Indonesia
NovelToon NovelToon

Mengasuh Anak Dari Maduku

Ep. 1- Kepergok

Halo, Teman-Teman Pembaca Kesayangan! ✨

Senang sekali akhirnya novel terbaru karya Aurora.playgame, yang berjudul "Mengasuh Anak dari Maduku", resmi rilis di NovelToon!

Kisah ini lahir dari perenungan mendalam tentang ketabahan, luka, dan besarnya arti pengampunan seorang wanita. Lewat perjalanan Kirana, kita akan diajak menyelami dilema batin yang luar biasa antara rasa terluka karena pengkhianatan dan naluri ketulusan seorang ibu.

Selamat menyelami emosi Kirana, Keisya, dan Aura. Semoga kisah ini bisa menyentuh hati dan memberi pesan bermakna untuk kita semua. Pastikan untuk membaca ceritanya sampai bab terakhir, ya! Karena akan ada banyak kejutan dan kehangatan yang menunggu di ujung perjalanan mereka.

Selamat membaca dan terima kasih banyak atas dukungannya! ❤️

✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨

Ep. 1- Kepergok

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis kamar utama, membiaskan cahaya hangat di atas ranjang. Di depan cermin rias, Rendra tengah mematut diri dengan merapikan dasi abu-abu yang melingkar di lehernya.

Dari arah pintu, Kirana melangkah mendekat. Senyum manis terukir di wajah cantiknya, meski ada binar kelelahan yang samar di balik matanya.

"Mas, hari ini jadi ke taman bermain, 'kan? Keisya sudah menantikan ini sejak minggu lalu, lho. Dari semalam dia bahkan sudah menyiapkan baju kesayangannya," ujar Kirana.

Jemarinya yang lentik bergerak sigap merapikan lipatan kemeja putih sang suami, untuk memastikan Rendra tampil sempurna seperti biasa.

Namun, gerakan tangan Rendra mendadak terhenti. Untuk sepersekian detik, ada kilat kecanggungan yang melintas di matanya. Ia mengembuskan napas halus, lalu meraih kedua pergelangan tangan Kirana dan memegang bahunya dengan erat.

"Sayang..." kilah Rendra dengan nada penuh penyesalan yang dibuat sehalus mungkin. "Aku... aku benar-benar minta maaf. Hari ini tiba-tiba ada klien penting dari luar kota yang minta bertemu dadakan. Proyek ini besar sekali, Kirana. Sepertinya kita harus menunda liburan kali ini. Bagaimana? Tidak apa-apa, 'kan?"

Seketika jemari Kirana terkulai di dada Rendra. Bibirnya merapat, lalu memanyun kecewa. Raut wajahnya yang tadinya cerah kini berubah menjadi redup.

Bukannya ia ingin bersikap kekanak-kanakan, tetapi ini bukan kali pertama. Sudah hampir tiga akhir pekan berturut-turut Rendra selalu membatalkan rencana keluarga dengan alasan yang persis sama, klien penting dan urusan pekerjaan yang mendesak.

"Mas... ini sudah minggu ketiga," tutur Kirana, suaranya bergetar menahan selaksa rasa kecewa yang mulai menumpuk di dadanya. "Keisya itu masih empat tahun. Dia belum paham arti 'klien penting'. Yang dia tau, papanya janji mau mengantarnya naik komedi putar hari ini."

"Aku tau, Kirana, aku tau," potong Rendra. Ia lalu menarik Kirana ke dalam pelukannya dan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Sebuah gestur penenang yang selalu berhasil meluluhkan hati Kirana selama tujuh tahun pernikahan mereka.

"Aku janji, setelah proyek ini selesai, kita liburan penuh selama seminggu. Ke mana pun kamu dan Keisya mau. Tolong mengerti ya, Sayang? Ini demi masa depan kita juga."

Aroma parfum Rendra yang asing tercium samar saat hidung Kirana menyentuh kerah kemeja Rendra. Namun, Kirana langsung menepis prasangka itu jauh-jauh. Mungkin aroma pengharum mobil atau sabun di kantor, pikirnya naif.

"Ya sudah..." bisik Kirana akhirnya, mengalah pada kehangatan semu yang diberikan suaminya. "Tapi Mas harus janji, jangan ingkar lagi minggu depan."

"Janji, Sayang. Terima kasih sudah selalu jadi istri yang pengertian," ucap Rendra sambil mengecup dahi Kirana cukup lama.

