Langkah kaki Azira menggema lambat di sepanjang koridor menuju ruang kerja ayahnya. Rumah megah ini selalu terasa terlalu sunyi, namun malam ini, kesunyian itu terasa mencekik.
Atmosfer mendadak berubah kaku sejak pelayan menyampaikan pesan bahwa sang kepala keluarga ingin bicara. Bukan ajakan, melainkan sebuah perintah mutlak.
Azira menarik napas dalam. Dia mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sebelum mengetuk pintu kayu jati setinggi dua meter di hadapannya.
Tok. Tok.
"Masuk," sebuah suara berat dan sarat otoritas terdengar dari dalam.
Begitu pintu terbuka, aroma terapi kayu cendana yang tajam langsung menyergap indra penciuman Azira.
Di balik meja mahoni yang luar biasa besar, sang Papah duduk dengan punggung tegak sempurna. Dinding belakangnya, terdapat deretan foto bersama para petinggi korporasi berbingkai emas seolah ikut menatap Azira dengan angkuh.
Tidak ada senyuman hangat seorang Papah yang menyambutnya, yang ada hanyalah tatapan menilai seorang penguasa yang sedang menunggu bidak caturnya mendekat. Udara di dalam ruangan itu seketika terasa beberapa derajat lebih dingin.
"Duduk, Azira," perintah Papah tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas di atas meja.
Tangan kanannya yang dihiasi jam tangan emas mewah bergerak konstan, menorehkan tanda tangan di atas kertas-kertas tebal berlogo korporasi. Suara gesekan pena dengan kertas terdengar seperti ketukan waktu yang mendikte nasib Azira.
Azira duduk di kursi kulit di hadapan meja itu. Kursi yang sengaja dibuat lebih rendah, memaksa siapa pun yang duduk di sana untuk mendongak menatap sang penguasa rumah.
"Ada apa Papah memanggilku?" tanya Azira, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Papah tidak langsung menjawab. Beliau menutup pulpen mahalnya dengan bunyi klik yang tajam, lalu merapikan tumpukan kertas ke meja hingga semua dokumennya rapi, beliau menyandarkan punggung, menautkan jemarinya di atas perut, dan menatap Azira dengan mata yang dingin, seolah sedang menilai kelayakan sebuah aset bisnis.
"Bulan depan, posisi Komisaris Utama Prayoga Group akan dilelang, untuk mitra strategis," ujar Papah, langsung ke inti masalah tanpa basa-basi keluarga.
"Dan keluarga kita membutuhkan kursi itu untuk mengunci kekuasaan di lingkaran atas". Lanjut Papah.
Azira mengerutkan kening. Firasat buruk mulai merayapi tengkuknya. "Lalu, apa hubungannya denganku, Pah?"
Papah menyunggingkan senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
"Hubungannya adalah kamu, Azira. Kamu adalah kunci agar Prayoga Group menyerahkan kursi itu kepada Papah. Kamu akan menikah dengan Baskara Yudhistira Prayoga."
Azira tertegun. Pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis saat mendengar nama Baskara disebut bersamaan dengan kata pernikahan.
Dia mencengkeram lengan kursi yang didudukinya, berusaha menahan tubuhnya agar tidak gemetar. "Menikah?" Azira mengulang kata itu dengan suara yang nyaris tertelan.
Dia menggeleng pelan, menolak mempercayai pendengarannya. "Papah bercanda, 'kan? Baskara Prayoga bahkan tidak mengenalku, dan aku tidak tahu apa-apa tentang dia!"
Papahnya hanya menatapnya datar, tanpa riak bersalah sedikit pun.
Azira menegakkan punggungnya. Rasa kagetnya perlahan berubah menjadi tuntutan untuk dimengerti.
"Kalau ini soal memperluas bisnis, atau mengunci posisi Komisaris yang Papah mau, kenapa harus lewat pernikahan?, Kenapa harus mengorbankan aku?, Bukankah kerja sama korporasi biasanya, lewat investasi saham, atau merger kontrak, itu jauh lebih masuk akal di dunia bisnis, daripada memaksa dua orang asing tinggal satu atap?" Azira memajukan tubuhnya, menatap lurus ke mata Papahnya yang dingin.
"Beri aku satu alasan yang logis, Pah. Tegas Azira.
"Kenapa seorang CEO sekelas Baskara Yudistira Prayoga, mau menyerahkan posisi penting itu kepada Papah, hanya demi menikahi perempuan, yang sama sekali tidak ada hubungan dengan dunia bisnisnya?" lanjut Azira meminta penjelasan.
Sang Papah menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tersenyum meremehkan keluguan putrinya. "Kamu terlalu naif, Azira," suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan.
"Kontrak bisnis bisa dibatalkan kapan saja lewat pengadilan. Merger perusahaan bisa hancur, kalau ada salah satu pihak yang berkhianat di lantai bursa. Di dunia atas, selembar kertas bertanda tangan itu, tidak ada harganya, jika dibandingkan dengan ikatan darah."
Papah mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya yang dihiasi cincin mewah. "Baskara Prayoga itu serigala bisnis. Dia tidak akan pernah membiarkan orang luar masuk ke lingkaran kekuasaannya, dan ikut menikmati kursi Komisaris, kecuali... orang luar itu sudah menjadi bagian dari keluarganya sendiri, Jadi. Pernikahan ini adalah jaminan," lanjut Papah tanpa beban.
"Bagi Baskara, menikahi kamu berarti, memastikan bahwa rahasia dan aset perusahaannya, tetap aman di dalam lingkaran keluarga. Bagi Papah, kamu adalah satu-satunya jaminan hidup, yang membuat Baskara tidak akan bisa mendepak Papah dari kursi kekuasaan. Kamu mengerti sekarang? Ini bukan soal cinta, Azira. Ini soal mengunci loyalitas yang tidak bisa dibeli dengan uang."
Azira berdiri dari kursinya. Tatapan matanya yang semula bergetar karena syok, kini menatap sang Papah dengan kilat kemarahan dan ketegasan yang mutlak.
"Bagi Papah, pernikahan mungkin cuma soal mengunci loyalitas, dan mengamankan kursi kekuasaan, tapi tidak bagiku!" Suara Azira bergetar, namun setiap katanya terdengar sangat tegas.
