Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Kisah ini bermula dari zaman kami masih satu sekolah. Aku adalah kakak kelas yang terpaut dua tahun dari Clara Adelin.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Teng... teng... teng...
Bunyi lonceng tanda masuk sudah berbunyi.
"Cepat! Lima menit lagi gerbang akan saya tutup!" teriakku.
Ini adalah aku di masa sekolah. Jabatanku waktu itu adalah Ketua OSIS.
"Tunggu, Kak! Terima kasih, Pak," teriak seorang gadis cantik yang tak lain adalah Clara.
Namun, karena dia sudah terlambat, aku terpaksa menutup gerbang dan menghukum atau mengusir siswa-siswi yang datang terlambat hari itu.
"Kalian sudah terlambat. Kalian terlambat lima menit," kataku dengan nada serius dan tegas.
Lalu, pandanganku tertuju pada Clara yang hampir setiap hari terlambat.
"Nama kamu Clara, kan?" tanyaku, masih dengan wajah serius.
"Iya, Kak," jawab Clara dengan wajah menunduk.
"Kamu saya lihat hampir setiap hari terlambat. Padahal kamu diantar pakai mobil. Rumah kamu di mana?"
Lalu Clara menyebutkan salah satu daerah, dan daerah tempat dia tinggal ternyata sama dengan tempat tinggalku.
"Padahal kita satu daerah, loh. Kamu juga berangkat pakai mobil, tapi masih terlambat," tegasku. "Sekarang kalian semua pilih: pulang, atau membersihkan WC sekolah?"
Semuanya memilih untuk membersihkan WC. Aku pun mengantar mereka ke area toilet dan membaginya menjadi dua kelompok. Pria membersihkan WC pria, dan wanita membersihkan WC wanita.
Hari itu menjadi hari sial untuk Clara Adelin, karena hanya dia satu-satunya murid wanita yang terlambat.
"Kak, enggak mungkin, kan, kalau aku bersihin ini sendiri?" kata Clara dengan nada bicara yang sedikit dibuat memelas.
"Kenapa tidak mungkin? Yang membuat pelanggaran hanya kamu saja wanitanya. Kan tidak mungkin saya harus memanggil murid lain untuk masuk ke WC wanita."
"Tapi, Kak..."
"Tidak ada tapi-tapi, Nona. Berani berbuat salah, harus berani juga bertanggung jawab."
Hari itu aku bisa tahu kalau Clara ini memang anak orang kaya. Dilihat dari caranya memegang sapu saja sudah tidak benar.
"Kamu ini... tidak pernah kerja, ya?" tanyaku dengan nada sedikit heran.
"Iya, Kak. Aku enggak pernah kerja karena di rumah kami selalu dilayani oleh pelayan," jawab Clara tanpa rasa malu.
"Pantas saja. Dasar anak manja."
Ternyata Clara tidak terima dikatai manja.
"Hiii... aku bukan manja! Itu karena orang tuaku kaya, makanya di rumah disediakan pelayan oleh orang tuaku!" jawabnya dengan nada meninggi.
Dia lalu membanting sapu yang dipegangnya dan pergi dengan wajah yang sudah hampir menangis.
"Hey! Pekerjaan kamu belum selesai, Anak Manja!" panggilku.
Namun, dia tidak peduli dan tetap pergi meninggalkanku yang hanya bisa terdiam.
"Baiklah, hukumannya nanti saja kalau sudah pulang sekolah," gumamku dalam hati.
Sesuai rencana, tepat ketika bel pulang sekolah berdentang nyaring, aku sudah berdiri tegak di depan kelas Clara dengan menyilangkan kedua tangan di dada. Beberapa siswa yang keluar kelas menatapku segan—maklum, jabatan Ketua OSIS buat mereka cukup disegani.
Tak lama kemudian, sosok yang kutunggu muncul. Clara keluar sambil menggendong tasnya dengan wajah lesu. Begitu matanya menatapku, langkahnya langsung terhenti. Wajahnya yang tadinya cemberut makin bertambah sebal.
"Ikut aku. Hukuman mu tadi pagi belum selesai, Nona Manja," kataku santai tapi tetap tegas.
"Kak Arkan! Aku kan udah bilang aku bukan anak manja! Lagian tadi baju aku hampir kotor cuma gara-gara pegang sapu itu!" protesnya dengan nada melengking, bibirnya cemberut maksimal.
"Alasan. Di sekolah ini enggak ada anak emas atau anak kaya, semuanya sama. Ayo, selesaikan atau nama kamu saya catat di buku pelanggaran dan dipanggil orang tua," ancamku.
Mendengar kata 'orang tua', raut wajah Clara langsung berubah panik. Dengan terpaksa dan langkah kaki yang sengaja dihentakkan ke lantai, dia mengikutiku kembali ke area toilet belakang.
