Seluruh lapangan padam tepat setelah Kepling NATO menyebut namaku.
Satu detik sebelumnya, lampu-lampu tenda masih menyala terang, organ tunggal sedang mencoba lagu dangdut yang nadanya terlalu tinggi, dan Rahmat Syahputra Nasution berdiri di atas panggung dengan mikrofon di tangan. Ia baru saja mengatakan bahwa acara malam itu berjalan lancar berkat “kolaborasi seluruh unsur masyarakat, khususnya saudara Jefri selaku penanggung jawab teknis kelistrikan.”
Lalu bunyi MCB jatuh terdengar dari belakang panggung.
Tak.
Gelap.
Orang-orang menjerit seperti ada harimau masuk lapangan. Anak-anak yang tadi berebut balon langsung menangis. Seseorang menjatuhkan piring plastik. Organ tunggal mati di tengah nada panjang, menyisakan suara penyanyinya yang masih meneruskan satu suku kata sebelum sadar pengeras suara sudah tidak bekerja.
Dari arah kursi warga, seorang laki-laki berteriak, “Jepot! Kau bikin konslet lagi, ya?”
Tawa pecah di beberapa sudut. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat tengkukku panas.
“Aku belum pegang apa-apa!” balasku.
“Justru itu yang kami takutkan!” sahut orang lain.
Sore tadi aku sendiri yang memeriksa pembagian beban. Liza berdiri di belakangku dengan daftar yang lebih panjang daripada pidato Kepling. Jalur panggung, tenda warga, lampu lapangan, warung, dan satu stopkontak khusus untuk dispenser semuanya sudah diberi label. Kami bahkan berdebat sepuluh menit karena panitia ingin menambah dua lampu sorot tanpa biaya.
“Acaranya untuk warga,” kata Kepling waktu itu.
“Listrik juga untuk warga,” jawab Liza. “Tagihannya tidak dibayar dengan semangat gotong royong.”
Akhirnya ia membayar—bukan dari kas panitia, tentu saja, melainkan menyuruh bendahara mencatatnya sebagai “penyesuaian teknis.” Aku masih ingat panel itu bersih ketika kututup menjelang magrib. Tidak ada kabel merah. Tidak ada terminal tambahan. Tidak ada lubang baru di sisi belakang.
Karena itu, saat seluruh lapangan menertawakanku, bagian paling keras dalam kepalaku bukan rasa malu. Melainkan keyakinan bahwa kali ini aku tidak menyebabkannya.
Aku meraih senter dari kantong rompi dan melangkah menuju panel utama. Di belakangku, Kepling NATO masih memukul-mukul mikrofon seolah listrik bisa kembali karena tersinggung.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, mohon tetap tenang,” katanya tanpa suara. Baru setelah dua kali berbicara ia sadar mikrofon mati. Ia lalu mengulang kalimat itu dengan berteriak. “MOHON TETAP TENANG!”
“Kalau Bapak yang teriak, orang makin tidak tenang,” kata Liza di sampingku.
Aku menoleh. Dalam gelap, wajahnya hanya terlihat dari cahaya layar ponsel. Keningnya sudah berkerut—wajah standar Liza Cemberut setiap kali aku berada kurang dari lima meter dari instalasi listrik.
“Pegang senter,” kataku.
Ia tidak mengambilnya. “Jangan sentuh panel dulu.”
“Aku teknisinya.”
“Makanya aku bilang jangan sentuh sebelum dicek.”
Aku mendecakkan lidah. Delapan bulan bekerja bersama belum membuatnya paham bahwa seorang teknisi kadang perlu bergerak cepat. Delapan bulan bekerja bersama juga belum membuatku paham bahwa setiap kali aku berpikir begitu, biasanya ada tagihan baru.
Kami tiba di depan kotak panel yang dipasang pada tiang besi dekat panggung. Pintu panel sedikit terbuka. Bau plastik panas menyusup di antara aroma sate, tanah lembap, dan kopi terlalu manis dari warung Mak Sendok.
