Bab 1
Zona Perang
Tembakan memecah udara saat sepatu bot menyeret Keira melewati puing-puing yang berbau darah dan mesiu.
Lututnya menghantam lantai bangunan kosong. Debu masuk ke tenggorokan, bercampur rasa logam dari bibirnya yang pecah. Rompi pers yang tadi menutupi kemejanya sudah robek di bagian bahu.
Seorang pria bersenjata mencengkeram rambutnya dari belakang.
"Jurnalis?" Pria itu tertawa, lalu melempar kartu pers Keira ke lantai. "Kamu pikir tulisanmu bisa menyelamatkanmu?"
Keira tidak menjawab. Kedua tangannya terikat, tetapi matanya terus bergerak, menghitung pintu, jendela, dan tiga orang yang berdiri di ruangan itu.
Tidak ada jalan keluar.
Ia datang ke negara konflik di Afrika itu untuk menyelidiki penyaluran bantuan yang dirampas kelompok bersenjata. Sopir lokal yang mengantarnya sudah menyuruhnya kembali ketika suara tembakan pertama terdengar. Keira terlambat mendengarkan.
Kini suara kendaraan lapis baja terdengar jauh di luar, lalu menghilang di balik ledakan lain.
Pria di depannya berjongkok. Ujung pisau menyentuh dagunya, memaksanya mengangkat wajah.
"Kamera dan rekamanmu ada di mana?"
"Hilang saat kalian menyerang mobil kami."
Tamparan keras membuat kepala Keira terlempar ke samping. Telinganya berdenging. Ia menelan darah, menolak memberi mereka kepuasan melihatnya menangis.
"Cari lagi tasnya," perintah pria itu.
Salah satu anak buahnya pergi. Yang lain mendekat dan menarik bagian depan kemeja Keira.
Napas Keira tersangkut. Ia menendang sekuat tenaga, tetapi pergelangan kakinya langsung diinjak. Rasa sakit menjalar sampai betis.
"Jangan sentuh aku!"
Tawa mereka memenuhi ruangan.
Lalu dinding di sebelah kanan bergetar.
Sebuah hantaman keras merobohkan sebagian bata yang sudah retak. Debu meledak ke segala arah. Bayangan-bayangan berseragam loreng masuk melalui celah, cepat dan senyap di tengah kekacauan.
"Tiarap!"
Keira menjatuhkan tubuh sebelum sempat berpikir.
Dua detik berikutnya terdengar seperti satu tarikan napas. Benturan, teriakan pendek, lalu bunyi senjata jatuh ke lantai. Sepatu yang menginjak pergelangan kaki Keira terangkat. Pria yang tadi mencengkeramnya kini sudah tersungkur dengan kedua tangan diamankan seorang prajurit.
Ruangan mendadak sunyi.
Di antara debu, seorang perwira berjalan ke arahnya.
Tubuhnya tinggi, jauh lebih tinggi daripada semua orang di ruangan itu. Seragam PDL-nya kotor oleh pasir, ada goresan tipis di rahang, dan tatapannya setajam orang yang terbiasa membuat keputusan saat nyawa dipertaruhkan.
Namun ketika ia berlutut di depan Keira, tangannya tidak kasar.
"Kamu terluka?"
Suara itu membuat jantung Keira berhenti satu detik.
Sepuluh tahun lalu, suara yang lebih muda pernah berkata, "Jangan ganggu dia lagi," kepada Dimas yang mendorongnya ke tanah. Saat itu Keira berusia tiga belas tahun. Anak laki-laki tinggi yang tidak dikenalnya berdiri di depannya dengan bibir berdarah, menjadi satu-satunya orang yang membelanya.
Mata yang sama kini menatapnya.
Darren.
Keira pernah mencari nama itu bertahun-tahun tanpa hasil. Ia tidak menyangka akan menemukannya di bangunan hancur, ribuan kilometer dari Jakarta.
"Hei." Darren menyentuh simpul tali di pergelangan tangannya. "Bisa dengar aku?"
Keira cepat-cepat mengangguk. "Bisa."
Darren memotong talinya, lalu menoleh kepada prajurit di belakangnya. "Bawa semua korban ke kendaraan. Periksa lantai atas."
