Indonesia
NovelToon NovelToon

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Terjebak dalam Hujan

"Capek sekali," keluhnya

Jam di pergelangan tanganya menunjukkan delapan malam lewat lima belas menit. Jam kerja normalnya sebagai buruh harian lepas di pabrik pengolahan kerupuk dan makanan ringan ini sebenarnya telah berakhir sejak pukul setengah delapan tadi.

Devi Putri Maharani mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju lusuhnya.

Gadis sembilan belas tahun yang baru beberapa bulan menyelesaikannya pendidikannya di SMA negeri kecamatan itu menghela napas panjang.

Menjadi lulusan SMA di desa yang jauh dari kota besar bukanlah hal yang istimewa. Harapan untuk melanjutnya sekolah ia harus menguburnya,Tidak ada pilihan untuknya, keuangan keluarga jangankan untuk membiayai bangku perguruan tinggi, untuk makan sehari-hari dan membayar cicilan utang saja sudah kembang kempis. Pilihan paling realistis bagi Devi adalah bekerja sebagai buruh kasar, menukar keringatnya dengan upah harian yang tak seberapa demi membantu sang ibu dan keluarganya.

Ia mulai merapikan tas kain usangnya yang tergantung di paku dinding, bersiap-siap untuk melangkah keluar dan menyusuri koridor pabrik menuju pintu gerbang. Namun, belum sempat tali tas itu bertengger di bahunya, langkah kaki berat berdentum di atas lantai semen yang dingin.

"Devi! Mau ke mana kamu? Pekerjaanmu belum selesai!"

Suara berat dan serak itu memotong heningnya gudang. Pak Joko, kepala gudang berbadan tambun dengan perut membuncit dan wajah yang selalu tampak berang, berjalan menghampirinya sambil membawa papan jalan berpenjepit kertas.

Devi memutar tubuhnya, menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk rasa hormat yang terpaksa. "Maaf, Pak Joko. Tapi shift saya sudah selesai dari jam setengah delapan tadi. Kakak saya juga mungkin sebentar lagi sampai untuk menjemput saya."

Pak Joko mendengus kasar, melempar tatapan menyipit yang penuh intimidasi. "Shift selesai? Jangan manja kamu, Devi! Kamu lihat tumpukan dus kerupuk di gudang belakang itu? Itu barang persediaan yang harus diangkut dan disajikan untuk pengiriman armada subuh besok! Anak-anak cowok yang biasa bongkar muat sedang dipindah bertugas ke pabrik cabang sejak sore. Siapa lagi yang mau membereskan kalau bukan kamu?"

"Tapi Pak ... barang di gudang belakang itu terlalu banyak untuk saya kerjakan sendiri. Dan ini sudah malam sekali, tidak ada angkutan umum yang lewat kalau kakak saya lupa jemput," bisik Devi, mencoba memberanikan diri menawar.

Pak Joko melipat kedua tangannya di dada, melangkah makin dekat hingga bau asap rokok yang menyengat dari pakaian pria itu membuat Devi merinding.

"Dengar ya, Devi. Kamu itu di sini cuma buruh harian lepas. Masih untung pabrik ini mau menampung lulusan SMA kemarin sore seperti kamu. Kalau kamu tidak mau membereskan gudang belakang sampai rapi malam ini, besok-besok kamu tidak usah menampakkan muka lagi di pabrik ini! Masih banyak orang di luar sana yang antre mau kerjaan kamu!" ancam Pak Joko dingin, tanpa ada rasa iba sedikit pun.

Kata-kata itu menghantam dada Devi bagaikan tinju yang tidak terlihat. Rasa takut akan kehilangan satu-satunya sumber penghasilan keluarga mengalahkan rasa lelah yang menggerogoti fisiknya.

Jika ia dipecat malam ini, besok ibunya tidak akan bisa membeli beras dan membayar uang kontrakan rumah mereka.

"Baik, Pak ... Saya kerjakan," jawab Devi pelan, menahan getaran di suaranya agar tidak pecah menjadi tangisan.

"Bagus. Pastikan semuanya selesai dan terkunci rapi sebelum kamu pulang!" Pak Joko berbalik arah tanpa memedulikan raut wajah Devi yang pucat, melangkah pergi meninggalkan gadis itu sendirian di area gudang yang makin sepi dan gelap.

