"Nona, jika Anda mau menangis meraung-raung di depan kediaman Duke hari ini, tolong beri tahu saya lebih awal. Saya perlu waktu untuk menyumpal telinga saya dengan kapas."
Suara ketukan cangkir porselen yang diletakkan secara kasar di atas nakas terdengar sangat nyaring. Bunyi itu terasa seperti hantaman godam di kepala Geneviève.
Ia membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, bengkak, dan lengket. Saat pandangannya mulai fokus, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berukir emas meliuk-liuk khas gaya barok. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba memahami motif malaikat kecil di atas sana yang sedang meniup trompet. Ini jelas bukan plafon apartemen sewaannya yang bocor di ibu kota.
Pandangannya perlahan turun, beralih pada sosok yang berdiri di samping ranjang. Seorang pelayan wanita berseragam hitam putih yang sedikit aneh. Bagian lengannya sengaja dibuat lebih longgar dari seragam pelayan pada umumnya. Pelayan itu sedang melipat tangan di depan dada, menatap Geneviève dengan sebelah alis terangkat tinggi. Tatapannya penuh penghakiman, seolah sedang melihat seekor serangga yang berguling-guling di lumpur.
Geneviève berusaha duduk. Ia menahan erangan saat kepalanya berdenyut hebat. Pada detik itulah, sebuah memori yang bukan miliknya menghantam otaknya dengan kekuatan badai. Rentetan gambar bergerak cepat. Sebuah kekaisaran bernama Valerand. Ibu kota Lumière. Jalanan berbatu yang dipenuhi kereta kuda. Pesta dansa yang bising. Dan seorang pria berwajah dingin dengan kemeja kerah tinggi bernama Lucien de Vaudémont.
Lalu, kepingan ingatan memalukan tentang seorang wanita bodoh yang menangis semalaman karena pria itu ikut bermunculan. Namanya Geneviève de Montmirail. Putri seorang Duke terpandang yang rela membuang harga dirinya hanya demi mengejar punggung seorang pria yang tidak pernah melihatnya.
Geneviève menelan ludah. Ia tidak sedang bermimpi. Ia, seorang pekerja kantoran gila kerja yang meninggal dunia karena serangan jantung akibat lembur, kini terbangun di dalam novel romansa tragis yang pernah ia baca sebelum tidur. Dan dari semua karakter yang ada, ia harus masuk ke tubuh sang penjahat wanita. Karakter obsesif yang ditakdirkan mati dipenggal karena berani mengusik cinta suci antara Lucien dan sang protagonis asli, Putri Mahkota Camille.
"Berapa banyak air mata yang mau Anda peras hari ini, Nona?" Pelayan itu bertanya lagi. Nada suaranya datar namun tajam menyengat. "Kemarin Anda sudah membanjiri kereta kuda dengan tangisan saat Tuan Duke Lucien menolak menerima kue buatan Anda. Kue yang, jujur saja, bentuknya lebih mirip batu bata yang dipanggang. Kuda penarik kereta kita saja tidak mau meliriknya."
Geneviève menatap pelayan itu lekat-lekat. Namanya Odette. Ingatan tubuh ini mengonfirmasinya. Odette adalah pelayan dari kalangan rakyat jelata yang mulutnya lebih tajam dari pisau jagal. Satu-satunya orang yang tidak pernah menjaga sopan santun palsu di depannya.
Rasa frustrasi langsung mendidih di dada Geneviève. Bukan karena ucapan kasar Odette, melainkan karena kebenaran dari ucapan itu sendiri. Ingatan tentang kelakuan tubuh aslinya ini benar-benar membuat harga dirinya sebagai wanita karir yang rasional meronta-ronta. Menangis di kereta? Membuat kue berbentuk aneh? Mempermalukan nama keluarga Duke Montmirail di depan umum demi seorang pria fiksi? Benar-benar sangat menyedihkan.
"Beri aku tehnya, Odette," ucap Geneviève pelan. Suaranya terdengar serak, parau karena wanita bodoh ini terlalu banyak menangis tadi malam.
Odette mendengus pelan. Ia mengambil cangkir dari nakas dan menyerahkannya dengan gerakan sedikit kasar. "Saya sudah menambahkan lima sendok gula seperti biasa. Sesuai selera Anda yang kekanak-kanakan. Mungkin bisa sedikit mengobati rasa pahit karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Walaupun saya sangat ragu, gula sebanyak apa pun tidak akan bisa menyembuhkan kebodohan."
Geneviève tidak membalas sindiran itu. Kepalanya masih berputar merangkai semua kepingan ingatan dan plot novel yang ia ketahui. Ia meniup permukaan teh yang mengepul, lalu menyesapnya sedikit.
Sesaat kemudian, ia terbatuk hebat. Matanya melotot tajam. Rasanya seperti menelan cairan tebu pekat yang direbus bersama karamel. Sangat manis sampai membuat tenggorokannya gatal dan giginya terasa linu.
"Ini bukan teh," protes Geneviève sambil menjauhkan cangkir itu dengan ekspresi sangat jijik. Ia meletakkannya kembali ke atas nakas dengan bunyi berdenting keras. "Ini sirup gula yang diberi warna. Singkirkan benda ini. Buatkan aku teh hitam pekat. Tanpa gula. Tanpa susu. Dan tolong, pastikan airnya benar-benar mendidih."
Odette terdiam sebentar. Tangannya yang bersedekap perlahan turun. Matanya memicing, menatap majikannya dari ujung kepala yang berantakan sampai ke ujung kaki yang menyembul dari balik selimut sutra. "Apakah penolakan dari keluarga Vaudémont kemarin akhirnya membuat lidah Anda rusak, Nona?"
"Tidak," jawab Geneviève tegas. Ia menyibakkan selimut sutra tebal yang menutupi tubuhnya. Udara dingin kamar segera menyentuh kulitnya, namun ia mengabaikannya. Ia turun dari ranjang. Kakinya menapak di atas karpet Persia yang tebal dan lembut. "Penolakan kemarin akhirnya membuat otakku kembali berfungsi. Aku sudah selesai mengonsumsi racun manis ini."
Odette menatapnya dengan raut wajah tidak percaya, namun tangannya tetap bergerak lincah. Pelayan itu mulai memunguti tisu dan sapu tangan basah yang berserakan di atas karpet. Bukti nyata dari drama tangisan semalaman yang memalukan.
