Indonesia
NovelToon NovelToon

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Bab 1 Pertanyaan Meresahkan

"Aku bukan ingin menghakimi, tetapi cinta sejati itu memang tidak ada. Cinta? Sama dengan omong kosong. Dan mencintaimu adalah hal yang paling kusesali dalam hidup."

Seorang gadis menggumamkan kalimat itu dengan getir penuh emosional, menuruti ketukan jemarinya yang bergerak lincah di atas papan ketik. Kalimat dialog fiksi yang baru saja ia ketik terasa begitu nyata, seolah sedang menyuarakan isi hatinya sendiri.

Seiring dengan berakhirnya ketikan itu, gadis dengan kacamata dan laptop di pangkuannya terlihat merenggangkan tangannya yang terasa kebas akibat mengetik setelah lepas subuh tadi.

“Akhhkkk, akhirnya ... chapter 150 selesai juga!” pekiknya pelan, masih merenggangkan tangan. Sejenak, ia menutup mata dan menghirup udara pagi yang terasa sangat sejuk. Sungguh pagi yang membahagiakan tanpa drama write block! Yang menghantuinya beberapa waktu ini.

“Kanaraaaa, kalau sudah selesai. Tolong bantu Ibu dulu di sini!” teriak seorang perempuan dari dalam rumah yang tak lain adalah ibunya.

“Iya, Bu. Bentar ... Nara beresih laptop dulu,” balasnya. Ia menyimpan tulisannya di folder terlebih dahulu sebelum laptopnya ia matikan. Gadis itu pun segera masuk untuk mengerjakan titah sang ibunda.

“Itu list belanjaan yang harus kamu beli, usahakan semuanya harus ada. Bila perlu kamu keliling, cari sampai ketemu! Jam delapan, semuanya harus sudah ada di hadapan Ibu,” titah perempuan yang telah melahirkannya itu.

Nara menghembuskan napas, melihat banyaknya belanjaan yang harus ia beli. “Mana bisa begitu, Bu. Belum lagi ini susah nyarinya,” protesnya. Ia teringat bagaimana terakhir kali saat pergi kemarin, ia dibuat kelimpungan mencari segala macam bahan yang ada di kertas list ibunya. Pasar banyak berubah sejak delapan tahun terakhir ia pergi merantau.

“Heh! Lebih susah nyari jodoh kamu itu. Bahan-bahan itu semua sudah ada di pasar, tinggal kamu cari yang teliti. Kalau ketemu, jangan lupa ditawar. Jangan kaya pas itu yang kamu langsung ambil terus bayar, apalagi tanpa lihat kualitasnya. Jangan hanya jodoh yang kamu pilih-pilih!”

Kanara memutar bola matanya. Jika ada kesempatan, ibunya selalu saja membahas perihal jodoh, apa-apa jodoh, sedikit-sedikit jodoh. Padahal, ia merasa tidak setua itu untuk mengkhawatirkan masalah pasangan hidup. Masih 27 ini loh, 27 tahun! Masih sangat mudah! Sekedarnya itu menurutnya.

“Ibu tuh, kadang jengkel terus ditanyai kenapa kamu belum nikah? Terus denger kamu yang dikatai belum laku lah, perawan tua lah. Hais, mau Ibu ulek mulut mereka dengan sambal terasi ini!” rutuk wanita paruh baya itu, meluapkan segala emosinya pada sambal yang tak berdosa.

Kan!!! Ibunya saja jengkel, apalagi Nara yang terus ditanyai ‘kapan nikah?’ ketika berpapasan dengan ibu-ibu rempong nan penasaran setinggi menara Eiffel itu.

Hari pertama setibanya di kampung halaman, setelah merantau beberapa tahun di Jakarta untuk menempuh pendidikan dan bekerja mencari pengalaman. Hal pertama yang ditanyai adalah perihal jodoh, kapan nikah dan sejenisnya. Bahkan, sampai sekarang. Seolah mereka tidak memiliki pertanyaan lain atau sekedarnya bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Ia seolah anomali untuk warga desa ini.

