Malam itu langit di atas tanah Akuma sedang mengamuk. Tapi kalau mau jujur, planet gersang yang isinya cuma tumpukan batu hitam ini memang tidak pernah ramah pada siapa pun sejak pertama kali tercipta di alam semesta. Di luar dinding Aula Gerhana, suara angin malam terdengar begitu kasar. Angin itu bertiup kencang membawa aroma karat besi tua dan bau belerang menyengat yang bikin tenggorokan rasanya seperti dicekat. Hujan yang turun malam itu juga bukan air jernih yang segar, melainkan cairan merkuri pekat yang terus-menerus menghantam atap baja menara dengan ketukan yang sangat berisik dan konstan. Tekanan udara di tempat ini rasanya begitu berat. Seolah-olah ada beban ribuan ton yang sengaja ditaruh di atas pundak setiap makhluk hidup yang ada di sini. Di planet neraka ini, kalau tulangmu tidak mengeras dengan cepat sejak lahir, tubuhmu cuma akan berakhir menjadi genangan darah di atas tanah.
Di dalam bilik bersalin yang cuma diterangi oleh beberapa suar lampu minyak tanah yang bergoyang kaku, Putri Hana sedang bertaruh nyawa. Dia terengah-engah di atas dipan kayu tua yang sudah reot. Kain sutra merah khas tanah kelahirannya, Solari, sekarang sudah basah kuyup oleh keringat dan robek di beberapa bagian akibat menahan rasa sakit yang luar biasa. Sepasang lengannya yang gemetar hebat sedang mendekap erat sesosok bayi kurus yang baru saja keluar dari rahimnya. Ada satu hal yang terasa sangat aneh malam itu. Tidak ada suara lengkingan tangis bayi yang memecah kesunyian malam. Bayi itu cuma diam membeku. Tubuh kecilnya nampak pucat pasi, dan gerakan dadanya berjalan putus-menerus dengan ritme yang sangat lambat, seperti tidak punya tenaga untuk menghirup udara Akuma yang beracun.
Raja Juro Shinto berdiri diam tidak jauh dari samping dipan. Jubah hitam polos kebesarannya tersampir longgar hingga menyentuh lantai batu obsidian yang dingin. Sebagai pemimpin tertinggi Kuadran Utara yang memegang takhta pedang tradisional, Juro adalah tipe pria yang jarang sekali menunjukkan rasa cemas di depan orang lain. Namun malam ini, rahang ksatria veteran itu nampak mengencang kaku. Dia melangkah maju dengan derap langkah yang terdengar sangat berat, lalu meletakkan telapak tangan besinya yang dipenuhi kapalan tebal di atas dada mungil anaknya.
Detik itu juga, ada getaran aneh yang langsung menjalar ke ujung jari Juro. Jantung bayi kecil itu bergerak acak, benar-benar kacau dan di luar batas kewajaran makhluk hidup. Terkadang, jantung kecil itu mendadak berdegup sangat kencang bagai deru mesin siber yang sedang rusak parah, memancarkan hawa panas yang membuat kulit tipis bayinya melepuh kemerahan. Namun di ketukan berikutnya, detak itu mendadak hilang begitu saja. Jantungnya berhenti berdetak total selama beberapa menit yang menegangkan, membuat tubuh kecil sang bayi mendingin dengan cepat bagai seonggok mayat kaku yang kehilangan roh.
"Juro..." bisik Hana dengan suara yang sangat serak, nyaris habis karena tenaganya terkuras habis. Dia sedang menahan rasa perih luar biasa pasca-melahirkan yang mencabik-cabik batinnya sebagai seorang ibu. "Tatap matanya, Juro. Kenapa detak jiwanya berjalan patah-patah seperti itu? Kenapa tidak ada pendaran api matahari dari silsilah darah keluargaku atau pusaran angin klan Shinto di sepanjang nadinya? Katakan padaku, Juro... anak kita akan tetap bernapas dan selamat, bukan?"