"Oh, sungguh sebuah keajaiban dari Dewi Cahaya," sindir Odette sambil melempar sapu tangan basah itu ke dalam keranjang cucian. "Jadi, apakah ini artinya Anda tidak akan mengirimkan patung lilin berbentuk hati ke kediaman Tuan Duke siang ini?"
Langkah Geneviève terhenti mendadak. "Patung lilin?" Ia memijat pelipisnya dengan kuat. Ingatan memalukan lainnya kembali muncul menghantam kesadarannya. Rasa malu yang luar biasa hebat menyerang batinnya. Apakah wanita ini benar-benar tidak punya sisa harga diri sedikit pun? "Tolong katakan padaku kalau aku belum benar-benar memesan patung konyol itu, Odette."
"Anda sudah memesannya tiga hari yang lalu, Nona. Harganya setara dengan gaji saya selama lima tahun. Pemahatnya bahkan bertanya apakah ia harus menambahkan ukiran puisi cinta Anda yang sangat, luar biasa membingungkan." Odette tersenyum miring. Senyum yang sangat menyebalkan untuk dilihat pagi-pagi begini. "Puisi yang berbunyi, Oh Lucien, cintaku padamu sepanas tungku besi, membakar kayu bakar di tengah badai salju."
Geneviève memejamkan mata rapat-rapat. Ia menarik napas panjang. Kepalanya makin berdenyut hebat hingga rasanya ingin pecah. Ia benar-benar ingin mengubur dirinya sendiri di halaman belakang rumah kaca sekarang juga.
"Batalkan pesanan itu," perintah Geneviève dengan nada dingin. Ia berbalik dan menatap Odette tajam. "Sekarang juga. Tarik kembali uang muka yang sudah dibayarkan. Jika pemahatnya menolak, suruh ksatria keluarga kita untuk memberinya sedikit teguran ramah. Gunakan alasan apa saja. Katakan padanya seleraku berubah mendadak."
Odette berhenti memungut barang. Ia berdiri tegak dan menatap Geneviève dengan tatapan menyelidik yang intens. "Anda serius, Nona? Kemarin sore Anda mengancam akan menelan sebotol racun tikus jika patung itu tidak selesai tepat waktu."
"Kemarin aku sedang sakit jiwa. Hari ini aku sudah sembuh," jawab Geneviève santai.
Ia berjalan menuju meja rias yang terbuat dari kayu mahoni berukir rumit. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak. Wajah yang terpantul di sana sangat luar biasa cantik. Memiliki aura aristokrat yang sangat kental. Rahang yang tegas, hidung bangir, dan bibir merah alami. Namun, sepasang matanya bengkak mengerikan. Rambutnya yang berwarna gelap berantakan seperti sarang burung gagak. Ia tampak persis seperti wanita gila yang kurang tidur.
Mengapa wanita secantik ini, dengan status sosial yang begitu tinggi sebagai putri Duke, harus mengemis cinta pada seorang pria yang sudah jelas tidak memedulikannya?
Memori Geneviève tentang alur novel mengingatkannya pada satu fakta pahit. Di cerita aslinya, pria itu memang tidak pernah menatapnya. Lucien adalah pemeran utama pria yang sangat dingin dan kaku. Pada akhirnya pria itu ditakdirkan jatuh ke pelukan Putri Mahkota Camille, sang protagonis wanita yang suci bak malaikat. Sementara Geneviève hanyalah batu sandungan. Seorang penjahat menyedihkan yang akan memfitnah Camille, lalu berakhir mati di tiang eksekusi karena cemburu buta.
Bodoh. Sangat bodoh. Di kehidupan sebelumnya, Geneviève banting tulang siang dan malam hanya untuk membayar sewa apartemen. Sekarang ia memiliki kekayaan, kecantikan, dan kekuasaan keluarga Montmirail, lalu ia harus membuangnya demi seorang pria yang membencinya?
Tidak akan pernah. Silakan saja Lucien beromantis ria dengan Putri Mahkota. Geneviève tidak peduli. Ia hanya ingin bertahan hidup, menghasilkan banyak uang, dan menikmati kehidupan mewahnya dengan tenang.
"Odette," panggil Geneviève. Tangannya meraih sisir perak di atas meja dan mulai merapikan rambutnya yang kusut. "Berapa banyak uang yang sudah aku buang untuk mengejar Duke Vaudémont bulan ini saja?"
Odette mendengus keras. Ia mulai menghitung dengan merentangkan jarinya satu per satu. "Mari kita lihat. Gaun baru bertatahkan mutiara untuk pesta minum teh musim panas, padahal Anda bahkan tidak diundang secara resmi. Tiga setel perhiasan berlian merah yang Anda paksa kirimkan sebagai hadiah ulang tahunnya, yang kemudian dikembalikan utuh keesokan harinya. Menyewa kelompok musisi jalanan untuk bernyanyi di bawah jendela kamarnya tengah malam, yang berujung pada penangkapan mereka oleh penjaga kota karena dianggap mengganggu ketertiban. Anda harus membayar uang tebusan dan suap untuk mereka semua."
Geneviève menghela napas panjang. Sisir di tangannya berhenti bergerak. "Ada lagi?"
"Tentu saja masih banyak, Nona," lanjut Odette tanpa ampun. "Belum lagi biaya tutup mulut yang sangat mahal untuk para wartawan koran harian ibu kota, agar mereka tidak menulis kelakuan memalukan Anda di halaman depan. Oh, dan Anda juga menyewa kereta kuda berlapis emas hanya untuk mondar-mandir sepuluh kali di depan Istana Soleil berharap Tuan Duke melihat Anda dari jendela markas ksatria."
"Cukup, berhenti di situ." Geneviève mengangkat sebelah tangannya. Ia benar-benar tidak sanggup mendengar rincian memalukan lebih lanjut. Rasa frustrasi memuncak di dadanya. Dadanya sesak bukan karena patah hati, melainkan karena menyadari betapa hancurnya pengelolaan keuangan wanita ini. "Katakan padaku, berapa total estimasi pengeluaranku bulan ini dalam angka yang pasti?"
"Kira-kira dua ratus ribu koin emas, Nona." Odette menjawab tanpa beban sedikit pun, sambil menepuk-nepuk debu dari celemek putihnya.
Dua ratus ribu koin emas.
