Bab 1
Malam Itu, dan Empat Minggu Kemudian
“Mau nggak tidur sama aku?”
Jari Rana masih mencengkeram kerah kemeja lelaki itu. Napas mereka sama-sama berbau alkohol, sementara lorong hotel terasa miring di bawah kakinya.
Lelaki berkacamata perak di hadapannya tidak langsung menjawab. Satu tangannya menahan pergelangan Rana agar gadis itu tidak jatuh, bukan memeluk pinggangnya.
“Kamu mabuk?”
“Nggak.”
Rana mengangkat dagu. “Aku nggak lagi bercanda.”
Lelaki itu menatapnya terlalu lama, seolah sedang menyatukan dua bayangan menjadi satu. Dia juga mabuk. Rana bisa melihatnya dari cara ibu jarinya terlambat melepaskan pergelangan tangannya.
Pintu akhirnya berbunyi pendek.
Rana menariknya masuk, lalu melepas kacamata lelaki itu dan meletakkannya di atas meja kaca. Bingkai peraknya berdenting pelan.
“Ini nggak...”
Rana membenamkan wajah ke sisi lehernya. Sesudah itu, yang tersisa hanya potongan-potongan: napas berat di dekat telinga, telapak hangat yang sempat diam di punggungnya, cahaya lampu yang bergoyang, dan jemarinya sendiri mencengkeram seprai sampai buku-bukunya memutih.
Lelaki itu sempat berhenti. Rana justru menariknya mendekat.
Lalu seseorang memanggil namanya tepat di telinganya.
“Rana...”
Padahal malam itu dia belum pernah memberi tahu siapa pun siapa namanya.
***
Rana terbangun pukul 05.40 dengan tangan kiri mencengkeram ujung selimut.
Kipas angin di sudut kamar kos berderit setiap tiga putaran. Udara Tebet sudah lembap meski matahari belum muncul. Selama beberapa detik, Rana hanya menatap langit-langit dan berusaha mengingat di mana dia berada.
Bukan kamar hotel.
Bukan malam itu.
Sudah empat minggu.
Tangannya meraba ponsel di bawah bantal. Bukan jam yang dia buka lebih dulu, melainkan riwayat perjalanan di aplikasi ojol.
31 Agustus 2024, 23.47.
Hotel ke kos.
Rp18.000.
Catatan itu masih ada. Satu-satunya bukti bahwa dia memang pulang dari sebuah tempat pada malam tersebut, bukan menciptakan semuanya dari mimpi yang terus datang tanpa izin.
Rana mematikan layar, lalu menyalakannya lagi.
Rp18.000.
Dia sudah melihat angka itu entah berapa kali selama sebulan terakhir. Seolah ongkos delapan belas ribu rupiah dapat menjelaskan bagaimana seorang mahasiswi kedokteran bisa lupa menanyakan nama lelaki yang tidur dengannya.
Jawabannya sederhana dan memalukan: malam itu adalah pesta ulang tahun Reza.
Rana menyukai Reza selama dua tahun. Satu angkatan mengetahuinya. Reza tidak pernah menerima, tetapi juga tidak pernah benar-benar menolak. Dia selalu membiarkan Rana membawakan catatan kuliah, menyimpan tempat duduk, atau menunggu pesan singkat yang baru dibalas enam jam kemudian.
Malam itu Vania duduk di sebelah Reza. Ketika krim kue menempel di sudut bibirnya, Vania mengusapnya dengan ibu jari.
Reza tidak menghindar.
Rana mendongak dan baru menyadari beberapa orang di sekeliling meja sedang menahan senyum sambil melihatnya.
Semua orang tahu.
Hanya dia yang tidak.
Jadi Rana minum. Bukan karena dipaksa siapa pun. Dia mengambil gelas pertama, kedua, lalu apa pun yang diletakkan di depannya. Ketika pesta berpindah ke lounge hotel di lantai atas, dia ikut. Ketika kepalanya mulai berat, dia justru keluar sendirian dan menabrak seorang lelaki di lorong.
Setelah itu, dia melakukan hal paling nekat yang pernah dilakukannya sepanjang hidup.
Rana menutup wajah dengan bantal.
Kalau otaknya punya tombol hapus, dia bersedia menjual satu ginjal untuk membelinya. Sayangnya, sebagai mahasiswa kedokteran, dia tahu transaksi itu ilegal dan tombol tersebut tidak tersedia di apotek.
Ponselnya bergetar pada pukul 06.20.
Voice note dari Nadia.
Rana menekan putar dengan satu mata masih tertutup.
“Ran, kalau lo masih tidur, gue doain dosen baru itu langsung nunjuk lo buat jelasin sirkulasi koroner di depan seratus delapan puluh orang.”
Voice note kedua masuk sebelum yang pertama selesai.
