Indonesia
NovelToon NovelToon

AMERICAN CROWS

PANDUAN DUNIA NOVEL

Pusat Pemerintahan

Mahkamah Agung

Mahkamah Agung merupakan lembaga tertinggi yang beranggotakan lima orang. Jabatan ini tidak dipilih melalui pemungutan suara, melainkan diwariskan oleh Mahkamah Agung sebelumnya kepada penerus yang dianggap layak. Tugas utama mereka adalah menjaga keseimbangan Kota Cikampek, mengawasi para berandalan, serta memastikan seluruh peraturan tetap ditegakkan.

Walaupun menjadi jabatan tertinggi, Mahkamah Agung tidak memiliki kekuasaan mutlak. Mereka tidak dapat mengubah hukum, memimpin seluruh berandalan, ataupun menciptakan aturan baru. Seluruh hukum kota telah ditetapkan sejak tahun 1982 dan tercatat dalam buku peraturan yang dimiliki setiap rumah warga.

---

Dewan Keamanan

Dewan Keamanan dipimpin oleh satu orang dan bertugas menjaga ketertiban kota. Mereka memiliki wewenang mengerahkan Old Generasi, yaitu para mantan berandalan yang telah pensiun dari dunia jalanan namun tetap mengabdi kepada pemerintah.

Old Generasi terdiri dari petarung-petarung legendaris yang pernah menguasai masanya. Walaupun telah pensiun, mereka wajib memenuhi panggilan pemerintah kapan pun dibutuhkan.

---

Dewan Eksekusi

Dewan Eksekusi bertanggung jawab menangani penjara, perburuan buronan, hingga pelaksanaan eksekusi sesuai hukum yang berlaku. Pasukan mereka dikenal sebagai Algojo, yaitu petarung aktif yang bekerja langsung di bawah pemerintah.

Algojo dilarang bergabung dengan fraksi mana pun dan tidak boleh mendirikan fraksi sendiri. Mereka harus melalui seleksi yang sangat berat sebelum resmi menjadi Algojo.

---

Dewan Intelijen

Dewan Intelijen memegang kendali atas seluruh informasi di Cikampek. Mereka mengatur penyebaran berita, pengumuman penting, status buronan, hingga nilai hadiah setiap buronan.

Anggotanya disebut Intelligent Crows, yaitu para berandalan yang memiliki kemampuan berpikir, menyelidiki, dan mengumpulkan informasi. Karena Cikampek merupakan kota yang terisolasi, profesi ini menjadi salah satu yang paling penting sekaligus memiliki bayaran tertinggi.

---

Peraturan Kota Cikampek

Seluruh warga wajib menaati hukum berikut.

Dunia siang dan dunia malam dilarang saling mencampuri.

Dilarang membunuh anggota Mahkamah Agung maupun Dewan Pemerintahan.

Dilarang memperjualbelikan senjata api dan obat-obatan terlarang.

Dilarang menggunakan narkotika.

Dilarang membunuh rekan sendiri.

Dilarang keluar dari fraksi tanpa izin.

Dilarang meninggalkan tugas pemerintahan tanpa persetujuan.

Berandalan yang pensiun wajib masuk Old Generasi.

Dilarang menyerang ataupun membunuh warga sipil.

Senjata api dilarang digunakan dalam bentrokan.

Setiap kenaikan status wajib dilaporkan kepada Dewan dan Mahkamah Agung.

Outsider wajib menghormati penduduk asli Cikampek.

Seluruh perubahan fraksi wajib dilaporkan kepada pemerintah.

Setiap orang wajib memakai cincin identitas.

Orang tanpa cincin identitas dianggap pelanggar berat.

Buronan wajib diserahkan kepada pemerintah.

Berandalan yang melepaskan statusnya akan menjadi warga sipil dengan cincin abu-abu.

---

Hierarki Berandalan

Crows

Berandalan tingkat dasar.

- Lowly Crows : Berandalan pemula.

- High Crows : Berandalan berpengalaman dan jauh lebih kuat.

Raven's

Pemimpin sebuah fraksi. Mereka memiliki kekuasaan penuh atas anggota fraksinya.

Lone Wolf

Petarung yang tidak memiliki fraksi. Sebagian besar Lone Wolf adalah petarung kuat yang memilih berjalan sendirian.

Outsider

Pendatang dari luar Cikampek. Mereka bukan penduduk asli dan umumnya dipandang rendah oleh para berandalan lokal.

Ruler

Penguasa suatu wilayah yang berhasil mengalahkan seluruh Raven's di daerah tersebut. Seorang Ruler berada satu langkah menuju gelar Kaisar.

