Indonesia
NovelToon NovelToon

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Episode 1

Bab 1: Mata yang Melihat Segalanya

Layar ponsel Bayu Prasetyo retak tepat di atas angka saldo.

Rp432.700.

Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk uang hidup Sinta bulan depan. Adiknya membutuhkan tiga juta rupiah untuk kos, makan, dan ongkos kuliah. Sementara amplop pesangon di tangan Bayu kosong. Hanya ada selembar surat pemutusan kerja.

"Posisimu dibutuhkan orang lain," kata direktur perusahaan distribusi itu tanpa berani menatapnya. "Mulai hari ini, Kevin Wijaya yang akan menangani bagianmu."

Bayu berdiri di depan meja selama dua detik.

"Saya bekerja tiga tahun di sini, Pak. Semua target saya tercapai."

"Keputusan ini sudah final."

Kevin adalah putra keluarga yang baru menanam modal di perusahaan kecil itu. Bayu hanya pegawai dari Pacitan yang datang ke Surabaya dengan satu tas pakaian dan ijazah biasa.

Ia melipat surat itu, memasukkannya ke saku, lalu pergi tanpa memohon.

Belum sampai lift, ponselnya bergetar.

Pesan suara dari keluarga tunangannya masuk.

"Bayu, kami sudah bicara baik-baik. Kamu belum mapan. Kapan bisa kasih mahar? Putri kami tidak mungkin menunggu tanpa kepastian. Cincin akan kami kembalikan. Anggap pertunangan ini selesai."

Pintu lift terbuka.

Bayu tidak langsung masuk. Di permukaan baja yang kusam, ia melihat wajah seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun yang kehilangan pekerjaan dan calon istri dalam selang sebelas menit.

Ia menekan tombol tutup.

Masih ada satu hal yang bisa ia lakukan.

Di dalam tasnya tersimpan sebuah keris tua milik sahabatnya, Rizal Firmansyah. Sebelum berangkat bekerja ke luar pulau, Rizal pernah berkata, "Kalau benar-benar terdesak, bawa ke orang yang paham. Kalau harus dijual, jual. Jangan biarkan keluargamu kelaparan gara-gara menjaga barangku."

Bayu tidak berniat menjualnya murah. Ia hanya membutuhkan penilaian yang jujur.

Sore itu, lorong Pasar Antik di kawasan Kembang Jepun dipenuhi bau kayu tua, minyak logam, dan asap kendaraan dari jalan besar. Jam dinding, uang kuno, topeng kayu, serta batu akik memenuhi meja-meja sempit.

Pak Karto menerima keris itu dengan dua tangan, tetapi matanya hanya memeriksanya sebentar.

"Sarungnya baru. Bilahnya juga sudah banyak karat." Ia mengetuk gagang keris dengan kuku. "Cuma barang dekorasi, Mas. Tidak layak disebut pusaka."

"Rizal bilang ini sudah ada di keluarganya selama beberapa generasi."

Pak Karto terkekeh. "Semua orang bilang begitu. Kalau saya baik hati, saya berani ambil dua juta. Lebih dari itu saya rugi biaya bersihkan karat."

Dua juta.

Angka itu menyakitkan karena terlalu kecil. Namun, notifikasi tagihan kos sudah menyala di layar. Nama Sinta berada tepat di bawahnya dalam daftar percakapan.

"Bapak yakin ini bukan keris tua yang berharga?"

"Kalau tidak percaya, silakan keliling." Pak Karto mendorong keris itu kembali setengah jengkal. "Tapi pasar mau tutup. Besok belum tentu saya masih berminat."

Bayu memandang bilah berlekuk yang kusam itu. Ia tidak tahu pamor, tangguh, atau dapur keris. Yang ia tahu hanya satu: Rizal mempercayainya.

Ia seharusnya pergi.

Namun kebutuhan tidak pernah memberi orang miskin cukup waktu untuk menjadi hati-hati.

"Dua juta. Transfer sekarang."

Pak Karto tersenyum.

Lima menit kemudian, keris itu menghilang ke bawah meja. Uang masuk ke rekening Bayu. Ia langsung mentransfer satu setengah juta kepada Sinta dengan pesan pendek: Buat makan dulu. Mas akan kirim sisanya.

