Indonesia
NovelToon NovelToon

Paradoks Waktu

Bab 1

Subuh baru saja berlalu. Langit Jakarta masih berwarna kebiruan saat deretan motor mulai memenuhi halaman minimarket 24 jam yang menjadi tempat mangkal para pengemudi ojek online.

Suara notifikasi dari berbagai ponsel saling bersahutan.

"Ting!"

"Tring!"

"Order masuk!"

Seorang pria bertubuh kurus dengan jaket hijau lusuh menguap lebar sambil meregangkan badan. Namanya Zain, usianya baru dua puluh empat tahun. Sudah dua tahun ia menjadi pengemudi ojek online. Itu bukan cita-citanya, tetapi karena setelah lulus kuliah diploma, lamaran kerjanya entah sudah berapa puluh kali ditolak.

"Masih sepi, ya?" tanya seorang pengemudi lain.

"Awal bulan mah rame. Sekarang mah nunggu rezeki nyasar."

Mereka tertawa kecil. Zain ikut tersenyum, meski matanya terus menatap layar ponsel. Saldo dompet digitalnya tinggal cukup untuk membeli bensin hari itu. Kalau sampai siang belum dapat banyak order, ia harus mulai mengirit.

"Ting!"

Order pertama muncul: antar penumpang. Jarak penjemputan hanya empat ratus meter.

"Alhamdulillah."

Zain langsung mengenakan helm. Motor matiknya meraung pelan meninggalkan halaman minimarket.

Di lampu merah pertama, ia melihat seorang pria berjas turun dari mobil mewah. Pria itu tampak kesal karena jalanan macet. Sementara di sisi lain, seorang pemulung mendorong gerobaknya perlahan.

Zain memperhatikan mereka sekilas, lalu menghela napas.

"Rezeki orang beda-beda..."

Motor kembali melaju. Hari itu berjalan seperti biasa: mengantar pegawai, mahasiswa, ibu-ibu ke pasar, hingga anak sekolah yang bangun kesiangan. Tidak ada yang istimewa.

Yang istimewa justru rating.

Menjelang siang, seorang penumpang berkata sambil tersenyum, "Mas, makasih ya. Motornya pelan, tapi nyaman."

Beberapa detik kemudian...

★★★★★

Rating bintang lima. Zain tersenyum puas.

"Yang penting bintang lima."

Bagi Zain, bintang lima berarti peluang mendapat lebih banyak order. Dan lebih banyak order berarti uang untuk makan malam.

...

Matahari mulai condong ke barat. Zain mematikan mesin motornya di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota—rumah bercat putih yang mulai kusam.

Di teras, seorang kakek duduk di kursi bambu sambil menyeruput kopi hitam. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun matanya masih tajam.

"Kakek."

"Pulang juga."

"Gimana nariknya?"

"Ya... lumayan."

Padahal tidak. Hari itu pendapatannya pas-pasan, namun Zain tidak ingin membuat kakeknya khawatir.

Mereka duduk berdampingan saat angin sore berembus pelan. Beberapa anak kecil berlari mengejar layang-layang di lapangan depan gang.

Kakeknya memandangi langit cukup lama, lalu bergumam pelan, "Enak ya jadi anak sekarang..."

Zain tertawa. "Katanya dulu lebih enak, Kek."

Kakeknya ikut tertawa kecil. "Itu juga bener."

"Hah?"

"Dulu... tahun delapan puluhan." Kakeknya menatap jauh, seolah melihat sesuatu yang hanya ada dalam ingatannya. "Nyari kerja gampang. Kalau rajin, hidup bisa pelan-pelan naik. Harga makanan murah, orang-orang juga lebih akrab."

Zain mendengarkan tanpa menyela. Cerita seperti itu bukan hal baru; hampir setiap sore kakeknya selalu mengenang masa muda. Dan entah kenapa, Zain selalu suka mendengarnya. Mungkin karena hidupnya sekarang terasa begitu melelahkan.

Kadang ia benar-benar berpikir: 'Bagaimana rasanya kalau aku lahir di zaman kakek? Mungkin hidupku bakal jauh lebih mudah.'

