Aroma manis mentega, vanila, dan adonan yang terpanggang sempurna selalu memenuhi sudut rumah kontrakan sempit itu setiap pagi. Di dalam dapur yang merangkap sebagai ruang kerja darurat, seorang wanita tengah sibuk meratakan krim putih di atas permukaan kue tart dua tingkat.
Bening Azalea, di usianya yang menginjak 29 tahun, tetap memiliki pesona yang sulit diabaikan. Rambut hitam lurusnya yang panjang diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang berkulit bersih. Sepasang bola mata hitamnya yang jernih, dipadukan dengan bulu mata lentik alami, selalu memancarkan kesan anggun sekaligus rapuh di saat yang bersamaan. Statusnya sebagai single parent selama enam tahun terakhir telah menempa kelembutan itu menjadi sebilah dinding pertahanan yang kokoh. Demi menghidupi putra semata wayangnya, Bening membangun usaha kecil-kecilan menerima pemesanan kue tart ulang tahun dan kue basah untuk berbagai acara.
"Mama... Kai mau bantu hias boleh ya?"
Sebuah suara cempreng yang menggemaskan memecah keheningan dapur. Bening menoleh, dan seketika itu juga senyum tulus terbit di bibirnya yang ranum. Di ambang pintu dapur, berdiri seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Rambutnya ikal alami, berantakan namun menggemaskan, dengan sepasang bola mata berwarna coklat terang yang selalu bersinar penuh rasa ingin tahu. Kaivandra Saputra. Hartanya yang paling berharga di dunia ini.
"Ayo sini sayang, anak pintar. Kita pasang pita di pinggiran kuenya ya," sahut Bening lembut, mengulurkan tangan untuk membantu Kai naik ke atas kursi kecil agar tingginya mencapai meja dapur.
Dengan jemari kecilnya yang menggemaskan, Kai dengan sangat hati-hati menempelkan pita merah muda di sekeliling pondasi kue. Setelah selesai, bocah itu memiringkan kepalanya, mengagumi hasil kerjanya sendiri.
"Mama, ini pesanan untuk acara apa?" tanya Kai polos, mendongak menatap ibunya.
"Ini acara ulang tahun pernikahan, sayang. Ada pelanggan Mama yang ingin merayakan hari bahagia mereka," jawab Bening sambil merapikan sisa-sisa buah stroberi di atas meja.
Kai terdiam sesaat. Sepasang mata coklatnya beralih menatap detail hiasan di atas kue tart tersebut, sebuah replika siluet keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak yang saling bergandengan tangan di bawah pohon. Pemandangan itu mendadak membuat dada kecil Kai dipenuhi rasa penasaran yang sudah lama ia simpan.
"Kalau ulang tahun pernikahan Mama kapan?" tanya Kai tiba-tiba.
Pertanyaan itu seketika membuat gerakan tangan Bening membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Terus... sebenarnya Papa di mana, Ma? Kemana Papa pergi kok tidak pulang-pulang? Teman-teman Kai di sekolah semuanya diantar jemput sama papanya..." Kai menunduk, memainkan ujung kaosnya dengan raut wajah muram.
Dada Bening mendadak terasa sesak, seolah dihantam oleh batu besar. Selama enam tahun ini, setiap kali Kai bertanya tentang sosok sang ayah, Bening selalu memberikan jawaban klise yang sama, 'Papa sedang berada di tempat yang sangat jauh untuk bekerja'. Namun, seiring bertambahnya usia Kai, jawaban itu jelas tidak lagi memuaskan rasa ingin tahu sang anak. Bening tahu dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa ayah kandung Kai adalah seorang pria luar biasa kaya yang mengusirnya karena sebuah fitnah kejam yang direkayasa oleh kakek Kai sendiri.
Menghindari tatapan mata putranya yang menuntut jawaban, Bening buru-buru menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai suaranya agar tidak bergetar. Dia berpura-pura melirik jam dinding dengan panik.
"Astaga, sudah jam 10 sayang! Ayo, kita harus buru-buru mengantar kue ini kepada pemesan," ujar Bening mengalihkan pembicaraan dengan nada yang dibuat ceria. "Nanti pulangnya Mama belikan es krim rasa coklat kesukaan Kai. Mau?"
Mendengar kata es krim, binar sedih di mata coklat Kai langsung sirna, berganti dengan binar antusias anak-anak yang murni. "Ayo Mama! Yey, beli es krim!" seru Kai sambil melompat turun dari kursi.
Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, jadi Kai tidak bersekolah. Bening memang sudah biasa mengajak putra kecilnya ikut serta saat mengantar pesanan jika tidak ada yang menjaga di rumah. Setelah memastikan kue tart tersebut dikemas dengan aman di dalam kotak khusus, Bening menggandeng tangan Kai keluar rumah. Mereka menaiki taksi, membelah jalanan kota yang cukup padat menuju ke sebuah kafe ternama di kawasan elite, tempat sang pelanggan telah menunggu.
