Indonesia
NovelToon NovelToon

Salah Pintu, Menikahi Sang Pewaris

Episode 1

Bab 1

Tubuh yang Menolak

"Jangan terlalu dekat dengan Keira. Sentuhan kecil saja bisa membuatnya merusak satu pesta."

Ucapan Celine terdengar ringan melalui mikrofon, tetapi tawa yang menyusul menjalar ke seluruh aula Rumah Aster.

Keira berdiri di samping panggung dengan flashdisk berisi konsep kampanye Aruna Vista di dalam genggaman. Belum sempat ia meminta Celine meluruskan siapa yang menyusun presentasi itu, Rafael sudah mengambil mikrofon.

"Sekalian saya sampaikan," katanya. "Demi kebaikan Keira, rencana pernikahan kami akan ditunda sampai kondisinya lebih stabil."

Puluhan kepala menoleh kepada Keira.

Pak Bagus, klien yang sejak tadi terlalu banyak minum, tertawa sambil mendekat. "Masa separah itu? Saya buktikan, ya."

Tangannya mencengkeram pergelangan Keira.

Panas meledak di bawah kulitnya. Aula berlapis kaca itu mendadak menyempit. Napasnya tersangkut, suara musik pecah menjadi dengung, dan wajah-wajah di hadapannya kehilangan bentuk.

"Lepaskan," desis Keira.

Bagus justru mengencangkan jari. "Santai saja."

Keira menyentakkan tangan. Gelas di meja tinggi tersapu sikunya dan pecah di lantai.

"Keira!" Rafael turun dari panggung. "Jangan kambuh di depan klien."

Bukan "Jangan sentuh dia." Bukan "Pak Bagus, lepaskan."

Keira memaksa matanya fokus pada pria yang telah bersamanya selama tujuh tahun. Lalu ia menarik cincin dari jari manisnya.

"Tidak perlu ditunda," katanya, meletakkan cincin itu di telapak Rafael. "Hubungan kita selesai malam ini."

Ruangan seketika sunyi.

Bahkan Celine lupa mempertahankan senyum manisnya.

Rafael menatap cincin di tangannya, lalu menatap Keira seolah perempuan itu baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak masuk akal. "Kamu sedang tidak stabil. Kita bicara setelah kamu tenang."

"Aku cukup tenang untuk tahu siapa yang tadi kamu lindungi."

Keira menunduk dan mengambil flashdisk yang terjatuh. Ujung jarinya kaku. Kulit di pergelangannya terasa seperti dilumuri cabai, padahal bekas yang tertinggal hanya lima garis kemerahan.

Bagus berdeham. "Saya cuma bercanda. Reaksinya saja yang berlebihan."

Naya muncul dari antara para tamu dan berdiri di samping Keira. Ia tidak menyentuh, hanya memosisikan tubuh sebagai penghalang.

"Pak Bagus memegang dia setelah diperingatkan," ucap Naya. "Itu bukan bercanda."

Beberapa tamu mengalihkan pandangan. Dua orang dari tim klien malah memeriksa ponsel, pura-pura tidak mendengar. Di dekat meja koktail, Rika membisikkan sesuatu kepada rekan di sebelahnya. Kata-kata yang tertangkap Keira hanya potongan kecil.

Drama. Penyakit. Cari perhatian.

Rafael menyerahkan mikrofon kepada staf acara, lalu merendahkan suaranya. "Naya, ini urusan keluarga."

"Tadi diumumkan di depan satu ruangan. Sekarang tiba-tiba jadi urusan keluarga?"

"Jangan ikut campur."

Keira menarik satu napas pendek. Udara masuk, tetapi tidak terasa sampai ke paru-parunya. Ia menekan kuku ibu jari ke sisi flashdisk, mencari ujung keras yang bisa mengembalikan pikirannya ke ruangan.

Meja marmer.

Pecahan kaca.

Gaun biru Celine.

Suara pendingin udara.

Lima garis merah di pergelangan.

Ia masih berada di Rumah Aster. Ini tahun 2026, bukan malam lain yang dipenuhi asap dan sirene. Ia bisa berjalan keluar.

Celine akhirnya turun dari panggung. "Keira, aku minta maaf kalau kata-kataku menyinggungmu. Aku hanya mencoba mencairkan suasana."

"Dengan menjadikan tubuhku bahan lelucon?"

"Bukan begitu maksudku."

"Lalu apa maksudmu saat menampilkan konsep kampanye yang ada di flashdisk ini seolah itu pekerjaanmu?"

Mata Celine bergerak cepat ke benda di tangan Keira.

Naya menoleh kepadanya. "Kamu masih punya file versinya?"

"Semua versi. Termasuk komentar klien dan waktu unggah."

Kali ini bisik-bisik di sekitar mereka berubah arah. Rika menurunkan ponselnya. Celine merapatkan kedua tangan di depan perut.

"Kita satu tim," katanya. "Pak Rafael meminta aku yang presentasi karena kamu beberapa kali tidak bisa hadir."

"Aku tidak bisa hadir satu kali karena kontrol dengan dokter. Presentasi malam ini tetap memakai strategi yang kukirim kemarin pukul sebelas lewat empat puluh."

Rafael mengusap rahang. "Cukup. Masalah kerja dibahas di kantor."

"Kamu benar." Keira memasukkan flashdisk ke tas. "Besok aku kirim keberatan tertulis."

Ada perubahan kecil di wajah Rafael. Bukan rasa bersalah. Kekhawatiran pertamanya adalah jejak tertulis.

Selama bertahun-tahun, Keira selalu memberinya kesempatan menyelesaikan masalah secara pribadi. Ia menghapus kalimat yang terdengar terlalu keras, menunda keberatan agar tidak mengganggu makan malam keluarga, dan menerima permintaan Rafael untuk memikirkan nama baik Atmadja.

