Indonesia
NovelToon NovelToon

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Bab 1. Alkisah

“Sayang, mas berangkat dulu ya. Nanti pulang mas kerja mau di beliin apa?”

“Engga mas, aku Cuma maunya kamu.” Jawabku dengan tersenyum menggoda pada suamiku itu.

“Hmm, kamu ini.” Suaminya mencium keningku dan mencubit pipiku.

Setelah itu, aku pun mengatarkan suamiku hingga kedepan rumah.

“Mau berangkat yan?” Tiba-tiba mertua ku datang dengan ramahnya.

“Iya bu. Viyan berangkat dulu ya.”

“Iya iya, hati-hati di jalan ya.”

“Iya bu.” Jawab suamiku yang lalu mencium tangan ibunya.

Aku dan mertua ku pun berjalan kedepan ikut mengantar suamiku. Baru saja suamiku duduk di atas jok motornya dan hendak menyalakan motor itu, aku sedikit terkejut karena adik ipar ku yang tak lain dan tak bukan adalah adik dari suamiku sendiri berteriak-teriak memanggil nama suamiku.

“Bang… bang Viyannnn.. Bang..”

Kami semua sontak langsung menoleh ke arahnya.

“Apa? Ada apa? Jangan teriak-teriak gitu. Berisik, kasian tetangga.” Jawab suamiku itu.

“Hehe maaf bang. Em, bang minta duit dong. Buat fotocopy tugas kuliah nih.” Ucapnya sambil mengulurkan telapak tangannya pada suamiku.

“Berapa?”

“Emm, 500 ribu aja bang.”

“Aduh, maaf din. Kalau segitu abang belum ada. Kan abang baru mulai kerja lagi”

“Lah, bukanya abang dapat banyak amplop waktu nikahan minggu kemarin? Abang juga sempat kan ke bali. Pelit banget sih bang. Ah, maa.. gimana ini. Masa dinda engga ngerjain tugas sih?” Adunya pada ibunya dan dia bergelagat manja padanya.

“Yan, kamu kasih lah itu adik kamu Cuma 500 ribu aja. Uang amplop ibu kemarin mau ibu beli emas nanti. Kalau di kasih dinda ya kurang jadinya.” Jawab mertua ku memaksa pada suamiku.

Aku mendengar itu pun langsung berinisiatif untuk memberi adik ipar ku uang sejumlah yang dia mau itu. Aku tak ingin suamiku itu telat berangkat bekerja hari ini. Kebetulan sisa uang nikahan kemarin aku ada lebih dari itu.

“Emm, Dinda. Sudah, biar mba saja yang kasih kamu uang. Sekarang abang kamu mau berangkat kerja takut telat nanti.” Ucapku menenangkan mereka.

“Nah gitu dong mba. Ya sudah mana sini uang nya. Aku mau berangkat sekalian. Bang, anterin Dinda juga ya bang ke kampus.”

“Iya. Beneran masih ada sayang?” Tanya suamiku padaku.

“Masih mas. Tenang aja.”

“Kalau gitu, mas sekalian pinjam 100 sayang buat isi bensin. Kebetulan hampir habis ini.”

“Iya sebentar ya, aku ambil dulu uang nya.”

Aku pun masuk ke kamar ku kembali untuk mengambil uang yang ku janjikan tadi. Selepas itu, aku keluar dan memberikan nya pada adik ipar dan suamiku.

“Nah.. gini dong.” Ucap adik ipar ku tanpa berterima kasih.

“Ya sudah. Mas berangkat sekarang ya. Bu, Viyan berangkat ya.”

“Iya mas hati-hati.” Jawabku.

“Jangan kebut-kebut yan. Adik kamu bonceng kamu itu loh. Takut jatuh nanti.”

“Iya bu.”

Suami ku dan adik ipar ku pun berangkat lalu setelah mereka tak terlihat lagi, tiba-tiba saja ibu mertua ku menepuk pundakku.

“Fitri..”

“Emm? Iya ma?”

“Mama habis ini mau pergi arisan sama sekalian pergi ke mall bareng ibu-ibu sini. Kalau mama nitip cucian baju kotor mama dan Dinda boleh? Kamu habis ini mau nyuci kan?” Ucap mertua ku dengan lugas.

