Indonesia
NovelToon NovelToon

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Bab 1. Hujan yang sama

London selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan orang bahwa hidup tidak pernah benar-benar bisa direncanakan.

Hujan turun tanpa aba-aba sore itu, membasahi trotoar Kensington High Street yang biasanya ramai oleh langkah-langkah tergesa para pekerja kantoran yang pulang lebih awal karena awan sudah menghitam sejak siang.

Lauren Valencia Varles berlari kecil di bawah payung lipat yang sudah agak rusak di salah satu jerujinya, membuat air menetes tepat ke bahu kirinya setiap kali angin bertiup.

Ia baru saja keluar dari kursus komputer perkantoran yang ia ikuti sepulang kerja paruh waktu, membawa tas ransel yang terasa lebih berat dari biasanya karena laptop tua yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Sudah sebulan ini ia tidak melewati jalan ini. Biasanya ia memilih rute memutar lewat Gloucester Road, tapi hujan deras membuatnya mengambil jalan pintas,jalan yang sama, ternyata, dengan tempat pertama kali ia bertemu pria itu.

Pria itu.

Ia tidak tahu nama lengkapnya. Tidak juga nomor teleponnya, pekerjaannya, atau di mana pria itu tinggal. Yang ia tahu hanya sepasang mata biru yang dingin seperti es di tengah musim dingin, dan cara pria itu selalu muncul di momen-momen yang paling tidak terduga—seolah kota sebesar London ini sengaja mempertemukan mereka berulang kali tanpa alasan yang jelas.

Ia ingat pernah bertemu dengan pria itu berkali-kali, dengan kondisi terluka parah. Dan terakhir Lauren bertemu dengan pria itu saat ia tersungkur di gang sempit dekat Notting Hill, tubuhnya penuh luka, darah mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya. Malam itu Lauren yang baru pulang kerja paruh waktu nyaris melangkah melewatinya begitu saja, tapi sesuatu membuatnya berhenti.

Mungkin karena pria itu masih sadar, matanya menatap tajam ke arah Lauren meski tubuhnya nyaris tak bisa bergerak, seolah menantang siapa pun yang berani mendekat.

Lauren, yang tidak tahu apa-apa soal siapa pria itu sebenarnya, hanya melihat seseorang yang terluka parah dan butuh pertolongan.

Ia berlutut, merobek ujung syalnya untuk menekan luka di pelipis pria itu, memapahnya ke apotek terdekat yang masih buka, memaksa apoteker untuk membantu meski pria itu menolak dibawa ke rumah sakit.

"Kenapa kau menolongku?" Itu satu-satunya kalimat yang diucapkan pria itu malam itu, suaranya serak tapi tetap terdengar tajam, seolah pertanyaan itu sendiri adalah sebuah interogasi.

"Karena kau terluka," jawab Lauren waktu itu, sesederhana itu, seolah tidak ada alasan lain yang dibutuhkan.

Pria itu menatapnya lama, seperti sedang mencoba memecahkan sebuah teka-teki yang tidak biasa ia temui. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia pergi menghilang ke dalam gelap begitu lukanya cukup stabil untuk berjalan sendiri.

Lauren pikir itu akan menjadi pertemuan pertama sekaligus terakhir mereka.

Ia salah.

Setelah malam itu, entah bagaimana, mereka terus bertemu. Di halte bus yang sama, di kedai kopi yang sama, di trotoar yang sama saat rintik-rintik hujan turun.

Tidak pernah direncanakan, tidak pernah disengaja. Setidaknya begitu yang Lauren pikirkan. Ia tidak tahu bahwa di balik setiap "kebetulan" itu, ada mata lain yang mengawasi dari kejauhan, memastikan langkah Lauren selalu berada dalam jangkauan pandang seseorang yang tidak pernah benar-benar percaya pada kata kebetulan.