Malam ini, ia akhirnya melihat harga dari semua pengertian itu.

Tidak ada.

Rafael meraih lengannya, tetapi Naya langsung mengangkat telapak tangan.

"Jangan sentuh."

Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari siku Keira.

"Aku tunangannya," kata Rafael.

"Mantan tunangan," koreksi Keira.

Rafael mengembuskan napas tajam. "Tujuh tahun tidak bisa kamu hapus karena satu kejadian."

"Satu kejadian?"

Keira menatap mikrofon yang masih dipegang staf acara. Lampu kecilnya menyala hijau. Entah sudah dimatikan atau belum, ia tidak peduli.

"Kamu membiarkan keluargamu menyebutku anak jauh keluarga Halim yang harus tahu diri karena ditolong setelah kecelakaan gas di Dago. Kamu memakai cerita itu setiap kali aku keberatan. Kamu mengambil pekerjaanku, memberikannya kepada Celine, lalu mengumumkan hubungan kita seperti sedang menunda kontrak vendor."

"Keluargaku memang membantumu."

Kalimat itu jatuh tanpa ragu.

Luka di pergelangan Keira masih menyala, tetapi sesuatu di dalam dadanya justru menjadi sangat dingin.

"Nah," bisiknya. "Akhirnya jujur."

Rafael tampak sadar telah salah bicara. Ia melangkah mendekat, kali ini tanpa mencoba memegang. "Bukan itu maksudku. Kamu tahu Mama dan Oma hanya ingin melindungi reputasi keluarga. Celine juga tidak berniat mengambil apa pun darimu. Malam ini penting untuk Aruna Vista."

"Karena itu aku harus diam?"

"Karena kamu bagian dari keluarga kami."

"Tidak. Aku selalu menjadi utang yang kalian tagih setiap kali aku punya suara."

Pak Bagus sudah mundur ke dekat bar. Celine berdiri beberapa langkah dari Rafael, cukup dekat untuk terlihat sebagai pihak yang dilindungi, cukup jauh agar tidak ikut memikul kesalahan. Para tamu menunggu bagaimana pewaris Aruna Vista akan menutup skandal kecil di pesta peluncurannya.

Biasanya, Keira akan membantu Rafael.

Ia akan tersenyum, mengatakan serangan paniknya hanya kelelahan, lalu pulang tanpa menuntut siapa pun. Besok pagi, ia akan menemukan bunga putih dan pesan singkat: Jangan marah lagi, ya. Aku sibuk.

Jari manisnya terasa ringan tanpa cincin.

"Aku bukan bagian dari keluargamu," kata Keira. "Dan mulai malam ini, aku tidak punya utang hubungan kepada siapa pun di sini."

Ia berbalik.

"Keira." Suara Rafael mengeras. "Kalau kamu keluar sekarang, jangan berharap semuanya bisa kembali seperti semula."

Langkah Keira sempat berhenti.

Rafael mungkin mengira ancaman itu masih memiliki kekuatan. Tujuh tahun lalu, satu nada kecewa darinya cukup membuat Keira meminta maaf meski tidak tahu kesalahannya. Tiga tahun lalu, Keira membatalkan rencana pindah kerja karena Rafael berkata keluarga membutuhkan orang yang bisa dipercaya. Enam bulan lalu, ia menyerahkan akses riset kepada Celine karena Rafael berjanji pembagian kredit akan adil.

Sekarang Keira hanya menoleh setengah badan.

"Itu tujuan utamanya."

Pintu aula menutup di belakangnya.

Koridor Rumah Aster jauh lebih dingin, tetapi telapak tangannya basah. Keira berjalan sampai melewati dua belokan sebelum lututnya melemah. Ia berpegangan pada sisi meja konsol tanpa menempelkan pergelangan yang sakit.

"Keira."

Naya menyusul, napasnya terburu. Ia berhenti satu meter jauhnya. "Aku tidak akan menyentuhmu. Lihat aku kalau bisa."

Keira mengangkat wajah.

"Kita ke IGD?"

"Tidak." Jawabannya keluar terlalu cepat. Ia menelan ludah. "Tidak ada nyeri dada yang berbeda, aku tidak pingsan, dan obat daruratku ada. Aku cuma perlu tempat sepi."

"Baik. Kita duduk dulu."

Naya menunjuk bangku di sudut koridor, menunggu Keira memilih sendiri. Setelah Keira duduk, Naya mengambil botol air dari tasnya dan meletakkannya di ruang kosong di antara mereka.

"Airnya masih tersegel."

Keira membukanya dengan tangan gemetar. Ia minum sedikit, lalu mengeluarkan kantong obat dari kompartemen dalam tas. Label dosis dari Dokter Sinta masih menempel. Ia membaca ulang petunjuknya sebelum mengambil satu tablet sesuai resep.

Naya tidak mendesak. Ia hanya mengatur napas dengan sengaja, pelan dan terlihat, sampai Keira bisa mengikuti ritmenya.

Ponsel Keira bergetar.

Rafael menelepon.

Ia mematikan panggilan itu.

Pesan masuk sesudahnya.

Jangan mempermalukan keluarga lebih jauh. Tunggu aku di lobi.

Keira menunjukkan layar kepada Naya.

"Dia bahkan belum bertanya pergelanganmu bagaimana," kata Naya.

Keira mematikan notifikasi. "Karena baginya yang terluka bukan aku."

"Ikut ke apartemenku."