Pertanyaan sederhana itu kelak akan mengubah seluruh hidupnya.

Keesokan paginya, pukul enam lewat sepuluh, Zain sudah kembali duduk di atas motornya. Secangkir kopi saset dan sepotong gorengan menjadi sarapan yang cukup untuk memulai hari.

"Semoga hari ini lebih rame."

Ia menekan tombol *Online*. Belum lima menit, bunyi notifikasi yang dinanti terdengar.

"Ting!"

Order masuk untuk menjemput penumpang di sebuah perumahan tua, sekitar tiga kilometer dari tempatnya mangkal.

"Gas."

Motor melaju membelah jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Sesampainya di lokasi, Zain melihat seorang ibu paruh baya berdiri di depan pagar.

"Atas nama Bu Rina?"

"Iya, Mas."

Sepanjang perjalanan sang ibu tidak banyak bicara, hanya sesekali bertanya soal cuaca, lalu turun di depan pasar.

"Terima kasih ya, Mas."

"Sama-sama, Bu."

Bintang lima lagi. Zain tersenyum kecil. Lumayan.

Setelah itu, order demi order terus berdatangan. Ada yang dekat, ada yang jauh, dan ada juga yang bikin elus dada. Seorang pelanggan menyuruhnya menunggu hampir dua puluh menit. Begitu keluar rumah, bukannya meminta maaf, ia malah berkata dengan nada ketus, "Cepetan ya Mas, saya telat."

Zain hanya mengangguk. Dalam hati ia ingin protes, tapi buat apa? Perdebatan cuma akan berakhir dengan rating jelek. Lebih baik diam.

...

Menjelang siang, terik matahari terasa makin menyengat. Zain berhenti di bawah pohon trembesi untuk membeli es teh dari pedagang kaki lima. Baru saja gelas plastik itu menempel di bibirnya...

"Ting!"

Order baru masuk. Lokasi penjemputannya sangat dekat, hanya dua ratus meter.

"Wah, rezeki."

Zain segera menyalakan motor. Di depan sebuah toko buku tua, seorang pria berdiri membawa tas ransel besar. Usianya sekitar enam puluh tahun dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, dan tangan kirinya menggenggam koper aluminium kecil yang tampak cukup berat.

"Pak, atas nama..."

Pria itu menoleh. "Ah, Zain ya?"

Zain sedikit heran karena penumpang itu langsung mengenali namanya. "Iya, Pak."

"Bagus. Saya yang pesan."

Pria itu naik ke jok belakang dengan hati-hati. "Kampus Nusantara ya, Mas."

"Siap."

Motor kembali melaju. Beberapa menit pertama diisi keheningan, sebelum pria tua itu membuka percakapan.

"Kamu sudah lama narik?"

"Dua tahunan, Pak."

"Betah?"

Zain terkekeh pelan. "Kalau dibilang betah... ya karena belum punya pilihan lain."

Pria tua itu mengangguk paham. "Jawaban yang jujur."

Zain tersenyum. Entah kenapa, penumpang yang satu ini terasa berbeda. Nada bicaranya tenang, tidak terburu-buru, dan seolah sangat menikmati perjalanan.

Saat berhenti di lampu merah, pria itu memandang deretan gedung tinggi di kejauhan.

"Dulu..." katanya pelan, "...di tempat itu sawah."

Zain ikut menatap gedung-gedung tersebut. "Masa sih, Pak?"

"Iya. Sekarang semuanya berubah."

Lampu berganti hijau dan motor kembali berjalan. Namun, ucapan sederhana itu terus terngiang di kepala Zain.

"Sekarang semuanya berubah."

Kalimat yang terdengar biasa, tetapi diucapkan dengan nada seolah pria tua itu sedang merindukan sesuatu yang telah lama hilang.

Bab 2

Perjalanan menuju Kampus Nusantara masih sekitar lima belas menit lagi. Jalanan mulai padat oleh bus kota, truk, dan sepeda motor yang saling berebut ruang. Zain mengurangi kecepatannya.