Setelah membayar tunggakan kamar dan membeli tiket bus malam, saldonya kembali di bawah lima ratus ribu.

Di ujung lorong, seorang pedagang tua menatap sarung kosong di tangan Bayu.

"Keris yang barusan dibawa Pak Karto itu," katanya pelan. "Ada ukiran naga di gandiknya?"

Bayu berhenti.

"Bapak melihatnya?"

"Sekilas. Kalau benar itu Nagasasra lama, dua juta bukan harga. Dua miliar pun orang akan berebut, tergantung tangguh dan asalnya."

Darah Bayu terasa turun ke telapak kaki.

Ia berbalik dan berlari.

Meja Pak Karto sudah kosong.

Kain penutup, lampu, bahkan papan nama kecilnya lenyap. Pedagang di sebelah mengangkat bahu. Nomor yang diberikan Pak Karto tidak aktif. Rekening penerima memakai nama orang lain.

Bayu berdiri di lorong yang mulai gelap dengan sarung kosong di tangannya.

Pekerjaan hilang.

Pertunangan putus.

Pusaka sahabatnya ikut lenyap karena keputusan yang ia buat sendiri.

Malam itu ia naik bus menuju Pacitan. Hampir enam jam ia duduk dekat jendela, memegang tas di pangkuan, sementara lampu kota berganti sawah dan bukit gelap. Ia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Ia tidak sanggup menjawab pertanyaan Ayah tentang pekerjaan atau melihat Ibu menghitung sisa beras.

Menjelang pagi, ia turun dan meneruskan perjalanan ke Pantai Klayar.

Laut sedang keras. Ombak menghantam karang dan menyemburkan air tinggi ke udara. Bayu duduk di pasir basah, mengeluarkan surat pemutusan kerja, lalu meremasnya hingga menjadi bola kecil.

"Kalau kertas itu dibuang ke laut, utangmu ikut hanyut?"

Bayu menoleh.

Seorang kakek duduk di atas batu karang beberapa meter darinya. Celana kainnya tergulung sampai betis. Sebatang kail sederhana terjepit di antara jari-jarinya. Bayu tidak mendengar orang itu datang.

"Saya tidak berniat membuangnya, Kek."

"Bagus. Laut tidak perlu menanggung masalahmu."

Bayu hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya embusan napas kasar.

Kakek itu menatap pelampungnya. "Kau kehilangan pekerjaan, kehilangan perempuan yang menunggumu, lalu menjual barang milik sahabatmu kepada penipu. Sekarang kau takut pulang karena tidak punya uang untuk adikmu."

Jari Bayu mengeras di atas kertas.

"Siapa Kakek?"

"Orang yang sedang memancing."

"Dari mana Kakek tahu semua itu?"

"Wajah orang yang kehilangan uang berbeda dengan wajah orang yang kehilangan harga diri." Kakek itu menarik senarnya. Kailnya kosong. "Wajahmu membawa keduanya."

Bayu bangkit. "Kalau Kakek sedang mempermainkan saya—"

"Kau terlalu miskin untuk dipermainkan."

Kalimat itu telak, tetapi tidak terdengar menghina.

Kakek tersebut menancapkan kailnya ke pasir, lalu berdiri. Matanya jernih, terlalu jernih untuk seseorang seusianya.

"Kau menyesal karena tidak bisa melihat nilai barang yang ada di tanganmu."

Bayu tidak menjawab.

"Kalau begitu, aku beri kau sepasang mata." Kakek itu mengangkat dua jari. "Cukup untuk melihat yang tersembunyi dan menjauh dari celaka. Selebihnya, tetap bergantung pada otak dan nyalimu sendiri."

Dua jari itu menyentuh kening Bayu.

Dingin.

Rasa dingin tajam menusuk ke belakang kedua matanya, jauh lebih menusuk daripada air laut. Cahaya putih menelan pantai. Bayu mundur satu langkah, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh berlutut.

Ketika penglihatannya kembali, batu karang di depannya kosong.

Kail itu tidak ada.

Jejak kaki pun tidak ada.

Hanya suara ombak dan sebutir kerikil hitam di pasir.