Aku berhenti.
Bau itu tipis, tetapi aku mengenalnya. Kabel yang terlalu panas memiliki cara sendiri untuk memberi tahu bahwa manusia sudah berbuat bodoh. Sayangnya, kabel biasanya memberi tahu setelah manusia selesai berbuat bodoh.
Liza menarik bagian belakang rompi kerjaku.
“Kenapa berhenti?”
“Bau terbakar.”
“Dari panel?”
“Belum tahu.”
“Berarti jangan bilang aman.”
“Aku belum bilang.”
Ia menatapku.
Aku mengusap tengkuk. “Belum sempat.”
Dari belakang, langkah sepatu mendekat. Dua petugas keamanan lingkungan datang membawa tongkat dan satu senter yang cahayanya berkedip-kedip. Di belakang mereka, Kepling NATO berjalan tergesa-gesa sambil tetap mempertahankan gaya orang yang ingin terlihat memimpin.
“Saudara Jefri,” katanya, “ini bagaimana? Acara sudah mendapat perhatian masyarakat. Kita tidak ingin terjadi kepanikan yang tidak perlu.”
“Yang membuat orang panik itu listrik mati dan Bapak pidato dalam gelap.”
Liza menyikut lenganku.
Kepling tersenyum tipis. Senyum itu tidak pernah sampai ke mata. “Saya percaya saudara dapat mengambil inisiatif teknis.”
Kalimatnya terdengar seperti pujian, tetapi aku tahu bentuk lain dari perangkap. Kalau listrik menyala, itu keberhasilan panitia. Kalau lapangan terbakar, itu inisiatif teknis Jefri.
“Siapa terakhir buka panel?” tanya Liza.
Kepling mengusap ujung mikrofon yang masih dipegangnya. “Panel berada dalam pengawasan panitia.”
“Itu bukan jawaban,” kata Liza.
“Saudari Liza, dalam kegiatan masyarakat seperti ini, kita harus mengutamakan penyelesaian, bukan mencari siapa yang—”
“Siapa terakhir buka panel?”
Aku hampir tersenyum. Liza bisa memotong pidato Kepling seperti memotong angka nol yang tidak perlu di kuitansi.
Sebelum Kepling menjawab, cahaya putih menyambar wajahku. Seorang pemuda berdiri sekitar tiga meter dari panel, memegang ponsel secara horizontal.
“Bang Jepot, coba lihat sini,” katanya. “Biar jelas dokumentasinya.”
“Matikan kameramu.”
“Ini untuk keamanan, Bang.”
“Keamanan apa? Kalau meledak, videomu cuma lebih terang.”
Beberapa orang tertawa. Pemuda itu tidak menurunkan ponsel.
Aku berjongkok di depan panel. Pintu besinya terasa hangat ketika kusentuh dengan punggung jari. Liza mengarahkan senter ke bawah, bukan ke wajahku seperti biasanya. Aku memasang sarung tangan, lalu mengambil tespen merah yang terselip di kantong dada.
Kepling berdeham. “Berapa lama kira-kira?”
“Kalau Bapak diam, lebih cepat.”
“Jefri,” tegur Liza.
“Apa? Aku sedang menghitung gangguan suara.”
Aku memeriksa sisi luar panel. Tidak ada bekas benturan. Kabel utama masuk dari bawah, sesuai jalur yang kami pasang sore tadi. Aku masih ingat tiap sambungan karena Liza memaksaku memotret semuanya sebelum panel ditutup.
“Aku masih bisa memperbaiki panel,” kataku, lebih kepada orang-orang di belakang daripada kepada Liza.
“Perbaiki dulu,” jawabnya datar. “Harga dirimu belakangan.”
Petugas keamanan yang paling dekat menahan tawa. Aku pura-pura tidak mendengar.