"Maaf ya, Pak. Macet."

"Tidak apa-apa. Justru saya lebih suka pelan."

Zain mengangguk. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum pria tua itu kembali membuka suara.

"Kalau boleh tahu... kenapa memilih jadi pengemudi?"

Zain tertawa kecil. "Memilih sih enggak, Pak."

"Oh?"

"Saya nyari kerja ke mana-mana, belum ada yang nyangkut."

"Lulusan apa?"

"Diploma Teknik Mesin."

Pria tua itu tampak sedikit terkejut. "Teknik Mesin?"

"Iya, Pak."

"Kenapa tidak bekerja di pabrik?"

"Sudah coba, ditolak. Perusahaan lain... ditolak juga. Cobain tempat lain lagi, masih sama."

Nada bicara Zain tetap santai, seolah sudah terlalu sering menceritakan kepahitannya hingga tak lagi terasa menyakitkan. "Akhirnya, ya... narik."

Pria tua itu terdiam. Tatapannya lurus ke depan. "Cari kerja sekarang memang sesulit itu, ya..."

Zain menghela napas. "Kalau kata kakek saya, dulu mah gampang, Pak. Beliau selalu bilang zaman delapan puluhan sama sembilan puluhan itu enak. Kerja gampang, harga murah, hidup tenang."

Pria tua itu tersenyum tipis. "Hm..."

"Kadang saya mikir..." Zain melanjutkan.

"Mikir apa?"

"Kayaknya saya salah lahir."

Pria tua itu terkekeh pelan. "Salah lahir?"

"Iya. Coba kalau saya lahir tahun delapan puluhan, mungkin sekarang hidup saya sudah mapan."

Motor mereka kembali terhenti di lampu merah. Pria tua itu memandang ke luar, memperhatikan seorang bapak yang menjajakan tisu di bawah sengatan panas. Beberapa mobil rapat menutup kaca, tak ada satu pun yang membeli.

Pria tua itu menghela napas pelan. "Lalu... kalau benar ada kesempatan kembali ke masa itu, apa yang akan kamu lakukan?"

Tanpa berpikir panjang, Zain menjawab, "Saya mau cari kerja. Kerja yang rajin, nabung, beli rumah..." Ia terdiam sejenak. "Terus nikah."

Pria tua itu tersenyum lebih lebar. "Sederhana."

"Iya, Pak. Buat saya itu sudah cukup."

Lampu berubah hijau dan motor kembali melaju. Tak lama kemudian, mereka tiba di gerbang Kampus Nusantara. Zain menghentikan motornya di depan sebuah gedung tua yang berdiri agak terpisah dari bangunan lain. Gedung itu tampak kuno dengan dinding dipenuhi tanaman rambat. Di depannya terpasang papan kecil bertuliskan: *Pusat Riset Teknologi Eksperimental*.

Pria tua itu turun sambil mengangkat koper aluminiumnya. "Terima kasih, Zain."

"Sama-sama, Pak."

Pria itu tidak langsung pergi. Ia menatap Zain selama beberapa detik. "Lain kali kalau saya pesan lagi... boleh minta kamu yang mengantar?"

Zain sedikit bingung. "Kalau kebetulan dapat ordernya, tentu boleh, Pak."

Pria itu mengangguk puas. "Lalu..." Ia tersenyum penuh arti. "Jangan terlalu cepat percaya kalau semua cerita orang tua itu benar. Kadang... yang mereka ingat hanya bagian indahnya saja."

Setelah berkata demikian, pria itu berbalik dan berjalan memasuki gedung tua. Zain terus memandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu.

Ucapan itu terasa bertolak belakang dengan cerita-cerita kakeknya. Ini sosok pertama yang hidup di era tersebut, tetapi tidak sepenuhnya setuju bahwa masa lalu selalu lebih baik.

"Order selesai."

Zain menekan tombol di layar aplikasi. Tak lama kemudian, notifikasi masuk.

★★★★★

*Pengemudi ramah dan berkendara dengan nyaman.*

Zain tersenyum lega. "Alhamdulillah."