Proses penyerahan kue berjalan lancar. Sang pelanggan sangat puas melihat hasil kerja Bening yang rapi dan indah. Setelah menerima pembayaran, Bening bernapas lega. Dia melangkah keluar dari kafe ber-AC tersebut, kembali menyambut udara luar yang agak terik sambil terus menggandeng erat tangan Kai.
"Kita jadi beli es krim kan, Mama?" Kai mendongak, memastikan janji ibunya tidak menguap begitu saja.
"Jadi, sayang. Ayo kita cari kedai es krim di seberang jala..."
Kriiing...
Kalimat Bening terputus saat ponsel di dalam tas selempangnya berdering nyaring. Bening merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. Itu dari pelanggan lain yang biasa memesan kue dalam jumlah besar padanya. Kesempatan besar yang tidak boleh ia lewatkan demi menyambung hidup.
"Sebentar ya, Kai. Mama angkat telepon penting dulu. Kai tetap disini berdiri di sebelah Mama, jangan ke mana-mana," pesan Bening sungguh-sungguh.
Kai mengangguk patuh, berdiri diam di samping ibunya yang mulai sibuk berbicara di telepon, mendiskusikan detail pesanan kue dengan nada profesional. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, embusan angin jalanan yang cukup kencang bertiup, menyambar topi pet biru yang bertengger di kepala Kai.
Wusss! Topi itu terbang beberapa meter ke arah jalan raya.
"Ah, topi Kai!" ucap bocah itu spontan.
Tanpa berpikir panjang tentang bahaya yang mengintai, insting anak-anak Kai mendorongnya untuk berlari mengejar topi kesayangannya yang mendarat di atas aspal jalan raya. Dia tidak melihat bahwa dari arah kanan, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik tengah melaju dengan kecepatan sedang.
CIITTTTTTT!
Suara decitan ban yang bergesekan keras dengan aspal memekik telinga. Mobil mewah itu mengerem mendadak, menyisakan jarak hanya beberapa jengkal dari tubuh kecil Kai yang langsung terduduk di aspal karena syok.
"KAIVANDRA!"
Bening menjatuhkan ponselnya begitu saja ke tanah. Jantungnya serasa copot dari tempatnya. Wajahnya memucat pasi seputih kertas saat melihat putranya hampir saja tergilas roda mobil. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Bening berlari secepat kilat ke tengah jalan dan langsung berlutut, mendekap tubuh Kai yang gemetar ke dalam pelukannya.
"Kai! Sayang, kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Bicara sama Mama, sayang!" Bening memeriksa seluruh tubuh Kai dengan tangan yang bergetar hebat. Beruntung, putranya selamat dan tidak terluka secara fisik, hanya syok berat. Bening segera membawa putranya menepi.
Sementara itu, di dalam kabin mobil mewah yang sejuk, atmosfer mendadak berubah tegang. Di kursi belakang, duduk seorang pria dengan setelan jas formal rancangan desainer ternama yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Gibran Aditama. Sang CEO Aditama Group yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh di dunia bisnis. Di usianya yang ke-33 tahun, ketampanannya semakin matang dengan rahang tegas dan tatapan mata yang selalu mengintimidasi siapapun.
Gibran mengernyitkan dahi dalam, merasa waktu berharganya yang sangat efisien telah diganggu oleh insiden bodoh.
"Apa sekarang jalan raya sudah beralih fungsi menjadi taman bermain?" gumam Gibran dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kekesalan yang dingin.
Toni, asisten pribadi setianya, tampak berkeringat dingin di kursi depan. "Maaf, Pak. Ada seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan untuk mengejar topinya."
Gibran menghela napas berat, berniat meminta Toni untuk segera mengabaikan kejadian itu dan kembali menjalankan mobil karena dia ada rapat penting dengan dewan direksi. Namun, sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya, sepasang mata tajam Gibran menangkap sosok wanita yang sedang memeluk anak kecil itu.
Gibran terpaku. Seluruh otot di tubuhnya mendadak menegang.
Rambut panjang hitam itu... siluet tubuh anggun itu... Meskipun dari arah samping, Gibran tidak akan pernah bisa melupakan sosok wanita yang pernah mengisi hari-harinya, wanita yang tujuh tahun lalu pergi meninggalkannya dengan cap sebagai peselingkuh gila harta.
Bening?
