Di sebuah Negara Gozhuang, yang dikelilingi sungai mengalir.
Su Yinyin mengucek kedua matanya dengan cepat. Ia merasa kepalanya seperti mau pecah. "Aduh, gara-gara Andi Li yang tampan itu, aku jadi minum terlalu banyak."
Ia mulai bangkit dari ranjang dan duduk. Matanya menelaah sekeliling dengan seksama. "Aw, apakah ini rumah Andi Li? Dia suka dengan gaya klasik gini rupanya," ia berbicara pada diri sendiri.
"Ck, sudah kubilang aku tidak minat dengan pria itu! Seleranya jauh berbeda dariku. Lebih baik aku kencan dengan Robert Yu saja." Ia masih menggerutu.
Sementara itu, gemericik air dari kamar mandi mampu mengalihkan atensinya. Matanya melirik ke arah kamar mandi. Su Yinyin tersenyum nakal. "Itu pasti Andi Li."
Yinyin bangun dari posisinya dan berjalan santai ke depan kamar mandi. Ia mendorong pintu jati kamar mandi yang tidak terkunci rapat dengan sebelah tangan, sementara senyuman usil masih menghiasi bibirnya.
"Andi Li, kau tertangkap, beraninya membuatku mabuk."
Namun, langkah kakinya langsung terhenti seketika. Suara gemericik air yang tadinya terdengar santai kini mendadak terasa begitu memekakkan telinga. Punggung bidang yang tertangkap oleh penglihatannya bukanlah milik Andi Li. Pria di hadapannya memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi, tegap, dan garis otot yang tercetak tegas, sama sekali tidak mirip dengan aktor atau rekan kerja yang ia kenal di dunianya.
Pria itu berbalik perlahan. Uap air hangat mengepul di sekeliling ruangan, memperlihatkan wajah yang sangat tajam dengan tatapan mata sedingin es yang langsung menghujam ke arahnya. Alih-alih keterkejutan seorang pria yang tepergok, mata pria itu menyipit penuh selidik dan ancaman.
Su Yinyin menelan ludah mentah-mentah. Jantungnya berdegup kencang bukan karena terpesona, melainkan karena rasa ngeri yang tiba-tiba merayapi seluruh tubuhnya. Ini bukan apartemen modern milik Andi Li. Ini adalah kamar mandi bergaya kuno dengan bak kayu besar berukir khas istana bangsawan zaman dahulu.
Su Yinyin melangkah mundur dua langkah dengan panik. Otak kecilnya yang masih dipenuhi sisa alkohol mendadak terasa bersih seketika.
"Ma... maaf! Aku salah masuk kamar!" gerutunya terbata-bata sambil melambaikan tangan canggung, lalu berbalik hendak kabur.
Sregg.
Belum sempat ia memutar tubuhnya sepenuhnya, sebuah cengkeraman kuat sudah melingkar di pergelangan tangannya. Tenaga pria itu luar biasa besar. Dalam sekejap, tubuh Su Yinyin tertarik ke belakang dan membentur dada bidang yang keras seperti tembok batu.
Uap air yang bercampur dengan aroma herbal khas bangsawan langsung mengurung indra penciumannya.
"Salah masuk kamar?" suara berat itu berbisik tepat di dekat telinganya, dingin dan menusuk tulang. "Istriku, kau bahkan menyebut nama pria lain saat berada di ranjangku, dan sekarang kau pura-pura tidak kenal suamimu sendiri?"
Su Yinyin membelalakkan mata. Istri? Suami?
Sebelum ia sempat mencerna situasi, sebuah sistem transparan berwarna biru tiba-tiba muncul melayang tepat di depan wajahnya, memancarkan cahaya terang.
[Ding!]
[Selamat kepada Host karena telah memicu Misi Utama: Menenangkan Hati Pangeran Kedua yang Berhati Dingin (Mo Jue).]
[Status Hubungan Saat Ini: Dingin dan di Ambang Perceraian.]
[Peringatan: Jika Host gagal menaikkan tingkat keintiman dalam waktu tiga puluh hari, hukuman sambaran petir surgawi akan langsung diaktifkan!]