Suara derit pintu besi gudang belakang berbunyi nyaring saat Devi mendorongnya.

Ruangan ini jauh lebih berdebu dan remang dibandingkan area depan. Hanya ada satu bohlam lampu kuning redup yang bergantung lemas di langit-langit berjarang. Tumpukan dus-dus karton besar berisi produk makanan ringan menjulang tinggi, menanti untuk ditata ulang sesuai urutan tanggal kedaluwarsa.

Devi mulai bekerja. Satu per satu dus yang berbobot belasan kilogram itu ia angkat dengan kedua tangan kecilnya. Keringat makin membasahi punggung dan pelipisnya. Jarum jam terus bergulir tanpa ampun. Pukul sembilan ... pukul sembilan lewat empat puluh lima ... hingga akhirnya mendekati pukul sepuluh malam.

Di sela-sela rasa lelahnya, Devi menyempatkan diri merogoh saku celana jins lamanya untuk mengambil ponsel pintar murah berkaca retak milik sang ibu yang ia bawa. Ia mem buka aplikasi pesan singkat, menatap layar yang menampilkan obrolannya dengan kak Raka, kakak laki-lakinya.

[Kak, Devi lembur di gudang. Kalau sudah selesai kegiatan di bengkel, tolong jemput Devi ya. Sudah malam.]

Pesan yang ia kirim sejak pukul delapan malam itu masih menyisakan ikon centang satu berwarna abu-abu. Ponsel kakaknya tampaknya mati atau kehabisan baterai.

Devi mencoba menelpon, namun hanya suara operator bernada datar yang menjawabnya bahwa nomor yang dituju tidak aktif. Rasa cemas mulai menyelinap lambat laun di dadanya. Pulang sendirian berjalan kaki di malam hari melintasi perbatasan desa bukanlah hal yang aman bagi seorang gadis muda.

Tiba-tiba, dari luar bangunan gudang, suara gemuruh angin bertiup kencang hingga membuat seng peneduh bergetar hebat.

Tidak sampai lima menit kemudian, langit malam pecah. Hujan deras tercurah bagai ditumpahkan dari langit, disertai suara dentuman petir yang bersahut-sahutan menggelegar di atas udara.

DUAR!

Kilatan cahaya putih menyambar sangat dekat dari area pabrik. Detik berikutnya, suara letupan kecil terdengar dari arah panel listrik utama, dan seketika itu pula seluruh lampu di dalam pabrik padam total.

Kegelapan pekat menyelimuti Devi dalam sekejap.

"A-astagfirullah!" jerit Devi histeris. Ia terperanjat hingga jatuh terduduk di lantai semen dingin, tak sengaja menyenggol tumpukan kardus di sampingnya.

Suasana di dalam gudang menjadi sangat mencekam. Hanya ada suara gemuruh hujan yang menghantam atap seng dengan sangat bising dan kegelapan total yang menyulitkan mata untuk melihat sejengkal pun di depan muka.

Rasa takut akan terkunci di dalam area pabrik yang sepi melingkupi pikiran Devi. Dengan tubuh gemetar, ia meraba-raba lantai, mencari ponselnya yang terlepas saat ia kaget tadi. Setelah beberapa detik meraba dengan kepanikan luar biasa, jemarinya akhirnya menyentuh casing plastik ponselnya. Ia menggeser layar dan menyalakan lampu kilat kamera sebagai penerang darurat.

"Aku harus keluar ... aku harus pulang," gumamnya pada diri sendiri, suaranya gemetar menahan takut.

Devi berlari kecil menembus koridor pabrik yang remang dituntun sinar redup lampu senter ponselnya. Pintu gerbang samping pabrik ternyata sudah tidak terkunci, ditinggalkan begitu saja oleh penjaga malam yang mungkin sedang berteduh di pos depan.

Tanpa berpikir panjang, Devi keluar menembus dinginnya malam.