Nama itu bergaung di dalam kepala Gibran, memicu badai emosi lama yang campur aduk antara kemarahan, luka, dan kerinduan yang terpendam sedalam lautan. Mengabaikan protokol keamanan dan jadwal rapatnya, Gibran justru mendorong pintu mobil dan keluar. Langkah kakinya yang dibalut sepatu pantofel mahal melangkah tegas, memecah keheningan ketegangan di pinggir jalan.
Di sisi lain, Bening masih sibuk membantu putranya berdiri. Dia membersihkan noda debu jalanan yang menempel di baju kaos Kai, memastikan sekali lagi bahwa tidak ada goresan di kulit putranya. Saat itulah, sepasang sepatu mahal berhenti tepat di hadapannya. Aura dominan yang sangat familier dan menyesakkan dada mendadak menguar di udara.
Bening membeku. Perlahan, dia mendongak.
Jantung Bening seolah berhenti berdetak saat matanya bertemu pandang dengan sosok pria yang berdiri menjulang di depannya. Gibran Aditama. Mantan suaminya. Pria yang sangat dia cintai dulu, dan sialnya, masih sangat dia cintai sampai detik ini meski pria itu telah membuangnya karena badai fitnah.
"Maaf, Pak... Maaf saya lepas kendali. Putra saya hanya mengejar topinya yang terbang. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Bening buru-buru kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suaranya bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang luar biasa. Dia berlagak tidak mengenal siapa pria yang berdiri di hadapannya saat ini.
Gibran tidak mendengarkan ucapan maaf itu. Sepasang mata elangnya terpaku pada wajah Bening yang masih secantik dulu, namun terlihat lebih matang dan... lelah. Namun, sedetik kemudian, perhatian Gibran teralih sepenuhnya. Pandangan matanya turun, menatap sosok anak kecil yang kini sedang mendekap erat pinggang Bening dengan ketakutan.
Jantung Gibran mendadak berhantam keras di dalam dadanya saat menatap wajah anak itu.
Anak laki-laki itu memiliki kemiripan dengannya. Rambut ikalnya Dan yang paling membuat Gibran tersentak adalah sepasang bola mata coklat terang milik anak itu. Warna mata yang sangat langka. Warna mata yang persis sama dengan milik Gibran sendiri, dan juga milik ayahnya. Tidak salah lagi, itu adalah ciri khas genetik keluarga Aditama.
Gibran membuka mulutnya, hendak melayangkan pertanyaan yang berputar di kepalanya. "Bening... siapa anak ini?" suaranya terdengar berat dan menuntut.
Mendengar pertanyaan itu, alarm bahaya di kepala Bening berbunyi sangat nyaring. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjadi kenyataan. Gibran tidak boleh tahu tentang Kai. Jika Gibran tahu, maka mantan mertuanya yang kejam pasti akan mengendus keberadaan Kai dan merebut putranya.
Sebelum Gibran sempat berucap lebih jauh atau menyentuh putranya, Bening segera menghindar.
"Permisi, Pak. Sekali lagi saya minta maaf," potong Bening dengan suara dingin yang dipaksakan.
Tanpa menunggu balasan dari Gibran, Bening segera berbalik, menggendong Kai dengan terburu-buru dan berjalan setengah berlari menjauh dari sana, Bening sempat berhenti sejenak untuk mengambil ponselnya yang tadi terjatuh, lalu benar-benar menghilang di antara kerumunan pejalan kaki di trotoar.
Bening terus melangkah dengan tergesa-gesa, mengabaikan rasa lelah dan beban berat Kaivan dalam gendongannya. Langkah kakinya yang gemetar dipaksa untuk terus bergerak cepat, seolah-olah jika dia melambat sedetik saja, masa lalu yang mengerikan akan langsung menyergap dan merenggut putranya. Di balik punggung Kai, jemari Bening meremas kaos anaknya dengan sangat erat. Air mata yang sejak tadi dia tahan, kini luruh membasahi pipinya yang pucat.
Melihat wajah Gibran lagi setelah tujuh tahun lamanya telah membuka paksa kotak pandora yang selama ini dia kunci rapat-rapat. Rasa sakit, ketakutan, dan cinta yang mendalam berbaur menjadi satu, menyeret kesadaran Bening mundur ke hari paling terkutuk dalam hidupnya.
Flashback On.... (Tujuh tahun lalu)
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar mandi dengan begitu hangat. Tangan Bening bergetar hebat saat menatap benda kecil di genggamannya. Dua garis merah tegas tertera di sana.
Bening menggigit bibirnya, menahan tangis bahagia yang membuncah di dalam dada. Ia mengusap perutnya yang masih datar dengan penuh kasih sayang. Di dalam rahimnya, ada kehidupan baru yang sedang bertumbuh, benih cintanya bersama Gibran. Bening membayangkan betapa bahagianya Gibran saat ia memberikan kejutan ini nanti malam.
