Indonesia
NovelToon NovelToon

Kapten Hatiku

Episode 1

Bab 1

Malam yang Mengubah Segalanya

"Masuklah sebentar. Pak Teguh cuma mau bicara."

Telapak tangan Revan menekan punggung Keira, mendorongnya ke arah pintu ruang VIP yang setengah terbuka.

Keira menahan kusen. Tiga garis emas di bahu seragam pilotnya bergetar bersama tubuhnya. Musik dari ballroom hotel masih berdentum di ujung koridor, tetapi suara itu terdengar seperti datang dari dasar air.

"Kenapa harus di kamar pribadi?" Lidahnya terasa tebal. "Kalau soal jadwal terbang, kita bicara di kantor."

Revan mendekat, senyum yang dipakainya sepanjang acara tahunan NusAir telah hilang. "Jangan bikin malu aku. Kamu tahu berapa banyak orang yang ingin mendapat waktu khusus dari Pak Teguh?"

Di belakangnya, Wenny menyilangkan tangan di depan gaun merah berkilau. Gelas sampanye kosong masih ada di tangannya.

"Keira memang suka merasa paling istimewa," katanya. "Sudah ditawari kesempatan, malah jual mahal."

Keira menatap gelas itu. Tadi Wenny yang menyerahkannya. Revan yang berkata satu teguk saja demi menghormati direksi.

Sekarang tengkuknya terbakar. Pandangannya berbayang. Ini bukan mabuk biasa.

Pintu terbuka lebih lebar. Pak Teguh berdiri di dalam, jasnya sudah dilepas, dua kancing kemeja teratas terbuka. Senyum pria itu membuat isi perut Keira berbalik.

"Masuk, Keira." Tatapannya turun perlahan dari wajah ke tubuh Keira. "Kita bisa membicarakan masa depanmu dengan tenang."

Keira mundur satu langkah. Revan kembali menahannya.

"Lepaskan aku."

"Jangan lebay." Jemari Revan mencengkeram lengannya. "Pak Teguh bisa memastikan kamu masuk daftar penerbangan utama. Ini juga demi karier kita."

Karier kita.

Dua kata itu memotong kabut di kepala Keira.

Dia menoleh tajam. "Kamu tahu minuman itu dicampur sesuatu?"

Revan tidak menjawab. Hanya sepersekian detik, tetapi pandangannya beralih kepada Wenny.

Cukup.

Keira mengangkat siku sekuat tenaga. Ujungnya menghantam dada Revan. Saat cengkeraman pria itu longgar, dia menendang pintu VIP hingga menghantam lutut Pak Teguh, lalu berlari.

"Keira!"

Sepatu haknya menghantam lantai marmer. Sekali, dua kali, lalu terlepas dari kaki kanan. Dia tidak kembali mengambilnya.

"Tangkap dia!" bentak Pak Teguh.

Keira menerobos pintu servis. Udara lembap dan bau cairan pembersih menyergapnya. Seorang pramusaji yang membawa baki nyaris tertabrak.

"Lift ke parkiran di mana?"

Pramusaji itu menunjuk ke kiri. "Di ujung, Bu. Tapi Anda tidak apa-apa?"

Keira sudah berlari lagi sebelum pertanyaan itu selesai.

Pintu lift terbuka. Dia masuk, menekan tombol B3 berkali-kali, lalu menyandarkan tubuh ke dinding logam yang dingin. Bayangannya di pintu tampak kacau. Sanggulnya terlepas. Lipstik merah menempel di sudut bibir. Satu kaki hanya dibungkus stoking tipis.

Ponselnya bergetar.

Revan.

Keira menolak panggilan itu. Pesan WhatsApp masuk satu demi satu.

Jangan memperbesar masalah.

Kembali sekarang.

Kamu akan menyesal.

Dia memotret layar dengan tangan gemetar. Bukti. Apa pun yang terjadi setelah malam ini, dia membutuhkan bukti.

Lift berhenti di B2.

Keira membeku. Dia menekan tombol tutup, tetapi sebuah tangan menyelip di antara pintu.

Revan muncul dengan napas berat.

"Kita bicara baik-baik."

Keira menendang tulang keringnya dengan kaki telanjang. Revan mengumpat dan tangannya terlepas. Pintu menutup tepat ketika Wenny berlari dari ujung lorong.