“Kalau begitu, Ibu ndak usah dengerin,” tanggap Nara seraya meraih paper bag kain untuk menampung belanjaannya nanti.

“Gimana Ibu ndak dengerin?! Mereka yang kumpul di warung makan kita. Beli kagak, hutang sih, iya!” dumbel ibunya lagi, Nara hanya bisa menggelengkan kepala. “Pokoknya kamu cari jodoh deh, kalau nggak dapat. Ibu jodohin kamu,” singkat ibunya yang membuat anak gadisnya itu ketar-ketir.

Nara segera berpamitan demi menghindari pembahasan tersebut. Ia berjalan cepat menuju halaman depan untuk segera menghampiri motor maticnya. Mulai menyalakan mesinnya yang ia biarkan beberapa saat untuk memanaskan sebelum menarik gasnya. Kendaraan roda dua itu membelah jalanan desa yang masih tampak asri dengan pepohonan rindang dan persawahan, walaupun sudah ada beberapa pabrik yang mengisi sudut desa.

Motor matic Nara berhenti di area parkir pasar, abang-abang tukan parkir segera mengerubungi untuk menawarkan jasa mereka. Yang dekat dengan Nara segera membantu gadis itu untuk memarkirkan motornya ke jalur yang sesuai, lalu menutupnya dengan kardus. Padahal matahari belum terlalu terik, entah apa fungsi kardus tersebut.

Nara, membiarkan saja. Meraih secangkir kertas yang terlipat dan memanjang—list belanjaan pemberian ibunya. Membacanya ulang satu persatu, lalu menyusuri pasar untuk memenuhi tas belanjaannya.

“Eh, Neng Nara. Datang lagi ke pasar hari ini? Disuruh Ibu?” sapa seorang penjual kenalan ibunya. Basa-basi, tentu saja. Karena jelas, ia melihat Nara di hadapannya.

“Iya, Nek.” Nara mengangguk dengan sopan. “Tolong jengkolnya dua kilo sama petenya lima ikat,” ujarnya sesekali membaca instruksi dari kertas list ibunya.

“Siap, Neng. Tunggu sebentar,” riang penjual itu, sumringah. Ia segera menyiapkan pesanan anak dari pelanggan tetapnya.

“Datang belanja juga, kasian kamu. Nanti pulangnya sendiri juga, nggak ada yang bawai motornya?” sapa seorang ibu yang merupakan tetangga depan rumah Nara. Salah satu yang masuk kedalam kategori ibu-ibu rempong nan kepoan menurut versinya.

"Makanya kamu cepat nikah, cari suami biar ada yang bantuin. Biar apa-apa nggak sendiri, kayak saya ini, lho. Tuh ....” Ibu itu menunjuk ke arah parkiran. “Suami saya nungguin di sana.”

Nara nyengir. “Iya, Bu. Justru itu. Karena saya masih bisa sendiri, jadi belum butuh suami. Apalagi suami yang cuma nunggui di motor, nggak bantuin istrinya bawa belanjaan yang berat.” Ia melirik sekilas ke arah tunjuk ibu itu yang mengarah pada suaminya yang tengah menunggu di atas motor sambil merokok.

“Kamu ya, dikasih tahu malah ngeyel. Nanti jadi perawan tua baru tahu rasa! Anak saya aja yang bungsu umur dua puluh tahun sudah punya satu anak. Lha, kamu ini loh ... sudah cukup umur, pacar nggak punya, apalagi calon. Perawan tua betul nanti!” jelasnya ngegas dengan alis menaut sempurna.

Mulut Nara hampir saja menganga dengan perkataan tajam nan menusuk itu. Berulang kali ia beristigfar dalam hati. Ingin sekali membalas, Setidaknya saya tidak hamil di luar nikah seperti anak Ibu! tetapi kata-kata tersebut hanya tertahan di tenggorokannya saja.