Namun, tugas terberat Kirana baru saja dimulai saat menghadapi putri kecil mereka.

Di ruang keluarga, Keisya sudah duduk manis di atas sofa sambil memangku tas ransel kecil bertema kartun kesukaannya. Sepatu kets merahnya sudah terpasang rapi di kedua kaki kecilnya.

Begitu melihat Kirana berjalan mendekat sendirian, binar bahagia di mata bocah itu pelan-pelan meredup.

"Mama... Papa mana? Kita berangkat sekarang, 'kan?" tanya Keisya polos sambil melongokkan kepalanya ke arah belakang Kirana.

Kirana lantas berlutut di hadapan putri semata pembawa bahagianya itu. Ia memegang kedua tangan kecil Keisya yang terasa dingin, dan mencoba menyunggingkan senyum terbaik meski hatinya sendiri terasa remuk.

"Sayang... dengarkan Mama ya," bisik Kirana, sambil mengusap pipi cabi Keisya. "Papa hari ini harus kerja sebentar. Ada urusan mendadak yang harus Papa selesaikan supaya Papa bisa belikan Keisya mainan baru nanti."

"Tapi Papa janji!" seru Keisya, matanya mulai berkaca-kaca, bahkan bibir kecilnya pun gemetar menahan tangis. "Papa bilang hari ini libur! Keisya gak mau mainan, Keisya mau naik komedi putar sama Papa dan Mama!"

"Keisya..." Kirana membawa putri kecilnya itu ke dalam pelukan hangatnya.

Hingga akhirnya tangis Keisya pecah di pundak Kirana dan menumpahkan kekecewaan seorang anak kecil yang merindukan sosok ayahnya.

"Mama tau Keisya sedih. Tapi Papa kerja keras buat kita. Bagaimana kalau hari ini Mama yang antar Keisya beli es krim dan jalan-jalan di taman dekat rumah? Nanti minggu depan, Papa janji akan bawa kita ke tempat yang lebih besar," bujuk Kirana.

Di saat yang sama, suara mesin mobil Rendra terdengar menyala di garasi luar dan perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.

Kirana memejamkan matanya erat-erat sembari terus mengusap punggung Keisya yang terisak, hingga isak tangis Keisya perlahan mereda, digantikan oleh bibir kecil yang masih cemberut.

Meski Kirana sudah mencoba menghiburnya dengan membelikan es krim coklat kesukaannya di taman komplek, pandangan bocah itu tetap meratapi jalanan.

"Mama... tapi Papa janjinya ke taman hiburan yang ada komedi putar besarnya," cicit Keisya, sembari jemari kecilnya meremas ujung baju Kirana. "Keisya sudah bawa tas ransel... Keisya mau naik kuda-kudaan sama Papa..."

Melihat binar kecewa di mata putri semata wayangnya, dada Kirana mendadak sesak oleh rasa bersalah. Kenapa hanya karena janji Rendra yang teringkari, Keisya yang harus mengorbankan keceriaannya?

"Ya sudah," putus Kirana akhirnya sambil menyapu sisa air mata di pipi Keisya. "Hari ini Mama yang bakal gantiin Papa. Kita pergi ke taman hiburan sekarang!"

Mata Keisya seketika berbinar terang. "Beneran, Ma?! Yeay!"

Beberapa saat kemudian...

Suasana taman hiburan siang itu begitu riuh. Gelak tawa anak-anak, musik gembira dari speaker, serta aroma manis popcorn menyambut kedatangan mereka.

Rasa lelah Kirana menguap begitu saja setiap kali melihat Keisya berlarian riang, menjajal wahana cangkir berputar, menunjuk balon warna-warni, hingga tertawa lepas saat menaiki bianglala.

Hingga akhirnya, mereka tiba di depan wahana paling populer di tengah area permainan, sebuah komedi putar raksasa bernuansa klasik dengan lampu-lampu emas yang berkilauan dan dentang musik kotak musik yang nyaring.

"Mama! Kuda-kudaannya berputar! Keisya mau naik yang itu!" seru Keisya antusias, sambil menunjuk ke arah komedi putar yang sedang bergerak lambat menyelesaikan putarannya.

"Antri dulu ya, Sayang. Sebentar lagi wahananya berhenti," ujar Kirana sambil menggenggam erat jemari Keisya.