Namun, mimpi indah itu menguap hanya dalam hitungan jam.
Siang harinya, Bening dipanggil ke rumah utama keluarga Aditama. Di sana, seorang pelayan menyuguhkan secangkir teh hangat atas perintah Wira Aditama. Baru beberapa teguk cairan itu melewati tenggorokannya, pandangan Bening perlahan kabur. Kepalanya terasa teramat berat, hingga kegelapan total menyergap kesadarannya.
"Eunggh..."
Bening mengerang pelan. Rasa pening yang menyengat langsung menghantam kepalanya begitu kesadarannya perlahan pulih. Bau karbol dan aroma pengharum ruangan asing yang menyengat menusuk indra penciumannya.
Ketika mata Bening akhirnya terbuka sempurna, tubuhnya seketika membeku. Ia tidak berada di rumah utama. Ia berada di atas tempat tidur sebuah kamar hotel yang luas.
Panik mulai merayapi dadanya. Bening bergerak hendak berdiri, namun matanya membelalak horor saat menyadari di balik selimut putih tebal yang menutupinya, ia hanya memakai gaun tidur tipis.
Deg!
Jantung Bening serasa berhenti berdetak seketika saat pandangannya beralih ke samping kanan. Di atas ranjang yang sama, terbaring seorang pria asing bertelanjang dada yang sama sekali tidak pernah ia kenali seumur hidupnya.
"Ti—tidak... Ini... ini apa?!" jerit Bening histeris. Tangannya yang gemetar hebat buru-buru menarik selimut hingga menutupi dadanya rapat-rapat.
BRAK!
Pintu kamar hotel bernomor 304 itu didorong paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras.
Di ambang pintu, berdiri Gibran. Dada pria itu memburu hebat, wajahnya pucat pasi, dan sepasang matanya memancarkan kehancuran serta kekecewaan yang teramat dahsyat. Di belakang Gibran, berdiri Wira Aditama, sang ayah bersama beberapa pengawal berbadan tegap.
"Mas Gibran...!" jerit Bening menangis pecah. Ia mencoba bangkit di atas kasur, memegang ujung selimutnya dengan erat. "Mas, ini tidak seperti yang kamu lihat! Demi Allah, Mas... aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini! Aku dijebak, Mas!"
Bening hendak merangkak turun untuk menggapai suaminya, namun sebelum Gibran sempat mengeluarkan patah kata, pria asing di samping Bening tiba-tiba terbangun dan bangkit bersandar di kepala ranjang. Pria itu menyeringai dingin, menatap Gibran dengan raut wajah angkuh yang sangat meyakinkan.
"Sudahlah, Bening, akui saja! Tidak perlu berpura-pura lagi," potong pria asing itu dengan nada santai tanpa rasa takut. "Tuan Gibran, Bening tidak pernah mencintaimu sedikit pun! Dia bersamamu hanya untuk menguras harta keluargamu. Dan setelah hari ini, kami memang berniat untuk pergi bersama. Bening ini kekasihku!"
"BOHONG! KAMU SIAPA?! AKU TIDAK KENAL DENGANMU!" jerit Bening histeris, histerianya makin membuncah hingga dadanya terasa sesak.
Namun, kata-kata bohong pria asing itu telah menjadi belati beracun yang menghujam tepat di dada Gibran.
Amarah, kebencian, dan rasa dikhianati menyelimuti pikiran Gibran seketika. Pria itu tidak mampu lagi berpikir jernih. Tanpa menatap Bening lagi, tanpa menanyakan satu patah kata pun, Gibran berbalik dan melangkah pergi begitu saja membelakangi kamar itu.
"Mas Gibran! Mas, dengarkan aku dulu! MAS GIBRAN!"
Bening nekat membuang selimutnya, berniat mengejar Gibran meski hanya berbalut gaun tidur tipis. Namun, baru dua langkah kakinya menyentuh lantai dingin, sosok tinggi besar Wira Aditama maju menghadang langkahnya.
PLAK!
Cengkeraman kuat dari pengawal Wira menahan kedua bahu Bening, memaksanya jatuh bersimpuh di atas lantai dingin kamar hotel.
Wira Aditama merendahkan tubuhnya, menatap Bening yang menangis tersedu-sedu dengan pandangan hina yang teramat sangat.
"Jangan pernah bermimpi untuk menjelaskan apa pun pada putraku, Bening," bisik Wira dengan suara rendah, tajam, dan penuh ancaman yang sanggup membekukan darah Bening. "Jika kamu masih nekat ingin bersama Gibran, atau berani membuka mulutmu untuk membela diri... aku pastikan orang tuamu dan adik-adikmu akan terkena imbasnya. Aku bisa menghancurkan hidup mereka lebih dari ini dan membuat kalian sekeluarga membusuk di jalanan!"