Aku terkejut dengan perkataan mertua ku itu. Memang benar, setelah ini aku hendak mencuci dan memasak untuk suamiku namun apa aku juga harus menuruti perkataan mertua ku ini? Setau aku, tidak wajib bagiku untuk mencucikan semua baju kotor milik mertua dan ipar ku itu. Namun karena aku baru saja pertama kali menginjakan kaki ku di rumah ini, aku iyakan saja untuk kali ini. Toh ini engga selamanya juga. Setelah rumah ku jadi nanti, aku dan mas Viyan akan pindah dari sini.

“Emm, iya ma iya. Taruh saja di samping mesin cuci ya ma.” Ucapku sambil tersenyum.

“Aduh, berat fit. Mama engga kuat. Itu cucian sudah seminggu jadi banyak banget. Kamu bisa kan angkat sendiri? Pinggang mama sering encok fit.”

“Oh ya sudah ma. Nanti biar Fitri saja yang pindahkan.”

“Nah gitu dong. Ya sudah, mama langsung mandi deh. Bentar lagi ibu-ibu pada dateng nih.” Setelah mengatakan itu, mertua ku pun berbalik dan masuk kedalam rumah.

Aku hanya bisa menghela nafasku saja kali ini. Setelah itu aku pun juga masuk kedalam rumah dan lebih dulu membereskan semua cucian kotor milikku dan suamiku. Sesudah itu, aku pun langsung mengangkat semua itu ke depan mesin cuci. Karena mesin cuci ini kecil kapasitasnya, aku lebih dulu mencuci pakaian ku dan suamiku namun di saat aku memasukan baju-baju kedalam mesin cuci, Mertua ku berteriak.

“Fitri… jangan, jangan pakai mesin cuci itu.” Seru nya padaku.

“Loh kenapa ma?”

“Jangan. Pokoknya jangan. Boros listrik. Aduh, banyak pengeluaran kalau pakai ini.”

“Kok gitu ma? Ma, kalau pakai ini setengah jam saja engga akan buat tagihan membengkak ma. Mama tenang aja.” Ucapku pada mertua ku itu.

“Tenang, tenang. Kamuy a tenang, orang yang bayar listrik kan si Viyan.”

“Terus gimana ma? Fitri engga bisa cuci sebanyak ini tanpa pakai mesin cuci ini.”

“Gini aja, cucian Viyan, mama sama Dinda pakai mesin cuci. Kalau cucian kamu, kamu cuci sendiri pakai sikat di sana.”

Aku lagi-lagi terkejut dengan perkataan nya, “Kok gitu ma? Kenapa engga sekalian saja? Kan lebih hemat tenaga Fitri.”

“Pokoknya kamu lakuin saja begitu. Mama sudah cukup mempermudah kamu ya.” Setelah itu, tanpa pikir panjang, mertua ku pun masuk kedalam kamar mandi.

Aku sempat tak percaya dengan apa yang mertua ku katakan. Namun aku diam-diam memasukan pakaian ku juga kedalam mesin cuci lalu mencucinya. Sembari menunggu mesin itu bekerja, aku ke kamar mertua dan adik ipar ku untuk mengambil cucian kotor mereka.

“Astaga.. banyak sekali. Sehari berganti pakaian berapa kali sih? Banyak sekali, ughhh..” Aku membereskan pakaian itu dan sempat mual karena bau yang tak sedap dari pakaian itu.

Setelah aku selesai, ku lanjutkan semua pekerjaan ini hingga mertua ku pun keluar dari kamarnya dengan dandanan nyentrik khas ibu-ibu sosialita. Tangan kanan dan kiri serta lehernya terdapat perhiasan, lalu pakaiannya bak abg yang baru pubertas.

“Ingat Fitri. Jangan campurkan pakaian mu. Oh ya, mama juga minta tolong ya ke kamu buat sekalian belanja bahan masakan ya tata saja di kulkas. Mama pulang jam 5 sore nanti, mama mau semua yang mama minta tolong ke kamu itu sudah ada ya fit.”

“Iya ma,”

“Ya sudah, mama berangkat dulu.”