Dan saat itu sudah sebulan ini pertemuan itu akhirnya berhenti. Dan entah kenapa, Lauren merasa ada yang aneh dengan absennya sosok itu, sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan terhadap orang yang bahkan tidak ia ketahui nama lengkapnya.

Petir menyambar jauh di langit, membuat Lauren mempercepat langkah. Payungnya nyaris terbalik oleh angin kencang saat ia berbelok di persimpangan dekat stasiun tabung.

Dan di sanalah, di bawah kanopi sebuah gedung tinggi berkaca gelap, ia melihatnya lagi.

Pria itu berdiri tegak, mengenakan mantel hitam panjang yang basah di bagian bahu, seolah ia baru saja keluar dari kendaraan dan berjalan beberapa langkah tanpa peduli hujan yang mengguyur.

Rambut cokelatnya sedikit basah, menempel di dahi, namun tidak mengurangi kesan dingin yang selalu terpancar dari wajahnya. Matanya biru, tajam, seperti selalu menilai segala sesuatu di sekitarnya sebelum memutuskan apakah itu layak mendapat perhatian langsung terkunci pada sosok Lauren begitu ia muncul dari balik sudut jalan.

Untuk sepersekian detik, waktu seolah berhenti.

Lauren berhenti melangkah, tidak yakin harus bereaksi bagaimana. Sebulan tanpa pertemuan, dan tiba-tiba pria itu berdiri di sana, seolah tidak pernah pergi sama sekali.

"Kau," gumam Lauren, lebih kepada dirinya sendiri daripada sebagai sapaan.

Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap Lauren dari ujung kepala hingga ujung sepatunya yang basah oleh genangan air, seolah sedang memastikan bahwa gadis di hadapannya ini baik-baik saja,bahwa tidak ada yang berubah, tidak ada yang berkurang, tidak ada yang menyentuhnya selama sebulan mereka tidak bertemu.

Ekspresinya tetap datar, tidak menunjukkan emosi apa pun yang bisa dibaca orang lain, tapi ada sesuatu di balik mata birunya yang terlihat lebih intens dari biasanya.

"Kau basah kuyup," kata Alex Christopher Nozer akhirnya, suaranya rendah dan datar, tanpa nada khawatir yang biasa terdengar dari orang lain saat mengucapkan kalimat serupa. Terdengar lebih seperti sebuah pernyataan fakta yang tidak bisa dibantah.

"Hujan turun tiba-tiba," jawab Lauren, mencoba terdengar biasa saja meski jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. "Sudah lama tidak bertemu."

"Yah, sudah lama sekali kita tidak bertemu." Jawaban itu singkat, tidak memberi ruang untuk pertanyaan lanjutan.

Alex melangkah maju satu langkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga Lauren bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar bercampur hujan. "Kau sendiri kenapa lewat sini? Biasanya kau lewat Gloucester Road."

Lauren terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa aneh, seolah pria ini tahu persis rute mana yang biasa Lauren lewati, padahal mereka bahkan tidak pernah bertukar informasi sedetail itu.

Tapi ia terlalu lelah dan kedinginan untuk memikirkannya lebih jauh.

"Hujan deras, aku ambil jalan pintas," jawabnya sambil menggigil kecil.

Tanpa berkata apa-apa, Alex melepas mantelnya dan menyampirkannya ke bahu Lauren, gerakannya cepat dan tanpa ragu, seolah sudah menjadi kebiasaan meski ini pertama kalinya ia melakukan hal seperti itu.

Lauren tersentak kaget, mencoba menolak, tapi tatapan Alex membuatnya urung berkata apa-apa.

"Pakai," kata Alex, nadanya tidak bisa dibantah. "Kau bisa sakit."

"Tapi kau juga basah—"

"Aku tidak apa-apa." Potongan kalimat itu tegas, final, seolah menutup segala bentuk perdebatan yang mungkin muncul.

"Tapi aku juga sudah tidak perlu, karena hujannya juga sudah berhenti." ucap lauren menatap langit yang masih sedikit meneteskan air hujan.