Hujan mengguyur tanpa ampun. Dalam hitungan detik, pakaian Devi, kaos tipis dan celana jinsnya, sudah basah kuyup melekat di kulit. Air hujan yang dingin menusuk hingga ke tulang sumsumnya, membuat giginya berkatuk-katuk menahan kedinginan. Jalanan tanah berdusun yang menghubungkan area pabrik dengan pemukiman warga sudah berubah menjadi genangan lumpur yang licin.

Jalanan itu sangat sepi. Tidak ada lampu penerangan jalan umum, hanya kegelapan yang pekat di kiri dan kanan yang didominasi oleh pepohonan rindang dan area pesawahan. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang menusuk. Devi mempercepat langkah kakinya, sesekali hampir terpeleset karena licinnya jalanan tanah.

"kak Budi ... kamu di mana ..." bisik Devi meratap, memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan yang memucat karena dingin.

Setelah berjalan sekitar lima ratus meter menembus guyuran hujan yang makin lebat, penglihatan Devi mulai samar. Matanya kemasukan air hujan yang terus menetes dari rambutnya yang basah kuyup. Langkah kakinya makin berat. Ia sadar ia tidak akan sanggup berjalan sejauh dua kilometer lagi dalam kondisi seperti ini hingga sampai ke rumahnya.

Di tengah keputusasaannya, cahaya kilat petir menerangi sisi jalan di depan sana. Sekitar sepuluh meter dari posisinya berdiri, nampak bayangan sebuah gubuk bambu tua. Gubuk itu adalah bangunan kecil tak berdinding rapat yang biasa digunakan para petani setempat untuk berteduh dari terik matahari saat menggarap sawah.

Tanpa memikirkan hal lain, Devi berlari sekuat tenaga menuju gubuk tersebut. Ia melompat naik ke atas lantai panggung bambu yang sedikit lebih tinggi dari tanah mudarat yang berlumpur.

Walaupun sebagian atap jeraminya sudah bocor, gubuk itu setidaknya memberikan sedikit perlindungan dari paparan langsung air hujan yang menghantam dari atas.

Devi berlutut di atas lantai bambu, mengusap air hujan yang membasahi wajahnya dengan telapak tangan. Desah napasnya terengah-engah, dadanya naik turun mengandalkan sisa tenaga yang ada. Ia menyandarkan punggungnya pada salah satu tiang penyangga gubuk, memeluk kedua lututnya rapat-rapat untuk mengusir rasa dingin yang makin menyiksa.

Di saat ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, sebuah gesekan samar terdengar dari sudut gubuk yang tergelap. Suara itu bukan berasal dari deru hujan atau gesekan daun bambu.

Itu adalah suara hela napas seseorang.

Perasaan janggal langsung menyengat tengkuk Devi. Bulu kuduknya berdiri seketika. Dengan tangan yang tremor hebat, Devi mengangkat ponselnya yang menyisakan daya baterai sepuluh persen, lalu mengarahkan lampu senter ponsel itu ke arah sudut kegelapan di samping kirinya.

Sinar lampu redup itu perlahan menyingkap sesosok tubuh yang sedang bersandar di tiang gubuk bagian dalam.

Seorang pria.

Lampu senter itu memantulkan siluet seorang pemuda berwajah tegas namun berpenampilan sangat acak-acakan. Ia mengenakan jaket jins lusuh berhias robekan di beberapa bagian, yang saat itu sengaja dibiarkan terbuka sepenuhnya.

Di balik jaketnya yang terbuka, nampak dada bidangnya yang basah oleh air hujan, memperlihatkan garis-garis rajatan tato berwarna hitam tebal yang membentang dari leher hingga ke lengannya. Rambutnya yang sedikit panjang kelihatan basah dan berantakan menutupi sebagian keningnya.

Pria itu perlahan mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah lampu senter yang diarahkan Devi padanya. Sorot matanya sangat tajam, berwarna kelam, dan memancarkan aura berbahaya yang membuat siapa saja ingin segera melangkah mundur.

Devi membeku di tempat. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Di kepalanya hanya ada satu kata yang menjerit dengan sangat keras: ("Preman!")

Pria asing itu mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan yang memiliki beberapa bekas luka goresan, lalu menatap Devi yang ketakutan setengah mati di sudut gubuk.