Baru saat angka B3 menyala, lutut Keira kehilangan tenaga.

Dia harus keluar dari hotel. Harus mencapai pos keamanan atau jalan raya. Setelah itu dia akan menelepon Vera, polisi, siapa saja.

Pintu terbuka ke area parkir bawah tanah SCBD yang hampir kosong.

Lampu neon putih berkelip di langit-langit beton. Deretan mobil gelap berdiri seperti bayangan bisu. Udara berbau oli, debu, dan sisa hujan yang terbawa ban.

Keira melangkah cepat sambil memegangi dinding. Seragam yang biasanya membuat punggungnya tegak kini terasa menjerat leher. Keringat dingin merembes di bawah kerah.

Di belakangnya, lift berbunyi lagi.

"Dia turun ke sini!" Suara Wenny memantul di antara pilar.

Keira memaksa kakinya bergerak. Pandangannya menyempit. Huruf B3 di pilar beton terbelah menjadi dua.

Lalu dia menabrak sesuatu yang keras.

Bukan pilar.

Dua tangan menangkap bahunya sebelum dia jatuh. Aroma kayu, hujan, dan kopi pahit menembus bau parkiran.

"Pelan."

Suara pria. Rendah, tenang, terlalu dekat.

Keira mendongak. Wajah lelaki di depannya hanya terkena separuh cahaya. Kemeja hitamnya sederhana, tanpa dasi atau logo merek. Namun, cara dia berdiri sama sekali tidak terlihat seperti orang yang bisa didorong siapa pun.

Keira menarik diri. "Jangan sentuh aku."

Lelaki itu langsung melepas bahunya, tetapi telapak tangannya tetap terbuka di dekat siku Keira, siap menangkap jika dia limbung lagi.

"Baik. Tapi kamu hampir jatuh."

Suara langkah mendekat.

"Keira!" Revan kini ikut berteriak. "Jangan bikin keributan!"

Wajah Keira kehilangan warna. Lelaki asing itu mengikuti arah pandangannya.

"Mereka mengejarmu?"

"Aku tidak mengenalmu."

"Itu bukan jawaban."

Keira menggigit bagian dalam pipinya agar tetap sadar. "Mereka memasukkan sesuatu ke minumanku."

Sorot mata lelaki itu berubah. Bukan kaget. Lebih dingin dari lantai beton di bawah kaki Keira.

"Bisa berjalan?"

"Bisa."

Dia mencoba membuktikannya dan nyaris tersandung kaki sendiri.

Lelaki itu melirik sedan abu-abu yang terparkir dua meter dari mereka. Pintu belakangnya belum terkunci.

"Masuk. Hanya sampai mereka lewat."

Keira ragu. Bersembunyi di mobil seorang pria asing terdengar sama buruknya dengan bertahan di tempat terbuka.

Suara Pak Teguh terdengar dari lorong lift. "Cari sampai ketemu!"

Lelaki itu membuka pintu belakang. Dia tidak menarik Keira, tidak menyentuhnya lagi. Hanya berdiri di antara tubuh Keira dan arah datang tiga orang itu.

"Pilih cepat," katanya.

Keira masuk.

Lelaki itu menyusul dan menutup pintu tanpa suara. Ruang di dalam mobil sempit, gelap, dan dipenuhi kehangatan tubuh mereka. Keira bergeser sampai bahunya menyentuh pintu seberang. Jantungnya memukul tulang rusuk begitu keras hingga dia yakin lelaki itu bisa mendengarnya.

"Kunci," bisiknya.

Pria itu menekan tombol. Bunyi klik terdengar tepat ketika langkah kaki melewati bagian depan mobil.

"Dia tidak mungkin jauh," kata Wenny.

"Kalau dia membuat laporan, kalian berdua ikut jatuh," desis Pak Teguh. "Paham?"

Keira meraih ponsel. Pria di sampingnya menahan gerakannya dengan satu telunjuk di udara, bukan pada tubuhnya. Layar ponsel Keira terlalu terang. Dia menurunkan kecerahan, membuka perekam, lalu meletakkannya di jok.

"Cari di tangga darurat," perintah Revan.

Bayangan mereka berhenti di samping mobil. Keira menahan napas. Ujung jarinya mencengkeram rok seragam sampai buku-bukunya memutih.