Bersambung

Bab 2 Awal kisah

Mertuaku pun keluar. Setelah saat tadi aku merasa mulai di manfaatkan sebagai pembantu gratis di sini. Tapi aku tak boleh langsung menentang mertua ku. Aku menghormati nya jadi kali ini aku akan membiarkan diriku untuk membantu nya.

2 jam kemudian, semua pakaian pun sudah tercuci. Setelah itu, aku beristirahat sejenak sembari membalas pesan chat dari suamiku.

“Eh sudah jam 1 aja. Astaga..” Ucapku lalu aku pun bangkit dari rebahan ku dan langsung berbelanja sayur mayur di warung sekitar sini sekalian untukku mengenal tempat-tempat sini.

Aku mengambil dompet ku lalu keluar dari rumah dan berjalan ke arah selatan karena setau ku, warung ada tak jauh dari rumah ini.

“Ah itu dia.” Aku senang setelah melihat warung yang ku maksud.

Ku lihat ibu-ibu yang berbelanja juga masih sangat ramai disini. “Semoga saja, sayuran nya belum habis.” Gumam ku.

“Eh mba, kamu menantu nya bu Mirna kan mba?” Sapa seorang ibu-ibu padaku.

“Iya bu. Salam kenal. Ibu-ibu semua, nama saya Fitri.” Ucapku memperkenalkan diri.

“Iya Salam kenal Fitri. Aduh, pengantin baru. Wajahnya cerah ceria memerah sekali.” Ledek pemilik warung.

“Ah bisa aja bu.”

“Mana mertua kamu itu? Apa dia sudah pension belanja di warung nya.”

“Em, mama pergi bu. Engga kok, paling sementara saya dulu yang belanja.”

“Oh gitu, saya Cuma mau bilang yang sabar—sabar saja mba Fitri. Mertua kamu itu orang nya nyebelin, suka ikut campur urusan orang. Yang sabar ya mba”

“Eh, iya bu. Insyaallah mama tidak bakal seperti itu.” Jawabku yang sedikit memihak mertua ku.

Setelah berbelanja, aku segera pulang ke rumah. Dari kejauhan aku sudah melihat adik ipar ku yang berdiri dengan seorang laki—laki di depan rumah.

“Loh, Kamu sudah pulang Din?” tanya ku pada ipar ku itu.

“Lama banget sih mba. Kamu kemana aja sih. Buka mba, lama banget.” Respon adik ipar ku dengan jengkel.

Tanpa menjawab nya, aku segera membukakan pintu rumah. Sontak dia langsung menerobos masuk kedalam rumah.

“Bentar ya yang. Cuma sebentar kok.” Ucap nya pada laki-laki yang ternyata adalah pacar nya.

“Iya. Ku tunggu di sini kok.” Jawab laki-laki itu.

Tanpa ikut campur, aku pun segera masuk dan langsung menuju dapur. Aku keluarkan semua sayur mayur yang ku beli tadi dan Sebagian ku letakan di lemari pendingin juga. Sedang fokus dengan itu, dari sudut mataku melihat Dinda keluar dari kamar mertua ku dan berjalan mendekatiku.

“Mba, ada 300 ribu lagi engga? Minta dong. Kurang nih.” Ucap nya menyodorkan telapak tangannya padaku.

“Kan tadi pagi sudah din. 500 ribu itu.” Ucapku.

“Lah, 500 kan Cuma buat bayar administrasi aja. 300 ribu buat ku beli buku nih. Mana mba cepetan dong pacarku nungguin tuh. Pelit banget sih Cuma minta 300 ribu aja lama banget.”

“Iya sebentar.” Ku beranjak dan berjalan ke dalam kamarku setelah ku ambil uang nya dan segera keluar menemui adik iparku itu.

“Nah gitu dong.” Dia sontak merebut uang yang belum ku serahkan padanya.

“Astaga..” ucapku lirih.

“Ya sudah, ku berangkat lagi mba. Bye.”

“Iya hati-hati.”

Dia pun pergi dengan pacarnya itu. “Memang kalau kuliah itu keluar banyak sekali uang ya.Semoga saja Dinda jadi orang sukses dimasa depan. Jadi setelah rumah ku dan mas Viyan jadi, dia setidaknya bisa membantu perekonomian ibunya juga” Gumam ku.

