HIGH SCHOOL INTERNATIONAL salah satu sekolah elit yang terletak di pusat Ibu Kota di Negara I, dan hampir seluruh murid di sekolah itu adalah anak dari orang orang kaya contohnya seperti Helena dan Velo, mereka berdua di kenal murid paling kaya di HSI, tapi sebagian juga ada dari kalangan menengah kebawah, dan mereka bisa masuk ke HSI melalui jalur beasiswa yang di buka setahun sekali, dan salah satunya adalah Hana, putri dari pelayan di rumah besar kelurga Aditama.
Hana sangat dekat dengan Velo, mungkin karna sejak kecil Hana sudah ikut Ibunya yang bekerja di kediaman rumah besar Aditama, banyak yang iri dengan Hana karna beruntung bisa dekat dengan murid idola di HSI, tapi satupun dari mereka tidak ada yang berani mengganggu Hana, lebih tepatnya mereka takut berurusan dengan Velo yang selalu menjadi garda terdepan untuk Hana.
Namun semuanya berubah saat Helena dan Velo resmi bertunangan sehari setela hari libur kenaikan kelas, Helena selalu berusaha menjauhkan Hana dari Velo, Helena tidak mau kalau Velo dekat dekat dengan Hana, dan itu membuat Velo kesal dengan Helena ,karna merasa kalau Helena terlalu mengatur hidupnya.
Dan suatu hari sikap posesif Helena pada Velo itu di jadikan kesempatan oleh salah satu murid cewek yang sudah lama sangat iri dengan kehidupan mewah Helena, murid cewek itu menyebarkan gosip di seluruh penjuru HSI kalau Helena sering menindas Hana, padahal kenyataannya tidak pernah sama sekali, Helena hanya berusaha menjauhkan Velo dari Hana saja, dan cara Helena bukan dengan menindas Hana, tapi yang membuat Helena marah dan membenci Hana, di karnakan Hana tidak pernah meluruskan gosip itu, membuat semua orang memandang Helena seperti Antagonis di antara Velo dan Hana, padahal sudah sangat jelas kalau yang memiliki masa depan pernikahan dengan Velo itu Helena, tapi kenapa orang orang malah menganggap Helena sebagai pengganggu kedekatan antara Velo dan Hana.
Awalnya Helena tidak terima saat dirinya di anggap sebagai Antagonis, karna Helena tidak merasa kalau dirinya menjadi pengganggu Velo dan Hana, namun pada akhirnya Helena benar benar mengabulkan anggapan orang orang itu padanya.
Seperti pagi ini di kantin sekolah, Helena menghampiri meja dimana ada Velo dan kedua sahabatnya Exel dan Maxim duduk di sana, dan ada Hana juga di meja itu.
Prak
Helena langsung meletakkan nampan yang berisi makan siangnya di atas meja dengan kasar, membuat keempat orang di meja itu kaget.
''Helen, lo apa apaan sih, gue kaget tahu'' ketus Maxim.
Helena tidak perduli, dia memilih duduk di samping Velo.
''Vel, nanti anterin gue ke mall'' pinta Helena sembari memegang lengan Velo.
''Pergi sendiri saja sana, gue mau ngerjain tugas sama mereka'' sahut Velo datar.
''Gak mau, pokoknya loe harus anterin gue ke mall, kalo loe gak mau gue aduin ke Om dan Tante'' ancam Helena.
''Gue, gak perduli'' timpal Velo sembari melahap makan siangnya dengan santai.
Melihat itu wajah Helena langsung berubah muram, lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Mama Velo.
''Halo, Helena sayang, ada apa?'' tanya seseorang dari sebrang telfon.
''Tante, Velo enggak mau anterin Helena ke mall'' ucap Helena.
Sontak Velo langsung menatap tajam Helena, namun Helena tidak takut sama sekali, dia malah balik menatap Velo menantang.
''Mana Velo, kasihkan ponsel kamu ke Velo, Tante mau ngomong sama dia'' pinta Mama Velo dari sebrang telfon.
Helena langsung memberikan ponselnya pada Velo.
''Halo Ma''
''Velo, Mama gak mau tahu, pokoknya kamu harus anterin Helen ke mall'' perintah Mama Velo.