Namun, di tengah keriuhan antrian dan dentang musik yang keras, Keisya mendadak menarik-narik ujung kemeja Kirana dengan kuat. Wajah bocah itu berkerut penuh rasa penasaran.

"Ma... itu Papa, 'kan?" tunjuk Keisya lurus ke arah salah satu kuda kayu berukir emas di bagian dalam wahana.

Deg!

Jantung Kirana serasa berhenti berdetak dengan serentak. Ia menghentikan langkahnya dan refleks mengikuti arah telunjuk putrinya.

Namun, komedi putar itu bergerak cukup cepat hingga menutupi pandangannya dengan susunan kuda kayu lain dan kerumunan pengunjung di dalamnya.

Kirana mengembuskan napasnya dan mencoba menenangkan debar dadanya yang mendadak tidak beraturan. Ia pun terkekeh pelan sambil mengusap kepala Keisya.

"Sayang... Papa mana mungkin ada di sini. Dia sedang rapat penting sama kliennya, Nak. Mungkin Keisya cuma salah lihat karena kangen sama Papa," bisik Kirana, yang mencoba merasionalkan penglihatannya.

"Bukan, Ma! Itu beneran Papa! Itu baju Papa yang tadi pagi Papa pakai!" tegas Keisya tak mau kalah.

Lalu, tangannya kembali menunjuk tajam saat wahana permainan itu mulai memelankan putarannya untuk berhenti. "Lihat itu, Ma! Itu Papa!"

Sikap gigih Keisya membuat Kirana mendongakkan kepalanya. Kali ini, matanya menyapu setiap sudut komedi putar secara saksama saat wahana itu akhirnya benar-benar berhenti berputar.

Lalu, di sanalah dunia Kirana serasa runtuh dan hancur berkeping-keping.

Tepat beberapa meter di hadapannya, tengah berdiri seorang pria berjanggut rapi dengan kemeja putih, kemeja yang sama persis yang jemarinya rapikan tadi pagi.

Pria itu adalah Rendra.

Namun, Rendra tidak sedang bersama klien bisnisnya. Melainkan, pria itu sedang tertawa lepas seraya merangkul mesra pinggang seorang wanita berparas manis yang mengenakan gaun santai.

Sementara di tangan kirinya, Rendra menggendong seorang anak perempuan kecil berusia sekitar dua tahun yang tertawa riang sambil memegang balon berbentuk kelinci.

Rendra mengecup pipi anak kecil itu dengan begitu penuh kasih sayang, sebuah pemandangan hangat dari keluarga kecil yang sempurna.

Dag Dig dug DUARRRRR!!!

Darah Kirana terasa mendidih seketika, disusul oleh rasa dingin yang menjalar gila-gilaan dari telapak kaki hingga ke ujung kepalanya.

Lidahnya kelu. Tatapannya terkunci rapat pada pemandangan yang menghancurkan seluruh kepercayaannya selama tujuh tahun pernikahan.

Klien penting? Pekerjaan mendesak?

Suara-suara di sekitarnya mendadak senyap, tergantikan oleh dengungan bising di dalam kepalanya sendiri.

Kirana berdiri membeku di tengah kerumunan, menatap suaminya yang masih asyik bersenda gurau dengan "keluarga rahasianya" tanpa menyadari bahwa sang istri sah dan putri pertamanya sedang berdiri menatapnya dari jarak yang sangat dekat.

"Mas..."

Bersambung...

Ep. 2- Berkhianat

Dentang musik komedi putar yang riang mendadak terdengar bagai melodi sumbang di telinga Kirana. Tatapan matanya terkunci rapat, tak mampu lepas dari sosok pria yang selama tujuh tahun ini dipujanya sebagai suami teladan.

Rendra yang saat itu tengah tertawa lepas sambil membetulkan posisi gendongan anak perempuan di tangannya, secara tidak sengaja mengedarkan pandangan ke arah kerumunan pengunjung hingga tatapan mereka bertemu.

Seketika, tawa Rendra terhenti. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar, dan tubuhnya terlonjak kaget seolah baru saja dihantam petir di siang bolong.

"Ki... Kirana?" gumam Rendra. Bibirnya gemetar, nama istrinya tercekat di tenggorokannya.

Melihat perubahan raut wajah suaminya, Kirana tersadar dari kebekuannya. Rasa sakit yang menghantam dadanya begitu hebat, tetapi naluri seorang ibu dengan cepat mengambil alih. Ia tidak boleh membiarkan Keisya menyaksikan kehancuran ini.

