laptop, kerja. Tapi auranya memenuhi seluruh kamar. Menekan.
Setelah 5 menit, aku pamit ke Raka. “Raka aku lanjut kerja dulu ya. Nanti chat.”
Call selesai. Suasana hening. Cuma ada suara ketikan keyboard Arka.
“Teman dekat?” tanya Arka tiba-tiba tanpa menatapku.
“Tidak. Cuma teman. Udah 3 tahun gak ketemu.”
“Hm.” Itu aja. Dia berdiri dan pergi. Pintu ditutup pelan.
Aku menghela napas. Lega? Iya. Tapi kenapa ada rasa aneh di dada.
Malamnya, pas makan malam, Bu Yati bilang: “Nduk, mulai besok Tuan yang antar jemput kamu kerja ya. Katanya biar aman. Supir lagi cuti.”
Aku hampir tersedak. “E-eh... nggak usah repot-repot Bu. Saya naik gojek aja.”
“Udah perintah Tuan,” jawab Bu Yati sambil senyum-senyum aneh.
---
*JAM 12 MALAM*
Aku kebangun karena haus. Tenggorokan kering. Pas mau ke kamar mandi, langkahku terhenti.
Dari balik pintu kecil itu... aku dengar suara Arka. Bicara di telepon. Suaranya pelan, tapi jelas karena dindingnya tipis.
“...Aku nggak cemburu, Bayu. Aku cuma... nggak suka ada laki-laki lain di rumahku. Apalagi di kamarnya.”
Jantungku berhenti berdetak 3 detik.
Cemburu? Arka?
Aku buru-buru mundur dan masuk ke kamar mandi. Pipiku panas.
Pas keluar, lampu lorong masih nyala. Dan di depan pintuku... ada semangkok es krim cokelat. Masih dingin. Dengan note kecil:
_“Buat ngidam. Jangan keluar lagi.”_[A]
Aku memegang note itu erat.
CEO dingin ternyata... hafal aku ngidam es krim.
---
*BERSAMBUNG KE BAB 4 - "MANTAN DATANG"*
---
*CATATAN PENULIS* ✍️
HALOOO READERS KESAYANGAN AKU 🥰
Akhirnya bab 3 selesai juga! 2100 kata! Tepuk tangan buat kita semua 👏
*BAHAS BAB 3 YUK:*
*Pindah kamar* \= Resminya Aira & Arka jadi tetangga. Dinding tipis \= konflik + baper pasti nambah.
*Adegan cemburu* Arka itu masih level 1. Level 100 nya nanti pas di kantor ya 😈
*Es krim tengah malam* itu bukti kalau Arka merhatiin. Dia nggak romantis, tapi dia _care_ dengan caranya sendiri.
*FUN FACT:*
Adegan Arka ngintip Aira video call itu aku ambil dari pengalaman pribadi. Mantan aku dulu juga gitu. Pas tau aku vc-an sama temen cowok langsung diem 3 hari 😂
*VOTING WAJIB!*
Menurut kalian pintu kecil itu bakal dipake buat apa?
A. Arka nyelinap pas Aira sakit
B. Aira yang nyelinap pas Arka demam
C. Dipake maling masuk
Komen jawaban kalian! Yang paling kreatif aku pin!
*JANGAN LUPA:*
Vote ⭐ Komen 💬 Follow 👤 Share 🔗
Target 1K vote di bab ini ya! Kalau tembus, Bab 4 aku up 2 bab langsung!
Bab 4 rilis *Besok jam 8 malam* judulnya "MANTAN DATANG"
Spoiler: Mantan Arka bakal bilang ke Aira: "Kamu cuma pelampiasan dia"
Makasih udah baca sampe akhir. Kalian luar biasa! 🤍
- *Penulis: [Nama Kamu]* -
Askara Senja
Lanjut *Bab 4* sekarang gak?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!