Su Yinyin menelan ludah dengan kasar. Ia baru sadar, ia tidak sedang mabuk di apartemen Andi Li. Ia telah masuk ke dalam novel transmigrasi klise, dan pria dingin di hadapannya ini adalah Mo Jue, pangeran kedua yang terkenal kejam sekaligus suami sah karakternya saat ini.
Mo Jue menyipitkan mata, memperhatikan ekspresi wajah wanita di dalam dekapannya yang berubah-ubah dengan cepat. Jari pria itu mencengkeram dagu Su Yinyin dengan kuat, memaksa wanita itu mendongak untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam.
"Katakan, Su Yinyin," desis Mo Jue rendah, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Permainan apa lagi yang sedang kau rencanakan kali ini?"
***
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️
[Ding!]
[Peringatan Keras! Tingkat Keintiman Target (Mo Jue) saat ini berada di angka: -100!]
[Status: Kebencian Maksimal. Target menganggap Host sebagai ancaman yang harus segera disingkirkan.]
Su Yinyin merasakan cengkeraman di dagunya semakin mengetat hingga tulangnya terasa ngilu. Udara di kamar mandi itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, seolah ribuan jarum es tak kasat mata siap menusuk kulitnya kapan saja.
Mo Jue menunduk, menatap wanita di dalam dekapannya dengan tatapan penuh jijik dan ancaman mematikan. Tidak ada secercah pun kehangatan suami-istri, yang ada hanya aura pembunuh yang pekat.
"Minus seratus?" Su Yinyin membatin ngeri sambil melirik layar sistem biru yang masih berkedip-kedip merah di dekat kepala Mo Jue. Bahkan sebelum aku berbuat apa-apa, tubuh asli ini sudah membuat suaminya ingin membunuhnya?!
"Yang Mulia..." Su Yinyin mencoba memasang senyum paling kaku sedunia, berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang nyaris melompat keluar dari dada. "Kalau kubilang, aku baru saja amnesia dan lupa ingatan, apakah Anda percaya?"
Mo Jue mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis sinis yang tajam.
"Amnesia?" Suara pria itu merendah, bernada mengancam tepat di telinga Su Yinyin. "Bagus. Jika otakmu sudah rusak, biar kutolong ingatkan bagaimana caramu memohon ampun di hadapanku."
Cengkeraman di dagu Su Yinyin semakin kuat. Rasa sakit yang tajam membuat matanya berbinar basah, bukan karena terharu, melainkan karena ia yakin rahangnya akan remuk dalam hitungan detik.
[Ding!]
[Peringkat Kesukaan Mo Jue: -100 (Kritis!)]
[Peringatan: Nyawa Host dalam bahaya. Silakan lakukan tindakan pembelaan diri atau rayuan darurat dalam waktu 10 detik!]
Layar biru di depan matanya berkedip-kedip semakin cepat, disertai suara alarm nyaring yang berdengung di kepala Su Yinyin. Sialan! Sistem macam apa ini? Baru juga masuk babak pertama, aku sudah mau dibunuh oleh suami sendiri! batin Su Yinyin menjerit frustrasi.
"Yang ... Yang Mulia ..." Su Yinyin terpaksa mendesis pelan, kedua tangannya yang bebas menahan dada bidang Mo Jue untuk menjaga jarak. Sentuhan otot yang keras dan padat itu justru membuatnya semakin merinding. "Tangan Anda... patah nanti..."
"Patah?" Mo Jue membeo dengan nada datar penuh cibiran. Pria itu sama sekali tidak melonggarkan cengkeramannya. "Kau yang mendobrak masuk ke ruang mandiku, berani menyebut nama pria lain, dan sekarang kau menyuruhku melepaskanmu? Su Yinyin, racun apa lagi yang ada di dalam kepalamu?"
[Ding!]
[Peringkat Kesukaan turun menjadi -101!]
Sial! Turun lagi?!
Su Yinyin hampir menangis darah. Di dalam novel-novel yang biasa ia baca, tokoh utama wanita yang transmigrasi biasanya langsung disayang oleh pemeran utama pria setelah kejadian salah paham. Kenapa gilirannya malah mendapat sambutan berupa tiket gratis menuju akhirat?
