Indonesia
NovelToon NovelToon

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Mata Bertemu Mata di Ruang Sidang

​Ketegangan di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hari itu terasa begitu pekat, seolah bisa diiris dengan pisau.

​Udara pendingin ruangan terasa tidak berfungsi menghadapi hawa panas dari ratusan manusia yang berjejal. Barisan kursi kayu panjang dipenuhi oleh wartawan dari berbagai stasiun televisi, aparat kepolisian berpakaian preman, serta para pengunjung sidang yang wajahnya tegang. Di luar gedung, demonstran berteriak menggunakan pengeras suara, menuntut hukuman mati bagi koruptor dan mafia yang telah merugikan negara.

​Di depan mimbar kehormatan, Aluna duduk di kursi Hakim Ketua. Ia mengenakan toga hitam kebesarannya dengan emblem merah di dada kirinya. Wajahnya lurus, dingin, dan memancarkan otoritas mutlak. Palu kayu jati tergeletak di samping tangan kanannya, siap dijatuhkan kapan saja.

​Di kursi terdakwa, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang tampak terus berkeringat dingin. Ia adalah bawahan dari sindikat Baskara, tertangkap tangan menyelundupkan miliaran rupiah dana ilegal.

​Sidang baru berjalan empat puluh lima menit. Jaksa Penuntut Umum baru saja mulai membacakan daftar panjang dakwaan ketika kejanggalan pertama terjadi.

​Klik.

​Lampu-lampu gantung kristal di langit-langit ruang sidang tiba-tiba berkedip, lalu padam total. Suara dengungan mikrofon mati seketika, meninggalkan ruangan besar itu dalam keheningan yang membingungkan selama tiga detik. Cahaya hanya berasal dari celah sempit ventilasi di atas jendela yang tertutup tirai tebal.

​"Harap tenang!" seru Aluna, suaranya lantang memecah kepanikan yang mulai merayap di antara pengunjung. "Petugas keamanan, tolong periksa generator listrik—"

​BUM!

​Belum sempat Aluna menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan keras mengguncang pintu utama ruang sidang dari luar. Daun pintu kayu jati setebal lima sentimeter itu jebol, terlempar ke dalam bersamaan dengan kepulan asap kelabu yang sangat pekat. Asap itu memiliki bau belerang dan amonia yang langsung membakar tenggorokan. Gas air mata.

​Kepanikan meledak. Ruang sidang berubah menjadi neraka.

​Pengunjung berteriak histeris, berlarian menabrak kursi kayu demi mencari jalan keluar. Wartawan tiarap sambil melindungi kamera mereka. Petugas kepolisian yang berjaga langsung mencabut senjata api mereka, berteriak memberi komando yang kalah oleh suara jeritan.

​Aluna tidak menjerit. Ia adalah putri seorang perwira intelijen; saat krisis terjadi, naluri pertahanan dirinya mengambil alih kepanikan.

​"Risa! Tiarap dan merangkak ke pintu darurat di belakang mimbar!" perintah Aluna sambil menarik kerah seragam panitera asistennya itu agar merunduk di balik meja hakim yang kokoh.

​Di tengah kabut asap, beberapa sosok berpakaian hitam taktis, mengenakan rompi anti peluru dan masker penutup wajah, merangsek masuk ke ruang sidang. Mereka bergerak dengan efisiensi mematikan layaknya pasukan militer terlatih. Terdengar rentetan tembakan ke udara, memaksa aparat kepolisian untuk berlindung dan tidak berani mengambil risiko peluru nyasar mengenai warga sipil.

​Target mereka jelas: pria tambun di kursi terdakwa.

​Dua orang bertopeng menyambar terdakwa yang sedang meringkuk ketakutan, menyeretnya dengan kasar ke arah pintu. Ini bukan upaya penyelamatan; dari cara mereka memiting leher terdakwa, ini adalah sebuah penculikan untuk membungkam saksi.

​Aluna, yang masih bersembunyi di balik mimbar hakim, mengintip dari sela ukiran kayu. Ia harus memastikan pintu darurat di belakangnya aman untuk dilewati stafnya. Namun, tepat ketika ia hendak bangkit untuk memandu Risa, sebuah siluet tinggi besar muncul dari kepulan asap, melangkah pelan namun pasti ke arah mimbar hakim.

