Pagi hari di kota Bandung selalu dimulai dengan tergesa-gesa. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, derap langkah kaki para pekerja memadati trotoar dan riuh rendah suara obrolan orang-orang memenuhi udara. Namun, di tengah semua kebisingan itu, ada sebuah dunia yang begitu hening.
Dunia itu milik Nadia, gadis berusia 24 tahun itu berdiri di depan cermin kamar mandinya yang sederhana. Ia menguncir rambut hitam bergelombangnya menjadi ekor kuda yang rapi, menyisakan beberapa helai poni yang membingkai wajah ovalnya.
Nadia mengalami gangguan pendengaran sebagian, sehingga ia tidak bisa mendengar dengan jelas seberapa keras bunyi klakson di luar jendelanya dan ia juga tidak bisa mengeluarkan suara untuk menyapa dunia karena ia terlahir sebagai seorang tunawicara.
Namun, jika ada satu hal yang paling keliru dilakukan orang saat pertama kali bertemu Nadia, itu adalah mengasihaninya.
Nadia menatap pantulan dirinya di cermin lalu mengulas sebuah senyuman lebar hingga matanya yang bulat menyipit jenaka, lesung pipit di pipi kirinya menyembul dan memancarkan energi ceria yang seolah bisa menular kepada siapa saja yang melihatnya.
Bagi Nadia, tidak bisa berbicara bukanlah akhir dari segalanya. Suara mungkin adalah cara paling umum untuk berkomunikasi, tetapi baginya, ekspresi wajah, binar mata dan ketulusan sikap adalah bahasa universal yang jauh lebih kuat.
Nadia keluar dari kamarnya yang berukuran tiga kali tiga meter menuju dapur kecil rumahnya, sang ibu sedang menata beberapa potong tempe goreng di atas piring.
Keluarga Nadia adalah keluarga biasa, bahkan cenderung pas-pasan. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas dan ibunya menerima jahitan rumahan, rumah mereka kecil dan terletak di dalam gang sempit yang padat, jauh dari kemewahan.
Nadia mendekati ibunya, mencolek bahunya pelan lalu jemari tangannya bergerak dengan lincah dan luwes.
"Selamat pagi, Ibu cantik. Sarapan apa kita hari ini?" gerak isyarat tangan Nadia, ditemani anggukan kepala yang bersemangat dan senyum yang tak pernah pudar.
Ibu Sintia yang sudah fasih memahami bahasa isyarat putrinya pun tersenyum hangat, "Pagi, sayang. Ini, tempe goreng dan sambal korek kesukaanmu. Ayo sarapan, nanti kamu terlambat ke kampus," jawab Ibu Sintia menggunakan bahasa isyarat.
Nadia mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah-olah hidangan itu adalah makanan bintang lima, keceriannya selalu menjadi suplemen penambah semangat bagi kedua orang tuanya.
Di saat anak-anak lain yang memiliki keterbatasan fisik mungkin mengurung diri atau meratapi nasib, Nadia justru tumbuh menjadi badut pelipur lara di rumah sederhana mereka.
Sambil mengunyah sarapannya, Nadia melirik kalender dinding. Hari ini adalah hari pertamanya memulai semester empat di program Magister (S2) Jurusan Desain di salah satu universitas swasta terbaik dan termegah di kota Bandung.
Jika seseorang melihat latar belakang ekonomi keluarga Nadia, kuliah S2 di tempat elit seperti itu jelas hanyalah mimpi di siang bolong. Biaya per semesternya saja bisa setara dengan penghasilan Ayah Nadia selama setengah tahun. Namun, Nadia membuktikan bahwa batasan itu bisa didobrak.
Nadia tidak menyerah pada takdir. Dengan otak encer, kreativitas yang tanpa batas dan ketekunan yang luar biasa, Nadia berhasil menyabet beasiswa penuh. Beasiswa itu tidak hanya membiayai seluruh uang kuliahnya hingga lulus, tetapi juga memberikan tunjangan buku dan biaya hidup bulanan.
Nadia lolos setelah menyisihkan ribuan pendaftar normal lainnya melalui portofolio desainnya yang luar biasa indah dan presentasi tertulis yang memukau para dewan juri.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Nadia mencium pipi ibunya sekilas, lalu mengalungkan tas ransel kanvasnya yang penuh dengan buku sketsa dan laptop tua, satu-satunya modal berharganya yang dibeli dari hasil menabung uang saku S1 dulu.