Karena terdesak oleh batas waktu sistem yang hampir habis--tinggal menghitung detik--Su Yinyin akhirnya mengambil keputusan nekat. Ia mendadak mengubah ekspresinya dari ketakutan menjadi sorotan mata yang tampak kosong, lalu menghembuskan napas berat dengan dramatis.
"Sebenarnya..." Su Yinyin berbisik pelan, sengaja melembutkan suaranya selemah mungkin. Ia menatap tepat ke dalam manik mata hitam Mo Jue tanpa berkedip. "...kepalaku memang terbentur sangat keras tadi malam. Aku benar-benar tidak ingat apa pun. Termasuk siapa diriku, dan siapa pria bernama Andi Li yang kau sebutkan tadi."
Mo Jue terdiam. Alis tajam pria itu sedikit menukik ke atas. Ia mengamati setiap inci wajah wanita di hadapannya, mencari kebohongan di balik mata bulat Su Yinyin yang jernih. Namun, yang ia temukan hanyalah kebingungan yang tampak natural.
"Kau pikir aku akan percaya alasan klasik seperti itu?" Mo Jue menyeringai dingin, meski cengkeramannya sedikit mengendur.
[Ding!]
[Peringkat Kesukaan naik +1 menjadi -100.]
[Catatan: Target meragukan penjelasan Host, tetapi tingkat kewaspadaan sedikit bergeser.]
Su Yinyin mengembuskan napas lega dalam hati. Terimakasih Tuhan, naik satu angka pun jadilah! Yang penting kepalaku tidak copot hari ini.
"Jika Yang Mulia tidak percaya, silakan bunuh aku sekarang," ujar Su Yinyin pasrah, sengaja meluruskan bahunya dan mendongak menantang. "Tapi kalau aku mati dalam keadaan penasaran karena tidak tahu mengapa aku punya suami setampan dan sekecil es batu sepertimu, itu akan jadi penyesalan terbesar dalam sejarah."
Mo Jue terpaku sejenak. Belum pernah seumur hidupnya ada seorang pun di istana--bahkan selir atau menteri sekalipun--yang berani berbicara secara terang-terangan dan menyebutnya sebagai "es batu" tepat di depan wajahnya.
Suasana kamar mandi mendadak sunyi. Uap air yang mengepul perlahan menipis, menyisakan ketegangan tajam di antara mereka berdua.
***
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis Noveltoon ANWi yah, terimakasih ❤️
Mo Jue menatap wanita di dalam dekapannya lekat-lekat. Kilatan bahaya di mata kelam itu perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang justru terasa jauh lebih mengintimidasi.
Wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun sorot matanya mampu membuat siapa pun merasa seolah sedang diadili. Jemari yang tadinya mencengkeram rahang Su Yinyin kini tergeser naik, merapikan sehelai rambut basah yang menempel di dahi wanita itu dengan gerakan yang begitu santai, nyaris lembut, namun penuh tekanan psikologis. Sentuhan itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. Sebaliknya, justru terasa seperti peringatan diam-diam agar Su Yinyin tidak melupakan posisinya.
"Es batu?" Mo Jue mengulang sebutan itu dengan suara rendah yang berbisik tepat di daun telinga Su Yinyin. Napas hangatnya menyapu kulit wanita itu, membuat bulu kuduknya meremang. "Sepertinya benturan di kepalamu memang membuat nyalimu mendadak berlipat ganda, Su Yinyin."
[Ding!]
[Peringkat Kesukaan Mo Jue naik +2 menjadi -98!]
[Catatan: Target merasa tergelitik sekaligus curiga dengan perubahan sikap Host.]
Su Yinyin menelan ludah dengan susah payah. Ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri bertalu-talu bagaikan tabuh perang yang menggema di telinganya.
Uap air hangat di kamar mandi membuat suasana semakin pengap, sementara jarak mereka yang terlalu dekat membuat napasnya terasa sesak. Meskipun skor kesukaannya naik tipis dua angka, ia sama sekali tidak merasa lega. Angka itu masih terlalu jauh dari kata aman. Sebaliknya, kedekatan pria itu membuatnya merasa tengah berdiri di tepi jurang curam yang siap menelannya kapan saja.