Crows Emperor

Gelar tertinggi sekaligus penguasa seluruh Cikampek. Selama ratusan tahun, tidak ada seorang pun yang berhasil memperoleh gelar ini. Penduduk asli Cikampek dipercaya memiliki darah Suku Galactian, bangsa barbar kuno yang terkenal dengan kekuatan fisik dan mentalnya, sehingga menaklukkan kota ini dianggap hampir mustahil.

---

Sistem Buronan

Pelanggar berat akan ditetapkan sebagai buronan dan memiliki nilai hadiah sesuai tingkat kejahatannya.

Status buronan terdiri dari:

- Dead or Alive : Boleh ditangkap hidup atau mati.

- Alive : Harus ditangkap hidup.

- Dead : Harus dieksekusi.

Hadiah dapat diklaim oleh pemerintah, pemburu buronan, berandalan, maupun warga sipil.

---

Sistem Cincin

Setiap cincin menunjukkan status pemiliknya.

- Cokelat : Crows

- Merah : Raven's

- Ungu : Ruler

- Putih : Outsider

- Hitam : Lone Wolf

- Emas : Crows Emperor

- Abu-abu : Warga Sipil

- Biru : Old Generasi

- Hijau : Algojo

- Kuning : Intelligent Crows

---

Sistem Informasi

Seluruh berita resmi disebarkan melalui Breaking News Crows, baik melalui media sosial maupun koran yang dipasang di berbagai sudut kota. Berita meliputi bentrokan, kecelakaan, pengumuman pemerintah, hingga daftar buronan terbaru.

---

Sistem Angkatan

Setiap berandalan memiliki identitas generasi berdasarkan tahun pertama mereka memasuki dunia berandalan atau sekolah.

Contoh:

- Generasi 2025 berarti mulai menjadi Crows pada tahun 2025.

- Generasi 2021 berarti mulai sejak tahun 2021.

Tahun pensiun tidak bergantung pada angkatan. Siapa pun bebas pensiun kapan saja. Setelah pensiun, statusnya berubah menjadi Old Generasi atau menjadi warga sipil sesuai ketentuan yang berlaku.

PROLOG

Di dalam kabin mobil mewah hitam klasik yang melaju membelah jalanan sunyi menuju perbatasan, suasana terasa begitu senyap. VROOMM... Dengung mesin mobil terdengar halus namun konstan. Di luar sana, lampu penerangan jalan mulai mati satu per satu, seolah sengaja menyerahkan kota ini sepenuhnya kepada kegelapan.

​Dari balik kemudi, Sebas—pelayan pribadi sekaligus orang kepercayaan keluarga—melirik gua di kursi belakang lewat kaca spion tengah. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka suara dengan raut wajah serius.

​"Sebelum kita tiba, ini peringatan penting untuk Anda, Tuan Muda," ucap Sebas tegas. "Menurut saya, sebelum terlambat, kita harus pikirkan lagi baik-baik. Apakah Anda yakin kita harus pindah ke kota ini?"

​Gua di kursi belakang tertawa kecil. "Haha... Seorang kepercayaan keluarga gua yang udah kenyang di dunia malam, tiba-tiba ketakutan? Lu nggak kayak biasanya, Sebas."

​Sebas menggeleng pelan, mempertahankan wibawanya. "Tuan Muda, Anda terlalu meremehkan saya. Saya nggak pernah takut, ini cuma sekadar peringatan."

​"Yaudah, jelasin ke gua," jawab gua singkat sambil melipat tangan di dada.

​Tanpa membuang waktu, Sebas merendahkan suaranya, berbicara dengan intonasi yang dingin namun menusuk:

​"Cikampek itu punya dua wajah, Tuan Muda. Siang hari kota ini terlihat normal, tapi begitu malam tiba... jalanan berubah jadi arena berandalan. Hukum di sini mutlak. Siang dan malam dilarang saling mencampuri, dan berandalan punya aturan mainnya sendiri yang diawasi langsung oleh Mahkamah Agung."

​Sebas memajukan badannya sedikit lewat spion, menatap mata gua dengan serius. "Mengingat temperamen Anda yang suka menyulut keributan, kota ini bisa jadi tempat bermain yang sangat berbahaya kalau Anda bertindak tanpa perhitungan."

​Mendengar penjelasan itu, gua malah mendengus sinis.

​"Cih, membosankan. Gua kira di kota berandalan kayak gini nggak bakal ada aturan mainnya," ucap gua dengan nada agak kecewa.

