Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Kaisar Abadi

BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan

Balai Agung Perguruan Langit Biru hari ini penuh sesak.

Semua murid inti, semua tetua, dan semua kepala keluarga cabang datang berkumpul. Harum dupa kemenyan bercampur aroma teh melati memenuhi ruangan yang megah itu. Di tengah balai, berdiri seorang pemuda dengan pakaian sederhana yang sudah sedikit pudar warnanya.

Namanya Arya Langit.

Usianya dua puluh tahun, dan dia adalah bahan tertawaan terbesar di seluruh Perguruan Langit Biru dalam tiga tahun terakhir.

Tiga tahun lalu, Arya Langit adalah jenius nomor satu. Di usia tujuh belas tahun dia sudah menembus Alam Meridian tingkat sembilan, selangkah lagi masuk ke Alam Jiwa Kesatria. Semua orang berkata dia akan menjadi penerus Perguruan.

Sampai pada malam itu. Malam di mana meridiannya hancur total saat mencoba menyatu dengan Batu Roh Langit.

Sejak saat itu, dia menjadi sampah. Tidak bisa menyerap energi langit dan bumi sedikit pun. Jangankan berkultivasi, untuk mengangkat pedang besi biasa pun tangannya akan gemetar.

Dan hari ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya.

Hari pertunangannya.

Pintu besar balai terbuka dengan suara berat. Angin lembut masuk membawa aroma bunga kenanga.

Seorang wanita berjalan masuk.

Seluruh balai langsung hening.

Dia adalah Kezia Adinegara. Putri tunggal dari Keluarga Adinegara, salah satu dari empat keluarga besar di Kota Biru. Usianya sembilan belas tahun, sudah berada di Alam Jiwa Kesatria tingkat tiga. Wajahnya cantik luar biasa, kulitnya putih bersih, matanya tajam seperti bintang. Dia mengenakan gaun panjang berwarna ungu keemasan yang membuatnya terlihat seperti seorang putri sejati.

Dia adalah tunangan Arya Langit. Pertunangan yang dijodohkan oleh kakek mereka sejak mereka masih kecil.

Kezia berjalan melewati Arya tanpa menatapnya sama sekali, seolah Arya hanyalah patung yang tidak terlihat. Dia berjalan langsung ke depan Tetua Agung dan membungkuk dengan anggun.

"Tetua Agung, para tetua yang terhormat," suara Kezia jernih namun dingin menusuk tulang. "Hari ini Kezia datang bukan untuk melanjutkan pertunangan, tapi untuk memutuskannya."

Satu kalimat itu meledak seperti petir di tengah balai yang sunyi.

Semua mata langsung tertuju pada Arya Langit. Ada yang kasihan, ada yang mengejek, kebanyakan menertawakan.

Arya mengepalkan tangannya dengan keras hingga kukunya menancap ke daging. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi rasa sakitnya tetap tidak bisa ditahan.

"Kezia," Tetua Agung mengerutkan kening. "Pertunangan ini adalah wasiat dari kakekmu dan kakek Arya. Tidak bisa diputuskan sembarangan."

Kezia tersenyum dingin. Senyum itu cantik, tapi kejam.

"Tetua Agung, Kezia sekarang adalah murid inti dari Istana Teratai Suci. Guru saya adalah Sekar Embun, salah satu dari Tiga Bidadari Langit Biru. Masa depan Kezia adalah Alam Raja Langit, bahkan mungkin Alam Kaisar. Apakah Tetua Agung tega membiarkan Kezia menikah dengan seorang cacat yang bahkan tidak bisa berkultivasi?"

Setiap kata yang diucapkan Kezia adalah pisau yang menancap di dada Arya.

Cacat.

Kata itu sudah tiga tahun menempel pada dirinya seperti cap besi panas.

"Arya Langit," Kezia akhirnya menatap Arya untuk pertama kalinya hari itu. Tatapannya penuh dengan jijik dan superioritas. "Kamu dan aku sudah berada di dua dunia yang berbeda. Kamu adalah lumpur di tanah, sedangkan aku adalah bintang di langit. Jangan bermimpi lagi. Batalkan pertunangan ini, dan aku akan memberimu seratus Batu Roh sebagai kompensasi. Cukup untukmu hidup sebagai orang biasa selama sisa hidupmu."