Sebelum melangkah keluar pintu rumah, Nadia berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, menghirup udara pagi dalam-dalam, lalu membukanya dengan binar tekad yang menyala-nyala.
"Dunia mungkin tidak bisa mendengar suaraku, tapi mereka akan melihat karya-karyaku. Aku kuat, aku mampu dan hari ini adalah langkah baru untuk menjemput masa depanku," bisik Nadia dalam hatinya, sebuah mantra yang selalu ia rapalkan setiap hari.
Dengan langkah kaki yang ringan dan senyum yang merekah, perempuan tangguh itu berjalan membelah gang sempit dan siap menaklukkan dunia yang bising dengan keheningannya yang penuh warna.
Perjalanan dari rumahnya menuju kampus memakan waktu sekitar empat puluh menit menggunakan angkutan umum. Di dalam angkot yang sesak dan panas, Nadia sama sekali tidak terlihat terganggu, ia justru sibuk mengamati sekelilingnya.
Ketika angkot berhenti di depan gerbang megah universitas, Nadia turun dengan senyuman yang masih tersemat di bibirnya. Kampus swasta elit ini berdiri dengan arsitektur modern yang megah, dikelilingi taman-taman hijau yang tertata rapi.
Mahasiswa-mahasiswa yang berlalu-lalang mayoritas turun dari mobil-mobil mewah, mengenakan pakaian bermerek dan menenteng ponsel keluaran terbaru.
Nadia melangkah dengan percaya diri, meskipun pakaiannya hanyalah kemeja flanel sederhana dan sepatu kanvas yang warnanya sudah sedikit memudar, ia tidak merasa rendah diri sedikit pun. Baginya, ia bisa berada di sini karena kemampuannya, bukan karena isi dompet orang tuanya.
Sesampainya di gedung fakultas desain, Nadia langsung menuju ruang kelasnya di lantai tiga. Begitu ia melangkah masuk, beberapa teman sekelasnya melambaikan tangan dengan ramah.
"Pagi, Nadia!" sapa salah satu temannya, dengan suara lantang.
Nadia membalasnya dengan lambaian tangan yang heboh dan senyuman lima jari yang khas, lalu menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda terima kasih atas sapaan itu. Ia kemudian duduk di bangku baris kedua, mengeluarkan laptop tuanya dan bersiap mengikuti perkuliahan.
Dosen pertama mereka hari ini adalah Profesor Rahardjo, seorang kurator seni ternama yang terkenal sangat tegas dan pelit memberikan nilai. Topik hari ini adalah tentang rekonstruksi identitas budaya dalam desain modern. Ketika sesi diskusi dibuka, Profesor Rahardjo melemparkan sebuah pertanyaan pemantik yang cukup rumit mengenai bagaimana menggabungkan unsur tradisional tanpa terkesan kuno.
Suasana kelas sempat hening selama beberapa saat. Mahasiswa lain tampak saling pandang dam ragu untuk menjawab, Nadia tersenyum tipi lalu jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu di sebuah aplikasi khusus di tablet grafis kecilnya yang terhubung dengan layar proyektor kelas, sebuah fasilitas aksesibilitas yang ia ajukan khusus kepada pihak kampus sejak awal semester.
Layar di depan kelas menampilkan tulisan dan sketsa kasar yang dibuat Nadia dalam hitungan detik.
Profesor Rahardjo membaca tulisan itu, lalu menatap Nadia yang sedang memberikan anggukan mantap dengan mata berbinar penuh semangat, senyum tipis terukir di wajah sang dosen yang biasanya kaku.
"Analisis yang sangat tajam, Nadia. Luar biasa," puji Profesor Rahardjo, dengan mengacungkan jempolnya.
Nadia hanya tersenyum jenaka, menepuk kedua pipinya sendiri dengan ekspresi pura-pura malu yang membuat seisi kelas tertawa kecil. Suasana di sekelilingnya selalu terasa positif. Di titik ini, hidup Nadia terasa begitu sempurna, ia memiliki mimpi yang jelas, otak yang cerdas dan lingkungan yang menghargainya.
.
.
.
Bersambung.....
* Mungkin kedepannya bakal banyak menggunakan bahasa isyarat, kira-kira untuk dialog bahasa isyaratnya pakai tulisan miring atau biasa aja ya enaknya?
Suasana kantin siang ini luar biasa ramai. Aroma mie ayam, ayam geprek dan kopi bercampur aduk di udara, beradu dengan suara gelak tawa dan obrolan ratusan mahasiswa. Di salah satu sudut meja dekat jendela, seorang gadis berambut pendek dengan jaket almamater longgar melambaikan tangannya dengan heboh.