“Iya, Bu. Terima kasih atas nasehatnya, akan saya ingat. Kalau begitu, mari ... belanjaan saya telah disiapkan.” Nara kembali berhadapan dengan penjual untuk membayar belanjaannya, mengabaikan wanita paru bayah itu yang merasa tidak puas atas respon Nara.

“Datang lagi ya, Neng. Jangan bosan belanja di sini, saya selalu ramahhh.” Senyum penjual itu lebar, dibalas Nara dengan senyum pula yang kemudian mengangguk singkat dan berlalu.

“Apa maksudnya ‘saya selalu ramah’?!” tanya ibu yang tadi mengobrol dengan Nara kepada si nenek penjual dengan nada sinis. Ia merasa tersindir.

“Ndak ada maksud apa-apa? Jadi kamu mau beli apa?” tanya Nenek baik-baik.

Ibu itu mengeram, “Siapa yang mau beli belanjaan situ,” ujarnya, kemudian berlalu begitu saja.

“Lah, kenapa lu berdiri di mari dari tadi kalau ndak beli. Dasar aneh, penggosip, cari masalah. Kurang belalaian lu pasti, makanya cari mangsa buat pelampiasan!” teriak Nenek dengan suaranya yang khas melengking.

Nara menggeleng pelan karena masih mendengar perdebatan di belakangnya. Ia pun melanjutkan langkah untuk menyelesaikan titah ibunya. Waktu terus bergulir. Tanpa terasa, jarum jam hampir menunjuk pukul delapan. Ia harus segera bergegas.

Gadis itu sama sekali tidak menyangka, jawaban spontan yang ia lontarkan kepada tetangganya pagi itu akan menyebar dari satu mulut ke mulut lainnya. Dan tanpa ia sadari, ucapan itu menjadi awal dari masalah yang tak pernah ia bayangkan.

***

Bersambung ...

Bab 2 Tidak Butuh Suami

Nara kembali ke rumah tepat pada waktunya, tetapi walau begitu tidak menghentikan omelan ibunya karena ia yang lagi-lagi tidak melakukan tawar-menawar kepada penjual, sehingga uang yang ia bawa tidak tersisa. Pas dengan belanjaannya.

"Kamu ini kebiasaan, coba saja Ibu yang belanja. Pasti harganya akan lebih murah dan masih ada kembalian," katanya ibunya sesaat ia baru saja sampai dan ibu membongkar belanjaannya.

"Ya mau bagaimana lagi? Nara ndak biasa tawar-menawar, Bu. Kebiasaan belanja di super market, mana bisa tawar-menawar," balas Nara supaya ibunya memaklumi.

Empat tahun kuliah dan ditambah lagi empat tahun bekerja di kota besar, Nara sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke pasar. Bukan hanya karena jaraknya yang jauh dari tempat tinggalnya, tetapi juga karena ia yang sibuk untuk kuliah dan bekerja. Dan baru dua bulan lalu kembali pulang ke kampung halaman.

"Makanya, kamu itu harus belajar. Apalagi nanti kalau sudah punya keluarga, harus pandai mengatur keuangan dan sebagainya. Jika tidak begitu pandai menyisikan uang, ya ... siap-siap saja kamu tidak bisa membeli apa yang kamu mau." Ibunya menatap dalam anaknya itu.

Nara mengedikkan bahu. "Kalau memang ada yang Nara penget, ya ... tetap Nara beli pake uang sendiri lah, Bu. Tetapi ketimbang begitu, lebih baik Nara cari suami kaya saja kan?"

Ibunya mencebikkan bibir. "Kan siapa tahu kalau kamu cinta mati sampai rela jadi perintis sama suamimu, rela saja jadi budak cinta sampai makan hati."

Jleb!!!

Ucapan ibunya tepat mengenai ulu hati Nara. Walaupun tidak termasuk begitu, tetapi tetap saja mengingatkan dirinya akan kebodohannya di masa lalu. Hal yang membuatnya pulang untuk menenangkan diri dan tidak ingin mengenal lelaki manapun untuk saat ini. Ia takut dikecewakan lagi, takut lelaki itu sama saja dengan pria itu, dan takut jika dia tidak bisa menerimanya apa adanya. Banyak hal yang menjadi kekhawatirannya dan itu semua ia kubur seorang diri.