"Siap, Komandan."
Ia kembali menatap Keira. "Bisa berdiri?"
Keira mencoba. Pergelangan kakinya berdenyut hebat dan lututnya langsung kehilangan tenaga.
Darren menangkap lengannya sebelum ia jatuh.
"Jangan dipaksa."
Hanya tiga kata, diucapkan datar. Namun telapak tangannya yang menahan siku Keira terasa kokoh, seolah tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhnya lagi selama pria itu berdiri di sana.
Di luar bangunan, cahaya matahari menyilaukan mata. Darren berjalan di sisi yang menghadap jalan, tubuhnya menjadi perisai ketika suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.
Keira ingin mengatakan bahwa ia mengenalnya. Ingin bertanya apakah Darren masih mengingat gadis kurus yang pernah bersembunyi di belakang punggungnya.
Namun Darren bahkan belum menanyakan namanya.
Mungkin baginya, Keira hanya satu dari sekian banyak orang yang pernah ia selamatkan.
Di kendaraan evakuasi, seorang prajurit menyerahkan botol air. Tangan Keira masih terlalu gemetar untuk membuka tutupnya.
Darren mengambil botol itu, memutarnya sekali, lalu mengembalikannya.
"Minum pelan-pelan."
Air hangat itu terasa lebih mewah daripada apa pun yang pernah ia cicipi.
Markas sementara pasukan TNI dalam misi perdamaian PBB berdiri di pinggir kota, dikelilingi pagar tinggi dan tenda putih. Seorang petugas medis membersihkan luka Keira, membalut pergelangan kakinya, lalu pergi memeriksa korban lain.
Keira duduk di ranjang lipat sambil memeluk lutut. Tubuhnya sudah aman, tetapi setiap suara keras membuat bahunya tersentak.
Seseorang meletakkan sebungkus roti di sampingnya.
Darren berdiri di depan tenda dengan dua botol air dan obat antiseptik di tangan.
"Kamu belum makan."
"Terima kasih."
Ia membuka bungkus roti, tetapi jarinya masih kaku. Darren tidak menawarkan kata-kata penghiburan. Ia hanya duduk di kursi lipat, menuangkan antiseptik ke kapas, lalu menunjuk goresan di telapak tangan Keira.
"Boleh?"
Keira mengulurkan tangan.
Sentuhan kapas membuatnya meringis. Darren berhenti seketika.
"Sakit?"
"Sedikit. Aku bisa tahan."
"Tidak perlu membuktikan apa-apa di sini."
Keira menatap wajahnya. Pria yang dua menit lalu menjatuhkan tiga orang bersenjata kini meniup pelan kulit di sekitar lukanya agar rasa perih berkurang.
Kontras itu membuat dadanya sesak dengan cara yang berbeda.
"Namamu siapa?" tanya Darren.
"Keira. Keira Hartono."
Darren menutup botol antiseptik. "Keira. Nama yang bagus."
Ia tidak ingat.
Keira menunduk dan menggigit roti agar Darren tidak melihat senyum tipis yang tetap lolos. Tidak apa-apa. Setidaknya kali ini ia tahu nama pria yang menyelamatkannya.
Menjelang sore, panas di sekitar tenda semakin menyengat. Keira berdiri di dekat kendaraan medis, menunggu giliran pemeriksaan lanjutan. Matahari tepat di atas kepalanya, membuat pandangannya berkunang-kunang.
Darren datang dari pos komunikasi. Tanpa berkata apa-apa, ia melepas topi militernya dan memasangkannya ke kepala Keira.
Bayangan topi menutupi wajahnya. Di bagian dalamnya masih tersisa hangat tubuh Darren dan samar aroma keringat bercampur debu.
"Pakai dulu," katanya. "Kamu hampir pingsan."
"Kalau ada prajuritmu yang melihat?"
"Mereka punya pekerjaan lain."
Darren pergi sebelum Keira sempat mengembalikannya.
Sepanjang malam, topi itu terletak di samping bantalnya. Setiap kali ledakan jauh membuat tenda bergetar, jari Keira menyentuh pinggirannya dan napasnya kembali teratur.