''Ok Ma'' sahut Velo, dia memang tidak pernah bisa membantah perintah Mamanya, dan itu di jadikan kesempatan oleh Helena.
Lalu Velo langsung mematikan sambungan telfonnya, dan melemparkan ponsel Helena pada pemiliknya.
''Puas kamu'' tukas Velo dingin.
Helena hanya terkekeh saja.
''Hel, kenapa kamu suka sekali mengancam Velo, kasihan dia'' tukas Hana yang sejak tadi diam.
Wajah Helena seketika berubah dingin, dan menatap Hana tajam.
''Lo, hanya anak pembantu, jadi diam saja, enggak usah ikut campur urusan gue sama Velo, dasar benalu'' ketus Helena.
''Helen stop!'' sentak Velo menekan suaranya.
''Lo apa tidak bisa sehari saja tidak merendahkan Hana, perkataan loe itu sangat menyakiti perasaannya'' ujar Velo sedikit menurunkan nada suaranya.
''Cih, perasaan, memangnya dia punya perasaan, sudah tahu loe tunangan gue, tapi dia masih saja nempel sama lo kayak kotoran'' cibir Helena.
''Helen, jaga mulut lo!'' bentak Maxim yang sejak tadi hanya diam menyimak, suaranya menggelegar ke seluruh kantin bahkan Helena sampai memejamkan matanya karna terlalu kaget.
Sedangkan Hana dia menundukkan kepalanya dengan terisak lirih, Exel yang duduk di sampingnya mengusap bahunya untuk menenangkannya.
''Max, lo apa apaan bentak bentak gue, loe nggak terima gue bicara yang sebenarnya tentang Hana, loe suka sama Hana, ha!'' teriak Helena tak kalah nyaring.
Sontak semua orang yang ada di kantin menoleh ke arah mereka, mereka juga penasaran dengan apa yang di katakan oleh Helena, begitu juga dengan Velo dan Exel mereka berdua juga penasaran, benarkah Maxim menyukai Hana?.
Sedangkan Maxim sendiri dia langsung mengatupkan mulutnya rapat rapat.
Helena langsung terkekeh kecil melihat ekspresi Maxim.
''Max, Gue tahu loe udah lama suka sama Hana'' papar Helena, lalu dia mendekatkan wajahnya di telinga Maxim lalu berbisik pelan. ''Tapi sayangnya Hana sukanya sama tunangan gue'' setelah membisikkan tentang fakta itu, Helena langsung melenggang pergi meinggalkan keempat orang yang berkecamuk dengan pikirannya masing masing tentang Maxim yang menyukai Hana yang di ucapkannya barusan.
''Max, apa benar yang di katakan Helen barusan?'' tanya Exel, sebenarnya Exel merasakan sendiri bagaimana perhatiannya Maxim pada Hana selama ini.
Maxim berusaha menekan rasa gugupnya.
''Tidak, yang di katakan Helen tidak benar'' jawab Maxim.
Hana yang mendengarnya seketika bernafas lega.
"Syukurlah, kalau Max tidak menyukai gue, kalau dia sampai beneran menyukai gue, gue tidak mungkin bisa membalas perasaannya, karna perasaan gue hanya untuk Velo'' batin Hana.
Sedangkan Velo dia hanya diam, dengan menatap intens Maxim yang duduk berhadapan dengannya.
"Kenapa gue lebih percaya dengan yang di katakan Helen, kalau dia menyukai Hana" batin Velo.
Sedangkan Maxim sendiri dia termenung memikirkan ucapan Helen tadi, benarkah Hana menyukai Velo?, terus apakah Velo juga menyukai Hana?, pasalnya selama ini Velo selalu mengatakan kalau perhatiannya pada Hana layaknya seorang Kakak pada adiknya, apa lagi Hana dan Velo tumbuh bersama dari sejak kecil.
"Kalau yang di katakan Helen benar adanya, berarti perasaan gue ke Hana bertepuk sebelah tangan dong" batin Maxim.
Saat jam pulang sekolah sudah tiba, Velo langsung membereskan semua buku bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas.
''Gue duluan'' seru Exel sembari menyampirkan tas punggungnya di bahunya.
''Ok'' sahut Maxim, sedangkan Velo hanya mengacungkan jempolnya saja.