Bau plastik terbakar semakin jelas. Bukan dari terminal utama. Aku menyorot sisi kiri panel, tempat kabel distribusi menuju panggung dan deretan tenda. Semua label kami masih ada. Jalur panggung kuning. Tenda biru. Warung hijau. Lampu lapangan putih.
Namun, ada satu ikatan kabel baru di belakangnya.
Aku menahan napas.
“Liza, cahaya ke sini.”
Ia menggeser senter. Bayangan kabel-kabel menempel di dinding panel seperti akar hitam. Di antara jalur yang kami susun rapi, ada kabel lain yang masuk melalui lubang kecil pada sisi belakang. Isolasinya merah. Ujungnya terjepit pada terminal tambahan yang tidak kupasang.
Aku menyentuhnya dengan tespen tanpa menempelkan tangan ke konduktor.
Lampu kecil di dalam tespen menyala.
Liza melihat perubahan wajahku. “Apa?”
Aku tidak menjawab. Kabel itu masih bertegangan meskipun MCB utama sudah jatuh.
Dari belakang, Kepling bertanya, “Ada masalah?”
Aku menyorot kabel merah itu lebih jelas. Isolasinya mengilap, masih baru, dan mengarah keluar panel menuju tanah gelap di belakang panggung.
Kabel itu seharusnya tidak berada di sana.
Delapan bulan sebelumnya, aku masih punya seragam perusahaan, kartu identitas yang tergantung di dada, dan keyakinan bahwa semua aturan dibuat untuk orang yang tidak cukup pintar mencari jalan singkat.
CV Cahaya Indah menugaskanku ke pesta pernikahan sepupuku di sebuah gedung serbaguna dekat Jalan Halat. Secara resmi aku datang sebagai teknisi lapangan. Secara tidak resmi, Mak Mina sudah memberi tahu seluruh keluarga bahwa aku “orang listrik” dan karena itu harus bisa membereskan apa pun yang memakai kabel, termasuk blender katering dan lampu hias berbentuk angsa.
Gedung itu sudah terang sejak sore. Terlalu terang, malah. Pelaminan dipenuhi lampu kecil berwarna emas. Dua pendingin ruangan tambahan dipasang di sisi kiri. Organ tunggal membawa pengeras suara yang ukurannya seperti lemari dua pintu. Di dekat pintu masuk, seorang penyedia dekorasi menyalakan mesin kabut untuk membuat pengantin terlihat turun dari awan.
Masalahnya, tidak seorang pun merasa perlu menghitung daya.
Aku berdiri di depan panel cabang bersama Rinso, rekan kerjaku. Seragamnya masih rapi walau kami sudah mengangkat kabel sejak siang. Seragamku sudah terbuka dua kancing dan memiliki noda kuah kari dari makan sore.
Rinso membaca angka pada clamp meter. “Beban jalur kiri sudah tinggi.”
“Masih hidup, kan?”
“Sekarang.”
“Berarti tinggi, bukan mati.”
Ia menatapku seperti dokter melihat pasien yang menolak percaya hasil rontgen. “Itu bukan ukuran aman.”
Dari aula terdengar suara panitia memanggil teknisi. Lampu dekorasi di sisi pelaminan berkedip tiga kali. Seorang tante berlari ke arah kami sambil membawa kipas tangan.
“Jefri, lampu bunga sebelah kanan mati. Nanti di foto nampak pincang.”
“Bukan jalur kami, Tante. Tunggu teknisi gedung.”
“Teknisi gedung entah di mana. Kau kan sekolah listrik.”
“Aku kerja listrik, Tante.”
“Lebih bagus lagi. Cepatlah.”
Bos kami, Pak Gunawan, muncul dari balik tumpukan kotak kabel. Ia mengangkat telapak tangan sebelum aku menjawab.
“Jangan ubah sambungan gedung,” katanya. “Teknisi gedung sedang dihubungi. Kita hanya bertanggung jawab pada jalur peralatan yang kita pasang.”
“Tapi pesta mulai setengah jam lagi.”