“Koreksi. Seratus delapan puluh orang plus anak angkatan atas yang pura-pura mau ngulang materi. Mereka datang buat lihat muka dosennya. Kampus kita akhirnya punya wahana wisata.”
Yang ketiga berdurasi dua belas detik.
“Gue di depan kos lo lima belas menit lagi. Mandi. Jangan debat. Kalau lo pingsan karena kurang tidur, gue foto dulu baru gue tolong.”
Rana mengetik satu kata.
Oh.
Balasan Nadia datang seketika.
“OH KEPALA LO.”
Dua puluh menit kemudian, Nadia benar-benar berdiri di depan pagar kos dengan dua roti bungkus dan ekspresi petugas evakuasi bencana.
“Lo kelihatan kayak habis jaga malam tiga hari.”
“Makasih.”
“Itu bukan pujian.” Nadia memasukkan sebungkus roti ke tas Rana. “Makan di jalan.”
Mereka naik ojol masing-masing menuju kampus. Sepanjang perjalanan, ponsel Rana terus menerima kiriman tangkapan layar dari Nadia. Foto-fotonya sudah dihapus dari grup angkatan, tetapi jejak kepanikan digital tetap ada.
Pak Damar. Pulang dari Johns Hopkins. Dosen paling muda yang pernah memegang satu blok penuh di FK UNB.
“Katanya ganteng banget sampai keterlaluan,” ujar Nadia begitu mereka turun di depan Gedung Anatomi. “Ada yang kirim fotonya semalam, terus langsung dihapus.”
“Oh.”
“Dihapus, Ran. Berarti benar.”
“Logika lo bikin gue takut sama masa depan kedokteran.”
Nadia menempelkan tangan ke dada. “Akhirnya lo ngomong lebih dari satu suku kata. Saya berhasil, Dok.”
Lorong menuju Ruang Kuliah A sudah sesak. Mahasiswa dari angkatan mereka memenuhi pintu, sementara beberapa wajah asing berdiri di belakang dengan alasan yang terlalu lemah untuk disebut akademis. Nadia menyelip di antara dua orang sambil menarik lengan Rana.
Mereka mendapat dua kursi di baris keempat.
Di depan, Reza duduk di sebelah Vania.
Vania mencondongkan badan untuk menunjukkan sesuatu di ponselnya. Bahu mereka bersentuhan. Reza tertawa pelan.
Empat minggu lalu, pemandangan itu cukup untuk membuat Rana menenggak apa pun yang ada di meja.
Pagi ini, dadanya masih terasa ditusuk, tetapi tidak lagi membuatnya ingin mendekat. Luka yang sama, mungkin. Hanya saja sekarang dia tahu harga kebodohannya: satu bulan tanpa tidur nyenyak dan sebuah catatan perjalanan seharga delapan belas ribu rupiah.
Rana menaruh tas di pangkuan dan membuka handout tanpa melihat halaman depannya.
“Lo nggak penasaran?” bisik Nadia.
“Sama apa?”
“Dosen baru.”
“Nggak.”
“Kalau ternyata jelek, gue pindah ke belakang.”
“Kursi depan bukan akad nikah, Nad. Lo boleh berubah pikiran.”
Pukul 08.05, pintu di sisi panggung terbuka.
Suara yang muncul bukan sorakan.
Seluruh ruangan justru mendadak diam.
Seorang lelaki masuk bersama Fajar, asisten peneliti yang membawa laptop dan setumpuk daftar hadir. Lelaki itu tinggi, bahunya tegak di balik kemeja putih yang pas tanpa terlihat berusaha. Kedua lengan bajunya digulung sampai siku. Tidak ada jam di pergelangan tangannya. Rambut hitamnya tampak baru dipotong, rapi di sisi kepala, sedikit jatuh di depan ketika dia membungkuk memasang kabel presentasi.
Lalu dia berdiri tegak dan membetulkan kacamata berbingkai perak.
Garis rahangnya tegas. Wajahnya terlalu tenang untuk ruangan yang baru saja kehilangan kemampuan bernapas bersama-sama.
Dari baris belakang terdengar suara sangat kecil.
“Anjir.”
Nadia mencengkeram lengan Rana. “Ran. Gue mau pindah ke barisan depan.”
Rana tidak mengangkat kepala. Dia sedang mencari halaman pertama materi sambil berharap empat minggu kurang tidur tidak berakhir dengan dirinya tertidur di kelas dosen baru.
“Selamat pagi.”
Suara itu rendah, datar, dan entah mengapa membuat ujung jari Rana dingin.
“Blok Kardiovaskular. Empat minggu. Saya Damar.”
Nama lengkap tercetak di bagian bawah handout yang baru berhasil dibuka Rana.
dr. Damar Aryasatya Wicaksana, Ph.D.