Maxim yang sudah selesai membereskan buku bukunya, dia langsung menoleh pada Velo, yang juga sudah siap untuk pulang.
''Vel, loe beneran mau nganterin si Helen ke mal?'' tanya Maxim.
''Iya, kalau gak di anterin, nanti gue bakal di ceramahi sama nyokap seharian'' sahut Velo.
''Terus, Hana pulang sama siapa?'' tanya Maxim.
''Sama loe dulu'' jawab Velo lalu menoleh pada Hana.
''Han, gak papa kan, kalau hari ini loe pulangnya sama Maxim?'' tanya Velo.
''Iya, ga papa'' sahut Hana sedikit keberatan.
Velo mengangguk lalu dia bangkit dari kursinya dan melangkah keluar dari kelasnya.
Di parkiran Velo duduk di jok kemudi mobilnya sembari mengotak atik ponselnya, dengan pintu mobilnya yang sengaja tidak di tutup, Velo menunggu Helena yang belum keluar dari kelasnya, karna kelas Velo dan Helena berbeda, jadi saat pulang pun terkadang juga tidak bersamaan.
''Vel''
Velo langsung mendongak. ''Loh Han, kok Loe belum pulang?'' tanya Velo sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
''Itu, gue boleh gak ikut ke mall?, kebetulan gue ada yang mau di beli mall'' tanya Hana.
''Gak boleh'' bukan Velo yang menjawab melainkan Helena, yang berdiri tak jauh dari mereka.
Helena menghampiri mereka dengan menatap Hana sinis, lalu berdiri di samping Velo dan mengalungkan tangannya di lengan Velo, dan Hana yang melihat itu sedikit sakit hati, karna Velo tidak menolak Helena yang merangkul lengannya.
''Gue lihat tadi loe sama Maxim, kenapa gak minta anterin dia aja ke mall?'' tanya Helena menatap Hana sinis.
''Kasian Maxim, nanti dia bolak balik'' jawab Hana.
''Ya sudah, kalau gitu loe naik taksi saja, gue gak mau kalau loe ikut kita berdua'' ketus Helena.
Hana langsung mengangguk dengan wajah sendu, yang biasanya selalu membuat Velo tidak tega pada Hana.
''Ya sudah kalau gitu, gue naik taksi saja'' lirihnya lalu berbalik dan pergi
Dan benar saja Velo langsung menahan bahu Hana.
''Jangan naik taksi, ayo bareng kita saja'' ujar Velo.
Sontak Helena langsung membulatkan matanya.
''Velo, gue gak mau, kalau dia ikut kita'' sentak Helena kesal.
Hana langsung menundukkan kepalanya. ''Vel, ga papa, gue naik taksi saja'' ujar Hana.
''Tuh, dia saja gak masalah kalu naik taksi'' ucap Helena.
Namun Velo tidak menggubris perkataan Helena, dia langsung membuka pintu mobil belakang, dan menyuruh Hana masuk ke dalam, sedangkan Hana mau tak mau langsung masuk ke dalam mobil, lalu Velo menutup pintunya.
Helena semakin kesal bahkan wajahnya langsung berubah muram.
''Cepat, masuk ke mobil'' perintah Velo pada Helena.
''Gue bilang, gue gak mau kalau dia ikut'' sentak Helena.
''Kalau loe gak mau Hana ikut, gue juga gak mau anterin loe ke mal'' sahut Velo ketus.
Wajah Helena semakin muram, lalu dia masuk ke jok samping kemudi, dan menutup pintu mobilnya dengan kasar, membuat Velo dan Hana kaget.
Brakk
Velo sama sekali tidak memarahi tindakan Helena, karna dirinya sadar kalau keputusannya untuk mengajak Hana sudah membuat Helena kesal.
Selama perjalan menuju mall pusat kota Helena sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, expresi wajahnya juga masih muram, sedangkan Velo sendiri tidak ada niatan untuk mengajak bicara Helena.
''Helen, loe jangan marah sama Velo, dia gak salah, gue yang salah'' ucap Hana tiba tiba, yang semakin menyulut emosi Helena.
''Diem, loe!'' bentak Helena.
Hana sontak langsung menundukkan kepalanya.
''Maaf'' lirihnya.