Juro tidak segera menjawab pertanyaan istrinya. Sepasang matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah pintu kayu ek raksasa di ujung aula. Dari balik dinding batu yang tebal, telinga tajamnya sudah bisa menangkap suara derap langkah kaki sepatu laras besi yang berat, kasar, dan berisik. Angin di dalam kompleks kuil ini memang sudah lama membusuk, selalu membawa bau pengkhianat dari balik koridor istana.
"Tenangkan batinmu, Hana," ucap Juro dengan nada suara yang pelan, namun bergaung berat menembus setiap sudut ruangan. "Badai yang sesungguhnya bukan hujan merkuri yang sedang mengamuk di luar sana. Badai itu baru saja melangkah melewati gerbang depan bilik kita."
BRAAK!
Pintu kayu ek raksasa itu mendadak dihantam hancur berantakan hingga engsel besinya terlepas kaku, menyemburkan serpihan kayu mati dan kabut kelabu kotor ke dalam ruangan ritual bersalin. Tetua Kaelen melangkah masuk dengan keangkuhan seorang pemimpin faksi yang tidak tahu malu. Separuh wajahnya dan seluruh lengan kanannya sudah diganti oleh lempengan besi kiriman dari Kekaisaran Vorash, memancarkan lampu indikator mesin berwarna merah pekat yang berkedip-kedip dengan cara yang menjijikkan bagi mata pendekar ortodoks.
Di samping kanan Kaelen, selir tiri Juro yang bernama Renka berjalan dengan gaun sutra emasnya yang teramat mewah. Tangannya memegang sebuah kipas perak yang ia kibaskan dengan gerakan lambat yang teratur, sementara sepasang mata mekanis palsunya nampak menatap lurus ke arah dekapan Hana dengan senyum sinis yang menusuk batin. Di belakang mereka, three puluh pendekar elit Sektor Delapan langsung merangsek masuk tanpa izin, membentuk formasi pengepungan melingkar dan mengacungkan moncong pedang ungu mereka tepat ke arah dipan bersalin.
"Ujian takdir alam semesta sudah memberikan jawaban yang paling jujur, Pemimpin Besar Juro!" raung Tetua Kaelen. Suara parau mekanisnya terdengar gila, pecah berantakan melalui pengeras suara yang terpasang di leher zirahnya. Tangan besinya menunjuk langsung ke arah tubuh kurus bayi Ryuken yang sedang sekarat. "Anak pertama yang lahir dari rahim wanita asing Solari itu terlahir membawa kutukan cacat bawaan yang menjijikkan! Jantungnya yang cacat telah merusak hukum aliran energi klan Shinto kita! Aturan adat kekaisaran sudah mutlak sejak era kuno: benalu kotor tidak boleh dimasukkan ke dalam buku silsilah darah murni kekaisaran, dan hak waris takhtanya resmi kami cabut malam ini juga!"
Juro Shinto membalikkan tubuh raksasanya secara perlahan. Tekanan mengerikan yang keluar dari tubuhnya begitu pekat, seolah-olah memotong seluruh pasokan udara bebas di dalam aula seutuhnya. Ia memegang hulu pedang besi kasar kunonya dengan cengkeraman mati yang tak tergoyahkan seumur hidup.
"Jaga lidah kotormu, Kaelen!" geram Juro dengan getaran suara yang begitu berat hingga memaksa barisan pendekar elit di belakang Tetua Kaelen tersentak mundur satu langkah menahan ngeri. "Ryuken adalah putra tertua dan pewaris sah takhta pedang Kuadran Utara! Darah murni mendiang leluhur mengalir di dalam sumsum tulangnya, dan aku tidak akan membiarkan faksi radikalmu mendikte garis keturunanku cuma karena kalian takut kehilangan muka di depan bangsa mesin luar angkasa!"