Geneviève menahan napas. Tangannya mencengkeram tepi meja rias dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Ingatan otaknya otomatis menerjemahkan nilai uang tersebut. Dengan dua ratus ribu koin emas, ia bisa membeli separuh jalan utama kawasan komersial di ibu kota Lumière. Ia bisa membuka jalur perdagangan laut baru untuk wilayah Montmirail. Ia bisa berinvestasi di tambang permata dan melipatgandakan asetnya dalam setahun.
Dan pemilik asli tubuh ini menggunakan uang sebanyak itu hanya untuk menyewa musisi jalanan dan membeli gaun norak? Ini adalah kejahatan finansial tingkat tinggi.
Geneviève membalikkan badannya. Ia menatap pelayannya dengan ekspresi sangat serius, jauh lebih serius daripada yang pernah dilihat Odette seumur hidupnya.
"Odette. Aku ingin kau pergi ke ruang kerja ayahku sekarang juga. Temui kepala pelayan atau akuntan keluarga kita. Bawakan padaku buku besar keuangan wilayah Montmirail untuk tiga tahun terakhir. Beserta rincian laporan pengeluaranku secara pribadi dan buku tabungan pribadiku."
Odette mengerjap. Mulutnya setengah terbuka. Ini adalah pertama kalinya Geneviève melihat pelayan berlidah tajam itu benar-benar kehilangan kata-kata. Mata Odette membulat sempurna.
"Buku besar keuangan?" Odette mengulangi kata-kata itu perlahan, seolah sedang mengeja bahasa kuno yang sudah lama punah. "Nona, apakah Anda yakin tidak sedang membentur sesuatu yang keras saat turun dari kereta kemarin sore? Atau mungkin Anda salah memakan jamur liar di taman? Anda biasanya mengeluh sakit perut jika melihat deretan angka yang lebih panjang dari jumlah jari tangan Anda."
"Bawakan saja, Odette. Aku butuh bacaan ringan untuk menemani teh hitam pekat yang akan kau buatkan nanti," ucap Geneviève tenang, nadanya datar dan sama sekali tidak menerima penolakan.
Odette masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya memicing curiga, meneliti setiap inci wajah majikannya untuk mencari tanda-tanda kebohongan. "Anda tidak sedang merencanakan sesuatu yang ilegal, kan? Anda tidak berencana menyewa kelompok tentara bayaran elit untuk menculik Tuan Duke malam ini, kan? Karena jika itu rencana Anda, saya menolak ikut campur. Menghadapi Ksatria Gaspard yang gila aturan itu sangat merepotkan. Pria itu sekaku pedangnya sendiri, saya tidak mau berurusan dengannya dan berakhir di penjara istana."
Mendengar nama Gaspard disebut, Geneviève hanya mengingat deskripsi singkat dari novel. Ksatria bayangan Lucien. Pria yang sangat setia dan selalu mengawal Duke itu ke mana-mana.
"Tidak ada penculikan. Tidak ada musisi jalanan. Dan pastinya tidak ada lagi drama memalukan di depan kediaman Vaudémont," tegas Geneviève. Ia berjalan meninggalkan meja rias, melangkah pasti menuju ruangan kecil di sudut kamar yang berfungsi sebagai lemari pakaiannya.
"Lalu apa arti semua ini, Nona? Kenapa tiba-tiba Anda peduli pada buku keuangan keluarga?" tanya Odette, masih belum melangkah pergi untuk mengambil pesanan teh.
"Aku telah menyadari sesuatu yang sangat penting pagi ini, Odette," ucap Geneviève sambil mendorong dua pintu kayu berukir besar yang menjadi pintu lemarinya.
"Bahwa cinta sejati tidak bisa dipaksakan dengan koin emas?" tebak Odette dengan nada malas, bersiap mendengar omong kosong puitis lainnya.
"Bukan," bantah Geneviève lugas. Pintu lemari terbuka lebar, memperlihatkan jajaran pakaian yang sangat padat dan menyilaukan mata. "Aku sadar bahwa menangisi pria yang tidak pernah mau melihatku adalah perbuatan paling tidak menguntungkan dalam sejarah peradaban manusia. Itu membuang-buang waktuku, menguras tenagaku, dan yang paling tidak bisa kumaafkan adalah, kelakuan itu menghabiskan uangku dengan sia-sia."
Keheningan seketika memenuhi kamar mewah itu selama beberapa detik. Hanya terdengar suara perapian yang bergemeretak pelan memakan kayu bakar. Lalu, segaris senyum tipis, sangat tipis sampai hampir tidak terlihat, perlahan muncul di wajah Odette.
"Pencerahan yang sangat brilian, Nona," puji Odette datar. "Walaupun agak terlambat lima tahun, tapi jauh lebih baik daripada Anda harus mati tersedak rasa penasaran karena cinta."
Geneviève mengabaikan sindiran itu. Perhatiannya kini sepenuhnya tersita oleh isi lemarinya. Matanya seakan diserang oleh lautan warna neon yang menyakitkan penglihatan. Gaun merah menyala yang sangat mencolok mata. Gaun merah muda terang dengan renda tebal yang bertumpuk-tumpuk seperti kue tart. Gaun ungu pekat dengan pita besar yang jumlahnya sangat tidak masuk akal. Semua pakaian ini dirancang dengan satu tujuan memalukan, yaitu untuk menarik perhatian Lucien secara paksa dari kejauhan saat berada di keramaian pesta Istana Soleil.
Selera yang sangat norak. Sangat mengerikan.
Geneviève, yang di kehidupan sebelumnya selalu menghargai profesionalisme dan keanggunan, memiliki selera yang berbanding terbalik dengan pemilik asli tubuh ini. Ia menyukai warna-warna lembut, estetika berkelas, dan desain elegan yang tidak perlu berteriak untuk memancarkan aura. Pakaian-pakaian yang berjejer di depannya ini terlihat seperti properti rombongan sirkus keliling.
Tanpa ragu sedikit pun, tangannya terulur dan menarik paksa sebuah gaun dari gantungannya. Sebuah gaun berwarna merah darah berbahan sutra mengkilap, dengan potongan dada yang terlalu rendah dan aksen bulu burung unta raksasa di bagian pundaknya. Ini adalah gaun andalan kesayangan pemilik tubuh asli. Gaun tempur yang paling sering ia pakai untuk mencegat kereta Lucien di gerbang istana kekaisaran.