Di bawahnya tertera riwayat singkat: S.Ked, koas, UKMPPD, internship, kemudian ilmu dasar medis dan Ph.D. dari Johns Hopkins. Jalur yang panjang untuk seseorang yang bahkan belum tampak berusia tiga puluh lima.
“Saya tidak praktik klinis,” lanjutnya. “Di kelas ini, gelar dokter saya bukan alasan untuk memanggil saya Dok. Pak Damar cukup.”
Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Ketegangan di ruangan pecah.
Damar mengganti slide. Sebuah gambar jantung memenuhi layar.
“Siapa yang bisa menjelaskan kenapa oklusi di left anterior descending artery sering disebut berbahaya?”
Tangan Wulan terangkat dari baris depan.
“Karena area miokard yang disuplai luas, Pak. Terutama dinding anterior ventrikel kiri dan septum interventrikular.”
“Benar. Terima kasih, Wulan.”
Kelas mulai bergerak seperti kelas pada umumnya. Pena menggores kertas. Papan ketik berbunyi. Fajar berjalan di sisi ruangan membagikan lembar tambahan. Damar menjelaskan dengan kalimat pendek, tanpa membaca slide, sesekali memindahkan model jantung digital memakai remote kecil di tangan kanannya.
Rana memaksa dirinya menulis.
LAD. Septum. Ventrikel kiri.
Tulisan tangannya semakin miring.
Di depan, Damar mendorong lengan kemejanya setengah senti lebih tinggi, lalu menggenggam remote presentasi dengan ibu jari menahan sisi atasnya.
Rana berhenti bernapas.
Bukan wajahnya.
Tangan itu.
Cara jari-jarinya melingkari benda kecil. Pergelangan tanpa jam. Tekanan ibu jari yang sama saat pernah menahan tangannya agar tidak jatuh di lorong hotel.
Pena terlepas dari jari Rana.
Benda itu membentur lantai, lalu menggelinding turun dua tingkat di bawah kursinya. Nadia menoleh. Rana justru merosot sedikit di sandaran, seakan tubuhnya dapat bersembunyi di balik seratus tujuh puluh sembilan kepala lain.
Telapak tangan kirinya basah. Dia mengepalkannya kuat-kuat di bawah meja.
Tidak mungkin.
Jakarta berisi jutaan lelaki berkemeja putih. Banyak orang memakai kacamata perak. Banyak orang mungkin memegang remote dengan cara yang sama.
Tapi hanya ada satu cara untuk memastikan.
Rana mengangkat kepala.
Seratus tujuh puluh sembilan orang sedang menatap layar.
Hanya Damar yang menatapnya.
Wajah lelaki itu tidak berubah sedikit pun.
Namun ibu jarinya berhenti di atas tombol remote.
Bab 2
Dipanggil ke Ruangannya
Ibu jari Damar hanya berhenti satu detik.
Sesudah itu, slide berganti dan suaranya kembali memenuhi ruangan seolah tatapan barusan tidak pernah terjadi.
“Perhatikan area ini. Infark tidak menunggu kalian selesai panik.”
Beberapa mahasiswa tertawa. Rana tidak.
Dia menunduk terlalu cepat sampai dagunya hampir membentur meja lipat. Jantungnya berdetak di tenggorokan, sama sekali tidak mengikuti irama normal yang sedang dijelaskan di layar. Di sampingnya, Nadia melirik dua kali.
“Lo kenapa?” bisiknya.
“Pena gue jatuh.”
“Pena lo jatuh, bukan harga diri lo. Kenapa mukanya kayak mau kabur dari negara?”
“Nad.”
“Iya, iya.” Nadia membungkuk, mengambil pena yang tersangkut di bawah kursi mahasiswa depan, lalu menaruhnya di meja Rana. “Nih. Jangan pingsan. Gue belum sarapan berat buat ngangkat lo.”
Rana menggenggam pena itu, tetapi tidak menulis lagi.
Di depan, Damar memindahkan remote ke tangan kiri. Tangan kanannya masuk sebentar ke saku celana, kemudian keluar tanpa mengambil apa pun. Dia tidak sekali pun menoleh ke baris keempat selama sisa kuliah.
Justru itu yang membuat Rana semakin yakin.
Kalau tadi hanya kebetulan, lelaki itu tidak perlu sengaja menghindari sisi ruangan ini.
Sembilan puluh menit berikutnya berjalan lambat dan kejam. Setiap kali Damar bertanya, Rana menahan napas. Setiap kali pandangannya bergerak melewati barisan kursi, Rana mengecilkan diri. Dia bahkan mulai menghitung kemungkinan keluar tanpa terlihat.
Pintu depan terlalu dekat dengan panggung.
Pintu belakang berjarak sembilan kursi dan satu mahasiswa bertubuh besar yang tasnya menghalangi lorong.