"Lagi pula, kaya dan banyak uang itu bukan segalanya. Akan ada tantangan di setiap jalan hidup ini, semuanya sudah sesuai porsinya. Ibu hanya berharap, kamu menemukan jodoh yang baik, santu, sopan, dan mengerti kamu. Tidak peduli mau dia kaya, miskin, perintis, asalkan kamu ada jodohnya biar cepat kasih Ibu cucu!" lanjut ibunya lagi, pandai sekali bersilat lidah. Yang selalu menjurus pada masalah jodoh dan sekarang malah cucu?!

Nara menepuk dahinya. "Jodoh saja belum ada ... Ibu sudah ngomongin pengen punya cucu."

"Lah, memangnya kenapa? Ada yang salah?! Ibu hanya mau kamu dapat pasangan hidup, umur Ibu sudah semakin tua, penget lihat kamu punya keluarga sendiri dan bahagian sebelum—"

"Stttttt!" potong Nara cepat, menyimpan jari telunjuknya di bibir sang ibu. Gadis itu menggeleng pelan, tidak membiarkan ibunya melanjutkan perkataan yang tidak-tidak. "Jangan pernah Ibu ngucapin perkataan seperti itu, Nara tidak suka." Nara memeluk ibunya erat, menyandarkan kepalanya pada bahu wanita yang telah membesarkannya seorang diri sejak ia berumur 10 tahun. Jujur saja, ia belum siap kehilangan satu-satunya orang tersayangnya setelah bapaknya meninggal. Bahkan, kepergian bapaknya masih meninggalkan luka di hatinya. Bukan ia tidak menerima kehendak Tuhan, tetapi rindu ini sungguh menyakitkan.

Nara mengusap air matanya yang menetes tanpa diminta. "Pokoknya Ibu harus jaga kesehatan, jaga pola makan, istirahat yang cukup. Biar nanti bisa lihat Nara menikah, punya keluarga kecil, dan Ibu bisa nimang cucu," ujarnya, mengecup pipi ibunya lalu pamit ke kamar mandi. Ia tidak ingin ibunya melihat matanya yang memerah.

***

Nara mengguyur kepalanya, sungguh ia butuh mendinginkan kepalanya yang terasa buntu. Di satu sisi ia masih perlu waktu untuk menenangkan hatinya yang masih sakit akibat luka dari kisah cintanya yang kandas. Tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan keinginan ibunya. Semakin memikirkannya, membuat kepala gadis itu semakin kacau saja.

Nara menyudahi acara mandinya, menggosok gigi lalu mencuci muka. Ia pun keluar dari sana mengenakan handuk yang kemudian menuju kamarnya untuk berpakaian.

Wangi masakan tercium ke seluruh penjuru ruangan, termasuk kamar gadis itu. Ibunya di dapur telah menyelesaikan beberapa menu masakan.

"Ummm, wangi banget, bikin laper." Nara bergabung di dapur dan segera membantu ibunya memindahkan masakannya ke wadah yang seharusnya.

"Hm, kamu makan dulu. Baru kita sama-sama angkut masakannya ke warung," sahut ibunya, tangannya sibuk mengaduk adonan perkedel jagung.

Nara mengambil piring dan menyedot nasi serta memasukan beberapa lauk pauk yang telah masak.

"Ibu aja duluan, itu biar Nara yang lanjut." Nara mengambil alih pekerjaan ibunya, menyuruhnya untuk duduk dan memakan nasi yang sebelumnya sudah ia sendok dan menyimpannya di atas meja dengan segelas air minum.

Ibunya tersenyum, "Makasih, Nak," ia mengusap lengan anak semata wayangnya itu, lalu kemudian duduk di kursi dan menyantap sarapannya.