​Tidak lama kemudian, CITTT! Mobil kami melambat saat tiba di garis perbatasan kota yang gelap.

​PRANGGG!

​Kaca jendela mobil di sisi pengemudi mendadak hancur berkeping-keping akibat lemparan batu besar dari luar! PYAR! Serpihan kaca berhamburan mengotori jok kulit.

​"Putar balik, woy!" teriak seorang berandalan dari kejauhan dengan suara serak penuh ancaman. "Ini bukan daerah buat mobil mewah kayak lu! Nggak cocok di sini, putar balik atau gua hancurin lu semua!"

​Berandalan itu dan puluhan gerombolannya mulai mengepung mobil secara agresif, menggeprak-geprak kap mesin. BAM! BAM! Melihat hal itu, gua sama Sebas kompak membuka pintu. BREG! Kami melangkah keluar bersamaan.

​Gua tersenyum miring. Mata gua berbinar menatap puluhan berandalan di depan kami. "Sebas, sepertinya gua mulai semangat. Gua tarik kata-kata gua yang bilang membosankan tadi."

​Saat seorang berandalan melompat menyerang lebih dulu dengan balok kayu—WUSS!—Sebas bergerak secepat kilat.

​BUGHH!

​Hantaman kepalan tangan kosong Sebas mendarat telak di dada musuh hingga napasnya tertahan. Seketika itu pula, gua menyusul—melayangkan tinju keras uppercut dari bawah.

​CRAK!

​Dagu musuh terhantam tepat ke arah rahang hingga matanya mendelik dan dia tumbang seketika!

​Namun, musuh datang berhamburan dari segala arah. Pertarungan brutal pun pecah di kegelapan malam. BUGH! DUAAGH! TAK! Suara benturan tulang, tangkisan lengan, dan erangan kesakitan menggema sahut-menyahut.

​Awalnya pertarungan berjalan mulus tanpa hambatan. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah musuh yang terus mengalir membuat tenaga kami mulai terkuras.

​"Tuan Muda, sepertinya kita harus pergi dari sini. Jumlah mereka nggak ada habisnya," seru Sebas di tengah kepungan dengan suara yang tetap berusaha tenang, meski napasnya mulai berat.

​Gua menyeka bercak darah di sudut bibir. Gua menatap tajam ke depan dengan seringai liar. "Diam lu, Sebas. Ini baru permulaan, belum ada apa-apa."

​Belum sempat gelombang serangan berikutnya menghantam kami... CRICKETS. Suasana mendadak mencekam dan hening total.

​TAK! TAK! TAK!

​Langkah kaki berat terdengar memecah keheningan, diikuti hadirnya sosok pria berumur di hadapan para berandalan.

​Dia adalah seorang Old Generation—pria yang sudah lama tinggal di Cikampek. Meski sudah pensiun dari jalanan, namanya dulu cukup terkenal dan ditakuti di kalangan berandalan.

​Melihat siapa yang berdiri tegap di depan mereka dengan pandangan dingin membunuh, nyali puluhan berandalan itu langsung menciut. Keringat dingin mengucur deras di wajah mereka.

​"Lu semua tahu kan lagi berurusan sama siapa, hah?!" bentak sang Old Generation dengan suara menggelegar memekakkan telinga.

​Para berandalan bergidik ngeri, melangkah mundur perlahan dalam ketakutan nyata.

​"Kalau lu semua berurusan sama... tamu gua," lanjut pria tua itu dengan tatapan tajam menusuk. "Artinya, lu pada berurusan sama gua juga!"

BAB 1 INTO DARKNESS

Langkah kaki berat pria itu membelah heningnya malam. TAK! TAK! TAK! Setiap tapakan sepatunya di atas aspal kering seolah ketukan lonceng kematian bagi puluhan berandalan yang tadi mengerubungi kami. Tidak ada yang berani bersuara. CRICKETS. Udara dingin perbatasan yang menusuk tulang tiba-tiba terasa makin membeku.

​Gua menyeka lecet kecil di sudut bibir gua yang berdarah, memandangi sosok pria berumur 30 tahunan yang berdiri tegap di hadapan kami. Pakaiannya tampak sederhana—jaket kulit hitam kusam yang sudah banyak goresan—tetapi aura membunuh (killing intent) yang terpancar dari tubuhnya menandakan dia bukan orang sembarangan.

​"Yo, Denza! Sudah lama sekali kita nggak bertemu," sapa Sebas tiba-tiba. Suaranya yang tenang memecah atmosfer mencekam, lengkap dengan senyum tipis di wajahnya yang bersih dari peluh.