Pria asing itu melepas jas tipis yang tersampir di lengannya, lalu menutupkannya ke bahu Keira. Gerakannya lambat, memberi kesempatan untuk menolak.

Keira tidak menolak. Tubuhnya menggigil terlalu keras.

"Lihat aku," bisiknya.

Keira menoleh.

"Tarik napas pelan. Jangan sampai kamu pingsan."

"Aku tidak akan pingsan."

"Bagus. Marah saja. Itu lebih berguna."

Untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang tidak menyuruhnya diam, tersenyum, atau menjaga nama baik orang lain.

Langkah kaki akhirnya menjauh.

Keira mengembuskan napas, tetapi pria itu belum membuka kunci.

"Tunggu satu menit."

"Kamu siapa?"

"Orang yang kebetulan lewat."

"Orang yang kebetulan lewat tidak biasa memberi perintah seperti itu."

Sudut bibirnya bergerak tipis. "Kamu masih bisa curiga. Berarti obatnya belum menang."

Keira hendak membalas, tetapi lampu mobil dari ujung jalur menyapu kaca. Sebuah Rolls-Royce hitam meluncur mendekat dan berhenti beberapa langkah dari sedan mereka.

Seorang pria berjas turun dari kursi depan. Dia membuka pintu belakang Rolls-Royce, lalu memandang ke arah lelaki di samping Keira.

"Bos, mobilnya sudah siap."

Keira menatap jas sederhana yang menyelimuti bahunya, lalu jam tangan gelap di pergelangan lelaki itu. Tidak ada sesuatu pun yang tampak murahan. Dia hanya terlalu kacau untuk menyadarinya sejak awal.

Lelaki itu membuka pintu sedan dan keluar. Udara dingin menyusup masuk.

"Tunggu," kata Keira. "Jasmu."

"Pakai dulu. Cari petugas keamanan di lobi timur. Aku sudah mengirim orang ke sana."

Keira mengerutkan kening. "Mengirim orang?"

Dia tidak menjelaskan. Matanya turun pada kartu identitas yang tergantung miring di dada Keira, tetapi kartu itu terbalik.

"Nama kamu siapa?"

Sebelum Keira sempat menjawab, suara pintu lift berdenting lagi.

Pria berjas di dekat Rolls-Royce menegang. "Bos."

Lelaki asing itu mundur satu langkah. Pintu mobil mewah tertutup setelah dia masuk, lalu kendaraan hitam itu melaju meninggalkan garis cahaya di lantai basah.

Keira tetap duduk di sedan yang kini terbuka, memeluk jasnya erat-erat.

"Bu Keira?"

Dua petugas keamanan hotel berlari mendekat bersama seorang manajer perempuan. Yang tertua melepas jaket seragamnya untuk menutupi kaki Keira yang hanya berstoking.

"Kami menerima laporan ada tamu yang membutuhkan bantuan. Ambulans sedang menuju lobi timur. Apakah mereka yang mengejar Anda masih di lantai ini?"

Keira belum sempat menjawab ketika Revan muncul dari balik pilar. Langkahnya melambat saat melihat seragam keamanan.

"Keira, syukurlah kamu di sini." Wajahnya berubah cemas begitu cepat hingga hampir meyakinkan. "Dia minum terlalu banyak. Kami hanya ingin membawanya pulang."

Manajer perempuan itu menatap Keira, tidak beralih kepada Revan. "Apakah Anda mengenal pria ini?"

Keira mengangkat ponselnya. Rekaman masih berjalan. Suara Pak Teguh terdengar jernih dari pengeras kecil.

Kalau dia membuat laporan, kalian berdua ikut jatuh.

Wajah Revan mengeras.

"Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Matikan dulu, kita bicara."

"Jangan dekati saya."

Keira mengucapkannya dalam nada yang biasa dia gunakan di kokpit ketika cuaca buruk mulai mengguncang pesawat. Tidak keras, tetapi tidak menyediakan ruang untuk dibantah.

Petugas keamanan langsung berdiri di antara mereka.

"Pak, silakan mundur."

"Saya pacarnya."

"Tidak malam ini," kata Keira.

Kalimat itu membuat Revan berhenti.

Keira menyerahkan ponselnya kepada manajer perempuan. "Tolong salin rekaman ini dan amankan CCTV dari ballroom, koridor VIP, lift, serta parkiran B2 dan B3. Jangan hapus apa pun. Saya juga mau diperiksa di rumah sakit."