Keesokan pagi, rombongan warga negara Indonesia bersiap dievakuasi menuju bandara militer. Keira sudah mengembalikan topi itu, tetapi bekas tekanannya seolah masih tinggal di kening.
Darren berdiri di dekat kendaraan, memeriksa daftar penumpang. Wajahnya kembali dingin dan resmi.
Keira berhenti di hadapannya. "Terima kasih untuk kemarin. Untuk semuanya."
"Itu tugas kami."
"Tetap saja, aku berutang nyawa padamu."
Darren menatap perban di tangannya, lalu memberi isyarat agar ia segera naik. "Jangan kembali ke zona merah tanpa pengawalan."
Keira memegang pintu kendaraan, tetapi kakinya tidak juga bergerak.
"Darren."
Pria itu menoleh. Ada sedikit perubahan di matanya, mungkin karena Keira mengetahui namanya dari para prajurit.
Keira menggenggam tali tasnya. "Kita bisa bertemu lagi?"
Mesin kendaraan menyala. Debu mulai berputar di sekitar sepatu mereka.
Darren diam sesaat, lalu menggeleng tipis.
"Mungkin tidak."
Bab 2
Pengakuan yang Ditolak
Unggahan terakhir Keira belum sempat terkirim ketika pintu ruang server didobrak dari luar.
"Wartawan itu di dalam!"
Keira mencabut kartu memori dari laptop, menyelipkannya ke balik lapisan sepatu, lalu berlari menuju jendela belakang.
Enam bulan sudah berlalu sejak Darren mengatakan bahwa mereka mungkin tidak akan bertemu lagi. Selama itu, Keira kembali bekerja seolah tidak pernah membawa pulang topi militer dalam mimpinya. Ia mengejar laporan berikutnya, lalu berikutnya lagi, sampai penyelidikan membawanya ke sebuah kompleks penipuan daring di negara tetangga Asia Tenggara.
Selama tiga minggu ia menyamar sebagai penerjemah. Ia merekam ruangan tempat puluhan korban dipaksa menipu, daftar rekening, dan wajah orang-orang yang menjaga pintu.
Malam ini penyamarannya terbongkar.
Keira melompat keluar jendela. Telapak kakinya menghantam tanah berlumpur, lalu ia berlari di antara bangunan beton tanpa papan nama.
Suara langkah mengejar dari belakang.
"Berhenti!"
Ia tidak menoleh. Lampu sorot menyapu punggungnya. Di depan, pagar kawat memisahkan kompleks itu dari jalan tanah menuju sungai.
Keira memanjat. Ujung kawat merobek telapak tangannya, tetapi ia terus menarik tubuhnya ke atas.
Sebuah tangan menangkap pergelangan kakinya.
Keira menendang ke belakang. Tumitnya mengenai wajah seseorang. Pegangan itu terlepas dan ia jatuh di sisi lain pagar, bahunya menghantam tanah.
Ia baru bangkit ketika tiga pria mengepungnya.
Salah satu dari mereka mengangkat batang besi. "Sok jadi pahlawan, ya?"
Deru kendaraan terdengar dari ujung jalan. Cahaya putih menerobos gelap, diikuti perintah keras dalam Bahasa Indonesia.
"Lepaskan dia!"
Keira membeku.
Ia mengenali suara itu bahkan sebelum sosok tinggi berseragam keluar dari balik cahaya.
Darren.
Untuk sesaat, Keira mengira kepalanya terbentur terlalu keras. Namun Darren sudah berada di depannya, menahan ayunan batang besi dengan satu tangan dan menjatuhkan penyerang itu ke tanah. Dua prajurit TNI mengejar pria lain yang berusaha lari.
"Keira, ke belakangku."
Ia mengingat namaku.
Pikiran itu datang pada saat yang paling tidak masuk akal. Dada Keira menghangat meski napasnya nyaris putus.
Pria terakhir mengeluarkan senjata dari balik jaket.
Darren menoleh ke arah suara logam.
Keira melihat laras itu lebih dulu.
"Darren!"
Tubuhnya bergerak tanpa izin. Ia mendorong bahu Darren tepat ketika letusan memecah malam.