Helena memilih diam dengan menatap ke luar jendela, karna tidak ingin emosinya semakin tersulut, yang bisa membuat kesehatannya menurun.
Sedangkan Velo dia melirik Helena yang duduk di jok sampingnya sejenak, lalu kembali fokus pada kemudinya.
Setiba di mall lagi lagi Helena menutup pintu mobil milik Velo dengan keras, lalu dia melenggang pergi masuk ke dalam lift yang membawanya ke mall lantai dua, bahkan Helena meninggalkan Velo bersama Hana begitu saja.
''Vel, Helen pasti marah banget sama gue'' ucap Hana.
Velo menghela nafasnya. '' Lain kali kalau Helen lagi marah, loe gak usah ngajak dia bicara, yang ada loe di bentak kayak tadi'' ujarnya sembari melepaskan baju seragamnya, dan menyisakan kaos oblong lengan pendek warna hitam.
''Iya gue faham, tapi gue gak mau kalau Helen marah sama loe'' timpal Hana.
Velo teridam sejenak menatap Hana dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, lalu dia melenggang pergi untuk menyusul Helena yang entah sudah ada di mana.
''Ayo masuk, katanya ada yang mau kamu beli'' seru Velo.
''Ah, iya''
Hana bergegas menyusul Velo, dan berjalan di sampingnya.
Di dalam mall Velo kebingungan mecari keberadaan Helena, walapun Velo tidak menyukai Helena, bukan berarti dia tidak perduli dengan Helena, bagaimanapun juga kini Helena dan dirinya sudah bertunangan, jadi mau tak mau dirinya tetap menjalankan tanggung jawabnya untuk menjaga Helena.
''Han, loe cari sendiri apa yang mau loe beli, nanti biar gue yang bayar, gue mau cari Helen dulu'' ujar Velo, lalu Velo langsung melenggang pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Hana.
Hana terdiam menatap kepergian Velo, padahal Velo tahu kalau dirinya memiliki kehawatiran yang berlebih kalau berada di tempat ramai, tapi kenapa Velo malah tega meninggalkannya sendirian di lantai dua mall yang sangat lebar dan juga lumayan ramai.
''Vel, loe sekhawatir itukah sama Helen, sampai loe tega ninggalin gue sendirian di sini'' gumam Hana, menatap punggung Velo yang perlahan menghilang di balik kerumunan orang yang berlalu lalang.
Setelah tiga puluh menit mencari keberadaan Helen, akhirnya Velo melihat keberadaan gadis cantik itu duduk sendirian di kedai es cream, lalu Velo bergegas menghampirinya.
''Kenapa nomor loe gak bisa di hubungi?'' tanya Velo.
''Ponsel gue kehabisan batrai'' sahut Helen, lalu melahap kembali es cream pesanannya yang sudah tinggal sedikit.
Velo seketika berdecak. ''Ck, menyusahkan sekali''
''Siapa yang kamu bilang menyusahkan?'' cetus Helen menatap Velo.
''Ya loe lah, udah ngajak gue ke mall, malah gue di tinggal gitu aja, gue dari tadi muter muter nyariin loe tahu'' omel Velo sembari berkacak pinggang.
Helen seketika terdiam, lalu sedetik kemudian dia tertawa membuat Velo semakain kesal.
''Gak usah ketawa, gak lucu'' ketus Velo dan Helen langsung menghentikan tawanya.
''Suruh siapa loe ngajak Hana, jadi gue tinggal aja, biar loe bisa berduaan sama Hana, gue baik kan'' ucap Helen tak kalah ketus.
Velo seketika langsung terdiam, menatap Helen yang kembali menikmati es cremanya.
Di lantai dua mall terlihat Velo tengah menenangkan Hana, yang sedang ketakutan dengan kepala tertunduk di samping tiang besar mall, Velo merutuki kebodohannya karna meninggalkan Hana begitu saja di tempat ramai, padahal Hana memiliki penyakit khawatir yang berlebihan saat di tempat ramai, tapi malah di tinggal begitu saja olehnya.
Sedangkan Helena yang berdiri di depan mereka mendengus kesal, melihat Hana yang berhasil membuat Velo di landa perasaan bersalah.