Tawa mulai terdengar dari sudut balai.

Seratus Batu Roh. Itu adalah penghinaan yang lebih besar daripada tamparan.

Pada saat itu, dari barisan murid inti, seorang pemuda tampan dengan jubah mewah berwarna emas berdiri. Wajahnya penuh dengan kesombongan.

Dia adalah Rafa Adiputra, putra tunggal kepala Keluarga Adiputra, jenius nomor satu yang baru di Perguruan Langit Biru. Usianya dua puluh satu tahun, sudah Alam Jiwa Kesatria tingkat lima.

Rafa berjalan mendekati Kezia dan dengan mesra merangkul pinggang ramping Kezia di depan semua orang. Kezia tidak menolak, malah bersandar manja.

"Arya, kamu harusnya berterima kasih pada Kezia," kata Rafa dengan suara keras agar semua orang mendengar. "Dia masih memberimu muka dengan memberimu Batu Roh. Kalau aku jadi kamu, aku sudah menggali lubang dan mengubur diri sendiri karena malu. Sampah sepertimu tidak pantas bahkan untuk membawa sandal Kezia."

Arya akhirnya tidak tahan lagi. Darahnya mendidih.

"Rafa Adiputra, jaga mulutmu!" Arya meraung, matanya merah.

Rafa tertawa terbahak bahak.

"Kenapa? Kamu mau memukulku? Dengan meridianmu yang hancur itu? Ayo, coba aku lihat."

Rafa melangkah maju dengan cepat. Kecepatannya jauh di atas Arya. Dia mengangkat tangannya dan sebuah tamparan keras mendarat di wajah Arya.

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di seluruh balai.

Arya terlempar beberapa meter, jatuh menghantam lantai dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pipinya hingga ke seluruh kepalanya. Dunia di depan matanya berputar.

Tidak ada satu pun tetua yang bergerak untuk membantunya. Mereka hanya menatap dengan dingin, seolah ini adalah hiburan yang menarik.

Di tengah rasa sakit dan keputusasaan yang paling dalam, di saat dia merasa seluruh dunia telah membuangnya, sebuah suara aneh tiba tiba terdengar di dalam kepalanya.

Bukan suara manusia. Lebih seperti dentingan lonceng kuno yang berasal dari kedalaman jiwanya.

[DING!]

[Syarat kebangkitan terpenuhi. Keputusasaan terdalam, penghinaan publik, darah keturunan Kaisar. Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi aktif.]

Arya tertegun. Dia mengira dia sedang berhalusinasi karena tamparan itu.

Di depan matanya yang berkunang kunang, sebuah layar cahaya berwarna biru keemasan yang hanya bisa dilihat olehnya tiba muncul.

[Selamat datang, Tuan Rumah Arya Langit.]

[Anda telah memperoleh kemampuan awal: Mata Takdir. Anda dapat melihat takdir tragis dari setiap wanita yang memiliki Takdir Kaisar.]

[Ubah takdir mereka, buat mereka jatuh hati dan menjadi istrimu, maka Anda akan memperoleh 50% dari bakat, keberuntungan, dan kultivasi mereka.]

[Hadiah paket pemula: Pemulihan Meridian Sempurna dan satu kali Lotre Takdir. Apakah ingin digunakan sekarang?]

Jantung Arya berdegup kencang seperti genderang perang. Ini bukan halusinasi. Ini nyata. Energi hangat yang belum pernah dia rasakan selama tiga tahun tiba tiba mengalir deras di dalam tubuhnya yang rusak.

Meridiannya yang hancur, yang dikatakan oleh tabib terbaik tidak akan pernah bisa sembuh, sedang diperbaiki dengan kecepatan yang gila. Rasa sakitnya hilang, digantikan oleh kekuatan yang meluap luap.

Di saat yang sama, pintu samping balai terbuka lagi.

Seorang wanita berjalan masuk dengan langkah tenang.

Semua suara tawa dan ejekan langsung berhenti total. Bahkan Rafa Adiputra dan Kezia Adinegara pun wajahnya berubah pucat dan penuh hormat.

Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana tanpa hiasan apapun, namun kecantikannya membuat seluruh balai kehilangan warna. Rambutnya hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti embun pagi di puncak gunung, matanya seperti danau yang tenang namun dalam. Di punggungnya tergantung sebuah pedang panjang berwarna biru es.