Keira menatap pintu lift di ujung koridor. Rafael tahu alamat Naya. Sopir keluarga Atmadja juga tahu. Jika ia pergi bersama Naya, malam ini mungkin berakhir dengan Rafael berdiri di depan pintu dan meminta bicara baik-baik, sementara dua orang dari keluarga menelepon bergantian untuk mengingatkan semua yang pernah mereka berikan.

"Aku butuh tempat yang tidak akan mereka cari."

"Hotel?"

"Kartu akses dan pembayaran bisa diketahui tim Rafael."

Naya menggigit bibir, lalu merogoh ponselnya. "Aku cari tempat atas namaku."

"Tidak. Kamu masih harus kembali ke aula. Ambil tas laptopku dari ruang persiapan dan simpan salinan semua file. Jangan biarkan Celine mengaksesnya."

"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian begini."

"Naya." Keira menunggu sampai sahabatnya menatap lurus. "Aku perlu kamu menjaga bukti. Itu cara paling berguna untuk membantuku sekarang."

Keraguan di wajah Naya belum hilang, tetapi ia memahami kalimat itu. Keira tidak sedang menolak pertolongan. Ia sedang memilih bentuknya.

"Kirim lokasi setiap tiga puluh menit," kata Naya. "Kalau kamu berhenti menjawab, aku menelepon bantuan."

"Ya."

"Dan kalau gejalanya memburuk, kita ke IGD. Tidak ada debat."

"Ya."

Naya berdiri, masih menjaga jarak. "Aku bangga kamu mengembalikan cincin itu."

Tenggorokan Keira menegang. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari aula, air matanya hampir jatuh.

"Aku juga," jawabnya.

Mereka berpisah di lobi. Naya kembali ke ruang persiapan, sementara Keira keluar melalui pintu samping agar tidak melewati tamu utama.

Hujan Jakarta turun rapat. Petugas valet menawarkan payung, tetapi Keira memilih menunggu di bawah kanopi sampai taksi daring berhenti. Di dalam mobil, ia membuka kompartemen kecil tasnya dan mencari kartu yang sudah lama terselip di balik kartu identitas.

Gavin Tjandra.

Ia mengenal Gavin sebagai teman Rafael yang paling tidak banyak bertanya. Setahun lalu, setelah sebuah makan malam keluarga berakhir dengan Keira terkunci hampir satu jam di kamar kecil untuk menenangkan napas, Gavin memberinya kartu nama lama.

Kalau suatu hari kamu butuh keluar sebelum bisa menjelaskan apa pun, alamat tempat tinggalku ada di belakang. Datang saja.

Keira tidak pernah berniat memakai tawaran itu. Malam ini, Gavin adalah satu-satunya orang yang punya hubungan dengan Rafael tetapi tidak tunduk pada keluarga Atmadja.

Tulisan tangan di belakang kartu menunjukkan sebuah kompleks townhouse di Kemang dan nomor B-17.

Baterai ponselnya tinggal tiga persen. Keira mengirim lokasi kepada Naya, memesan mobil, lalu mengaktifkan mode hemat daya. Ia mencoba menelepon nomor di kartu, tetapi sambungan tidak aktif.

"Tetap ke alamat ini, Bu?" tanya pengemudi.

Keira menatap kembali pintu Rumah Aster. Di balik kaca, Rafael muncul di lobi bersama seorang staf. Matanya menyapu kendaraan yang menunggu.

"Ya. Tolong jalan sekarang."

Mobil bergerak sebelum Rafael sempat keluar.

Selama perjalanan, hujan memukul jendela seperti butiran kerikil. Keira memegang botol air dengan kedua tangan. Panas di kulitnya turun perlahan, menyisakan nyeri tumpul dan kelelahan yang menempel sampai ke tulang.

Ia tidak menangis.

Belum.

Kompleks townhouse itu sunyi ketika ia tiba hampir tengah malam. Deretan bangunan berfasad gelap berdiri di balik taman kecil yang basah. Petugas keamanan memeriksa nama Gavin pada kartu dan mengizinkannya masuk setelah mencatat identitas serta nomor unit yang ia sebutkan.

Keira turun dari mobil tepat saat angin membalik ujung payungnya.

Setetes air jatuh ke kartu, lalu setetes lagi. Tinta angka terakhir melebar. Garis tegak pada angka tujuh larut ke kanan, menyatu dengan noda lama.

Keira menyipitkan mata.

B-18.

Ia mengikuti papan arah, melewati satu unit yang lampunya mati, lalu berhenti di depan pintu kayu bernomor delapan belas. Rumah itu tenang. Hanya ada cahaya tipis di balik tirai lantai dua.

Jarinya masih gemetar ketika menekan bel.

Dari dalam terdengar langkah kaki mendekat, tetapi pintunya belum terbuka.

Episode 2

Bab 2

Pria di Balik Pintu

Kunci berputar dari dalam.

Keira mundur setengah langkah ketika pintu B-18 terbuka. Seorang pria tinggi berdiri di baliknya, mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka. Wajahnya pernah Keira lihat di sudut foto kelompok Rafael, selalu sedikit terpisah dari yang lain.

Adrian Wijaya.

Bukan Gavin.

"Kamu salah rumah," katanya.

Keira menunduk pada kartu yang basah. "Ini bukan B-17?"

"Sebelah."

Ia seharusnya meminta maaf lalu pergi. Namun begitu berbalik, lantai teras bergerak miring. Perutnya yang kosong menegang. Cahaya lampu taman memanjang menjadi garis putih, dan udara malam terasa terlalu dingin di dalam paru-parunya.

"Keira."

Pria itu mengetahui namanya.

Keira menoleh cepat. Gerakan itu membuat pandangannya menghitam di tepi.

Adrian tidak langsung meraih. Ia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlihat jelas.

"Boleh aku mendekat?"