Panas menyambar bahu kiri Keira. Ia terhuyung, lalu jatuh ke dada Darren.
Wajah pria itu berubah.
"Keira!"
Suara benturan dan teriakan terdengar di belakang mereka. Darren tidak menoleh. Satu tangannya menekan kain di bahu Keira, tangan lain menyangga pinggangnya.
"Lihat aku."
Keira mencoba tersenyum. "Kita bertemu lagi."
"Jangan bicara."
"Katamu mungkin tidak."
"Keira."
Kali ini namanya terdengar seperti peringatan sekaligus doa.
Darren mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju kendaraan. Langkahnya tetap mantap, tetapi rahangnya mengeras saat darah merembes di sela jarinya.
"Pelurunya cuma menyerempet," kata Keira setelah melihat robekan di bahunya. "Aku masih bisa jalan."
"Aku tidak bertanya."
Ia tidak menurunkan Keira sampai mereka tiba di pos sementara TNI yang membantu operasi pemulangan para korban. Petugas medis segera membersihkan luka. Peluru memang hanya menyerempet, tetapi kulit bahu Keira robek cukup panjang.
Darren berdiri di samping ranjang lipat selama proses itu. Ketika jarum jahit menyentuh kulit, jari Keira mencengkeram seprai.
"Pegang ini."
Darren mengulurkan tangannya.
Keira menatap telapak besar itu, lalu menggenggamnya. Darren tidak bergerak meski kukunya menekan kulit.
Setelah petugas medis pergi, ia melepaskan napas panjang. "Maaf."
"Untuk apa?"
"Mendorongmu. Membuat semua orang panik."
Darren menarik kursi mendekat. "Kalau kamu tidak mendorongku, aku tetap bisa menghindar."
Keira mendengus pelan. "Sama-sama kembali hidup, tapi masih sempat sombong."
"Itu fakta."
"Baik, Pak Fakta."
Sudut bibir Darren bergerak tipis. Hanya sebentar, tetapi Keira melihatnya.
Keheningan turun. Dari luar tenda terdengar orang-orang berbicara, suara radio, dan langkah prajurit yang berganti jaga.
Darren mengambil perban baru, lalu memeriksa ikatan di bahunya. Sentuhannya hati-hati, berbeda jauh dari gerakannya saat menghadapi para penyerang.
Jantung Keira memukul tulang rusuk.
Ia sudah menunggu sepuluh tahun. Enam bulan terakhir membuktikan bahwa pertemuan berikutnya mungkin tidak pernah datang. Jika ia membiarkan Darren pergi lagi tanpa mengatakan apa pun, ia akan menyesal.
"Darren."
"Hm?"
"Aku suka kamu."
Tangan Darren berhenti di ujung perban.
Keira memaksa dirinya menatap lurus. "Aku tidak mengatakannya karena kamu baru menyelamatkanku. Aku sudah memikirkannya lama. Sangat lama."
Mata Darren menyimpan sesuatu yang tidak sempat ia baca. Sesaat kemudian, pria itu berdiri dan meletakkan sisa perban di meja.
"Kamu baru kehilangan banyak darah. Istirahatlah."
"Aku tahu apa yang kukatakan."
"Keira."
"Kalau kamu tidak menyukaiku, bilang saja."
Darren menatapnya cukup lama hingga udara di antara mereka terasa menipis.
"Tentara tidak punya waktu untuk pacaran."
Kalimat itu diucapkan pelan, tanpa ejekan. Justru karena Darren terdengar jujur, sakitnya masuk lebih dalam.
Keira mengangguk sekali. "Aku mengerti."
"Besok pagi ada kendaraan yang membawamu ke bandara. Jangan keluar dari area pos."
"Baik, Komandan."
Sapaan itu membangun dinding di antara mereka. Darren tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya menarik tirai tenda agar tertutup rapat sebelum pergi.
Keira menunduk. Bercak darah sudah mengering di ujung kemejanya. Enam bulan ia berharap bisa bertemu lagi, dan ketika harapan itu terkabul, ia malah menyerahkan hatinya untuk ditolak.
Terdengar dua suara perempuan di luar tenda.