​Gua menoleh cepat ke arah Sebas dengan dahi berkerut heran. "Sebas? Lu kenal dia?"

​"Tentu saja, Tuan Muda," jawab Sebas santai seraya merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat pertarungan tadi. SREET! "Dia ini teman lama saya waktu kami masih remaja di Jakarta dulu. Inilah alasan utama kenapa Tuan Besar menunjuk saya secara khusus untuk mendampingi Anda di kota ini. Beliau tahu... saya punya 'orang dalam' yang sangat paham seluk-beluk tempat ini."

​Mendengar penjelasannya, dada gua mendadak rasanya ingin meledak. BAM! Gua menatap Sebas dengan pandangan menusuk.

​"Sialan lu, Sebas! Terus kenapa lu nggak bilang dari tadi, hah?! Kalau tahu lu punya relasi di sini, kita nggak perlu buang-buang tenaga buat hajar kroco-kroco ini!"

​Sebas justru tertawa pelan, sama sekali tidak merasa bersalah. "Haha... Maafkan saya, Tuan Muda. Saya sudah terlalu lama nggak berolahraga. Lagipula, saya cuma mau bikin Anda sedikit 'pemanasan' supaya Anda terbiasa dengan atmosfer kota ini."

​"Cih, alasan lu," gumam gua, meski dalam hati gua harus mengakui kalau pukulan-pukulan tadi memang berhasil ngebakar semangat bertarung gua.

​Pria bernama Denza itu menggelengkan kepala melihat tingkah kami berdua. Ia membalikkan badannya, menatap tajam ke arah sekumpulan berandalan yang masih berdiri terpaku dengan tubuh gemetar hebat.

​"Buka pintunya sekarang!" bentak Denza dengan nada rendah namun penuh penekanan memekakkan telinga.

​Suasana sempat hening sejenak sebelum salah satu berandalan yang tubuhnya paling besar mencoba memberanikan diri untuk bersuara. "Ta–tapi, Bang Denza... Orang-orang yang ada di atas sana nggak bakal tinggal diam kalau kita biarin mereka masuk begitu saja tanpa lewati ujiannya! Kami cuma ngejalanin tugas dari—"

​"Gua nggak peduli sama yang di atas," potong Denza dingin. Matanya menyipit menusuk jantung berandalan itu sampai si pembicara langsung bungkam dan menunduk dalam. "Buka gerbangnya sebelum gua sendiri yang buka isi kepala lu pada satu-satu."

​Tanpa membantah lagi, tiga orang berandalan langsung berlari ketakutan menuju tuas gerbang besi tua perbatasan. KRIIIEEK! BRAKK! Suara engsel berkarat berkertak keras membelah malam saat gerbang raksasa itu terbuka perlahan, menyingkap kegelapan Cikampek yang sebenarnya di balik sana.

​Gua yang memperhatikan interaksi itu menyipitkan mata. "Ujian? Maksudnya apaan, Sebas? Memangnya ada ujian semacam itu buat masuk ke kota ini?"

​Denza yang berjalan mendekati mobil kami terkekeh pelan. "Haha! Yang kalian hadapi tadi itu ujiannya, Bocah. Makanya gua nggak langsung turun tangan waktu lihat kalian dikepung."

​"Maksud lu?" tanya gua penuh rasa penasaran.

​"Aturan penyerangan di perbatasan itu sebenarnya bukan aturan mutlak dari mereka yang di atas sana," jelas Denza sambil menyandarkan badannya di kap mobil kami yang penyok. PFTT! "Itu tradisi kuno yang diciptakan para berandalan lokal sejak dulu kala. Siapa pun orang luar yang mau masuk, harus bisa bertahan dari pengeroyokan massal di gerbang ini tanpa bantuan. Dan sayangnya... kalian berdua sepertinya bisa dibilang gagal melewati tradisi itu secara murni. Karena gua harus turun tangan lihat kalian mulai kewalahan."

​Gua mendesis jengkel. Cih! Gagal? Kalau lu nggak datang juga gua nggak bakal kalah tadi! Rasa gengsi dalam diri gua langsung menggelegak.

​"Udahlah, nggak usah dipikirin," lanjut Denza seraya mengibaskan tangannya. "Masuk ke mobil. Gua yang bakal nyetir dan mengantar kalian ke kediaman yang akan kalian tempati."

