Indonesia
NovelToon NovelToon

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Bab 1

Altair menatap datar jeruji besi di depannya. Dia merasakan begitu banyak emosi dalam dadanya tapi tidak bisa mengekspresikan hal itu. Marah, kecewa, sedih, sakit dan kebencian yang sangat kentara. Dia tidak mengerti kenapa hidupnya bisa semenyesahkan ini.

Kedua tangannya di ikat dengan besi serta seluruh tubuhnya penuh dengan luka berat dan ringan. Wajahnya yang dulunya sangat tampan, kini penuh luka bakar di sana serta sebelah matanya telah di cungkil.

Dia hanya bisa menyesali semua perbuatannya. Mungkin memang benar. Cinta akan membuat orang menjadi bodoh. Padahal niat pertamanya masuk ke keluarga Andrea's adalah membalas kematian kedua orang tuanya.

"Lo pasti lagi mikir gimana caranya keluar kan?!"

Pertanyaan itu lebih terdengar seperti tuduhan di telinganya. Dia menatap laki-laki yang berdiri di depannya. Terhalangi jeruji besi tempat dia di kurung.

"Gue pastiin lo nggak bakal bisa kabur dari sini. Lo bakal membusuk di tempat mainan gue"

Altair mengangkat pandangannya dengan susah payah, tangannya terkepal kuat melihat sosok di depannya. Evan, laki-laki yang membuatnya mengalami nasib mengenaskan seperti ini.

Laki-laki yang menjadi penyebab kehancurannya. Dia juga merebut gadis yang di cintainya. Evandra Alexander, pewaris utama keluarga Alexander.

"Kenapa nggak ngerti juga? Gue yang di cintai Ruby Andrea's. Lo cuman bidak di permainan kita"

Suara langkah berat terdengar dari belakang Evan. Tuan Andrea's dan anak kesayangannya, Ruby Andrea's masuk dengan wajah datar dan dingin. Ruby melihat keadaan Altair yang jauh dari kata baik, hanya tersenyum sinis. Gadis itu berlari kecil memeluk lengan Evan.

"Sayang..." Panggil Ruby manja.

Evan membalas pelukan itu dengan kecupan sekilas di bibir gadis itu sambil menatap Altair yang sedang menahan marah melihat gadis yang dicintai di cium oleh musuhnya.

"Dasar bodoh!" Daniel mendekat, menyunggingkan senyum liciknya. "Kau tidak menyadari bahwa aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kau adalah anak musuhku"

Altair semakin mengepal tangannya kuat. Mencoba menahan gejolak emosi di dalam dadanya. Bagaimana mungkin mereka bisa tahu bahwa dia adalah anak musuhnya?! Padahal, Altair sudah membuat rencana dengan sangat matang saat masuk ke keluarga itu, tapi nyatanya dia kalah karena jatuh cinta dengan gadis di depannya yang lebih memilih pria di sampingnya.

"Sampai akhir, kau tetap tertipu dengan muka polos putri kesayanganku" lanjut Daniel.

"Sudahlah papa mertua, sekali sampah tetap sampah" Evan tertawa mencemooh. Dia mengarahkan tatapan menjijikan kepada Altair.

"Menyedihkan."

Evan pergi bersama Ruby. Meninggalkan Daniel di sana yang masih memberi tatapan begitu tajam. "Kau kalah anak muda. Saya sungguh baik, sebentar lagi saya akan mengirim mu ke keluargamu" Daniel pergi mengikuti langkah putri dan menantunya.

Menyedihkan? Altair tersenyum miris. Mungkin memang benar, dia adalah orang yang sangat menyedihkan. Hancur karena permainannya sendiri.

Altair menunduk. Merasakan penyesalan yang begitu menyiksa dalam dirinya.

"Alta!" panggilan dengan nada lirih itu membuatnya mendongak.

"Steve!"

Steve, sahabat dekat Altair. Satu-satunya orang yang selalu ada untuknya. Steve menggenggam erat jeruji besi di depannya, kemarahannya tidak terbendung. "Lo tenang aja! Lo bakal segera keluar dari tempat ini"

Klik!

Gembok otomatis terbuka hanya bermodal besi kecil di tangan Steve, laki-laki itu dengan mudah membuka gembok tersebut membuat Altair hanya bisa tersenyum tipis. Sahabatnya memang nggak bisa di remehkan tentang membuka gembok.