"Dia benar-benar menyatakan cinta setelah diselamatkan?"
"Mungkin dia pikir semua pria berseragam akan menikahi perempuan yang mereka tolong."
Keduanya adalah relawan Indonesia dari organisasi keluarga prajurit yang membantu para korban perempuan. Mereka tidak sadar kain tenda terlalu tipis untuk menahan suara.
"Pak Darren itu perwira tinggi. Perempuan seperti dia terlalu nekat."
Tawa kecil menyusul.
Keira memejamkan mata. Ia bisa keluar dan membalas, tetapi bahunya berdenyut dan tenggorokannya terlalu kaku. Untuk pertama kalinya malam itu, ia membiarkan satu tetes air mata jatuh.
Hanya satu.
Setelah itu ia menghapusnya dan merebahkan diri.
Beberapa jam kemudian, suara alarm kebakaran membangunkannya.
Lampu di dalam tenda padam. Orang-orang berteriak dari arah gudang logistik. Asap tipis terlihat di atas pagar, sementara para relawan mengarahkan korban menjauh dari titik api.
Keira turun dari ranjang. Ia baru mencapai pintu ketika seorang perempuan yang pernah dievakuasi dari kompleks berlari mendekat.
"Mbak, cepat! Ada anak yang tertinggal dekat toilet belakang!"
Keira tidak sempat berpikir panjang. Ia mengikuti perempuan itu melewati dua tenda gelap.
Tidak ada anak di sana.
Sebuah kain menutup mulut Keira dari belakang. Bahunya yang terluka ditarik keras sampai pandangannya memutih.
Ia mencoba menjerit, tetapi tubuhnya didorong masuk ke kendaraan pengangkut barang. Perempuan tadi menutup pintu dari luar.
"Bos mau rekamannya kembali," kata seorang pria dalam gelap. "Kalau tidak, kamu yang hilang."
Kendaraan melaju sebelum penjaga menyadari alarm itu hanya pengalihan.
Saat pintu kembali dibuka, udara malam yang lembap menghantam wajah Keira. Suara arus sungai terdengar dekat.
Dua pria menyeretnya ke tepi. Tangan dan kakinya diikat, lalu sebongkah batu dipasang pada tali di pergelangan kakinya.
Keira meronta sampai luka di bahunya terbuka lagi.
"Darren!"
Salah satu pria tertawa. "Pahlawanmu tidak akan datang dua kali dalam satu malam."
Mereka mengangkat tubuh Keira dan mengayunkannya di atas air hitam.
Bab 3
Bukan Pacaran, Tapi Menikah
Pada ayunan ketiga, tangan mereka lepas.
Tubuh Keira terlempar ke udara. Angin menyambar wajahnya, lalu air sungai menelan jeritannya.
Dingin menghantam sampai ke tulang. Batu di kakinya menarik tubuhnya turun, sementara tangan yang terikat membuatnya tidak bisa berenang. Air keruh masuk ke hidung dan mulut.
Keira menendang, tetapi luka di bahunya seperti disobek dari dalam.
Cahaya di permukaan menjauh.
Mungkin ini akhir hidupnya. Bukan di ruang server, bukan oleh peluru, melainkan di dasar sungai yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
Lalu seseorang menerobos permukaan.
Sebuah tangan menangkap bagian belakang bajunya. Kilatan pisau muncul di dalam air, memotong tali di pergelangan tangannya, lalu tali yang menghubungkannya dengan batu.
Keira ditarik naik.
Kepalanya menembus permukaan dan ia batuk keras. Udara masuk bersama rasa sakit. Lengan kokoh melingkari dadanya, menjaga wajahnya tetap di atas air.
"Tarik napas, Keira."
Darren.
Keira ingin menjawab, tetapi hanya batuk yang keluar. Darren berenang menuju tepi dengan satu tangan. Seragam dan sepatu botnya basah kuyup, tetapi pegangannya tidak pernah longgar.
Di darat, suara perlawanan hampir berhenti. Prajurit TNI membekuk seorang penculik, sementara dua orang lain memeriksa kendaraan mereka.
Darren mengangkat Keira dari air dan membaringkannya di tanah.