"Pakai saja, kau juga terlihat kedinginan sekali. Jadi pakailah." ucap alex dingin

Lauren menatap pria di hadapannya, mencoba membaca sesuatu dari balik wajah dingin itu. Ada yang berbeda kali ini.

Biasanya pertemuan mereka singkat—Alex akan muncul, bicara beberapa kalimat seperlunya, lalu menghilang secepat ia datang.

Tapi kali ini, pria itu tampak tidak buru-buru pergi. Matanya masih menatap Lauren dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seperti sedang diteliti, dipelajari, disimpan dalam ingatan sampai ke detail terkecil.

"Aku harus segera pulang," kata Lauren akhirnya, memecah keheningan yang mulai terasa canggung. "Terima kasih untuk mantelnya. Aku akan kembalikan—"

"Simpan saja." Alex memotong cepat. "Anggap sebagai... penanda."

"Penanda?"

"Yah penanda bahwa kita akan bertemu lagi."

Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, sudut bibir Alex tertarik sedikit,bukan senyum penuh, hanya lengkungan tipis yang nyaris tak kasat mata, tapi cukup untuk membuat jantung Lauren berdetak semakin kencang tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.

Sebelum Lauren sempat menjawab, sebuah mobil hitam berhenti tepat di tepi jalan.

Seorang pria berjas gelap keluar dari kursi pengemudi, membukakan pintu belakang dengan gerakan cepat dan patuh, tanpa berkata apa-apa, hanya menunduk sedikit ke arah Alex.

"Aku harus pergi," kata Alex, kembali ke nada datarnya yang biasa, seolah momen singkat tadi tidak pernah terjadi.

Namun sebelum masuk ke dalam mobil, ia berhenti sejenak, menatap Lauren sekali lagi. "Jaga dirimu baik-baik, Lauren."

Lauren terpaku. "Kau... tahu namaku?"

Tapi Alex sudah berbalik, melangkah masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan itu.

Pintu tertutup, dan mobil hitam itu melaju menembus hujan, meninggalkan Lauren berdiri sendirian di bawah kanopi, mantel hitam yang masih menyimpan hangat tubuh pemiliknya tersampir di bahunya, dan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

Bagaimana mungkin seorang pria yang bahkan tak pernah ia beri tahu namanya, tahu persis siapa dirinya?

Ia tidak tahu bahwa di dalam mobil yang melaju menjauh itu, Alex sedang menatap layar ponselnya, sebuah folder berlabel nama lengkap Lauren Valencia Varles, lengkap dengan alamat, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, bahkan rute yang biasa ia lewati setiap hari.

Sudah delapan bulan folder itu ada di ponselnya, diperbarui setiap minggu oleh orang kepercayaannya.

Delapan bulan mengawasi dari jauh. Delapan bulan menahan diri untuk tidak mendekat lebih dari yang seharusnya.

Dan sore itu, untuk pertama kalinya, Alex tahu bahwa menahan diri bukan lagi pilihan yang bisa ia pertahankan.

Bab 2.Panggilan yang Tak Pernah Diminta

Malam itu, di lantai tiga puluh delapan sebuah gedung berkaca gelap yang menjulang di jantung distrik keuangan London, lampu-lampu kota berkelip di kejauhan seperti taburan bintang yang dipaksa turun ke bumi.

Namun tak satu pun dari pemandangan itu mampu menarik perhatian Alex yang duduk di balik meja kerjanya, lengan kemejanya digulung hingga siku.

Di depannya, berdiri tegak dengan sikap sempurna seorang militer yang tak pernah lengah, seorang pria berjas hitam bernama Damian. Kepala keamanan Alex, sekaligus satu dari sedikit orang yang diberi izin masuk ke ruangan ini tanpa harus mengetuk dua kali.

"Kau sudah baca laporannya, Pak Alex," kata Damian, suaranya rendah dan efisien, tanpa basa-basi yang tidak perlu. "Latar belakang pendidikannya SMK jurusan Administrasi Perkantoran. Tidak ada gelar sarjana. Tidak ada pengalaman kerja kantor korporat sebelumnya, hanya kerja paruh waktu di kedai kopi."