Aku pun lanjut memasak untuk suamiku yang akan pulang sore hari nanti. “Sop ayam, sambal bawang, bakwan, pastel, sama kue bolunya sudah siap. Hmm, asik juga masak buat suami. Semoga saja mas Viyan suka masakan aku ini. “ gumam ku sendiri.

Aku pun menata makanan itu di meja makan. Setelah selesai, aku pun masuk kekamar ku dan membawa bajuku ke kamar mandi untuk mandi. baru aku mengguyur air dari atas kepalaku, Aku mendengar suara motor dan suara pintu terbuka. Aku menduga kalau itu adalah suamiku yang pulang. Karena itu, aku pun mempercepat mandi ku ini.

“Mas kamu sudah pulang?” Aku keluar kamar mandi dengan menggosok-gosokan handuk pada rambutku.

Aku berjalan dan menoleh ke meja makan. Namun rupanya yang pulang itu bukan lah suamiku tetapi mertua ku. Aku lihat dia sedang memakan semua makanan yang ku sajikan itu dengan sangat lahap. Aku hanya bisa menatap nya dan menyapa nya saja.

“Sudah pulang bu?” tanya ku ramah.

“Ya. Kamu sudah belanja kan? jemuran sudah di angkat kan?” Ucapnya dengan mulut yang masih mengunyah.

“Iya bu. Semua sudah beres kok.” Jawabku lalu aku pun menurunkan pandangan ku ke piring yang berisi makanan itu namun nyatanya mertua ku itu sudah menghabiskan Sebagian makanan yang ku masak tadi.

“Hmm, lumayan juga masakan kamu fit. Kalau bisa, ini sup nya ayam nya di banyakin. Viyan suka itu. Terus gorengan ini kamu kasih sedikit bumbu merica. Terus ini kue bolu nya, kamu bikin agak banyakan 2 loyangan lah karena mama sama Dinda suka bolu.” Komentar mertua ku dengan menunjuk ke masakan yang aku masak.

“Iya ma. Tapi ini kok mama menghabiskan bakwan sama kue nya ma? Kayaknya ini enggak cukup kalau buat makan bertiga deh.” Ucapku dengan perlahan.

“Loh kok malah nyalahin mama sih Fit? Seharusnya kamu ya masaknya banyakin dikit lah. Sudah tau buat berempat malah masak sedikit gini. Mama cape sekali setelah muter-muter mall tadi. Sudah lah, besok kamu masak yang banyakan biar kamu juga kebagian.”

Setelah berkata seperti itu, mertua ku pun beranjak dari duduknya dan langsung menuju kamarnya tanpa mencuci piring yang sudah dia pakai untuk makan. Aku hanya bisa mengelus dada ku dan bersabar dengan respon mertua ku itu karena bagaimana lagi posisi ku saat ini memang dibilang masih menumpang pada orang tua.

Aku pun berjalan masuk ke kamar ku dan ku sempatkan memakai perawatan wajah serta tubuh. Setelah selesai, Aku mendengar suara suamiku yang telah pulang. Dengan tak sabar aku pun segera keluar kamar dan menemui nya.

“Assalamualaikum sayang.” Ucap nya yang melihat ku berlari ke depan pintu.

“Waalaikumsalam mas. Selamat datang suamiku.” Aku pun mencium tangan nya dan dia juga mencium kening ku.

“Mas, masuk yuk. Aku sudah masak mas. Tapi kayaknya mandi dulu deh biar seger.” Ucapku tersenyum lebar.

“Iyaa, em oh iya. Ini, untuk istriku.” Suamiku menyerahkan sebuat buket bunga mawar dan ada coklat yang menempel di tengahnya.

“Aaaaww. Bagus sekali..Romantis sekali suamiku. Makasih..”

“Pasti dong.” Dia sempatkan untuk mencium pipiku lagi.

“Hmm.. Kamu sudah pulang yan?” Tiba-tiba saja mertua ku ada di belakang kami.

“Iya ma.” Jawab suamiku singkat.

“Ya sudah kamu mandi sana terus pakai batik saja. Antar mama ke nikahan anaknya bu Adi”

“Sekarang banget ma?”

“Iya lah. Mama tuh nunggu kamu pulang biar bisa diantar kondangan.”

“Iya sudah bentar ya ma.”

Bersambung...

