Indonesia
NovelToon NovelToon

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Patah Hati

Sore itu langit tampak cerah, seolah ikut merayakan hari spesial orang yang paling yena sayangi. Sebelum berangkat ke kampus untuk menyelesaikan tugas akhir, yena sudah sibuk di dapur toko kue nya sendiri—menghias kue cokelat kesukaan Arga dengan penuh perasaan. Di samping kotak kue itu, tersimpan sebuah kotak beludru berisi jam tangan mewah yang sudah lama ia incar, kado yang yena siapkan dengan menabung berbulan-bulan dari hasil penjualan kuenya.

Hari ini ulang tahun Arga, CEO muda berumur 28tahun yang empat tahun ini menjadi pusat dunia yena. Yena sengaja tidak memberitahunya akan datang,yena ingin memberinya kejutan manis untuknya, setelah pulang dari kampus yena langsung ke toko kuenya untuk mengambil kue coklat itu, setelah itu dia langsung berangkat ke kantornya arga menggunakan mobil. Di tengah perjalanan di saat lampu merah yena sedikit memakai makeup agar terlihat cantik nantinya saat bertemu arga. Setelah sampai yena langsung memarkirkan mobilnya.

di kantor arga yang megah di lantai paling atas gedung pencakar langit di kota Jakarta utara. Dengan hati berdebar penuh harap, yena melangkah masuk ke lobi kantornya, disambut ramah oleh resepsionis yang sudah mengenal yena.

"Selamat sore, Nona Yena. Pak Arga ada di ruangannya,” ucapnya sopan.

Yena tersenyum berterima kasih, lalu berjalan perlahan menuju pintu ruangan Arga yang tertutup kaca buram. Tangan kanannya memegang kotak kue dengan hati-hati, dan tangan kirinya menggenggam erat kotak kadonya. Yena menarik napas panjang, tersenyum lebar, lalu perlahan membuka pintu ruangan itu.

“Selamat ulang tahun, Arga—”

Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Senyum yena mengeras, lalu perlahan runtuh tak berdaya.

Di ruangan itu, di sofa empuk di sudut ruangan, Arga sedang duduk berdekatan dengan seseorang. Wanita itu menyandarkan kepala di bahunya, jari-jarinya mengusap lembut dada Arga, dan Arga membalasnya dengan pelukan hangat sambil mencium kening wanita itu dengan penuh kasih sayang.

Wanita itu adalah Fira. Sahabat terbaik yena. Orang yang sejak SMP selalu ada di samping yena, yang tahu betul betapa yena sangat mencintai Arga, yang berkali-kali meminta yena bercerita tentang kebahagiaan bersaman arga, yang bahkan sering ikut membantu di toko kue saat toko kue yena sedang ramai.

Suara mereka terdengar samar namun sangat jelas menghancurkan setiap harapan yang yena punya.

“Kapan kamu akan memberitahu Yena?” tanya Fira dengan nada manja yang tak pernah yena dengar sebelumnya.

Arga mengusap rambut panjang Fira, “Sebentar lagi. Aku janji akan putus dengannya. Aku lebih memilih kamu, Sayang.”

Dunia seolah berhenti berputar di saat itu juga. Kotak kue di tangan yena terasa begitu berat, seberat hati yang tiba-tiba tertimpa beban tak terbayangkan. Kado jam tangan yang  yena beli dengan susah payah kini terasa seperti benda asing yang menusuk telapak tangan.

Suara langkah yena saat masuk akhirnya membuat mereka menoleh. Senyum di wajah Arga dan Fira seketika hilang, berganti dengan wajah pucat penuh keterkejutan dan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan. Mereka segera melepaskan pelukan, tapi noda pengkhianatan itu sudah terlanjur terlihat begitu nyata di mata yena.

“YE...YENA…” panggil Arga terbata-bata, segera bangkit berdiri berusaha mendekat.

“Kamu… kamu kok ada di sini?”

Yeba tak menjawab. Mata yena menatap tajam bergantian ke pria yang dia cintai dan wanita yang dia berikan kepercayaan sepenuhnya. Dengan tangan gemetar, yena meletakkan kotak kue dan kotak kado itu di tepi meja kerja Arga—benda yang seharusnya menjadi tanda kasih sayang, kini menjadi saksi bisu betapa bodohnya yena selama ini.

“Selamat ulang tahun,” ucap yena dengan suara bergetar namun tetap berusaha tegar, meski air mata mulai menumpuk di pelupuk mata.