Hujan memercik sampai ke wajah Keira. Ia ingin mengatakan tidak. Bibirnya hanya mampu membentuk satu kata yang berbeda.

"Tunggu."

Adrian berhenti.

Tidak ada gerakan mendadak. Tidak ada kalimat yang menyuruhnya tenang. Ia benar-benar menunggu sampai Keira menekan telapak ke dinding dan menemukan keseimbangan.

"Aku punya handuk bersih," katanya. "Boleh kuberikan?"

Keira mengangguk.

Adrian mengambil handuk abu-abu dari rak dekat pintu. Ia menyodorkannya perlahan, memegang salah satu ujung agar Keira dapat mengambil ujung yang lain. Di sisi telunjuk kanannya ada satu tahi lalat merah kecil.

Jari Keira menyentuh kain.

Tidak ada ledakan panas.

Tidak ada dorongan untuk muntah.

Tubuhnya masih gemetar karena hujan, obat, dan serangan panik, tetapi jarak satu lengan dari Adrian tidak membuat kulitnya berteriak.

Keira menatap tangan pria itu terlalu lama.

"Masuklah sebelum kamu jatuh," ujar Adrian. "Aku tidak akan menutup pintunya sebelum kamu mengizinkan."

Keira melirik jalan di belakang. Mobil yang mengantarnya sudah pergi. Lampu unit B-17 padam, sedangkan baterai ponselnya mungkin tidak akan bertahan untuk memesan kendaraan lain.

"Ada siapa di dalam?"

"Felix, di ruang kerja belakang. Tidak ada orang lain."

"Perempuan?"

"Tidak ada. Kalau kamu lebih aman dengan tenaga medis perempuan, aku bisa menghubungi satu orang melalui telepon atau video. Kamu yang pilih."

Keira menggenggam handuk di depan dada. "Pintunya jangan dikunci."

"Baik."

Ia melangkah masuk.

Ruang depan Rumah Kemang itu luas, tetapi tidak terasa seperti rumah yang dipamerkan. Sofa berwarna gelap, rak buku, satu meja panjang dengan beberapa map tertutup, dan lampu hangat yang tidak menyilaukan. Adrian menunjuk sofa tunggal paling dekat dengan pintu.

"Kamu mau duduk di sana, atau tetap berdiri?"

"Duduk."

Adrian bergeser memberi jalan. Jarak di antara mereka tidak pernah kurang dari satu meter.

Keira duduk perlahan. Begitu tubuhnya menyentuh sandaran, mual naik ke tenggorokan. Ia menutup mata dan menekan jari pada nadi leher.

"Kapan terakhir kali kamu makan?"

"Siang."

"Obat apa yang kamu minum?"

Keira membuka mata. "Itu milikku."

"Aku tidak akan mengambilnya." Nada Adrian tetap datar. "Aku hanya perlu tahu apakah kita harus memanggil ambulans."

Keira mengeluarkan kantong obat dan memegangnya sendiri. "Obat darurat sesuai resep. Satu tablet. Aku tidak minum alkohol."

"Pingsan?"

"Belum."

"Nyeri dada yang baru, sesak yang memburuk, atau cedera kepala?"

"Tidak."

Adrian mengangguk, lalu menoleh ke koridor. "Felix."

Seorang pria berkemeja putih muncul dari arah belakang. Ia berhenti begitu melihat Keira dan tidak mendekat lagi.

"Pak Adrian?"

"Beli bubur polos, roti, air, dan minuman elektrolit. Kemasan tertutup. Jangan beri tahu siapa pun siapa yang ada di sini."

"Baik."

Felix mengambil kunci mobil dari meja. Sebelum pergi, ia bertanya kepada Keira dari jarak beberapa langkah, "Ada alergi makanan yang perlu saya perhatikan?"

"Tidak ada. Terima kasih."

Pintu tertutup kembali, tetapi Adrian tidak menguncinya.

Keira memperhatikan hal itu.

"Kamu selalu menerima orang asing tengah malam?" tanyanya.

"Tidak."

"Lalu kenapa kamu tahu namaku?"

Adrian mengambil ponsel dari meja. "Kamu pernah berdiri di belakang Rafael saat foto ulang tahun Gavin. Semua orang melihat kamera. Kamu melihat pintu keluar."

Keira mengingat foto itu. Dua tahun lalu. Rumah penuh orang, suara kembang api terlalu keras, dan Rafael terus menghilang untuk menerima telepon. Ia tidak ingat Adrian memperhatikannya.

"Itu bukan jawaban."

"Aku mengenal namamu dari Rafael."

"Dia bercerita tentangku?"

Ada jeda kecil.

"Lebih sering mengeluh daripada bercerita."

Kalimat itu seharusnya mempermalukannya. Anehnya, yang Keira rasakan justru lega. Setidaknya Adrian tidak membungkus penghinaan dengan kepedulian palsu.

Adrian membuka daftar kontak. "Aku mengenal seorang psikiater perempuan. Namanya dr. Sinta Mahendra, Sp.KJ. Aku hanya akan mengatakan ada tamu dewasa yang mengalami serangan panik setelah minum obat resep dan belum makan. Aku tidak akan memberi nama tanpa izin."

"Kenapa kamu punya nomor psikiater?"

"Dia menangani konsultasi kesehatan untuk orang-orang yang bekerja denganku."

Jawaban yang rapi. Tidak cukup menjelaskan pekerjaan apa yang membuat seorang pria memiliki tenaga medis siaga setelah tengah malam.

"Hubungi dia," kata Keira. "Pakai pengeras suara, bukan video."

Adrian menelepon.