"Nadia! Di sini!" seru Resya, mahasiswi Magister Fakultas Ilmu Politik yang merupakan sahabat karib Nadia sejak masa orientasi.
Nadia yang baru saja membawa nampan berisi jus jeruk dan siomay langsung mempercepat langkahnya, ia duduk di hadapan Resya dengan gerakan yang heboh, meletakkan nampannya, lalu segera menggerakkan jemarinya dengan cepat, mengekspresikan rasa laparnya yang luar biasa setelah tiga jam diperas oleh otak Profesor Rahardjo.
"Resya! Aku hampir mati kelaparan! Otakku rasanya meleleh," isyarat tangan Nadia bergerak lincah, wajahnya mengerucut lucu dengan mata yang didramatisir seolah-olah ia benar-benar akan pingsan.
Resya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya itu. Sebagai anak Ilmu Politik yang terbiasa bicara lugas dan keras, Resya justru menemukan kenyamanan luar biasa saat berkomunikasi dengan Nadia, ia bahkan sengaja belajar bahasa isyarat dasar demi bisa mengobrol dan bertukar pikiran dengan gadis tunawicara itu.
"Makanya, punya otak jangan terlalu encer. Tadi grup angkatan sebelah heboh tahu, katanya anak emas Desain bikin Profesor Rahardjo tersenyum. Itu keajaiban dunia kedelapan, Nad!" goda Resya sambil menusuk kentang gorengnya.
Nadia hanya menjulurkan lidahnya dengan jenaka, lalu mengetik sesuatu di ponselnya dan menunjukkannya pada Resya.
[Bukan anak emas, aku cuma kebetulan kemarin membaca buku referensi yang pas! Lagi pula, dosen galak begitu sebenarnya cuma butuh jawaban yang konkret, bukan muter-muter]
Resya membaca pesan itu lalu menyenggol lengan Nadia gemas, "Sombongnya mulai keluar! Tapi asli, Nad, aku bangga banget sama kamu. Beasiswa S2, nilai selalu sempurna, dosen-dosen sayang. Kurang apa lagi coba hidupmu?" ucapnya.
Nadia menguraikan senyum manisnya. Jemarinya bergerak perlahan, "Aku bersyukur, Sya. Sangat bersyukur, semua ini karena Bapak sama Ibu dan juga lingkunganku yang sudah memberikan semangat,"
Sore harinya, semburat warna jingga menghiasi langit kota Bandung saat Nadia melangkah masuk ke gang sempit menuju rumahnya, langkah kakinya terasa begitu ringan meski rasa lelah menggelayuti tubuhnya setelah seharian memeras otak di kampus.
Begitu membuka pintu kayu yang sedikit berderit, aroma hangat tumis kangkung dan ikan asin langsung menyambut indra penciumannya. Di ruang tamu yang menyatu dengan dapur sederhana itu, Ayah Herman sedang duduk melipat kaki sambil memperbaiki tali sepatu kerjanya, sementara Ibu Sintia sibuk mengelap meja makan.
Melihat kehadiran putri semata wayangnya, wajah kedua orang tua itu seketika berbinar. Ayah Herman langsung berdiri, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Nadia menaruh tas ranselnya di atas kursi plastik lalu menghambur ke pelukan Ayahnya, ia memeluk erat pria paruh baya yang kulitnya terbakar matahari itu, menyerap semua kehangatan dan rasa aman yang selalu ditawarkan di rumah kecilnya.
"Bagaimana kuliah hari ini, anak Ayah yang paling cantik?" gerak tangan Ayah Herman dengan bahasa isyarat yang agak kaku namun penuh kasih sayang, pria itu selalu berusaha keras menggunakan bahasa isyarat demi bisa berkomunikasi lancar dengan putrinya.
Nadia melepaskan pelukannya, lalu jemarinya mulai berbicara dengan sangat heboh dan penuh ekspresi. Wajahnya diperagakan dengan jenaka, kadang cemberut menirukan Profesor Rahardjo yang galak lalu berubah bangga sambil menepuk dada, menceritakan bagaimana ia berhasil menjawab pertanyaan rumit di kelas tadi.
Ibu Sintia yang menyaksikan dari meja makan tertawa kecil, menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang putri. "Sudah, sudah. Kasihan otakmu itu diisi pelajaran terus. Ayo bersihkan badan dulu, setelah itu kita makan malam bersama," isyarat Ibu Sintia hangat.