"Siapa kamu?" suara pria itu terdengar sangat berat, dalam, dan sedikit serak menembus bisingnya suara hujan.

Prahara di Gubuk Kosong

"Siapa kamu?!"

Suara berat dan serak itu meluncur dari bibir sang pemuda, membelah bisingnya deru hujan yang menghantam atap jerami gubuk. Nada suaranya dingin, berwibawa, dan menyimpan ancaman terselubung yang membuat bulu kuduk Devi berdiri tegak.

Devi makin ketakutan, tubuhnya bergetar ia semakin menyudutkan tubuhnya hingga punggungnya menempel erat pada tiang bambu panggung yang dingin. Napasnya tersengal-sengal, memburu seiring dengan detak jantungnya yang berdebar kencang melebihi irama petir di luar. Lampu senter dari ponsel di tangannya gemetar hebat, membuat bayangan pria itu bergetar liar di dinding bambu gubuk.

"Sa—saya ... saya cuma mau berteduh, Mas! Jangan mendekat!" pekik Devi dengan suara bergetar menahan tangis. Jarinya meremas erat tali tas kainnya yang basah, sementara tangan satunya lagi merogoh kantong celana jinsnya, mencari botol kecil minyak angin aromatherapy, satu-satunya "senjata" lindung diri yang ia miliki saat ini.

Pria itu menyipitkan matanya, terganggu oleh kilatan lampu senter yang mengarah tepat ke wajahnya. Ia menghembuskan napas kasar. Di bawah remang cahaya ponsel, Devi kini bisa melihat lebih jelas penampilan pria di hadapannya. Pria itu tampak sangat berantakan. Pakaian dasarnya, sebuah kaos polos hitam, tergeletak begitu saja di lantai bambu dalam keadaan basah kuyup sehabis diperas. Pria itu hanya mengenakan jaket jins lusuh yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang basah oleh sisa air hujan serta tato melingkar yang tampak samar di balik bayangan.

Rambut hitamnya yang agak panjang dan acak-acakan menutupi sebagian kening, serta rahang tegasnya yang dihiasi jambang tipis memberikan kesan dingin khas seorang preman jalanan.

"Turunkan lampu ponselmu," tegur pria itu datar, nadanya lebih seperti perintah daripada permintaan. "Silau."

Bukannya menurut, Devi justru memeluk tasnya lebih erat ke dada. "Saya tidak bermaksud mengganggu. Saya ... saya cuma terjebak hujan dan mati lampu di pabrik. Nanti kalau hujannya mereda sedikit, saya langsung pergi!"

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menggerutu pelan, geleng-geleng kepala melihat ketakutan berlebihan dari gadis di depannya. Pria itu menggeser duduknya, bermaksud berdiri untuk mengambil kaos basahnya yang tergeletak di sudut gubuk agar gadis itu tidak terus-menerus menatapnya seperti menatap seekor monster.

Namun, nasib buruk tidak pernah meminta izin sebelum mengetuk pintu.

Saat pria itu mulai bangkit dan menumpu berat badannya pada lantai panggung bambu, sebuah bilah bambu tua yang sudah lapuk di dasar gubuk mendadak patah!

KRAK!

"Agh ..."

Lantai yang licin akibat genangan air hujan yang merembes dari atap bocor dikombinasikan dengan patahnya bilah bambu membuat pijakan pria itu hilang seketika. Tubuh tingginya yang tegap mendadak oleng dan hilang keseimbangan.

"Awas!" jerit pria itu spontan.

Dalam hitungan detik yang terasa berjalan begitu lambat, tubuh kekar pria itu ambruk ke depan, jatuh lurus menuju arah posisi Devi yang sedang meringkuk ketakutan.

"Aaakh!" Devi menjerit histeris. Ia mencoba menghindar ke samping, tetapi ruang gerak di sudut gubuk terlalu sempit dan licin.

BRUK!

Suara benturan keras bergema di dalam gubuk tua itu.

Tubuh tegap pria asing itu jatuh tepat menimpa tubuh Devi. Ponsel yang dipegang Devi terlepas dari genggamannya, terlempar ke lantai dan mendarat dengan posisi lampu senter mengarah ke atas, menyoroti langit-langit gubuk.