Azira mencengkeram tepi meja mahoni Papahnya, memangkas jarak di antara mereka. "Pernikahan itu sakral, Pah. Menikah itu janji satu kali seumur hidup yang melibatkan hati dan masa depanku. Aku hanya akan menyerahkan hidupku pada orang yang benar-benar aku cintai, bukan pada orang asing sedingin es yang hanya peduli pada nilai saham!"
Papah baru saja hendak memotong, namun Azira menggeleng keras, menolak untuk didebat lagi.
"Aku tidak peduli seberapa tinggi pangkat yang ingin Papah kejar, tapi aku menolak jadi tumbal untuk ambisi itu. Cinta tidak bisa dipaksa lewat tanda tangan kontrak, dan aku bukan barang dagangan yang bisa Papah gadaikan di meja rapat Prayoga Group!"
Tanpa menunggu balasan dari Papahnya, Azira berbalik.
Dia melangkah lebar meninggalkan ruang kerja yang mencekam itu, membanting pintu kayu jati yang berat di belakangnya, dan membiarkan air mata kemarahannya luruh saat dia berlari mencari satu-satunya tempat aman yang dia tahu yaitu "Farhan".
...****************...
Aroma antiseptik yang khas langsung menyambut Azira begitu ia melangkah terseok-seok memasuki lobi rumah sakit. Tempat yang bagi orang lain terasa menakutkan ini, Azira justru menemukan rasa aman, karena di sinilah Farhan berada.
Azira duduk di bangku taman rumah sakit yang sepi, mencoba menata napasnya yang memburu. Tangannya yang dingin saling meremas.
"Azira?" terdengar suara familiar memanggilnya.
Azira mendongak. Farhan berdiri di sana, masih mengenakan jas putih dokternya yang sedikit kusut.
Ekspresi lelah di wajah Farhan setelah shift panjang seketika sirna. Tatapannya digantikan oleh rasa cemas yang ketara begitu melihat mata Azira yang sembap dan merah.
Tanpa sepatah kata pun, Farhan berjalan cepat, berlutut di hadapan Azira, dan langsung menggenggam kedua tangan sahabatnya yang bergetar.
"Hei, ada apa? Kenapa menangis?" suaranya begitu lembut, berbanding terbalik dengan otoritas dingin Papahnya tadi.
Pertahanan Azira seketika runtuh total. Dihadapan Farhan, dia tidak perlu berpura-pura kuat.
Sambil terisak, Azira menumpahkan segalanya kepada Farhan. Dia menceritakan tentang ambisi gila Papahnya yang haus pangkat, tentang kursi Komisaris Prayoga Group yang ingin direbut, dan tentang nama Baskara Yudhistira Prayoga yang mendadak dipaksakan masuk ke dalam hidupnya sebagai calon suami.
"Bagi Papah, aku cuma jaminan bisnis, Han," tangis Azira pecah, bahunya terguncang hebat.
"Papah mau aku menikah dengan orang asing itu. Tapi kamu tahu prinsipku, 'kan? Pernikahan itu harus satu kali seumur hidup, dengan orang yang dicintai, Cinta gak bisa dipaksa lewat tanda tangan kontrak." Sambil masih terisak.
Farhan mendengarkan setiap kalimat Azira tanpa memotong, namun, jika Azira sedang tidak terlalu tenggelam dalam kesedihannya, dia pasti akan menyadari bagaimana jemari Farhan perlahan menegang. Rahang dokter muda itu mengeras. Ada kilat kepedihan sekaligus kemarahan yang tertahan di balik sepasang mata hangat Farhan.
Farhan menarik Azira ke dalam pelukannya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya.
"Aku tahu, Ra. Aku tahu prinsipmu," bisik Farhan lirih, tangannya mengusap rambut Azira dengan penuh perasaan.
Namun dalam hatinya, Farhan merutuki dirinya sendiri. Mengapa dia terlambat? Mengapa bukan dia yang maju menyatakan perasaannya sebelum CEO itu datang dan merenggut Azira dari hidupnya.
Di tengah keheningan taman rumah sakit, saat Azira larut dalam dekapan hangat Farhan, ada sepasang mata misterius mengintai mereka dari balik kaca mobil hitam, yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada. Sebuah senyuman dingin terukir di wajah pria di dalam mobil itu, saat melihat Azira menangis di pelukan Farhan.
“Lama tidak berjumpa, Azira. Kamu masih sama seperti dulu... cengeng, Dan pelukan itu, seharusnya untukku.” Gumam pria itu pelan sembari mengelus sebuah gelang anyaman usang masa kecil di pergelangan tangannya.
Malam pertemuan yang tidak dinantikan Azirapun tiba, kini dia berada di ruang private dining di hotel bintang lima, yang begitu megah sekaligus mencekik. Cahaya dari lampu kristal besar di langit-langit memantul sempurna, pada deretan alat makan perak dan gelas-gelas kristal, di atas meja panjang yang terkesan anggun.
Di sinilah Azira sekarang, terjebak dalam sandiwara kelas atas yang dirancang rapi oleh Papahnya.
Setiap sudut ruangan ini memancarkan kekayaan, namun bagi Azira, atmosfernya terasa seperti ruang eksekusi.
Di satu sisi meja, duduk kedua orang tua Baskara Yudhistira Prayoga. Mereka adalah gambaran nyata dari dinasti kekuasaan yang sesungguhnya, anggun, berwibawa, dengan pakaian kelas atas dan tatapan tajam yang seolah bisa menembus isi kepala Azira.
Di sebelah mereka, Baskara duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi. CEO muda itu, tampak sangat memesona dengan setelan jas hitam custom-tailored, yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.
Namun, ekspresi wajahnya sedingin es Wall Street. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, sama sekali tidak tersentuh oleh kehangatan, atau keramahan apa pun.
Sementara di sisi meja Azira, suasananya jauh lebih beracun. Papahnya duduk dengan senyum paling lebar yang pernah Azira lihat seumur hidupnya. Pria paruh baya itu sibuk menyanjung dan menjilat keluarga Prayoga, demi mengamankan pangkat komisaris yang begitu diagungkannya.