"Tolong, Pak... tolong jangan sentuh keluarga saya..." bisik Bening terengah-engah, air matanya menetes membasahi lantai. "Saya tidak bersalah, Pak Wira..."
"Tidak bersalah?! Harusnya kamu berkaca sejak awal!" potong Wira kejam, memotong kalimat Bening tanpa ampun. "Kamu harusnya tidak pernah menerima lamaran putraku! Kalian itu berbeda kasta! Wanita miskin dan tidak bermartabat sepertimu sama sekali tidak pantas bersanding dengan keluarga Aditama!"
Bening memejamkan mata erat-erat. Bayangan orang tuanya yang renta dan masa depan saudaranya menari-nari di ingatan. Kejahatan dan kekuasaan keluarga Aditama terlalu besar untuk ia lawan sendirian.
Demi keselamatan keluarga yang sangat ia cintai, Bening akhirnya mengalah. Dalam kehancuran moral dan tangisan yang tak bersuara, Bening menganggukkan kepalanya pelan. Ia menelan bulat-bulat fitnah keji itu, menandatangani berkas perceraian tanpa meminta sepeser pun harta gono-gini, lalu melangkah pergi membawa duka mendalam, serta rahasia tentang kehidupan kecil berusia satu bulan yang kini berjuang di dalam rahimnya.
Flashback off... (Kembali masa kini)
Bening akhirnya menghentikan langkah kakinya setelah merasa jarak mereka sudah cukup aman dan jauh dari area jalan raya tadi. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Dengan perlahan dan hati-hati, dia menurunkan Kaivan dari gendongannya.
"Mama... kenapa Mama menangis?"
Suara lembut Kai seketika mematikan gemuruh di kepala Bening. Bocah kecil itu mendongak, menatap ibunya dengan sepasang mata coklatnya yang berkaca-kaca penuh kekhawatiran. Tangan kecil Kai terulur, menghapus air mata yang membasahi pipi Bening.
"Kai tidak terluka kok, Ma. Apa... om-om yang di mobil tadi itu orang jahat sampai Mama ketakutan begini?" tanya Kai polos dengan suara yang mulai serak. "Atau... karena Kai berat ya, jadinya Mama lelah? Kai masih bisa jalan sendiri kok, Ma. Mama jangan menangis lagi, ya..."
Mendengar penuturan jujur dari putranya, hati Bening rasanya semakin teriris-iris. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya. Bagaimana bisa anak sekecil ini berpikir bahwa dia adalah beban? Bening langsung kembali mendekap erat tubuh mungil Kai ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil sang anak.
Ketakutan yang luar biasa kini mencengkeram seluruh akal sehatnya. Gibran sudah melihat Kai. Pria itu sudah menatap sosok anak kecil yang memiliki kemiripan mutlak dengannya. Bening sangat tahu seberapa besar kekuasaan keluarga Aditama. Jika Gibran sampai menyelidiki dan mengetahui bahwa Kai adalah putra kandungnya, Bening sangat takut pria itu akan merebut Kai darinya. Dia tidak akan bisa bertahan hidup jika harus kehilangan belahan jiwanya itu.
Bening melepaskan pelukannya perlahan, mencoba tersenyum meskipun bibirnya bergetar. "Tidak, sayang... Kai sama sekali tidak berat. Om tadi tidak jahat, Mama hanya... mendadak pusing sekali." Bening memegang keningnya, mencoba meyakinkan Kai.
"Kita pulang sekarang ya, sayang? Beli es krimnya kita tunda dulu. Nanti sampai di rumah, Mama akan menelepon Tante Erika supaya es krimnya diantar saja ke rumah kita," lanjut Bening. Erika adalah sahabat dekat Bening sejak masa-masa sulitnya, satu-satunya orang yang tahu rahasia tentang siapa ayah kandung Kai.
Kai yang pintar dan sangat peka terhadap kondisi ibunya segera mengangguk patuh. "Iya, Mama. Ayo kita pulang, biar Mama bisa istirahat." Bocah itu menggandeng erat tangan Bening, menuntun ibunya dengan langkah-langkah kecilnya yang protektif.
Sementara itu, di tempat lain, atmosfer di dalam mobil sedan hitam metalik milik keluarga Aditama terasa sangat mencekam.
"Toni, batalkan semua rapat penting hari ini. Kembali ke rumah," perintah Gibran dengan nada suara yang sangat dingin dan tidak bisa dibantah.
"Baik, Pak," sahut Toni sigap, segera memutar balik arah kemudi mobil.
Gibran menyandarkan tubuhnya di kursi belakang, namun pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Kepalanya terasa mau pecah. Bayangan wajah anak kecil bermata coklat terang tadi terus berputar-putar di benaknya, menolak untuk pergi.