Setelah semuanya masak dan Nara telah menghabiskan sarapannya. Ibu dan anak itu mengangkut masakan mereka ke warung makan. Warung yang menjadi sumber penghasilan utama mereka selain dari kos-kosan yang dibangun Nara dua tahun lalu dengan hasil gaji yang ia sisihkan. Kos dua lantai dengan masing-masing lantai terdapat lima pintu.

"Lama sekali hari ini, Bu Ratna. Perut saya sudah keroncongan ini." Seorang penghuni kos keluar diikuti beberapa orang di belakangnya, mereka semua para pekerja pabrik yang merantau.

"Iya, Pak Mamat. Kebetulan hari ini baru belanja, stok bahannya habis," jawab ibunya Nara.

"Ohhh, begitu toh. Tapi kalau besok bisa lebih cepat kan, Bu. Besok kita semua sudah harus masuk kerja lagi, hari ini syukur memang libur."

"Iya, Bu. Ibu pasti ndak tega kan biarin kami kerja dengan perut keroncongan, soalnya saya itu ndak bisa makan nasi di warung lain. Lidah saya itu sudah terbiasa dengan masakan Ibu yang enak!" sahut seorang pemuda lajang, menimpali.

"Hallah, bilang saja kantong mu itu yang kere Dani! Warung makan lain mana mau kasih kau hutang, hanya Bu Ratna saja yang mau kasih," seloroh temannya, memukul bahu Dani yang kini tengah tersenyum canggung.

"Haduh ... Bang, tidak usah diperjelas juga." Senyum pemuda itu malu. "Saya hutang lagi ya, Teh Nara. Tanggal muda nanti saya bayar lunas, uang hasil kerja bulan ini sudah saya kirim semua untuk biaya adik yang sekolah." Dani menggosok tengkuknya yang tak gatal.

"Oh siap, aman. Asal dibayar saja." Nara ikut berkelakar, mencatat hutang pria muda itu di buku kasir yang ada di atas meja.

"Siap, Teh."

Para pria itu kemudian duduk di satu meja, bersiap menyantap sarapan mereka yang sudah berada di hadapan.

"Akhirnya warungnya sudah dibuka juga, saya sudah dari tadi bolak-balik ini." Seorang wanita sepantaran ibunya Nara masuk warung makan dengan membawa kipas. Gemericik gelang emasnya tak terelakkan tak kala ia mengipasi wajahnya yang ditaburi bedak putih. Sangat kontras dengan leher serta tangannya yang kecokelatan. Ibarat siang dan malam. "Eh ... dengar-dengar dari Bu Nurlela, kamu tidak butuh suami ya, Nara?"

Pertanyaan itu membuat tangan Ratna yang sedang menyusun piring seketika terhenti. Tatapannya perlahan beralih kepada sang putri.

Beberapa pelanggan ikut menoleh.

Kini, semua mata tertuju kepada Nara.

***

Bersambung ...

Bab 3 Kebohongan

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, sontak saja membuat Nara gelagapan. Belum lagi tatapan dari para pelanggan yang begitu intens. Nara meneguk ludahnya susah. Dari semua tatapan itu, tatapan ibunya lah yang paling tajam.

"Bu Nurlela cerita ke saya barusan, bahkan baru sekali. Kita berpapasan saat saya mau ke sini, katanya ... dia ketemu kamu di pasar, terus kamu bilang tidak butuh suami karena bisa melakukan semuanya sendiri," cerocos wanita itu, bibirnya yang merah menyala bergerak maju-mundur demi menceritakan berita yang baru saja didengarnya itu. Tentu tujuannya untuk menanyakan kebenaran dari sang empunya langsung dan di depan semua orang sekalian agar mereka semua juga mengetahui.

"Benar itu Nara?" tanya ibunya.

Pertanyaan itu seketika menyadarkan Nara dari ingatannya tadi pagi, saat ia bertemu dengan tetangganya Nurlela di pasar.