Renka melangkah maju dari balik bayangan pundak Kaelen, melayangkan tatapan meremehkan yang luar biasa tajam melintasi batas kasta. Ia melipat kipas sutranya dengan ketukan yang keras tepat di depan wajah Hana yang sedang lemas menahan sakit. "Kehormatan masa lalu tidak bisa digunakan untuk membeli pasokan senjata dari Kekaisaran Vorash, Yang Mulia Juro!" desis Renka, nada suaranya dipenuhi oleh kelicikan yang luar biasa menyayat hati. "Putra kandungku, Ren kecil, lahir dengan struktur tubuh pendekar yang sempurna tanpa cacat sedikit pun! Detak jiwanya selaras dengan ketukan detik semesta! Dewan Tetua tidak akan sudi menyerahkan masa depan militer Kuadran Utara ke tangan seorang anak penyakitan yang bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri dari atas tanah kotor planet ini!"
"Kau telah menjual kesetiaan leluhurmu demi kepingan emas luar angkasa dan zirah besi rongsokan, Renka!" sahut Hana dengan sisa energinya. Sepasang matanya mendadak memancarkan pendaran api Solari yang membuat udara dingin di sekitar dipan mendadak terasa panas dan membakar. "Kalian cuma menggunakan tubuh lemah putraku sebagai alasan busuk untuk merebut takhta Kuadran Utara dan menyerahkannya ke tangan penguasa Sektor Delapan yang busuk!"
"Kami tidak menjual kesetiaan, Putri Hana, kami hanya memilih siapa yang terkuat untuk menjaga klan ini agar tidak punah!" bentak Tetua Kaelen. Tangan besi mekanisnya menghantam pilar batu di samping dipan hingga pilar batu itu retak seribu dan menyemburkan debu ke udara.
Hembusan debu batu itu mendadak berhenti kaku di udara sebelum sempat menyentuh wajah bayi Ryuken. Juro Shinto telah melepaskan riak tipis aura gravitasinya, memaksa setiap serpihan debu obsidian jatuh lurus ke lantai dalam satu sentakan berat. Kaelen mendecih pelan melihat demonstrasi kekuatan tersebut, namun matanya yang mekanik tetap memancarkan cahaya merah yang penuh kelicikan.
"Kau bisa menahan debu ini dengan gravitasimu, Juro, tapi kau tidak bisa menahan keputusan resmi seluruh Dewan Tetua," Kaelen menarik sebuah gulungan logam tipis dari balik jubahnya, melemparnya ke atas meja kayu altar. "Berdasarkan dekret suksesi Sektor Selatan, anak anomali ini resmi diturunkan statusnya menjadi kasta terendah. Dia tidak berhak atas nama besar Shinto. Mulai malam ini, dia hanyalah budak pembersih di Sektor Belakang."
Hana menangis terisak, mendekap bayinya lebih erat, merasakan detak jantung tak beraturan anaknya yang kian melemah seolah ikut merasakan kejamnya takdir politik malam itu. Juro mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengannya menegang. Sebagai pemimpin, dia tahu jika dia menghunuskan pedangnya sekarang untuk membantai Kaelen, perang saudara akan meletus dan menghancurkan seluruh Kuadran Utara yang sedang diincar Kekaisaran Vorash.
Dengan berat hati, demi melindungi nyawa anak dan istrinya dari pembantaian faksi radikal, Juro membiarkan pedang kunonya tetap berada di dalam sarungnya. "Bawa anakku ke Sektor Belakang," bisik Juro, suaranya terdengar sangat parau dan terluka. "Tapi ingat ini, Kaelen... roda waktu alam semesta tidak pernah berputar linear. Suatu hari nanti, cacat yang kau hinakan malam ini akan menjadi jangkar yang meremukkan seluruh teknologi mesin kebanggaanmu."
Malam itu, di bawah siraman hujan merkuri yang lengket, takdir sang pangeran anomali resmi dimulai dalam kesunyian gudang kayu lapuk Sektor Belakang, mengunci sebuah awal epos yang kelak akan mengguncang mahakarya takhta jagat raya.