Sisa hari itu berlalu seperti biasa. Ia mengantar pegawai kantor yang sibuk menatap laptop, mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas, hingga seorang anak kecil yang tak berhenti bercerita tentang robot kesayangannya.

Menjelang magrib, Zain akhirnya tiba di rumah.

...

"Kakek."

"Pulang juga kamu."

Kakeknya sedang menyiram tanaman cabai di depan rumah. Zain segera mengambil selang lain lalu membantu menyiram.

"Kek."

"Hm?"

"Tadi aku ketemu penumpang unik."

"Oh, ya?"

"Profesor kayaknya."

"Profesor?"

"Iya, ngantarnya ke kampus. Tapi orangnya agak aneh."

"Kenapa?"

"Dia bilang jangan terlalu percaya cerita orang tua. Katanya yang diingat cuma bagian indahnya aja."

Kakeknya terkekeh pelan. "Ya... dia ada benarnya."

Zain menoleh heran. "Lho?"

"Tapi bukan berarti Kakek bohong. Kakek cuma cerita apa yang Kakek rasain. Setiap orang punya pengalaman beda-beda."

Zain mengangguk pelan. Ia menyadari satu hal: selama ini ia menganggap masa lalu indah untuk semua orang, padahal belum tentu.

...

Dua hari kemudian, pukul sembilan pagi.

"Ting!"

Order baru masuk. Nama penumpang di layar membuat Zain mengernyit: **Prof. Surya**.

"Eh..." Zain bergumam. Bukankah ini profesor yang kemarin?

Ia segera menerima order tersebut. Lokasi penjemputannya sama—sebuah rumah tua berpagar besi dengan pohon mangga besar di halaman. Begitu Zain tiba, gerbang sudah terbuka. Profesor Surya berjalan keluar sambil membawa koper aluminium yang sama.

"Selamat pagi, Zain."

"Pagi, Pak."

Profesor itu langsung naik ke jok belakang.

"Hari ini ke kampus lagi, Pak?"

"Iya."

Motor kembali melaju. Kali ini suasananya terasa lebih santai. Profesor Surya bahkan sempat bertanya tentang motor yang dikendarai Zain.

"Motor tahun berapa?"

"Dua ribu dua puluh, Pak."

"Masih orisinal?"

"Iya."

"Rajin servis?"

"Harus, Pak. Ini aset utama," sahut Zain tertawa. "Kalau mogok, saya enggak makan."

Profesor ikut tersenyum. "Bagus itu."

Sepanjang jalan, obrolan mereka mengalir ke dunia mesin. Baru kali ini Zain bertemu penumpang yang benar-benar memahami otomotif. Profesor bahkan tahu seluk-beluk cara kerja CVT, sistem injeksi, hingga sejarah perkembangan mesin motor di Indonesia.

"Wah, Bapak hafal banget."

"Dulu saya juga suka bongkar-bongkar motor."

"Lah, profesor kok ngoprek motor?"

Profesor tertawa pelan. "Seorang ilmuwan harus suka membongkar banyak hal."

Jawaban sederhana itu entah kenapa terus membekas di pikiran Zain.

Sesampainya di kampus, Profesor Surya turun. Sebelum melangkah masuk ke gedung riset, ia menoleh kembali ke arah Zain.

"Hari Kamis biasanya saya berangkat jam yang sama."

Zain berkedip ragu. "Oh... baik, Pak."

Profesor tersenyum tipis. "Bukan memesan, hanya memberi tahu."

Ia kemudian berbalik dan berjalan masuk. Zain memperhatikan kepergiannya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Aneh juga orang tua itu..."

Zain kembali mengenakan helmnya. Tak lama berselang, bunyi *ting!* menandai orderan berikutnya. Ia langsung menarik gas, tanpa menyadari bahwa mulai hari itu, nama Prof. Surya akan menjadi pemandangan rutin di layar ponselnya setiap Selasa dan Kamis pagi.

Dari obrolan-obrolan singkat di atas jok motor itulah, sebuah persahabatan yang tak terduga perlahan mulai tumbuh.