Jendela tidak bisa dibuka.
Bagus. Dia calon dokter, dan rencana terbaiknya adalah melompat dari lantai dua melalui jendela yang terkunci.
Pukul 09.38, Damar menutup presentasinya.
“Handout praktikum akan dibagikan melalui koordinator angkatan. Baca sebelum sesi pertama. Saya tidak akan mengulang instruksi yang sudah tertulis.”
Nada suaranya tetap datar. Mahasiswa di baris belakang yang tadi mengucapkan anjir kini sibuk memotret slide berisi jadwal.
“Ada pertanyaan?”
Belasan tangan hampir terangkat, lalu turun lagi ketika Damar melihat jam digital di dinding.
“Pertanyaan tentang materi.”
Tawa kecil menyebar. Seseorang tetap nekat bertanya apakah materi Johns Hopkins jauh lebih sulit daripada UNB. Damar menjawab singkat bahwa anatomi manusia tidak berubah karena paspor, lalu mengakhiri kelas tepat pukul 09.40.
Ruangan langsung meledak oleh suara kursi dilipat dan percakapan yang tertahan sejak pagi. Beberapa mahasiswa bergerak ke depan, jelas tidak semuanya ingin bertanya tentang arteri koroner.
“Ran, tunggu.” Nadia berdiri sambil memanggul tas. “Gue mau lihat dari dekat apakah dia nyata atau hasil AI.”
“Gue ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Urusan menjauh dari sini.”
Nadia sempat menatapnya aneh, tetapi arus mahasiswa dari sisi kiri mendorong mereka ke arah berbeda. Nadia terbawa menuju pintu depan. Rana memanfaatkan kekacauan itu untuk menyelinap ke belakang.
Tinggal tujuh langkah.
Lima.
Tiga.
Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika suara laki-laki terdengar dari belakang.
“Kirana Ayu Wardhani?”
Nama lengkap itu menancap di antara bunyi percakapan.
Rana memejamkan mata.
Kalau dia pura-pura bukan Kirana Ayu Wardhani, mungkin dia dapat memulai hidup baru dengan identitas lain. Sayangnya, kartu mahasiswa di lehernya menampilkan nama yang sama dengan huruf kapital.
Dia berbalik.
Fajar berdiri dua meter darinya sambil membawa daftar hadir. Beberapa kepala di dekat pintu ikut menoleh.
“Iya, Mas?”
“Pak Damar minta Mbak ke ruangannya. Sekarang.”
Seseorang di belakang Rana bersiul pelan.
“Cie, dipanggil hari pertama.”
“Belum juga praktikum.”
Rana berharap lantai Gedung Anatomi memiliki rasa tanggung jawab sosial dan bersedia retak tepat di bawah kakinya. Lantai itu mengecewakan.
“Sekarang?” tanyanya, meski Fajar sudah mengucapkan kata tersebut dengan sangat jelas.
“Iya. Ruang 3.12.” Fajar menunjuk tangga di ujung lorong. “Pak Damar sudah naik.”
“Mas tahu soal apa?”
“Asisten praktikum, mungkin.” Fajar melihat lembar di tangannya. “Nama Mbak ada di daftar kandidat.”
Jawaban itu terlalu normal. Justru karena itu, Rana tidak punya alasan untuk menolak di depan semua orang.
“Baik. Terima kasih, Mas.”
Dia berjalan ke tangga dengan lutut yang terasa bukan miliknya.
***
Di anak tangga pertama, Rana menyusun alasan.
Saya sedang sakit.
Tidak bisa. Wajahnya mungkin pucat, tetapi dia baru saja duduk mengikuti kuliah penuh dan tidak tampak akan mati dalam tiga menit ke depan.
Di bordes lantai dua, dia mengganti alasan.
Saya ada kelas lain.
Damar memegang jadwal blok. Kebohongan itu hanya akan bertahan sampai dia membuka laptop.
Di depan papan bertuliskan LANTAI 3, Rana menemukan alasan ketiga.
Saya mau keluar dari blok ini.
Lalu kuliah jantungnya harus diulang tahun depan, orang tuanya akan bertanya kenapa masa studi bertambah, dan dia perlu menjelaskan bahwa penyebabnya bukan nilai, bukan penyakit, melainkan seorang dosen yang pernah kehilangan kacamata di atas meja kaca hotel.
Rana berhenti di depan Ruang 3.12.
Tidak ada satu pun alasan yang waras.
Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah selebar satu jari, cukup untuk membiarkan garis cahaya jatuh ke lantai lorong.
Rana mengangkat tangan untuk mengetuk.
“Masuk.”
Dia bahkan belum menyentuh pintu.