"Baik. Kami akan dampingi Anda."

Revan mencoba maju lagi. Dua petugas menahannya.

"Keira, kalau kamu keluar dari sini sambil membawa masalah ini ke polisi, kariermu di NusAir selesai. Pak Teguh tidak akan tinggal diam."

Keira menatapnya melalui cahaya putih parkiran. Beberapa menit lalu tubuhnya hampir tidak bisa berdiri. Kini telapak kakinya masih sakit dan darah menghangatkan stoking yang robek, tetapi suaranya tetap utuh.

"Kalau karierku hanya bisa bertahan dengan masuk ke kamar Pak Teguh, lebih baik semuanya dibongkar."

Pintu lift kembali terbuka. Wenny berdiri di dalam, tetapi langsung menekan tombol tutup saat melihat petugas keamanan dan ponsel di tangan manajer hotel.

Revan memucat.

Keira tidak memberinya satu kata pun lagi. Dengan bantuan manajer perempuan, dia berdiri dan melangkah menuju lobi timur.

Namun matanya masih terpaku pada lampu belakang Rolls-Royce yang menghilang di tikungan.

Bos.

Siapa sebenarnya pria itu?

Episode 2

Bab 2

Pengkhianatan

Ujung telunjuk Keira menggeser tiga bukti di layar ponsel: foto gelas sampanye, tangkapan layar WhatsApp, dan salinan awal laporan keamanan hotel.

Dia meletakkan ponsel itu di atas meja resto, tepat di depan Revan.

"Katakan sekali lagi kalau kamu tidak tahu minuman itu dicampur sesuatu."

Di seberangnya, Revan tidak menyentuh makanan yang mendidih di panci kecil. Asap kuah membatasi wajah mereka seperti dinding tipis.

Siang itu baru dua belas jam berlalu sejak Keira keluar dari rumah sakit. Dokter memastikan kondisinya stabil, tetapi lengan kirinya masih menyisakan bekas jarum infus. Telapak kaki kanannya dibalut perban tipis. Dia datang bukan karena tubuhnya sudah pulih.

Dia datang karena tidak mau memberi Revan kesempatan menyusun kebohongan lebih lama.

"Turunkan suaramu," kata Revan. "Orang-orang melihat."

Keira melirik meja sebelah. Dua pengunjung memang menoleh, lalu pura-pura sibuk memanggang daging.

"Semalam kamu tidak keberatan Pak Teguh melihatku hampir tidak sadar. Sekarang kamu malu dilihat orang?"

Rahang Revan menegang. "Aku tidak tahu Wenny menaruh apa di gelasmu."

"Jadi kamu mengakui Wenny yang melakukannya."

"Aku tidak bilang begitu."

"Kamu baru saja bilang."

Revan mengembuskan napas kasar. "Kamu selalu begini. Semua kata dipelintir sampai aku terlihat jahat."

Keira menekan tombol putar. Suara Revan dari rekaman parkiran memenuhi ruang di antara mereka.

Kalau kamu keluar dari sini sambil membawa masalah ini ke polisi, kariermu di NusAir selesai.

Tangannya bergerak hendak merebut ponsel. Keira lebih cepat menariknya.

"Hapus rekaman itu."

"Tidak."

"Keira, dengarkan dulu. Pak Teguh punya kuasa atas jadwal terbang dan evaluasi. Kamu sedang diskors setelah membuat keributan di acara perusahaan. Kalau masalah ini dibawa keluar, bukan cuma aku yang habis. Kamu juga."

"Aku membuat keributan?"

Sendok di tangan Keira jatuh ke piring. Bunyi logamnya membuat beberapa kepala kembali menoleh.

"Kalian memberiku obat, mendorongku ke kamar seorang atasan, lalu mengejarku sampai parkiran. Bagian mana yang menjadi salahku?"

"Tidak ada yang berniat memperkosamu." Revan merendahkan suara. "Pak Teguh cuma suka perempuan yang tahu cara menyenangkan atasan. Kamu terlalu kaku. Terlalu tidak peka."

Ujung jari Keira mendingin.

Dia pernah membela Revan di depan Meilin. Pernah menukar jadwal terbang agar bisa merayakan ulang tahun pria itu. Pernah percaya ketika Revan berkata kedekatannya dengan Wenny hanya bagian dari urusan kerja.

