Hujan turun perlahan di kota kecil itu ketika Amara menatap pantulan wajahnya di jendela dapur. Tangannya sibuk mencuci piring, sementara pikirannya melayang jauh pada masa lalu yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Tiga anaknya sudah tertidur.
Arsen, anak sulungnya yang pendiam, Raka, si tengah yang keras kepala. Dan Nayla, putri kecilnya yang bahkan belum bisa berjalan ketika ayahnya memilih perempuan lain.
Perselingkuhan itu menghancurkan Amara lebih dari yang orang lain kira. Ia telah berusaha sekuat tenaga, mendukung Reza dari Nol, rela mengorbankan karier demi pria itu, namun yang ia dapatkan adalah pngkhianatan. Sungguh tragis.
Namun, ia bukan perempuan yang suka berteriak atau menangis di depan orang. Ketika mengetahui suaminya berselingkuh, ia hanya diam. Tatapannya dingin, Tidak ada drama, Tidak ada pertengkaran dan perdebatan. Diam-diam, ia menarik diri.
“Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang mengkhianatiku.”
Kalimat itu menjadi akhir pernikahan mereka.
Setelah perceraian, Amara seperti hidup tanpa jiwa. Selama hampir satu tahun ia mengalami depresi. Berat badannya turun drastis. Ia sering termenung sendirian sambil memandangi anak-anaknya yang tertidur. Kadang, ia jadi bahan omongan tetangga, bahan perbandingan antara satu wanita dengan wanita yang lain.
Ia bahkan pernah berpikirbuntuk mengakhiri hidupnya. Namun satu hal yang membuatnya bertahan adalah tiga pasang mata kecil yang masih membutuhkan dirinya.
Ia harus terus hidup. Bukan demi dirinya, melainkan demi mereka.
Dua tahun kemudian, Amara memutuskan menjadi relawan kemanusiaan di sebuah negara konflik di pantai timur. Negara itu penuh asap perang, bau darah, dan suara ledakan di segala sudut. Di sanalah awal, hidup Amara berubah selamanya.
Hari itu, ia menemukan seorang pria asing terluka parah di reruntuhan bangunan tua. Pria dengan fitur wajah dan rahang tegas, rambut pirang, mata abu-abu, namun tubuhnya penuh darah.
“Kalau kau tetap di sini, kau akan mati,” ujar Amara singkat.
Pria itu tertawa kecil meski nyaris pingsan.
“Kau bahkan tidak tahu siapa aku.”
“Aku tidak peduli.”
Amara menyeret tubuh pria itu sendirian melewati hujan peluru.
Ia menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Dan ternyata,
Pria itu bukan orang biasa. Namanya Leon Volkov. Salah satu penguasa organisasi bawah tanah terbesar di dunia. Orang-orang mengenalnya sebagai bayangan yang mengendalikan politik, ekonomi, perdagangan senjata, hingga jaringan intelijen gelap lintas negara.
Leon seharusnya mati malam itu. Namun Amara menyelamatkannya.
Sebagai balas jasa, Leon menawarkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Amara.
“Kau punya kepala dingin,” kata Leon suatu malam. “Dan orang sepertimu jauh lebih berbahaya daripada mereka yang suka membunuh.”
Amara hanya diam.
“Aku ingin kau mengambil alih sebagian bisnis milikku.”
“Aku bukan mafia.”
Leon tersenyum tipis.
“Belum.”
Awalnya Amara menolak. Namun dunia mengajarinya satu hal, perempuan lemah akan mudah dihancurkan.
Ia tidak ingin anak-anaknya hidup menderita. Maka Amara mulai belajar.
Leo mengajarkannya tentang strategi, kekuasaan dan manusia. Dan ternyata, Ia jauh lebih berbakat daripada siapa pun.
Dalam waktu beberapa tahun, Amara berhasil mengembangkan sepuluh bisnis besar yang bergerak di balik bayangan dunia. Perusahaan keamanan internasional, jaringan intelijen digital, perdagangan ilegal tingkat tinggi, manipulasi pasar, hingga operasi politik rahasia.
Namun uniknya, Amara tidak pernah terlihat seperti bos mafia. Ia tetap hidup sederhana.
Pagi hari ia bekerja sebagai careworker sekaligus asisten rumah tangga di rumah keluarga kaya. Pakaiannya biasa seperti para pekerja pada umumnya. Rambutnya selalu diikat sederhana. Wajahnya tenang dan tidak mencolok.