Bayu mengambil kerikil itu. Saat ia memusatkan pandangan, permukaan hitamnya seolah terkelupas. Ia melihat retakan halus di dalam batu, butir pasir yang terperangkap, bahkan garis mineral pucat yang tak mungkin terlihat dari luar.

Ia menjatuhkannya.

Napasnya tertahan.

Bayu mencoba lagi pada cangkang kerang, kayu hanyut, dan kaleng berkarat. Lapisan benda-benda itu menjadi bening di matanya. Pada sebuah pecahan batu akik kecil, cahaya keemasan muncul samar dari dalamnya.

Mata Dewa.

Nama itu muncul begitu saja di benaknya, tanpa penjelasan.

Bayu menoleh ke laut, tetapi kakek tadi benar-benar telah lenyap.

Ia pulang sebentar untuk mengganti pakaian, lalu mengambil bus siang kembali ke Surabaya. Perjalanan hampir enam jam itu terasa berbeda. Di terminal, di warung istirahat, bahkan pada jam tua milik penumpang di depannya, ia melihat lapisan, retakan, serta cahaya yang sebelumnya tidak pernah ada.

Saat ia tiba di Kembang Jepun, hari sudah menjelang petang pada hari kedua.

Pak Karto belum kembali.

Namun, di bagian lain pasar, seorang pemilik lapak sedang menumpuk puluhan batu kasar berwarna abu-abu. Bagi orang lain, semuanya tampak seperti batu kotor.

Bagi Bayu, tidak.

Salah satu batu memancarkan cahaya emas paling terang yang dilihatnya sejak meninggalkan Pantai Klayar.

Jantung Bayu berdegup lebih cepat.

Jika cahaya itu benar-benar berarti nilai, maka hidupnya baru saja berubah.

Episode 2

Bab 2: Taruhan Pertama dengan Nona Besar

Bayu tidak langsung menyentuh batu yang bercahaya itu.

Ia berdiri di depan lapak seolah sedang memilih biasa, lalu mengalihkan pandangan ke batu-batu lain. Setiap kali ia memusatkan mata, kulit kasar di permukaan menjadi transparan. Retakan, rongga, perubahan warna, dan serat mineral tersusun di hadapannya seperti gambar potongan.

Beberapa batu hanya berisi warna keruh.

Sebagian memiliki retakan sampai ke tengah.

Batu yang tadi menarik perhatiannya berbeda. Di balik kulit hitam kusam, terdapat warna biru kehijauan yang padat. Hampir tidak ada retakan besar. Cahaya emas mengalir dari pusatnya dan membuat tengkuk Bayu meremang.

Ia memindai satu batu lagi di bawah meja.

Bentuknya miring dan tidak menarik. Namun, di dalamnya tersimpan warna hijau bening dengan garis keemasan tipis. Cahayanya bahkan lebih kuat.

Bayu menahan napas dan menarik kembali pandangannya. Rasa berat muncul di belakang mata, seperti setelah terlalu lama menatap layar.

Kemampuan ini nyata.

Masalahnya, kedua batu itu memiliki label harga total dua belas juta rupiah.

Saldo Bayu hanya Rp287.300.

"Kalau cuma mau lihat, jangan menghalangi pembeli."

Pemilik lapak mengibaskan kain lap ke arah batu. Dua pembeli di sebelah Bayu melirik sepatu tuanya, lalu kembali berbicara tentang kualitas permukaan seolah ia tidak ada.

Bayu mundur setengah langkah.

Ia sudah memegang jawaban, tetapi tidak memiliki biaya untuk membuka soal.

"Mas bisa baca batu?"

Suara perempuan itu datang dari sisi kanan.

Bayu menoleh.

Seorang perempuan muda mengenakan blazer biru tua berdiri di tepi lapak. Potongannya sederhana, tetapi jatuh sempurna di tubuhnya. Anting giok kecil di telinganya lebih halus daripada semua perhiasan yang dipajang penjual di lorong itu.

Di belakangnya, Melati Anggraini memegang dua kantong belanja dan mengamati Bayu tanpa berusaha menyembunyikan rasa curiga.

Bayu mengenali tipe perempuan di depannya dari reaksi pemilik lapak yang langsung merapikan posisi duduk.

"Bisa sedikit," jawabnya.

Alis perempuan itu terangkat. "Sedikit itu seberapa?"