Rana mendorongnya pelan. Ruangan itu lebih kecil daripada bayangannya. Satu rak buku memenuhi dinding kiri. Ada meja kerja, dua kursi plastik, papan tulis kecil, dan model jantung berwarna merah-biru di tengah meja. Kardus-kardus belum dibongkar menumpuk dekat lemari, tanda penghuninya baru menempati ruangan tersebut.
Damar berdiri membelakangi pintu sambil meletakkan laptop ke dalam tas.
Kacamata peraknya masih terpasang.
“Tutup pintunya sampai situ saja,” katanya tanpa berbalik. “Tidak perlu dikunci.”
Rana berhenti dengan tangan di gagang. Dia menyisakan celah yang sama. Garis terang dari lorong tetap terlihat.
“Iya, Pak.”
Damar berbalik.
Dari jarak sedekat ini, Rana bisa memastikan wajah itu milik lelaki di hotel. Ada garis tipis di pangkal hidung tempat bingkai kacamata bertumpu. Ada bekas sangat samar dekat dagunya yang tidak terlihat dari baris keempat.
Namun ekspresinya tidak memberi apa pun.
“Silakan.” Damar menarik kursi di depan meja, mendorongnya sedikit ke arah Rana, lalu kembali ke sisi seberang.
Rana berdiri di belakang sandaran kursi.
Dia menunggu pertanyaan tentang hotel. Damar justru mengambil selembar formulir dari map bening.
“Nilai anatomi dasar dan IPK kamu memenuhi syarat untuk menjadi asisten praktikum.”
Rana berkedip.
“Saya?”
“Nama di formulir ini Kirana Ayu Wardhani.”
“Maksud saya...” Dia menelan ludah. “Kenapa saya?”
“Seleksi awal dari nilai. Rekomendasi akhir setelah wawancara singkat.”
Damar meletakkan formulir di meja, lalu memutarnya agar menghadap Rana. Kolom NIM, nomor rekening, NIK KTP, dan jadwal tersedia tercetak rapi di sana.
“Honor delapan puluh lima ribu rupiah per sesi. Asisten tidak menilai angkatannya sendiri. Kamu akan ditempatkan di kelompok tahun pertama atau sesi remedial angkatan atas.”
Delapan puluh lima ribu.
Angka itu cukup untuk makan beberapa hari jika Rana berhenti membeli kopi. Lebih dari empat kali ongkos ojol yang masih dia tatap setiap pagi.
“Apakah pekerjaan ini wajib, Pak?”
“Tidak.”
“Kalau saya menolak?”
“Tidak ada pengaruh pada nilai.”
“Kalau saya menerima?”
“Kamu bekerja sesuai jadwal, mengisi presensi, dan dibayar per sesi.”
Tidak ada jebakan di nada suaranya. Tidak ada kalimat yang menyentuh malam itu. Dia menjelaskan semuanya seperti seorang dosen kepada mahasiswa yang kebetulan memenuhi kriteria.
Rana menatap formulir.
Mungkin dia salah.
Mungkin lelaki di hotel hanya memiliki tangan yang mirip, kacamata yang mirip, suara yang mirip, dan wajah yang persis sama. Kemungkinan tersebut secara ilmiah hampir nol, tetapi pagi ini Rana bersedia mendukung penelitian apa pun yang dapat membuktikannya.
“Kamu boleh membawanya pulang,” kata Damar. “Jawab sebelum Jumat.”
Dia mendorong formulir beberapa senti ke depan.
Tangannya tidak mendekati tangan Rana.
Rana baru sadar bahwa sejak masuk dia belum bergerak dari belakang kursi. Jemarinya mencengkeram sandaran begitu kuat sampai kuku-kukunya pucat.
Damar melihat tangannya selama dua detik.
Tatapannya kembali ke wajah Rana. Bagian atas telinganya tampak sedikit merah, begitu tipis hingga mungkin hanya pantulan map bening di meja.
Dia menarik napas, lalu berdiri.
Rana langsung menegang.
Damar tidak berjalan mendekat. Dia hanya menarik kursi di sisinya ke belakang dan mendorong kursi di depan Rana kembali ke bawah meja.
“Kita berdiri saja.”
Gerakannya sederhana. Namun untuk pertama kalinya sejak masuk, bahu Rana turun sedikit.
Dia tidak memaksanya duduk.
Dia juga berdiri.
Mereka kini dipisahkan oleh lebar meja dan sebuah model jantung plastik. Ventrikel kirinya dapat dibuka, memperlihatkan ruang kosong di dalam. Dari lorong terdengar langkah kaki, suara printer, dan dua mahasiswa yang berdebat soal jadwal praktikum. Celah pintu tetap menyisakan sepotong cahaya.
Damar melepas tangannya dari sandaran kursi.
“Ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?”
Rana seharusnya bertanya tentang jam kerja. Tentang pembagian kelompok. Tentang kapan formulir dikumpulkan.