“Makanya jangan tambah masalah.”
Pak Gunawan pergi untuk memeriksa genset cadangan. Rinso kembali menulis angka pada lembar pemeriksaan. Ia bahkan memakai papan alas tulis, seolah kami sedang audit nasional, bukan mengurus pesta yang panitianya baru sadar stopkontak tidak tumbuh sendiri dari dinding.
Fadli muncul membawa dua gelas kopi dan satu piring mi goreng. Ia bukan bagian tim teknis. Ia datang sebagai teman keluarga, tetapi sejak siang sudah lebih sering berada di area kerja karena katanya di sana makanan lebih cepat sampai.
“Lek,” katanya kepadaku, “biasanya kau punya lelucon. Wajahmu cem orang baru tahu utang warung ada bunganya.”
“Aku sedang berpikir.”
“Bahaya kali.”
Rinso menerima satu gelas kopi tanpa mengalihkan pandangan dari meter. “Kalau dia berpikir, biasanya orang lain yang membayar.”
“Aku dengar itu.”
“Memang untuk didengar.”
Di dekat pelaminan, sepupuku sempat menangkap lenganku. Wajahnya sudah tertutup riasan, tetapi kepanikannya tidak bisa disamarkan.
“Bang, jangan sampai mati lampu, ya.”
Kalimat itu sederhana. Namun, di dalam kepalaku berubah menjadi perintah untuk membuktikan bahwa aku berguna. Aku menepuk bahunya dan berkata, “Tenang. Selama aku di sini, lampu ini tidak akan mati.”
Rinso mendengar dari belakang.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandangku, lalu memandang panel, seperti seseorang yang baru melihat dua kecelakaan berdiri bersebelahan.
Lampu bunga di pelaminan padam lagi. Tante tadi berteriak dari jauh sambil menunjuk-nunjuk. Di belakangnya, pengantin perempuan sedang dirias ulang karena keringat. Pendingin tambahan belum boleh dimatikan. Penyedia organ tunggal meminta satu stopkontak lagi untuk lampu panggung. Kru dokumentasi datang membawa dua lampu sorot. Mesin kabut masih menyembur setiap beberapa menit seperti naga masuk angin.
Aku menatap panel. Jalur utama gedung masih punya ruang sedikit. Sedikit sekali, memang, tetapi ruang tetap ruang.
“Kalau kita tarik satu jalur darurat dari panel servis, lampu dekorasi bisa hidup,” kataku.
Rinso menutup papan tulisnya. “Tidak.”
“Aku belum selesai.”
“Aku sudah tahu akhir kalimatmu.”
“Pala susah kali. Sambung sikit, hidup semua.”
“Ukuran kabel yang ada tidak cukup untuk beban tambahan.”
“Lampu bunga itu kecil.”
“Lampu bunga, dua sorot dokumentasi, dan entah apa lagi yang akan mereka colok setelah kau bilang boleh.”
Aku membuka kotak alat dan mengambil gulungan kabel. “Kita pasang sementara. Setelah acara mulai, beban bisa dibagi.”
“Dibagi ke mana?”
“Nanti kita lihat.”
“Itu bukan rencana.”
“Itu fleksibilitas.”
Fadli menyesap kopi. “Aku tidak paham listrik, tapi kalau orang bilang ‘nanti kita lihat’, biasanya motorku pulang didorong.”
Aku mengabaikannya. Harga diriku sudah terlanjur berdiri di tengah aula bersama semua saudara yang yakin aku bisa menyelamatkan pesta. Menunggu teknisi gedung terasa seperti mengakui bahwa kartu identitasku hanya hiasan dada.
Rinso berdiri di depanku. “Pak Gunawan sudah melarang.”
“Pak Gunawan tidak lihat keadaan.”
“Dia lihat. Makanya dia melarang.”
“Geser, lek.”
Ia tidak bergeser. Kami saling tatap beberapa detik. Rinso lebih tinggi sedikit, tetapi aku lebih keras kepala banyak.