Orang-orang hanya mengenalnya sebagai perempuan pendiam yang jarang bicara. Namun setiap kali Amara berbicara, semua orang langsung diam.
“Ada yang salah dengan wanita itu,” bisik salah satu sopir rumah mewah tempatnya bekerja.
“Tatapannya bikin takut.”
Bahkan para pengusaha besar dan pejabat tinggi sering bersikap sangat sopan padanya tanpa alasan yang jelas.
Mereka tahu.
Perempuan itu bukan manusia biasa.
Di rumah, Amara tetap menjadi ibu sederhana.
Ia memasak sendiri untuk anak-anaknya. Membantu mereka belajar. Mengantar Nayla sekolah.
Anak-anaknya tidak pernah tahu siapa ibu mereka sebenarnya.
Bagi mereka, Amara hanyalah ibu pekerja keras yang sedikit dingin namun sangat menyayangi mereka.
Ketika Arsen pernah dipukul teman sekolahnya, Amara tidak langsung turun tangan.
“Selesaikan sendiri dulu,” katanya tenang.
“Aku takut, Bu,” lirih Nayla suatu hari saat dibully beberapa anak perempuan.
Amara mengusap rambut putrinya lembut.
“Kalau orang meremehkanmu, jangan langsung membenci mereka. Tunjukkan bahwa kamu lebih kuat.”
Namun semuanya berubah ketika bullying itu mulai berbahaya. Raka dikeroyok, Arsen difitnah dan Nayla hampir celaka.
Malam itu, Amara duduk diam di ruang tamu yang gelap. Matanya dingin, bahkan sangat dingin.
Ia mengambil ponsel hitam miliknya dan hanya berkata pendek.
“Bersihkan.”
“Siap, Madam.”
Tidak ada ancaman, tidak ada teriakan.
Tiga hari kemudian, keluarga yang membully anak-anaknya mendadak pindah kota. Salah satu ayah pelaku kehilangan jabatan penting. Yang lain bangkrut tanpa sebab jelas.
Dan seorang pria yang paling keras menghina Nayla, Menghilang tanpa jejak. Polisi tidak pernah menemukan apa pun.
Amara tetap menjalani hidup seperti biasa keesokan harinya.
Menyapu rumah.
Memasak sarapan.
Mengantar Nayla sekolah.
Tidak ada yang tahu bahwa semalam seorang penguasa dunia bawah tanah baru saja bergerak.
Dengan senyap.
Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak Amara tumbuh menjadi pribadi mandiri. Arsen menjadi pengusaha teknologi. Raka masuk dunia hukum internasional. Dan Nayla menjadi dokter.
Mereka hidup nyaman, namun tidak pernah dimanjakan berlebihan. Sampai akhirnya, pada ulang tahun Amara yang ke lima puluh, ia mengumpulkan ketiga anaknya di sebuah rumah besar di tepi laut.
“Ada sesuatu yang harus kalian tahu,” katanya pelan.
Di belakang Amara berdiri puluhan pria bersetelan hitam. Semuanya menunduk hormat. Arsen mengernyit.
“Siapa mereka?”
Tidak ada senyum di wajah para pria itu. Hanya rasa hormat dan takut.
Seorang pria tua maju perlahan.
“Selamat malam, Para Tuan Muda dan Nona Muda.”
Raka mulai merasa aneh, Nayla memegang tangan ibunya.
“Ibu… ini apa?”
Amara menatap laut yang gelap sebelum akhirnya berkata,
“Selama ini… ibu membangun kerajaan.”
Sunyi.
“Sebuah kerajaan yang tidak pernah kalian lihat.”
Ia lalu menyerahkan tiga map hitam kepada anak-anaknya.
“Ini bisnis putih milik kalian sekarang.”
Hotel, Perusahaan teknologi, Rumah sakit, Investasi internasional. Semuanya legal, bersih dan sangat besar.
Arsen gemetar membaca nilainya.
“Ibu… ini semua milikmu?”
Amara tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
“Aku hanya seorang ibu,” katanya pelan.
Namun para pria di belakangnya langsung menunduk lebih dalam, seolah dunia bahkan tidak pantas berdiri sejajar dengannya.
Karena mereka tahu. Perempuan sederhana itu, adalah mafia paling berbahaya yang pernah hidup.