Dengan cepat, Kirana setengah berlutut. Tangan kirinya yang gemetar langsung menutupi kedua mata Keisya hingga menghalangi pandangan putri kecilnya dari pemandangan Rendra yang sedang bersama wanita lain dan anak perempuan kecil.

"Mama? Kenapa mata Keisya ditutup? Itu Papa, 'kan, Ma?" tanya Keisya bingung, sementara jemari kecilnya memegang pergelangan tangan Kirana.

Kirana berusaha keras menahan tangis yang mendesak di pangkal tenggorokannya. Ia menarik napas panjang dan menelan bulat-bulat rasa pahit yang memenuhi mulutnya.

"Sayang... hari ini Mama tiba-tiba lelah sekali," bisik Kirana dengan suara yang bergetar. "Kita pulang sekarang, ya? Kita beli es krim yang banyak di dekat rumah."

"Tapi Papa—"

"Yuk, Nak." Kirana langsung menggenggam erat tangan Keisya, membalikkan badan, dan menuntun putrinya melangkah cepat meninggalkan area wahana tersebut.

Namun, belum sempat Kirana melangkah lebih dari lima pijakan, sebuah cengkraman kuat meremas pergelangan tangannya dari belakang hingga membuat langkahnya terhenti seketika.

"Kirana, tunggu dulu! Tolong, aku bisa jelaskan semuanya!" seru Rendra panik.

Namun Kirana tidak bergeming. Ia hanya berdiri membelakangi Rendra, sementara tubuhnya kaku bagaikan patung. Cengkeraman Rendra di tangannya terasa bagai besi panas yang membakar kulitnya.

Tak mau kehilangan kesempatan, Rendra bergerak cepat mengitari Kirana, sehingga berdiri tepat di hadapan istri pertamanya untuk menghalangi jalan.

Sementara di belakang Rendra, seorang wanita cantik bernapas memburu, wanita yang tadi dirangkulnya, melangkah mendekat dengan raut wajah yang serba salah, sembari menggandeng anak perempuan kecil yang menatap mereka dengan bingung.

"Kirana, maafkan aku... Maaf karena aku belum sempat memberi tau kamu soal ini. Tolong dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan semuanya," pinta Rendra dengan mata yang berkaca-kaca.

Tanpa ragu, Rendra meraih lengan wanita itu dan menariknya maju. "Ini Ayu... dan ini Aura."

Kirana perlahan mendongak. Tatapan matanya yang dingin melirik ke arah Ayu, wanita yang tampak anggun namun menyimpan rahasia besar bersama suaminya, lalu beralih pada Aura, anak kecil berwajah polos yang tidak tau apa-apa.

Setelah itu sebuah senyum tipis terukir di bibir Kirana. Senyuman yang begitu getir, penuh kepedihan dan penghinaan atas harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.

"Menjelaskan apa, Mas?" tanya Kirana pelan, namun setiap katanya sarat akan emosi yang siap meledak. "Menjelaskan kalau 'klien penting' yang kamu maksud tadi pagi adalah istri kedua dan anak kamu?"

"Kirana, bukan begitu maksudku—"

"Tidak perlu!" potong Kirana, suaranya menusuk tajam hingga membuat Rendra bungkam. "Semuanya sudah sangat jelas. Sangat, sangat jelas."

"Mbak Kirana, tolong... ini semua bukan seperti yang Mbak bayangkan—" Ayu mencoba menyela dengan suara yang bergetar, namun Kirana mengibaskan tangannya, dan menolak mendengarkan sepatah kata pun dari mulut wanita itu.

"Jangan bicarakan apa pun di depan anakku!" tegur Kirana seraya menatap Ayu dengan tajam hingga membuat wanita itu refleks mundur satu langkah.

Kirana menarik tangannya dengan sentakan kuat hingga terlepas dari genggaman Rendra. Tanpa memberi Rendra kesempatan lagi untuk menyentuhnya atau menghalangi jalannya, Kirana merengkuh tubuh Keisya, menggendong putri kecilnya itu rapat-rapat ke dalam dekapan, dan melangkah lebar menerobos kerumunan orang.

"Kirana! Kirana, tunggu! Kirana!"

Teriakan Rendra yang berusaha mengejarnya bergema di antara keriuhan taman bermain, namun Kirana terus berjalan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes deras membasahi pipi, jatuh tepat di pundak Keisya yang kini memeluk leher mamanya dengan erat.