Nara menarik napas, lalu membuangnya perlahan. "Wah ... Ibu Lela salah paham itu," ujar Nara berusaha setenang mungkin, Imas yang bertanya menjadi semakin penasaran. Ia pun mengambil tempat duduk agar nyaman mendengarkan penjelasan dari sumbernya langsung, tidak lupa tangannya mencomot perkedel jagung sebagai cemilannya. Lupa sudah tujuannya datang ke warung untuk membeli sarapan pagi suami dan anaknya di rumah.

"Salah paham gimana maksud kamu, Nara? Memang, ya! Bu Lela itu suka sekali membawa berita-berita hoax. Saya sih tidak gampang percaya, makanya langsung mencari kebenaran dari sumbernya langsung." Bangga Imas, mengipasi wajahnya dengan jumawa.

"Berita-berita? Aslinya itu gosip, Bu!" sahut Mamat di mejanya, kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti. Astaga! Hampir saja ia percaya dengan ucapan Imas, tetapi yang bersangkutan segera membantah.

"Tadi pagi beliau sapa saya, katanya kasian lihat saya yang ke pasar bawa motor sendirian. Tidak kaya dia yang ditemani suaminya. Ya terus saya jawab saja, karena saya masih sanggup sendiri, jadi belum butuh suami. Semuanya itu cuman agar jaga-jaga saja dengan ucapan Bu Lela selanjutnya, yang suka sekali menjodoh-jodohkan saya dengan duda anak satu di kampung sebelah," jelas Nara. Tetangganya yang satu itu, selain suka menanyakan kapan nikah, juga suka sekali mempromosikan para duda kenalannya. Mungkin ia mendapatkan komisi dari hal tersebut, makanya bersemangat sekali.

"Lailahailallah ..." Dani menggeleng pelan. "Kenapa, ya, Bu Lela itu suka sekali mencampuri urusan orang lain? Kemarin saja dia yang paling depan memanas-manasi teteh di ujung gang untuk melabrak suaminya yang katanya selingkuh. Padahal, suaminya cuma menolong perempuan yang jatuh dari motor. Tapi menurut Bu Lela, mereka sedang berpelukan mesra di pinggir jalan. Hais ... heboh sekali kemarin itu. Saya sempat lihat grasak-grusuknya." Dani kembali menyuap makanannya, meski pikirannya masih dipenuhi kekesalan.

"Ellleh, itu berita lama. Dua hari yang lalu, sudah basi mah itu. Saya juga sudah dengar beberapa menit setelah kejadian, tentunya dari sumber yang terpercaya juga." Imas melambaikan tangan, itu tidak menarik. Ia lebih tertarik dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nara. "Memangnya kenapa dengan duda anak satu, Nara? Kamu tidak mau karena dia bawa anak nanti? Kalau itu sih gampang, tinggal suruh saja titip ke mantan Ibu mertuanya. Kan, beres." Ia memberikan solusi yang menurutnya sangat tepat.

Nara geleng-geleng, tidak habis pikir dengan pemikiran dan ucapan Imas. Berbicara dengan wanita ini memang tidak akan ada habisnya. Padahal sudah tersirat dalam penjelasan dan raut wajahnya, bahwa ia tidak suka membahas perjodohan. Tapi Imas sepertinya menutup mata akan hal tersebut.

"Hhhh ... iya, Bu." Nara tertawa canggung. "Tapi bukan karena itu alasannya, Bu. Saya tidak mau dijodohkan dengan duda anak satu kampung sebelah itu karena ..." Nara meneguk ludahnya, berusaha menyembunyikan gelagapannya.

"Karenaaa ...?" mata Imas melebar, mengeja dengan panjang kata terakhir Nara yang tidak diteruskan.

Ratna ikut penasaran dengan alasan anaknya itu, ia melirik sekilas lalu kemudian kembali fokus pada bungkusan nasi pesanan pelanggannya yang tidak makan di tempat.