Selama hampir 30 menit, aku memperhatikannya dari luar toilet. Harus kuakui, melihat anak kaya raya yang biasanya tinggal terima beres ini kesulitan meremas kain pel dan bingung cara menyiram lantai sampai bersih adalah pemandangan yang cukup menggelikan. Tapi di sisi lain, ada sedikit rasa iba melihat tangannya yang halus harus berurusan dengan ember dan sabun pembersih.
"Udah selesai kan, Kak?" tanya Clara akhirnya, keluar sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah dengan napas terengah-engah. Rambutnya sedikit acak-acakan, sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang selalu rapi di pagi hari.
"Ya, lumayan. Besok-besok jangan terlambat lagi, Clara. Kurangi kebiasaan begadang atau malas-malasan kamu," jawabku sambil menyodorkan saputangan dari saku seragamku. "Pakai ini buat ngeringkan tangan kamu."
Clara menatap saputangan polos milikku sebentar, lalu mengambilnya dengan canggung. "Makasih..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar, sebelum berpaling karena gengsi.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam meluncur pelan dan berhenti di dekat area parkir depan sekolah. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas turun dari pintu belakang. Aura kepemimpinan dan kewibawaannya terasa begitu kuat.
"Clara? Kenapa kamu baru keluar? Dan kenapa baju kamu agak basah begitu?" suara berat pria itu terdengar.
"Papi..." panggil Clara dengan nada mengadu.
Ternyata pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Pak Frans menatapku penuh selidik, sementara aku tetap berdiri tegak menyapa mereka dengan sopan.
Keesokan harinya, Clara Adelin kembali terlambat.
"Yang terlambat hari ini, hukuman kalian bukan lagi membersihkan WC, melainkan membersihkan lingkungan sekolah!" seruku di depan gerbang.
Pandanganku kembali tertuju pada orang yang sama. Clara, nona cantik nan manja itu, hari ini terlambat lagi. Tapi kali ini dia tidak sendiri; dia datang bersama seorang sahabatnya.
Aku tahu gadis itu sahabatnya karena kemarin, saat Clara menyelesaikan hukuman, dia setia menunggu sampai mereka pulang bersama menggunakan mobil pribadi.
"Kamu hebat ya, Anak Manja. Karena takut mengerjakan hukuman sendiri, kamu ajak sahabat kamu buat terlambat bareng?" kataku dengan nada sindiran yang sengaja ingin memancing kekesalan Clara.
"Enggak kok, Kak! Aku bukan diajak Clara buat terlambat," potong sahabat Clara dengan polos. "Aku emang terlambat bangun tadi. Soalnya semalam aku begadang diajak nonton drakor sama Clara."
Mendengar jawaban jujur dari sahabatnya, wajah Clara langsung memerah menahan malu.
"Iya, Kak... Kami janji deh besok enggak bakal terlambat lagi. Besok kami pasti datang lebih pagi! Iya kan, Diana?" seru Clara panik.
"Iya, Kak! Kami janji!" tambah Diana mantap.
Aku hanya tersenyum sinis. "Janji kalian itu palsu. Lagipula aku enggak peduli kalian mau datang cepat atau tidak. Tapi kalau besok kalian terlambat lagi, siap-siap saja lari keliling lapangan sepuluh kali. Nanti keringatan, terus bau... Hiiy."
"Tapi untuk hukuman membersihkan lingkungan sekolah hari ini tetap berlaku. Sini, kalian berdua ikut saya!"
Aku membawa mereka ke area yang penuh dengan sampah. Dari raut wajah keduanya, jelas terlihat rasa jijik saat harus memegang sampah-sampah itu. Tapi aku tidak peduli.
Hukuman tetaplah hukuman, harus dilaksanakan agar ada efek jera.
Baru lima menit mereka memegang alat kebersihan, bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring.
"Yes! Hore!"
Dua gadis itu berteriak kegirangan. Tanpa pikir panjang, mereka langsung melempar plastik sampah yang dipegang begitu saja, lalu melangkah pergi tanpa pamit padaku. Aku yang melihat kelakuan mereka hanya bisa mengelus dada. Ingin marah, tapi ya sudahlah.
Setelah membuang sisa sampah pada tempatnya, aku menuju area tempat cuci tangan. Saat tiba di sana, aku dibuat geleng-geleng kepala. Clara dan Diana ternyata masih berada di sana, asyik menghabiskan hampir satu botol sabun cuci tangan hanya untuk menghilangkan kuman di tangan mereka.
Aku berjalan santai ke sebelah mereka untuk mencuci tangan. Sembari mematikan kran air, aku bergumam pelan namun cukup keras untuk terdengar, "Dasar anak manja."
Tanpa memedulikan apakah Clara akan marah atau membanting barang lagi, aku langsung balik kanan dan masuk ke dalam kelas.