"Nona, astaga, itu gaun favorit Anda," tegur Odette, suaranya naik setengah oktaf saat melihat Geneviève menarik gaun itu dengan sangat kasar, sama sekali tidak peduli jahitannya akan robek. "Anda memesannya khusus dari Madam Yvette, penjahit paling mahal di ibu kota bulan lalu. Anda sendiri yang bilang gaun itu akan membuat Tuan Duke tidak bisa bernapas saat melihat Anda melangkah masuk."
"Oh, percayalah padaku Odette, gaun ini memang bisa membuat siapa pun berhenti bernapas di tempat. Karena desainnya mencederai retina mata dan menyumbat jalan napas karena bulu-bulu aneh ini," gumam Geneviève dengan nada meremehkan.
Ia berbalik dengan cepat. Dengan gaun merah darah menjuntai memprihatinkan di tangannya, ia berjalan mendekati perapian kamar. Sisa kayu bakar dari semalam masih menyala merah menyala, menciptakan hawa panas yang kontras dengan udara dingin pagi musim gugur di luar jendela.
Odette yang baru saja berniat berbalik untuk mengambil nampan teh, otomatis menoleh. Matanya membelalak lebar melihat arah langkah majikannya. Pelayan itu membeku di tempat.
"Nona? Apa yang mau Anda lakukan dengan gaun seharga dua ribu koin emas itu? Apakah Anda mau melelangnya? Saya tahu tempat pelelangan barang bekas di pasar gelap yang bayarannya bagus." Odette mencoba mencegah, naluri pelitnya bangkit melihat barang mahal diperlakukan semena-mena.
Geneviève tidak menjawab. Ia menatap gaun merah di tangannya dengan tatapan luar biasa dingin. Gaun ini adalah simbol kebodohannya di masa lalu. Simbol keterikatan pada pria fiksi yang tidak pantas, yang pada akhirnya akan menuntunnya pada tiang eksekusi. Geneviève sudah tidak peduli pada Lucien maupun alur cerita novel ini.
Dengan gerakan tenang dan tanpa sedikit pun keraguan di matanya, Geneviève mengayunkan tangannya dengan kuat. Ia melempar gaun sutra merah darah itu langsung ke tengah kobaran api perapian.
Api seketika menyambar bahan sutra mahal tersebut dengan ganas. Suara gemeretak terdengar sangat nyaring ketika material itu terbakar dengan cepat, mengeluarkan asap kelabu tebal yang langsung membumbung naik ke cerobong. Cahaya keemasan dari kobaran api memantul terang di mata Geneviève. Mata bengkaknya tidak lagi menyiratkan kesedihan seorang gadis malang, melainkan tekad yang tajam, sangat rasional, dan berbahaya.
Di belakangnya, terdengar suara dentingan perak yang memekakkan telinga.
Nampan perak yang berisi teko air, cangkir porselen, dan sisa teh manis terlepas begitu saja dari tangan Odette. Nampan itu jatuh berdebum kencang menghantam lantai. Teh lengket tumpah berantakan ke segala arah, menodai karpet Persia mahal yang bernilai tinggi.
Namun Odette sama sekali tidak memedulikan kekacauan di dekat kakinya. Mulut pelayan bermulut pedas itu terbuka lebar nyaris menyentuh lantai. Matanya terpaku ngeri pada kobaran api yang sedang asyik melahap gaun paling mahal di lemari keluarga Montmirail.
"Astaga Naga," bisik Odette dengan suara bergetar pelan. "Dia benar-benar sudah gila."
"Tujuh puluh ribu koin emas untuk kalung zamrud sebesar telur puyuh ini? Dan Anda membelinya hanya karena warnanya persis sama dengan warna mata Tuan Duke?"
Suara Odette melengking memecah kesunyian ruang kerja. Pelayan itu mengangkat sebuah kalung dengan bandul zamrud hijau tua yang dikelilingi berlian berukuran tidak wajar. Ia memegangnya tinggi-tinggi seolah sedang memamerkan barang bukti kejahatan di depan hakim persidangan.
Geneviève mengurut pangkal hidungnya perlahan. Kepalanya yang sudah berhenti berdenyut kini mulai terasa pening lagi. Ia duduk di balik meja kayu ek berukuran besar yang penuh dengan tumpukan buku besar bersampul kulit. Tumpukan dokumen keuangan wilayah Montmirail dan catatan pengeluaran pribadinya berserakan di mana-mana.
"Itu belum seberapa, Odette," jawab Geneviève dengan nada datar. Matanya tidak lepas dari deretan angka di buku kas yang terbuka di hadapannya. "Coba kau lihat kotak beludru merah di sebelah kiri kakimu."
Odette menunduk. Ia menendang pelan kotak itu hingga terbuka. Matanya langsung menyipit silau karena pantulan cahaya dari dalam sana. "Sebuah bros emas berbentuk kepala singa. Mulut singanya menggigit batu mirah delima. Dan tunggu sebentar. Kenapa di bagian belakangnya ada ukiran huruf L dan G yang diikat dengan pita?"
"L untuk Lucien. G untuk Geneviève. Wanita yang dulunya menempati ruang di kepalaku ini mengira itu adalah ide yang romantis," sahut Geneviève tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. Tangannya dengan lincah mencoret angka-angka pengeluaran menggunakan pena bulu. "Bros itu seharga empat puluh ribu koin emas. Jika kita mencairkan seluruh perhiasan norak di ruangan ini, kita bisa mengumpulkan setidaknya setengah juta koin emas dalam waktu seminggu."
Odette meletakkan kalung zamrud itu kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan. Tatapannya beralih pada majikannya. Ia menatap Geneviève dari ujung rambut yang kini disanggul rapi ke belakang hingga ke kerah gaun rumahan berwarna biru pucat yang sangat sederhana. Sama sekali tidak ada renda berlebihan. Sama sekali tidak ada warna neon yang mencederai mata.
"Nona, saya harus bertanya sekali lagi untuk memastikan kewarasan Anda," ucap Odette curiga. "Anda benar-benar akan menjual semua barang ini? Barang-barang yang Anda kumpulkan selama tiga tahun terakhir demi menarik perhatian Duke Vaudémont? Anda bahkan pernah menampar seorang penjaga toko perhiasan karena dia berani menjual bros singa itu kepada wanita lain."