Di sebelah Papah, sang ibu tiri, Tante Shafira. Sesekali melempar senyum palsu yang manis ke arah orang tua Baskara, namun di bawah meja, jemari Tante Shafira meremas pelan pergelangan tangan Azira. Kuku-kukunya yang panjang sedikit menekan kulit Azira, sebuah ancaman terselubung, dan peringatan keras agar Azira tidak berani membuka mulut, untuk protes atau merusak suasana.
Namun, yang paling membuat atmosfer meja makan ini memuakkan adalah adik tiri Azira, Sendy. Sejak awal mereka duduk, tatapan mata Sendy tidak pernah lepas dari Baskara. Ada binar penuh kekaguman, pesona, sekaligus rasa iri yang mendalam yang tidak bisa dia sembunyikan. Sendy jelas cemburu mengapa kakak tirinya yang kuper bisa mendapatkan pria sekelas Baskara.
Setiap kali orang tua Baskara mengajukan pertanyaan ramah pada Azira, Sendy akan sengaja menyela dengan tawa kecil atau berdeham sinis, seolah ingin menunjukkan pada semua orang di ruangan itu, bahwa Azira adalah wanita membosankan yang tidak pantas berada di sana.
Di tengah kepalsuan, keserakahan, dan kebencian yang berseliweran di atas meja makan mewah itu, Azira merasa seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis hukuman matinya dijatuhkan.
Pelayan baru saja menyajikan hidangan utama berupa wagyu steak premium, dengan saus khusus. Aroma daging mahal itu menyeruak ke udara, namun bagi Azira, potongan daging di piringnya terasa sehambar bagai kertas basah. Tenggorokannya terlalu tercekat untuk menelan apa pun.
"Azira," Ibu Baskara membuka suara dengan nada anggun yang sangat berwibawa, memecah keheningan yang kaku.
"Tante dengar kamu lulusan sastra, ya? Baskara ini orangnya kaku sekali, dunianya cuma angka, laporan keuangan, dan grafik saham. Apa nanti kamu tidak bosan mengobrol dengannya di rumah?" lanjut ibu Baskara.
Belum sempat Azira membuka mulut untuk menjawab, suara manja Sendy sudah memotong dari ujung meja, kentara dengan nada yang disengaja.
"Aduh, Tante, justru itu yang kami cemaskan di rumah," Sendy tertawa kecil, suara tawa yang dibuat-buat sembari melirik Baskara dengan tatapan genit yang kentara.
"Kak Azira itu terlalu idealis karena kebanyakan membaca buku sastra. Dia selalu bilang, kalau dunia bisnis itu membosankan, dan pernikahan karena bisnis itu, tidak pakai hati. Kami sekeluarga sampai takut, jika nanti Kak Azira malah merepotkan Kak Baskara, karena dia benar-benar tidak paham cara bersikap, atau mengobrol di depan kolega-kolega penting Prayoga Group." Sambil tersenyum penuh kemenangan.
Namun, Meja makan itu mendadak hening seketika. Kalimat Sendy terdengar seperti candaan keluarga yang polos, tapi maknanya adalah pukulan telak yang sengaja membongkar fakta bahwa Azira menolak perjodohan ini, dan dianggap tidak kompeten sebagai istri seorang CEO.
Papah Azira langsung melotot tajam ke arah Sendy, terkejut dengan kecerobohan anak bungsunya. Wajah pria tua itu mendadak pucat saat menatap orang tua Baskara yang terdiam.
"Maksud Sendy, Azira itu tipe wanita rumahan yang sangat lembut dan penurut..."
"Ah, tidak apa-apa, Papah," Sendy menyela lagi dengan senyum kemenangan. Dia merasa di atas angin saat melihat Azira hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja untuk menahan rasa malu yang membakar dada.
"Aku cuma kasihan saja sama Kak Baskara. Kalau aku yang ada di posisi Kak Azira, aku pasti akan belajar mati-matian tentang saham, investasi, dan perkembangan bisnis Prayoga Group, supaya bisa jadi pasangan yang benar-benar sepadan, dan membanggakan untuk Kak Baskara."
Tante Shafira tersenyum sangat puas di balik gelas anggurnya. Dia merasa bangga melihat anak kandungnya berhasil menyudutkan anak kandung suaminya, di depan calon mertua kaya raya.
Sementara Azira, hanya bisa menunduk, meremas serbet kain di pangkuannya, hingga jemarinya memutih. Dipermalukan oleh keluarga sendiri di depan orang asing yang baru pertama kali ditemui, adalah jenis rasa sakit yang paling mengiris hati, dan menghancurkan harga dirinya.
Namun, keheningan mencekam itu mendadak dipecahkan oleh suara denting pisau dan garpu, yang diletakkan di atas piring porselen dengan ketukan yang tegas.
Semua mata otomatis tertuju pada ujung meja, ke arah Baskara. CEO muda itu menyeka sudut bibirnya dengan saputangan kain secara perlahan, gerakannya begitu elegan namun memancarkan aura dingin yang luar biasa. Gerakannya yang tenang justru memancarkan tekanan intimidasi yang kuat, membuat Sendy yang tadinya tersenyum lebar langsung bungkam ketakutan.
Baskara mendongak. Matanya yang sedingin es tidak menatap Sendy sama sekali, melainkan mengunci lurus menatap ke arah Papah Azira.
"Saya membeli saham sebuah perusahaan, bukan karena saya kekurangan uang, tapi karena perusahaan itu punya nilai yang tidak dimiliki tempat lain," ujar Baskara. Suaranya berat, dalam, dan bergema dengan penuh penekanan di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Begitu juga dengan pernikahan ini. Saya memilih Azira karena dia memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain di ruangan ini: prinsip hidup."
Baskara kemudian mengalihkan tatapan tajamnya perlahan ke arah Sendy. Sorot mata sang CEO begitu dingin dan menusuk, membuat adik tiri Azira itu menahan napas dan mencengkeram gaunnya sendiri karena ketakutan.
"Prayoga Group tidak butuh dua orang yang mengerti saham di dalam satu rumah. Itu membosankan," lanjut Baskara dengan nada datar namun mematikan.