Alex tidak menjawab segera. Jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu gelap yang mengilap, matanya menatap lurus ke arah folder tertutup yang tergeletak di atasnya—folder yang sama yang telah ia buka dan tutup berkali-kali sejak delapan bulan lalu.

"Aku tidak peduli soal ijazah," kata Alex akhirnya, suaranya datar seperti biasa, tapi ada ketegasan di baliknya yang membuat siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa ini bukan permintaan, melainkan perintah.

"Buat posisi untuknya. Divisi administrasi umum, lantai dua puluh dua. Gaji setara level manajer junior."

Damian mengangkat sebelah alis, meski wajahnya tetap terkendali sempurna, karena kebiasaan bertahun-tahun bekerja di bawah keluarga Nozer telah mengajarkannya untuk tidak pernah menunjukkan keterkejutan secara terbuka.

"Posisi itu biasanya disyaratkan untuk lulusan S1 atau S2, Pak. HRD akan bertanya-tanya kenapa seseorang tanpa kualifikasi itu tiba-tiba direkrut untuk posisi setinggi itu."

"Maka pastikan mereka tidak bertanya-tanya." Alex akhirnya mendongak, matanya yang biru bertemu langsung dengan tatapan Damian, dingin dan tidak menyisakan ruang untuk dibantah.

"Buat rekayasa administratif seperlunya. Aku ingin dia bekerja di gedung ini, di bawah pengawasanku, mulai minggu depan. Aku tidak peduli caranya."

"Baik, Pak." Damian menunduk sedikit, tanda kepatuhan yang sudah menjadi refleks. "Ada hal lain?"

"Pastikan dia tidak tahu siapa yang mengatur ini." Alex kembali menatap ke luar jendela, ke arah kota yang basah oleh hujan yang belum lama reda. "Biarkan dia percaya ini murni keberuntungan."

"Dan soal gadis itu sendiri, Pak?" Damian ragu sejenak sebelum melanjutkan, karena pertanyaan semacam ini jarang sekali ia ajukan kepada atasannya. "Apa dia perlu tahu bahwa Bapak yang..."

"Tidak." Jawaban itu memotong cepat, tegas, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan lebih jauh. "Belum waktunya. Aku ingin dia sampai di sini dengan kakinya sendiri, meski jalannya sudah kuratakan tanpa sepengetahuannya. Tidak perlu kau pikirikan itu Damian, aku yang akan langsung memberitahunya sendiri nanti, bukan orang lain."

Damian mengangguk, lalu keluar dari ruangan tanpa suara, meninggalkan Alex sendirian dengan pikirannya yang dipenuhi bayangan seorang gadis berambut pirang kecoklatan yang tidak tahu bahwa dunianya baru saja diatur ulang oleh seseorang yang bahkan tidak pernah ia beri kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.

Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah syal usang yang masih menyimpan bercak darah yang telah menghitam di beberapa bagian. Itu adalah syal yang sama, yang dulu digunakan Lauren untuk menekan lukanya di gang belakang Notting Hill.

Alex tidak pernah mengembalikannya. Ia menyimpannya seperti seseorang menyimpan satu-satunya bukti bahwa dunia ini masih punya ruang untuk kebaikan yang tulus, tanpa pamrih, tanpa mengenal siapa yang ditolongnya.

Delapan bulan menyimpan benda itu di laci yang sama dengan pistol cadangannya. Sebuah kontras yang, jika dipikirkan lebih dalam, menggambarkan dirinya dengan sangat tepat.

Seorang pria yang hidupnya dipenuhi kekerasan dan kendali, namun menyimpan satu potongan kain lusuh sebagai satu-satunya benda yang ia perlakukan dengan kelembutan.