Malam itu laut tampak tenang. Angin dingin meniup rambut Amara yang mulai sedikit memanjang, dan memutih. Ia berdiri di balkon rumah besarnya sambil memegang secangkir Matcha tea hangat.
Di belakangnya, tiga anaknya masih sibuk mencerna kenyataan bahwa ibu mereka adalah sosok yang selama ini hanya mereka dengar dalam rumor dunia bawah tanah. Seorang wanita tanpa nama, tanpa wajah, Namun ditakuti banyak negara.
Madam A.
Tidak ada yang menyangka bahwa “Madam A” hanyalah seorang ibu sederhana yang setiap pagi memasak telur dan mengingatkan anak-anaknya membawa jaket.
Amara menutup matanya perlahan, sambil menghirup udara malam di pinggir pantai, yang terus menghembuskan aroma asin. Sudah terlalu lama ia hidup dalam dua dunia. Dan kini, Seseorang dari masa lalunya kembali datang.
“Sudah lama sekali, Amara.”
Suara pria itu muncul dari belakang, suara bariton yang berat, dalam dan familiar. Amara tidak perlu menoleh untuk tahu siapa dia. Karena pria itu adalah Leon Volkov.
Pria yang dulu ia selamatkan di tengah perang, merawatnya dengan penuh perhatian. Pria yang menyeretnya masuk ke dunia gelap. Dan satu-satunya pria yang meyakini bahwa wanita ini briliant, namun tidak pernah bisa membaca isi pikirannya.
Amara menyesap tehnya pelan.
“Kau masih hidup rupanya.”
Leon terkekeh kecil. Amara memang demikian. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu terdengar sarkas. Namun tidak ada yang tahu, jauh di lubuk hatinya, ia sangat peduli. Ia selalu memastikan keluarganya aman. Termasuk pria tua itu.
“Kalimat pertama yang sangat manis.”
Kini rambut Leon sedikit memutih termakan usia. Ia tidak lagi muda, namun auranya tetap mengerikan. Tatapan abu-abunya masih tetap tajam seperti pisau, seakan bisa membelah tubuh orang hanya dengan satu tatapan.
Pria itu mengenakan jas hitam sederhana dan terlihat santai. Tidak ada pengawal di belakangnya. Dunia tahu, bahwa Leon Volkov tidak membutuhkan perlindungan.
Dan sebenarnya, dunia juga tahu satu hal lagi bahwa Leon hanya takut pada satu orang, yaitu Amara. Karena Ia sendiri yang memberikan dunia itu pada Amara, dengan tangannya.
“Kenapa datang?” tanya Amara singkat.
Leon berdiri di sampingnya. Ia pun turut menghirup udara yang sama dengan Amara, aroma asin di pinggir laut.
“Ada kekacauan.”
“ Cih, Aku sudah pensiun.”
“Kau tahu itu tidak mungkin.”
Amara diam. Ia tahu bahwa walaupun ia pensiun, namun akan ada saat dimana ia harus turun tangan secara langsung.
Ia memang sudah menyerahkan sebagian besar bisnis legal kepada anak-anaknya. Namun jaringan dunia bawah tanah masih bergerak di bawah perintahnya.
Mafia tidak mengenal pensiun. Sekali masuk, selamanya terikat.
“Cartel selatan mulai memberontak,” ujar Leon. “Mereka menyerang beberapa jalur distribusi.”
“Dan?”
“Mereka juga mencoba mendekati anakmu.”
Tatapan Amara berubah dingin seketika. Udara di balkon terasa membeku, seolah-olah waktu berhenti berputar. Leon menghela napas pelan. Ia tahu, inilah letak titik sensitif Amara, yang tidak bisa di sentuh oleh siapa pun.
“Nah. Itu ekspresi yang kutunggu.”
Amara menoleh perlahan.
“Siapa?”
“Belum berhasil disentuh. Tapi mereka mengawasi Nayla.”
Sunyi. Leon tahu, Amara bisa memaafkan penghinaan pada dirinya sendiri. Namun jika menyangkut anak-anaknya, Neraka bahkan terlihat lebih ramah.
Dua hari kemudian, sebuah pertemuan rahasia berlangsung di Dubai. Puluhan petinggi organisasi bawah tanah dari berbagai negara hadir. Ruangan itu dipenuhi pria-pria berbahaya. Pembunuh, penguasa kartel, bandar senjata dan pengendali politik.