"Dan saya sama sekali tidak suka ada orang luar yang mencoba mendikte siapa yang sepadan atau tidak untuk menjadi istri saya."
Sindiran itu begitu telak.
Suasana makan malam langsung berakhir dengan kecanggungan yang luar biasa. Papah, Tante Shafira, dan Sendy pulang lebih dulu dengan wajah masam terlipat, langkahnya terburu-buru, akibat malu disindir habis-habisan oleh Baskara.
Berbeda dengan Azira, ia sengaja memilih untuk tinggal di restoran hotel tersebut, dan menolak keras untuk pulang bersama keluarganya. Baginya, sandiwara ini harus dihentikan, dan ada satu hal penting yang harus diselesaikan malam ini, menuntut jawaban jujur langsung dari Baskara.
Pintu kayu ruang privat itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang mendadak terasa begitu berat dan pekat. Di ruangan luas yang mewah ini, kini hanya ada Azira dan Baskara.
Sang CEO masih duduk tenang di kursinya. Dia mengulurkan tangan untuk melonggarkan sedikit simpul dasi hitamnya, namun ekspresi dingin di wajahnya tetap melekat kuat, sama sekali tidak berkurang sejak awal acara.
Azira menarik napas dalam-dalam. Dia melangkah mendekat, berjalan tegas hingga berdiri tepat di seberang meja mahoni tempat Baskara berada.
Azira menegakkan punggungnya. Dia menolak mentah-mentah untuk terlihat kerdil atau lemah di hadapan pria yang tidak lama lagi akan memegang kendali penuh atas status hukum hidupnya.
"Terima kasih untuk pembelaan Anda di depan Sendy tadi," Azira membuka suara. Nadanya terdengar datar, dingin, tanpa emosi berlebih.
"Tapi pembelaan itu tidak mengubah apa pun di antara kita. Saya butuh jawaban yang jujur dari Anda sekarang, Tuan Baskara." lanjut Azira.
Baskara mendongak perlahan. Sepasang mata tajamnya langsung mengunci tatapan Azira tanpa berkedip. "Jawaban tentang apa?"
"Alasan Anda," sahut Azira cepat.
Dia melangkah satu langkah lebih maju, memperkecil jarak.
"Papah saya haus pangkat dan kekuasaan. Dia rela menukar anak kandungnya sendiri dengan kursi Komisaris Utama di Prayoga Group. Hal itu sangat masuk akal bagi pria korup dan egois seperti dia" tegas Azira.
"Tapi Anda, Anda adalah CEO muda tersukses tahun ini. Anda memiliki kekayaan, takhta, dan pengaruh yang luar biasa. Jadi, beri tahu saya alasan masuk akal, kenapa Anda setuju menikahi wanita asing yang bahkan tidak Anda cintai, Dan tolong, jangan gunakan alasan prinsip hidup, seperti yang Anda katakan di depan keluarga saya tadi untuk membual." lanjut Azira.
Baskara terdiam sejenak. Dia meletakkan gelas kristalnya ke atas meja, dengan bunyi ketukan perlahan yang memecah keheningan malam.
Pria itu kemudian berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahunya yang lebar, langsung membuat ruangan itu terasa dikuasai oleh kehadirannya. Baskara berjalan memutari meja panjang, melangkah perlahan namun pasti ke arah Azira.
Dia mengikis jarak di antara mereka, hingga menyisakan beberapa jengkal saja. Jarak yang sangat intim namun dipenuhi ketegangan yang mengintimidasi.
Aroma parfum maskulin bercampur wangi kayu mahal yang pekat, langsung mengurung indra penciuman Azira, membuat dada wanita itu berdebar kencang karena tekanan atmosfer yang mendominasi.
"Kamu mau alasan yang jujur?" Baskara menunduk sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata Azira, dengan sorot mata elang yang sulit dibaca.
"Pernikahan ini adalah benteng, Azira. Di duniaku, musuh tidak selalu menyerang lewat persaingan bisnis di lantai bursa, tapi lewat celah pribadi dan kelemahan domestik. Memiliki istri dari keluarga Gunawan yang haus kekuasaan, membuat semua pergerakan Papahmu bisa ku kontrol penuh di bawah hukum pernikahan kita. Aku tidak butuh cinta untuk mengamankan takhtaku, aku hanya butuh sekutu yang bersih dari intrik."
Baskara menjeda kalimatnya sejenak. Dia menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya dengan gaya yang sangat tenang namun angkuh.
"Dan yang paling penting... aku tahu kamu membenci perjodohan ini sama besarnya denganku. Itu artinya, kamu tidak akan pernah mencoba mencari muka, mencuri asetku, atau bertingkah menjadi istri menyebalkan yang menuntut hati dan perasaan. Kita berdua sama-sama terpaksa, dan keterpaksaan yang saling menguntungkan ini adalah jaminan bisnis paling aman yang pernah kutemukan."
Azira mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih mendengar jawaban sedingin es itu. Sesuai dugaan terburuknya, bagi Baskara Yudhistira Prayoga, dirinya tidak lebih dari sekadar variabel keamanan dalam kalkulasi bisnis jangka panjang sang CEO. Pria ini benar-benar memperlakukan hidup orang lain seperti angka-angka di atas kertas kontrak.
Namun, Azira tidak mundur selangkah pun. Alih-alih terintimidasi oleh tinggi badan dan tatapan tajam Baskara yang mengurungnya, Azira justru mendongak berani. Dia menantang sepasang mata elang itu dengan kilat kemarahan yang membara dari dasar hatinya.
"Kalau begitu, Anda salah besar, Tuan Baskara Prayoga," suara Azira terdengar rendah, namun bergetar penuh penekanan yang mutlak.
"Anda merasa diri Anda begitu hebat, cerdas, dan di atas angin karena menjadi CEO sukses, Bagi saya, Anda tidak ada bedanya dengan Papah saya yang korup itu, Kalian berdua sama saja, pria-pria egois yang hanya mementingkan bisnis, angka, keuntungan, dan takhta, lalu dengan ringannya mengorbankan sisa hidup orang lain demi kalkulasi aman kalian sendiri!"
Baskara sedikit menaikkan sebelah alisnya. Pria itu tampak terkejut, mendengar ada seorang wanita yang berani, menyamakannya dengan pria serakah seperti Gunawan, apalagi menentangnya dengan kata-kata sekeras itu.