Nadia mengangguk mantap, memberikan gestur hormat ala prajurit sebelum berlari kecil menuju kamar mandinya.
Makan malam pun berlangsung dengan riuh meskipun tanpa ada suara kata yang terucap dari bibir Nadia. Ruang makan yang sempit itu dipenuhi oleh bahasa tubuh yang hangat, gelak tawa tanpa suara dari Nadia, serta cerita-cerita sederhana dari sang ayah tentang pekerjaannya hari ini. Bagi Nadia, tidak ada kemewahan apa pun di dunia ini yang bisa menandingi kehangatan keluarganya.
Usai makan dan membantu ibunya mencuci piring, Nadia duduk di meja belajarnya yang berada di sudut kamar. Di bawah remang lampu belajar, ia mulai membuka laptop tuanya untuk merancang portofolio baru. Ayah Herman mengetuk pintu kamarnya yang terbuka, membawakan segelas teh hangat manis.
Ayah Herman duduk di tepi ranjang kecil Nadia, menatap putrinya dengan tatapan bangga sekaligus haru.
"Nadia... Maafkan Ayah dan Ibu ya, belum bisa memberikan hidup yang bergelimang harta untukmu. Tapi Ayah sangat bangga punya anak seluar biasa kamu," gerak tangan sang ayah perlahan
Nadia segera menghentikan ketikannya di laptop. Ia berbalik membelakangi meja, meraih jemari ayahnya yang kasar dan penuh kapalan akibat kerja keras. Nadia menggelengkan kepala dengan tegas, mata bulatnya menatap lurus ke dalam iris mata sang ayah.
Jemarinya bergerak luwes dan penuh penekanan, "Ayah jangan bicara begitu, Nadia tidak butuh harta berlimpah. Nadia cuma butuh Ayah dan Ibu sehat selalu, kehadiran Ayah dan Ibu adalah rezeki terbesar buat Nadia,"
Nadia lalu mengukir senyuman lesung pipitnya yang khas, menyenggol bahu ayahnya dengan gaya jahil. "Lagi pula, nanti kalau Nadia lulus. Nadia nakal jadi desainer hebat, Nadia yang akan belikan rumah baru yang ada tamannya untuk Ayah dan Ibu!"
Ayah Herman terkekeh pelan, mengusap lembut puncak kepala Nadia yang tertutup rambut hitam bergelombang. "Amin, Ayah pegang janji kamu ya,"
"Oh ya, tiga hari lagi Ayah sama Ibu bakal ke Purwakarta karena seribu harinya Nenek kamu, kamu mau ikut?" tanya Ayah Herman, dengan isyarat sederhananya
Nadia tersenyum lebar, jemarinya bergerak lincah menanggapi pertanyaan sang ayah. "Nadia tidak ikut ya, Yah. Ada tugas proyek besar dari dosen yang deadline-nya makin dekat, terus Nadia juga mau menyelesaikan draf sketsa untuk lomba desain nasional minggu depan. Nanti kalau Nadia ikut, pengerjaannya bisa berantakan."
Ayah Herman mengangguk memahami. Ia mengusap puncak kepala putrinya dengan kehangatan yang melimpah. "Ya sudah, tidak apa-apa. Fokus saja sama kuliah dan mimpimu. Tapi ingat, jangan sampai lupa makan dan begadang terlalu larut. Biar Ayah dan Ibu saja yang berangkat ke Purwakarta naik travel nanti,"
Ibu Sintia yang menyusul masuk ke kamar menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, tersenyum menatap interaksi suami dan anak gadisnya.
"Nanti Ibu buatkan stok lauk pauk kering banyak-banyak sebelum berangkat, jadi Nadia tidak repot masak selama tiga hari di rumah sendirian," seru Ibu Sintia.
Nadia langsung melompat dari kursi belajarnya, merangkul kedua orang tuanya sekaligus dalam satu dekapan hangat, ajahnya yang penuh keceriaan mengisyaratkan betapa beruntungnya ia memiliki mereka.
Bagi Nadia, keterbatasan fisik dan impitan ekonomi keluarga bukanlah dinding penghalang, melainkan tangga yang harus ia panjat untuk membuktikan bahwa dirinya mampu terbang tinggi.
.
.
.
Bersambung.....