"Kita harus cepat, Al. Sebelum mereka kembali" Steve mulai membuka pengait rantai di kedua tangan Altair. Setelah terlepas, dia langsung memapah Altair keluar dari sana. Tubuh Altair begitu lemas dan tanpa tenaga sedikitpun, membuatnya terpaksa menyeret tubuh itu sebisanya.

Mereka melewati lorong. Altair bisa melihat dua bodyguard tergeletak tidak jauh dari tempatnya di kurung tadi. Itu pasti ulah sahabatnya.

Steve menghentikan langkahnya saat mereka sampai di ujung koridor. Dia melihat keadaan sekitar. Memastikan tidak ada penjaga di sekitar sana.

"Sedang apa kalian?"

Suara itu mengagetkan keduanya. Mereka baru saja akan melangkah keluar dari tempat persembunyian mereka. Steve melihat ke belakang. Di sana, berdiri Aquilla yang menatap mereka datar.

Aquilla. Dia adalah anak angkat keluarga Andrea's.

Steve menegang. Tentu ia tahu siapa gadis di depannya itu. Gadis yang pernah menjadi istri sementara Altair.

"Pergilah!" Potong Aquilla. "Anggap kita nggak pernah ketemu."

Setelah mengatakan itu Aquilla langsung berlalu. Membuat Steve dan Altair tertegun. Tidak menyangka Aquilla akan membiarkan mereka begitu saja. Padahal, sebelumnya hubungan antara Altair dan Aquilla sangatlah buruk. Setiap ketemu pasti adu mulut.

"Ayo!"

Steve kembali memapah Altair. Mereka berjalan di taman melewati taman mansion tersebut.

"Brengsek!" Umpat Steve.

Altair mendongak ke depan. Dia terbelalak saat melihat gerombolan pengawal yang dipimpin Evan menuju ke arah mereka.

"Lo pikir, bisa bawa dia begitu saja? No Steve... Lo sama saja menantang gue" Setelah mengatakan itu, Evan langsung menarik pelatuk pistolnya ke arah kepala Steve.

"Steve!" Pekik Altair melihat sahabatnya sudah tergeletak di tanah dengan darah merembes dari kepalanya.

"Kematiannya... Semua gara-gara lo!" teriak Evan. "Andai aja dia nggak nolong lo, gue nggak bakal bunuh dia"

Altair melihat ke arah Evan. Di depannya berdiri sosok pengusaha sukses yang tidak berperasaan bukan seorang teman yang selalu membantunya.

Tubuh Altair luruh. Dia berlutut dengan air mata yang terjatuh dan mengalir di pelupuk matanya.

Altair melihat kedua kaki Evan yang berjalan mendekat ke arahnya. Dia merasa rahangnya dicengkram dengan kuat dan dipaksa untuk mendongak.

Cowok itu sudah tidak perduli lagi saat Evan menghantuk kepalanya ke tanah. Dia bisa merasakan ujung pistol di kepalanya.

"Selamat tinggal Altair."

Saat itu Altair merasakan sengatan kuat pada kepalanya. Dia melihat mayat Steve dengan sendu. tubuhnya ambruk.

"Steve," Altair membatin lirih, "Karena kebodohan gue, lo juga harus merasakan ini"

Kesadaran Altair mulai menghilang, di tengah-tengah kesadarannya itu. Ia memohon dengan penuh rasa putus asa dan kekecewaan.

"Aku mohon. Tolong biarkan aku balas rasa sakit dan penderitaan yang aku rasakan ini. Biarkan aku...membalas semua rasa dendam ini. Tolong... Jangan buat aku jatuh cinta seperti orang bodoh lagi. Ku mohon!"

Altair tak sengaja menatap seseorang dari kejauhan, melihatnya dengan perasaan sedih. Altair berusaha menyesuaikan penglihatan nya, mungkin saja itu halusinasinya. Tapi seseorang itu masih berdiri kaku di sana, menangisinya.

Dua bodyguard mendekati orang itu, membawanya pergi secara paksa dari sana. Altair bisa melihat orang itu memberontak tak ingin pergi, tapi kekuatannya kalah banyak dengan kedua bodyguard itu.

"Aquilla... Kenapa kamu ada di sana? Apa aku nggak salah lihat? Kamu mengkhawatirkan ku? Tapi bagaimana bisa, mengingat selama ini kita selalu bermusuhan" batin Altair.