Dia adalah Sekar Embun. Kakak senior nomor satu di Perguruan Langit Biru, murid kesayangan Pemimpin Perguruan, wanita yang dijuluki Bidadari Pedang Embun. Usianya dua puluh dua tahun dan sudah berada di Alam Raja Langit tingkat satu, eksistensi yang tidak bisa disentuh oleh siapapun di balai ini.

Sekar Embun menatap kekacauan di balai, lalu tatapannya berhenti pada Arya Langit yang masih tergeletak di lantai dengan darah di bibirnya.

Dan pada saat itulah, Mata Takdir Arya aktif secara otomatis.

Di atas kepala Sekar Embun, Arya melihat barisan tulisan berwarna merah darah yang hanya bisa dia lihat.

[Nama: Sekar Embun]

[Takdir: Bidadari Pedang Embun, memiliki Tubuh Meridian Embun Beku yang legendaris]

[Takdir Tragis: Dalam 7 hari, Tubuh Meridian Embun Beku akan mengamuk saat terobosan, membuatnya menjadi lumpuh total dan kehilangan semua kultivasi. Akan diusir dari perguruan dan mati kedinginan di lembah terpencil tiga bulan kemudian.]

[Tingkat Penyelamatan: Jika menjadi istri Tuan Rumah, 100% takdir tragis bisa diubah dan membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati.]

Otak Arya meledak.

Sekar Embun? Bidadari nomor satu yang dikagumi seluruh kota? Dalam tujuh hari akan lumpuh dan mati mengenaskan?

Sekar Embun merasakan tatapan Arya. Dia sedikit mengerutkan kening, lalu berjalan perlahan ke arah Arya.

Setiap langkahnya membuat jantung semua pria di balai berdebar kencang.

Dia berhenti tepat di depan Arya, menatap pemuda sampah yang baru saja dihina dan ditampar itu.

Lalu, dengan suara yang dingin namun jernih seperti air gunung, dia berkata.

"Arya Langit, kamu mau menjadi muridku?"

Satu kalimat itu membuat seluruh Balai Agung meledak dalam keheningan yang mematikan.

Kezia Adinegara membelalakkan matanya tidak percaya. Rafa Adiputra wajahnya langsung membiru karena cemburu dan marah.

Dan Arya Langit, dengan darah di bibirnya dan sistem kaisar yang baru bangkit di dalam jiwanya, perlahan lahan mengangkat kepalanya dan tersenyum untuk pertama kalinya setelah tiga tahun.

BAB 2: Murid Sang Bidadari

Keheningan yang terjadi di Balai Agung Perguruan Langit Biru adalah keheningan paling mematikan yang pernah ada.

Semua orang membeku. Bahkan suara napas pun terdengar jelas.

Sekar Embun baru saja berkata. Bidadari Pedang Embun yang terkenal dingin dan tidak pernah berbicara lebih dari tiga kata kepada pria manapun, yang bahkan menolak lamaran pangeran dari Kekaisaran Langit, baru saja secara sukarela menawarkan seorang sampah yang meridiannya hancur untuk menjadi muridnya.

Kezia Adinegara adalah orang pertama yang wajahnya berubah total. Dari yang tadinya penuh dengan kesombongan dan rasa jijik, kini wajah cantiknya pucat pasi karena tidak percaya dan rasa takut yang aneh.

"Kak Senior Sekar," Kezia bersuara dengan suara yang sedikit gemetar. "Kakak Senior, dia... dia hanyalah seorang cacat yang meridiannya sudah hancur total. Dia tidak pantas menjadi murid Kakak Senior. Dia bahkan tidak pantas untuk membersihkan pedang Kakak Senior."

Rafa Adiputra yang ada di samping Kezia juga langsung maju selangkah, wajah tampannya yang tadi arogan kini dipenuhi dengan rasa cemburu yang membara. Dia sudah lama mengagumi Sekar Embun secara diam diam. Melihat dewi pujaannya justru meminta sampah yang baru saja dia tampar untuk menjadi muridnya, harga dirinya seperti diinjak injak.