Dokter Sinta menjawab pada dering ketiga. Suaranya terdengar jernih dan terjaga. Setelah Adrian menyampaikan situasi singkat, ia meletakkan ponsel di meja, cukup dekat agar Keira tidak perlu bergerak.

"Selamat malam," kata Dokter Sinta. "Saya perlu mendengar jawaban langsung dari Anda. Apakah Anda bersedia melakukan skrining risiko singkat?"

"Ya, Dok."

Pertanyaannya sederhana dan berurutan. Nama lengkap. Waktu minum obat. Dosis sesuai label atau tidak. Kesadaran, orientasi waktu, rasa ingin menyakiti diri, nyeri dada, kesulitan bernapas yang tidak membaik, muntah, reaksi alergi, dan kemungkinan cedera.

Keira menjawab satu per satu.

"Saya menyarankan evaluasi langsung jika Anda pingsan, sulit dibangunkan, mengalami sesak yang memburuk, nyeri dada baru, muntah berulang, atau merasa tidak aman dengan diri sendiri," kata Dokter Sinta. "Untuk saat ini, jangan menambah dosis. Minum sedikit demi sedikit dan makan setelah mual turun. Apakah ada orang yang dapat menemani tanpa menyentuh Anda?"

Keira menatap Adrian.

"Ada."

"Apakah keberadaannya membuat Anda lebih aman?"

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Adrian tidak menatap seolah menunggu jawaban yang menyenangkan. Ia bahkan mundur setengah langkah dari meja.

"Ya," kata Keira akhirnya.

"Baik. Saya ingin kontrol lanjutan dengan dokter yang biasa menangani Anda, atau fasilitas medis jika kondisi berubah. Tuan di sana tidak boleh mengubah obat atau mengambil keputusan medis untuk Anda."

"Saya mengerti, Dok," jawab Adrian.

"Jawabannya harus dari pasien."

Untuk pertama kalinya, Keira melihat sudut bibir Adrian bergerak tipis.

"Saya mengerti," kata Keira.

Setelah panggilan berakhir, ruangan kembali hening. Hujan terdengar lebih lembut dari balik kaca.

"Boleh aku mengukur suhu tubuhmu dengan termometer tanpa kontak?" tanya Adrian.

"Boleh."

Ia menunjukkan alatnya lebih dulu, menyalakan layar, lalu mengarahkannya ke dahi dari jarak beberapa sentimeter.

"Normal."

Keira mengembuskan napas panjang. Tubuhnya belum sepenuhnya tenang, tetapi ia bisa merasakan ujung jari kaki lagi. Pandangannya juga tidak lagi berbayang.

Adrian hendak mundur ketika Keira berkata, "Tunggu."

Ia berhenti di tempat yang sama.

Keira membuka tas dan mengambil sepasang sarung tangan katun tipis. Benda itu selalu ia bawa untuk perjalanan dengan transportasi umum atau pemeriksaan medis. Ia mengenakannya dengan susah payah karena jari-jarinya masih kaku.

"Tadi, waktu aku mengambil handuk..." Keira menelan ludah. "Aku tidak takut."

"Kamu sedang kelelahan. Jangan mengambil kesimpulan besar malam ini."

"Aku tidak mau mengambil kesimpulan. Aku mau memeriksa."

Adrian menunggu.

Keira mengulurkan tangan yang sudah terbungkus kain. "Pegang tanganku."

"Kamu yakin?"

"Tidak." Ia jujur. "Tapi aku ingin mencoba."

"Kalau kamu bilang tunggu atau menarik tangan, aku berhenti."

"Ya."

Adrian duduk di ujung sofa panjang yang berseberangan dengannya. Ia meletakkan telapak tangan kanan menghadap ke atas di ruang kosong di antara kedua kursi.

Keira yang menentukan jarak terakhir.

Tangannya turun sedikit demi sedikit sampai ujung sarung tangan menyentuh telapak Adrian.

Hangat.

Hanya hangat.

Keira menunggu rasa terbakar yang biasanya merambat dari satu titik sentuhan ke seluruh lengan. Lima detik berlalu. Sepuluh. Napasnya tidak terkunci. Bahunya justru turun tanpa diperintah.

Ia membalik tangan, membiarkan jari Adrian menutup longgar di atas punggung tangannya.

Tetap tidak ada rasa sakit.

Air mata yang tertahan sejak Rumah Aster akhirnya jatuh.

Adrian tidak mengusapnya. Tidak menarik tubuhnya mendekat. Ia hanya menjaga genggaman itu tetap longgar.

"Sakit?" tanyanya.

Keira menggeleng.

"Takut?"

"Sedikit."

"Mau berhenti?"

Keira memeriksa tubuhnya sendiri. Detak jantungnya masih cepat, tetapi bukan karena panik.

"Belum."

Mereka bertahan seperti itu sampai suara mesin mobil terdengar di depan rumah. Keira menarik tangan lebih dulu. Adrian langsung melepaskan.

Felix masuk membawa kantong kertas dan meletakkannya di meja dekat pintu.

"Semua kemasan masih tersegel," katanya. "Saya juga membawa sendok sekali pakai."

"Terima kasih, Pak Felix."

Felix tampak sedikit terkejut menerima sebutan formal itu, lalu mengangguk. "Sama-sama."

Adrian membuka ruang di meja tanpa menyentuh barang milik Keira. Felix menuang bubur ke mangkuk baru setelah mendapat anggukan darinya, kemudian meninggalkan ruangan.

Keira makan empat sendok sebelum perutnya berhenti melilit. Ia melanjutkan perlahan. Adrian duduk di kursi seberang sambil membaca pesan di ponselnya, tidak mengawasi setiap suapan.

Ponsel Keira mati beberapa menit kemudian.

"Aku harus memberi kabar kepada Naya."