''Vel, gue pulang naik taksi saja, loe temani saja Hana'' tukas Helena, lalu melenggang pergi sembari menenteng beberap paperbag belanjaannya.
Velo menatap kepergian Helena, dan tiba tiba perasaan bersalah menghampirinya.
"Hel, Sorry" batin Velo.
Satu jam kemudian Velo sudah berada di dalam mobilnya, dan mengemudikan mobilnya untuk pulang, dan di jok belakang terlihat Hana duduk sembari menatap Velo dari kaca sepion.
''Vel, pasti tadi Helen marah banget sama gue'' ucap Hana.
Velo diam saja dan memilih fokus mengemudi.
''Gue, besok mau minta maaf sama dia'' ucapnya lagi.
''Sebaiknya tidak usah'' timpal Velo.
''Kenapa?'' tanya Hana sembari maju kedepan, dan memegang sandaran jok depan.
''Helen pasti akan mencaci loe, nanti loe sakit hati dan nangis lagi'' jawab Velo.
''Baiklah kalau gitu'' tukas Hana.
Setiba di rumah besar Aditama, Velo sudah di sambut oleh mamanya yang berdiri di ambang pintu.
''Ma'' sapa Velo sembari tersenyum, namun dia tersentak kaget karna Mamanya tiba tiba menarik telinganya.
''Aduh Ma, sakit!'' pekik Velo.
''Sakit hem, rasain, suruh siapa kamu menelantarkan calon menantu kesayangan Mama, ha'' omel Mama Velo yang bernama Diana, tanpa melepaskan jewerannya di telinga Velo.
''Maksud Mama apa sih?, siapa yang menelantarkan Helen, Velo sudah nganterin dia ke mall kok, sesuai perintah Mama'' tukas Velo membela diri.
Diana melepaskan jewerannya di telinga Velo, lalu dia bersedekap dan menatap sinis putra satu satunya ini.
''Kamu memang mengantarkan Helen ke mall, tapi kenapa kamu biarin dia pulang sendiri?'' tanya Diana.
Sedangkan Hana yang masih ada di sana mendengar semua apa yang di katakan oleh Diana.
"Helen keterlaluan sekali, kenapa harus ngadu ke Nyonya sih, kan kasihan Velo, jadi kenak omel lagi sama Nyonya" batin Hana menggerutu.
''Hana, ngapain kamu masih di sini, ayo masuk'' tegur seorang pelayan wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Hana.
Hana sebenarnya masih tidak tega meninggalkan Velo yang sedang di omeli oleh Mamanya, tapi Ibunya sudah membawanya pergi ke paviliun di mana tempat para pelayan Aditama tinggal.
''Helen ngadu sama Mama?'' tanya Velo sembari mengusap telinganya yang terasa panas.
''Tidak, bahkan Mama tidak bisa menghubunginya'' sahut Diana.
''Terus, Mama tahu dari mana kalau aku membiarkan Helen pulang sendiri?'' tanya Velo.
''Mamanya Exel'' jawab Diana.
''Kok bisa?'' tanya Velo penasaran.
''Iya, tadi Tante Rossa ngirimin Mama fotonya Helen saat berdiri di halte sendirian, katanya Helen lagi nunggu taksi, mana barang belanjaan Helen banyak lagi cuaca juga lagi panas banget, kasihan tahu'' omel Diana. ''Untung tadi ada Tante Rossa sama Exel, jadi Helen di anterin pulang sama mereka'' imbuhnya.
Sedangkan Velo langsung terdiam, jika nanti Helen melampiaskan kekesalannya, Velo akan siap menerimanya, karna di sini memang dirinya yang salah.
''Kamu kenapa tidak mau nganterin Helen pulang sih?, kalian bertengkar lagi?'' tanya Diana.
Velo menggelengkan keplanya.
'' Terus kenapa?''
Velo terdiam sejenak, lalu dia menceritakan masalah yang di alami oleh Hana saat di mall tadi.
Diana yang mendengarnya sontak langsung emosi.
''Kamu bisa khawatir dengan Hana, tapi kamu malah mengabaikan keselamatan tunangan kamu, dia di halte sendiran loh, mana ponselnya kehabisan batrei, cuaca sedang panas, barang belanjaan juga banyak, kalau dia kenapa napa gimana?, apa kamu enggak mikir sampai ke sana, ha'' marah Diana.