Tahun-tahun awal setelah keributan besar di Aula Gerhana berjalan bagai siksaan yang sengaja diulur. Bagi Ryuken yang baru menginjak umur tiga tahun, bertahan hidup di atas batuan Akuma bukanlah perkara mudah. Bocah malang itu tidak pernah diberi hak memakai zirah pelindung gravitasi atau meminum ramuan penguat tulang dari tabib istana. Perlindungannya hanyalah pelukan hangat sang ibu, Hana, di tengah sisa-sisa pengaruh politik Juro yang kian digembosi oleh Sektor Delapan.
Tetua Kaelen memotong pasokan obat-obatan untuk putra sulung Juro tersebut. Sebaliknya, anak-anak lain—termasuk Ren, saudara tirinya—mulai dilatih tegap di lapangan sejak balita. Mereka dipasangi zirah pemberat untuk membiasakan otot menahan gravitasi Akuma yang ekstrem. Sementara Ryuken dibiarkan bertarung sendirian melawan tekanan planet tanpa alat bantu apa pun. Kelainan jantungnya pun kian parah. Terkadang dadanya bergetar hebat, memompa darah terlalu cepat hingga kulitnya melepuh kemerahan akibat hawa panas dari dalam. Namun di waktu lain, jantungnya berhenti total selama berjam-jam. Di malam-malam kritis itu, Hana hanya bisa menangis dalam senyap, memeluk tubuh mungil anaknya di atas dipan bambu yang rapuh sambil menyalurkan sisa tenaga dalamnya demi menantang maut.
"Tatap rongsokan daging dari rahim madumu itu, Juro!" cemooh Renka suatu sore di koridor taman istana.
Di sampingnya, Ren kecil yang baru berumur tiga tahun sudah lincah mengayunkan pedang kayu di bawah siraman hujan merkuri pekat. Senyum Renka begitu tajam, menusuk hati Hana yang sedang bersandar lemas pada tiang bangunan. "Anak pertamamu bahkan tidak punya tenaga untuk menegakkan lehernya sendiri! Dewan Tetua sudah sepakat menghapus namanya dari daftar calon penerus. Takhta Kuadran Utara hanya layak untuk ksatria sejati seperti putraku!"
Juro Shinto yang berdiri membelakangi mereka tidak membalas. Dia hanya mengepalkan tinju hingga pilar batu di sampingnya retak seribu dan menaburkan debu hitam ke tanah. Tatapannya setenang kematian, lurus menembus langit malam. Juro tahu, musuh-musuhnya sedang menyusun rencana untuk menggulingkannya dari jabatan panglima. Waktu yang ia miliki untuk melindungi keluarganya kian menipis.
Saat Ryuken menginjak usia lima tahun, rencana jahat itu dieksekusi secara terang-terangan. Atas dekret Dewan Tetua yang disokong pasokan senjata Kekaisaran Vorash, Ryuken diusir paksa dari istana atas. Tubuh kurusnya diseret oleh dua pengawal berzirah berat, lalu dilemparkan ke gudang penyimpanan kayu yang lapuk di sudut paling belakang kompleks bawah—tempat pembuangan pelayan rendahan.
Lantai gudang itu berupa batu hitam kasar yang terus memancarkan hawa dingin, menusuk langsung ke tulang-tulangnya yang rapuh. Setiap kali Ryuken mencoba bangkit, sendi lututnya berbunyi kencang dibarengi rasa sakit luar biasa. Tubuhnya ambruk menabrak debu sambil memuntahkan darah segar. Baju hitam compang-camping miliknya kerap basah oleh rembesan hujan merkuri dingin yang menembus celah atap seng yang rusak.