Adrian menggeser pengisi daya portabel di atas meja. "Boleh kupinjamkan. Kamu yang memasangnya."

Begitu ponselnya menyala, puluhan pesan masuk. Naya menanyakan lokasi dan kondisi. Rafael mengirim dua belas pesan, mulai dari perintah pulang sampai tuduhan bahwa Keira sengaja membuat skandal untuk menghukum dirinya.

Keira hanya membalas Naya.

Aku aman. Ada di rumah kenalan Gavin. Aku akan kirim lokasi lagi setelah istirahat.

Ia tidak menulis nama Adrian.

"Aku tidak datang untuk mencari hubungan baru," kata Keira setelah meletakkan ponsel. "Aku bahkan tidak tahu ini rumahmu."

"Aku tahu."

"Dan aku tidak menganggap sentuhan tadi berarti aku berutang apa pun."

"Bagus."

Keira mengangkat wajah. "Bagus?"

"Karena kamu memang tidak berutang. Aku bisa memberimu kamar tamu, pintu yang dapat kamu kunci dari dalam, dan transportasi besok pagi. Tidak ada imbalan. Tidak ada pertanyaan yang harus kamu jawab malam ini."

Kata-kata sederhana itu menciptakan ruang yang belum pernah Keira dapatkan dari orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya.

"Kenapa?" tanyanya.

Adrian menatap kartu nama Gavin yang mengering di atas meja. "Karena seseorang seharusnya pernah memberimu pintu keluar tanpa memasang tagihan di baliknya."

Keira tidak menemukan ejekan di wajahnya.

Namun di meja panjang, di antara map-map tertutup, ada satu dokumen yang belum sempat Adrian singkirkan. Judulnya terlihat jelas.

Rancangan Perjanjian Perkawinan.

Keira memandangnya. "Kamu akan menikah?"

"Keluargaku ingin aku menerima perjodohan. Aku menyiapkan jalan hukum agar tidak ada orang yang bisa memakai pernikahan untuk mengambil kendali atas hartaku atau hidupku."

"Jadi kamu juga sedang mencari pintu keluar."

"Aku sedang memastikan pintunya ada."

Adrian berdiri, mengambil map itu, lalu meletakkannya di meja rendah. Ia tidak mendorong dokumen ke tangan Keira. Halaman depannya masih berupa format umum, tanpa nama calon pasangan.

"Kamu baru putus beberapa jam lalu," katanya. "Kamu sedang kelelahan dan baru minum obat. Aku tidak meminta jawaban malam ini."

"Lalu kenapa menunjukkan ini?"

"Karena besok, Rafael dan keluarganya akan mencoba mengambil kembali keputusanmu. Mereka tahu alamatmu, pekerjaanmu, rekening yang biasa kamu gunakan, dan titik lemah yang selama ini mereka ciptakan."

Keira menatap lembar pertama itu. "Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kubutuhkan."

"Benar." Adrian menarik kursi dan duduk kembali, menjaga jarak yang sama. "Karena itu kita bicara setelah kamu tidur, makan, dan mendapat nasihat dari pengacaramu sendiri."

Ia meletakkan satu pena tertutup di samping map, bukan di atas garis tanda tangan.

"Kalau kamu benar-benar membutuhkan jalan keluar yang sah dan aman, kita bisa membicarakan sebuah pernikahan."

Episode 3

Bab 3

Pernikahan Empat Puluh Delapan Jam

Keira tidak menjawab lamaran itu malam-malam.

Ia tidur di kamar tamu dengan pintu terkunci dari dalam. Ponsel, obat, kartu identitas, dan flashdisk diletakkan di meja samping ranjang. Ketika bangun empat jam kemudian, ia mandi, makan roti, lalu membaca rancangan perjanjian di ruang makan tanpa Adrian duduk di dekatnya.

Baru setelah matahari naik, Keira berkata, "Kalau kita membicarakan pernikahan, aku punya syarat."

Adrian menutup laptop. "Aku dengarkan."

"Kamar terpisah. Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan. Tidak ada akses ke catatan medis atau keputusan perawatan atas namaku. Harta, utang, dan rekening kita terpisah. Aku bebas bekerja dengan siapa pun. Kalau salah satu dari kita ingin keluar, yang lain tidak boleh menghalangi proses hukum."

"Setuju."

Jawaban yang terlalu cepat membuat Keira menyipitkan mata. "Aku belum selesai."

"Lanjutkan."

"Keluargamu tidak boleh mengatur hidupku. Keluarga Atmadja juga tidak boleh masuk rumah tanpa izinku. Dan aku punya pengacara sendiri."

"Justru itu yang akan kuminta."

Adrian membalik halaman kosong pada buku catatan, lalu menulis setiap poin dengan tangannya sendiri.

"Syaratku ada dua," katanya. "Kalau ada ancaman yang bisa membahayakan salah satu dari kita, kita saling memberi tahu. Dan pernikahan ini tidak digunakan untuk membalas Rafael, keluargaku, atau pihak ketiga."

"Aku tidak butuh suami untuk membalas Rafael."

"Bagus."

"Berhenti mengatakan bagus seolah kamu sedang menilai jawabanku."

Adrian menatapnya sesaat. "Baik."

Keira hampir kesal lagi, lalu sadar pria itu sengaja menahan senyum.

Adrian mendorong ponsel rumah ke tengah meja. "Hubungi pengacaramu. Bukan pengacara yang kukenal."

Keira menelepon Hendrik Tanoto, pengacara yang pernah membantunya memeriksa kontrak kerja. Ia menjelaskan tanpa menyamarkan bagian yang terdengar gila: putus pada Jumat malam, salah mengetuk pintu, dan sedang mempertimbangkan pernikahan dengan pria yang baru dikenalnya.