Semua kenangan itu sekarang berbau seperti sampanye semalam.

"Sudah berapa lama?"

Revan mengerutkan kening. "Apa?"

"Kamu dan Wenny."

Ada jeda. Mata Revan bergeser ke panci yang terus mendidih.

"Itu tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam."

"Berapa lama?"

"Jangan mulai drama lain."

Keira mengambil ponsel, membuka sebuah foto yang dikirim akun tak dikenal pagi tadi. Revan dan Wenny keluar dari apartemen yang sama. Tanggalnya tiga bulan lalu.

Wajah Revan berubah.

"Siapa yang mengirim itu?"

"Jadi benar?"

Dia bersandar. Topeng cemasnya akhirnya lepas. "Ya. Benar. Aku bersama Wenny. Puas?"

Asap panas menyentuh wajah Keira, tetapi pipinya terasa kebas.

Revan melanjutkan, kini tanpa rasa bersalah. "Setidaknya dia mengerti caranya mendukung pasangan. Dia tidak sok suci. Dia punya koneksi, ayahnya pemegang saham, dan dia tidak membuat semua hal menjadi pertengkaran."

"Lalu aku?"

"Kamu?" Revan tertawa pendek. "Kamu cuma mengandalkan nilai ujian dan seragam itu. Selalu merasa kemampuanmu cukup. Dunia tidak berjalan seperti kokpit, Keira. Kadang kamu harus tahu kapan tersenyum, kapan diam, dan siapa yang perlu dibuat senang."

Keira menatap pria yang pernah ingin dia ajak membangun masa depan.

Yang duduk di hadapannya adalah orang asing.

"Jadi semalam kamu menyerahkanku kepada Pak Teguh karena Wenny dan ayahnya bisa membantu kariermu?"

"Jangan pakai kata menyerahkan."

"Sebutkan kata yang lebih bagus."

Revan tidak mampu menjawab.

Keira mengangkat gelas air. Jemarinya sempat gemetar, lalu tenang.

"Hubungan kita selesai."

"Jangan mengancamku."

"Aku tidak mengancam. Aku memutuskan hubungan kita."

Dia membanting gelas ke meja. Air tumpah melewati piring Revan dan membasahi lengan kemejanya. Beberapa orang terkesiap. Keira berdiri, memasukkan ponsel serta amplop laporan rumah sakit ke tas.

Revan ikut bangkit. "Kalau kamu pergi sekarang, jangan pernah minta bantuanku di NusAir."

Keira menahan sakit di kaki kanannya dan menatap lurus ke matanya.

"Aku menjadi pilot sebelum mengenalmu. Aku juga akan tetap terbang setelah melupakanmu."

Dia berbalik dan berjalan keluar.

Udara Jakarta menyambutnya dengan panas trotoar dan suara klakson. Keira bertahan sampai pintu kaca resto menutup di belakangnya. Setelah itu napasnya patah.

Dia berhenti di samping pot tanaman, menekan nomor Vera.

Panggilan dijawab sebelum dering kedua.

"Keira? Kamu di mana? Aku sudah mau pesan ojek ke apartemenmu."

Keira membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Keira?"

Satu isakan lolos. Keira menutup wajah dengan telapak tangan.

"Dia mengaku, Ve." Bahunya bergetar. "Tiga bulan. Mungkin lebih. Dan semalam dia benar-benar tahu."

Suara Vera langsung berubah tajam. "Kirim lokasi. Aku datang sekarang. Jangan sendirian."

"Aku cuma mau pulang."

"Kalau begitu tetap di tempat ramai. Pesan mobil, kirim nomor pelatnya ke aku, dan telepon jangan dimatikan. Dengar?"

Keira mengangguk sebelum sadar Vera tidak bisa melihatnya. "Iya."

"Kamu tidak kehilangan orang baik, Keira. Kamu baru saja membuang sampah yang bisa bicara."

Tawa kecil keluar di antara air mata Keira.

"Itu sangat jahat."

"Aku bisa lebih jahat kalau bertemu dia. Sekarang tarik napas."

Keira mengikuti hitungan Vera sampai dadanya tidak lagi sesak. Setelah memastikan mobil pesanannya lima menit lagi tiba, dia mengakhiri panggilan.

Aroma jagung bakar dari warung kecil di tepi trotoar membuatnya menoleh.