"Aku akan menjual semuanya tanpa sisa," tegas Geneviève. Ia menutup buku besar di depannya dengan bunyi debuman keras. "Aku butuh modal segar. Menyimpan perhiasan dengan desain memalukan ini tidak akan menghasilkan bunga pinjaman. Mulai hari ini, aku akan membuka bisnis perhiasan. Sesuatu yang elegan. Sesuatu yang berkelas. Aku akan menamai tokonya Le C'eow. Semua perhiasan norak ini akan dilebur menjadi modal awal."
Mata Odette berbinar terang. Mendengar kata modal awal dan bisnis langsung menyentuh sisi materialistis di dalam hatinya. "Kalau begitu, saya kenal beberapa rentenir pasar gelap dan pandai besi yang bisa melebur emas ini tanpa banyak bertanya. Mereka tidak akan peduli pada ukiran huruf L dan G yang menggelikan itu."
"Bagus. Urus itu besok pagi." Geneviève menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa sedikit lega. Setidaknya rencana finansialnya mulai berjalan.
Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Pintu ruang kerja diketuk tiga kali dengan ketukan yang sangat teratur. Pierre, kepala pelayan keluarga Montmirail yang rambutnya sudah memutih, melangkah masuk dengan ekspresi tegang.
"Mohon ampun karena mengganggu Anda, Nona Muda," ucap Pierre seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Tetapi ada tamu yang tiba-tiba datang berkunjung. Mereka sedang menunggu di ruang tamu utama sekarang."
Geneviève mengernyit. "Aku tidak punya jadwal menerima tamu hari ini, Pierre. Siapa yang datang berkunjung di jam kerja seperti ini tanpa mengirim surat pemberitahuan lebih dulu? Sangat tidak sopan."
Pierre menelan ludah. Keringat dingin terlihat di pelipisnya. "Itu adalah Yang Mulia Putri Mahkota Camille de Chanteclair. Beliau datang dikawal langsung oleh Yang Mulia Duke Lucien de Vaudémont beserta ksatria pribadinya."
Hening turun menyelimuti ruangan itu dengan sangat cepat.
Geneviève menghentikan gerakan tangannya. Odette yang sedang menghitung jumlah kotak perhiasan langsung menjatuhkan bros singa ke lantai.
Kemarahan segera merambat di dada Geneviève. Ini adalah bentuk ketidaksopanan kelas atas di kalangan bangsawan Valerand. Datang tanpa pemberitahuan ke rumah seorang putri Duke adalah penghinaan terang-terangan. Terlebih lagi, Camille membawa Lucien bersamanya. Membawa pria yang kemarin baru saja mempermalukan Geneviève di depan umum. Ini bukan kunjungan persahabatan. Ini adalah pamer kekuasaan.
Di novel aslinya, Putri Mahkota Camille memang digambarkan memiliki sindrom penyelamat dunia. Ia suka memposisikan dirinya sebagai malaikat yang penuh belas kasih. Mengunjungi penjahat wanita yang sedang patah hati pasti akan membuat nama Camille semakin harum di kalangan sosialita ibu kota.
Benar-benar trik rendahan yang membuat mual.
"Nona," bisik Odette panik. Pelayan itu langsung melompat ke arah lemari pakaian darurat di sudut ruangan. "Apakah Anda butuh gaun yang baru? Saya masih bisa mencari gaun warna ungu terang yang kemarin belum sempat Anda bakar. Anda tidak boleh terlihat kalah dari Putri Mahkota. Kita harus merias wajah Anda agar lebih cerah. Tolong jangan menangis sekarang."
"Tutup lemarinya, Odette," perintah Geneviève tenang. Ia berdiri dari kursinya.
Odette menoleh dengan wajah bingung. "Tetapi Nona, Tuan Duke ada di bawah sana. Bersama wanita yang Anda benci setengah mati."
"Lalu kenapa?" Geneviève merapikan lipatan gaun rumahan berwarna biru pucatnya. "Ini adalah rumahku. Jika mereka tidak punya sopan santun untuk mengirim surat, aku juga tidak punya kewajiban untuk merias diri menyambut mereka. Mari kita temui tamu tidak diundang kita."
Geneviève melangkah keluar dari ruang kerja dengan dagu terangkat tinggi. Odette mengikuti di belakangnya sambil meremas celemeknya sendiri. Di dalam hati, Odette bersiap menghadapi badai air mata dan amukan histeris yang biasa terjadi jika majikannya melihat Lucien bersama wanita lain.
Mereka menuruni tangga marmer ganda yang melengkung indah di tengah rumah utama. Sepatu Geneviève tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat menyentuh lantai. Saat ia melangkah masuk ke ruang tamu utama, pemandangan di depannya terlihat persis seperti lukisan klasik yang membosankan.
Putri Mahkota Camille duduk di sofa tunggal berlapis beludru merah muda. Wanita itu terlihat sangat menawan. Gaunnya berwarna putih bersih dengan sulaman benang emas di sepanjang ujung roknya. Rambut pirangnya bergelombang sempurna memantulkan cahaya matahari dari jendela. Senyumnya terlihat sangat rapuh dan polos, persis seperti malaikat turun dari surga.
Dan berdiri tidak jauh darinya, kaku layaknya patung penjaga, adalah Lucien de Vaudémont.
Pria itu mengenakan kemeja berkerah tinggi khas bangsawan Prancis yang sangat pas di badan atletisnya, dibalut dengan rompi berwarna hitam pekat. Wajahnya sangat tampan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata hijau tuanya memancarkan aura dingin yang membekukan ruangan.
Di sudut ruangan dekat pintu, bersandar seorang pria berpakaian zirah kulit serba hitam. Gaspard. Ksatria bayangan Lucien itu menatap lurus ke depan, wajahnya sekaku batu bata. Odette langsung membuang muka saat tidak sengaja bersitatap dengan ksatria itu.
Geneviève tidak memedulikan aura dingin yang dibawa rombongan tamu tersebut. Ia berjalan mendekat dan melakukan gerakan salam hormat yang sangat standar. Tidak berlebihan, tidak juga kurang.
"Salam kepada Cahaya Kekaisaran, Yang Mulia Putri Mahkota. Dan salam untuk Anda, Tuan Duke," ucap Geneviève dengan nada suara yang sangat datar. Ia kemudian mengambil tempat duduk di sofa seberang tanpa menunggu dipersilakan. Lagipula, ini rumahnya sendiri.
Mata Lucien sedikit melebar. Pria itu menatap Geneviève dari atas ke bawah. Tidak ada gaun norak. Tidak ada riasan tebal. Tidak ada tatapan memuja dan air mata yang biasanya menggenang di mata wanita itu. Geneviève yang duduk di depannya saat ini terlihat seperti orang asing yang sangat elegan.