Bab 2

Sengatan rasa sakit itu sangat menyiksa Altair. Setiap sendi dalam tubuhnya seakan menjerit. Rasanya sangat buruk hingga Altair memilih untuk mati daripada merasakan rasa sakit yang menyiksanya saat ini.

Mati.

Altair seakan tersadar. Ini mungkin memang tahapan menghadapi kematian. Dimana rasa sakitnya semakin meningkat setiap saat. Rasanya dia sudah tidak kuat lagi menahannya. Saat cowok itu merasa rasa sakit itu sudah di puncaknya dan dia sudah sekarat. Namun rasa sakit itu tiba-tiba berhenti. Indra perasanya kembali berfungsi. Dia sedang berbaring. Punggungnya menyentuh kasur yang begitu empuk.

"Apa yang terjadi?" Altair berpikir panik.

Kelopak matanya terbuka.

Sekelilingnya tampak gelap. Hanya ada cahaya samar dari lampu nakas di samping ranjangnya. Tempat ini terasa familiar untuknya. Namun dia tidak bisa mengingat dengan pasti tempat apa ini. Keadaan yang remang-remang tidak cukup membuatnya mengenali keadaan sekitar. Dia mencoba duduk menatap sekeliling.

Altair kembali menutup kedua matanya. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Jelas-jelas Evan sudah membunuhnya. Apakah dia selamat? Dia juga melihat Steve dibunuh terlebih dahulu. Mengingat hal itu api kebencian dalam diri Altair berkobar dengan kuat.

Jika dia memang benar dia selamat, jika memang ada orang yang menyelamatkannya. Maka, Altair akan membalaskan dendamnya pada Evan dan keluarga Andrea's. Bahkan jika perlu dia akan menyerang keluarga itu untuk menuntaskan dendamnya.

Altair terhenyak saat sebuah dering pesan masuk mengoyak lamunannya. Mata tajamnya menatap ponsel yang tergeletak di nakas dengan alis terangkat, tanda kebingungan. Tangannya meraih benda itu dan membalik-baliknya perlahan. Itu ponsel lamanya. Matanya terpaku pada layar di bagian atas, melihat tanggal dan tahun yang terpampang jelas—lima tahun lalu.

"Apa gue benar-benar diberi kesempatan kembali?" gumamnya dengan suara hampir tak percaya.

Untuk memastikan, ia mencubit lengannya hingga kulitnya memerah. Rasa sakit itu menjalar, nyata dan menusuk, mengusir bayang-bayang halusinasi. Altair meyakinkan diri, ini bukan mimpi buruk.

Jantungnya berdegup cepat saat membaca pesan masuk dari Mr. Daniel, tuannya sekaligus dalang di balik niat pembunuhan di kehidupannya yang lalu. Genggamannya di ponsel mengeras, rahangnya mengatup kuat mengingat luka-luka yang pernah ia alami.

Pesan itu sederhana namun tajam: "Silakan menghadap saya ke ruang kerja saya."

Altair mengerutkan dahi, senyum sinis mengembang di bibirnya saat membaca pesan itu. Ingatan tajam tentang malam yang menentukan hidupnya kembali menghantui. Malam ini titik awal dari segala masalah yang ia hadapi.

"Ok... kita ikuti permainan anda, Mr. Daniel," bisiknya dengan suara serak, menahan bara dendam yang menggelora di dada. Ia segera bangkit, tangan cekatan meraih kaos yang sudah menunggu di atas kursi, lalu mengenakannya perlahan ke tubuhnya yang masih telanjang.

Langkah kakinya mantap melangkah keluar dari kamar yang mewah—lebih dari yang layak diterima seorang eksekutor keluarga Andrea's. Tapi itulah hidup Altair, sebuah tempat tinggal untuk kelangsungan hidupnya.

Saat pintu terbuka, pandangannya tertangkap barisan bodyguard yang berdiri rapi sepanjang lorong. Mereka menundukkan kepala hormat saat melihatnya lewat, namun langkahnya tiba-tiba terhenti oleh ketukan hak tinggi mendekat. Sosok gadis bergaun mini kini berdiri di hadapannya.

"Viper!"

Dia adalah Aquilla, anak angkat keluarga Andrea's. Tapi sampai sekarang, Aquilla sendiri belum tahu itu. Sifat manja dan sikapnya yang suka menyulitkan membuat siapa saja yang berurusan dengannya jadi terperangah. Dia tumbuh sebagai anak konglomerat pada umumnya, sombong dan bersifat kekanak-kanakan.