"Cukup untuk tahu mana yang tidak layak dibeli."

"Jawaban aman," sela Melati.

Perempuan berblazer itu justru tersenyum tipis. "Saya Intan. Intan Wibowo."

Nama Wibowo dikenal di pasar perhiasan Surabaya. Keluarganya memiliki jaringan toko, bengkel potong, dan pemasok batu mulia. Bayu pernah melihat logo perusahaan mereka di pusat perbelanjaan, tetapi belum pernah berhadapan dengan salah satu anggotanya.

"Bayu Prasetyo."

"Saya mencari hadiah ulang tahun untuk Eyang." Intan menunjuk tumpukan batu. "Barang jadi terlalu mudah. Saya ingin memilih bahan sendiri."

Bayu melirik batu hitam yang bercahaya. "Kalau untuk hadiah, lapak ini punya dua pilihan yang menarik."

"Yang mana?"

Ia mengambil batu pertama. Permukaannya hitam, sebagian tertutup kerak kapur, dan bentuknya hampir seperti bongkahan aspal.

Pemilik lapak tertawa pendek. "Jangan yang itu, Mbak Intan. Sudah berbulan-bulan tidak ada yang mau. Kulitnya jelek."

Bayu menaruhnya di atas timbangan, lalu mengeluarkan batu miring dari bawah meja.

Tawa pemilik lapak semakin keras.

"Yang satu itu lebih parah. Lihat bentuknya. Kalau dipotong salah sedikit, habis."

Melati mendekat pada Intan. "Tan, kita datang untuk cari hadiah. Jangan biayai eksperimen orang yang baru kita kenal."

Intan tidak menjawab. Ia mengambil batu pertama, memeriksa kerak dan garis di kulitnya, lalu memandang Bayu.

"Alasanmu?"

Bayu sudah menyiapkannya.

"Kulit hitamnya memang buruk, tapi berat jenisnya tidak cocok dengan batu kosong sebesar ini. Kerak kapurnya juga menutup bagian yang paling padat. Untuk batu kedua, bentuk miring tetap aman selama arah potongnya mengikuti sumbu ini."

Ia menarik garis dengan ujung jari, persis beberapa milimeter dari retakan yang hanya bisa dilihatnya dari dalam.

"Mas bicara seperti orang yang sudah sering memotong batu," kata Intan.

"Saya sering memperhatikan."

Itu tidak sepenuhnya bohong. Mulai hari ini, ia bisa memperhatikan lebih dalam daripada siapa pun.

Seorang pembeli berkemeja batik berhenti di belakang mereka. "Mbak, kalau uangnya berlebih, kasih saja ke saya. Batu seperti itu paling bagus dijadikan pemberat pintu."

Beberapa orang tertawa.

Pemilik lapak mengangkat kedua tangan. "Saya sudah memperingatkan, ya. Total dua belas juta. Setelah dipotong, tidak bisa dikembalikan."

Intan memandang Bayu cukup lama.

"Berapa persen kamu yakin?"

"Kalau saya bilang seratus persen, Mbak Intan pasti menganggap saya penipu."

"Benar."

"Jadi anggap saja sembilan puluh. Sepuluh persennya untuk hal yang belum saya pelajari."

Melati menutup mata sesaat. "Itu bukan jawaban yang lebih aman."

Untuk pertama kalinya, senyum Intan terlihat jelas.

"Baik. Saya keluar uang, kamu pilih batu. Untung bagi dua. Kalau rugi, kerugian saya tanggung."

Bayu menatapnya. "Mbak Intan bahkan belum tahu saya siapa."

"Saya tahu kamu tidak punya modal. Kalau punya, kamu sudah membeli dua batu itu sebelum saya datang." Intan mengeluarkan ponsel. "Dan saya tahu kamu tidak memilih batu yang terlihat mahal hanya untuk membuat saya terkesan. Itu cukup untuk satu percobaan."

Ia memindai kode pembayaran lapak.

Notifikasi dua belas juta rupiah berbunyi.

Seorang pedagang tua yang mengenali Intan berdeham. "Mbak Intan, nama Wibowo ikut dilihat orang. Kalau dua batu ini kosong, besok pasar akan bilang keluarga Anda membeli sampah dari orang asing."