“Silakan dinikmati bersama. Aku tidak butuh lagi.”

Tanpa menunggu jawaban mereka, yena berbalik badan. Yena berjalan keluar dari ruangan itu secepat mungkin tapi tiba-tiba langkah yena terhenti ketika arga memegang tangan yena.

“Jangan pergi, Yena! Tolong dengarkan aku sebentar!” Suara Arga terdengar panik, napasnya tak beraturan. Ia menarik pelan tangan yena, mencoba memutar badan yena agar menghadapnya kembali.

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku… aku tidak bermaksud menyakitimu seperti ini.”

Yena mencoba melepaskan tangannya, namun genggamannya tak lepas—campuran antara rasa takut kehilangan dan keputusasaan yang terlambat datang. “Tidak seperti apa, Arga? Tidak seperti yang kulihat sendiri dengan mataku?” tukas yena, air mata akhirnya menetes membasahi pipi.

“Kamu sedang memeluk wanita yang kuanggap saudara sendiri, dan kamu bilang tidak seperti yang kupikirkan?”

“Aku tahu aku salah, aku tahu aku bajingan!” serunya dengan wajah pucat, matanya memancarkan penyesalan yang begitu dalam.

“Tapi tolong beri aku waktu untuk menjelaskan. Semuanya terjadi di luar kendaliku. Fira… dia datang saat aku sedang lelah dengan pekerjaan, saat aku merasa kesepian… dan aku bodoh karena membiarkan hal ini terjadi. Aku tidak pernah berniat mengkhianatimu, Yena. Aku sayang padamu, percayalah!”

“Sayang?” tawa yena pahit, berusaha menahan isak tangis agar tak terdengar memilukan.

“Kalau kamu sayang, tak akan ada ruang untuk orang lain di antara kita, Arga. Dan tak akan ada Fira di sampingmu hari ini.”

Kali ini yena berusaha melepaskan tangan arga lebih kuat, dan Arga seolah sadar bahwa kata-katanya tak lagi berguna. Genggamannya perlahan melemah, sampai akhirnya tangan yena terlepas begitu saja.

“Kita sudah selesai,” ucap yena tegas, menatapnya untuk terakhir kalinya dengan sisa kekuatan yang yena punya. “Hubungan kita berakhir di sini. "

"Tapi sayang"ucap arga dengan penuh penyesalan

" sudah gk ada yang perlu kamu jelasin lagi, dan makasih untuk 4 tahunnya"

"Yena maafin aku"ucap fira yang sambil memegang tangan yena

Tanpa menjawab yena langsung melepaskan genggaman tangan fira.

Yena kembali berbalik, membuka pintu itu, dan melangkah keluar meninggalkan segalanya—termasuk kenangan 4 tahun yang ternyata hanya berisi kebohongan di ujungnya.

tak peduli lagi pada tatapan heran para karyawan yang melihat yena lewat sambil menangis. Hati yena hancur bukan hanya karena dikhianati kekasih, tapi juga karena dikhianati sahabat sendiri. Di antara dua orang yang paling yena percaya, ternyata dialah yang paling tertipu.

Sampai di parkiran yena langsung menyalakan mesin mobil dan yena pun pergi dari tempat itu, di perjalanan yena tak henti-hentinya menangis. Hatinya begitu hancur.

Hancur-sehancur-hancurnya.

" apa salahku arga,dan apa kurangnya aku sampai kamu tega lakuin ini ke aku, kita udah menjalin hubungan selama empat tahun tapi kamu dengan mudahnya menghancurkan hubungan itu"

Make-up di wajah yena pun luntur karna air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.

"Fira selama ini aku bukan cuma anggep kamu sebagai sahabat, tapi aku udah anggap kamu sebagai saudara tapi ini balasan kamu ke aku, kamu rebut apa yang harusnya jadi milikku"

"Aaaaaaaaaaa, kenapa ini harus terjadi pada ku".

Rasanya sakit sekali bukan ketika seseorang yang kita cintai dengan tulus,tapi dia malah berhianat.

Bertemu Sang Brondong SMA

Sepanjang perjalanan pulang, air mata yena tak henti mengalir. Yena memacu mobil pelan, meski hatinya rasanya ingin lari secepat mungkin menjauh dari kenyataan yang menyakitkan itu. Gedung perkantoran tempat Arga bekerja kini terasa seperti bangunan yang penuh kebohongan. Empat tahun waktu yang yena habiskan bersamanya, persahabatan belasan tahun dengan Fira—seolah semuanya hanyalah sandiwara panjang yang tak pernah yena sadari.