"Kakak Senior Sekar, apa yang Anda lihat dari sampah ini?" Rafa berkata dengan nada yang mencoba terdengar hormat tapi penuh dengan kebencian. "Dia baru saja diputuskan pertunangannya karena dia sampah. Perguruan Langit Biru tidak boleh menerima sampah seperti dia sebagai murid inti dari Kakak Senior. Ini akan mencoreng nama baik Kakak Senior."

Tetua Agung yang duduk di kursi utama juga mengerutkan keningnya dalam dalam. Dia menatap Arya Langit yang masih berlutut di lantai dengan darah di sudut bibirnya, lalu menatap Sekar Embun.

"Sekar," suara Tetua Agung berat. "Kamu yakin dengan keputusanmu? Kamu tahu aturan perguruan. Murid pribadimu akan otomatis menjadi murid inti dan akan mewarisi Puncak Embun milikmu di masa depan. Arya Langit kondisinya... semua orang di sini tahu. Meridiannya sudah hancur total tiga tahun lalu. Tabib terbaik pun sudah berkata tidak ada harapan."

Mendengar semua orang kembali merendahkannya, Arya Langit yang masih berlutut perlahan lahan mengangkat kepalanya.

Rasa sakit di pipinya karena tamparan Rafa tadi sudah hilang total. Sebagai gantinya, dia merasakan aliran energi yang begitu murni dan begitu kuat mengalir deras di dalam tubuhnya. Meridiannya yang selama tiga tahun terasa seperti sungai kering yang retak retak, kini telah pulih sepenuhnya, bahkan lebih lebar dan lebih kuat dari sebelumnya.

Itu adalah hadiah paket pemula dari Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi.

Di depan matanya, tulisan merah darah di atas kepala Sekar Embun masih berkedip kedip dengan jelas, menghitung mundur takdir tragisnya.

[Takdir Tragis: 6 Hari 23 Jam 14 Menit lagi akan mengamuk.]

Arya tahu, dia tidak punya banyak waktu.

Dia menatap Sekar Embun. Wanita itu juga menatapnya balik. Matanya yang indah seperti danau es itu tenang, tapi Arya bisa melihat sedikit kelelahan yang disembunyikan di dalamnya. Aura dingin yang keluar dari tubuh Sekar Embun sedikit tidak stabil.

Semua orang mengira Arya akan langsung berlutut dan berterima kasih dengan air mata karena mendapatkan kesempatan emas itu.

Tapi Arya melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut untuk kedua kalinya hari itu.

Dia perlahan lahan berdiri.

Tubuhnya yang tadi terhuyung huyung karena tamparan, kini berdiri tegak seperti pedang. Darah di sudut bibirnya dia usap dengan punggung tangannya.

Dia menatap langsung ke mata Sekar Embun, bukan dengan tatapan seorang pengagum yang rendah diri, tapi dengan tatapan seorang pria yang setara.

"Kakak Senior Sekar," suara Arya sedikit serak tapi jelas terdengar di seluruh balai yang hening. "Kenapa Kakak Senior ingin menjadikan saya murid?"

Pertanyaan itu membuat semua orang tertegun. Sampah itu berani bertanya balik kepada Bidadari Pedang Embun?

Sekar Embun sedikit terkejut, lalu sudut bibirnya yang jarang sekali tersenyum itu sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang membuat seluruh balai kehilangan napas karena kecantikannya.

"Karena aku melihat pedang di dalam dirimu yang tidak dilihat orang lain," jawab Sekar Embun dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Arya. "Dan karena... aku merasa kamu bisa menyembuhkanku."

Jantung Arya berdegup kencang. Dia tahu. Wanita ini tahu bahwa tubuhnya sedang bermasalah.

Pada saat yang sama, suara sistem kembali berdengung di dalam kepala Arya.

[DING! Terdeteksi Target Takdir Kaisar pertama: Sekar Embun. Misi Pemula aktif!]

[Misi: Selamatkan Sekar Embun dari Takdir Beku dalam 7 hari.]

[Hadiah: 500 Poin Takdir, Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1, dan hati Sekar Embun terbuka 20%.]

[Kegagalan: Sekar Embun lumpuh, Tuan Rumah kehilangan 50% kultivasi yang baru dipulihkan.]

[Gunakan Lotre Takdir Pemula sekarang? Ya / Tidak]

Tanpa ragu, Arya berteriak dalam hatinya, Ya!