Devi terhentak hebat, napasnya seolah tertahan saat dada bidang pria yang tak mengenakan baju itu menindih dada dan perutnya. Kedua tangan pria itu secara refleks terulur ke samping kepala Devi untuk menahan agar badannya tidak sepenuhnya menjepit gadis itu, namun dalam posisi seperti itu, wajah mereka berdua terpisah hanya dalam jarak beberapa sentimeter saja.

Napas hangat pemuda itu berembus menerpa kulit leher dan pipi Devi yang dingin. Devi terpaku, matanya terbelalak lebar menatap iris mata kelam pria di atasnya. Keadaan mereka sangat dekat, begitu intim hingga detak jantung satu sama lain seolah bisa terdengar bersahut-sahutan di tengah deru hujan.

"Kamu ... kamu tidak apa-apa?" bisik pria itu dengan suara serak, ada raut terkejut yang dalam di matanya.

Belum sempat Devi menjawab atau bahkan mendorong dada pria itu menjauh, suara derap langkah kaki yang terburu-buru menembus lumpur terdengar mendekati gubuk dari arah jalan raya.

"kalian dengar tadi?" salah satu warga yang kebetulan lewat di tempat itu menghentikan langkah ke tiga temannya?"

"Suara apa, kamu jangan nakut nakutin aku, disini agak angker, malam Jumat lagi ." jawab salah satu temannya dengan bergidik ketakutan.

"Dasar lho penakut, kita lewat di sini sudah berapa kali, tidak ada hal -hal yang janggal yang kita temui."

"Iya ,...dasar kamu penakut,kalau penakut Lo ..nggak usah keluar malam, sana tidur dipelukan Emak Lo ..." sahut temannya yang satu dengan nada mengejek."

"Sudah -sudah malah pada ribut,!" salah satu temannya mencoba menengahi "Tadi sepertinya ada suara jeritan dari arah sini!"

"Iya ...tadi aku dengar, Coba cek gubuk tua itu! Tadi saya lihat ada kilatan lampu!"

"Sebaiknya kita kesana, kita harus bisa menangkap orang yang tidak bener di gubuk itu."

****

Sementara di dalam gubuk, kedua orang yang masih asing dan berlian jenis masih saling terpaku .

"SREEEKK!"

Sebelum salah satu dari mereka sempat bergerak untuk memperbaiki posisi tubuh, beberapa kilatan cahaya lampu senter super terang mendadak menyorot masuk dari celah pintu gubuk yang terbuka lebar. Cahaya silau itu langsung mengunci posisi Devi dan pemuda asing tersebut.

"Woi! Siapa di dalam?!

Suara teriakan garang memecah kesunyian malam. Beberapa pria bertubuh kekar mengenakan sarung yang dililitkan di leher dan memegang pentungan kayu, para warga desa yang kebetulan sedang ronda malam bersama Pak RT, melangkah masuk ke dalam gubuk.

Lampu senter mereka menembus kegelapan dan seketika menerangi pemandangan mengejutkan di lantai panggung gubuk: seorang gadis desa yang baju dan celananya basah kuyup, sedang tertindih di bawah tubuh seorang pemuda asing berwajah gahar yang tidak mengenakan baju, dengan jaket jins terbuka dan tato yang terpampang nyata.

Suasana gubuk mendadak menjadi hening mencengangkan selama dua detik, sebelum akhirnya meledak menjadi kehebohan yang luar biasa.

"Astagfirullahal'adzim! Warga sekalian, lihat ini!" teriak seorang warga bertubuh tambun sambil menunjuk-nunjuk posisi mereka dengan telunjuk bergetar.

"Perbuatan mesum! Bermaksiat di desa kita malam-malam begini!" timpal warga lainnya dengan nada penuh amarah.

"Iya ...bisa -bisanya kalian berbuat menjijikan ditempat ini ?! Sahut salah satu pemuda dengan amarahnya .

"Iya ....kalian berdua sudah berbuat mesum di tempat ini, kalian membuat sial daerah kami ."

"Kalian berdua harus bertanggung jawab, kalian berdua harus menikah malam ini juga ."

"Hah ...apa ? MENIKAH?!