*****

Tiga hari kemudian, di sebuah apartemen kecil dua kamar di pinggiran Camden yang disewanya bersama seorang teman sekamar bernama Ivy, Lauren duduk di meja dapur sempit sambil menatap layar ponselnya dengan kening berkerut.

Panggilan tak dikenal. Nomor London, tapi bukan nomor yang ia kenali.

Ia ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Halo?"

"Selamat siang, apakah ini benar dengan Lauren Valencia Varles?" Suara di seberang terdengar profesional, seorang wanita dengan aksen London yang jelas dan formal.

"Ya, benar. Ini siapa, ya?"

"Saya Melissa dari bagian Sumber Daya Manusia Nozer Holdings International. Kami menghubungi untuk mengonfirmasi jadwal wawancara Anda untuk posisi Staf Administrasi. Apakah Anda tersedia besok pukul sepuluh pagi?"

Lauren terdiam, kebingungan jelas terpampang di wajahnya meski tidak ada yang bisa melihatnya lewat telepon. "Maaf, saya rasa ada kesalahan. Saya tidak pernah melamar ke Nozer Holdings."

Ada jeda singkat di seberang telepon, suara kertas yang dibolak-balik. "Menurut sistem kami, lamaran Anda masuk minggu lalu melalui rekomendasi internal. Apakah Anda ingin saya batalkan jadwalnya?"

Lauren membeku. Rekomendasi internal? Ia tidak mengenal siapa pun yang bekerja di perusahaan sebesar itu.

Nozer Holdings adalah salah satu konglomerasi terbesar di London, namanya sering muncul di berita bisnis, gedungnya menjulang megah di distrik keuangan yang bahkan tidak pernah ia berani masuki kecuali sekadar lewat di depannya.

"Tidak—tidak usah dibatalkan," jawab Lauren cepat, pikirannya berputar mencoba mencari penjelasan logis.

Mungkin ini kesempatan langka yang tidak seharusnya ia sia-siakan, apa pun penjelasannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal empat tahun lalu dalam kecelakaan mobil yang merenggut segalanya darinya, termasuk rasa aman yang selama ini ia anggap wajar dimiliki orang lain.

Lauren belajar untuk tidak pernah menyia-nyiakan peluang, sekecil apa pun itu, sesulit apa pun logikanya untuk dipahami. "Saya akan datang. Pukul sepuluh pagi, benar?"

"Benar. Mohon membawa dokumen identitas dan ijazah terakhir. Alamat kantor sudah saya kirimkan lewat pesan singkat."

Setelah panggilan berakhir, Lauren duduk terpaku beberapa menit, menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan masuk berisi alamat gedung yang sangat familiar baginya.

"Kenapa mukamu pucat begitu?" Ivy muncul dari kamarnya, membawa secangkir teh, menatap Lauren dengan alis terangkat.

"Ada yang menawariku wawancara kerja. Di Nozer Holdings." Lauren masih menatap layar ponselnya, seolah tidak yakin apa yang baru saja terjadi benar-benar nyata. "Tapi aku tidak pernah melamar ke sana."

Ivy mendengus, menyesap tehnya. "Mungkin seseorang merekomendasikanmu. Kau kan sering bantu-bantu di kedai kopi dulu, siapa tahu ada pelanggan yang kerja di sana dan terkesan sama kamu."

"Mungkin," gumam Lauren, meski jauh di lubuk hatinya, penjelasan sesederhana itu terasa tidak cukup untuk menjelaskan perusahaan sebesar dan seketat itu tiba-tiba menghubunginya tanpa proses lamaran resmi sama sekali.

"Tidak mungkin". pikirnya, mencoba menepis kecurigaan yang mulai muncul di benaknya. Kebetulan seperti itu terlalu absurd untuk dipercaya.

Tapi ia tidak tahu bahwa firasatnya itu benar atau tidak.