Namun sebelum Baskara sempat membalas, Azira sudah mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuknya menempel kuat di dada bidang Baskara, tepat di atas jantung pria itu.
"Dengar baik-baik. Jika pada akhirnya pernikahan kontrak ini harus terjadi, karena saya tidak punya kekuatan lagi untuk melawan otoritas gila Papah saya, jangan pernah berpikir sedikit pun bahwa Anda bisa mengontrol hidup saya," tegas Azira.
Napasnya memburu menahan emosi yang meluap-luap. "Saya mungkin terpaksa menikah dengan Anda, tapi harga diri saya tidak bisa dibeli dengan lembaran saham Prayoga Group. Status hukum boleh mengikat nama saya di atas kertas, tapi tidak dengan diri saya, pikiran saya, ataupun kebebasan saya. Anda jalankan bisnis kotor Anda, dan jangan pernah berani mendikte bagaimana saya harus menjalani hidup, dan perlu diingat selama saya bisa, saya akan berusaha menggagalkan perjodohan ini"
Setelah menumpahkan seluruh harga dirinya yang sempat diinjak-injak malam ini, Azira menarik kembali tangannya. Dia menyambar tasnya dari atas kursi dengan gerakan cepat. Tanpa sudi melihat lagi bagaimana ekspresi wajah Baskara yang membeku karena syok.
Dia melangkah lebar dengan sepatu hak tingginya, meninggalkan ruang privat itu tanpa menoleh lagi.
Di balik punggung wanita itu, Baskara berdiri mematung di tengah ruangan yang mendadak kembali sunyi. Untuk pertama kali dalam hidup sang CEO, ada seorang wanita yang berani menunjuk dadanya, menghardik wajahnya, dan menolak mentah-mentah dikendalikan oleh kekuasaannya.
Sudut bibir Baskara perlahan terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius. Itu bukan senyuman kemarahan, melainkan sebuah seringai ketertarikan.
Baskara menyadari, bahwa wanita yang akan dinikahinya ini ternyata jauh lebih berbahaya, liar, dan menarik daripada sekadar boneka pajangan bisnis.
...****************...
Setengah jam kemudian, Azira sudah berdiri di koridor belakang rumah sakit yang sepi dan remang-remang.
Angin malam Jakarta berembus cukup kencang, membuat bahunya yang terbalut gaun malam tipis tanpa lengan agak menggigil kedinginan. Di tempat yang bagi orang lain terasa menakutkan dan berbau duka ini. Lain bagi Azira, di tempat inilah, ia menemukan rasa aman yang hakiki, karena di sinilah Farhan, satu-satunya pelindungnya, berada.
"Zira?"
Azira menoleh cepat dengan mata berkaca-kaca. Farhan berjalan setengah berlari ke arahnya dari dalam gedung dengan langkah terburu-buru. Ekspresi lelah di wajah tampan sang dokter setelah sif panjang belasan jam seketika sirna tanpa bekas.
Tatapannya digantikan oleh rasa cemas yang teramat sangat begitu melihat Azira berdiri sendirian di tengah dinginnya malam dengan mata yang sembap dan merah.
Tanpa ragu atau membuang waktu, Farhan langsung melepas jas putih dokternya yang longgar dan menyampirkannya ke atas bahu Azira yang bergetar, mengusir dingin yang sedari tadi menyiksa wanita itu. Kehangatan dari jas itu langsung menjalar ke tubuh Azira.
"Gimana makan malamnya? Mereka menyakitimu? Apa yang terjadi, Ra?" tanya Farhan bertubi-tubi. Suaranya terdengar begitu lembut, hangat, dan penuh perhatian—berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan semua suara dingin dan tajam yang Azira dengar sepanjang malam ini.
Pertahanan Azira yang ditahannya sekuat tenaga di depan Baskara akhirnya runtuh total tanpa sisa. Di depan Farhan, dia tidak perlu memakai topeng wanita tegar atau putri bangsawan korporasi.
Sambil terisak hebat, Azira menumpahkan segala rasa sakit hatinya. Dia menceritakan kelakuan busuk Sendy dan Tante Shafira yang menghinanya, tentang ambisi gila Papah yang menjijikkan, hingga konfrontasi mautnya dengan Baskara Yudhistira Prayoga di ruang privat tadi.
"Dia persis seperti Papah, Han," tangis Azira pecah, bahunya terguncang hebat di bawah balutan jas dokter Farhan.
Air matanya membasahi pipi. "Pria itu menganggap pernikahan ini cuma jaminan dan benteng untuk keamanan bisnisnya saja! Dia pikir dia bisa mengontrolku sesuka hati dengan kekuasaan dan uangnya. Tapi aku tidak diam saja, Han. Aku menunjuk dadanya! Aku tegaskan kalau aku menolak dikontrol oleh siapa pun, termasuk oleh CEO sekaya dan sesombong dia!"
Mendengar cerita itu, cengkeraman tangan Farhan pada bahu Azira perlahan-lahan menegang kuat. Rahang dokter muda itu mengeras, menahan amarah yang membakar dadanya mendengar bagaimana sahabatnya diperlakukan seperti barang dagangan.
Namun, sepasang mata hangat Farhan juga memancarkan binar kebanggaan yang tulus atas keberanian Azira.
Farhan menarik Azira ke dalam dekapannya. Dia memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menyembunyikan kepala Azira di dada bidangnya, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan kesedihan yang dialami wanita itu malam ini.
Aroma antiseptik rumah sakit yang familier bercampur wangi maskulin khas Farhan seketika menenangkan detak jantung Azira yang berantakan. Di dalam pelukan itu, Azira merasa utuh kembali.
"Itu baru sahabatku," bisik Farhan lirih di sela-sela rambut Azira, mengusap punggung wanita itu dengan penuh perasaan dan kelembutan. "Kamu wanita yang kuat, Zira. Jangan pernah biarkan bajingan-bajingan berjas mahal itu mengikis harga dirimu sedikit pun. Aku akan selalu ada di sini."