Dari aula, Mak Mina berteriak, “Jefri! Jangan buat malu keluarga. Lampu itu dari tadi mati!”
Kalimat pertama dan kedua ibuku sering tidak bekerja sama.
Aku mengangkat gulungan kabel. “Dengar sendiri. Ini darurat keluarga.”
“Listrik tidak kenal hubungan keluarga,” kata Rinso.
“Kalau listrik kenal tagihan, pasti kenal keluarga.”
Fadli berbisik, “Itu leluconmu sudah kembali.”
Aku menatap mesin kabut yang baru saja menyemburkan asap tebal ke pelaminan. “Kali ini jangan kasih aku alasan.”
Kami menarik kabel melalui sisi panggung. Aku memilih jalur tercepat, melewati belakang tirai dan mengikatnya pada rangka dekorasi. Rinso tetap ikut, bukan karena setuju, melainkan karena ia tahu meninggalkanku sendirian akan membuat laporan kecelakaan lebih panjang.
“Jangan sambungkan dulu,” katanya. “Kita ukur lagi.”
“Sudah kuhitung.”
“Kau menghitung dengan apa?”
“Pengalaman.”
“Pengalamanmu tidak punya angka.”
Aku menghubungkan ujung kabel ke terminal cabang. Lampu bunga menyala. Tanteku bertepuk tangan seolah aku baru mengembalikan matahari. Kru dokumentasi langsung menancapkan lampu sorot tambahan tanpa bertanya. Penyedia organ tunggal melihat stopkontak kosong dan ikut menyambungkan kipas amplifier.
Rinso menunjuk meter. Angkanya naik.
“Cabut sorot itu,” katanya.
“Nanti foto gelap.”
“Lebih baik foto gelap daripada satu gedung gelap.”
Musik pembuka dimulai. Pintu utama dibuka. Pengantin berjalan masuk diiringi tepuk tangan, kabut, dan cahaya emas yang memang tampak bagus sekali. Aku berdiri di samping panel dengan dada mengembang.
“Nampak?” kataku. “Aman, bah.”
Pengantin menaiki pelaminan. Kedua keluarga berdiri untuk menyambut. Pada saat yang sama, mesin kabut menyala, pendingin menarik daya, dan lampu sorot berpindah ke mode penuh.
Dari dalam panel terdengar bunyi keras, pendek, seperti pistol mainan ditembakkan tepat di dekat telingaku.
Tak.
Lampu gedung mati tepat ketika kedua keluarga hendak bersalaman.
Tangan ayah pengantin laki-laki masih terulur di udara. Ibu pengantin perempuan membalas dengan telapak setengah terbuka. Dalam gelap, keduanya seperti sedang memainkan permainan anak-anak yang aturannya tidak jelas.
Organ tunggal berhenti pada nada tinggi. Penyanyinya masih meneruskan suara selama satu detik sebelum sadar mikrofon sudah mati. Pendingin ruangan mendadak senyap. Mesin kabut, entah karena memakai jalur berbeda atau karena memang dikirim dari neraka, masih mengeluarkan asap tipis di depan pelaminan.
Seseorang berteriak, “Kebakaran!”
“Bukan!” teriakku. “Kabut dekorasi!”
“Kenapa dekorasi macam kebakaran?”
“Itu pertanyaan untuk panitia!”
Aku menyalakan senter ponsel dan berlari ke panel. Tiga tante menghadangku dalam jarak lima meter.
“Jefri, hidupkan lampu pelaminan dulu.”
“Pendingin dulu, panas kali.”
“Musik dulu, pengantin belum salaman!”
Masing-masing berbicara seolah listrik datang dalam tiga keran terpisah yang bisa kubuka sesuai urutan keluarga paling keras.
“Geser, Tante. Aku cek panel.”
“Jangan lama-lama. Tamu sudah tengok semua.”