Intan menyimpan ponselnya. "Yang membeli saya, Pak. Yang menanggung keputusan juga saya. Jangan memakai nama keluarga saya untuk menekan Mas Bayu sebelum batunya dibuka."

Pedagang itu terdiam. Bayu melirik Intan sekali. Perempuan ini berani mengeluarkan uang dan menanggung risikonya sendiri.

Tawa di sekitar mereka berhenti sebentar, lalu berubah menjadi bisikan. Bagi Intan, jumlah itu mungkin tidak besar. Namun semua orang kini ingin melihat apakah perempuan dari keluarga Wibowo baru saja membeli dua batu sampah karena ucapan seorang pria bersepatu usang.

"Potong sekarang," kata Intan.

Pemilik lapak menunjuk kios pemotongan di seberang lorong. "Tanggung sendiri hasilnya."

Mereka membawa kedua batu ke meja potong. Bau air, serbuk mineral, dan logam panas memenuhi udara. Tukang potong menimbang batu pertama, lalu melihat garis yang dibuat Bayu.

"Lewat sini?"

"Geser tiga milimeter ke kiri," kata Bayu. "Jangan terlalu dalam pada putaran pertama."

Pembeli berkemeja batik menyilangkan tangan. "Gaya sekali. Nanti isinya putih semua."

"Kalau begitu, Bapak tidak perlu khawatir kehilangan barang bagus," jawab Bayu tenang.

Beberapa orang menahan tawa. Wajah pembeli itu mengeras.

Intan berdiri di samping Bayu. Jarinya masih memegang kuitansi dua belas juta.

"Kalau gagal, apa yang akan kamu lakukan?"

"Mencari tahu bagian mana dari penilaian saya yang salah."

"Bukan kabur?"

Bayu menoleh kepadanya. "Kalau saya ingin kabur, saya tidak akan memberikan nama lengkap."

Tukang potong mengunci batu pada ragum. Air mulai mengalir. Mata gerinda berputar dan mengeluarkan dengung tajam.

Orang-orang merapat.

Melati berhenti mengeluh dan ikut menatap meja. Intan menggenggam kuitansi sampai kertasnya terlipat.

Mata gerinda turun tepat ke garis hitam.

Di mata semua orang, itu hanyalah batu buruk yang akan membuang dua belas juta rupiah.

Di mata Bayu, bagian dalamnya menyala seperti emas.

Episode 3

Bab 3: Lima Puluh Juta Pertama

Mata gerinda menggigit kulit batu.

Debu hitam bercampur air mengalir ke baki. Dengung mesin menutup semua bisikan, tetapi Bayu masih bisa melihat bibir pembeli berkemeja batik membentuk kata yang sama.

Sampah.

Tukang potong mengikuti garis Bayu. Tiga milimeter ke kiri, tidak lebih. Ketika bilah melewati kerak terakhir, ia mematikan mesin dan membuka pengunci.

Dua sisi batu terpisah.

Warna biru kehijauan muncul di bawah air.

Hening.

Tukang potong mengusap permukaan dengan ibu jari, lalu menyiramnya sekali lagi. Warna itu semakin dalam, bersih, dan padat. Tidak ada retakan besar. Cahaya dari lampu kios menembus bagian tipisnya dan memantul seperti air laut.

"Bacan Doko," gumam seseorang.

Pemilik lapak menerobos ke depan. "Tidak mungkin."

Tukang potong mengangkat salah satu belahan. "Bacan Doko kualitas tinggi. Biru hijaunya rata. Bersih pula."

Kerumunan pecah.

Orang yang tadi menyebut batu itu pemberat pintu menjulurkan leher paling jauh. Senyumnya sudah hilang. Melati menutup mulut. Intan tidak bergerak, tetapi kuitansi yang diremasnya perlahan terbuka di antara jari.

"Berapa nilainya?" tanya Intan.

Seorang pedagang batu jadi mengangkat tangan. "Kalau hasil gosoknya stabil, saya berani lima belas juta untuk bagian ini."

"Delapan belas," sahut orang lain.

"Dua puluh. Saya bayar sekarang."

Pemilik lapak memandang label harga yang sudah dilepas dari batu itu. Wajahnya tampak seperti baru sadar ia menjual dompet berisi uang dengan harga kulitnya.