Yang keluar justru, “Pak Damar baru mulai mengajar di UNB?”
“Minggu ini.”
“Sebelumnya di Amerika?”
“Iya.”
“Pak Damar sering menginap di hotel itu?”
Sunyi.
Rana baru menyadari pertanyaannya setelah kalimat tersebut selesai.
Dia ingin mengambilnya kembali, memasukkannya ke mulut, lalu menelan tanpa air.
Damar tidak menjawab. Tatapannya turun sesaat ke tangan kiri Rana yang masih bertahan di belakang sandaran, lalu kembali ke matanya.
“Kamu belum duduk sejak masuk,” katanya.
“Saya lebih nyaman berdiri.”
“Tangan kamu juga sejak tadi disembunyikan.”
Rana buru-buru melepaskan sandaran dan menaruh kedua tangan di belakang punggung.
Gerakan itu membuat semuanya jauh lebih buruk.
Damar diam cukup lama. Jarinya menyentuh ujung model jantung, tetapi tidak memutarnya. Wajahnya tetap terkendali. Hanya otot di rahangnya yang bergerak sekali.
“Saya tidak akan menahan kamu di sini,” katanya. “Pintunya terbuka. Kamu bisa keluar kapan saja.”
Rana melirik garis cahaya di lantai.
Dia tahu.
Sejak awal lelaki itu memastikan dia tahu.
Saat Rana kembali menatapnya, Damar sudah melepaskan tangannya dari model jantung. Kedua telapak tangannya terbuka di atas meja, kosong, tidak bergerak mendekatinya.
Kemudian dia bertanya dengan suara rendah dan sangat jelas.
“Kamu yang malam itu, kan?”
Rana mundur satu langkah.
Kaki kursi menghantam betisnya dan bergeser keras di lantai.
Bab 3
Tahi Lalat di Telapak Tangan
Kaki kursi bergeser keras di lantai.
Rana menahan napas. Betisnya nyeri, tetapi rasa sakit itu kalah oleh satu kalimat yang baru saja dijatuhkan Damar di antara mereka.
Kamu yang malam itu, kan?
Model jantung plastik tetap berada di tengah meja. Pintu tetap terbuka selebar satu jari. Dari luar, terdengar printer mencetak beberapa lembar kertas seolah dunia masih berjalan dengan sangat normal.
Rana memaksa bibirnya bergerak.
“Bapak salah orang, kali.”
Kali.
Satu kata bodoh yang membuat penyangkalannya terdengar seperti tebakan.
Damar tidak segera menjawab. Tatapannya tetap di wajah Rana, terlalu tenang untuk bisa dilawan dengan kebohongan yang bahkan tidak dipercaya oleh pemiliknya sendiri.
“Baik,” katanya akhirnya.
Rana berkedip.
Hanya itu?
“Baik?”
“Kalau saya salah orang, percakapan ini selesai.”
Damar mengambil formulir asisten praktikum, memasukkannya kembali ke map bening, lalu menaruh map itu di ujung meja yang paling dekat dengan Rana.
“Kamu tetap boleh mempertimbangkan tawaran ini. Seleksinya tidak berkaitan dengan hal lain.”
Dia mundur setengah langkah, memberi jalan lurus menuju pintu.
Rana seharusnya pergi.
Tidak ada yang menahannya. Tidak ada kunci diputar, tidak ada tangan yang meraih lengannya, bahkan tidak ada suara yang memaksanya menjawab. Dia hanya perlu mengambil map, mengucapkan terima kasih, lalu keluar dan tidak pernah memilih kelompok praktikum yang sama dengan lelaki ini.
Namun kakinya tidak bergerak.
Justru kedua tangannya semakin rapat bersembunyi di belakang punggung.
Mata Damar turun sepersekian detik.
Rana langsung sadar dan memindahkan tangannya ke sisi tubuh. Lalu, karena itu terasa terlalu terbuka, dia memasukkannya ke saku jaket. Gerakan tersebut begitu mencolok sampai dia ingin menampar dirinya sendiri.
Sembunyikan tangan, Rana. Ide bagus. Sama sekali tidak mencurigakan. Setelah ini mungkin dia bisa menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam saku yang sama.
Damar menarik kursinya, tetapi tidak duduk. Dia memutarnya sedikit agar jalur ke pintu semakin lebar.
“Saya tidak akan bertanya lagi.”
“Memang nggak ada yang perlu ditanya.”
Kali ini bahasa santai lolos begitu saja. Rana segera menggigit bagian dalam pipinya.
Alis Damar bergerak tipis.
“Baik.”
Kata itu terdengar lebih mematikan daripada tuduhan.