​Pria itu berbeda dari pasukan penyerang lainnya. Ia tidak membawa senapan serbu, melainkan berjalan dengan ketenangan absolut yang mengerikan. Ia mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku, rompi taktis, dan sebuah masker hitam yang menutupi hidung hingga dagu. Di tangannya, tergenggam sepucuk pistol Glock berwarna matte.

​Aluna mundur selangkah, jantungnya berpacu. Ia menoleh mencari Risa, memastikan asistennya sudah berhasil menyelinap keluar melalui celah pintu darurat. Kini, hanya tersisa Aluna di area mimbar.

​Pria itu melompati pagar pembatas kayu dengan gerakan yang luar biasa tangkas dan mendarat tepat di area mimbar.

​Aluna mundur, meraih pilar kayu bendera di dekatnya sebagai senjata darurat. Namun, gerakannya kalah cepat. Pria itu menerjang ke depan seperti macan kumbang. Tangan kirinya yang besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Aluna, sementara lengan kanannya melingkar kuat di pinggang sang hakim, menarik tubuh Aluna hingga membentur dada bidangnya yang keras oleh lapisan rompi anti peluru.

​Pistol di tangan pria itu terangkat, diarahkan ke arah pintu masuk darurat di mana dua anggota kepolisian baru saja muncul dengan senjata terhunus.

​"Mundur, atau kepala hakim ini berlubang!" teriak pria itu. Suaranya serak, rendah, dan bergema di balik maskernya.

​Polisi di seberang ruangan langsung membeku, menurunkan senjata mereka dengan raut wajah tegang. "Jangan lukai sandera! Kami mundur!"

​Aluna memberontak di dalam dekapan pria itu. Bau mesiu, keringat, dan... mint? Seketika tubuh Aluna menegang. Aroma itu. Ia mengenal aroma itu. Walaupun kini telah tertutup oleh bau asap dan bahaya, aroma itu adalah aroma yang sama dengan seragam basah seorang remaja laki-laki yang merosot di lantai perpustakaan sepuluh tahun yang lalu.

​Pria itu menarik Aluna mundur ke sudut paling gelap di belakang mimbar, mencari perlindungan dari bidikan sniper yang mungkin sudah berjaga di luar jendela. Tubuh mereka menempel rapat. Aluna bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdegup lambat dan teratur—detak jantung seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak merasa takut.

​"Lepaskan saya," desis Aluna, berusaha menjaga suaranya tetap penuh otoritas, meski lehernya terasa tercekik. Ia mendongak, mencoba melihat wajah penyekapnya.

​Pria itu menunduk menatap Aluna. Dalam jarak sedekat ini, di bawah sisa-sisa cahaya lampu darurat yang remang-remang, Aluna menatap sepasang mata di balik masker hitam itu.

​Mata hitam yang kelam. Tajam, berbahaya, namun memiliki kedalaman yang hanya diketahui oleh satu orang di dunia ini.

​Tangan pria itu bergerak ke atas, menarik masker hitam yang menutupi wajahnya hingga ke bawah dagu. Ia butuh lebih banyak oksigen di tengah asap gas air mata.

​Wajah itu terekspos.

​Rahangnya jauh lebih tegas dan tajam dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kulitnya sedikit lebih gelap, dan ada sebuah bekas luka sayat tipis memanjang di pelipis kirinya. Namun, itu adalah wajah yang sama. Wajah yang menghantui setiap malam sepi Aluna. Wajah yang membuat sang Palu Es menolak cinta dari semua pria di dunia ini.

​Arjuna Wiraya.

​Aluna berhenti memberontak. Seluruh otot di tubuhnya lemas, napasnya seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Toga hakim yang ia kenakan terasa begitu berat, tidak mampu melindunginya dari kenyataan yang menampar wajahnya.

​"Ar... juna?" bisik Aluna, suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

​Arjuna membalas tatapan Aluna. Tidak ada cengiran konyol di bibirnya. Tidak ada kehangatan yang dulu selalu memancar saat menatap gadis itu. Mata Arjuna dingin, sedingin dasar lautan yang tidak pernah tersentuh sinar matahari.