Malam itu, yena tak langsung pulang ke rumah melainkan dia menuju toko kuenya yang terletak di pinggiran kota, tempat di mana yena merasa paling tenang. Toko itu sudah tutup, tapi yena punya kunci cadangan.

Kunci pintu berderit pelan saat di buka. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk lewat jendela kaca. Aroma sisa kue mentega dan vanila masih tercium samar, seolah ingin menenangkan jiwa yena yang sedang berantakan. Yena duduk di lantai belakang meja kasir, memeluk lutut dan kembali menangis sepuasnya. Rasanya dunia runtuh seketika, dan yena tak tahu harus mulai dari mana untuk menyusunnya kembali.

Waktu berlalu begitu saja tanpa disadari. Hingga terdengar suara ketukan pelan di pintu kaca depan yang sudah dikunci.

Yena mengusap kasar air matanya, berusaha tenang.

"Siapa yang datang jam selarut ini?" Dengan ragu,yena bangkit dan melangkah mendekat.

Di balik kaca, berdiri seorang pemuda berseragam SMA berwarna putih abu-abu. Berkaca mata,rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak cemas, dan di tangannya ia memegang sebuah tas ransel serta sebuah amplop surat. Saat ia melihat yena menoleh, ia sedikit terkejut namun tetap tersenyum sopan—senyum yang begitu tulus, hangat, dan polos, jauh berbeda dengan segala kepalsuan yang baru saja yena lihat.

Yena membuka pintu sedikit,

“Maaf, toko sudah tutup. Kamu cari siapa?”

Pemuda itu menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, terlihat sedikit malu.

“Maaf mengganggu malam-malam, Kak. Aku… aku habis latihan ekskul dan kebetulan lewat. Tadi pagi aku lupa menaruh surat izin praktik kue kelompokku di sini. Kira-kira masih ada?”

Suaranya terdengar lembut namun tegas, matanya berbinar jernih menatap yena. Tatapan yang jujur, tanpa beban, tanpa niat buruk.

Hati yena yang sedingin es perlahan mulai merasakan kehangatan kecil.

“Oh, surat izin ya? Tunggu sebentar ya, aku cek dulu.”

Yena membiarkannya menunggu di depan sebentar, lalu kembali dengan selembar kertas yang terselip di buku catatan. Saat menyerahkan surat itu, tanganku sedikit gemetar—sisa tangis yang belum reda.

“Kakak menangis?” tanyanya tiba-tiba, matanya menatap lekat wajah yena.

Yena tertegun sejenak, lalu buru-buru memalingkan wajah. “Bukan, cuma… tadi kelilipan debu.”

Ia tak memaksa yena bicara, namun ia tak langsung pergi. Sebaliknya, ia merogoh saku seragamnya, lalu mengeluarkan sebatang permen cokelat.

“Kalau Kakak sedih, makan ini saja. Cokelat biasanya bisa bikin perasaan lebih enak. Itu kata bunda saya.”

Perlahan ia menyodorkan permen itu. Tatapannya begitu tulus, penuh perhatian tanpa ingin tahu masalah orang lain.

“Terima kasih ya, Kakak yang baik. Maaf sekali lagi sudah mengganggu istirahat Kakak. Saya pamit dulu.” Ia membungkuk sopan, lalu berbalik hendak melangkah pergi.

“Tunggu!” panggil yena tanpa sadar. Ia berhenti dan menoleh kembali.

“Kamu… siapa namamu?”

Pemuda itu tersenyum lebar, menampakkan lesung pipi yang manis. “Namaku juvan. Kalau Kakak?”

“Yena,” jawab yena pelan.

“Terima kasih permennya, juvan.”

“Sama-sama, Kak Yena. Semoga hari Kakak besok lebih baik.”

Dengan langkah ringan, juvan pergi meninggalkan toko kue. Namun ada sesuatu yang tertinggal—secercah cahaya kecil yang entah bagaimana berhasil merembes masuk ke dalam hati yang baru saja hancur lebur. Mungkin benar kata orang, setelah badai yang paling dahsyat berlalu, selalu ada cahaya yang tak terduga datang menyapa. Dan pertemuan yena dengan Raka malam itu, adalah awal dari cerita yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Tak lama juvan pergi yena pun memutuskan pulang ke rumah. Setelah sesampainya di rumah yena langsung memarkirkan mobil, dan masuk ke rumah, di ruang tamu tengah duduk seorang anak remaja yang sedang menonton pertandingan bola, ia adalah kenzo adik laki-laki yena.