Bab 3. Masalah awal

Aku mengikuti suamiku ke kamar. “Mas, engga mau makan dulu mas?”

“Nanti ya sayang. Kan mama suruh cepat.”

“Ya sudah.” Aku sedikit kecewa.

“Yan.. cepat..” Seru mertua ku dari membuka pintu kamar kami.

“Iya ma..”

Setelah selesai bersiap, Suami ku dan mertua ku pun berangkat dengan berboncengan. Di saat yang sama, Adik ipar ku pulang dan langsung menuju ke kamarnya.

“Hmm, bau rokok..” gumam ku sedikit terbatuk.

Aku yang sedikit sensitive pun menyemprotkan pengharum ruangan agar sedikit segar kembali.

Keesokan harinya,

“Ibu mana mba?” Ucap adik iparku itu yang baru keluar dari kamarnya.

“Kondangan sebentar katanya,”

“Ooh, Ya udah.” Setelah itu dia pun berjalan dan duduk di kursi makan.

“Eh din.. bisa ambil satu-satu aja lauk nya? Itu hanya ada ayam 4 saja, Mama dan kakak mu belum makan.” Ucapku melihat adik iparku itu mengambil ayam 2 sekaligus untuk dia makan.

“Apaan sih mba? Pelit banget sih? Orang ayam aja ngatur-ngatur. Ini makanan hak aku, Lagian beli nya pasti pakai uang abang kan? Ngatur banget sih. Dih, jadi enggak mood makan” Jawab nya malah jengkel lalu dia melemparkan ayam yang baru dia ambil itu ke lantai dan berjalan kesal menuju ke kamarnya.

“Astaghfirullah,” Ucapku yang mendengar pintu kamar nya gebrak dengan keras.

Di saat yang sama, ternyata mertua ku melihat anak perempuan nya itu kesal hingga membanting pintu.

“Itu Dinda kenapa?” Tanya Mertua ku agak panik.

“Oh engga ma, Tadi aku Cuma kasih tau dinda buat engga ambil 2 ayam karena masing-masing orang dapet 1 ayam aja.” Jelas ku sedikit.

“Kamu ini pelit sekali. Biar saja kalau Dinda mau makan ayam 2 atau semua sekaligus. Dia butuh makanan itu supaya otaknya tambah pinter. Lihat? Kalau ini anak sudah ngambek begini, Bakal susah bujuk dia. Aduh, aduh nambah pikiran saja.” Mertua ku malah memarahi ku dan membela anak nya itu.

Mertuaku bergegas berjalan dan mengetuk pintu anak perempuannya itu.

“Mama tadi bilang apa Yang?” Suamiku datang dengan membawa tentengan.

“Emmm, tadi kan Dinda mau makan tapi dia ambil ayam nya 2 terus aku tegur lembut karena kamu sama mama kan belum makan juga mas tapi dia malah marah” Jelas ku sedikit pada suamiku.

“Ya jelas marah lah. Kamu ini ngatur-ngatur segala. Makan aja di atur-atur. Jadi enggak selera kan. Kaya orang pelit aja istri kamu itu yan. Aduh, gimana ini. Kalau Dinda ngambek bisa berhari-hari.” Mertua ku masih mendengar percakapan kami.

“Kasih dia duit aja ma nanti juga keluar kan?” Ucap Suamiku menanggapi ocehan itu.

“Duit? Mana ada mama duit. Kamu kasih lah dia duit, berapa kek 500 ribu. Duit mama kan buat keperluan sehari-hari. Kamu aja belum kasih mama duit lagi.” Jawab mertuaku.

“Aku mana ada duit segitu ma. Ini Cuma sisa 50 ribu aja.”

Suasana jadi tegang, aku juga sedikit merasa bersalah. Tapi apa harus sebegitu nya, aku hanya meminta mengurangi apa yang dia makan saja.

“Mana mau dia kalau 50 ribu. Halah, Fitri kasih uang 500 ke Dinda. Kamu kan yang menyebabkan Dinda begini.” Mertua ku malah sedikit membentak hingga aku sedikit tersentak.

“Ma, maaf bukannya aku engga mau kasih tapi kan tadi pagi Dinda suda aku kasih 500 ribu terus siang nya Dinda pulang lagi aku kasih lagi uang ma.” Ungkap ku dengan jujur.