Rana menarik tangan kanan dari saku dan meraih map. Ujung jarinya menyentuh plastik dingin. Damar sudah melepaskan tangannya lebih dahulu, menyisakan jarak beberapa senti di antara kulit mereka.
“Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama.”
Dia berbalik menuju pintu.
Satu langkah.
Dua langkah.
“Saya belum menyebut hotel.”
Rana berhenti.
Tangannya yang memegang map menegang.
Di belakangnya, suara Damar tetap rendah. “Tadi kamu yang bertanya apakah saya sering menginap di hotel itu.”
Rana menutup mata.
Tentu saja.
Dari semua organ yang dia pelajari selama empat semester, mulutnya adalah satu-satunya yang konsisten bekerja melawan kepentingan pemiliknya.
Dia menoleh perlahan. “Saya cuma...”
Tidak ada kelanjutan yang masuk akal.
Damar menunggu tanpa membantu menyelesaikan kalimatnya.
Ponsel di saku tas Rana bergetar. Sekali. Berhenti. Lalu dua kali berturut-turut, pola khas pesan Nadia yang tidak sabaran.
Layar yang menghadap ke atas menyala melalui celah ritsleting.
NADIA
LO DI MANA?
Damar tidak meliriknya. Tatapannya tetap berada pada wajah Rana, lalu turun ketika tangan kiri gadis itu refleks meraih tas.
Rana membatalkan gerakan tersebut dan kembali menyembunyikan tangannya di belakang tubuh.
Terlambat.
Suasana di ruangan berubah tanpa satu pun kata.
“Kenapa tangan kiri kamu disembunyikan?” tanya Damar.
“Nggak disembunyikan.”
“Sejak tadi selalu di belakang.”
“Saya memang sering berdiri begini.”
Damar mengangguk kecil. “Kalau begitu, saya salah melihat.”
Lagi-lagi dia memberi Rana jalan untuk pergi.
Lagi-lagi Rana membencinya karena jalan itu terbuka.
Kalau Damar memaksa, Rana bisa marah. Kalau dia menuduh, Rana bisa menyangkal. Kalau dia menutup pintu, Rana bisa menganggapnya ancaman dan berlari tanpa menoleh.
Namun lelaki itu tidak melakukan satu pun.
Dia hanya berdiri di balik meja dengan kedua tangan terlihat, menjaga jarak, membiarkan Rana memutuskan apa yang hendak dilakukan dengan rahasianya sendiri.
“Bapak ingat apa?” tanya Rana.
Pertanyaan itu keluar sangat pelan.
Ada jeda sebelum Damar menjawab.
“Tidak semuanya.”
“Berapa banyak?”
“Cukup untuk menyesal.” Damar diam sejenak. “Saya ingat kamu menahan pintu dengan tangan kiri. Saya ingat kacamata saya di meja kaca. Saya ingat bertanya apakah kamu mabuk, lalu memilih percaya ketika kamu bilang tidak.”
Rana mencengkeram map lebih kuat.
“Yang lain hanya potongan,” lanjutnya. “Saya tidak akan mengisi bagian yang hilang dengan dugaan, apalagi memaksa kamu mengingatnya untuk saya.”
Kalimat itu seharusnya melegakan. Sebaliknya, Rana dapat merasakan lagi dingin meja kaca di ujung jarinya dan berat bingkai perak yang dia lepaskan dari wajah lelaki itu.
Rana menatapnya.
Damar menarik napas melalui hidung. “Saya hampir tidak pernah minum. Malam itu saya minum lebih banyak daripada yang bisa saya tanggung.”
“Saya juga.”
“Saya tahu.”
“Bapak nggak tahu.” Suaranya naik sedikit, lalu segera pecah. “Bapak nggak tahu saya minum berapa banyak.”
“Benar.”
Tidak ada pembelaan. Tidak ada usaha untuk memenangkan percakapan.
Damar melanjutkan, “Saya tidak ingat semuanya. Karena itu saya bertanya, bukan menuduh.”
“Saya yang ngajak.”
Kalimat tersebut membuat tenggorokan Rana panas.
“Saya yang tarik baju Bapak. Saya yang buka pintu. Jadi kalau Bapak takut saya akan bikin masalah atau bilang sesuatu ke kampus, saya nggak akan...”
“Rana.”
Namanya memotong kalimat itu, tetapi nada Damar tidak keras.
Rana terdiam.
“Saya tidak memanggil kamu untuk melindungi pekerjaan saya.”
“Lalu untuk apa?”
Damar melihat map di tangannya. “Awalnya, untuk menawarkan pekerjaan yang memang kamu layak dapat.”
“Dan setelah Bapak lihat saya?”
Untuk pertama kalinya, jawaban Damar tidak datang cepat.
Jarinya bergerak di sisi meja, seolah hendak terangkat, lalu berhenti. Dia memasukkan tangan itu ke saku celana.