Altair menatap gadis itu dengan dada terlipat, ekspresi datarnya tak bergeming. "Sampai sekarang lo masih manggil gue ‘berbisa’," ucapnya pelan, suaranya mengandung ejekan halus.

Aquilla malah cemberut, matanya menyipit tajam. "Nggak nyadar, lo cowok berbisa, tahu," balasnya.

Altair malas menanggapinya, tapi senyum tipis terukir di bibirnya, memaksa hatinya teringat sesuatu. Dulu, sebelum napasnya berhenti di kehidupan pertama, ia pernah melihat Aquilla menangis untuknya. Lihat sekarang, gadis keras kepala itu justru tak menunjukkan setitik pun kelembutan. Rasa penasaran semakin menggerogoti Altair. Apa sebenarnya yang membuat Aquilla dulu menangis untuknya?

Tiba-tiba, suara melingking Aquilla memecah lamunannya. "Viper!" teriaknya.

Altair terkejut, seperti disambar listrik, lalu ia mendongak. Aquilla tampak setengah kesal. "Lo ngelamun apa sih? Sekarang dengerin gue."

Altair mengangkat alis, suaranya dingin. "Kalau nggak penting, jangan ngomong."

Aquilla menghela napas panjang, lalu berdecak pelan. "Ini penting banget buat kita berdua, sumpah..." katanya, matanya menatap tajam ke Altair.

Altair hanya mengangkat sebelah alis, ekspresinya dingin tapi tak memotong ucapannya.

"Lo harus nolak pernikahannya, ya," desak Aquilla.

"Pernikahan?" Altair menoleh, ragu, lalu matanya membesar perlahan saat menyadari malam ini memang dia akan dinikahkan dengan gadis di hadapannya oleh Mr. Daniel. Tapi waktu itu Altair tak tahu gadis itu bukan anak kandung Mr. Daniel, dia justru tersenyum tipis, merasa ini bisa jadi jalan untuk menghancurkan Mr. Daniel lewat putrinya.

"Tahu dari mana?" tanya Altair pura-pura bingung.

Aquilla menunduk, wajahnya sedikit memerah. "Semalam gue gak sengaja denger Papa mau jodohin kita berdua."

Altair menggeleng pelan, nada suaranya berat. "Emangnya gue ada hak apa nolak Mr. Daniel? Sama aja gue langgar perintahnya."

Aquilla mengacak pinggangnya dengan wajah yang makin mengeras, napasnya berat. "Pokoknya, lo harus nolak. Ngomong aja, lo sukanya sama Ruby," ucapnya tegas sambil menatap Altair penuh tantangan.

Ia menghela napas panjang, lalu menambahkan dengan suara dingin, "Inget ya, lo harus gagalin pernikahan ini. Gue nggak mau hidup susah sama lo." Tanpa menunggu jawaban, Aquilla langsung berbalik dan melangkah pergi.

Altair terpaku, mulutnya tercekat saat nama itu terulang lagi di udara. Dadanya sesak, amarahnya menggelegak sampai tangannya tak sadar mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Gue nggak bakal termakan sama wajah polos lo lagi, Ruby," gumamnya pelan, matanya menyipit tajam.

Ia menghela napas panjang, mencoba mengendalikan diri sebelum melangkah dengan langkah besar mengikuti Aquilla menuju ruang kerja Mr. Daniel.

Sekilas mengetuk pintu, Altair masuk dan matanya langsung tertuju pada Mr. Daniel dan istrinya yang duduk tenang di sofa, sementara Ruby dan Aquilla berdiri di depan mereka, tak jauh. Altair berdiri di samping Aquilla, sejajar dengan dua gadis itu, dia tenang seperti biasanya.

Mr. Daniel mengangkat wajahnya pelan, sorot matanya memburu menatap ketiga sosok di depannya. “Aku mau Aquilla menikah denganmu Altair,” ucapnya singkat.

Aquilla tetap tenang, tak menampakkan tanda kaget, sementara Altair juga tak terkejut, dia hanya menatapnya dengan wajah datar, tatapan tajam tertuju ke Daniel.

“Semua keinginanmu sudah kuberi, Altair,” lanjut Daniel, membuat Aquilla menegang. Perjodohan ini ternyata atas permintaan Altair sendiri—sebuah fakta yang tak pernah ia duga. Dalam hati, Aquilla bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud Altair?