Senyum manis di wajah Camille sedikit kaku, namun wanita itu segera menguasai dirinya.
"Geneviève, temanku sayang," sapa Camille dengan suaranya yang lembut dan mendayu-dayu. Suara yang dirancang khusus untuk membuat siapa pun merasa disayangi. "Aku harap kunjunganku yang mendadak ini tidak mengganggu waktu istirahatmu. Aku sangat mengkhawatirkan kondisimu sejak kemarin."
Geneviève menatap lurus ke arah mata biru Camille. "Saya dalam keadaan sangat sehat, Yang Mulia. Apakah ada alasan khusus mengapa Anda harus mengkhawatirkan saya di jam sibuk seperti ini?"
Camille menghela napas pelan, pura-pura bersimpati. Ia melirik sekilas ke arah Lucien sebelum kembali menatap Geneviève. "Aku dengar dari para pelayan istana tentang kejadian di gerbang kemarin sore. Tentang kereta kudamu dan... kue yang kau siapkan untuk Duke Vaudémont. Aku tahu perasaanmu pasti sangat hancur. Kau menangis sangat keras sampai penjaga gerbang mendengarnya. Karena itu aku meminta Duke Vaudémont untuk menemaniku ke sini. Aku ingin menengahi kesalahpahaman di antara kalian."
Rasa frustrasi Geneviève merangkak naik perlahan. Wanita ini benar-benar ular berbisa. Camille sengaja mengungkit kejadian memalukan itu di depan pelayan dan ksatria demi memojokkan Geneviève. Camille ingin melihatnya menangis histeris. Camille ingin melihatnya melempar barang.
"Anda pasti salah dengar, Yang Mulia," balas Geneviève sambil tersenyum tipis, sebuah senyum sopan namun tidak mencapai matanya sama sekali. "Saya menangis keras kemarin murni karena debu jalanan yang sangat tebal berterbangan ke mata saya. Saya rasa dewan kota harus mulai memperbaiki jalan berbatu di depan gerbang istana. Saya sama sekali tidak hancur. Kereta kuda saya hanya perlu dibersihkan."
Lucien mengerutkan keningnya. Alis tebalnya bertaut. "Kau tidak perlu berpura-pura tegar di depan Yang Mulia Putri Mahkota, Nona Montmirail. Kelakuanmu kemarin sudah cukup mengganggu ketertiban umum. Aku datang ke sini murni atas perintah Yang Mulia untuk memastikan kau tidak melakukan tindakan nekat yang membahayakan nyawamu sendiri."
Suara Lucien bariton, berat, dan dipenuhi dengan rasa muak yang tidak ditutupi. Pria itu menatap Geneviève seolah sedang melihat noda kotor di karpetnya.
Di kehidupan aslinya, Geneviève pasti akan merasa hatinya dicabik-cabik mendengar nada bicara setajam itu. Namun sekarang, ia murni hanya merasa kesal karena waktunya terbuang.
"Tindakan nekat?" Geneviève tertawa kecil. Suara tawanya terdengar kering dan sangat sinis. Ia menumpukan sikunya di sandaran sofa dan menopang dagunya. "Tuan Duke, Anda sangat melebih-lebihkan nilai diri Anda di mata saya. Menyakiti diri sendiri demi seorang pria yang menolak kue buatan saya adalah investasi emosional yang sangat merugikan. Saya memiliki ratusan hal yang lebih penting untuk diurus hari ini daripada menangisi masa lalu."
Keheningan kembali menyergap ruang tamu itu. Odette yang berdiri di belakang sofa Geneviève harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak bersorak kegirangan.
Lucien terdiam kaku. Ada kilatan kebingungan melintas di mata hijau tuanya. Jawabannya tertahan di tenggorokan. Selama tiga tahun ini, Geneviève selalu mengejarnya bagai anjing yang kelaparan. Memanggil namanya dengan penuh kerinduan, mengirim hadiah-hadiah mahal, dan menangis jika ia bersikap dingin. Kini, wanita di depannya menatapnya dengan pandangan kosong. Sama sekali tidak ada jejak cinta di mata cokelat terang Geneviève. Ruang kosong yang tiba-tiba hadir di antara mereka entah kenapa membuat dada Lucien terasa sedikit sesak.
Camille menyadari perubahan suasana tersebut. Tangan wanita pirang itu meremas sapu tangannya dengan kuat. Rencananya memamerkan kekuasaan sama sekali tidak berjalan lancar. Geneviève tidak terpancing. Geneviève tidak terlihat menyedihkan.
"Geneviève, kau mungkin merasa terluka sekarang, tapi tidak apa-apa," ucap Camille. Suaranya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Ia tiba-tiba berdiri dari kursinya. Gaun putihnya berdesir halus di atas lantai marmer.
Wanita suci itu melangkah maju melintasi meja teh. Tanpa peringatan apa pun, Camille menunduk dan meraih kedua tangan Geneviève yang berada di atas pangkuan.
Geneviève terkejut. Invasi ruang pribadi yang tiba-tiba ini melanggar etika dasar. Ia baru saja akan menarik tangannya ketika kulit Camille bersentuhan dengan kulitnya.
Seketika, hawa dingin yang tidak wajar merayap naik dari telapak tangannya. Dingin itu menjalar cepat melewati lengan, merayap ke leher, dan langsung menembus masuk ke dalam kepalanya.
Camille tersenyum sangat manis. Mata birunya menatap tepat ke manik mata Geneviève. Sebuah tatapan polos yang menyembunyikan jurang mematikan di baliknya.
Kepala Geneviève mendadak berdenyut hebat. Pandangannya mulai berbayang. Ruang tamu itu tampak berputar. Suara napasnya sendiri terdengar bergema di telinganya. Dan di saat yang bersamaan, sebuah suara bisikan halus, suara yang persis menyerupai suaranya sendiri, mulai bergema di dalam otaknya.
Kau mencintainya. Kau sangat mencintai Lucien. Kau rela mati untuknya. Rebut dia kembali. Menangislah sekarang. Sujud di kakinya.