Farhan mempererat pelukannya, seolah tidak ingin melepaskan wanita itu ke tangan siapa pun. Namun, di balik punggung Azira yang sedang terisak manja, tatapan mata sang dokter menembus kegelapan malam dengan kilat tekad yang berbahaya.
Farhan tahu, waktu yang dia miliki untuk menjaga Azira dari jarak dekat sudah semakin menipis sebelum hukum secara resmi menyerahkan wanita itu ke tangan Baskara Prayoga. Dia harus melakukan sesuatu.
Tanpa mereka berdua sadari, dari balik pilar koridor rumah sakit yang gelap dan tidak terjangkau cahaya lampu, siluet seorang pria yang mengenakan topi hitam memperhatikan kedekatan mereka.
Napas pria misterius itu memburu, menahan amarah dan cemburu yang membakar jiwanya. Jari-jarinya yang bersarung tangan mencengkeram erat sebuah foto lama masa kecil mereka yang sudah kusam dan sedikit robek di dalam saku jaketnya.
“Seharusnya pelukan itu milikku, Azira. Bukan dokter sialan itu, dan bukan pula CEO sombong itu. Aku sudah kembali, dan aku akan mengambil apa yang sudah kamu janjikan padaku dulu... apa pun caranya,” desis pria itu pelan dengan nada manipulatif yang mengerikan, sebelum ia melangkah mundur perlahan dan menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan malam
Pagi hari di kediaman keluarga Gunawan, tidak pernah diawali dengan kehangatan mentari, melainkan dengan ketegangan pekat, yang merayap di balik denting sendok perak.
Di ujung meja makan panjang, Papah duduk dengan koran bisnis di tangannya, memancarkan aura otoritas yang dingin, dan menuntut kepatuhan mutlak dari semua orang.
Sementara di sisi kiri meja, Tante Shafira sibuk mengoles selai ke atas roti, dengan gerakan yang sengaja dibuat seanggun mungkin, sangat bertolak belakang dengan sepasang mata liciknya, yang terus bergerak mengawasi gerak-gerik Azira.
"Papah sudah mengatur jadwal pertunanganmu dengan Baskara, akhir minggu ini," suara berat Papah memecah keheningan, terdengar begitu mutlak dan tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Beliau meletakkan korannya, menatap Azira dengan sepasang mata yang haus akan pangkat dan takhta korporasi.
"Jangan anggap kelakuan tidak sopanmu semalam di restoran, bisa menghapus perjodohan ini, Azira." Tegas Papah.
"Papah tidak mau tahu, kamu harus bersikap manis dan setuju. Jika kamu berani mengacaukan pertunangan ini, Papah tidak akan segan-segan menghentikan seluruh fasilitas, memblokir rekeningmu, dan memastikan kamu tidak akan bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi seumur hidupmu." lanjut Papah penuh ancaman.
Azira mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, menahan gejolak penolakan yang membakar dadanya hingga bergetar. Ancaman Papah selalu sama dan berulang sejak dulu, harta, fasilitas, dan pengusiran. Pria paruh baya itu benar-benar menganggapnya sebagai bidak, yang tidak punya hak untuk menentukan hidup sendiri.
Belum sempat Azira membuka mulut untuk membalas, suara cicitan manja dari Sendy sengaja menyela, dengan nada pasif-agresif yang memuakkan.
"Iya nih, Kak Azira kok egois banget, sih?" Sendy memajukan bibirnya, berlagak prihatin padahal matanya berkilat penuh rasa iri dan dengki.
"Harusnya Kakak itu bersyukur setengah mati dijodohkan sama CEO sesukses Kak Baskara. Kalau aku yang ada di posisi Kakak, aku pasti bakal langsung terima dengan senang hati tanpa banyak drama. Kasihan Papah, sudah capek-capek memikirkan masa depan keluarga, tapi Kak Azira malah pasang muka cemberut terus."
"Sendy benar, Sayang," Tante Shafira menimpali dengan senyuman madu yang manipulatif.
Wanita itu mengusap punggung tangan Papah lembut, seolah-olah dia adalah sosok istri yang paling bijaksana di dunia.
"Kamu itu sudah dewasa, Azira. Jangan kekanak-kanakan dengan memikirkan cinta omong kosong. Baskara Prayoga itu aset berharga bagi masa depan kita. Jangan sampai karena keegoisanmu, nama baik keluarga Gunawan jadi jelek di mata kolega bisnis Papah. Lagipula, wanita sastra sepertimu mau cari pria seperti apa lagi, kalau bukan yang kaya raya?"
Sindiran halus dari ibu tiri, dan adik tirinya berpadu sempurna dengan tatapan mengancam dari Papah. Mereka bertiga bergerak seperti sekutu pemburu, yang siap menguliti harga diri Azira, demi ambisi mereka masing-masing.
Terjebak di antara ancaman dan manipulasi beracun ini, Azira menyadari satu hal dengan sangat menyakitkan, rumah megah ini bukan lagi tempat berteduh, melainkan sebuah sangkar besi yang perlahan-lahan sedang mencekik kebebasannya sampai habis.
Kata-kata penuh racun dari ketiga orang di hadapannya, membuat sisa kesabaran Azira menguap tanpa bekas. Rasa muak yang teramat sangat mendorongnya untuk berdiri dengan sentakan keras, hingga kursi makannya bergeser, dan menimbulkan suara decit yang memekakkan telinga. Seluruh meja makan mendadak bungkam.
"Cukup!" Azira menatap Papah, Tante Shafira, dan Sendy bergantian dengan sepasang mata yang berkilat tajam oleh amarah yang membara.
"Ambil! Ambil semua fasilitas yang Papah banggakan itu, Blokir rekeningku, sita mobilku, aku tidak peduli sedikit pun, Aku lebih baik hidup luntang-lantung di luar sana, daripada harus tinggal satu atap dengan manusia-manusia yang tega menjual anaknya sendiri, demi pangkat dan uang!"
Sendy dan Tante Shafira terpekik syok, memegangi dada mereka, sementara wajah Papah seketika memerah padam karena murka yang luar biasa. "Azira, Berani kamu"
"Aku menolak perjodohan ini, dan aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga". Potong Azira lantang.
Dia berbalik, berniat melangkah lebar menuju kamarnya di lantai atas, untuk mengemas barang-barang berharganya.