“Iya, Mr. Andrea's,” jawab Altair tanpa ekspresi. Pernikahan ini memang permintaan Altair sebelumnya. Waktu itu dia kira Aquilla putri kesayangan keluarga Andrea’s.

Daniel menatap tajam, suaranya semakin dingin. “Karena kau sudah mengabdi untuk keluarga ini, aku izinkan kau menikahi Aquilla. Tapi...” ia menarik napas sejenak. “Kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Aquilla bukan anak kandungku.”

Kata-kata itu menusuk hati Aquilla, membuat tubuhnya mendadak kaku. Kata-kata dingin itu membungkamnya, membuat ia tak mampu menjawab apa pun. Tatapan Daniel tidak berbelas kasihan.

Apa maksudnya dia bukan anak kandung mereka?

Apa semua kasih sayang yang mereka tujukan semua palsu?

“Kau punya pilihan,” lanjut Daniel. “Tolak pernikahan ini, atau tetap menikahinya setelah tahu fakta itu.”

Bab 3

Nyonya Andrea's melambaikan tangan sambil tersenyum manis kepada Ruby. "Sayang... duduk di sini sama Mama," panggilnya lembut.

Tanpa curiga, Ruby langsung duduk di tengah, di antara ibu dan ayahnya.

Di pojokan, Aquilla menatap pemandangan itu sambil terkekeh garing. "Papa lagi prank aku, kan? Cuma bercanda, kan?" bisiknya bergetar, berharap Daniel cuma main-main.

Namun, Daniel malah menatapnya dingin. "Apa saya kelihatan lagi bercanda, Aquilla?"

Aquilla menelan ludah, menahan perih. "Terus... kenapa kalian manjakan aku selama ini kalau aku bukan anak kandung?"

"Kapan kami pernah manjakan kamu di rumah?" potong Daniel datar. "Kasih sayang kemarin itu cuma akting di depan orang-orang. Kamu pasti tahu alasannya."

Hati Aquilla rasanya seperti dihantam batu besar. Ia menoleh ke ibunya, tapi wanita itu cuma diam sambil mengelus rambut Ruby. Tak ada pembelaan sama sekali.

Daniel kembali bicara tanpa emosi, "Kamu cuma anak formalitas. Saya sengaja pakai kamu supaya musuh-musuh di luar sana terkecoh dan mengira kamu anak kesayangan. Jadi kalau mereka mau balas dendam, bakal ke kamu. Anak kesayangan saya yang asli itu Ruby."

Dada Aquilla makin sesak. Jadi selama ini dia cuma tameng hidup?

Melinda menimpali santai, "Kamu itu cuma anak panti asuhan yang kami adopsi buat umpan, biar kami bisa ambil Ruby lagi. Jangan lupa posisi kamu."

Tubuh Aquilla oleng, tapi tangan Altair dengan cepat menahan bahunya.

Aquilla menepis tangan itu kasar. Matanya menyala menatap Daniel, Melinda, lalu beralih ke Ruby yang cuma tersenyum tipis. "Jadi begini cara kalian balas perlakuan aku selama ini?"

"Mau berharap apa lagi?" balas Daniel cuek. "Mau minta warisan? Nggak usah mimpi. Kamu bukan darah daging kami. Harusnya kamu bersyukur bisa hidup mewah pakai uang saya. Baju mahal, tas branded, sekolah, semuanya dari kantong saya. Nggak usah protes."

Pandangan Daniel beralih ke Altair. "Jadi gimana, Altair? Kamu masih mau nikah sama Aquilla yang ternyata cuma anak angkat?"

Ruangan mendadak hening. Semua menatap Altair.

Altair terdiam. Di kehidupan sebelumnya, setelah fakta ini terbongkar, keluarga ini langsung mendepak Aquilla. Kenapa sekarang alurnya mendadak dipercepat?

Di sisi lain, Aquilla cuma bisa menangis diam-diam. Dia sudah tak peduli lagi apa jawaban Altair.

"Aku tetap nikahi dia," jawab Altair tenang.

Daniel dan Ruby kaget. Daniel tak menyangka Altair tak peduli, sementara Ruby kecewa berat karena batal melihat Aquilla hancur sendirian.

Aquilla yang sedang menangis langsung tertegun. Ada rasa heran, tapi sedikit lega karena ternyata masih ada yang memilihnya, entah atas alasan apa.