“Untuk memastikan saya tidak salah mengenali seseorang.”
“Kalau ternyata benar?”
“Saya belum tahu.”
Kejujuran itu menghantam lebih keras daripada jawaban yang sudah disiapkan.
Damar melepas kacamata peraknya. Gerakan sederhana itu membuat dada Rana sesak karena dia pernah melihatnya, pernah melakukannya sendiri, di bawah cahaya hotel yang bergoyang.
Lelaki itu meletakkan kacamata di samping model jantung.
“Tapi ada satu hal yang saya tahu,” katanya. “Kamu tidak perlu meminta maaf kepada saya.”
Rana tertawa pendek tanpa suara. “Saya bahkan belum minta maaf.”
“Kamu sudah bersiap melakukannya sejak masuk.”
Damar tidak tersenyum. Kalimat itu bukan ejekan.
Ponsel Rana bergetar lagi. Kali ini lebih lama, mungkin panggilan masuk. Dia meraih tas dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya tetap mengepal di belakang tubuh.
Damar mengenakan kembali kacamatanya. Dia tidak melihat nama di layar.
“Jawab saja,” katanya.
“Nggak perlu.”
“Mungkin teman kamu mencari.”
“Dia selalu mencari.”
“Berarti sebaiknya diberi tahu kalau kamu aman.”
Kata aman membuat sesuatu di dada Rana runtuh.
Dia tidak merasa aman selama empat minggu. Bukan karena lelaki ini mengejarnya. Justru karena dia tidak tahu siapa lelaki itu, apa yang dia ingat, atau apakah suatu hari mereka akan berpapasan di jalan tanpa saling mengenali.
Sekarang dia sudah tahu.
Pak Damar.
Dosen blok kardiovaskularnya.
Lelaki yang berdiri di depan seratus delapan puluh mahasiswa pagi tadi.
Pilihan terburuk dari seluruh kemungkinan di Jakarta.
“Saya nggak akan bilang ke siapa-siapa,” ucap Rana. “Saya juga nggak akan ganggu Bapak. Anggap saja malam itu nggak pernah terjadi.”
Otot di rahang Damar bergerak.
“Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi dengan pura-pura lupa.”
“Saya bisa.”
“Kamu bahkan tidak bisa melihat saya selama kuliah.”
Rana membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Damar segera menambahkan, “Saya tidak bermaksud mempermalukan kamu.”
“Tapi Bapak berhasil.”
Sunyi jatuh.
Wajah Damar berubah sangat sedikit, hanya satu kedipan yang lebih lambat. Namun itu cukup untuk membuat Rana menyesali kalimatnya.
Tentu saja. Penyesalan selalu datang tepat setelah mulutnya selesai menghancurkan sesuatu.
“Maaf,” katanya cepat. “Saya nggak seharusnya...”
“Jangan.”
Kali ini suara Damar lebih tegas.
“Jangan minta maaf karena merasa tidak nyaman. Saya yang seharusnya memastikan malam itu berhenti sebelum melewati batas.”
“Kita sama-sama mabuk.”
“Itu fakta. Bukan alasan untuk melepaskan tanggung jawab saya.”
Rana menatap garis cahaya dari pintu. Matanya mulai panas. Dia tidak mau menangis di ruangan ini, di depan lelaki ini, pada hari pertama dia mengajar.
“Saya harus pergi.”
“Silakan.”
Damar tidak bergerak dari tempatnya.
Rana mengambil satu langkah, tetapi map di tangannya tergelincir. Dia refleks menangkapnya dengan tangan kiri.
Telapak tangannya terbuka.
Udara terasa berhenti.
Tatapan Damar jatuh ke sana.
Bukan ke wajahnya. Bukan ke map yang hampir jatuh. Tepat ke satu titik kecil di telapak kiri Rana.
Rana melihat pupil lelaki itu membeku di balik lensa.
Tidak ada lagi yang perlu ditanyakan.
Dia merapatkan jemari, merenggut map dari meja, lalu berjalan cepat menuju pintu.
“Rana.”
Dia tidak menoleh.
Begitu melewati ambang, langkahnya berubah menjadi lari. Ponselnya kembali bergetar di dalam tas, suara sepatu memukul lantai lorong, dan beberapa mahasiswa di ujung koridor menepi dengan wajah bingung.
Rana terus berlari sampai pintu Ruang 3.12 hilang dari pandangan.
Di dalam kantor, Damar berdiri lama di tempat yang sama.
Kemudian dia menunduk, melepas kacamata, dan menekan pangkal hidungnya.
Malam itu dia juga mabuk sampai nyaris tidak mengingat apa pun. Namun satu kali kehilangan kendali tetaplah satu kali ketika dia hampir merusak hidup seorang gadis yang delapan tahun lebih muda darinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!