"Jaga pintu depan! Jangan biarkan dia keluar!" bentakan menggelegar Papah, membuat dua pengawal berbadan tegap yang berjaga di luar ruang makan, langsung bergerak cepat. Sebelum Azira sempat mencapai tangga, kedua pengawal itu sudah menjegal langkahnya dengan kasar.
"Lepaskan aku! Papah, apa-apaan ini?!" teriak Azira histeris saat kedua pengawal itu mencengkeram lengannya, tidak membiarkannya melangkah ke pintu keluar.
Papah berjalan mendekat dengan napas memburu, tatapannya sedingin monster yang tidak punya hati.
"Kamu pikir kamu bisa merusak rencana besar yang sudah Papah bangun bertahun-tahun, Azira? Tidak akan pernah. Bawa dia ke kamarnya sekarang! Kunci pintunya dari luar dan sita semua alat komunikasinya. Dia tidak boleh keluar selangkah pun sampai hari pertunangannya dengan Baskara tiba!"
"Papah jahat! Lepaskan aku!" Azira memberontak sekuat tenaga, namun tenaganya kalah jauh. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Sendy menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat puas, sementara Tante Shafira berpura-pura mengelus dada seolah Azira adalah anak durhaka yang tidak tahu untung.
Brak!
Tubuh Azira didorong masuk ke dalam kamarnya sendiri. Detik berikutnya, suara anak kunci yang diputar dari luar terdengar begitu nyata, disusul dengan keheningan yang mencekam.
Azira menggedor pintu kayu kamarnya berkali-kali hingga tangannya memar, namun tidak ada jawaban. Di dalam kamar yang luas, kini berubah fungsi menjadi penjara berlapis emas, Azira luruh ke lantai. Air mata frustrasinya tumpah. Dia terkurung, sendirian, tanpa ponsel, dan tanpa tahu bagaimana caranya meminta bantuan kepada Farhan.
...****************...
Sementara itu, di koridor rumah sakit yang sibuk, Farhan tidak bisa fokus pada tumpukan rekam medis di hadapannya. Matanya terus melirik layar ponsel yang gelap. Nihil. Tidak ada satu pun balasan pesan atau panggilan telepon yang diangkat oleh Azira,sejak pagi tadi. Ini sangat tidak biasa, Azira tidak pernah menghilang seharian tanpa kabar, terutama setelah malam traumatis di restoran itu.
Firasat buruk mulai mencengkeram dada Farhan dengan kuat. Mengabaikan rasa lelahnya setelah shift panjang, Farhan menyambar jaket dan nekat mengendarai motornya, membelah jalanan kota menuju kediaman Gunawan. Pria itu tahu, posisinya hanya seorang sahabat, tetapi rasa cemasnya telah mengalahkan batas logika.
Begitu tiba, di depan gerbang tinggi rumah mewah itu, Farhan langsung dicegat oleh dua pengawal berbadan tegap. Beruntung, Tante Shafira kebetulan sedang berada di teras depan, mengawasi para pelayan yang sibuk menata dekorasi awal, untuk acara pertunangan.
Melihat kehadiran Farhan, langkah wanita paruh baya itu berayun mendekat, dengan senyum sinis yang meremehkan.
"Cari siapa, Dokter Farhan?" tanya Tante Shafira dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, sarat akan keangkuhan yang memuakkan.
"Kalau mau cari Azira, sebaiknya kamu pulang sekarang. Mulai hari ini, Azira tidak punya waktu untuk meladeni seorang teman yang tidak punya kepentingan bisnis dengan keluarga kami." Lanjut Tante Shafira.
Farhan berusaha keras menahan emosinya, meremas kunci motor di dalam saku jaketnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Saya hanya ingin memastikan keadaan Azira, Tante. Ponselnya tidak bisa dihubungi seharian. Apa dia baik-baik saja?"
Tante Shafira tertawa renyah, sebuah tawa palsu yang terdengar sangat merendahkan. "Tentu saja dia baik, Dia sedang beristirahat di kamarnya, mempersiapkan diri untuk hari pertunangan megahnya dengan Baskara Prayoga akhir minggu ini. Jadi, tolong tahu diri, Farhan."
Wanita itu melangkah satu kali lagi, menatap Farhan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan muak.
"Kamu itu hanya dokter biasa, Farhan. Gajimu sebulan bahkan tidak akan cukup untuk membeli satu buah gaun yang akan dipakai Azira, di pesta pertunangannya nanti. Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, untuk terus berada di dekat Azira. Dunia kalian sudah berbeda, Azira akan menjadi istri seorang CEO konglomerat, sedangkan kamu". Melihat Farhan dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Kamu tidak akan pernah bisa menaikkan pangkat suamiku. Jadi, angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga, sebelum saya menyuruh pengawal menyeretmu keluar!". Lanjut Tante Shafira, meremehkan.
Kata-kata beracun Tante Shafira, menghantam harga diri Farhan dengan telak. Rahang dokter muda itu mengeras, tangannya mengepal kuat. Dia tidak peduli dihina miskin, tetapi kenyataan bahwa Azira akan segera bertunangan dan mungkin sedang dikurung di dalam sana, membuat hatinya teriris.
Farhan mundur selangkah, menatap lantai atas rumah itu, berharap Azira bisa mendengar kehadirannya. Namun yang terdengar, hanyalah perintah ketus Tante Shafira kepada pengawal, untuk menutup gerbang rapat-rapat di depan wajahnya. Farhan berdiri mematung di luar pagar pembatas, terisolasi dari wanita yang sangat ingin ia selamatkan.
Sementara itu, di dalam kesunyian kamar yang dingin, telinga Azira mendadak menangkap suara raungan mesin motor, yang sangat ia kenal di depan gerbang. Detik berikutnya, terdengar suara lengkingan cacian Tante Shafira yang nyaring, samar-samar menembus kaca jendela kamar atas.
Farhan. Nama itu langsung terbersit di benak Azira, jantungnya berdegup kencang, Ia berlari panik menuju jendela, berusaha membukanya, namun jendela kayu itu ternyata sudah dipaku mati dari luar, oleh anak buah Papah sejak siang tadi. Azira menempelkan telinganya ke kaca, mati-matian mencoba mendengarkan apa yang terjadi di bawah sana.