Geneviève melebarkan matanya. Kepanikan mulai meronta di dadanya. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Ia menatap wajah malaikat Camille yang masih tersenyum tanpa dosa. Di titik inilah Geneviève sadar sepenuhnya. Ini bukan serangan panik. Ini adalah Sihir Putih. Sihir halusinasi pengendali pikiran yang sedang disalurkan Camille tepat ke dalam otaknya.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa komen atau like. Sesekali berkunjung di Tiktok dan Instagram aku untuk mendapatkan update ceritaku yang lainnya🫶🫶
Tiktok & Ig: nadnote__
"Tenangkan dirimu, Geneviève. Aku tahu kau masih sangat mencintainya."
Suara lembut Putri Mahkota Camille terdengar mengalun seperti senandung malaikat di telinga Geneviève. Namun, bersamaan dengan sentuhan tangan wanita bergaun putih itu, sebuah hawa dingin yang sangat tidak wajar merayap naik melalui jemari Geneviève.
Hawa dingin itu terasa aneh. Rasanya seperti ada kabut yang menyusup masuk ke balik kulitnya, mengalir cepat menuju kepalanya. Dalam hitungan detik, pandangan Geneviève sedikit kabur. Sebuah dorongan asing tiba-tiba meledak di dalam dadanya. Dorongan untuk menjatuhkan diri ke lantai, menangis meraung-raung, dan memohon agar Lucien tidak meninggalkannya. Rasanya begitu nyata, seolah-olah hatinya memang hancur lebur berkeping-keping.
Tetapi, di sudut otaknya yang paling dalam, jiwa seorang pekerja kantoran yang rasional memberontak hebat.
Menangis berlutut demi pria yang menatapnya dengan jijik? Membuang harga diri untuk sebuah hubungan yang tidak memberikan keuntungan finansial maupun emosional? Itu adalah bentuk investasi paling merugikan yang pernah ada. Logikanya berteriak keras, menolak tunduk pada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.
Dengan rahang mengeras, Geneviève menyentak tangannya ke belakang. Ia menarik diri secara paksa untuk memutus kontak fisik tersebut.
Bunyi retakan keras seketika memecah kesunyian ruang tamu utama.
"Ah." Camille memekik tertahan.
Wanita berambut pirang itu tersentak mundur dan bersandar pada sofa. Tangan kanannya terangkat ke udara dengan jemari gemetar. Di pangkuannya, sebuah kipas lipat berwarna putih gading yang sejak tadi ia pegang kini terbelah menjadi dua bagian. Renda sutra yang menghiasi ujung kipas itu robek berantakan.
Suasana ruang tamu mendadak turun beberapa derajat.
Lucien de Vaudémont melangkah maju. Pria itu berdiri menjulang tinggi di depan meja teh, menatap Geneviève dengan sorot mata sedingin badai salju. Tidak ada teriakan marah, namun tekanan aura yang dipancarkan pria itu terasa sangat mencekik. Tangannya secara refleks bertumpu pada gagang pedang di pinggangnya, sebuah kebiasaan ksatria saat menghadapi ancaman.
"Tindakan yang sangat kasar, Nona Montmirail," ucap Lucien dengan bariton yang berat dan pelan. "Yang Mulia Putri Mahkota bermaksud baik menyentuh tanganmu untuk menenangkan emosimu yang labil. Tetapi kau justru menepisnya dengan sengaja dan menghancurkan barang miliknya."
Geneviève menarik napas panjang. Kepalanya masih sedikit berdenyut akibat sensasi dingin yang aneh tadi, tetapi akal sehatnya telah kembali sepenuhnya. Ia menatap wajah tampan Lucien yang dipenuhi penghakiman sepihak, lalu beralih pada Camille yang kini menunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Saya hanya menarik tangan saya, Tuan Duke," jawab Geneviève dengan suara datar. "Saya tidak terbiasa disentuh secara tiba-tiba tanpa persetujuan saya."
"Lalu kau membenarkan tindakanmu merusak kipas pusaka milik Dinasti Aurelius?" balas Lucien tajam. Tatapannya berubah semakin tajam. "Itu adalah kipas gading peninggalan mendiang Ratu. Menghancurkan pusaka kerajaan adalah bentuk pelecehan terhadap martabat istana. Apakah kebencianmu sudah membutakan akal sehatmu hingga kau berani melakukan tindakan makar ringan seperti ini?"
Camille menyeka sudut matanya dengan sapu tangan sutra. "Tolong jangan hukum Geneviève, Tuan Duke. Kipas ini memang sangat berharga bagi ibunda saya, tetapi saya yakin Geneviève tidak bermaksud menghinanya. Dia hanya sedang kehilangan kendali atas perasaannya."
Pernyataan Camille yang seolah membela itu justru menjadi amunisi mematikan. Wajah Lucien mengeras. Pria itu menoleh ke arah sudut ruangan.
"Ksatria Gaspard. Siapkan kereta. Kita akan membawa Nona Montmirail ke istana untuk memberikan penjelasan resmi kepada dewan kedisiplinan bangsawan," perintah Lucien dingin.
Gaspard yang bersandar kaku di dekat pintu segera berdiri tegak. Pria berbaju zirah hitam itu melangkah maju. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi, siap melaksanakan perintah tuannya tanpa banyak bertanya.
Namun, sebelum Gaspard bisa mengambil langkah ketiga, sebuah tubuh kecil berbalut celemek putih melangkah maju dan berlutut tepat di tengah ruangan.
Odette menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya nyaris menyentuh karpet Persia. Posturnya menunjukkan ketaatan mutlak yang sesuai dengan etiket pelayan, namun kehadirannya sukses menghentikan langkah Gaspard.
"Mohon ampun beribu ampun atas kelancangan hamba yang hina ini, Yang Mulia Duke Vaudémont," ucap Odette dengan suara bergetar yang terdengar sangat dibuat-buat. "Hamba hanyalah pelayan bodoh yang tidak mengerti banyak hal. Namun, hamba merasa harus memohon belas kasihan Anda sebelum Anda membawa Nona hamba ke istana."
Lucien mengerutkan kening. Ia menatap pelayan itu dengan tatapan meremehkan. "Mundur, Pelayan. Urusan ini tidak ada kaitannya denganmu. Majikanmu harus bertanggung jawab atas pusaka yang ia hancurkan."
"Tentu saja, Tuan Duke. Keadilan harus ditegakkan," balas Odette cepat tanpa mengangkat kepalanya. "Hamba hanya merasa sangat ketakutan melihat kejahatan yang terjadi di depan mata hamba. Hamba sangat khawatir dengan keselamatan Yang Mulia Putri Mahkota."