"Loh kakak, kakak habis nangis, kenapa? Siapa yang bikin kakak nangis. " tanya kenzo dengan nada khawatir.

Kenzo menghampiri yena.

"Kak"

"Kakak gak kenapa-napa kok, cuma kecapekan aja, oh iya papa udah pulang?"

"Seperti biasa kak papa gk pulang"

"Oh, kakak ke kamar dulu ya"

Kenzo mengangguk, dan membiarkan kakaknya pergi walapun hatinya begitu penasaran kenapa kakaknya menangis sampai matanya sembab seperti itu, tapi kenzo memilih diam mungkin belum waktunya untuk bertanya-tanya ke yena.

Di kamar yena membuka laci meja disana terdapat album yang berisi foto-foto dia bersama arga, tangis yena pecah saat melihat foto-foto tersebut, yena masih tidak menyangka kalau hubungannya dengan arga akan berakhir semudah ini. Setelah puas menangis yena membersihkan diri lalu berusaha untuk tidur.

Keesokan paginya cahaya matahin masok melalui jendela kaca kamar yena, yena terbangun dengan mata yang sedikit agak sembab. Saat yena membuka hp yena kaget melihat banyak sekali pesan masuk, dan ternyata itu pesan dari para customer yang ingin memesan kue.

"Wah tiba-tiba banget banyak yang mesen kue hari ini, aku harus ke toko lebih awal hari ini" ucap yena dengan senyum mengambang"

Walaupun di toko yena sudah memiliki lima karyawan tapi dia tetap harus turun tangan membantu menghandle semua pesanan.

Yena pun turun ke bawah,

"KAKAK"teriak kenzo yang melihat kakaknya pergi terburu-buru.

" kenapa"

"Kakak mau kemana kok buru-buru banget, ayo sarapan dulu"

"Kakak mau ke toko kue, udah ya kakak pergi dulu soalnya ada banyak pesanan kue"

Yena pun pergi,

"Di rumah ini semua orang pada sibuk ya bik, dedek merasa kesepian banget, mana papa jarang pulang ke rumah pula." ucap kenzo pada bik ina, bik ina adalah ART di rumah itu dia sudah bekerja lebih dari 20 tahun, kenzo juga sudah menganggap bik ina sebagai ibunya karna sejauh ini hanya bik ina yang peduli pada kenzo.

Walapun aslinya kenzo ini adalah berandalan di sekolah tapi kalau di rumah kenzo memiliki sipat yang lembut dan penyayang.

"Sudah jangan terlalu dipikirkan,papa sibuk mencari uang,toh demi kebaikan kamu juga.kak yena juga sibuk dengan kuliah nya dan toko kuenya, semua orang di dunia ini memiliki kesibukankanya masing-masing .ayok makan, makan yang banyak" ucap bik ina berusaha menyemangati kenzo. Kenzo pun mengangguk.

Di kampus vivien dan zara di kejutkan dengan fira yang datang ke kampus di antar oleh arga.

"Loh, loh, loh itukan arga kok dia anter fira ke kampus sih"ucap zara

"Lah iya ya"

"Pagi guys" sapa fira dengan ceria.

"Eem yena udah dateng"

"Yena hari ini gk ngampus katanya toko kuenya lagi rame jadi dia izin gk masuk" jawab vivien.

"Kamu kok bisa di anter arga ke kampus"

"Eeemm anuu..... Aku masuk duluan ya guys daa...."jawab fira yang menghindari pertanyaan vivien.

Zara dan vivien saling bertatapan.

" vi jangan bilang kamu punya pemikiran yang sama kayak aku"

"Udah za dari pada mikir yang enggak-enggak mending pulang dari kampus kita jenguk yena kita tanyain aja sama yena"

"Ide bagus tuh" jawab vivien.

Yena, fira, zara, dan vivien mereka ber empat adalah sahabat sejak SMA , sampai kuliah mereka masih bersahabat baik. Tapi tidak dengan fira, dia malah berhianat dengan merebut pacar yena.