Penculik terakhir menerjang dari samping. Darren memutar tubuh, tetap melindungi Keira dengan punggungnya, lalu menjatuhkan pria itu dengan satu hantaman. Seorang prajurit segera memborgolnya.
"Lihat aku."
Keira membuka mata. Wajah Darren berada sangat dekat, air menetes dari rambutnya ke pipi.
"Aku tahu kamu datang," bisiknya.
Rahang Darren mengeras. "Jangan mengandalkan itu. Kamu seharusnya tidak meninggalkan pos."
"Mereka bilang ada anak tertinggal."
"Tidak ada anak."
"Sekarang aku tahu."
Darren melepas jaket lapangannya yang basah dan membungkus tubuh Keira meski kain itu tidak banyak membantu. Tangannya berhenti ketika melihat darah merembes dari perban bahu.
"Kita kembali sekarang."
"Para penculik?"
"Akan diserahkan kepada aparat setempat."
Ia mengangkat Keira tanpa meminta izin. Kali ini Keira tidak membantah. Giginya bergemeletuk, dan rasa aman yang datang dari dada Darren terlalu ia butuhkan untuk ditolak.
Di pos, petugas medis mengganti jahitan yang terlepas, menghangatkan tubuh Keira, lalu memaksanya minum sedikit demi sedikit. Seorang relawan perempuan memberinya kaus kering. Karena tidak ada jaket lain yang cukup tebal, Darren meletakkan jaket PDL cadangannya di bahu Keira.
"Aku bisa pakai selimut," kata Keira.
"Selimutnya basah di bagian bawah. Pakai itu."
"Bagaimana denganmu?"
Darren sudah berganti kaus hitam dan celana lapangan. "Aku tidak hampir tenggelam."
"Tapi kamu melompat dengan sepatu bot."
"Aku masih hidup."
Keira memandangnya lama. "Terima kasih sudah datang dua kali dalam satu malam."
Darren tidak menjawab. Ia hanya mengencangkan jaket di tubuh Keira, lalu meminta seorang prajurit berjaga di depan tenda.
"Aku harus memeriksa hasil penangkapan. Jangan ke mana-mana."
"Kalau ada yang bilang anaknya tertinggal?"
Tatapan Darren menajam.
Keira mengangkat kedua tangan. "Aku bercanda."
"Tidak lucu."
Namun saat Darren berbalik, Keira melihat bahunya turun sedikit. Seolah pria itu baru berani bernapas setelah yakin ia benar-benar selamat.
Ponsel Keira bergetar di atas meja lipat.
Nama Vania muncul di layar, disusul panggilan video kedua sebelum Keira sempat menolak yang pertama.
Ia mengusap wajah, lalu menerima.
"Mbak Vania."
Wajah Vania langsung memenuhi layar. Rambutnya tertata sempurna meski di Jakarta sudah lewat tengah malam.
"Akhirnya diangkat juga." Mata Vania menyipit. "Kamu di mana?"
"Masih di luar negeri. Ada masalah dalam penyelidikan."
"Masalah? Papa bilang kamu menghilang dari laporan redaksi sejak sore. Kamu sadar Hartono Media bisa kena masalah kalau kamu mati di sana?"
Bukan apakah Keira terluka. Bukan apakah ia aman. Yang dipikirkan Vania hanya nama perusahaan.
Keira menarik jaket lebih rapat. "Aku pulang besok."
Gerakan itu membuat lambang TNI di dada jaket terlihat jelas.
Vania tertawa pendek. "Itu seragam siapa?"
"Bukan urusanmu."
"Baru pergi beberapa minggu sudah pakai baju laki-laki? Jangan-jangan kamu sengaja cari tentara supaya terlihat hebat."
"Aku baru diselamatkan dari penculikan. Jaketku basah."
"Alasan." Vania mendekatkan wajah ke kamera. "Dengar baik-baik. Begitu tiba di Jakarta, pulang ke rumah. Papa dan Mama sudah bicara dengan keluarga Tan."
Perut Keira mengeras. "Untuk apa?"
"Kamu akan menikah dengan Jason Tan."
Di luar tenda, langkah Darren berhenti.