Bab 3. Keterima di Nozer Holdings

Keesokan paginya, Lauren tiba di gedung Nozer Holdings International hampir tiga puluh menit lebih awal dari jadwal wawancaranya. Dengan map berisi berkas-berkas yang ia peluk erat di dada, ia berdiri beberapa saat di depan lobi megah perusahaan itu, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi berdentum tidak beraturan.

Setelah melapor di meja resepsionis, seorang staf mengantarnya menuju ruang wawancara di salah satu lantai perusahaan. Lauren menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

"Silakan masuk."

Di dalam ruangan telah menunggu seorang pria paruh baya berjas rapi yang memperkenalkan dirinya sebagai Richard, seorang manajer senior.

"Silakan duduk, Nona Lauren."

Lauren mengangguk sopan sebelum mengambil tempat di hadapan pria itu.

"Jadi," kata Richard sambil membolak-balik berkas di depannya tanpa benar-benar membacanya, "ceritakan sedikit tentang dirimu."

Lauren menjelaskan latar belakangnya dengan jujur, Lauren mengaku hanya lulusan SMK Administrasi Perkantoran, pengalaman kerja paruh waktu di kedai kopi, tanpa pernah menyembunyikan fakta bahwa kualifikasinya jauh dari standar biasa perusahaan sebesar ini.

Ia menunggu reaksi kecewa atau pertanyaan lanjutan yang menyudutkan, tetapi Richard hanya mengangguk-angguk dengan senyum kaku, seolah sudah mengetahui jawabannya bahkan sebelum Lauren selesai berbicara.

"Baik, sepertinya cukup," ujar Richard singkat sambil menutup map di depannya. "Kami akan menghubungi Anda dalam beberapa hari ke depan."

Wawancara keesokan hari itu berjalan lancar, terlalu lancar, sebenarnya, jika Lauren mau jujur pada dirinya sendiri.

Lauren keluar dari ruangan itu dengan perasaan aneh yang mengganjal di dadanya.

Wawancara macam apa yang berlangsung kurang dari lima belas menit, tanpa pertanyaan sulit, tanpa uji kompetensi, untuk posisi setingkat manajer junior?

Ia keluar dari gedung itu dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kebingungan.

Ijazah SMK-nya bahkan tidak dilirik lebih dari beberapa detik oleh Richard, seolah dokumen itu hanya formalitas yang harus dipenuhi, bukan penentu keputusan sesungguhnya.

*****

Beberapa hari berikutnya terasa berjalan begitu lambat bagi Lauren. Selama menunggu kabar dari Nozer Holdings International, ia tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa.

Pagi hingga sore ia bekerja paruh waktu di kedai kopi, sementara malam harinya ia beberapa kali membuka kotak masuk emailnya dengan harapan menemukan pesan balasan dari perusahaan itu.

Namun setiap kali layar ponselnya menyala, yang muncul hanyalah email promosi dan pemberitahuan yang tidak ada hubungannya dengan lamaran kerjanya.

Meski berusaha meyakinkan diri agar tidak terlalu berharap, diam-diam ia tetap memikirkan hasil wawancara singkat yang terasa begitu aneh itu.

Hingga pada sore hari, sebuah notifikasi email baru akhirnya muncul di layar ponselnya.

Jantung Lauren seketika berdegup lebih cepat. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka pesan tersebut.

"Selamat, Anda diterima bekerja sebagai Staf Administrasi Umum di Nozer Holdings International."

Lauren membaca isi email itu berulang kali, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gaji yang tertera jauh melampaui ekspektasinya, cukup untuk akhirnya membuatnya bisa berhenti bekerja paruh waktu di kedai kopi yang selama ini menopang biaya hidupnya sejak menjadi yatim piatu.

Untuk pertama kalinya sejak kematian orang tuanya, ada secercah cahaya di ujung terowongan panjang yang selama ini terasa gelap tanpa arah.

Ia menangis malam itu, bukan karena sedih, melainkan karena lega, lega bahwa setelah bertahun-tahun berjuang sendirian, menghitung setiap pound demi bertahan hidup, akhirnya ada satu pintu yang terbuka lebar tanpa harus ia dobrak sendiri.