**

Di dalam kabin mobil yang tertutup rapat, suara mesin berpadu dengan isak tangis yang tertahan.

Jemari Kirana mencengkram lingkar kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Penglihatan Kirana kabur, tertutup oleh lapisan air mata yang terus meleleh membasahi pipinya.

"Huhuhu... 😭😭😭 Kenapa, Mas! Kenapa kau sangat tega padaku dan Keisya!" gumam Kirana liris di antara napasnya yang memburu.

Hatinya hancur berkeping-keping. Bayangan Rendra yang tersenyum penuh kasih pada wanita lain dan anak kecil itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Rasa sakit karena dikhianati bertahun-tahun menghantam dada Kirana tanpa ampun.

Sementara itu di kursi belakang, Keisya duduk terpaku. Kirana sengaja menempatkan putri kecilnya di sana agar Keisya tidak bisa melihat wajahnya yang sembap dan hancur. Kirana berusaha sekuat tenaga menahan suara tangisnya agar tidak meluncur terlalu keras.

"Mama... Mama kenapa menangis?" tanya Keisya polos dari balik sandaran kursi. "Mama sakit ya? Kita mau pulang ke rumah?"

Kirana menyapu air matanya cepat-cepat lewat kaca spion tengah, lalu mencoba menyunggingkan senyum meski tenggorokannya terasa tersumbat. "Eng-tidak, Sayang... Mama cuma... mata Mama cuma kemasukan debu tadi di luar. Keisya duduk yang manis ya, sebentar lagi kita sampai rumah."

Sementara itu, di sebuah bangku taman kayu di bawah rindangnya pohon area taman hiburan, suasana terasa begitu pekat dan tegang.

Keramaian pengunjung di sekitar mereka sama sekali tak mampu mencairkan pembawaan dingin di antara Rendra dan Ayu.

Aura, putri kecil mereka, tampak sibuk bermain dengan balon kelincinya di rumput yang tak jauh dari sana.

Ayu menatap Rendra dengan raut wajah yang serba salah dan cemas yang luar biasa.

"Mas... aku 'kan sudah bilang sejak dulu," ucap Ayu, suaranya bergetar karena menahan gejolak emosi. "Lebih baik beritaukan pernikahan kita sejak awal ke Mbak Kirana. Kalau caranya mendadak dan ketauan dengan cara seperti ini... Mbak Kirana pasti sangat terluka dan bersedih, Mas."

Rendra tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan kedua sikunya di atas paha dan menopangkan kedua tangan di bawah dagunya dengan tatapan kosong menatap lantai paving. Garis wajahnya jelas penuh tekanan.

"Aku tau sifat Kirana, Ayu," balas Rendra dengan nada berat dan dalam.

"Hufthhh..." Ia mengembuskan napas panjang yang terasa sesak. "Dia wanita yang sangat memegang teguh komitmen. Dia tidak akan pernah setuju atau mengizinkan kalau tau aku menikah lagi. Karena itulah... aku tidak punya pilihan selain tidak memberitaunya."

"Tapi ini tidak adil untuk Mbak Kirana, Mas! Dan tidak adil juga untukku yang terus bersalah!" seru Ayu pelan namun menekan.

Ia lalu menggenggam jemari Rendra yang terasa dingin dan melanjutkan perkataannya. "Mas, lebih baik kita susul Mbak Kirana ke rumah sekarang. Kita jelaskan semuanya baik-baik. Aku juga mau minta maaf langsung pada Mbak Kirana... hatiku benar-benar tidak tenang melihat pandangan matanya tadi."

Rendra mendongak dan menatap mata istri mudanya itu dengan lekat, lalu menggeleng pelan. Ia meremas balik jemari Ayu dan berusaha meneguhkan posisinya.

"Ini semua bukan salahmu, Ayu. Kamu tidak perlu merasa bersalah," tegas Rendra dengan nada membela diri. "Pernikahan kita sah, dan kehadiran Aura adalah anugerah. Pernikahan kita tidak salah."

"Tapi cara Mas menyembunyikannya yang salah!" potong Ayu dengan mata yang berkaca-kaca. "Mbak Kirana itu istri pertama Mas, dia berhak tau!"

Rendra terdiam. Kata-kata Ayu menusuk logikanya, namun ketakutan akan kehilangan Kirana dan kehancuran rumah tangga utamanya membuat Rendra kehilangan arah.