"Mana berani aku mencari masalah dengan Suamiku tercinta," balas Su Yinyin cepat, berusaha memaksakan sebuah senyuman manis---yang di matanya sendiri terasa mirip seringai kuda. "Hanya saja kalau boleh jujur, berada terlalu dekat dengan pria setampan Anda membuat detak jantungku tidak karuan. Jadi, bisakah Yang Mulia... sedikit mundur?"
Ucapan itu keluar begitu saja. Bahkan dirinya sendiri tidak yakin apakah rayuan murahan itu akan berhasil atau justru memperparah keadaan. Namun dalam situasi seperti ini, ia hanya bisa mengandalkan insting dan keberuntungan.
Mo Jue menyipitkan mata. Sorot matanya menyelidik setiap perubahan ekspresi di wajah Su Yinyin, seolah ingin memastikan apakah wanita itu sedang berbohong atau benar-benar kehilangan ingatan akibat benturan di kepala. Alih-alih mundur, pria itu justru semakin menepis jarak. Dada bidang yang terekspos tanpa sehelai kain di bagian atas itu semakin meremukkan ruang gerak Su Yinyin hingga punggungnya hampir menempel ke sisi bak mandi.
"Jantungmu berdetak kencang?" Mo Jue tersenyum miring, senyum sinis yang mematikan. Lengkungan tipis di bibirnya sama sekali tidak membuat wajahnya terlihat ramah. "Baguslah. Biar kau ingat bahwa setiap detik hidupmu di kediaman ini berada di bawah kendaliku."
Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi, tetapi justru karena ketenangan itulah ancamannya terdengar semakin nyata. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya.
Tanpa aba-aba, Mo Jue melepaskan cengkeramannya begitu saja. Su Yinyin yang kehilangan penopang langsung terdorong ke belakang. Tubuhnya oleng, hampir saja terpeleset di lantai kamar mandi yang licin jika tangannya tidak dengan sigap menggapai tepian bak kayu besar. Napasnya tercekat. Sedikit lagi kepalanya pasti akan membentur lantai untuk kedua kalinya hari ini.
"Pakaikan jubahku di luar," titah Mo Jue dingin sambil berbalik memunggungi wanita itu, kembali membasuh tubuhnya dengan cipratan air hangat seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahunya yang lebar tampak tenang, sama sekali tidak menunjukkan bahwa beberapa saat lalu ia hampir membuat seseorang celaka. "Jangan membuatku menunggu lebih dari tiga menit, atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar."
Su Yinyin mengusap pergelangan tangannya yang memerah bekas cengkeraman tadi, lalu menatap punggung kokoh pangeran kedua itu dengan tatapan kesal bercampur lega. Setidaknya, untuk sementara ia masih diberi kesempatan bernapas.
Sabar, Yinyin, sabar, batinnya menggerutu sambil buru-buru menyambar jubah sutra hitam bersulam benang perak yang tersampir rapi di dekat pintu. Kain itu terasa halus dan berat di tangannya, menunjukkan kualitas terbaik yang hanya dimiliki keluarga kekaisaran.
Anggap saja ini sedang main game RPG tingkat kesulitan neraka. Bos pertama baru muncul, HP-ku saja belum penuh.
[Ding!]
[Misi Sampingan Terpilih: Mengurus Kebutuhan Pangeran Kedua tanpa Mengundang Kemarahan.]
[Waktu tersisa: 2 menit 50 detik.]
[Hadiah: Poin Keintiman +5, Kunci Kamar Rahasia.]
Melihat timer digital yang melayang di udara berhitung mundur secara kejam, Su Yinyin langsung menarik napas dalam-dalam. Angka-angka merah itu terus berkurang tanpa belas kasihan, membuatnya spontan mempercepat langkah. Ia menggenggam jubah itu lebih erat, lalu melangkah maju dengan tekad yang dipaksakan, bersiap menghadapi babak baru kehidupannya sebagai istri dari pangeran es batu yang mematikan. Entah berapa banyak rintangan yang menantinya setelah ini, tetapi satu hal sudah pasti--ia harus bertahan hidup, apa pun yang terjadi.
***
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!