Namun ketika pintu terbuka, seluruh ruangan langsung berdiri. Amara masuk dengan langkah tenang. Gaun hitam sederhana di tubuhnya, membuatnya terlihat sangat anggun walaupun tanpa perhiasan berlebihan. Rambutnya diikat rendah seperti hari-hari ia bekerja. Ia bahkan tidak terlihat seperti mafia. Namun, justru itulah yang paling menakutkan.
Leon duduk di kursi utama sambil memperhatikan Amara berjalan melewati semua orang tanpa rasa takut sedikit pun. Salah satu bos kartel tertawa kecil.
“Jadi ini Madam A?” ejeknya. “Aku kira lebih menyeramkan.” lanjutnya.
Tidak ada yang ikut tertawa, karena semua orang lain langsung menunduk. Pria itu belum sadar bahwa ia baru saja menggali kuburnya sendiri. Amara duduk perlahan di kursi, lalu menatap datar pria itu. Udara di ruangan terasa lebih dingin dari sebelum kedatangan wanita itu.
“Kau punya anak perempuan?”
Pria itu terdiam.
“Umur tujuh tahun,” lanjut Amara tenang. “Suka bermain piano.”
Wajah pria itu langsung pucat. Dia tidak menyangka bahwa sebelum Amara datang, ia sudah menyelidikinya terlebih dahulu.
“A-aku—”
“Duduklah,” potong Amara lembut.
Suasana ruangan berubah mencekam, tidak ada ancaman dan tidak ada bentakan. Namun semua orang tahu, Amara baru saja menunjukkan bahwa ia bisa menyentuh siapa pun, kapan pun, di mana pun.
Leon tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuhnya.
“See?” bisiknya pelan pada salah satu petinggi mafia Rusia. “Aku pernah bilang. Dia lebih berbahaya dariku.”
Meski begitu, di balik semua kekuasaan dan darah, hanya Leon yang tahu siapa Amara sebenarnya. Seorang perempuan yang diam-diam masih menyimpan luka lama. Kadang malam hari, Amara masih duduk sendirian memandangi foto anak-anaknya saat kecil. Kadang ia masih menangis diam-diam ketika mengingat bagaimana hidup menghancurkannya dulu.
Leon pernah melihatnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa marah bukan karena pengkhianatan bisnis. Tapi karena seseorang pernah menyakiti perempuan itu.
“Aku bisa membunuh mantan suamimu kapan saja,” ujar Leon suatu malam santai.
Amara malah tertawa kecil.
“Itu tidak akan mengubah apa pun.”
“Aku tetap ingin melakukannya.”
“Leon.”
“Apa?”
“Kau menyeramkan.”
Leon tersenyum malas.
“Aku mafia.”
“Kau monster.”
“Dan kau ratunya.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Amara benar-benar tertawa. Tawa kecil yang membuat Leon diam cukup lama. Karena pria itu sadar satu hal. Ia sudah jatuh cinta pada Amara sejak perang itu. Namun ia tidak pernah mengatakannya. Bukan karena takut ditolak, tapi karena Leon tahu, perempuan seperti Amara tidak bisa dimiliki. Ia hanya bisa dihormati.
Suatu malam, Nayla tanpa sengaja melihat ibunya sedang berbicara dengan puluhan pria bersenjata lewat video call. Semua pria itu menunduk hormat.
“Ibu…” lirih Nayla.
Amara menoleh, dan ruangan mendadak sunyi. Nayla menatap layar penuh simbol organisasi dunia bawah tanah, lalu menatap ibunya pelan.
“Orang-orang itu takut sama Ibu?”
Amara terdiam beberapa detik. Ia tidak mau membuat putrinya takut. Ia kemudian berjalan mendekat dan mengusap kepala putrinya lembut. Bak anak kucing yang sedang manja pada induknya.
“Ibu hanya ingin memastikan kalian aman.”
“Tapi… siapa Ibu sebenarnya?”
Amara tersenyum tipis. Jawaban itu tidak langsung keluar. Karena bahkan setelah semua yang terjadi, di dalam dirinya Ia hanya masih seorang ibu yang pernah hancur karena cinta.