Daniel menghela napas. "Ya sudah kalau itu mau kamu. Besok kalian menikah, terus langsung angkat kaki dari sini. Kamu juga, Aquilla."

"Mulai sekarang kamu bukan anak saya lagi," lanjut Daniel tanpa beban. "Fasilitas ditarik semua, kecuali biaya kuliah sampai kamu lulus. Hitung-hitung uang capek karena sudah pura-pura jadi anak saya."

Aquilla makin lemas.

"Kalau kamu diincar musuh saya di luar sana, jangan cari saya," tambah Daniel dingin.

"Papa..." bisik Aquilla pasrah.

"Jangan panggil Papa! Kamu nggak pantas panggil begitu. Panggil saya Mr. Daniel, istri saya Nyonya, dan Ruby Nona Muda."

"Ini nggak adil!" jerit Aquilla, meski suaranya keburu habis.

Daniel melotot. "Nggak adil di mana? Kamu sudah menikmati posisi putriku bertahun-tahun! Sadar diri, kamu cuma anak pancingan." Daniel menatap Altair lagi. "Kamu yakin mau sama dia? Sifatnya manja, keras kepala, dan suka bikin pusing."

"Saya yakin, Mr. Saya tetap mau sama Aquilla," sahut Altair santai.

Aquilla bingung. Biasanya Altair benci setengah mati padanya, tapi kenapa sekarang malah membela? Saat Altair meliriknya sambil tersenyum tipis, Aquilla tahu ada maksud lain di balik itu.

"Anggap saja ini balasan karena kamu pernah nolong aku dulu, Aquilla," batin Altair. "Kamu nggak bakal selamat kalau bertahan di rumah ini."

"Oke, fix! Besok kalian akad. Aquilla, kamu cuma boleh bawa baju seadanya. Semua barang di rumah ini punya saya," tegas Daniel. "Dan buat kamu Altair, meski nggak tinggal di sini, kamu tetap kerja jadi eksekutor keluarga. Gaji tetap sama."

"Baik, Mr," angguk Altair.

Aquilla emosi melihat kepasrahan Altair. "Loe jangan asal setuju aja dong!" teriaknya.

Altair cuma cuek. Kesal setengah mati, Aquilla melirik Ruby yang masih santai dielus ibunya. Rasanya darah Aquilla langsung mendidih.

"Gara-gara loe ya, sialan!" teriak Aquilla mau menerjang Ruby.

Tapi Daniel keburu menahan tangannya dengan kuat. "Jangan berani-berani sentuh putriku!" bentaknya dingin.

Hati Aquilla makin hancur ditolak terang-terangan begitu.

"Bawa dia keluar sekarang," perintah Daniel pada Altair.

Altair mengangguk, lalu merangkul paksa pinggang Aquilla.

"Lepasin gue! Tangan gue gatal mau jambak cewek sok polos itu!" amuk Aquilla sambil berontak.

Tanpa banyak bicara, Altair langsung membopong Aquilla keluar ruangan, mengabaikan tatapan heran para pelayan di sepanjang koridor. Dia membawa gadis itu masuk kamar lalu mengunci pintunya dari dalam.

Setibanya di dalam, Altair langsung melempar Aquilla ke kasur.

"Loe apa-apaan sih? Harusnya loe tolak pernikahan itu, bajingan!" teriak Aquilla dengan muka merah padam.

"Percuma loe ngamuk, La. Mereka nggak bakal dengerin loe lagi," kata Altair datar. "Kita berdua ini sama-sama dibuang. Gue eksekutor buangan, loe anak pancingan. Nggak usah ngemis-ngemis, bukan gaya loe banget."

Suara Aquilla mendadak pelan, "Terus kenapa loe terima, Al? Kalau loe menolak, gue mungkin masih bisa tinggal di sini..."

Altair menghela napas panjang. "Loe masih polos ya. Mau gue menolak atau nggak, loe bakal tetap diusir. Memang sudah takdir loe begini."

Altair melangkah ke pintu kamar, lalu melirik sekilas. "Bawa barang seadanya aja. Rumah gue kecil, nggak muat buat nampung barang-barang nggak penting loe."

Pintu ditutup rapat, menyisakan tangisan histeris Aquilla di dalam kamar.

Altair bersandar sejenak di balik pintu, memejamkan mata mendengarkan tangisan itu, lalu berbisik pelan, "Mungkin ini memang jalan kita, Illa."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!