Sore harinya, bel pulang sekolah berbunyi. Di area parkir depan, aku kembali bertemu dengan Clara dan Diana yang sedang menunggu jemputan supir pribadi mereka masing-masing.
"Kak Arkan! Besok aku janji enggak bakal terlambat lagi! Aku janji jam enam pagi aku sudah ada di sekolah!" seru Clara penuh percaya diri.
Diana tak mau kalah mengangguk cepat. "Iya, Kak! Kami berdua janji besok datang lebih pagi. Bahkan sebelum Kakak datang, kami pasti sudah ada di sini!"
Mendengar janji yang diucapkan dengan sangat yakin oleh dua gadis itu, aku berusaha menahan tawa yang hampir meledak.
"Oke, aku pegang janji kalian," jawabku singkat sambil mengangguk formal.
Satu per satu mobil mewah mereka melaju pergi meninggalkan area sekolah. Begitu kedua mobil itu menghilang di belokan jalan, tawa yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah juga.
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus-menerus tertawa sendiri di atas sepeda motor.
"Kenapa ya kebanyakan orang kaya itu polos atau agak bodoh?" gumamku sambil tertawa. "Apa mereka benar-benar lupa kalau besok itu hari Minggu dan sekolah libur?"
Aku menepuk jidatku sendiri, membayangkan apa yang akan terjadi besok.
Namun, tawa pelanku perlahan meredup saat mataku menatap deru angin yang menerpa setang motor tua ini. Motor butut peninggalan almarhum bapakku. Bapak sudah lama meninggal, sementara ibuku... aku bahkan tidak tahu dia ada di mana sekarang. Memori tentang ibu sangat kabur di benakku, hanya tersisa sebuah foto kusam dengan gambar yang sudah tidak terlalu jelas. Kenyataan itu selalu berhasil menarikku kembali dari tawa gembira menjadi anak laki-laki yang harus bertahan hidup sendirian.
Keesokan harinya, Minggu pagi pukul 08.00 WITA.
Clara dan Diana benar-benar menepati janji mereka. Keduanya sudah berdiri rapi di depan gerbang sekolah dengan seragam lengkap. Namun, suasana di sekitar sekolah terasa sangat sepi dan hening. Pintu gerbang besi yang megah itu masih terkunci rapat dengan gembok besar.
"Di mana sih semua orang? Kok enggak ada yang datang ke sekolah?" tanya Clara sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah, merasa heran.
"Iya, Ra... Kenapa orang-orang pada belum muncul ya?
Padahal kan sudah jam dela..."
Kalimat Diana terhenti seketika. Matanya menyipit menatap layar ponsel di genggamannya, membaca nama hari yang tertera di sana.
"Clara..." panggil Diana dengan suara bergetar. "Pantas saja tidak ada orang yang datang."
"Kenapa, Di?"
"Coba kamu lihat hari ini... hari apa?"
Clara merebut ponsel Diana dan melihat deretan angka serta nama hari di layar. Seketika, raut wajah cantiknya berubah merah padam. Matanya melotot tajam penuh kekesalan.
"KETUA OSIS BANGSAT!" umpat Clara histeris, suaranya menggema di depan gerbang sekolah yang sepi.
"Pantas saja kemarin dia santai banget dengar janji kita! Dia sengaja mau ngerjain kita, Di!"
Napas Clara naik turun menahan emosi. Di pagi hari Minggu yang cerah itu, dendam dan rasa benci Clara Adelin terhadap sosok Ketua OSIS bernama Arkan Jaya meroket naik mencapai puncaknya.
Senin pagi kembali menyapa. Aku menjalankan rutinitasku seperti biasa sebagai Ketua OSIS yang disiplin dan tegas. Berdiri tegak di depan gerbang utama, mataku mengawasi setiap siswa yang mulai berdatangan.
Namun, fokusku mendadak teralih oleh sebuah pemandangan di persimpangan jalan tak jauh dari gerbang. Tampak seorang preman lokal bertubuh gempal sedang memojokkan seorang siswi sekolah kami. Tangan preman itu memaksa meminta uang.
Pak Sumanto, sekuriti sekolah yang juga sahabat almarhum bapakku, saat itu sedang patroli mengecek area belakang gedung.
Melihat siswi berseragam sama denganku dipalak secara terang-terangan, naluriku langsung bergerak. Aku melangkah cepat menghampiri mereka.
"Bro, kamu apain teman saya?" tanyaku santai tapi menekan.
Tentu saja, pertanyaanku tidak disambut ramah. Mana ada
preman yang senang aksinya diganggu?
"Heh, bocah! Mending kamu enggak usah ikut campur. Masuk sana, sekolah yang benar!" gertak preman itu dengan nada tinggi, mencoba mengintimidasiku.