Ia tau betul, begitu ia menginjakkan kaki di rumah nanti, badai besar yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung...

Ep. 3- Berujung petaka

Suasana di dalam area taman hiburan perlahan mulai menyepi dari gelak tawa, berganti dengan keheningan yang menyesakkan di antara Rendra dan Ayu. Kebenaran yang selama ini tersimpan rapat akhirnya membentur dinding realita secara menghantam.

Ayu menatap Rendra dengan pandangan tegas namun sarat akan rasa bersalah. Ia memegang kedua lengan suaminya dan memaksa pria itu untuk menatap matanya.

"Aku pikir masalah ini bukan untuk ditunda berlama-lama, Mas," tegas Ayu. "Kita harus segera temui Mbak Kirana dan jelaskan semuanya. Makin lama Mas menundanya, makin dalam luka yang Mas goreskan di hati Mbak Kirana dan Keisya."

Rendra mengusap wajahnya yang kaku secara kasar. Rasa takut akan kehilangan Kirana berbenturan keras dengan rasa tanggung jawabnya pada Ayu. Namun, menatap keputusasaan di mata kedua istrinya, Rendra akhirnya mengangguk dengan pelan.

"Baik..." bisik Rendra pasrah. "Kita ke rumah sekarang."

Berkat bujukan dan nasihat Ayu, Rendra akhirnya melangkah menuju parkiran. Ia menggandeng jemari kecil Aura, sementara Ayu berjalan di sampingnya dengan dada yang berdegup kencang.

Brooommm!!

Mesin mobil meraung pelan saat keluar dari area parkir taman hiburan.

Di sepanjang perjalanan, kabin mobil terasa begitu hening. Ayu duduk di samping kursi kemudi sambil memeluk Aura yang mulai tertidur pulas karena kelelahan, sementara Rendra menyetir dengan pikiran yang berkecamuk hebat.

Bagaimana perasaan Kirana saat ini? Apa yang sedang dilakukan Keisya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menari-nari menembus kesadarannya. Bayangan wajah Kirana yang sembap, tatapan matanya yang dingin dan penuh kegetiran tadi di taman hiburan, terus membayangi pelupuk mata Rendra.

Bagaimana aku harus menghadapi mereka di rumah nanti? Dan... bagaimana jika Kirana tidak bisa memaafkanku? Bagaimana jika dia menuntut cerai, atau memintaku memutus hubungan dan berpisah dari Ayu?

Isi kepala Rendra bagai benang kusut yang tak terurai. Ketakutan, rasa bersalah, dan kepanikan berbaur menjadi satu, hingga membuat tumpuan kakinya pada pedal gas sesekali tak beraturan.

Pandangannya ke arah jalanan mulai kabur oleh bayangan-bayangan buruk yang ia ciptakan sendiri.

"Mas... Mas Rendra?" panggil Ayu cemas, saat menyadari laju mobil yang mulai tak stabil dan melenceng dari jalurnya. "Mas, pelankan jalannya. Mas fokus, ya..."

"Aku... aku bingung, Ayu. Aku tidak tau harus bicara apa pada Kirana," gumam Rendra dengan tatapan kosong menatap trek lurus di hadapannya.

"Mas, awas!" jerit Ayu tiba-tiba dengan suara yang melengking.

Rendra terperanjat kaget. Fokusnya buyar seketika. Di depan mereka, sebuah truk besar mendadak melintas memotong jalur dari arah berlawanan di tikungan tajam jalan perbukitan.

Dalam keadaan panik yang luar biasa, Rendra membanting stir secara mendadak ke arah kiri untuk menghindari tabrakan.

Sayangnya, kecepatan mobil terlalu tinggi. Ban mobil berdecit keras mencengkram aspal hingga kehilangan kendali penuh, dan oleng menghantam besi pembatas jalan dengan hantaman yang amat dahsyat!

BRAAAGGGHHH!

Suara benturan logam yang remuk bergema memecah sunyinya jalanan. Besi pembatas jalan tak sanggup menahan bobot kendaraan yang melaju dengan kencang.

Dalam hitungan detik, mobil hitam itu berguling beberapa kali menuruni jurang terjal di tepi jalan, meninggalkan keheningan yang mencekam bersama kepulan asap tipis di udara.