Pertemuan Kedua Di Supermarket

Sore hari menunjukan pukul 15:00 vivien dan zara sudah sampai di depan toko kue milik yena mereka berdua pun masuk.

"Loh zara, vivien kalian mau beli kue? " tanya yena

"Eeh enggak yen kita kesini bukan mau beli kue tapi ada yang pegen kita ceritain ke kamu"

"Cerita apa? " tanya yena penasaran.

"Yen tadi di kampus kita berdua liat fira di anter sama arga"ucap zara

DEG,jantung yena seperti berhenti berdetak yang terasa hanya rasa sesak, dan sakit, mata yena pun langsung menetes kan air mata.

" eeh yen tunggu dulu gue belum selesai cerita jangan nangis dulu, dan jangan salah paham dulu"ucap zara yang khawatir melihat yena yang tiba-tiba menangis.

"Please stop bahas soal arga dan fira"

Yena dan vivien saling tatap merasa heran dengan apa yang barusan yena ucapkan

"Kenapa yen, hubungan kamu sama arga baik-baik aja kan"

"Aku dan arga udah putus"

Zara dan vivien tentu saja kaget bukan main setelah tau kebenaran itu.

"Kok bisa, putus kenapa yen" tanya vivien

"Ya seperti yang kalian lihat di kampus tadi"

"WHAT, MAKSUD LO ARGA SELINGKUH SAMA FIRA"

Brukkk... Zara memukul punggung vivien

"Gk usah teriak-teriak juga vi, di denger orang tau gk"

"Maaf aku kaget, gk nyangka banget gw sama si fira, fira anjing. Bisa-bisanya dia ngelakuin hal goblok kayak gitu"

"Yen lu kenapa gk cerita ke kita sih"

Yena hanya diam sambil menahan tangis.vivien dan zara mendekati yena dan memeluk yena

"Gk papa yen nangis aja, kita tau kok gimana sakitnya hati kamu saat di hianati sama pacar sekaligus dihianati sama sahabat sendiri"

"Lu boleh nangis sepuasnya yen tapi jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan ya, lu harus bisa bangkit dan menjalani kehidupan lu secara normal seperti biasanya walapun tanpa arga"

Vivien dan zara terus-terusan menghibur yena agar yena tidak sedih lagi.

"Udah yen cowok kayak arga gk usah di tangisin lagian ya di luaran sana banyak kok cowok yang lebih dari arga, lebih kaya, lebih tampan" ucap vivien

"Nah betul tu yang di bilang vivien, siapa tau setelah kamu berhasil lupain arga kamu dapet cowok spek Dylan wang. "

"Kalau bisa sih dapet Dylan wang nya langsung"

Seketika tawa mereka pecah,

"Makasih ya guys kalian selalu ada buat aku"ucap yena

" ahh gk usah berterimakasih yen lu tu udah kita anggap sebagai saudara sendiri"

"BTW boleh dong bagi kuenya gratis"

"Ternyata ngehibur gw karna ada maunya ya"

"Haha gk yen gw bercanda kok"

Tak terasa sudah pukul 17:00sore

Vivien dan zara pun pamit pulang. Yena baru ter ingat kalau dia harus ke supermarket dulu untuk membeli bahan-bahan membuat kue yang sebagian sudah habis, sekaligus membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Setelah tiba di supermarket aku langsung mengambil barang-barang yang akan ku beli memasukannya ke troli belanjaan.

Saat yena sedang meraih kemasan mentega di rak paling atas, tiba-tiba sebuah tangan lain menjangkaunya lebih dulu.

"Biar aku ambilkan saja, Kak."

Suara itu terdengar begitu kenal. Yena menoleh, dan tepat di sampingnya berdiri juvan—si pemuda yang baru yena kenal malam itu di toko kue. Ia masih mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan tas ransel yang tersampir di bahu, sepertinya baru saja pulang sekolah.

"Juvan?" tanya yena sedikit terkejut. "Kamu juga belanja di sini?"

Juvan tersenyum lebar sambil menyodorkan mentega yang yena inginkan.

"Iya, Kak. Kebetulan sekali ya? Aku lagi beli mie pengen banget makan mie instan. Tadi dari jauh sudah merasa mirip Kakak, tapi takut salah orang."

Yena menerima barang itu sambil mengucapkan terima kasih. "Kamu sendirian saja?"

"Iya. Kak Yena mau ke kasir? Barang Kakak banyak sekali, biar aku bantu dorong troli-nya." Tanpa menunggu jawaban, ia sudah sigap memegang gagang troli belanjan yena.