​Pemuda bodoh dari masa lalunya itu telah mati. Yang berdiri mendekapnya saat ini adalah "Baskara", sang ketua sindikat buronan paling dicari di negara ini. Monster yang tangannya berlumuran dosa.

​Tangan Arjuna yang memegang senjata tidak gemetar sedikit pun. Ibu jarinya membelai lembut rahang Aluna yang menegang, sebuah sentuhan yang terasa seperti duri mawar yang beracun.

​"Lama tidak bertemu, Ratu Buku," bisik Arjuna tepat di telinga Aluna, suaranya sedalam jurang. "Mulai sekarang, berpura-puralah kau tidak pernah mengenalku. Karena jika kau membuka mulutmu..."

​Arjuna menghentikan kalimatnya, menatap lurus ke dalam bola mata Aluna yang berkaca-kaca oleh keterkejutan dan gas air mata.

​"...aku tidak akan segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

​Bumi seolah berhenti berputar bagi Aluna Larasati. Palu keadilannya telah retak, hancur oleh kebenaran paling menyakitkan yang tak pernah tertulis dalam buku hukum mana pun: bahwa pria yang paling ia cintai, adalah iblis yang harus ia hukum mati.

Paradoks: Mencintai Sang Bayangan

​"...aku tidak akan segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

​Ancaman itu masih menggantung di udara, berbaur dengan pekatnya asap gas air mata. Di balik masker hitam yang kini ditariknya kembali menutupi wajah, mata Arjuna menatap Aluna dengan kejam, mengunci pergerakan sang hakim agar tidak melawan.

​Namun, sebelum Aluna sempat mencerna seluruh rasa sakit dari kalimat itu, sebuah kilatan cahaya merah laser menyapu dinding di belakang mereka, menembus kaca jendela ruang sidang yang pecah.

​Naluri Arjuna sebagai seseorang yang hidup di ambang kematian merespons lebih cepat dari kedipan mata. Ia tahu arti titik merah itu. Sniper kepolisian telah mengambil posisi dari gedung seberang.

​PRANG! DOR!

​Peluru kaliber tinggi menembus jendela, melesat tepat ke arah dada Arjuna. Namun, alih-alih menggunakan tubuh Aluna sebagai tameng hidup layaknya penjahat pada umumnya, Arjuna justru melakukan hal yang sebaliknya.

​Dengan gerakan kasar yang nyaris meremukkan tulang rusuk Aluna, Arjuna mendorong tubuh gadis itu dan membantingnya ke lantai, berlindung di balik tebalnya kayu jati mimbar hakim. Peluru itu meleset beberapa sentimeter dari bahu Arjuna, menghantam pilar kayu di atas kepala mereka hingga serpihannya berhamburan menimpa rambut Aluna.

​Arjuna meringis saat bahunya membentur lantai dengan keras demi menutupi tubuh Aluna dari pecahan proyektil. Dalam kekacauan yang memekakkan telinga itu, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

​Aluna, dengan napas terengah-engah dan jantung yang serasa ingin meledak, menatap mata pria yang menindihnya. Untuk sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, topeng kebengisan Arjuna retak. Tangan besar yang tadi mencengkeram kasar pergelangan tangan Aluna, kini tanpa sadar bergerak menutupi kepala gadis itu dari serpihan kayu, membelai belakang kepalanya dengan kelembutan yang sangat familiar.

​Sikap protektif itu... sentuhan itu... Arjuna tidak sedang menyanderanya. Pria itu baru saja menyelamatkan nyawanya dari tembakan silang.

​Kenapa? batin Aluna berteriak. Jika kau memang monster, kenapa tanganmu gemetar saat melindungiku?

​"Baskara! Target sudah di tangan! Kita harus mundur!" Suara parau dari earpiece komunikasi di telinga Arjuna memecah momen tersebut. Anak buahnya telah berhasil mengamankan pria tambun yang menjadi target penculikan mereka.

​Arjuna tersentak. Ia segera menarik tangannya dari kepala Aluna, mengembalikan sorot matanya menjadi sedingin bongkahan es. Ia bangkit berdiri dengan cepat, merogoh sesuatu dari sabuk taktisnya—sebuah granat asap pekat.