[Lotere berputar... Selamat! Anda mendapatkan: Seni Tangan Dewa Meridian, tingkat Dewa! Sebuah teknik sentuhan meridian kuno yang dapat memperbaiki, memurnikan, dan membangkitkan semua jenis meridian di dunia. Khusus efektif untuk Tubuh Meridian Yin.]

Bersamaan dengan itu, sejumlah besar informasi dan ingatan tentang jalur meridian, titik titik akupuntur, dan cara mengalirkan energi yang sangat rumit membanjiri otak Arya.

Dia sekarang tahu persis bagaimana cara menyembuhkan Sekar Embun. Tapi dia butuh kontak fisik, dia butuh waktu, dan dia butuh tempat yang sepi.

Arya menarik napas dalam dalam. Dia membuat keputusannya.

Dia berbalik, menatap Kezia Adinegara dan Rafa Adiputra yang masih berdiri dengan wajah penuh kebencian.

"Kezia Adinegara," suara Arya kini tidak lagi gemetar, tapi penuh dengan kekuatan. "Kamu benar. Kita memang berada di dua dunia yang berbeda. Hanya saja, kamu salah menebak siapa yang di atas dan siapa yang di bawah. Seratus Batu Roh mu itu, simpan saja untuk membeli peti matimu nanti saat kamu menyesal."

"Kamu!" Kezia wajahnya merah padam karena marah.

Arya tidak peduli. Dia menatap Rafa.

"Rafa Adiputra, tamparanmu tadi, akan aku kembalikan sepuluh kali lipat di Kompetisi Puncak Langit satu bulan lagi. Di atas arena, aku akan membuatmu berlutut dan meminta maaf atas tamparan hari ini."

Setelah berkata begitu, aura yang selama ini disembunyikan oleh Arya meledak keluar.

BOOM!

Energi dari Alam Meridian tingkat sembilan, bahkan sedikit lagi menyentuh Alam Jiwa Kesatria, meledak dari tubuhnya. Lantai di bawah kakinya retak. Angin kencang berhembus membuat jubah semua murid berkibar.

Seluruh balai terkejut sampai tidak bisa berkata kata.

"Alam... Alam Meridian tingkat sembilan! Bagaimana mungkin! Bukankah meridiannya hancur!"

"Bukankah dia sampah! Kenapa kekuatannya kembali!"

Rafa Adiputra mundur selangkah karena tertekan oleh aura itu, wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan.

Kezia Adinegara menutup mulutnya dengan tangannya, matanya membelalak lebar.

Hanya Sekar Embun yang matanya sedikit berbinar. Dia tersenyum, senyum yang benar benar tulus untuk pertama kalinya.

"Menarik," gumamnya.

Arya kemudian berbalik dan berlutut dengan satu lutut di depan Sekar Embun, bukan sebagai sampah yang memohon, tapi sebagai seorang kesatria yang menerima takdirnya.

"Murid Arya Langit, bersedia menjadi murid Kakak Senior Sekar. Mulai hari ini, urusan Kakak Senior adalah urusan saya. Penyakit Kakak Senior, biar saya yang sembuhkan."

Kata kata terakhir itu hanya didengar oleh Sekar Embun, membuat tubuh wanita dingin itu sedikit gemetar.

Sekar Embun mengulurkan tangannya yang putih bersih dan dingin seperti salju, membantu Arya berdiri.

"Kalau begitu, ikut aku ke Puncak Embun."

Sekar Embun melambaikan tangannya. Sebuah pedang raksasa berwarna biru es muncul di udara. Dia melompat ke atasnya dengan anggun, lalu menarik Arya Langit ke atas pedang itu juga.

Di depan tatapan iri, dengki, dan terkejut dari ratusan orang, terutama tatapan penuh penyesalan yang mulai muncul di mata Kezia Adinegara dan tatapan penuh kebencian yang membara dari Rafa Adiputra, Sekar Embun membawa Arya Langit terbang menembus atap Balai Agung dan menghilang ke arah Puncak Embun yang diselimuti salju abadi.

Meninggalkan satu kalimat dari Arya yang menggema di seluruh balai.

"Rafa, Kezia, satu bulan lagi, kita lihat siapa sampah yang sebenarnya!"

Di atas pedang terbang, angin kencang menerpa wajah Arya. Dia berdiri di belakang Sekar Embun, sangat dekat hingga dia bisa mencium aroma embun pagi dari rambut wanita itu.