Mendengar hal itu, langkah Gaspard benar-benar terhenti. Ksatria itu menunduk menatap Odette dengan kening sedikit berkerut. Lucien pun terdiam, menunggu kelanjutan kalimat pelayan yang mendadak peduli pada keselamatan Camille tersebut.
Odette perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah serpihan putih yang berserakan di sekitar kaki meja teh.
"Hamba pernah diberitahu oleh pedagang pasar bahwa kipas pusaka Dinasti Aurelius terbuat dari gading gajah putih murni," lanjut Odette dengan nada cemas yang berlebihan. "Gading murni tidak akan patah dengan suara retakan kayu kering, dan tidak akan meninggalkan bubuk cat putih yang mengotori karpet seperti itu. Hamba sangat ketakutan menyadari bahwa ada penipu ulung di ibu kota yang berani menjual barang palsu murahan kepada Yang Mulia Putri Mahkota."
Suasana ruangan itu membeku seketika.
Tidak ada yang berani bersuara. Gaspard menatap Odette dengan sorot mata yang sulit diartikan. Pelayan ini baru saja menuduh Putri Mahkota membawa barang palsu yang murah. Namun, Odette melakukannya dengan berlindung di balik etiket ketaatan dan kekhawatiran seorang rakyat jelata terhadap majikan tertinggi kekaisaran. Ini adalah provokasi yang dirangkai dengan sangat licik sehingga Lucien tidak bisa memenggalnya karena alasan pemberontakan.
Mata Lucien beralih menatap serpihan di atas karpet. Sebagai pria yang terbiasa memegang senjata berbahan tulang dan gading, insting ksatrianya segera menyadari kebenaran ucapan Odette. Benda yang hancur itu memang meninggalkan jejak serbuk yang mirip dengan cat kering.
Wajah Camille memucat. Tangannya refleks menarik sisa kipas di pangkuannya agar tertutupi oleh lipatan gaun.
"Apa yang kau bicarakan, Pelayan? Ruang penyimpananku mungkin sedikit lembap sehingga membuat kipas ini rapuh," kilah Camille dengan senyum yang dipaksakan.
Odette menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi lega yang dramatis. "Syukurlah. Hamba hampir jantungan mengira ada pedagang penipu yang mencemari martabat istana. Jika kipas ini memang hanya barang rapuh yang tak sengaja patah karena Nona hamba menarik tangan, hamba harap Tuan Duke yang bijaksana bisa mempertimbangkan kembali keputusan untuk menyeret majikan hamba ke dewan kedisiplinan."
Lucien mengertakkan rahangnya. Pria itu menyadari bahwa ia baru saja disudutkan oleh argumen logika seorang pelayan. Jika ia tetap memaksa membawa Geneviève, maka kipas itu harus diperiksa oleh ahli material istana. Jika terbukti palsu, martabat Camille yang akan hancur di depan para tetua bangsawan.
"Tutup mulutmu," desis Lucien dengan nada memperingatkan. Ia benci menyadari bahwa dirinya mungkin saja berbuat kesalahan dalam menilai situasi.
Geneviève yang sejak tadi duduk diam mengamati, akhirnya mengambil tindakan. Ia tahu Odette sudah mencapai batas maksimal provokasi yang aman bagi seorang pelayan.
"Mundur, Odette. Kau terlalu banyak bicara hari ini," perintah Geneviève dengan suara tenang yang memancarkan otoritas penuh.
Odette langsung bangkit, menundukkan kepalanya sekali lagi, dan melangkah mundur ke belakang sofa tanpa bersuara.
Geneviève berdiri perlahan. Gaun birunya yang sederhana berdesir lembut. Tanpa memedulikan tatapan mengancam Lucien, Geneviève berjalan mendekati meja teh. Ia menundukkan tubuhnya, mengulurkan tangan, dan mengambil salah satu patahan kipas yang tergeletak di pangkuan Camille.
Camille menahan napas, namun ia tidak berani menarik barang itu dari tangan Geneviève.
Geneviève membawa patahan kipas itu mendekati wajahnya. Ia meneliti permukaannya dengan keahlian presisi seorang perancang perhiasan. Jari telunjuknya mengusap ujung patahan yang kasar. Ia menyadari bahwa di balik cat putih yang tebal itu terdapat material tulang hewan biasa yang diproses dengan buruk. Namun, bukan hal itu yang menarik perhatiannya.
Ada bau yang sangat aneh menguar dari material kipas tersebut. Wangi manis yang sedikit apak, mirip dengan getah resin dari tumbuhan liar yang sering ia baca di buku panduan material wilayah Montmirail. Entah kenapa, menghirup aroma itu membuat kepalanya kembali mengingat sensasi dingin yang tadi merayap di tangannya.
Sebuah senyum miring terbentuk di bibir Geneviève. Senyum yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan, melainkan perhitungan yang sangat rasional.
"Luar biasa," gumam Geneviève perlahan. Matanya yang cokelat terang beralih menatap langsung ke dalam mata biru Camille.
"Apa maksudmu?" tanya Lucien dengan nada waspada.
Geneviève meletakkan patahan kipas itu ke atas meja dengan bunyi ketukan yang memecah ketegangan. Ia menatap kedua tamunya bergantian.
"Saya baru sadar betapa rendah hatinya Yang Mulia Putri Mahkota kita," ucap Geneviève dengan nada ringan yang penuh teka-teki. "Alih-alih menggunakan kipas gading asli, Anda memilih membawa kipas dari tulang sapi yang dilapisi resin berbau tajam untuk mengunjungi saya. Saya sangat menghargai niat baik Anda, Yang Mulia. Namun, lain kali, tolong jangan gunakan resin murahan. Baunya bisa membuat orang yang menghirupnya merasa pusing dan berhalusinasi."
Camille membeku seketika. Tangan wanita itu mencengkeram ujung gaunnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sementara itu, Geneviève kembali duduk di kursinya dengan santai. Ia mungkin belum tahu konspirasi besar apa yang sedang dimainkan oleh Putri Mahkota, tetapi satu hal yang pasti. Geneviève tidak akan pernah lagi membiarkan wanita bermuka dua ini menyentuhnya dengan benda-benda aneh.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa komen atau like. Sesekali berkunjung di Tiktok dan Instagram aku untuk mendapatkan update ceritaku yang lainnya🫶🫶
Tiktok & Ig: nadnote__
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!