​Arjuna menarik pelatuk granat tersebut dan menjatuhkannya tepat di samping mimbar. Kabut putih seketika menyembur dengan ganas, membutakan pandangan seluruh penjuru ruangan.

​"Tetap menunduk, Yang Mulia," bisik Arjuna dingin, menekan nada suaranya agar terdengar seperti ejekan. "Keadilanmu tidak berlaku di duniaku."

​Detik berikutnya, siluet tinggi besar itu melesat menembus kepulan asap, menghilang bagaikan bayangan iblis yang ditelan kegelapan.

​Saat kepolisian akhirnya berhasil menerobos masuk dan mengamankan ruangan, kekacauan telah usai. Target penculikan telah lenyap. Ruang sidang porak-poranda. Risa, sang asisten, berlari menghampiri Aluna sambil menangis histeris, disusul oleh tim medis dan belasan polisi berpakaian preman.

​Di antara kerumunan petugas itu, Inspektur Arya Larasati menerobos barikade dengan rahang mengeras. Seragam perwiranya sedikit berantakan. Ia langsung berlutut di samping putrinya, memeriksa setiap inci tubuh Aluna dari balik kepulan sisa asap.

​"Aluna! Kau terluka? Mana yang sakit?!" tanya Inspektur Arya dengan suara bergetar, memeluk pundak putrinya dengan protektif.

​Aluna duduk bersandar pada mimbar yang hancur. Tatapannya kosong, tertuju pada titik di mana Arjuna tadi berdiri. Toga hakimnya kotor oleh debu dan serpihan kayu.

​"Aku... aku tidak apa-apa, Ayah," jawab Aluna pelan, suaranya parau akibat gas air mata.

​Inspektur Arya menghela napas lega, namun matanya memancarkan amarah yang membara. "Baskara yang menyekapmu, kan? Tim sniper kami melihatnya menahanmu di balik mimbar. Bedebah itu... dia menyentuhmu? Kau melihat wajahnya, Nak? Apa kau bisa mengidentifikasinya untuk sketsa buronan kita?"

​Ruangan mendadak terasa hening bagi Aluna. Semua mata petugas kepolisian di sekitarnya menatap penuh harap pada Sang Hakim. Aluna adalah satu-satunya sandera yang berada dalam jarak terdekat dengan pemimpin sindikat yang paling dicari se-Asia Tenggara itu. Kesaksiannya bisa menjadi kunci untuk menghancurkan jaringan Baskara.

​Aluna menelan ludah. Lidahnya, yang selama bertahun-tahun selalu mengucapkan putusan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu, tiba-tiba terasa kelu.

​Jika ia menyebut nama Arjuna Dirgantara, kepolisian akan menyisir seluruh keluarga, aset, dan masa lalu pemuda itu. Arjuna akan diburu seperti binatang buas, dan ketika tertangkap, hukuman yang menantinya hanyalah satu: eksekusi mati.

​Aluna adalah seorang hakim. Sumpah jabatannya mengalir dalam darahnya. Namun, saat ia memejamkan mata, yang ia lihat bukanlah seorang teroris pembunuh berdarah dingin. Yang ia lihat adalah seorang remaja laki-laki yang merelakan punggungnya memar demi melindunginya dari peluru nyasar beberapa menit yang lalu.

​Paradoks itu mencekiknya. Ia membenci kejahatan, tapi ia tidak bisa membenci sang penjahat.

​Aluna membuka matanya, menatap lurus ke arah sang ayah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang lurus, Palu Es itu berbohong di bawah sumpah.

​"Tidak, Ayah," jawab Aluna dengan nada yang sangat datar dan meyakinkan. "Asapnya terlalu pekat, dan maskernya tertutup sangat rapat. Aku sama sekali tidak melihat wajahnya."

​Inspektur Arya mendesah kecewa, namun ia memeluk putrinya erat. "Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat. Ayah berjanji, ayah akan memburu bajingan itu sampai ke lubang neraka sekalipun."

​Aluna memejamkan mata di pelukan ayahnya, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Ia baru saja mengkhianati negara, keadilan, dan ayahnya sendiri, demi seorang buronan yang mengancam akan membunuhnya.

Interogasi di Bawah Hujan

​Malam turun menyelimuti ibu kota bersama badai hujan yang tak kunjung reda.