Bayu tidak ikut menawar. Matanya tertuju pada batu kedua.

"Lanjut," katanya.

Tukang potong kini tidak lagi memandangnya sebagai pemuda yang sedang bergaya. "Garis yang tadi, Mas Bayu?"

"Ya. Putaran pelan. Berhenti begitu lapisan abu-abu habis."

Pembeli berkemeja batik mendengus, lebih pelan dari sebelumnya. "Satu batu bagus bisa saja kebetulan."

Bayu mengangguk. "Benar, Pak. Karena itu masih ada batu kedua."

Jawaban tenangnya membuat beberapa orang tersenyum. Pria itu memalingkan muka.

Mesin kembali menyala.

Batu berbentuk miring itu lebih keras. Tukang potong harus menambah aliran air dan mengurangi tekanan. Garis abu-abu terbuka sedikit demi sedikit, lalu sebuah warna hijau bening muncul.

Tukang potong langsung menghentikan mesin.

"Jangan dibelah penuh," kata Bayu.

Ia tahu persis di mana garis emas di dalam batu berakhir. Potongan lebih dalam akan mengurangi bidang terbaiknya.

Tukang potong membuka jendela kecil dengan gerinda tangan. Setelah permukaannya dibersihkan, serat keemasan tipis tampak mengambang di dalam hijau jernih.

"Giok high-ice," ujar pedagang batu jadi. Suaranya berubah serius. "Ada serat emas."

Ia mengambil lampu senter, meminta izin pada Intan, lalu memeriksa dari tiga sudut. Cahaya menembus jauh tanpa tertahan kabut tebal.

"Bahan seperti ini bisa lewat tiga puluh juta kalau bidang bersihnya sesuai perkiraan."

Kerumunan kembali gaduh, kali ini lebih keras.

Dua batu yang dibeli seharga dua belas juta telah membuka nilai berkali-kali lipat hanya dalam beberapa menit.

Pemilik lapak mencoba tertawa. "Mbak Intan memang beruntung."

Intan menoleh kepadanya. "Tadi Bapak bilang keduanya sampah."

"Saya cuma—"

"Kalau hasilnya buruk, itu salah Mas Bayu. Kalau hasilnya bagus, saya yang beruntung?"

Pemilik lapak kehilangan kata-kata.

Intan mengalihkan pandangan kepada Bayu. Tatapannya kini menyimpan rasa ingin tahu yang serius.

"Sembilan puluh persen?"

"Saya menyisakan sepuluh persen supaya tidak terdengar sombong."

Melati menatapnya selama dua detik, lalu tertawa pendek. "Sekarang justru terdengar sombong."

"Tapi dia berhasil," kata Intan.

Pedagang batu jadi mengeluarkan kartu nama. "Saya ambil dua-duanya lima puluh juta. Barang masih berupa bahan, risiko gosok di saya. Transfer hari ini."

Orang lain hendak menyela, tetapi Intan mengangkat telapak tangan. Ia meminta pedagang itu menjelaskan berat, perkiraan hasil, dan risiko retak tersembunyi. Bayu memperhatikan caranya bertanya. Ringkas, tepat, tanpa tergoda kegaduhan.

Ia memahami nilai batu dan berani menanggung risiko pembelian.

"Lima puluh juta dan transaksi tercatat," putus Intan. "Buat kuitansi dengan foto kedua bahan."

Pedagang itu setuju.

Dokumen sederhana disiapkan. Foto diambil. Berat dicatat. Nomor rekening diminta.

Bayu menoleh pada Intan. "Rekening Mbak Intan dulu. Modalnya milik Mbak."

"Tidak." Intan mendorong ponsel ke arahnya. "Masukkan rekeningmu."

"Kesepakatan kita bagi dua."

"Saya berubah pikiran."

"Itu bukan kebiasaan bisnis yang baik."

Intan mengangkat alis, seolah tidak menyangka seorang pria dengan saldo di bawah setengah juta akan mengajarinya disiplin bisnis.

"Anggap saja hadiah perkenalan," katanya. "Saya membayar dua belas juta untuk menguji penilaianmu. Hasil uji itu lebih berharga daripada modalnya. Lima puluh juta milikmu."

Bayu tidak langsung menerima.