​BREG! BREG! Kami bertiga akhirnya kembali masuk ke dalam mobil. Denza mengambil alih kemudi, sementara Sebas duduk di sampingnya, dan gua kembali ke kursi belakang. VROOMM! Mobil mewah hitam itu perlahan bergulir melintasi garis perbatasan, memasuki wilayah hukum Cikampek.

​Begitu mobil bergerak menyusuri jalanan utama, mata gua tidak bisa berhenti menatap ke luar jendela. Pemandangan di sepanjang jalan benar-benar gila. PRANGG! Di balik pendar remang lampu jalanan yang berkedip-kedip, pertumpahan darah seolah terjadi di setiap sudut gang. Gua melihat kelompok anak remaja saling hantam menggunakan balok kayu—BUGHH!—bentrokan antar-geng motor di persimpangan, hingga jeritan warga yang berlarian menghindari area tawuran.

​Kota ini tidak tidur. Kota ini bernapas lewat kekerasan.

​"Ancur banget..." gumam gua tanpa sadar, mata gua berbinar-binar menatap kekacauan di luar. "Gua nggak nyangka kota ini beneran separah ini. Beda jauh sama kota asal kita."

​Tapi yang aneh, semakin jauh mobil bergerak meninggalkan area gerbang perbatasan, skala keributannya perlahan mulai menyurut. Di beberapa kawasan pemukiman, suasana justru terlihat sangat tenang dan tertata—seolah kekacauan tadi cuma halusinasi.

​Denza melirik gua dari kaca spion tengah dengan senyum tipis di bibirnya. "Kalau hal seperti itu saja bikin lu terkejut, pastikan lu nggak bakal terkejut saat kita sampai di pusat kota nanti."

​Sebas memajukan badannya sedikit. "Kenapa kita harus langsung menuju pusat kota, Denza? Bukannya lebih baik kita ke tempat peristirahatan dulu?"

​"Administrasi," jawab Denza singkat dan tegas. "Kalian berdua nggak mau kan besok pagi terbangun dalam keadaan diburu sama seluruh Algojo Dewan cuma gara-gara dianggap penyusup ilegal?"

​Gua menaikkan sebelah alis. "Administrasi? Di kota berandalan kayak gini ada administrasi?"

​"Aturan tetaplah aturan. Kalau mau selamat di sini, turutin aja cara mainnya," tegas Denza. "Sebelum kalian resmi menetap dan tidur nyenyak di Cikampek, kalian wajib melapor ke Balai Pusat Kota untuk pemeriksaan identitas. Di sana, kalian bakal dipasangkan cincin resmi yang menentukan status kalian di kota ini."

​Denza menghentikan kalimatnya sejenak saat mobil berhenti di lampu merah persimpangan besar. CITTT! Ia menatap Sebas, lalu beralih menatap gua tajam dari spion.

​"Sebas, kalau lu cuma berniat jadi asisten pribadi dan nggak ikut campur di dunia jalanan, lu cuma bakal dikasih Cincin Abu-Abu sebagai status warga biasa. Lu bakal aman, nggak bakal ada geng yang berani menyentuh lu tanpa alasan jelas."

​Denza lalu memfokuskan pandangannya tepat ke mata gua. "Tapi buat lu... kalau lu datang ke sini dengan niat liar buat menguasai kota ini, lu nggak bakal cuma pakai satu cincin. Lu wajib memakai dua cincin sekaligus di jari lu. Satu Cincin Putih sebagai Outsider, sama seperti punya gua ini..."

​Denza mengangkat tangannya dan menunjukkan jarinya kepada gua. PING! Kilauan logam memantul di bawah lampu dasbor. Dia memiliki dua cincin yang melingkar: satu Cincin Putih dan satu Cincin Biru.

​Denza pun melanjutkan pembicaraannya, "...dan satunya lagi cincin yang nantinya bakal lu punya."

​VROOMM! Denza menekan pedal gas saat lampu berubah hijau, mengarahkan mobil menuju gedung-gedung tinggi di pusat kota yang memancarkan aura dingin dan dominan.

​"Penjelasan lebih detailnya? Nanti orang-orang sana sendiri yang bakal 'menyambut' dan ngejelasin ke lu secara langsung di dalam," ucap Denza dengan nada misterius.

​Gua menyandarkan punggung ke jok kulit mobil, mengusap bekas darah di bibir gua sekali lagi. Seringai lebar terukir di wajah gua saat membayangkan apa yang bakal menunggu di pusat kota nanti.

​"Dua cincin, huh? Baiklah..." gumam gua pelan, menatap lurus ke arah kegelapan jalanan di depan. "Sepertinya ini bakal jauh lebih menyenangkan dari yang gua kira."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!