Devi putri Maharani (Awal cerita )

Devi Putri Maharani baru saja genap berusia sembilan belas tahun. Ia adalah lulusan SMA Negeri di desanya. Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, Devi tumbuh bersama kakak laki-lakinya yang bernama Raka. Raka memang agak rewel dan senang sekali menggoda adiknya. Namun di balik sikapnya yang usil itu, Raka sangat menyayangi Devi.  

Mereka tinggal di sebuah desa yang sederhana. Ayah mereka bekerja serabutan. Kadang menjadi buruh tani, kadang menjadi buruh bangunan, tergantung pekerjaan yang tersedia. Prinsip ayahnya sangat jelas: jangan malu dengan pekerjaan apa pun, yang penting halal. Sementara itu, ibu mereka adalah seorang ibu rumah tangga sejati. Ia mengurus suami, anak-anak, dan rumah tangga. Di sela-sela kesibukannya, ibu sering ngerumpi dengan tetangga. Maklumlah, itu sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu di desa.  

Kakak Devi, Raka, bekerja di sebuah bengkel motor kecil. Menurut Raka, tidak apa-apa bekerja di bengkel kecil. Yang penting dapat upah dan sekaligus bisa dianggap sebagai sekolah sekaligus mencari pengalaman. Uang yang didapat memang sedikit, tetapi lumayan untuk membeli rokok daripada menganggur di rumah.  

Sebenarnya, Devi dan Raka pernah berniat untuk kuliah. Namun, apa daya? Biaya menjadi faktor utama yang menghalangi. Mereka berusaha menerima takdir itu. Mereka tidak ingin memaksa kedua orang tua untuk membiayai kuliah karena sudah mengerti betapa beratnya mencari uang. Ayah mereka tidak pernah kurang berusaha dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga. Alhamdulillah, setidaknya kedua orang tua mampu menyekolahkan mereka hingga tamat SMA.  

Pagi itu, suasana di rumah Devi terasa hangat meski sederhana. Meja makan kayu yang sudah agak usang dipenuhi hidangan sarapan: nasi putih, tumis kangkung, telur dadar, dan sambal terasi. Aroma kopi dari cangkir ayah memenuhi ruangan.  

“Devi, kamu sudah lulus SMA?” tanya ayah tiba-tiba ketika mereka sedang sarapan bersama.  

Devi mengangkat wajahnya. “Kalau pengumuman kelulusan sudah keluar, Yah. Kemarin. Mungkin acara perpisahannya kurang lebih satu minggu lagi, menurut Bu Guru.”  

Ayah mengangguk pelan. “Alhamdulillah. Kira-kira ijazah kamu keluarnya kapan, Nak?”  

“Kurang tahu, Yah. Belum ada pengumuman. Mungkin setelah perpisahan baru bisa diambil.”  

Devi menatap ayahnya dengan sedikit heran. “Emang kenapa, Yah?”  

Ayah menghela napas panjang. Wajahnya terlihat sedih. “Begini … maaf. Ayah tidak bisa menguliahkan kamu seperti cita-cita kamu. Kamu tahu sendiri pekerjaan ayah. Ayah tidak sanggup memenuhi kebutuhan dan biaya selama kamu kuliah. Maaf ya, Nak.”  

Devi tersenyum tipis, berusaha menenangkan ayahnya. “Tidak apa-apa, Yah. Aku senang sekali walaupun cuma sampai SMA. Setidaknya nanti saya bisa mencari pekerjaan yang lebih baik. Doakan Yah, supaya anakmu ini bisa dapat pekerjaan yang bagus. Sehingga ayah dan ibu tidak usah repot-repot bekerja. Kasihan ayah dan ibu kan sudah tua.”  

Raka yang duduk di samping Devi segera menimpali. “Iya, Yah. Apa yang dikatakan adik benar. Kami sangat bangga mempunyai ayah dan ibu yang sudah bekerja keras untuk merawat dan mendidik kami hingga kami bisa bersekolah seperti sekarang ini.”  

Ayah tersenyum lega. “Alhamdulillah. Kami bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena diberi dan dianugerahi putra-putri seperti kalian. Semoga kalian selalu diberkahi, diberi kemudahan, diberi pekerjaan yang mapan, sukses, dan menjadi orang yang sukses.”  