Seorang pria duduk di bangku plastik, kemeja hitamnya diganti kaus abu-abu polos. Lengan bajunya digulung. Di satu tangan ada jagung bakar, di tangan lain ponsel dengan layar retak.

Keira mengenali tatapan tenang itu lebih dulu.

Pria dari parkiran.

Dia juga melihat Keira. Pandangannya turun ke perban di kaki, lalu kembali ke wajahnya.

"Kamu tidak pingsan," katanya.

"Kamu terdengar kecewa."

"Justru lega."

Keira mendekat sambil memeluk tas. "Jasmu ada di apartemenku. Sudah dicuci."

"Simpan dulu."

"Aku bukan tempat penitipan barang."

Pria itu menggeser bangku plastik di sampingnya. "Duduk. Wajahmu seperti baru menabrak badai kedua."

"Aku baru putus."

"Selamat."

Keira menatapnya tidak percaya.

"Kalau pria itu yang mengejarmu semalam, selamat adalah kata yang tepat."

Keira duduk. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari resto, napasnya terasa ringan.

"Namaku Keira," katanya. "Kemarin kamu tidak sempat mendapat jawaban."

"Kai."

Hanya Kai. Tidak ada nama keluarga, jabatan, atau penjelasan tentang Rolls-Royce.

Keira melirik jagung di tangannya, kaus sederhana, dan ransel kecil di bawah bangku. Di layar ponselnya terbuka daftar kamar sewa. Beberapa pesan bertuliskan penuh dan belum bisa masuk.

"Kamu belum punya tempat tinggal?"

Kai mengangkat satu alis. "Untuk sementara."

Mobil pesanannya berhenti di depan trotoar. Pengemudi mengirim pesan bahwa dia sudah tiba.

Entah karena pria itu menyelamatkannya, entah karena Keira tidak ingin ada orang lain merasa sendirian malam ini, kalimat itu meluncur lebih cepat daripada akal sehatnya.

"Kamu bisa tinggal di rumahku sementara."

Kai berhenti menggigit jagung.

Keira sendiri membeku.

Apa yang baru saja dia katakan?

Episode 3

Bab 3

Kontrak

"Baik."

Jawaban Kai datang begitu cepat hingga Keira berharap suara klakson menelannya.

"Tunggu. Aku belum selesai berpikir."

"Tapi kamu sudah selesai bicara."

Pria itu menghabiskan gigitan terakhir jagungnya, membuang tongkol ke tempat sampah, lalu mengangkat ransel kecil. Seolah pindah ke rumah perempuan asing adalah keputusan paling biasa di dunia.

"Aku cuma menawarkan sementara," kata Keira. "Satu malam. Mungkin dua."

"Sementara berarti tidak selamanya. Aku paham."

Pengemudi mobil online membunyikan klakson lagi. Keira memijat pelipis.

"Masuk dulu. Kita bicarakan aturan di rumah. Kalau aku berubah pikiran, kamu pergi."

Kai membukakan pintu belakang untuknya. "Kamu selalu mengundang orang sambil mengancam?"

"Aku baru hampir dijual pacarku sendiri. Hari ini bukan waktu yang tepat untuk menguji keramahan."

Senyum tipis di wajah Kai hilang. "Benar. Maaf."

Perjalanan ke Tangerang Selatan memakan waktu hampir satu jam karena lalu lintas sore. Kai tidak banyak bertanya. Dia hanya memastikan kaki Keira tidak tertekan tas, lalu meminta pengemudi menurunkan suhu pendingin ketika wajah Keira memucat.

Apartemen Keira berada di lantai sembilan sebuah gedung sederhana. Begitu pintu terbuka, ruang tamu kecil langsung terlihat sampai dapur. Ada satu kamar utama, satu ruang sempit yang selama ini dipakai menyimpan koper, serta balkon selebar dua langkah.

Kai berdiri di dekat rak sepatu, memandang sekeliling.

"Kecil," kata Keira lebih dulu. "Kalau tidak cocok, hotel banyak."

"Hangat."

Keira tidak siap dengan jawaban itu. Dia berpaling dan mengambil jas hitam yang sudah dicuci dari sandaran kursi.

"Ini milikmu."

Kai menerima jas itu, tetapi matanya tertahan pada perban di kaki Keira. "Kamu seharusnya duduk."