Cukup lama semua orang menunggu balasan dari gadis yang hampir berumur 30 tahun itu, termaksud Mamat dan Dani beserta yang lainnya yang berada di satu meja tersebut.

"Karena saya sudah punya calon suami, Bu. Mana bisa saya terima perjodohan itu," jawab Nara meluncur begitu saja, manik matanya sedikit bergetar karena itu merupakan sebuah kebohongan. Nara memperbaiki kacamata bulat tebalnya, berharap itu dapat menutupi kebohongannya agar tidak tercium.

"Serius kamu, Nak?!" tanya Ratna yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di depan wajah Nara. Menatap intens mata anaknya yang terhalang oleh kacamatanya.

Imas sampai terlonjak kaget. "Eh! Bu Ratna ini bikin kaget saja," ucap wanita itu mengelus dadanya.

Nara berusaha setenang mungkin menghadapi interogasi dari ibunya. Wajahnya ia buat setenang mungkin. "Iya, Bu. Benar," jawabnya kemudian, dengan wajah yang tenang, meyakinkan. Maaf, Bu. Nara bohong, lanjutnya dalam hati, meringis bersalah.

"Aduhhh, Bu Ratnaaa. Itu loh, di tungguin sama pelanggannya. Sana ... lihat dulu," usir Imas, merasa wanita sepantarannya itu mengganggu perbincangannya dengan Nara.

"Nanti kita bicara lagi, Ibu layani pelanggan dulu." Putus Ratna dan mendapatkan anggukan dari sang anak.

"Oh ... begitu, toh. Syukur kalau begitu. Selamat, ya. Aku ikut bahagia." Imas menarik tangan Nara, senyumannya merekah indah. Terlihat senang sekali setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nara barusan.

"I-iya, Bu." Tangan Nara mengikuti gerakan tangan besar Imas yang menjabat tangannya. Dalam hati, ia bertanya mengapa wanita ini sebahagia ini?

"Ya bener, Teh Nara? Selamat ya, saya juga ikut senang." Dani mengucapakan dengan tulus. Begitu pula dengan ketiga rekannya di meja, termasuk Mamat. Sebenarnya, ia dan yang lainnya sudah gedek mendengar beberapa rekan mereka di pabrik yang membahas wanita bohay, lalu beberapa yang lainnya mengaitkan Nara ke dalam pembahasan. Terutama penampilan dari anak pemilik warung makan ini yang kata mereka sama sekali tidak sedap di pandang. Kaos lebar dengan celana kedodoran, rambut yang diikat asal begitu saja. Tidak ada menariknya sama sekali. Percuma lah putih, kalau penampilannya seperti itu. Belum lagi kacamata bulatnya yang tebal, sungguh membuat sakit mata. Tapi begitulah menurut mereka yang memang berotak kotor, jika mereka mengenal Nara, maka penampilannya bukanlah hal yang perlu dipersoalkan. Yang penting kepribadiannya.

"Jadi, sekarang calonmu di mana, Nara? Apakah orang kampung sebelah, karena di kampung kita sih saya yakin tidak ada. Soalnya belum mendengar kabarnya, atau saya yang ketinggalan? Tapi itu tidak mungkin," Imas mulai heboh sendiri. Memastikan Nara benar-benar memiliki calon, yang nantinya akan ia beritahu pada suaminya yang selalu saja menggatal itu, padahal sudah memiliki dua madu.

Nara membuang napas. Benarlah, satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan yang lain. Ia tidak memiliki pilihan lain, selain berbohong lagi. "Tidak di kampung ini, maupun di kampung sebelah, Bu. Calon suaminya saya orang kota. Ketemu dan kenalan di sana pas kami sedang kerja." Semua mulut di sana membulat, angguk-angguk mengerti.

"Jangan bilang kalau kamu pulang kampung karena mau urus pernikahan, ya?" tanya Imas lagi.

Duuhhhh, Rabbi. Berdosakah hamba, jika menyumbat mulut Bu Imas dengan perkedel agar beliau berhenti bertanya? batin Nara.

***

Bersambung ...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!