​Di dalam apartemen mewahnya yang berada di lantai dua puluh, Aluna duduk di depan meja kerjanya yang dipenuhi oleh salinan berkas penyelidikan kepolisian. Sebagai korban sekaligus hakim ketua, ia memiliki akses terhadap laporan kronologi kejadian di ruang sidang siang tadi.

​Aluna menganalisis semuanya dengan ketelitian seorang anak intelijen. Laporan pelarian Baskara menyebutkan bahwa komplotan itu menggunakan tiga mobil van hitam yang berpencar. Dua mobil berhasil dilacak dan ternyata hanya umpan kosong. Mobil ketiga—yang diyakini membawa Baskara—hilang dari radar kepolisian setelah memasuki kawasan pabrik tua yang terbengkalai di daerah industri pelabuhan utara.

​Polisi telah menyisir area tersebut, namun karena luasnya kawasan yang mencapai puluhan hektar dan minimnya pencahayaan, mereka tidak menemukan apa-apa selain mobil van yang telah dibakar untuk menghilangkan jejak. Pengejaran dihentikan sementara hingga badai reda.

​Namun, tidak bagi Aluna.

​Matanya terpaku pada peta kawasan pabrik tua tersebut. Area industri pelabuhan utara. Ingatannya berputar kembali ke masa SMA. Dulu, Arjuna sering menghilang dari sekolah berhari-hari. Suatu kali, pemuda itu pernah tanpa sengaja bercerita bahwa ayahnya memiliki sebuah gudang pengalengan ikan yang sudah bangkrut di ujung utara pelabuhan. Gudang itu memiliki akses bunker bawah tanah yang dulu digunakan untuk menyelundupkan barang secara ilegal. Arjuna sering bersembunyi di sana setiap kali ia kabur dari amukan ayahnya.

​Apakah Arjuna kembali ke tempat persembunyian masa kecilnya?

​Tanpa berpikir panjang, Aluna bangkit dari kursinya. Ia mengganti pakaiannya dengan sweter hitam kerah tinggi, celana kargo gelap, dan mantel anti air. Ia membuka brankas rahasia di balik lukisan di kamarnya, mengeluarkan sebuah pistol revolver seri lama milik ayahnya yang dulu pernah diajarkan cara memakainya. Ia menyelipkan senjata itu di pinggangnya, mengambil kunci mobil, dan bergegas pergi menembus badai.

​Kawasan pabrik utara benar-benar gelap gulita. Tidak ada lampu jalan, hanya ada suara gemuruh hujan yang menghantam seng-seng berkarat dari bangunan-bangunan kosong.

​Aluna memarkirkan mobilnya agak jauh dari titik kordinat gudang pengalengan ikan tersebut. Ia berjalan kaki mengendap-endap menembus hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup. Instingnya bekerja dengan sempurna. Ia menemukan bangunan yang dimaksud—gudang nomor 14 yang tampak paling hancur dari luar.

​Aluna menyelinap masuk melalui pintu samping yang rantai gemboknya telah terpotong dengan bersih. Bagian dalam gudang itu sangat gelap, berbau karat dan air payau. Ia menyalakan senter kecil dari ponselnya, berjalan hati-hati menghindari puing-puing.

​Ia ingat deskripsi Arjuna bertahun-tahun lalu. 'Ada pintu besi di balik ruang pendingin lama.'

​Aluna menemukan ruang pendingin itu. Dan benar saja, di baliknya terdapat sebuah pintu baja yang sedikit terbuka, memancarkan cahaya lampu kuning temaram dari arah bawah tanah.

​Jantung Aluna berdegup kencang. Ia menuruni anak tangga semen yang lembap itu perlahan. Di ujung tangga, terdapat sebuah ruangan luas yang disulap menjadi safehouse (rumah aman) darurat. Ada beberapa monitor komputer yang menyala, tumpukan senjata api, dan peta tata kota Jakarta di dinding.

​Namun, ruangan itu tampak kosong.

​Aluna melangkah masuk, menyapu pandangannya. Tiba-tiba, sebuah logam dingin dan keras menempel tepat di pelipis kanannya dari arah titik buta di balik pilar. Diikuti oleh tarikan pelatuk senjata yang berbunyi klik sangat pelan.