"Ini rumahku. Aku tahu kapan harus duduk."

"Baik, Bu Pemilik Rumah."

Keira menunjuk ruang penyimpanan. "Kamu bisa tidur di sana. Ada kasur lipat. Kamar utama wilayahku. Dapur boleh dipakai. Jangan menyentuh barang kerja, jangan membawa siapa pun, dan jangan masuk tanpa mengetuk."

"Biaya?"

"Apa?"

"Listrik, air, internet, cicilan apartemen. Aku tidak tinggal gratis."

Keira menyilangkan tangan. Setidaknya pria itu tidak berniat menjadi beban. "Kita bahas kalau kamu masih di sini minggu depan."

Kai mengeluarkan ponsel layar retaknya. "Ada masalah lain. Pengelola gedung mencatat tamu yang menginap. Tetangga juga akan bertanya."

"Aku tidak peduli omongan tetangga."

"Kamu pilot yang sedang bermasalah dengan atasan. Wenny atau Revan hanya perlu satu foto untuk membuat cerita baru."

Kalimat itu menghentikan Keira.

Dia membayangkan pesan di grup kerja, bisik-bisik di ruang kru, dan Teguh menggunakan seorang pria asing di apartemennya sebagai alasan tambahan untuk menjatuhkannya.

"Lalu maumu apa?"

Kai duduk di seberang meja makan kecil. "Kita buat perjanjian. Enam bulan."

"Enam bulan? Aku baru mengenalmu dua hari."

"Karena itu perlu perjanjian."

Kai menjelaskan bahwa dia datang dari Surabaya dan berencana menetap di Jakarta untuk mencari pekerjaan tetap. Kamar sewa jangka panjang yang dia incar hanya menerima penghuni berkeluarga, sementara tinggal sebagai tamu pria di apartemen Keira akan menimbulkan masalah yang sama.

"Kita gunakan status nikah siri," katanya. "Upacara privat, tanpa pencatatan di Catatan Sipil. Hubungan itu tidak memberi kita status pasangan yang diakui negara, hak waris, atau hak atas harta satu sama lain. Di antara kita, ini murni kerja sama."

Keira menatapnya lama. "Kamu membicarakan pernikahan seperti sedang menyewa mobil."

"Kamu lebih suka kita pura-pura pacaran?"

"Aku baru saja putus."

"Itu sebabnya aku tidak menawarkan pacaran."

Keira mengambil bantal sofa dan melemparkannya. Kai menangkapnya tanpa kesulitan.

"Aku serius," kata Keira.

"Aku juga."

Kai menaruh bantal kembali. "Enam bulan. Aku membayar setengah biaya rumah. Kita tidak mencampuri urusan pribadi atau perasaan masing-masing. Tidak ada kontak fisik tanpa izin. Kalau salah satu merasa tidak aman, perjanjian selesai. Setelah enam bulan, kita berpisah tanpa tuntutan."

Keira menatap tagihan cicilan apartemen yang terselip di bawah mangkuk buah. Setelah skorsing, tunjangan terbangnya bisa hilang. Setengah biaya rumah akan membantunya bertahan tanpa meminta uang Meilin.

Tetapi menikah, meski hanya secara siri dan tanpa kekuatan hukum penuh, bukan keputusan kecil.

"Kenapa aku?"

Kai tidak langsung menjawab. "Karena kamu menolong orang saat hidupmu sendiri sedang berantakan."

"Itu bukan bukti aku bisa dipercaya. Itu bukti aku ceroboh."

"Kalau begitu kita sama-sama ceroboh. Aku masuk mobil bersama perempuan asing semalam."

Keira tertawa pendek sebelum bisa menahannya.

Malam itu mereka menyusun tujuh pasal di laptop Keira. Durasi enam bulan. Pembagian biaya sama rata. Kamar terpisah. Privasi mutlak. Tidak membawa pasangan lain ke apartemen. Tidak menggunakan hubungan ini untuk mengambil harta atau membuat keputusan medis. Tidak ada paksaan dalam bentuk apa pun. Perjanjian dapat dihentikan jika salah satu melanggar batas keselamatan.

Di bagian paling bawah, Keira menambahkan satu kalimat.

Tidak boleh berbohong tentang hal yang dapat membahayakan pihak lain.

Kai membacanya dua kali.