Keira tidak melihatnya. Matanya tetap pada layar.
"Aku tidak mau."
"Bukan pertanyaan. Jason tertarik padamu, keluarganya punya Tan Advertising, dan kerja sama itu penting untuk perusahaan. Sebagai anak angkat, setidaknya sekali saja kamu harus berguna untuk keluarga."
Setiap kata Vania terasa lebih dingin daripada air sungai tadi.
Keira mengepalkan tangan di balik jaket. "Aku manusia, bukan bagian dari proposal bisnis Papa."
"Jangan sok suci. Jason memang suka bermain, tapi dia kaya. Perempuan dengan latar belakangmu seharusnya bersyukur ada yang mau."
"Kalau dia begitu bagus, Mbak Vania saja yang menikah dengannya."
Wajah Vania berubah. "Keira!"
"Aku tidak akan menikah dengan Jason. Sampaikan kepada Papa dan Mama."
"Kalau kamu berani menolak, jangan berharap masih punya rumah saat pulang."
"Rumah yang menjualku bukan rumah."
Keira memutus panggilan sebelum suaranya pecah.
Tangannya gemetar hebat. Ponsel nyaris jatuh ketika ia meletakkannya kembali.
"Keira."
Ia menoleh.
Darren berdiri di pintu tenda. Dari wajahnya, Keira tahu ia mendengar cukup banyak.
"Kartu memori di sepatumu sudah diamankan dan disalin tim penyidik," katanya. "Dua penculik ditahan. Bukti itu akan diserahkan bersama hasil penggerebekan."
Ketegangan di bahu Keira sedikit turun. Setidaknya semua risiko yang ia ambil tidak berakhir sia-sia.
"Sudah berapa lama mereka merencanakan pernikahan itu?" tanyanya.
"Aku baru tahu malam ini."
"Jason Tan. Kamu mengenalnya?"
"Pernah bertemu dua kali. Dia pikir kata tidak hanya berarti harga penawarannya belum cukup tinggi."
Alis Darren turun. "Kamu akan pulang ke rumah mereka?"
"Aku harus mengambil dokumen dan barangku. Setelah itu aku cari tempat lain."
"Kamu punya tempat aman?"
Keira ingin menjawab iya, tetapi kebohongan itu tidak keluar. "Aku akan memikirkannya."
Ponsel Darren berdering.
Tulisan "Mami" terlihat sekilas di layar sebelum ia melangkah keluar. Keira tidak berniat menguping, tetapi suara Mami Yuliana cukup keras dari seberang sambungan.
"Darren, kamu tidak bisa terus menolak semua orang yang Mami kenalkan. Kamu sudah tiga puluh!"
"Mami, saya masih bertugas."
"Justru itu. Setiap kali pulang, kamu cuma tinggal beberapa hari. Kalau menunggu kamu punya waktu, Mami keburu tua. Besok Mami kirim daftar calon lagi. Pilih satu."
Darren menekan pangkal hidung. "Jangan kirim foto siapa pun."
"Kalau begitu bawa pulang perempuan pilihanmu sendiri. Mami tidak keberatan siapa, asal kamu serius."
Panggilan berakhir setelah beberapa kalimat protes lagi.
Darren berdiri dalam gelap. Dari celah tenda, ia melihat Keira berusaha mengeringkan ponselnya dengan tisu meski tangannya masih gemetar. Perempuan itu baru dua kali hampir mati, tetapi yang membuat matanya merah justru keluarganya sendiri.
Siang tadi ia menyatakan cinta. Malam ini keluarganya hendak menyerahkannya kepada pria yang tidak ia inginkan.
Darren tidak membuat keputusan karena iba. Di lapangan, iba tanpa perhitungan hanya menciptakan korban baru.
Namun ia juga tidak bisa mengabaikan tiga hal. Keira berani masuk ke tempat yang dihindari orang lain. Ia mendorong Darren saat melihat senjata. Dan ketika ditarik dari sungai, hal pertama yang ia lakukan adalah memastikan penculiknya ditangkap agar korban lain aman.
Perempuan itu nekat, tetapi tidak lemah.
Darren mengambil keputusan.
Ia kembali masuk ke tenda.