"Kalau begitu, saya berutang satu penilaian kepada Mbak Intan. Nilainya tidak boleh lebih kecil dari hari ini."

"Sepakat."

Pedagang memasukkan nomor rekening Bayu.

Beberapa detik kemudian, ponsel retak itu bergetar.

Rp50.000.000 telah masuk.

Angka tersebut memenuhi layar, melintang tepat di bawah retakan yang tadi pagi membelah saldo Rp432.700.

Bayu menatapnya lama.

Itu bukan angka di dalam mimpi. Ada nama pengirim, waktu transaksi, dan bukti pembelian. Untuk pertama kalinya sejak merantau, ia memiliki uang yang cukup untuk bernapas tanpa menghitung harga setiap porsi makan.

"Mas Bayu."

Intan menyodorkan sebuah kartu nama tebal berwarna putih gading. Nama lengkapnya tercetak timbul, dengan logo Wibowo di sudut kiri.

"Hubungi saya kalau kamu menemukan batu lain seperti ini."

Ponselnya berdering sebelum Bayu sempat menjawab. Intan melihat layar, lalu wajahnya berubah serius.

"Saya harus pergi. Melati, ayo."

Ia melangkah dua kali, kemudian menoleh.

"Dan jangan menghilang sebelum melunasi satu penilaian itu."

Bayu mengangkat kartu namanya. "Saya tidak suka utang."

Intan tersenyum, lalu pergi bersama Melati.

Kerumunan mulai bubar. Orang-orang yang sebelumnya menertawakan pilihan Bayu kini menanyakan dari mana ia belajar, apakah ia menerima jasa memilih batu, bahkan kapan ia akan datang lagi. Pemilik lapak tidak berani menatapnya.

"Yu!"

Sebuah suara keras memotong semua pertanyaan.

Hendra Maulana menyelip di antara dua orang sambil masih mengenakan kaus bengkel bernoda oli. Sandalnya mengeluarkan bunyi tepuk cepat. Ia memandang meja potong, dua kuitansi, lalu layar ponsel Bayu.

Matanya membulat.

"Lima puluh juta?"

"Pelankan suaramu, Ndra."

"Pelan bagaimana? Koen kemarin masih tanya tempat makan yang boleh utang! Sekarang sekali potong dapat lima puluh juta? Rek, aku tiap hari memotong rantai motor. Kenapa tidak pernah keluar giok?"

Tukang potong tertawa. Beberapa orang yang belum pergi ikut tertawa.

Bayu memasukkan ponsel ke saku. "Karena yang kamu potong rantai motor."

"Cie. Baru kaya lima menit, jawabannya sudah mahal."

Hendra menepuk bahunya, lalu menurunkan suara. "Serius, Yu. Koen benar-benar bisa baca batu?"

"Sedikit."

"Sedikit apanya? Dua batu, dua-duanya jadi!"

"Aku masih belajar."

Hendra menatapnya, ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih tidak memaksa. Itulah sebabnya Bayu selalu mempercayainya. Hendra banyak bicara, namun tahu kapan harus menjaga batas.

"Kalau begitu pasar ini terlalu kecil," katanya. "Koen pernah dengar Martapura? Kalimantan Selatan. Pasarnya besar, pedagang datang dari mana-mana, dan bahan mentah masuk terus. Kalau Surabaya kolam, Martapura itu lautnya."

Martapura.

Bayu menyimpan nama itu bersama kartu Intan.

Sebelum meninggalkan kios, ia membuka aplikasi bank dan mentransfer lima juta rupiah kepada Sinta.

Pesannya hanya satu baris.

Pakai untuk kuliah. Mas baik-baik saja.

Saldo tersisa Rp45 juta.

Hendra mengintip dari samping. "Kirim ke Sinta dulu?"

"Dia menunggu."

Hendra tidak bercanda kali ini. Ia mengangguk dan merangkul bahu Bayu saat mereka berjalan keluar dari pasar.

Bayu pulang membawa kartu nama pewaris keluarga Wibowo di saku, uang pertama yang mengubah hidup di ponsel, dan tujuan baru bernama Martapura di kepalanya.

Lima puluh juta rupiah terasa sangat banyak.

Namun Bayu tahu, itu baru potongan pertama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!