''Iya Ma, Velo tidak akan mengulanginya lagi'' ucap Velo lirih dengan kepala tertunduk.
''Lain kali, kalau Helen ngajak kamu keluar atau kemana kek, Hana jangan kamu bawa juga, dan satu lagi sekarang yang harus kamu prioritaskan itu Helen, bukan Hana'' tukas Diana memperingatkan putranya.
''Iya Ma'' sahut Velo.
''Ya sudah, nanti pergilah ke rumah Helen, dan minta maaf sama dia'' perintah Diana lalu dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Velo yang masih terdiam di depan pintu kediamannya.
Sedangkan di rumah besar Atmajaya, Helena langsung masuk ke kamarnya dan meletakkan barang belanjaannya di sofa panjang, lalu dia duduk di tepi ranjang dan memijit betisnya yang terasa pegal, karna jarak mall ke halte tadi lumayan jauh, di tambah Helen membawa beberapa paperbag yang lumayan berat.
''Sepertinya kakiku lecet deh'' gumam Helen sembari melepas sepatunya lalu membuka kaos kakinya, dan benar saja pergelangan kakinya lecet, mungkin karna terlalu lama berjalan dengan memakai sepatu.
Helena lalu mengambil ponselnya yang sudah mati di dalam tasnya, lalu di cas dan di letakkan di atas nakas.
Dan baru saja ponselnya nyala kembali, sudah terdengar suara notifikasi pesan di aplikasi Wahtsappnya.
''Hana'' gumam Helen.
Karna penasaran Helen membuka pesan dari Hana dan membacanya.
[ Hel, lo kok tega sih fitnah Velo, loe bilang kalau Velo enggak mau nganterin loe pulang, padahal loe sendiri kan yang mau pulang naik taksi, Velo kasihan tahu, dia kenak marah Mamanya ]
''Ck, apaan sih si benalu ini, lagian siapa yang ngadu ke Tante Diana'' gumam Helena.
Helena memilih mengabaikan pesan dari Hana, dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, Helena sudah biasa menerima pesan Wahtsapp dari Hana yang selalu memprovokasinya, hanya saja Helena mengabaikannya, namun Helena tidak menghapus pesan pesan itu, Helena merasa kalau suatu saat pesan pesan itu bisa bermanfaat.
Sore hari di taman samping kediaman Atmajaya, terlihat Helena sedang menyirami bunga favoritnya ya itu mawar putih, saat ini Helena mengenakan kaos putih gading oversize dari brand ternama di dunia, dan di padukan dengan kulot yang panjangnya hanya di atas lutut, dengan rambut yang di kuncir kuda, memperlihatkan kecantikan alaminya, sampai sampai membuat laki laki yang berdiri tak jauh darinya terkesima.
''Nona Muda, ada Den Velo'' ucap salah satu pelayan wanita.
Helen langsung menoleh, dan melihat Velo berjalan ke arahnya.
''Bibi tolong buatkan minum untuknya'' pinta Helen.
''Baik Nona'' timpal pelayan wanita itu, setelah itu berlalu pergi untuk membuatkan minum untuk Velo.
Setelah pelayan wanita itu pergi, Helen melanjutkan kembali menyiram bunganya, sedangkan Velo dia menghampiri Helen dan berdiri di belakangnya.
''Hel, gue minta maaf sama loe'' ucap Velo.
Helen yang mendengarnya hampir menjatuhkan selang air yang di genggamnya, karna terlalu kaget mendengar Velo minta maaf padanya, karna selama mereka kenal Velo tidak pernah mengucapkan kata maaf padanya, walaupun cowok itu sudah membuatnya kesal bahkan sedih sekalipun, apa mungkin tadi sebelum datang ke sini kepala Velo kejedot pintu pikirnya.
''Kenapa loe tiba tiba minta maaf sama gue?'' tanya Helena.
''Itu, karna gue gak nganterin loe pulang'' jawab Velo.
Helena langsung terdiam, sepertinya Velo minta maaf bukan tulus dari hatinya, melainkan karna Tante Diana yang menyuruhnya batin Helen.
''Oh, gak papa kok, lagian gue sendiri yang mutusin pulang naik taksi'' tukas Helen.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!