Pagi ini, suasana di rumah kecil Nadia diwarnai kesibukan kecil. Ibu Sintia telah menyiapkan beberapa toples lauk kering, kering tempe, abon dan rendang telur di atas meja dapur. Di sudut ruang tamu, Ayah Herman sedang merapikan tas pakaian yang akan mereka bawa ke Purwakarta.
Nadia berjalan mendekati kedua orang tuanya dengan senyum lebar yang tak pernah absen dari wajahnya, jemarinya bergerak lincah memperagakan pesan agar mereka berhati-hati di jalan. Nadia melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu wanita yang sangat dicintainya itu.
Ibu Sintia tersenyum hangat, mengusap pipi putri semata wayangnya. "Kamu jaga diri baik-baik ya, jangan lupa makan, jangan lupa istirahat. Ayah sama Ibu usahakan cepat pulang,"
Melihat Ibu Sintia membelai lembut rambut bergelombang Nadia, Ayah Herman pun ikut mendekat dan menepuk bahu Nadia pelan dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga sekaligus kasih sayang yang tak bertepi.
"Ingat pesan Ayah, kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah," gerak isyarat Ayah Herman penuh penekanan.
Nadia mengangguk mantap, jemarinya bergerak heboh memperagakan gerakan hormat ala prajurit, diselingi ekspresi wajah jenakanya yang membuat kedua orang tuanya tertawa pelan.
Nadia lalu meraih tangan kedua orang tuanya, menciumnya penuh hormat dan memberikan pelukan hangat sebelum kedua orangtuanya berangkat.
"Nadia tunggu Ayah sama Ibu ya, jangan lama-lama. Nanti Nadia kangen,"
"Ayah sama Ibu nggak akan lama, nggak mungkin juga Ayah sama Ibu ninggalin kamu lama-lama,"
Nadia melambaikan tangan hingga kendaraan Ayahnya menghilang dari jarak pandangannya dan menyisakan keheningan di dalam rumah sederhana yang biasanya dipenuhi interaksi hangat mereka. Nadia menghirup udara pagi dalam-dalam, mengulas senyum penuh semangat, lalu berbalik masuk untuk bersiap-siap menuju kampus.
Suasana lantai tiga gedung Fakultas Desain terasa begitu tenang saat Nadia melangkah masuk ke ruang laboratorium komputer. Hari ini tidak ada jadwal kuliah tatap muka, namun Nadia sengaja datang pagi-pagi sekali untuk memanfaatkan fasilitas perangkat lunak desain kelas atas milik kampus demi menyelesaikan draf karyanya.
Jemarinya menari dengan sangat lincah di atas drawing tablet, garis demi garis arsitektur modern berpadu motif batik tradisional mengalir deras dari imajinasinya. Dalam keheningan dunianya, Nadia adalah seorang maestro. Setiap goresan warna dan bentuk adalah caranya berbicara kepada dunia, suara visual yang jauh lebih lantang dan berjiwa dari sekadar kata-kata.
Beberapa mahasiswa lain mulai berdatangan dan mengisi meja-meja di sekitarnya, Nadia menyapa mereka dengan lambaian tangan ramah dan senyuman lesung pipitnya yang khas. Kebanyakan dari mereka membalas dengan anggukan atau senyum tipis. Bagi mereka, Nadia adalah sosok jenius yang pendiam namun selalu memancarkan energi positif.
Beberapa saat kemudian, Nadia merapikan tablet grafis dan laptopnya. Perutnya yang mulai menyuarakan protes membuatnya bergegas meninggalkan lantai tiga Fakultas Desain.
Di lorong utama, ponsel di saku celana jinsnya bergetar. Nadia merogohnya dan mendapati sebuah pesan singkat dari Resya.
Resya: Nad, aku tunggu di gazebo Fakultas Ekonomi ya! Jangan nyasar ke gedung manajemen!
Nadia tertawa tanpa suara, jemarinya dengan cepat membalas pesan tersebut dengan stiker animasi kucing yang mengangguk heboh.
Fakultas Ekonomi memang terkenal memiliki deretan gazebo kayu yang nyaman di bawah naungan pohon-pohon rindang, angin sepoi-sepoi yang bertiup di area itu selalu menjadi incaran para mahasiswa dari berbagai jurusan untuk sekadar melepas penat atau mengerjakan tugas.
Langkah kaki Nadia terasa ringan saat menyusuri jalan setapak berpapir menuju area gazebo. Dari kejauhan, ia sudah melihat Resya yang melambaikan tangan dengan gaya heboh dan duduk di salah satu gazebo paling pojok yang dinaungi pohon beringin kecil yang rindang.