Keira mengangkat wajah. "Mami kamu marah?"
"Tidak penting."
Darren menarik kursi dan duduk tepat di depannya. Jarak mereka tinggal satu lengan.
"Tadi siang kamu bilang suka padaku. Masih berlaku?"
Keira menatapnya, tidak yakin ia mendengar dengan benar. "Apa?"
"Jawab."
"Kamu menolakku."
"Aku bilang tentara tidak punya waktu untuk pacaran."
"Bukankah itu sama saja?"
"Tidak."
Darren menahan tatapannya. Wajah pria itu begitu serius sampai Keira lupa bernapas.
"Bukan pacaran," katanya. "Tapi menikah."
Suara radio dari luar tenda seolah menjauh. Keira hanya mendengar detak jantungnya sendiri.
"Kamu sedang bercanda?"
"Aku tidak bercanda soal pernikahan."
"Karena telepon Mami kamu?"
"Itu salah satu masalah yang selesai. Kamu juga tidak perlu menikah dengan Jason."
Keira berdiri terlalu cepat. Kepalanya berputar dan Darren langsung memegang lengannya.
"Duduk."
"Bagaimana aku bisa duduk? Beberapa jam lalu kamu menolakku. Sekarang kamu mengajakku menikah."
"Karena aku sudah memikirkannya."
"Selama berapa menit?"
"Cukup lama untuk tahu aku tidak akan menariknya kembali."
Keira mencari belas kasihan di wajahnya, tetapi tidak menemukannya. Yang ada hanya ketenangan seorang pria yang sudah menimbang risiko dan memilih tetap maju.
"Kalau aku bilang iya," bisiknya, "apa ini hanya perjanjian untuk menyelesaikan masalah kita?"
"Aku tidak menikah karena kasihan, Keira."
Darren melepaskan tangannya, tetapi kehangatannya masih tertinggal di kulit.
"Pernikahan dengan seorang prajurit butuh izin. Hidupku tidak selalu aman. Aku bisa pergi berbulan-bulan tanpa banyak kabar. Pikirkan semua itu sebelum menjawab."
"Dan kalau aku tetap mau?"
"Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada jalan setengah-setengah." Suara Darren rendah dan tegas. "Sekali menikah, seumur hidup."
Keira memandang pria yang telah dicarinya selama sepuluh tahun. Mungkin keputusan ini gila. Mungkin besok ia akan bangun dan bertanya apakah luka di bahunya membuat pikirannya rusak.
Namun untuk pertama kalinya, seseorang tidak meminta tubuh, pekerjaan, atau ketaatannya sebagai harga sebuah rumah. Darren memberinya pilihan, sekaligus menjelaskan seluruh risikonya.
Keira mengangguk.
"Aku mau."
Napas Darren berhenti sesaat. Hanya sesaat.
Lalu ia mengambil ponsel dan menghubungi atasannya.
"Selamat malam, Jenderal Gunawan. Saya mengajukan izin prinsip untuk menikah."
Keira menutup mulut, masih belum percaya Darren benar-benar melakukannya sekarang.
Suara di seberang sambungan terdengar berat. "Kamu? Menikah?"
"Benar. Dokumen lengkap saya serahkan setiba di Jakarta."
"Calonmu warga sipil?"
"Ya. Namanya Keira Hartono."
Ada jeda, lalu tawa pendek yang segera berubah resmi. Atasannya mengajukan beberapa pertanyaan dasar, memastikan keputusan itu bukan paksaan, kemudian memberi persetujuan awal agar laporan administrasi diproses setibanya mereka di Indonesia.
"Izin prinsip disetujui. Jangan membuat calon istrimu menunggu."
"Siap. Terima kasih, Jenderal."
Darren menutup sambungan.
Keira masih memeluk jaket militernya. "Semudah itu?"
"Karena catatan tugasku bersih dan operasi di sini selesai malam ini. Pemeriksaan serta dokumen tetap harus dilengkapi di Jakarta."
"Jadi ini sungguhan."
Darren berdiri, lalu merapikan kerah jaket di bahu Keira.
"Besok kita kembali ke Jakarta," katanya. "Kita menikah."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!