​"Kau punya nyali yang terlalu besar untuk ukuran seorang wanita yang hampir mati siang tadi, Nona Hakim," bisik sebuah suara serak yang mematikan dari arah belakangnya.

​Aluna membeku, tapi ia tidak mengangkat tangannya. Perlahan, ia memutar tubuhnya.

​Di sana berdiri Arjuna. Tubuhnya masih mengenakan kaus taktis hitam yang kini basah oleh darah dari luka tembak yang terserempet di lengan atasnya. Rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat lelah, marah, sekaligus tak percaya melihat kehadiran Aluna di markas rahasianya. Ujung pistol Glock miliknya terarah tepat di antara kedua mata Aluna.

​"Apa yang kau lakukan di sini, Aluna?" desis Arjuna, matanya menyorotkan ancaman murni. "Kau merusak karirmu, nyawamu, dan segalanya dengan menginjakkan kaki di tempat ini."

​Bukannya gemetar ketakutan, Aluna justru melangkah maju satu tindak, membuat ujung pistol Arjuna menyentuh keningnya. Gadis itu mendongak, menatap mata kelam sang buronan dengan sorot mata yang penuh dengan sepuluh tahun kemarahan yang terpendam.

​PLAK!

​Suara tamparan itu menggema keras di dalam ruangan bunker.

​Aluna baru saja menampar wajah buronan nomor satu di negara itu dengan sekuat tenaga, hingga wajah Arjuna berpaling ke samping.

​Arjuna terdiam kaku. Pistol di tangannya sedikit menurun. Ia mengusap sudut bibirnya yang kembali berdarah akibat tamparan itu, lalu menoleh menatap Aluna dengan raut wajah terkejut yang gagal disembunyikannya.

​"Itu untuk sepuluh tahun aku menunggu seperti orang bodoh di stasiun kereta," suara Aluna bergetar hebat, air mata yang selama ini dibekukannya akhirnya tumpah, bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya.

​Aluna maju lagi, dan menampar pipi Arjuna di sisi sebelahnya. PLAK!

​"Dan ini... untuk ancamanmu di ruang sidang tadi siang!" bentak Aluna, suaranya pecah oleh emosi yang meluap-luap. Sang Palu Es yang selalu tenang itu kini runtuh sepenuhnya. "Tembak aku, Arjuna! Tembak! Buktikan padaku kalau pemuda bodoh yang dulu kuajarkan fisika di pinggir lapangan basket itu benar-benar sudah menjadi monster!"

​Aluna meraih tangan kanan Arjuna yang memegang pistol, lalu menarik moncong senjata itu hingga menempel kuat di dada kirinya, tepat di atas jantungnya. "Lakukan! Atau kau bukan pria bernyali seperti yang kau banggakan!"

​Arjuna menatap Aluna dengan napas memburu. Tangan kanannya yang menggenggam senjata, yang tidak pernah ragu menarik pelatuk pada musuh-musuhnya, kini gemetar hebat. Ia melihat air mata Aluna mengalir deras, melihat kerapuhan dari wanita yang sangat ia cintai, namun tak pernah bisa ia miliki.

​Pertahanan sang Baskara hancur lebur.

​Arjuna menjatuhkan pistolnya ke lantai semen dengan bunyi denting yang keras. Detik berikutnya, ia menarik tubuh Aluna dengan kasar dan memeluknya. Sangat erat, sangat putus asa, seolah ia ingin menyatukan tulang rusuk mereka berdua.

​Arjuna membenamkan wajahnya di ceruk leher Aluna, menghirup aroma lavender yang sudah sepuluh tahun meracuni kewarasannya. Bahu lebar sang buronan itu bergetar hebat.

​"Kenapa kau datang, Na...?" bisik Arjuna parau, suaranya sarat akan rasa sakit dan kerinduan yang membakar jiwa. "Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja di dalam ingatanmu?"

​Aluna membalas pelukan itu tak kalah eratnya, mencengkeram kaus hitam Arjuna hingga buku jarinya memutih. Di bawah tanah yang dingin, diiringi suara badai hujan di luar sana, seorang penegak hukum dan seorang buronan negara menangis dalam pelukan satu sama lain, terjebak dalam jaring laba-laba takdir yang tak bisa mereka hindari.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!