Sekar Embun tiba tiba tubuhnya sedikit terhuyung, aura dingin di tubuhnya bergejolak liar dan tidak terkendali. Wajahnya yang cantik sedikit pucat.

Arya tahu, serangan pertama dari Tubuh Meridian Embun Beku itu sudah mulai datang lebih cepat dari yang diperkirakan sistem.

"Guru... tahan sebentar," bisik Arya sambil tanpa sadar memegang pergelangan tangan Sekar yang dingin seperti es batu. "Saya bisa menolongmu sekarang."

Sekar Embun menoleh, menatap tangan Arya yang memegang tangannya, lalu menatap mata Arya yang penuh dengan keyakinan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang dingin, jantung Bidadari Pedang Embun itu berdegup sedikit lebih kencang.

BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama

Angin di ketinggian Puncak Embun sangat dingin, menusuk tulang.

Pedang raksasa berwarna biru es yang ditunggangi Sekar Embun membelah awan dengan kecepatan yang luar biasa. Kota di bawah terlihat seperti kumpulan semut. Hanya dalam beberapa tarikan napas, mereka sudah meninggalkan Balai Agung yang penuh dengan tatapan iri dan dengki itu jauh di belakang.

Arya Langit masih memegang pergelangan tangan Sekar Embun.

Kulit wanita itu benar benar dingin, tidak seperti suhu manusia normal. Lebih dingin dari es balok yang baru diambil dari dalam gua es. Dinginnya bahkan mulai menjalar ke telapak tangan Arya dan membuat ujung jarinya sedikit kebas.

"Guru," suara Arya sedikit tegang karena dia bisa merasakan aura di dalam tubuh Sekar Embun bergejolak dengan liar seperti naga es yang mengamuk. "Tahan napasmu, jangan lawan energi dingin itu. Biarkan saya coba alirkan."

Sekar Embun tidak menjawab. Wajahnya yang biasanya tenang dan dingin seperti bulan kini sedikit pucat. Bibirnya yang merah muda menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Dia bisa merasakan Tubuh Meridian Embun Beku miliknya yang sudah dia tekan selama bertahun tahun dengan pil dan teknik rahasia, kini mulai lepas kendali lebih cepat dari jadwal.

Biasanya serangan itu datang seminggu sekali. Tapi hari ini, setelah dia menggunakan energi untuk terbang dan menahan amarah melihat muridnya dihina, serangan itu datang lebih awal.

Dia sebenarnya tidak berharap banyak pada pemuda sampah yang baru saja dia selamatkan itu. Dia menawarkan Arya menjadi muridnya karena dia melihat sesuatu yang aneh. Saat Arya meledakkan auranya di balai tadi, dia melihat bayangan seekor naga emas samar di belakang pemuda itu. Sebuah bayangan yang bahkan membuat pedang es miliknya bergetar.

Tapi sekarang, saat tangan hangat Arya memegang pergelangannya, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

Hangat.

Sebuah energi hangat yang sangat murni, sangat lembut, namun sangat mendominasi masuk melalui pergelangan tangannya.

"Ini..."

Mata indah Sekar Embun membelalak.

Energi yang masuk itu bukan energi langit dan bumi biasa. Energi itu memiliki warna keemasan samar dan langsung menuju ke pusat kekacauan di dalam meridiannya.

Seni Tangan Dewa Meridian.

Di dalam benak Arya, informasi tentang teknik itu mengalir dengan sendirinya. Dia tidak perlu berpikir, tangannya bergerak secara otomatis. Jari jarinya menekan beberapa titik penting di pergelangan tangan Sekar Embun dengan urutan yang sangat rumit.

Teknik Seribu Aliran Mencair.

Zzztt...

Suara seperti es yang mencair terdengar dari dalam tubuh Sekar Embun.

Energi dingin yang mengamuk dan membekukan meridiannya selama ini, yang bahkan tidak bisa dicairkan oleh api pil tingkat tinggi, kini perlahan lahan mencair dan menjadi jinak di bawah sentuhan jari Arya.

Rasa sakit yang menyiksa Sekar Embun selama bertahun tahun itu perlahan lahan berkurang. Rasa nyaman yang hangat menggantikan rasa sakit yang dingin menusuk itu.