Rahang Gibran mengeras, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya benar-benar kacau. Dia harus tahu siapa anak kecil yang sangat mirip dengannya tadi. Berapa sebenarnya usia anak itu? Dan siapa ayahnya?
Apakah Bening sudah menikah lagi dengan pria selingkuhannya dulu? Apakah anak itu adalah hasil hubungan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti menyiram bensin ke dalam api yang selama ini teredam di dalam hati Gibran. Rasa sakit yang teramat sangat kembali menyelimuti perasaannya, merobek luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Gibran memejamkan matanya, menahan sesak di dada. Dulu, dia sangat mencintai Bening. Dia adalah pria yang tidak pernah memandang kasta atau latar belakang sosial. Dia melawan ego keluarganya demi bisa menikahi Bening yang merupakan wanita dari kalangan biasa, dan siap memberikan seluruh dunia serta hartanya untuk wanita itu. Namun, apa yang dia terima sebagai balasan atas cinta tulusnya? Sebuah pengkhianatan yang paling menjijikkan di depan matanya sendiri.
Gibran membuka matanya kembali, tatapannya kini berubah menjadi sangat tajam dan penuh kilat kemarahan.
"Bening Azalea... setelah tujuh tahun bersenang-senang di atas penderitaanku, kamu pikir kamu bisa lari begitu saja setelah memunculkan anak yang memiliki wajah mirip denganku?" bisik Gibran lirih pada kegelapan di dalam mobil. "Jika dia memang anakku maka aku pastikan aku akan mengambilnya darimu!"
Sore menjelang, semburat jingga di langit mulai menemani langkah ceria seorang wanita berambut pendek yang tengah menjinjing sebuah kantong plastik berlogo kedai es krim ternama. Erika, sahabat dekat Bening yang hanya tahu dirinya dititipi untuk membelikan es krim tanpa tahu badai apa yang baru saja melanda, melangkah masuk ke halaman rumah sederhana Bening dengan senyum lebar.
"Assalamualaikum! Jagoan ganteng Tante, lihat nih Tante bawa apa?" seru Erika riang begitu memasuki pelataran rumah Bening.
"Waalaikumsalam! Wah, es krim...!" Kaivandra yang sedang bermain mobil-mobilan di teras langsung melonjak kegirangan. Matanya yang coklat berbinar terang saat menerima kantong plastik dari tangan Erika. Tanpa membuang waktu, bocah itu langsung sibuk dengan cup es krim coklatnya, duduk di bangku teras dengan lahap.
Erika tersenyum melihat tingkah Kai, namun senyumnya perlahan memudar saat tatapannya beralih pada sosok Bening yang berjalan keluar dari dalam rumah. Wajah sahabatnya itu terlihat kuyu, gurat kelelahan batin tercetak jelas di sana.
Erika mendekat, menepuk bahu Bening pelan. "Kamu kenapa, Ning? Lagi banyak pesanan kue ya? Oh ya, sekalian nih, orang kantorku ada yang mau pesan kue tart mini 100 kotak untuk acara minggu depan. Bisa, kan?"
Jika saja peristiwa traumatis tadi siang tidak terjadi, Bening pasti akan melompat kegirangan dan sepenuhnya senang karena mendapatkan pesanan dalam jumlah besar demi menambah tabungannya. Namun sekarang, semua itu terasa hambar. Bening hanya mampu mengangguk dengan lesu. "Bisa, Er. Nanti tolong kirim detail desainnya ya."
Erika mengernyitkan dahi. Reaksi Bening sama sekali tidak wajar. "Kamu kenapa sih, Ning? Cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri."
Bening melirik Kai yang masih asyik dengan es krimnya di teras, memastikan jarak mereka cukup aman. Dia kemudian menarik lengan Erika sedikit menjauh ke sudut dalam ruang tamu. Dengan suara yang tertahan dan bergetar, Bening akhirnya membuka suara.
"Er... aku ketemu lagi dengan Mas Gibran siang tadi."
Mata Erika membelalak tak percaya. "Apa?! Gibran Aditama?"
Bening mengangguk lemah, air matanya kembali menggenang. "Dia melihat Kaivan, Er. Dia sempat menatap Kai lama sekali. Aku takut... aku sangat takut kalau dia sampai tahu Kai adalah putra kandungnya."
Bukannya ikut panik, Erika justru menghela napas panjang dan menatap Bening dengan pandangan bersimpati. "Bagus dong kalau dia tahu, Ning. Kamu sudah cukup berjuang sendirian selama ini. Kamu membesarkan Kai dengan darah dan air mata, sementara ayahnya hidup mewah disana. Sudah saatnya dia ikut tanggung jawab."