Yena sempat ingin menolak, tapi melihat wajahnya yang begitu tulus ingin membantu, yena hanya mengangguk pelan. Sepanjang jalan menuju kasir, yena dan juvan berjalan berdampingan. Kehadirannya begitu ringan, seolah angin segar yang menyapa hati yang sempat kaku.

Saat giliran membayar, yena baru sadar dompetnya tertinggal di dalam tas yang terselip di troli bawah, dan yena kesulitan mengambilnya. Juvan yang melihat itu langsung mengeluarkan uang sakunya.

"Sudah biar aku bayar dulu saja, Kak. Nanti Kakak kembalikan kalau sudah bertemu lagi," ucapnya cepat sebelum yena sempat menolak.

"Tidak usah, Raka. Aku bisa—"

"Tidak apa-apa, Kak. Anggap saja tanda terima kasih karena sudah mengembalikan surat izin hari itu." Matanya menatap yena tegas namun tetap lembut.

Pembayaran selesai.juvan juga tak langsung pergi, ia bahkan membantu yena membawa kantong belanjaan sampai ke mobil.

"Hati-hati di jalan ya, Kak Yena. Jangan terlalu lelah bekerja," pesannya saat yena sudah duduk di balik kemudi.

"Terima kasih banyak ya, juvan. Kamu benar-benar membantu sekali hari ini," ucap yena tulus.

"Sama-sama. Kalau bertemu lagi, jangan sungkan menyapa saya ya." Ia melambaikan tangan, lalu tersenyum manis sebelum berbalik melangkah pergi.

Mobil melaju pelan meninggalkan area parkir, namun hati yena terasa jauh lebih ringan dibanding saat  masuk tadi. Pertemuan kedua ini, yang terjadi secara kebetulan, entah mengapa membuat yena menyadari satu hal: kehadiran juvan bukan sekadar lewat begitu saja. Ada sesuatu yang mulai berubah perlahan namun pasti, di dalam hati yang sempat berpikir tak akan bisa membuka diri lagi pada siapa pun.

Setelah sampai di rumah, yena masuk membawahi kanton belanjaannya di ruang tamu yena melihat kenzo yang tengah tertidur di sopan depan tv, yena pun langsung menghampiri kenzo.

"Ini anak kok tidur di sini kan punya kamar kenapa gk tidur di kamar"ucap yena kesal.

Tiba-tiba bik ina keluar dari dapur

"eh non yena udah pulang, anu non tadi kenzo nungguin non yena pulang sampe ketiduran gitu"

"Ya ampun ngapain coba nungguin kakak"

"Dedek" panggil yena sambil menepuk pelan pipi kenzo.

Kenzo pun terbangun

"Eh kakak udah pulang"

"Kata bik ina kamu nungguin kakak pulang, ngapain dek"

"KAK..... " kenzo menatap yena dengan mata berlinang air mata

"Eeh kok nangis maluu ih badan segede gapura kabupaten kok nangis"

Kenzo adalah adik yena ia ber umur 17tahun yang memiliki badan tinggi dan dada yang bidang serta wajah yang tampan, dia brandalan sekolah tapi kalau di rumah apalagi kalau lagi bersama yena dia selalu bersikap manja seperti anak kecil.

"Kapan ya kakak nyempetin waktu buat aku,aku di rumah kesepian kak, mana papa jarang pulang lagi"

Kakak akhir-akhir ini sibuk banget bahkan untuk sarapan bareng kakak aja susah"ucap kenzo

"Ya ampun jadi itu yang bikin kamu sedih"

Kenzo mengangguk

"Dedek jangan sedih lagi ya kakak janji bakalan nyempetin waktu buat main sama kamu" yena langsung memeluk erat adik laki-lakinya itu.

Yena berusaha bersikap baik-baik saja di depan adiknya walapun sebenarnya hati yena juga sedang berantakan. Tapi sebagai kakak dia harus tegar seolah-olah tak terjadi apa-apa agar sang adik tidak ikut khawatir.

"Oh iya besok kan weekend gimana kalau kita besok nonton bioskop" ajak yena

"Iya kak aku mau, eeem aku boleh gk ajak temen-temen aku"

"Iya boleh sekalian kakak bayarin itu temen-temen kamu"

"Wahh kakak lagi banyak duit ya"

Mereka berdua pun tertawa puas.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!