Aku ingin menjelaskan bahwa tamu memang datang untuk melihat, tetapi Rinso sudah menarik lenganku melewati mereka.
“MCB utama jatuh,” katanya.
“Aku nampak.”
“Jangan langsung dinaikkan.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, tanganmu jangan di tuas.”
Tanganku memang sudah berada di tuas.
Di belakang kami, suara kursi bergeser, anak-anak menangis, dan panitia mencoba menenangkan tamu tanpa pengeras suara. Seseorang menyalakan lampu ponsel, lalu puluhan orang mengikuti. Aula berubah seperti konser yang penontonnya kecewa.
Pak Gunawan datang sambil berlari. “Apa yang kau sambung?”
“Lampu dekorasi saja.”
Rinso menjawab lebih cepat. “Ditambah sorot dokumentasi dan kipas amplifier.”
“Itu orang lain yang colok.”
Pak Gunawan menatapku. “Karena kau menyediakan jalurnya.”
“Aku bisa hidupkan lagi.”
“Jangan—”
Aku menaikkan MCB.
Lampu menyala setengah detik. Pelaminan kembali emas, wajah para tamu terlihat, dan penyanyi organ tunggal sempat mengucapkan “nah” dengan lega.
Percikan muncul dari sisi terminal.
Tak.
Gelap lagi.
Di sisi aula, Fadli menyalakan lampu motornya dari luar dan mengarahkannya melalui pintu, seolah satu lampu depan yang redup dapat menggantikan instalasi gedung. Cahaya kuning itu hanya menerangi kaki para tamu.
“Lumayan!” teriaknya. “Bagian bawah pengantin nampak!”
“Matikan, bodat!” balasku.
“Ini bantuan darurat!”
“Motormu sendiri darurat!”
Tawa kecil muncul dari dekat pintu. Bahkan pengantin perempuan yang masih berdiri di pelaminan menutup mulut menahan senyum. Selama beberapa detik, suasana tidak terasa seperti bencana. Lalu seorang anak berlari menabrak kabel dekorasi, ibunya menjerit, dan semua orang kembali mengingat bahwa gedung masih gelap.
Pak Gunawan menyuruh panitia membuka pintu samping agar udara masuk. Tanpa pendingin, ruangan cepat panas. Bau parfum, makanan, dan plastik yang mulai meleleh bercampur menjadi satu. Keringat mengalir di punggungku dan masuk ke pinggang celana.
Suara orang-orang menjadi lebih keras. Pengantin laki-laki turun dari pelaminan. Bahkan dalam cahaya ponsel, aku bisa melihat rahangnya mengeras.
Rinso mendekatkan mulut ke telingaku. “Kabel daruratmu terlalu kecil. Isolasinya mungkin sudah panas.”
“Belum tentu.”
“Baunya sudah ada.”
Aku mencium udara. Plastik panas. Tipis, tetapi nyata.
Rasa malu sering punya cara aneh mengubah fakta. Ketika orang lain benar, otakku tidak langsung menerima. Ia lebih dulu mencari sepuluh alasan mengapa kebenaran itu disampaikan dengan cara yang menyebalkan.
“Aku cek sambungan,” kataku.
Pengantin laki-laki tiba di depan kami dan mencengkeram kerah seragamku. “Kau yang buat ini?”
“Aku yang sedang memperbaiki.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kalau Abang lepas dulu, tanganku bisa kerja.”
“Acara kami rusak!”
“Belum rusak. Cuma gelap sebentar.”
Dari belakang terdengar suara Tia, jelas sekali meskipun tanpa mikrofon.
“Bang, senyum dulu. Viral ini!”
Cahaya kamera ponselnya menyala. Adikku berdiri di antara dua tante, merekam dengan posisi horizontal dan ekspresi orang yang baru menemukan rezeki.
“Tia, turunkan itu!”
“Angle-nya bagus, Bang. Ada asap.”
“Itu bukan alasan!”
“Justru itu alasannya.”