“Aamiin … aamiin ya Rabbal alamin,” jawab mereka semua sambil menengadahkan tangan, lalu mengusap wajah. Doa ayah itu mereka aminkan bersama, semoga diijabah oleh Allah Swt.  

Setelah doa, ayah kembali berbicara. “Oh ya, Nak. Sepertinya di pabrik di desa sebelah lagi buka lowongan pekerjaan, lho. Kenapa kamu tidak coba-coba melamar untuk bekerja di sana? Siapa tahu kamu diterima. Daripada tidak ada kegiatan di rumah.”  

Ibu yang sedari tadi diam langsung menoleh. “Benaran, Yah? Ayah dengar dari siapa?”  

“Benaran. Kemarin si Wito sama si Suto ngobrol. Ada bapak juga di sana. Katanya pabrik di desa sebelah lagi buka lowongan pekerja untuk bagian produksi,” jelas ayah.  

Ibu tersenyum cerah. “Wah, kebetulan sekali itu, Nduk. Kalau benar ada lowongan pekerjaan di sana, kenapa kamu tidak mencobanya?”  

Raka ikut menambahkan. “Wah, benar itu kata Ibu, Dek. Kenapa kamu tidak mencoba? Siapa tahu kamu diterima bekerja di sana. Daripada menganggur dan bingung mau ngapain di rumah, mending bekerja di pabrik. Toh pabriknya dekat, cuma di desa sebelah.”  

Devi diam sejenak. Pikirannya berkecamuk. *Apa iya aku kerja di pabrik saja ya? Daripada aku bingung mau ngapain di rumah. Mungkin dengan bekerja aku bisa menabung dan mengumpulkan uang untuk mendaftar kuliah.*  

“Gimana, Dek? Apa kamu mencoba mendaftar di pabrik itu? Siapa tahu kamu bisa diterima,” tanya Raka lagi.  

Devi menatap kakaknya dengan mata memelas. “Boleh, Kak. Tapi kakak temenin aku mendaftar ke sana ya?”  

Raka mengangguk. “Boleh, Dek. Nanti abang mau izin sama Bang Jali dulu. Kakak mau nganterin kamu melamar pekerjaan di pabrik itu.”  

Devi tersenyum nakal. “Pasti boleh lah, Kak. Pasti Bang Jali mengizinkan. Kalau tidak, si Romlah, adik Bang Jali, bisa ngamuk-ngamuk kalau sampai abang tidak diizinkan dan dimarahi Bang Jali. Secara si Romlah naksir berat sama kakak, ha-ha-ha!”  

Raka langsung mendelik. Mukanya ditekuk karena digoda di depan ayah dan ibu. Sementara ayah dan ibu hanya tersenyum-senyum mendengar candaan kedua anaknya.  

“Sudah, sudah. Raka berangkat sana. Hari sudah mulai siang!” ucap ibu mengakhiri candaan mereka.  

Raka berdiri, mencium tangan kedua orang tuanya. “Ya, Bu. Ayah. Raka pamit berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum.”  

“Waalaikumsalam,” jawab mereka bersama.  

Sepeninggal Raka, Devi menyelesaikan sarapannya lalu membantu ibu membereskan meja makan dan mencuci piring. Suasana rumah kembali tenang. Hanya terdengar suara air mengalir dari sumur belakang dan kicauan burung di luar.  

Setelah selesai membantu, Devi mendekati ibu yang sedang menyapu halaman. “Ibu, aku mau main ke tempat Rani dulu ya. Kebetulan sekolah kan libur, Bu. Siapa tahu dia mau ikut mendaftar di pabrik bareng aku. Rani kan sahabat terbaikku semenjak kami masih TK.”  

Ibu mengangguk. “Iya. Pulangnya jangan sore-sore. Nanti bantuin ibu memetik sayuran di kebun belakang. Cabe sama tomatnya sudah pada matang-matang.”  

Ibu memang tidak pernah mau diam di waktu senggang. Ia selalu menanam sayuran di kebun belakang. Hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari supaya lebih menghemat pengeluaran.  