Tak lama,

Kepulan asap tebal keluar dari kap mobil yang hancur tak berbentuk di dasar jurang. Suara hening hutan perbukitan seketika pecah oleh bunyi sirine, keriuhan, dan riak langkah kaki warga sekitar yang berlarian menuruni tebing terjal untuk memberikan pertolongan.

"Cepat! Ada mobil jatuh ke jurang! Panggil ambulans dan polisi!" teriakan beberapa warga saling bersahutan di hari yang semakin sore.

Di dalam kabin mobil yang remuk terbalik, kondisi Rendra sangat kritis. Kepalanya terkulai di atas airbag yang pecah dengan darah segar yang terus mengalir membasahi wajah dan kemeja putihnya. Napasnya tersendat-sendat, amat lemah dan menyakitkan.

Sedangkan di sebelahnya, Ayu tergeletak tak bergerak. Hantaman keras pada bagian samping mobil membuat napasnya terhenti seketika. Ayu meninggal dunia di tempat kejadian, masih dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya.

Namun, di tengah keheningan maut itu, sebuah isak tangis kecil dan cadel terdengar menyeruak dari sela-sela kursi belakang yang hancur.

"Hawaa... Hawaa... Ibu... bangun... Hawaa..."

Aura, bocah kecil yang baru berusia dua tahun itu, secara ajaib selamat karena terlindung oleh lipatan kursi.

Dengan tubuh kecilnya yang gemetar dan pipi yang belepotan noda hitam serta sisa air mata, ia merangkak keluar dari sela-sela reruntuhan.

Bocah polos yang belum mengerti arti kematian itu duduk di samping jasad ibunya. Tangannya yang mungil mengguncang-guncang pelan lengan Ayu yang sudah dingin dan terkulai kaku.

"Ibu... gendong... Hwaaa... Ibu, Aura mau gendong..." tangis Aura makin pecah.

Ia menarik-narik ujung gaun Ayu, lalu menyandarkan kepalanya yang kecil di atas dada sang ibu yang tak lagi berdetak, seolah menunggu dengan setia agar ibunya mau terbangun dan memeluknya seperti biasa.

"Ya Tuhan! Ada anak kecil di dalam!" seru seorang warga yang berhasil menerobos masuk ke dalam bangku belakang melalui kaca pintu yang hancur.

Pria setengah baya itu merengkuh tubuh Aura dengan hati-hati. Aura menjerit dan meronta-ronta kecil, seraya matanya terus menatap ke arah jasad Ayu. "Ndak mau! Ndak mau! Mau sama Ibu... Ibuuu!"

"Sabar ya, Nak, sabar..." ucap warga itu dengan mata yang berkaca-kaca, karena merasa sangat iba menyaksikan kepolosan anak kecil yang tak tau bahwa ibunya telah pergi untuk selamanya.

Di sisi lain, beberapa warga berusaha keras mengeluarkan Rendra dari impitan kemudi.

Saat tubuhnya berhasil ditarik keluar dan dibaringkan di atas tandu darurat, kesadaran Rendra yang hampir padam mendadak terbuka sedikit. Matanya yang membengkak memandang samar-samar ke arah langit sore.

Di antara dentang nafasnya yang berat dan serak, bibir Rendra yang pecah bergerak-gerak lirih menuturkan satu nama.

"Ki... Kirana..." gumam Rendra sangat pelan, dan hampir tak terdengar di tengah kebisingan. "M-maaf... kan... aku..."

Petugas medis yang baru tiba langsung memasangkan masker oksigen dan melarikan Rendra serta Aura ke rumah sakit terdekat dengan raungan sirine ambulans yang membelah jalanan, meninggalkan lokasi kecelakaan yang menjadi saksi bisu hancurnya sebuah rahasia.

_______

___________

Gimana guys... suka nggak sama alur ceritanya sejauh ini? 😭💥

Boleh dong bisikin kesan-kesan kalian di kolom komentar! Menurut kalian, apa yang bakal Kirana lakukan setelah kecelakaan tragis ini? Apakah kalian tim yang kasihan sama Kirana, atau makin geregetan sama Rendra?

Kalo kalian suka dan penasaran sama kelanjutan nasib mereka, jangan lupa untuk tetap setia baca cerita ini sampai bab terakhir, ya! Janji, bakal ada banyak adegan yang makin seru dan menyentuh hati di bab-bab berikutnya.

Dukungan kalian (like, subscribe, comment, & share) adalah energi terbesarku! Happy reading! 📖💖

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!