"Wah, tidak bisa begitu, Kawan," balasku penuh percaya diri.
"Dia teman sekolahku. Lagipula, tindakanmu ini jelas salah."
Merasa dilecehkan oleh anak sekolah yang sok jadi pahlawan kepagian, emosi si preman mendadak puncak. Dia melayangkan satu pukulan keras mengarah tepat ke wajahku. Namun, gerakan kasarnya terlalu mudah dibaca.
Sret!
Dengan sigap aku mengelak, memukul tangannya, lalu memutar lengan otot itu ke belakang hingga mengunci pergerakannya sepenuhnya. Sekali dorongan tegas, aku membuatnya berlutut tak berdaya di atas aspal.
"Eits, enggak kena!" ledekku.
Aku merogoh saku jaketnya, mengambil kembali uang tunai milik siswi tadi, lalu mengembalikannya pada siswi yang ketakutan itu.
"Nih, uangmu. Langsung masuk ke dalam ya," bisikku pada siswi tersebut, yang langsung berlari cepat ke dalam sekolah.
Aku beralih menatap tajam ke arah preman yang masih teringkus. "Hei, Bodoh. Dengarkan baik-baik. Jangan pernah muncul lagi di sekitar area sekolah ini. Kalau sampai aku lihat kamu memalak lagi di depan mataku, tanggung sendiri akibatnya. Pergi kamu!"
Aku melepaskan cengkeramanku dan menendang pelan pantatnya. Preman itu terbirit-birit lari sambil mengumpat tak jelas.
Tak lama setelah itu, langkah terburu-buru Pak Sumanto terdengar mendekat.
"Dek Arkan! Ada apa, Dek? Ada yang terluka?" tanya Pak Sumanto dengan napas terengah-engah, wajahnya cemas. Beliau adalah sosok paman bagiku, sahabat karib almarhum Bapak semasa hidup dulu yang selalu memperhatikanku di sekolah.
"Aman, Pak Sumanto. Cuma preman lokal tadi, sudah Arkan suruh pergi," jawabku sambil tersenyum menenangkan.
"Aduh, kamu ini nekat betul, Dek... Tapi bagus, yang penting kamu selamat," puji Pak Sumanto sambil menepuk pundakku penuh rasa bangga.
Saat aku hendak berjalan kembali ke gerbang utama bersama Pak Sumanto, langkahku mendadak terhenti. Di sudut gerbang, berdiri dua gadis cantik yang menatapku tajam.
Bukan tatapan kagum karena melihat aksi pahlawanku barusan, melainkan tatapan penuh dendam. Clara dan Diana berdiri di sana, mata mereka memelotot tajam bak mata
Sharingan tanpa tomoe. Aura kebencian memancar kuat dari wajah manis keduanya.
Aku tahu betul alasan di balik tatapan 'berdarah' itu. Kejadian kemarin Minggu. Sebenarnya itu bukan salahku, melainkan murni karena kebodohan mereka sendiri yang lupa kalender.
Dua gadis itu berjalan melangkah cepat menghampiriku dengan wajah bersungut-sungut.
"Kak Arkan!" pekik Clara dengan nada melengking penuh kekesalan. "Apa maksud Kakak kemarin enggak kasih tahu kalau kemarin itu hari Minggu?! Dan kenapa malah setuju pas kami bilang mau datang pagi-pagi?!"
Diana ikut menimpalinya dengan wajah tak kalah cemberut.
"Iya! Pasti Kak Arkan sengaja mau mengerjain kami, kan? Kakak itu memang Ketua OSIS paling jahat dan tidak berperikemanusiaan!"
Aku hanya bisa menyilangkan dada dan menghela napas panjang melihat tingkah absurd dua anak kaya ini.
"Hei, dua gadis bodoh," panggilku datar. "Yang salah itu kalian, kenapa malah menyalahkan aku? Aku enggak pernah memaksa kalian datang kemarin. Kalian sendiri yang heboh buat janji. Aku cuma bilang 'aku pegang janji kalian'. Mana aku tahu kalau kalian ternyata lupa hari?"
Mendengar kalimat pembelaan dari bibirku—yang memang kenyataannya logis dan tak bisa dibantah—wajah Clara dan Diana langsung memerah padam. Mereka kehabisan kata-kata.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, keduanya berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkanku. Namun, sebelum benar-benar jauh, tangan kanan mereka berdua terangkat ke udara, melayangkan acungan jari tengah secara bersamaan ke arahku.
Aku hanya bisa mengocok perut menyaksikan tingkah konyol mereka.
"Dasar anak manja bodoh..." gumamku dalam hati sambil menggelengkan kepala.
Teng... teng... teng...
Lonceng tanda masuk sekolah berbunyi nyaring. Hari baru di sekolah resmi dimulai, dan aku melangkah masuk ke kelas dengan senyuman puas.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!