“Eh, Dinda minta uang lagi mungkin karena dia butuh beli buku. Buku kuliahan kan mahal. Perhitungan sekali kamu ini.”

Mertua ku semakin memarahi ku dan terus mendorong ku untuk memberikan uang lagi pada adik ipar ku. Aku beberapa kali melihat kearah suamiku yang masih diam dan duduk di kursi makan.

“Yang, Sudah lah kamu beri saja uang nya biar cepat selesai.” Ucap Suamiku menanggapi.

“Iya lama sekali sih.”

Karena hal itu, mau tak mau aku pun mengambil lagi uang milikku yang sebenarnya itu uang mahar juga. Setelah itu, aku pun menyerahkan nya pada mertua ku. Beberapa saat kemudian adik ipar ku pun keluar dari kamar nya dan mengambil uang itu.

Selesai itu semua, Suamiku mengajakku masuk kedalam kamar untuk beristirahat.

“Mas..” panggilku dan sebenarnya aku masih tak terima dengan uang yang aku berikan tadi pada adik iparku.

“Sayang, sudah lah. Jangan bahas apapun lagi ya. Dinda anaknya memang begitu. Lain kali kalau dia minta sesuatu atau dia makan lebih dari tadi biarkan saja ya.” Ucap suamiku yang sepertinya tau aku akan membahas itu.

Karena suamiku sudah berkata begitu, aku pun mengikhlaskan dan memaklumi kejadian tadi.

Keesokan harinya,

Pagi-pagi setelah aku membuat sarapan, Suara teriakan mertua ku yang melengking membuat aku kaget.

Aku pun dengan heran melihat kearah pintu kamar mertuaku itu dan mendapati bahwa pintu itu terbuka dengan mertuaku yang berjalan keluar mendekat ke arahku.

“Fitri!”

“Iya ma? Ada apa?” Jawabku yang kaget dan bingung akan perilaku nya.

“Kamu ambil emas mama?”

“Hah? Emas? Engga ma, aku engga ambil apapun ma.” Bela ku pada diriku sendiri.

“Lah ini emas ku kosong di kotak engga ada. Kalau bukan kamu siapa lagi. Maling! Kalau beneran maling, kamu harus tanggungjawab kembalikan semua emas ku lah. Tapi enggak mungkin maling, orang kamu di rumah seharian kan.” Oceh mertuaku bikin heboh.

“Engga ma, aku engga ambil. Memang benar aku kemarin di rumah terus, tapi aku sama sekali engga masuk ke kamar mama."

"Halah. Terus kenapa emas ku bisa ilang hah!”

“Ada apa sih ma.” Suamiku keluar dari kamarnya.

“Ini.. Emas mama hilang. Pasti Fitri yang ambil ini.”

“Hah? Bener ma?” Suamiku pun tampak terkejut.

“Ini loh kotak nya kosong. Mama cari engga ada.”

“Mama bener udah cari kemana-mana?” tanya suamiku lagi.

“Loh kamu engga percaya mama yan? Liat saja, mama sudah berantakin lemari tadi. Engga percaya amat. Kemarin istri kamu yang ada di rumah, siapa lagi kalau bukan dia.”

“Engga mas. Aku engga ambil emas mama.” Bela ku depan suamiku.

“Ma, mungkin mama yang lupa taruh mana itu emasnya.” Ucap suamiku lagi pada mertuanya.

“Loh kamu engga percaya mama yan? Mama belum pikun yan..”

“Ma, aku memang bukan yang ambil ma. Tapi kemarin aku sempat lihat Dinda keluar dari kamar mama.” Aku memberitahu sesuatu yang aku ingat pada mertuaku.

“Eh malah nuduh DInda.” Mertuaku malah melotot padaku.

“Ma, sudahlah. Besok Vian gajian akan vian belikan lagi ma. Sudahlah.” Suamiku menengahi.

“Enggak, mama engga mau yang baru.”Mertuaku berjalan kedalam kamar ku dan suami lalu dia mulai mencari emas yang entah kemana itu di lemari ku.

“Ma.. engga ma.. engga ada..” Ucapku namun di bentak oleh mertuaku.

“Yang, sudah. Biarin mama cari dulu.” Ucap Suamiku yang memegang jemari ku.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!