"Tidak, Erika! Tidak boleh!" potong Bening cepat dengan nada panik yang tertahan. "Aku tidak mau anakku berada dalam lingkungan yang sangat berbahaya. Kamu tahu sendiri bagaimana kekejaman ayahnya Mas Gibran. Kalau mereka tahu Kai ada, mereka pasti akan merebut Kai dariku dengan kekuasaan mereka!"
Melihat Bening yang mulai histeris dan gemetar, Erika segera memeluk sahabatnya itu, mencoba menenangkannya. "Oke, oke, tenang dulu, Ning. Kalau begitu, dengarkan aku. Kalau besok, atau kapan pun mantan suamimu itu menemuimu lagi untuk menuntut penjelasan... katakan saja Kaivan bukan anaknya. Katakan kalau kamu sudah menikah lagi setelah bercerai darinya."
Bening terdiam, mencerna saran Erika. Jantungnya berdegup kencang. "Ya... aku akan mengatakan itu. Aku tidak peduli dianggap wanita buruk lagi olehnya, Er. Aku tidak mau berpisah dari Kaivandra. Dia satu-satunya kekuatanku sekarang."
Keesokan harinya, Bening bertekad melupakan seluruh kesedihan dan ketakutannya. Dia harus terlihat bahagia dan kuat di depan putranya. Pagi-pagi sekali, dengan senyum yang dipaksakan se-alami mungkin, Bening menggandeng tangan Kai masuk ke taksi online yang selalu dia pesan untuk menuju ke taman kanak-kanak tempat Kaivandra bersekolah.
Sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Bening membantu Kai turun dari mobil lalu menggandeng tangannya untuk mendekat kearah gerbang sekolah.
"Belajar yang pintar ya, sayang," ujar Bening lembut, berlutut untuk merapikan seragam Kai di depan gerbang sekolah.
"Iya, Mama. Kai masuk dulu ya!" Kaivandra mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat, lalu berbalik dan berlari riang masuk ke dalam halaman sekolah bergabung dengan teman-temannya.
Bening memandangi punggung kecil itu sampai menghilang di balik pintu kelas. Setelah itu, dia bergegas memutar arah untuk pulang. Seperti biasa, Bening berjalan sedikit cepat demi menghindari pandangan dan pertanyaan-pertanyaan sensitif dari ibu-ibu wali murid lain yang mungkin akan bergosip atau bertanya di mana keberadaan ayah Kaivandra. Ketenangan adalah hal mahal yang selalu dia jaga.
Namun, ketenangan rumah yang Bening harapkan sirna seketika begitu dia sampai di depan rumahnya.
Di halaman rumahnya, sudah terparkir sebuah mobil sedan mewah hitam metalik mobil yang sama persis dengan yang dia lihat kemarin. Dan yang membuat darah Bening berdesir hebat adalah sosok pria yang kini sudah berdiri tegak di teras rumahnya. Gibran Aditama berdiri di sana dengan setelan jas abu-abu gelap yang elegan, didampingi oleh Toni yang berdiri satu langkah di belakangnya.
Bening menghentikan langkah sesaat, mencengkeram tali tasnya erat-erat, sebelum akhirnya memaksakan diri melangkah maju dengan wajah sedingin es.
"Untuk apa kamu datang kemari, Pak Gibran?" tanya Bening langsung, tanpa basa-basi, menekankan kata Pak seolah menegaskan garis pembatas di antara mereka.
Gibran menoleh. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Bening. "Kamu berhutang penjelasan panjang padaku, Bening."
Bening tersenyum sinis, menahan sesak di dadanya. "Penjelasan apa lagi? Semuanya sudah sangat jelas dan urusan kita sudah selesai secara hukum tujuh tahun yang lalu. Silakan pergi dari sini."
"Belum, Bening. Belum selesai," potong Gibran dengan suara rendah yang menuntut, melangkah maju satu kali hingga jarak mereka mengikis. "Siapa anak kecil yang bersamamu kemarin? Dia anakmu, kan?"
"Ya, dia putraku! Jadi tolong jangan ganggu kehidupan kami!" jawab Bening tegas.
Gibran menyipitkan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Bening, mencoba mencari kebohongan. "Siapa ayahnya?"
Jantung Bening bertalu-talu dengan liar, namun dia memaksakan diri untuk menatap balik Gibran tanpa berkedip. "Jangan pernah berpikir bahwa kamu adalah ayahnya karena... bukan kamu ayahnya! Aku sudah menikah lagi tak lama setelah bercerai darimu."
Suara Bening sedikit bergetar di ujung kalimat. Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah dia ucapkan seumur hidupnya. Hatinya menjerit menolak kalimat itu, karena kenyataannya dia tidak pernah disentuh pria mana pun selain Gibran.