Pak Hendrik terdiam cukup lama.

"Jangan tanda tangani apa pun," katanya akhirnya. "Datang ke kantor saya sendiri. Tuan Adrian boleh datang dengan penasihatnya sendiri, tetapi saya tidak akan menerima pembayaran dari dia."

"Saya mengerti."

"Dan saya akan bertanya apakah Anda sedang ditekan. Berkali-kali."

Mereka tiba di kantor Hendrik menjelang siang dengan mobil terpisah. Keira masuk lebih dulu, sedangkan Adrian menunggu di ruang lain bersama pengacaranya. Felix hanya menyerahkan map identitas milik Adrian kepada staf, lalu kembali ke lobi.

Hendrik menutup pintu ruang konsultasi.

"Apakah Anda takut kepada Adrian Wijaya?"

"Tidak."

"Apakah Anda takut jika menolak menikah dengannya?"

"Tidak."

"Apakah Anda sedang memilih ini hanya karena serangan panik semalam?"

Keira menatap dua halaman catatan yang sudah dibuatnya sendiri. "Tidak hanya karena itu. Rafael dan keluarga Atmadja mengendalikan pekerjaan, alamat, akses sosial, dan sebagian pengeluaran saya. Saya bisa keluar tanpa menikah, tetapi butuh waktu untuk memisahkan semuanya. Pernikahan ini memberi batas hukum dan tempat tinggal yang tidak mereka kuasai."

"Pernikahan juga menciptakan ikatan hukum baru."

"Karena itu saya datang kepada Bapak."

Hendrik membaca catatan Keira. Ia mencoret dua kalimat, menambahkan hak atas kuasa khusus tertulis, perlindungan data, dan larangan salah satu pihak bertindak atas nama pihak lain tanpa mandat.

"Batas sentuhan dan kamar terpisah bukan materi utama perjanjian harta," jelasnya. "Kita buat aturan hidup bersama secara tertulis, tetapi persetujuan tubuh tetap harus diberikan setiap kali. Tidak ada satu dokumen yang menggantikan itu."

"Saya setuju."

"Perjanjian perkawinan akan mengatur pemisahan harta dan utang, biaya bersama melalui rekening transparan, serta hak apa pun yang mungkin Anda miliki sekarang atau kelak. Suami Anda tidak otomatis berhak atas warisan, saham, atau manfaat trust Anda."

Kata trust membuat Keira mengangkat kepala. "Saya tidak punya trust."

"Itu klausul perlindungan umum," kata Hendrik. "Justru harus ditulis sebelum ada sesuatu yang diketahui."

Menjelang sore, kedua penasihat hukum bertukar revisi. Notaris yang independen meminta berbicara dengan Keira dan Adrian secara terpisah, memeriksa usia, identitas, status perkawinan, kehendak bebas, serta pemahaman atas konsekuensi dokumen.

Tidak ada yang menyuruh staf mempercepat tanda tangan.

Tidak ada nama keluarga yang dipakai untuk mengubah aturan.

Keira menunjukkan KTP-el asli dari dompetnya dan data KK yang sah. Namanya tetap Keira Halim. Nama orang tuanya tetap Daniel Halim dan Eveline Gunawan. Tidak pernah ada identitas lain di dokumen itu, hanya cerita keluarga Atmadja yang membuatnya merasa seolah masa lalunya milik mereka.

Sebelum sesi terakhir, Adrian meminta semua orang keluar kecuali Keira dan kedua pengacara.

"Ada sesuatu yang wajib kamu ketahui sebelum memutuskan," katanya.

Keira duduk lebih tegak.

"Aku menyelidiki kematian ibuku, Amara Tanadi. Dalam arsip lama yang berkaitan dengan kasusnya, ada petunjuk tentang seorang anak yang mungkin selamat dari peristiwa lain. Hanya inisial K.H."

Hendrik langsung menulis.

"Apa hubungannya denganku?" tanya Keira.

"Aku belum tahu. Nama keluargamu cocok. Responsmu terhadap suara tertentu dan cerita kecelakaan Dago membuatku mempertimbangkan kemungkinan itu."

"Kamu menyelidikiku?"

"Aku memeriksa informasi publik dan hal yang Rafael ceritakan sendiri. Aku belum mengakses catatan medis, administrasi pribadi, atau berkas tertutupmu."

"Apakah kamu tahu aku pewaris sesuatu?"

"Tidak." Adrian menjawab tanpa jeda. "Aku tidak punya bukti bahwa K.H. adalah kamu. Aku juga tidak tahu apakah petunjuk itu benar. Kalau kamu menolak pernikahan ini, informasi tersebut tetap akan kuberikan kepada pengacaramu untuk ditindaklanjuti secara terpisah."

Hendrik menatap Adrian cukup lama. "Saya akan mencatat pernyataan itu."

"Silakan."

Keira merasakan telapak tangannya dingin. Bukan karena takut disentuh. Untuk pertama kalinya, seseorang membuka kemungkinan tentang masa lalunya tanpa menuntut agar ia langsung percaya.

"Aku tetap ingin lanjut," katanya. "Tapi penyelidikan tentang K.H. tidak boleh dilakukan atas namaku tanpa kuasa tertulis."

"Masukkan ke dokumen," jawab Adrian.

Malam itu, perjanjian perkawinan selesai diparaf setelah kedua pihak mendapat nasihat terpisah. Penandatanganan dan akta notaris dijadwalkan pada pagi berikutnya sebelum mereka berangkat ke Bandung. Jadwal itu tersedia karena dokumen Adrian memang telah lama dipersiapkan untuk menolak perjodohan keluarganya. Nama pasangan, klausul Keira, dan persetujuan akhir baru dimasukkan setelah pemeriksaan hari itu.