Arsen selalu tahu ibunya berbeda. Bukan hanya karena kini ia mengetahui identitas asli Amara sebagai penguasa dunia bawah tanah, tetapi karena sejak kecil, ibunya selalu memandang hidup dengan cara yang sangat dingin dan realistis.
“Cinta itu penting,” kata Amara suatu malam saat mereka makan malam bersama. “Tapi kemampuan bertahan hidup jauh lebih penting.”
Dulu Arsen tidak mengerti ketika ibunya mengatakan hal demikian. Namun sekarang ia mulai paham.
Sebagai anak sulung, Arsen mewarisi sebagian besar bisnis legal keluarga. Perusahaan teknologi internasional, investasi, logistik, dan jaringan keamanan digital kini berada di bawah kendalinya. Walaupun usianya baru tiga puluh dua tahun, namun namanya sudah dikenal para konglomerat dunia. Dan seperti yang Amara duga, banyak wanita mulai mendekatinya.
“Aku cinta kamu…”
Kalimat itu terlalu sering Arsen dengar. Mulai dari model terkenal, influencer, anak pejabat, hingga sosialita. Mereka datang dengan senyum manis dan wajah cantik, demi menarik perhatian Arsen. Namun Amara hanya melihat satu hal, ambisi.
Suatu malam, Arsen dan ibunya datang memenuhi undangan sebuah pesta elit yang berlangsung di Singapura. Tentu saja banyak mata langsung tertuju pada mereka. Penampilan sepasang ibu anak itu berhasil menarik perhatian banyak orang. Arsen yang tampan, dingin, dan kaya raya. Sementara Amara, ia tetap terlihat sederhana dalam gaun hitam polos.
Namun aura wanita itu membuat para pengusaha tua bahkan enggan menatap matanya terlalu lama. Seorang wanita muda mendekati Arsen sambil tersenyum genit.
“Mr. Arsen, finally we meet.”
Tangannya sengaja menyentuh dada Arsen pelan. Sementara Amara yang berdiri di samping hanya memperhatikan tanpa ekspresi.
Wanita itu kemudian melirik Amara sekilas.
“Mama kamu masih muda banget…”
Amara tersenyum tipis, namun Arsen langsung tahu. Itu adalah senyum berbahaya. Ia melirik wanita itu tanpa ekspresi sama sekali. Hingga akhirnya wanita itu menarik diri dan pergi dengan perasaan kesal.
Malamnya, di mobil.
“Ibu tidak suka dia?” tanya Arsen.
“Dia cantik,” jawab Amara tenang.
“Tapi?”
“Dia hanya tahu cara menarik perhatian laki-laki.”
Arsen menghela napas kecil. Ia seratus persen percaya pada penilaian Ibunya.
“Ibu terlalu keras.”
Amara menatap jalanan kota lewat jendela. Kerlap-kerlip lampu jalanan, mengiringi pikirannya yang melanglang buana jauh ke masa lalu, ketika rumah tangganya diterjang badai.
“Perempuan cantik itu banyak.”
“…”
“Tapi perempuan yang bisa berdiri di sampingmu ketika semuanya hancur… sangat sedikit.”
Suasana hening di dalam mobil, terasa sunyi. Yang terdengar hanya suara helaan napas.
“Aku tidak butuh menantu yang hanya pandai berdandan,” lanjut Amara pelan. “Aku butuh perempuan yang bisa membantu menjaga kerajaan yang sudah kita bangun.”
Arsen diam. Karena jauh di dalam hatinya, Ia tahu apa yang dikatakan oleh ibunya adalah benar. Ia adalah saksi bisu perjuangan ibunya. Bagaimana mungkin ia tidak mengerti setiap perkataan ibunya.
Beberapa bulan kemudian, Amara mulai memperhatikan seorang wanita muda bernama Elena Wijaya. Elena bukan sosialita. Ia bahkan tidak terlalu suka pesta.
Wanita itu bekerja sebagai analis keuangan di salah satu perusahaan Arsen. Ia sangat pendiam dan tidak banyak bicara. Cerdas dan sangat disiplin.
Dan yang paling menarik perhatian Amara adalah Elena tidak pernah berusaha mendekati Arsen. Ia bahkan sering menghindar, jika berpapasan dengan Arsen.
Suatu hari, Amara sengaja memanggil Elena ke rumahnya. Elena datang dengan gugup. Ia tahu siapa Amara sekarang. Dan itu sangat membuatnya takut setengah mati. Dalam bayangannya, ia akan di sambut dengan aura menakutkan. Namun situasi yang ia temui malah mengejutkannya. Ia melihat Amara justru sedang memasak di dapur.