*****

Di lantai tiga puluh delapan, jauh di balik dinding kaca yang menghadap panorama kota London, Alex berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Langit sore yang mulai diselimuti semburat jingga memantulkan cahaya lembut ke dalam ruangan luas bernuansa hitam dan abu-abu, menciptakan suasana tenang yang berbanding terbalik dengan isi pikirannya.

Sebuah notifikasi masuk di laptopnya.

Laporan konfirmasi penerimaan kerja Lauren.

Alex membuka berkas digital itu dengan tenang. Tatapannya menyusuri setiap baris laporan hingga berhenti pada satu kalimat yang paling ia tunggu.

Status: Diterima.

Sudut bibirnya terangkat tipis sebelum kembali datar. Tanpa tergesa, ia menutup laptop lalu menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya.

Akhirnya, Lauren akan berada di gedung yang sama dengannya.

Ia membayangkan gadis itu berjalan menyusuri lorong-lorong perusahaan, duduk di meja kerjanya, berbicara dengan rekan-rekan baru, dan menghabiskan hari-harinya hanya beberapa lantai di bawah ruangannya.

Jauh lebih dekat.

Jauh lebih mudah untuk memastikan gadis itu tetap aman.

Namun jauh di dalam dirinya, Alex menyadari bahwa keinginannya sudah tidak lagi sekadar ingin melindungi. Ia ingin tahu dengan siapa Lauren berbicara, siapa yang mendekatinya, siapa yang membuatnya tersenyum, bahkan siapa saja yang berani terlalu akrab dengannya.

Pikiran itu terdengar berlebihan, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak berusaha mengingkarinya.

Lauren bukan siapa-siapanya. Mereka bahkan nyaris tidak saling mengenal.

Meski begitu, Alex tidak mampu menghilangkan dorongan untuk selalu memastikan bahwa Lauren berada dalam keadaan baik.

Ia meraih ponselnya lalu mengetik sebuah pesan kepada Damian.

"Pastikan lantai dua puluh dua diberi pengamanan tambahan. Aku ingin laporan siapa saja yang berinteraksi dengannya setiap hari."

Tak lama kemudian balasan masuk.

"Baik, Pak Alex. Akan diatur mulai hari pertamanya bekerja."

Alex membaca balasan itu beberapa saat. Ia sadar sepenuhnya bahwa apa yang sedang dilakukannya sudah jauh melampaui batas kewajaran seorang atasan terhadap karyawan baru. Tidak ada alasan profesional yang dapat membenarkan pengawasan sedetail itu.

Namun, alih-alih membatalkan perintah tersebut, ia justru mengunci layar ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja.

Keputusan itu sudah dibuat. Dan Alex bukan tipe pria yang akan menarik kembali keputusannya.

Di luar ruangannya, aktivitas Nozer Holdings International tetap berjalan seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang, rapat berlangsung tanpa henti, dan tak seorang pun menyadari bahwa kedatangan seorang staf administrasi baru telah menjadi perhatian terbesar CEO mereka.

Namun tidak semua orang menyambut kabar itu dengan perasaan yang sama.

Alex kembali mengalihkan pandangannya ke jendela, menatap gemerlap lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Keheningan memenuhi ruang kerjanya.

Untuk sesaat, ia memejamkan mata, lalu mengembuskan napas pelan.

"Aku ingin memilikimu, Lauren."

Kalimat itu keluar begitu lirih hingga nyaris tak terdengar, seolah hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Ia terdiam beberapa detik, lalu terkekeh hambar.

"Dan itu mungkin keputusan paling egois yang pernah kuinginkan."

Namun anehnya, ia sama sekali tidak berniat mengubur keinginan itu.

ia adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

Dan kali ini yang ia inginkan adalah Lauren.

"Kalau memang harus menjadi pria paling egois agar aku bisa memilikinya..."

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis tanpa kehangatan.

"...aku akan melakukannya."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!