Keira tidak meminjam kesiapan Adrian sebagai jalan pintas.

Ia memakainya untuk membuat pilihannya sendiri lebih cepat.

Pagi hari ketiga, notaris kembali bertanya apakah keduanya masih ingin melanjutkan. Keira dan Adrian menjawab secara terpisah. Setelah akta ditandatangani, masing-masing menerima salinan, sementara versi elektronik terenkripsi dikirim kepada pengacara masing-masing.

Perjalanan menuju Bandung memakan waktu berjam-jam. Gavin duduk di depan bersama Felix. Begitu Keira masuk mobil, Gavin menoleh dan mengangkat kartu namanya yang sudah kering.

"Saya tinggal di B-17," katanya.

"Saya tahu sekarang."

"Tulisan saya memang buruk, tapi tidak seburuk itu."

"Hujannya yang bersalah."

Gavin melirik Adrian melalui kaca spion. "Tentu. Hujan."

Nada datarnya membuat Keira menahan senyum. Ketegangan di bahunya turun sedikit.

Gedung Memorial Dago Bandung berdiri tenang di belakang halaman yang baru selesai disapu hujan. Ruang privatnya sudah dipesan untuk penandatanganan kecil tanpa dekorasi besar dan tanpa keluarga yang menunggu. Keira mengenakan gaun krem sederhana. Adrian memakai setelan gelap tanpa aksesori mencolok.

Petugas administrasi memeriksa dokumen identitas, pernyataan status perkawinan, data kedua saksi, dan bukti bahwa tidak ada perkawinan lain. Notaris kembali menegaskan tanggung jawab hukum, kejujuran, dan pilihan sadar dalam rumah tangga.

Keira mendengarkan setiap kata.

Saat diminta menyatakan kehendak, Adrian menatapnya tanpa mendekat.

"Saya bersedia," kata Keira.

"Saya bersedia," jawab Adrian.

Gavin dan Felix menandatangani sebagai saksi. Tidak ada ciuman yang diminta. Setelah penandatanganan selesai, petugas menyerahkan salinan berita acara dan daftar dokumen untuk pencatatan sipil.

Di halaman gedung memorial, Adrian membuka payung.

"Boleh?" tanyanya sebelum berdiri di sisi Keira.

"Boleh."

Mereka berjalan di bawah satu payung tanpa berpegangan tangan.

Usai penandatanganan, mereka langsung kembali ke Jakarta. Sore itu, pada layanan akhir pekan yang telah diumumkan dan dipesan sesuai antrean, Keira dan Adrian datang sendiri ke titik pelayanan Dukcapil sesuai domisili KTP-el dan KK mereka. Tidak ada loket khusus yang dikosongkan. Mereka mengambil nomor, duduk di antara pasangan lain, dan menunggu layar memanggil giliran.

Petugas memeriksa KTP-el, KK, berita acara penandatanganan, data dua saksi, dokumen status perkawinan, serta akta perjanjian perkawinan yang harus ikut dicatat. Keira dan Adrian menandatangani formulir di hadapan petugas.

"Semua data yang Anda berikan benar dan diajukan dengan kehendak sendiri?" tanya petugas.

"Benar," jawab mereka bergantian.

Setelah verifikasi selesai, petugas menjelaskan tahap penerbitan kutipan akta dan pembaruan administrasi. Tanda terima resmi, nomor permohonan, serta salinan digital tersimpan di ponsel Keira dan Adrian. Salinan terenkripsi juga dikirim ke kedua pengacara.

Belum genap empat puluh delapan jam sejak Keira meninggalkan Rumah Aster, keputusan yang dahulu selalu diambil orang lain kini tercatat atas kehendaknya sendiri.

Keira memotret bukti upacara dan tanda terima, lalu mengirimkannya kepada Naya.

Aku tidak kembali ke jalan lama. Aku memilih jalan keluar yang baru.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Kamu sadar? Kamu aman? Pengacaramu sudah periksa semuanya?

Keira menjawab satu per satu.

Sadar. Aman. Pak Hendrik hanya mewakiliku.

Setelah jeda panjang, Naya membalas.

Kalau begitu aku berdiri di pihakmu. Tapi nanti aku tetap mau menatap suamimu langsung.

Suamimu.

Satu kata itu membuat lantai ruang tunggu terasa bergeser tipis. Keira melihat Adrian duduk dua kursi darinya, memberi ruang seperti sejak malam pertama.

Adrian menutup panggilan singkat dengan pengacaranya, lalu berkata kepada Gavin, "Kirim deklarasi benturan kepentinganku hari ini. Mulai sekarang aku keluar dari penilaian, persetujuan kontrak, dan pemilihan pemasok Nusa Raya. Komite tanpa konflik yang menangani semuanya."

Gavin mengangguk. "Saya catat waktu efektifnya sejak pencatatan pernikahan."

Keira mengenal Nusa Raya sebagai proyek yang pernah disebut Rafael dalam rapat Aruna Vista. Ia hendak bertanya ketika ponselnya bergetar.

Rafael.

Ia membiarkan dering pertama habis. Panggilan kedua masuk segera. Keira menekan tombol jawab tanpa mengaktifkan pengeras suara.

"Apa?"

Napas Rafael terdengar kasar. "Kamu benar-benar menikah?"

"Ya."

"Batalkan sebelum semuanya terlambat."

"Itu bukan keputusanmu."

"Keira, dengarkan aku." Suara Rafael turun, tetapi kepanikannya justru makin jelas. "Pria yang kamu nikahi itu sama sekali bukan orang biasa seperti yang kamu kira."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!