Bab 3

Seminggu berlalu. Benar saja, setiap Selasa dan Kamis pagi, nama yang sama hampir selalu muncul di layar ponsel Zain: **Prof. Surya**.

Awalnya Zain mengira itu sekadar kebetulan. Namun setelah empat kali berturut-turut mengantar orang yang sama, ia mulai hafal kebiasaan sang profesor. Profesor Surya selalu sudah siap berdiri di depan pagar sebelum Zain tiba, selalu membawa koper aluminium yang sama, dan selalu mengenakan jam tangan analog tua bertali kulit cokelat.

Satu hal yang paling unik: profesor tidak pernah memainkan ponselnya sepanjang perjalanan. Ia lebih suka memperhatikan jalanan, seolah sedang mencari sesuatu.

"Pak, kok selalu merhatiin jalanan terus?" tanya Zain suatu pagi.

"Hm?"

"Iya, biasanya penumpang zaman sekarang lebih suka main HP."

Profesor tersenyum. "Saya sedang melihat perubahan."

"Perubahan?"

"Setiap tahun kota ini berubah," jawabnya seraya menunjuk sebuah ruko yang baru selesai dibangun. "Dulu di situ bioskop."

Tak lama kemudian, ia menunjuk sebuah taman kecil. "Dulu itu terminal."

Beberapa ratus meter setelahnya, ia menunjuk lagi. "Nah, kalau itu dulu bengkel langganan saya."

Zain melirik dari kaca spion. "Ingatan Bapak kuat banget, ya."

"Bukan kuat," Profesor menggeleng pelan. "Cuma... terlalu banyak kenangan."

Mereka terhenti di lampu merah. Seorang pengamen naik ke trotoar, menyanyikan lagu lama dengan gitar yang sudah kusam. Profesor Surya mendengarkan sejenak, lalu tanpa sadar ikut bersenandung pelan.

Zain tidak mengenali lagunya. "Pak, lagu apa itu?"

"Lagu lama. Zaman saya masih mahasiswa."

"Oh..."

"Bagus, kan?"

Profesor hanya tersenyum. "Kalau suatu hari kamu hidup cukup lama, kamu juga akan punya lagu yang tiba-tiba membawamu kembali ke masa muda."

Zain tertawa kecil. "Masa muda saya isinya cuma narik ojol, Pak."

"Bisa jadi," sahut profesor terkekeh. "Siapa tahu dua puluh tahun lagi kamu mendengar suara notifikasi aplikasi..." Ia menirukan bunyinya, *"Ting!"* "...lalu kamu malah kangen."

Zain spontan tertawa keras. "Mana mungkin, Pak!"

Profesor ikut tertawa. "Tidak ada yang tahu."

Sesampainya di kampus, Zain membantu menurunkan koper aluminium dari jok.

"Berat juga ya, Pak."

"Agak."

"Isinya apa sih, Pak?"

Profesor terdiam beberapa detik, lalu menjawab singkat, "Proyek."

"Proyek apa?"

"Belum saatnya diceritakan."

Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Zain makin membuncah. Namun ia tahu batasan; jika seseorang belum mau bercerita, tak ada gunanya dipaksa.

"Ya sudah, Pak. Semoga proyeknya lancar."

"Terima kasih."

Profesor berjalan menuju gedung riset. Baru beberapa langkah, ia menghentikan pijakannya dan menoleh. "Zain."

"Iya, Pak?"

"Kamu masih sering mendengar cerita kakekmu?"

"Iya, masih."

"Masih ingin hidup di tahun delapan puluhan?"

Zain tersenyum lebar. "Masih, Pak."

Profesor mengangguk pelan. "Lain kali... ceritakan lebih banyak."

Tanpa menunggu balasan, ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung. Zain berdiri termangu memperhatikan punggungnya yang berangsur menghilang.

"Kenapa ya... Bapak itu penasaran banget sama tahun delapan puluhan?"

Ia menggeleng heran, lalu kembali menyalakan mesin motor. lalu ia pulang.

Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan dari kebun kosong di ujung gang. Zain duduk santai di teras rumah bersama kakeknya, menemani dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng di atas meja kecil.

Listrik tiba-tiba padam selama beberapa menit, membuat gang seketika menjadi gelap gulita. Hanya ada pendar cahaya bulan dan remang lampu darurat dari beberapa rumah tetangga.

"Enak ya kalau mati lampu begini," gumam Kakek.

Zain menoleh heran. "Enak?"

"Iya. Kakek malah jadi ingat dulu."

Zain terkekeh pelan. "Lagi-lagi zaman dulu."

Kakeknya ikut tertawa. "Lha, memang yang Kakek punya tinggal kenangan."

Mereka terdiam sejenak. Angin malam bertiup sepoi-sepoi, membawa suara samar anak-anak yang masih asyik bermain petak umpet di kejauhan.

"Kalau malam begini," lanjut Kakek, "dulu orang-orang pada keluar rumah."

"Duduk-duduk di teras?"

"Iya, ngobrol sampai larut. Mau pinjam gula tinggal ke tetangga. Terus kalau ada hajatan, satu kampung ikut bantu."

Zain mendengarkan sambil menyeruput teh hangatnya. "Kalau sekarang?"

"Ya... semua sibuk sama urusannya masing-masing."

Zain mengangguk pelan. Memang benar, di gang tempat tinggalnya saja banyak rumah yang pagarnya selalu tertutup rapat. Tetangga saling kenal, tetapi jarang sekali benar-benar bertegur sapa dengan akrab.

"Kek."

"Hm?"

"Dulu nyari kerja memang segampang itu?"

Kakeknya berpikir sejenak. "Kalau dibilang gampang... ya enggak juga. Tetap harus ada usaha. Tetap ada yang nganggur, tetap ada yang gagal."

Zain sedikit terkejut. "Tapi Kakek sering bilang gampang."

"Maksudnya gampang dibanding sekarang." Kakek menghela napas. "Kakek dulu masuk pabrik cuma karena dikenalin teman, besoknya langsung disuruh mulai kerja. Kalau sekarang..." Kakek mengangkat bahu. "Daftar di internet, tes berkali-kali, wawancara berkali-kali, tapi belum tentu diterima."

Zain menarik napas dalam-dalam. "Itu yang aku rasain sekarang, Kek."

Kakek menepuk pelan bahu cucunya. "Makanya, jangan menyerah."

...

Malam makin larut. Setelah Kakek masuk ke kamar untuk tidur, Zain masih betah duduk sendirian di teras. Ia membuka ponselnya, melihat foto-foto lama yang pernah dipotretnya saat mengantar penumpang ke kawasan Kota Tua.

Karena iseng, ia mulai berselancar di internet menelusuri penampakan *Jakarta tahun 1988*.

Layar ponselnya menampilkan deretan foto jalanan yang dipenuhi mobil sedan berbentuk kotak, bus-bus tua, dan angkot berwarna mencolok. Pakaian orang-orang terlihat sederhana, sementara gedung tinggi belum sepadat sekarang.

Zain memperbesar salah satu foto. "Kayaknya memang adem ya..."

Ia membayangkan dirinya mengendarai motor di jalanan yang lengang—tanpa kemacetan, tanpa rentetan notifikasi aplikasi, dan tanpa perlu kejar-kejaran berebut orderan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan notifikasi dari aplikasi ojek, melainkan pesan singkat dari nomor yang belum ia simpan:

[Besok pagi, kalau tidak ada kesibukan, mampirlah ke laboratorium setelah mengantar saya. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan.]

— Surya

Zain mengernyitkan dahi. "Laboratorium?"

Ia membaca ulang pesan itu. Tidak ada penjelasan lain, hanya sebuah ajakan singkat. Zain menatap layar ponselnya cukup lama, lalu tersenyum kecil.

"Ya sudah. Paling disuruh lihat mesin aneh lagi."

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keesokan harinya, ia akan melihat sisi lain dari Profesor Surya. Bukan lagi sebagai penumpang berlangganan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!