Pengantin laki-laki menoleh ke arah kamera. Cengkeramannya sedikit longgar. Aku melepaskan kerahku dan berjongkok di depan panel.
Pak Tor muncul dari sisi aula. Bapak memang datang sebagai keluarga, tetapi ia masih membawa kebiasaan teknisi seperti orang lain membawa dompet. Tespen merah terselip di saku kemejanya. Wajahnya tidak panik. Itu lebih buruk. Kalau Pak Tor diam, berarti ia sedang menghitung berapa banyak kebodohan yang harus dibongkar.
“Sudah diuji?” tanyanya.
Aku mengangguk terlalu cepat.
Ia mengulurkan alat ukur kecil. “Uji lagi.”
“Pak, aku kerja di perusahaan.”
“Arus tidak baca kartu pegawaimu.”
Beberapa orang di dekat kami tertawa. Aku menerima alat itu dengan rahang kaku.
Pak Tor menatap kabel darurat yang masuk dari sisi bawah. “Takut itu boleh,” katanya pelan. “Asal tanganmu tetap mengikuti prosedur.”
“Aku tidak takut.”
“Makanya suaramu naik.”
Aku ingin membalas, tetapi bau plastik panas semakin kuat. Aku memutus semua beban cabang, lalu memeriksa terminal. Kabel yang kupasang terasa hangat. Terlalu hangat. Rinso benar.
“Cabut semua tambahan,” kata Pak Gunawan.
“Kalau dicabut, lampu dekorasi mati.”
“Memang.”
“Tante-tante itu bisa membunuhku.”
Pak Tor melirik kerumunan. “Kalau kau lanjut begini, listrik duluan.”
Aku menarik napas dan mulai melepas jalur tambahan. Namun, kru dokumentasi sudah menarik kabel sorot mereka ke belakang tirai. Sambungannya tersangkut di antara rangka dekorasi. Saat kutarik, tidak bergerak.
“Rinso, matikan jalur servis.”
“Sudah.”
Aku memeriksa dengan alat ukur. Nol. Aman.
Dari belakang, pengantin laki-laki kembali mendesak. “Berapa lama?”
“Lima menit.”
“Kau bilang sebentar tadi.”
“Sebentar itu belum ada satuan resmi.”
“Jefri,” kata Pak Gunawan.
“Iya, Pak.”
Aku membuka penutup terminal untuk melihat titik yang menghitam. Tia bergerak mendekat, masih merekam. Pak Tor menyuruhnya mundur. Ia mundur satu langkah, tidak lebih.
“Bang, coba ulang waktu bilang aman tadi,” katanya. “Biar ada pembuka.”
“Pala kau.”
“Itu bisa jadi judul.”
Aku memasang kembali terminal setelah melepas jalur tambahan. Rinso berdiri di sampingku, memegang senter. Ia tidak mengejek. Itu membuatku semakin kesal.
“Naikkan bertahap,” katanya.
“Aku tahu.”
“Jalur utama dulu. Lalu penerangan. Jangan pendingin dan panggung bersamaan.”
Aku menaikkan MCB utama. Lampu indikator menyala. Tidak jatuh.
“Penerangan,” kata Pak Tor.
Aku mengaktifkan jalur aula. Sebagian lampu menyala. Tamu bertepuk tangan. Dada yang tadi sempit mulai longgar.
“Nampak?” kataku. “Aman, bah.”
Rinso mengangkat tangan. “Jangan jalur panggung dulu.”
Namun pengelola organ tunggal, yang tidak mendengar percakapan kami, menyalakan sakelar amplifier dari ujung aula. Beban masuk sekaligus. Dari terminal kabel darurat yang belum sepenuhnya lepas, terdengar desis.
Aku menoleh.
Percikan biru meledak di samping kepalaku.
Pada saat yang sama, kilatan kamera ponsel Tia menangkap wajahku dengan mata terbelalak, rambut berdiri, dan mulut masih membentuk sisa kata aman.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!