"Ada masalah?" tanya Keira.

"Tidak."

Dia menandatangani dengan nama Kai. Keira menorehkan namanya di samping tanda tangan itu.

Keesokan paginya, mereka menjalani upacara agama privat yang telah disepakati. Seorang pemuka agama memimpin doa dan ikrar di hadapan dua saksi dewasa. Persetujuan keduanya ditanyakan secara terpisah. Atas permintaan Kaizan, data identitas lengkapnya diserahkan langsung kepada pemuka agama dan disimpan tertutup; di depan Keira dia tetap diperkenalkan sebagai Kai. Keira mengira itu satu-satunya namanya. Tidak ada keluarga, pesta, cincin, atau kamera.

Mereka juga tidak mengajukan pencatatan ke Catatan Sipil. Keira memastikan sekali lagi bahwa upacara itu tidak memberi mereka akta perkawinan, hak waris, atau status pasangan resmi di dokumen negara. Kai membenarkannya tanpa mengurangi keseriusan ikrar yang baru mereka ucapkan.

Status nikah siri itu menjadi pelindung sosial mereka, bukan jalan pintas menuju hak atas hidup satu sama lain.

Keesokan siangnya, sebuah koper hitam tiba bersama Kai. Keira tidak melihat kendaraan yang menurunkannya karena sedang mengganti perban di kamar. Ketika keluar, baju-baju pria itu sudah tersusun rapi di ruang sempit, kasur lipat terbuka, dan dua cangkir kopi hangat menunggu di meja.

"Kamu membuat kopi di rumahku?"

"Mulai hari ini aku membayar setengah listriknya."

Keira mengambil satu cangkir. "Jangan merasa berkuasa."

"Aku tidak berani, Bu Pemilik Rumah."

Menjelang sore, Keira mencoba menggulung kembali kasur lipat yang tidak terpakai. Perban di kakinya tertarik dan dia mendesis.

Kai mengambil gulungan itu dari tangannya. "Dokter menyuruhmu istirahat atau memindahkan gudang?"

"Ruang ini harus cukup untuk bernapas."

"Duduk. Aku yang bereskan."

Keira hendak membantah, tetapi Kai sudah memindahkan dua koper ke rak atas, membersihkan debu di sudut, lalu memasang seprai sendiri. Dia tidak membuka satu pun kotak milik Keira tanpa bertanya.

Saat Keira kembali dari kamar mandi, semangkuk sup hangat dan obatnya sudah diletakkan di meja.

"Aku tidak meminta ini."

"Benar. Kamu juga tidak meminta kakimu terluka. Makan."

Keira memegang sendok. Perhatian sederhana itu terasa asing setelah bertahun-tahun bersama pria yang bahkan lupa menanyakan apakah dia sudah mendarat dengan selamat.

Ponselnya berbunyi sebelum suapan pertama.

Sebuah surel dari bagian sumber daya manusia NusAir masuk. Keira membaca judulnya dua kali.

Pemberitahuan Pembebastugasan Sementara dan Evaluasi Restrukturisasi.

Di bagian bawah tercantum bahwa namanya sedang ditinjau bersama daftar pegawai yang terdampak efisiensi. Sampai pemeriksaan internal selesai, dia dilarang memasuki area operasional dan tidak menerima tunjangan terbang.

Sendok beradu dengan mangkuk.

"Masalah?" tanya Kai.

Keira mematikan layar. "Urusan kantor."

"Mereka menghukummu karena semalam?"

"Aku bilang, jangan mencampuri urusanku. Itu pasal ketiga."

Kai menatap ponsel yang kini terbalik di meja, lalu mengangguk. "Baik. Tapi supnya bukan urusan kantor. Habiskan."

Keira mendengus, namun mengambil sendok lagi.

Malam turun. Keira tertidur lebih awal karena obat dari rumah sakit. Pintu kamarnya tertutup rapat.

Kai berdiri di balkon, memastikan tirai tidak bergerak sebelum menghubungi sebuah nomor.

Panggilan dijawab pada dering pertama.

"Bos," suara Moreno terdengar pelan. "Saya sudah menunggu kabar Anda."

Nada santai Kai lenyap. Punggungnya tegak, tatapannya mengarah pada lampu Jakarta yang membentang jauh.

"Bekukan daftar PHK itu," perintahnya. "Ada satu nama di sana."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!