Nadia melangkah mendekat, mengumbar senyum lebar yang memamerkan lesung pipitnya. Ia meletakkan ranselnya di atas meja kayu, lalu melempar tubuhnya ke bangku gazebo dengan helaan napas lega yang dramatis.
"Akhirnya datang juga anak emas Desain!" seru Resya seraya menyodorkan satu cup es teh manis dingin ke arah Nadia.
"Gimana pertarunganmu sama software di lab tadi?" tanya Resya, dengan suara yang cukup keras.
Nadia menerima es teh itu dengan mata berbinar, ia menyedotnya sebentar, lalu jemarinya mulai menari-nari di udara dengan gerakan heboh. Wajahnya yang ekspresif memperagakan bagaimana matanya hampir juling menatap layar monitor berkali-kali.
"Otakku hampir berasap, Resya! Tapi draf utamanya selesai. Kalau bukan karena es teh dingin ini, aku mungkin sudah pingsan sekarang," gerak bahasa isyarat Nadia yang disertai mimik muka pura-pura pingsan.
Resya tertawa terbahak-bahak hingga memukul pelan meja kayu di antara mereka, "Kamu itu ya, selalu saja bisa bikin hal melelahkan jadi kelihatan mudah," balas Resya.
Tawa Resya masih tersisa di udara saat sebuah bayangan jangkung tiba-tiba menutupi pantulan sinar matahari di meja kayu mereka. Tanpa diundang, seorang pria muda dengan kemeja kotak-kotak tergulung hingga siku dan senyum percaya diri melangkah mendekat, lalu langsung mendaratkan tubuhnya di kursi kosong sebelah Nadia.
"Boleh gabung, kan? Kayaknya seru banget obrolan kalian dari tadi," sapa pria itu dengan suara berat yang hangat.
Nadia sedikit terkejut, refleks menghentikan gerakan tangannya dan menatap pria di sampingnya. Pria itu adalah Roy, mahasiswa semester akhir dari Fakultas Pertanian yang nama dan wajahnya sudah tidak asing lagi di seantero kampus. Selain menjabat sebagai Wakil Ketua BEM Universitas, Roy terkenal ramah, berkarisma dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
"Eh, Roy! Tumben main ke area Ekonomi? Padahal Fakultas Pertanian di sebelah utara loh," Resya menyapa lebih dulu, memajukan posisinya sambil menatap Roy penuh selidik namun tetap santai.
"Habis ada urusan sama pihak rektorat di gedung sebelah. Pas jalan balik, ngeliat ada kalian," ujar Roy terkekeh pelan, pandangannya kemudian beralih penuh pada Nadia dan matanya menatap lembut.
"Hai, Nadia. Gimana kabarnya?" tanya Roy.
Nadia tidak dapat mendengar dengan jelas suara Roy, tapi dia bisa melihat gerak bibir Roy dan ia tahu jika Roy menanyakan kabarnya. Nadia pun mengambil buku dan pulpen di tasnya lalu menuliskan jawaban dari pertanyaan Roy.
Nadia menunjukkan tulisan di bukunya sambil tersenyum ramah.
[Kabar baik, Roy. Kamu sendiri gimana?]
Roy membaca pesan tersebut lalu tersenyum hangat, mengangguk perlahan agar Nadia bisa membaca gerakan bibirnya dengan mudah.
"Kabar baik juga, Nad. Oh ya, kalian kan ngambil S2, kira-kira mau ikut seminar yang diadakan Fakultas Ekonomi? Kalau nggak salah kan seminarnya untuk umum, dan aku dengar banyak mahasiswa S2 ikut daftar," tanya Roy.
"Nggak sih kayaknya, soalnya Nadia sibuk sama draf karyanya, terus aku juga sibuk mau cari beberapa bahan buat di kerjakan," ucap Resya.
"Sayang banget ya, tapi yaudah deh," jawab Roy.
"Nanti kalau ada lagi kabarin aja, siapa tahu aki sama Nadia pas nggak sibuk," balas Resya.
"Yaudah deh, kapan-kapan aja kalau gitu, nanti kalau ada lagi pasti aku kabarin kalian," ucap Roy.
"Roy, ayo balik!" seru Vero, sang ketua BEM.
"Aku balik dulu ya," pamit Roy dan diangguki Resya, lalu tak lama Nadia pun ikut mengangguk saat melihat Roy menjauh.
.
.
.
Bersambung.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!