“Iya, Bu. Nanti jam tiga aku sudah pulang. Nanti aku langsung ke kebun belakang bantu Ibu,” jawab Devi.  

“Ya sudah. Bu, aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”  

“Waalaikumsalam,” sahut ibu.  

Devi lalu berjalan kaki menuju rumah Rani. Jarak rumah mereka kurang lebih dua puluh rumah. Ia memilih berjalan kaki, hitung-hitung sambil berolahraga dan melihat pemandangan kanan-kiri.  

Di sepanjang jalan, Devi bertemu beberapa tetangga yang sedang menuju ladang, kebun, atau melakukan aktivitas lainnya. Di desanya, Devi memang dikenal ramah. Ia selalu menyapa siapa saja, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.  

“Mari, Pak Samin. Mau ke ladang?” sapa Devi kepada tetangganya.  

Pak Samin tersenyum. “Oh iya, ini mau ke ladang. Mau nanam cabe. Devi mau ke mana?”  

“Oh iya, Pak Samin. Ini mau ke tempatnya Rani. Duluan, Pak Samin.”  

“Iya, silakan,” jawab Pak Samin sambil melanjutkan langkahnya.  

Devi terus berjalan. Angin pagi yang sejuk menyapu wajahnya. Pohon-pohon di pinggir jalan masih basah oleh embun. Di kejauhan, ia bisa melihat sawah yang mulai menghijau. Dalam hati, ia mulai membayangkan bagaimana rasanya bekerja di pabrik. Apakah rekan-rekannya akan ramah? Apakah upahnya cukup untuk ditabung? Ataukah nanti ia akan menyesal karena meninggalkan cita-cita kuliahnya?  

Namun, satu hal yang pasti: ia tidak ingin menjadi beban bagi kedua orang tuanya. Ia ingin membuktikan bahwa lulusan SMA pun bisa berjuang dan sukses.  

Begitu tiba di depan rumah Rani, Devi berhenti sejenak. Rumah Rani tidak jauh berbeda dengan rumahnya—sederhana, dinding papan, halaman yang agak luas dengan beberapa pohon pisang. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu.  

“Rani…!” panggilnya.  

Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki. Pintu terbuka. Rani muncul dengan wajah masih mengantuk, rambutnya berantakan.  

“Wah, Devi. Pagi-pagi begini sudah ke sini. Ada apa?” tanya Rani sambil mengucek mata.  

Devi tersenyum lebar. “Aku mau ngajak kamu sesuatu. Mau dengar?”  

Rani mengangguk, lalu mempersilakan Devi masuk. Mereka duduk di teras. Devi mulai menceritakan tentang lowongan pekerjaan di pabrik desa sebelah, tentang ajakan ayah, ibu, dan kakaknya, serta harapannya untuk menabung agar suatu hari bisa kuliah.  

Rani mendengarkan dengan saksama. Wajahnya yang tadi mengantuk kini terlihat serius.  

“Jadi… kamu mau aku ikut melamar juga?” tanya Rani akhirnya.  

Devi mengangguk. “Iya. Kalau kamu mau. Nanti kita bareng. Kakakku juga mau nganter.”  

Rani terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Boleh deh. Aku juga lagi bingung mau ngapain setelah lulus. Daripada di rumah saja.”  

Devi merasa lega. Setidaknya, ia tidak akan sendirian menghadapi langkah baru itu.  

Mereka terus mengobrol hingga hampir tengah hari. Devi menceritakan juga candaan tentang Romlah yang naksir Raka, membuat Rani tertawa terbahak-bahak. Waktu berlalu begitu cepat.  

Ketika matahari sudah agak tinggi, Devi berdiri. “Aku pulang dulu ya. Janji sama Ibu mau bantu petik cabe sama tomat.”  

“Iya. Nanti kabari aku kapan kita berangkat melamar,” kata Rani.  

“Pasti.”  

Devi pamit, lalu berjalan pulang dengan langkah lebih ringan. Di dalam hatinya, ada harapan baru yang mulai tumbuh. Meski belum pasti diterima, setidaknya ia sudah berani mencoba. Dan itu sudah cukup untuk membuat hari itu terasa lebih berarti.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!