“Duduk,” katanya singkat.
Elena menurut, dengan ragu-ragu memilih tempat duduk di meja makan.
“Ibu… maksud saya Madam…”
“Panggil saja Tante.”
Elena hampir tersedak air liurnya sendiri.
" Apakah aku salah dengar?" bisiknya dalam hati. Seorang mafia menyambutnya dengan begitu elegan tanpa intimidasi.
Amara meletakkan secangkir teh di depannya.
“Aku dengar kau menyelesaikan masalah audit perusahaan cabang Tokyo.”
Elena mengangguk pelan.
“Hanya pekerjaan biasa.”
“Tidak biasa,” jawab Amara cepat. “Kau menyelamatkan perusahaan dari kerugian besar.”
Elena terdiam. Tatapan Amara tajam memperhatikannya.
“Kenapa kau tidak pernah mendekati Arsen?”
Seketika Elena langsung kaget. Atmosfer ruangan berubah begitu cepat, wajahnya pun langsung terlihat pucat.
“S-saya tidak punya niat seperti itu.”
“Kenapa?”
“Karena saya tahu posisi saya.”
Jawaban itu membuat Amara tersenyum kecil untuk pertama kalinya.
Hari demi hari, Amara semakin sering menguji Elena. Bukan soal kecantikan atau cara berpakaian. Namun tentang kemampuan berpikir, tentang kesetiaan, dan keberanian mengambil keputusan. Dan Elena lulus karena ia punya segalanya ada padanya.
Bahkan suatu malam ketika terjadi kebocoran data perusahaan, Elena tetap tenang sementara para direktur pria panik.
“Akses cadangan sudah saya pindahkan sebelum server utama diserang,” katanya dingin.
Semua orang terdiam. Arsen yang penasaran karena ibunya selalu memuji-muji wajita itu, sampai menatapnya cukup lama malam itu. Dan Amara, diam-diam puas.
Suatu malam, Arsen datang menemui ibunya.
“Ibu sengaja mempertemukan aku dengan Elena?”
Amara menyesap tehnya santai. Sambil menatap langit dengan balutan awan hitam yang sangat tebal, pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
“Mungkin.”
“Ibu mengatur semuanya?”
“Aku hanya membuka jalan.”
Arsen tertawa kecil tak percaya.
“Ibu benar-benar mafia.”
Amara menatap putranya.
“Dengarkan aku baik-baik.”
Tatapannya berubah serius.
“Kecantikan akan pudar.”
“…”
“Tapi perempuan cerdas akan menjadi fondasi keluargamu.”
Arsen diam. Amara melanjutkan pelan,
“Aku pernah menjadi perempuan yang hancur karena memilih orang yang salah.”
Suara wanita itu tetap tenang. Namun Arsen bisa merasakan luka lama di balik kalimat itu. Ia pernah berkali-kali menyaksikan ibunya menangis diam-diam di sepertiga malamnya.
“Aku tidak ingin kau mengulang kesalahan yang sama.”
Beberapa tahun kemudian, pernikahan Arsen dan Elena menjadi salah satu acara paling mewah namun paling misterius di dunia elit.
Banyak pejabat, pengusaha besar, Bahkan tokoh-tokoh dunia bawah tanah datang diam-diam untuk turut merayakan hari bahagia Arsen.
Namun semua orang tahu bahwa pernikahan itu bukan sekadar penyatuan dua manusia. Melainkan pengukuhan ratu berikutnya.
Dan ketika Elena berjalan menghampiri Amara setelah ikrar janji nikah selesai, wanita muda itu menunduk hormat. Amara memegang tangannya pelan.
“Jaga anakku.”
Elena tersenyum lembut, matanya nampak berkaca-kaca. Jauh di lubuk hatinya, Ia tidak pernah bermimpi sekalipun untuk menjadi menantu Amara. Namun, ia pun tak menyangka bahwa pada akhirnya ia yang dipilih oleh Amara untuk menjadi menantu sulungnya.
“Saya akan menjaga semuanya, Tante.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Amara merasa sedikit lega. Karena akhirnya, Ia menemukan seseorang yang pantas dan mampu berdiri sejajar dengan putranya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!