Setiap kata hinaan yang dilontarkan Tante Shafira kepada Farhan, terdengar seperti belati yang menyayat dada Azira. Dia bisa membayangkan bagaimana harga diri pria berjas putih yang selalu menghangatkan bahunya itu, sedang diinjak-injak dengan kejam oleh ibu tirinya. Hanya karena Farhan adalah seorang dokter biasa, yang tidak bisa memberi suapan pangkat bagi Papah.
"Jangan, Tante... jangan hina Farhan," bisik Azira parau, air matanya luruh semakin deras menuruni pipi.
Azira beralih ke pintu kamarnya. Dia memukul permukaan kayu itu dengan sisa tenaga yang ia miliki, melupakan rasa perih di kepalan tangannya yang mulai memar.
"Buka pintunya, Papah, Tante Shafira, Lepaskan Farhan, Dia tidak tahu apa-apa!" teriak Azira histeris, namun suaranya diredam oleh dinding-dinding tebal rumah beracun ini.
Ketika suara deru motor Farhan perlahan menjauh dan menghilang ditelan bisingnya jalanan, tubuh Azira luruh ke lantai di balik pintu. Dia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata frustrasi.
Di tengah isak tangisnya yang sesak, rasa bersalah yang amat sangat mengurung hatinya. Azira tidak lagi mencemaskan nasibnya sendiri, yang sebentar lagi akan digiring ke altar pertunangan bersama Baskara. Fokusnya kini hanya satu, dia hanya bisa berdoa dan berharap dalam hati, semoga pria setulus Farhan akan baik-baik saja setelah menerima luka sedalam itu demi dirinya.
......................
Malam pun jatuh, mengganti langit jingga menjadi kegelapan yang pekat. Azira masih terduduk lemas di sudut kamar yang gelap gulita tanpa lampu. Perutnya berbunyi perih, namun rasa lapar itu kalah oleh rasa hancur di hatinya.
Tiba-tiba, sebuah suara ketukan halus terdengar. Bukan dari pintu kamar yang dikunci, melainkan dari arah balkon luar kamarnya.
Tok... Tok... Tok...
Azira tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin ada orang di balkon lantai dua, Dengan langkah gemetar, Azira mendekati pintu kaca balkon yang untungnya tidak dipaku mati. Ia menyibak tirai tipis, dan matanya seketika membelalak lebar.
Di balik kaca, berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan. Pria itu memegang sebuah senter kecil, dan sebuah ponsel hitam di tangannya. Ketika cahaya bulan menerangi wajah pria itu, Azira merasa napasnya tercekat di tenggorokan. Ketampanan pria itu begitu asimetris dan tajam, namun senyuman yang terukir di bibirnya terasa sangat familier dari masa lalunya yang terkubur.
Pria itu menggeser pintu kaca balkon yang ternyata tidak terkunci dari dalam, lalu melangkah masuk ke dalam kamar penjara Azira dengan gerakan seringai kucing.
"Lama tidak bertemu, Zira-ku," suara pria itu terdengar begitu berat, seksi, namun membawa getaran manipulatif yang membuat bulu kuduk Azira meremang.
"Kamu... kamu..." Azira mundur selangkah, otaknya berputar keras mencari memori masa kecil. "Gavin? Gavin Manzies?"
Pria itu, Gavin Manzies tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. Dia melangkah maju, memangkas jarak, lalu mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa air mata di pipi Azira, dengan ibu jarinya yang dingin. Sentuhan Gavin terasa begitu posesif, seolah-olah ia sedang menyentuh barang berharga miliknya yang sempat hilang.
"Iya, ini aku, teman masa kecilmu yang memegang janji setiamu," bisik Gavin, matanya berkilat penuh obsesi gila di dalam kegelapan.
Gavin mengangkat ponsel hitam di tangannya dan menyodorkannya pada Azira.
"Aku melihat semuanya dari bawah tadi, Zira. Aku melihat bagaimana ibu tirimu mengusir dokter miskin itu, dan bagaimana Papahmu mengurungmu seperti burung hiasan."
Gavin memiringkan kepalanya, menatap Azira dengan tatapan penuh simpati yang dibuat-buat, namun sangat meyakinkan. "Gunakan ponsel ini untuk menghubungi siapa pun yang kamu mau, termasuk dokter itu. Tapi ingat, Zira"
"CEO sombong bernama Baskara itu tidak akan melepaskanmu, dan dokter itu terlalu lemah untuk menyelamatkanmu dari Papahmu. Hanya aku, hanya Gavin mu yang punya kekuasaan untuk menghancurkan pernikahan bisnismu dan membawamu keluar dari neraka ini. Jadi, bersandarlah padaku, ya?". Lanjut Gavin.
Azira menatap ponsel di tangan Gavin dengan bimbang. Di satu sisi, pria ini adalah penyelamatnya malam ini, namun di sisi lain, Azira bisa merasakan ada jerat tak kasat mata yang jauh lebih berbahaya dan manipulatif, dari dalam sepasang mata terobsesi milik Gavin Manzies.
Gavin mengulas senyum misterius dan menyodorkan ponsel hitam itu.
"Gunakan ini untuk menghubungi doktermu, Zira. Bersandarlah padaku."
Azira menatap ponsel itu, lalu menatap mata Gavin yang berkilat obsesif. Nalurinya berteriak bahwa pria di depannya ini bukan lagi Gavin yang dulu, ada jerat berbahaya di balik kebaikannya.
"Tidak, Gavin. Terima kasih," Azira mundur selangkah, menolak ponsel itu dengan tegas.
"Aku tidak bisa menerima ini. Pergilah sebelum pengawal Papah melihatmu." Gavin menarik kembali ponselnya tanpa marah.
Senyumnya justru semakin melebar, dingin dan penuh teka-teki.
"Kamu masih keras kepala seperti dulu, Zira. Tapi tidak apa-apa, kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di sangkar emas ini sebelum akhirnya memohon padaku."
Setelah membisikkan kalimat itu, Gavin melangkah mundur ke balkon, dan kemudian menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan Azira yang mendekap dadanya yang bergetar ketakutan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!