Penderitaan fisiknya disempurnakan oleh kelicikan juru masak istana yang memotong jatah makannya atas perintah Renka. Setiap sore, ia hanya diberi semangkuk bubur apek yang dingin. Itu pun jika anak-anak lain tidak menendangnya ke lumpur hitam sebagai gurauan. Murid-murid muda yang telah dicuci otaknya oleh para tetua menjadikan kelemahan Ryuken sebagai bahan hinaan. Mereka sering meludahi pundaknya, menyebutnya sebagai sampah pembawa sial bagi klan.
"Lihat si cacat pembawa aib ini! Mengangkat sebilah ranting pun dia tidak mampu!" seru Ren sambil mendobrak pintu gudang yang rusak. Langkahnya angkuh, dipenuhi rasa superioritas karena selalu dimanja. Tanpa belas kasihan, Ren melayangkan tendangan keras menggunakan tumit sepatunya tepat ke arah dada kiri Ryuken yang sedang berlutut.
BRAK!
Hantaman itu melempar tubuh Ryuken hingga punggungnya membentur tiang penyangga gudang. Ryuken terkapar di tanah kotor, napasnya tersengal menahan perih yang seolah meremukkan tulang rusuknya. Darah segar mengalir dari sudut bibir, membasahi noda debu di bajunya.
Ren tertawa terbahak-bahak bersama belasan anak lainnya. Mereka meludahi wajah pucat Ryuken sebelum berbalik menuju kehangatan aula latihan istana, meninggalkan Ryuken sendirian di tengah kegelapan badai yang membeku tanpa obat sepotong pun.
Namun, di balik siksaan fisik yang sadis itu, jiwa Ryuken menolak mati. Ia tidak mengeluarkan setetes pun air mata keputusasaan atau memohon belas kasihan. Di tengah rasa sakit yang meremukkan tubuh, Ryuken perlahan memejamkan sepasang mata hitam legamnya di atas tanah yang basah oleh darahnya sendiri. Ia menarik seluruh kesadarannya masuk ke dalam batin yang paling sunyi.
Di dalam isolasi jiwanya, ia memfokuskan seluruh kekuatan hidup pada satu titik: jantung acaknya yang terus bergejolak.
Ketegangan politik di tanah Akuma memuncak saat Ryuken menginjak umur tujuh tahun. Malam di planet batu hitam ini tidak lagi sekadar membawa badai merkuri yang bising. Hawa pengkhianatan dari Sektor Delapan merayap pelan di antara lorong-lorong kuil yang gelap. Tepat di sepertiga malam, sirene darurat di sepanjang menara istana meraung nyaring, memutus keheningan dan menyebarkan kepanikan.
Kabar buruk datang dari batas atmosfer: dinding dimensi kuno jebol. Celah besar peninggalan perang purba itu menganga, mengancam akan memuntahkan pasukan monster serigala raksasa ke alam manusia. Sebagai pemimpin tertinggi, Raja Juro Shinto tidak punya pilihan. Beliau harus memimpin langsung armada kapal perang utama untuk menutup celah tersebut.
Sebelum menaiki tangga besi kapal induknya, Juro menyelinap diam-diam menuju gudang penyimpanan kayu yang lapuk di bagian belakang. Langkah kaki besinya terhenti di ambang pintu. Di dalam ruangan yang dingin, Ryuken sedang duduk bersila di atas lantai batu hitam. Tubuh kurusnya dipaksa menahan himpitan gravitasi planet yang ekstrem, murni mengandalkan ketebalan tekadnya. Tangan mungilnya menggenggam sebilah ranting kayu sepanjang satu meter yang dibalut perban kumal penuh noda darah.
Juro merendahkan tubuh raksasanya di hadapan sang putra sulung. Ada wibawa pemimpin besar sekaligus penyesalan mendalam seorang ayah di balik tatapannya. Ia meletakkan sepasang tangan besinya yang penuh kapalan di atas pundak kurus Ryuken.