Tanpa sadar, Sekar Embun mengeluarkan suara desahan pelan yang sangat lembut.

"Hhh..."

Suara itu membuat telinga Arya memerah. Dia buru buru fokus kembali.

Mereka akhirnya sampai di Puncak Embun.

Puncak Embun adalah puncak tertinggi di Perguruan Langit Biru. Seluruh puncak diselimuti salju abadi yang tidak pernah mencair. Di tengah salju itu berdiri sebuah pondok bambu sederhana yang sangat bersih dan sebuah kolam air panas kecil yang mengepulkan uap, dikelilingi oleh bunga teratai es yang mekar.

Tempat yang sangat indah, sangat sepi, dan sangat cocok untuk seorang bidadari yang dingin.

Pedang raksasa itu mendarat dengan lembut di halaman pondok.

Sekar Embun hampir terjatuh saat turun dari pedang. Kakinya sedikit lemas. Arya dengan sigap menangkap pinggang rampingnya untuk menahannya agar tidak jatuh.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun hidupnya, Bidadari Pedang Embun yang tidak pernah membiarkan pria manapun menyentuhnya dalam jarak tiga langkah, kini berada dalam pelukan seorang pria.

Tubuh Sekar Embun sangat harum, aroma embun pagi bercampur dengan aroma bunga teratai es yang menenangkan. Tubuhnya ramping namun berisi, dan meskipun terbalut gaun putih yang tebal, Arya bisa merasakan betapa lembutnya tubuh itu.

Wajah Sekar Embun yang biasanya sedingin es kini memerah seperti buah apel. Dia buru buru mendorong Arya dengan lembut, tapi tidak dengan marah.

"Lepas... lepaskan aku," suaranya yang biasanya dingin kini sedikit gugup.

Arya juga sadar dan buru buru melepaskannya. "Maaf, Guru. Saya tidak bermaksud..."

Sekar Embun menarik napas dalam dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Dia menatap Arya dengan tatapan yang sama sekali berbeda dari tatapan dinginnya tadi. Ada rasa terkejut, ada rasa ingin tahu, dan ada sedikit rasa harap.

"Kamu... kamu benar benar bisa menyembuhkan Tubuh Meridian Embun Beku milikku?" tanya Sekar Embun, suaranya sedikit bergetar. Ini adalah rahasia terbesarnya yang bahkan Pemimpin Perguruan pun tidak tahu sepenuhnya. Dia selalu berkata dia hanya memiliki Tubuh Es biasa.

Arya mengangguk dengan yakin. Di depan matanya, tulisan sistem di atas kepala Sekar Embun sudah berubah.

[Takdir Tragis: Ditunda sementara. Energi mengamuk berhasil dijinakkan 10%. Membutuhkan 6 sesi penyembuhan lagi untuk sembuh total dan membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati.]

"Guru, penyakit Guru bukan penyakit. Itu adalah Tubuh Meridian Embun Beku yang legendaris, tubuh yang hanya dimiliki oleh Dewi Embun di zaman kuno. Karena terlalu kuat, meridian Guru tidak mampu menahannya, jadi dia mengamuk dan membekukan meridian Guru sendiri. Kalau dibiarkan, dalam tujuh hari Guru akan lumpuh total," jelas Arya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

Sekar Embun tubuhnya bergetar hebat. Rahasia yang dia sembunyikan selama bertahun tahun, pemuda di depannya ini tahu hanya dengan menyentuh pergelangan tangannya sebentar.

"Kamu... bagaimana kamu tahu?"

"Saya punya cara saya sendiri, Guru," Arya tersenyum misterius. "Percayakan pada saya. Beri saya waktu tujuh hari. Dalam tujuh hari, saya tidak hanya akan menyembuhkan Guru, tapi saya akan membuat Guru membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati yang sebenarnya. Saat itu, bahkan Pemimpin Perguruan pun bukan tandingan Guru."

Sekar Embun menatap pemuda di depannya. Pemuda yang tiga tahun lalu adalah jenius, lalu menjadi sampah yang dihina semua orang, dan hari ini berdiri di depannya dengan mata yang penuh dengan kepercayaan diri dan kehangatan yang aneh.

Entah kenapa, dia percaya.