Rahang Gibran mengeras mendengar jawaban itu. Sesuatu yang panas membakar dadanya, rasa cemburu dan kemarahan yang meluap. "Kalau begitu, katakan padaku berapa tanggal lahir anak itu?!"
"Untuk apa?! Itu sama sekali tidak penting bagimu, Pak Gibran!" sentak Bening, air matanya mulai menggenang di sudut mata akibat tekanan emosi. "Silakan pergi dari rumahku sekarang! Bukankah seperti yang kamu katakan sendiri tujuh tahun lalu, aku ini hanya wanita tidak tahu diri yang menjijikkan di matamu? Jadi untuk apa kamu sudi menginjakkan kaki disini Jangan pernah menemuiku lagi, urusan kita sudah selesai!"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Gibran untuk membalas, Bening dengan gerakan buru-buru merogoh kunci dari tasnya, membuka pintu rumah dengan tangan yang gemetar hebat, lalu segera masuk dan membanting pintu di depan wajah mantan suaminya.
Brak!
Pintu terkunci rapat. Di dalam rumahnya, tubuh Bening seketika lemas. Dia merosot di balik pintu, terduduk di lantai dingin sambil memeluk lututnya. Air matanya tumpah tak terbendung lagi. Hatinya terasa begitu sakit dan hancur.
“Maafkan Mama, Kai... Maafkan aku, Mas Gibran... Aku harus berbohong demi kebaikan kita semua,” bisik Bening di sela tangisnya yang sunyi, meratapi takdir yang kembali mempermainkan hidupnya.
Di luar, Gibran menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan rahang yang mengeras rapat. Napasnya memburu, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
Kebohongan Bening terlalu kentara. Gibran mengenal wanita itu luar dalam. Dia menangkap getaran halus pada suara Bening saat menyebut kata 'sudah menikah lagi', serta binar kepanikan yang luar biasa di sepasang mata indahnya. Jika anak itu memang bukan darah dagingnya, untuk apa Bening ketakutan setengah mati sampai mengusirnya seolah-olah dia adalah seorang monster?
Terlebih lagi, wajah anak itu tidak bisa menipu instingnya. Kemiripan mutlak itu bukanlah sebuah kebetulan.
"Pak..." Toni berbisik hati-hati, memecah keheningan yang mencekam di teras kumuh tersebut. "Kita sebaiknya pergi sebelum keberadaan Anda menarik perhatian warga sekitar."
Gibran tidak menjawab. Pria itu membalikkan tubuhnya dengan tegap, melangkah lebar meninggalkan teras menuju mobil mewah hitamnya. Gerakannya memancarkan aura kemarahan yang dingin.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, menghalau hawa panas luar ruangan dengan kesejukan AC, Gibran langsung menyandarkan punggungnya. Namun, matanya tetap menatap tajam ke arah rumah petak sederhana milik Bening melalui kaca jendela yang gelap.
"Toni," panggil Gibran, suaranya terdengar berat dan berbahaya.
"Iya, Pak?" Toni langsung memosisikan cermin tengah agar bisa melihat ekspresi atasannya.
"Cari tahu semua hal tentang Bening selama Tujuh tahun terakhir ini," perintah Gibran dingin, setiap katanya ditekan dengan penuh penegasan. "Aku ingin data yang seakurat mungkin. Cari tahu di rumah sakit mana anak itu dilahirkan, berapa tanggal lahirnya yang tepat, dan yang paling penting..."
Gibran menjeda kalimatnya sesaat, kilatan kepemilikan dan amarah melintas di matanya.
"Cari tahu apakah benar dia sudah menikah lagi. Selidiki siapa pria yang berani mendampinginya, atau apakah status pernikahan itu hanya bualan untuk menjauhkan anak itu dariku."
Toni meneguk ludahnya pelan, merasakan ketegangan yang luar biasa dari sang CEO. "Baik, Pak, Saya akan segera menghubungi tim investigator terbaik kita untuk memeriksa data sipil dan riwayat medis Nona Bening. Saya pastikan hasilnya selesai dalam waktu singkat."
Gibran memejamkan matanya, mengepalkan tangan di atas lututnya. “Kamu bisa membohongi seluruh dunia dengan bibirmu, Bening. Tapi mata coklat anak itu tidak bisa berbohong. Jika dia benar-benar putraku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangiku untuk membawanya pulang... termasuk dirimu,” batin Gibran penuh tekad.
Mobil mewah itu pun perlahan melaju, membelah jalanan dan meninggalkan kawasan pemukiman sederhana tersebut, membawa Gibran yang kini siap membongkar dinding kebohongan yang telah dibangun mantan istrinya selama tujuh tahun ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!