"Ryuken, putra mahkotaku," ucap Juro Shinto. Suaranya yang berat menembus langsung ke dalam batin anaknya. "Jantung acakmu itu bukan kutukan seperti yang diucapkan para pengecut di Dewan Tetua. Itu adalah takdir besar yang belum bisa dipahami oleh teknologi Kekaisaran Vorash. Jika suatu hari langit planet ini berubah gelap dan ayah tidak pernah kembali, berjanjilah... tetaplah genggam pedangmu dengan tanganmu sendiri. Jangan pernah menukar jiwamu demi zirah mesin palsu."
Jubah hitam Juro. Air matanya menetes membasahi gaun sutra Solari miliknya yang kusam. "Juro... firasatku mengatakan ada rencana busuk di balik perintah keberangkatan darurat ini," desis Hana gemetar. "Kaelen sengaja menguras pasukan pelindung agar kompleks kuil ini kosong."
Juro tersenyum tenang—seulas senyum ksatria veteran yang menolak takut pada maut. "Jika Dewan Tetua memilih jalan pengkhianatan, maka hukum alam yang akan menghapus nama mereka dari sejarah. Hana, jaga putra kita." Juro membalikkan tubuh, melangkah tegas menembus kabut menuju pusat pertempuran di luar angkasa.
Tragedi yang dikhawatirkan meletus tiga hari kemudian. Sebuah siaran darurat dari luar atmosfer muncul di seluruh layar monitor kuil, menampilkan rekaman video yang bergoyang penuh kepulan asap. Kapal induk Juro Shinto dikepung brutal oleh puluhan kapal perang Kekaisaran Vorash yang ternyata telah bersekongkol dengan faksi pengkhianat Sektor Delapan. Di saat yang sama, monster serigala raksasa menghantam lambung kapal, menelan seluruh tubuh sang panglima ke dalam kegelapan hampa udara. Raja Juro gugur.
Mendengar berita tersebut, Hana tidak diberi waktu untuk berkabung. Pintu gerbang istananya dihantam hancur oleh rentetan ledakan bom pasukan pemberontak pimpinan Tetua Kaelen dan Renka. Tiga puluh pendekar elit bersenjata pedang ungu merangsek masuk, mengunci seluruh jalan keluar.
"Mantan Pemimpin Besar sudah mampus!" raung Tetua Kaelen, wajah mekanisnya berkilat merah penuh kesombongan. "Serahkan semua pasokan kristal suci, Putri Hana! Dan biarkan anak cacat itu kami buang ke tempat pembuangan limbah!"
Hana bangkit dengan keanggunan putri matahari yang menolak tunduk. Ia mendorong Ryuken ke balik tiang batu hitam tersembunyi, lalu meledakkan seluruh sisa tenaga dalamnya. Kobaran api merah membubung tinggi, menciptakan badai panas yang membakar hangus sepuluh pendekar musuh dalam sekejap. Namun, zirah mesin milik Renka mendadak melepaskan tembakan cahaya hitam yang menusuk telak dada kiri Hana, membuatnya terkapar bersimbah darah.
Ryuken menyaksikan pembantaian sadis itu dari balik celah tiang. Air matanya mengering menahan rasa sakit jiwa yang melampaui batas kewajaran anak seusianya. Sebelum napas terakhirnya habis, Hana menatap ke arah tempat Ryuken bersembunyi dengan senyum terakhir yang menyayat hati.
"Lari... Ryuken... hiduplah... tempa... tempa pedangmu..." bisik ibunya, sebelum tubuhnya perlahan meluruh menjadi debu keperakan yang hanyut ditiup angin malam.
Kematian kedua orang tuanya merenggut semua pelindung yang dimiliki Ryuken. Status pangeran mahkotanya hancur total. Tubuh kecilnya dilemparkan kembali ke dalam jurang pengasingan gudang lapuk di bawah injakan kaki kediktatoran baru Sektor Delapan. Sang anak buangan kini memendam bara dendam murni di dalam tulangnya, mempererat cengkeraman tangan kecilnya pada gagang ranting kayu Akuma di tengah malam yang membeku.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!