"Baik," Sekar Embun akhirnya mengangguk. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Guru harus masuk ke kolam air panas itu," kata Arya sambil menunjuk kolam yang mengepulkan uap di tengah taman. "Lepaskan jubah luar Guru, sisakan pakaian dalam yang tipis saja. Saya harus menekan beberapa titik meridian di punggung Guru untuk melancarkan aliran yang beku. Prosesnya akan sedikit... tidak nyaman, tapi tolong Guru tahan."

Wajah Sekar Embun kembali memerah. Masuk ke kolam air panas dengan pakaian tipis di depan seorang murid pria? Hal ini belum pernah terjadi seumur hidupnya.

Tapi saat dia merasakan lagi rasa sakit dingin yang mulai menjalar di punggungnya, dia menggertakkan giginya.

"Demi jalan kultivasi," bisiknya pada dirinya sendiri.

Dia berjalan menuju kolam, membelakangi Arya. Dengan jari yang sedikit gemetar, dia perlahan lahan melepaskan jubah putih luarnya.

Jubah itu jatuh ke lantai salju, memperlihatkan punggungnya yang putih mulus seperti batu giok terbaik di dunia, hanya terbalut oleh pakaian dalam sutra tipis berwarna putih yang basah oleh keringat dingin karena menahan sakit.

Pemandangan itu begitu indah hingga membuat Arya menahan napas.

"Jangan... jangan melihat yang tidak perlu," suara Sekar Embun terdengar kecil dan malu malu, sama sekali tidak seperti Bidadari Pedang yang dingin itu.

Arya buru buru mengalihkan pandangannya dan berjalan mendekat. Dia duduk di tepi kolam di belakang Sekar Embun.

"Saya mulai, Guru. Maaf."

Arya mengulurkan kedua tangannya. Ujung jarinya bersinar dengan cahaya keemasan hangat dari Seni Tangan Dewa Meridian. Dia mulai menekan titik demi titik di sepanjang tulang punggung Sekar Embun yang indah itu.

Setiap sentuhan jarinya membuat tubuh Sekar Embun sedikit bergetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa hangat yang luar biasa menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuhnya, mencairkan es yang membeku di meridiannya.

Rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan selama dua puluh dua tahun hidupnya.

Di dalam kepala Arya, suara sistem terus berbunyi.

[DING! Sentuhan Meridian berhasil! Poin Kepercayaan Sekar Embun +5!]

[DING! Sentuhan Meridian berhasil! Poin Kepercayaan Sekar Embun +5!]

[Selamat! Poin Kepercayaan Sekar Embun mencapai 20%! Hadiah pertama terbuka: Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1 aktif!]

BOOM!

Saat hadiah itu aktif, tubuh Arya tiba tiba meledak dengan cahaya keemasan. Meridiannya yang baru saja pulih kini berevolusi dengan gila gilaan. Sebuah auman naga kuno terdengar samar samar dari dalam tubuhnya.

Kultivasinya yang tadi masih di Alam Meridian tingkat sembilan, dalam sekejap mata naik!

Alam Meridian tingkat sembilan puncak!

Setengah langkah Alam Jiwa Kesatria!

Hanya dengan menyembuhkan Sekar Embun sebentar, kekuatannya naik secepat ini!

Di sisi lain, di bawah Puncak Embun, dua sosok berdiri dengan wajah penuh kebencian sambil menatap ke atas puncak yang diselimuti salju.

Kezia Adinegara dan Rafa Adiputra.

"Sampah itu berani mempermalukan kita di depan semua orang," geram Rafa dengan tinju terkepal. "Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang di Puncak Embun. Aku sudah menyuap Tetua Disiplin. Besok saat pemeriksaan bulanan murid baru, aku akan membuatnya cacat permanen di depan semua orang, bahkan Sekar Embun tidak akan bisa melindunginya."

Kezia menatap puncak itu dengan mata yang rumit. Ada cemburu, ada marah, tapi juga ada sedikit penyesalan yang tidak dia mengerti kenapa muncul.

Di dalam kolam air panas di puncak, Arya masih fokus menyembuhkan. Dia tidak tahu bahwa bahaya pertama setelah mendapatkan sistem sudah menunggu di depan matanya besok pagi.

Dan dia juga tidak tahu, bahwa sentuhan tangannya malam ini, telah membuat hati seorang bidadari yang membeku selama dua puluh dua tahun, mulai mencair untuk pertama kalinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!