Gema tawa meremehkan memantul di dinding marmer Ruang Ujian Akademi Sihir Aethelgard. Di tengah ruangan yang megah dan diterangi pilar-pilar kristal raksasa itu, berdirilah Kaelen Vance. Pakaiannya sederhana, jauh dari jubah sutra mahal yang dikenakan oleh para pewaris bangsawan di sekelilingnya.
Di hadapannya, Master Therion, seorang penguji senior dengan lencana emas di dadanya, menatap Kael dengan raut wajah bosan yang dibuat-buat. Jari-jarinya mengelus lencana itu dengan gerakan arogan.
"Kaelen Vance. Putra dari *Baron* Vance... yang kabarnya wilayahnya baru saja disita," ucap Therion lambat-lambat, memastikan suaranya terdengar oleh seluruh murid bangsawan di tribun. Beberapa kekehan pelan terdengar menyusul kalimat tersebut. "Ujianmu sederhana. Tembakkan mantra api dasar ke arah boneka target itu. Biarkan Alat Ukur *Mana* di sebelahnya menilai seberapa besar potensi sihir yang ada di dalam darahmu. Tentu saja, aku tidak berharap banyak."
Kael tetap diam. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam memindai ruangan.
Bagi orang lain, pilar kristal di sebelah boneka itu adalah artefak suci ciptaan para pendahulu. Bagi Kael, itu tidak lebih dari sebuah *packet sniffer*—alat pembaca data—dengan konfigurasi keamanan yang sangat menyedihkan.
Penyihir normal akan mulai merapal mantra sekarang. Mereka akan meneriakkan barisan kalimat kuno selama puluhan detik, membuang-buang energi hanya untuk mengumpulkan *mana* dari udara. Sangat tidak efisien, membuang *bandwidth* magis tanpa alasan. Kael tidak perlu melakukan itu. Struktur magis untuk mantra api tingkat tinggi sudah tersimpan secara permanen di dalam ingatannya—layaknya memori *NVRAM* yang tak akan pernah terhapus meski ia tertidur pulas. Ia hanya perlu mengeksekusi perintahnya.
Namun, jika ia menembakkan sihir aslinya, boneka itu, kristal pengukurnya, dan setengah dari ruangan ini akan menguap. Ia akan diklasifikasikan sebagai jenius mutlak, dimasukkan ke Kelas A, dan diawasi dua puluh empat jam oleh pelindung magis kerajaan. Itu adalah mimpi buruk bagi agendanya. Kael tidak butuh sorotan; ia butuh titik buta.
Jadi, Kael merakit paket sihir di ujung jarinya. Menggunakan salah satu cincin peraknya yang bertindak sebagai *router* mini, ia mengalihkan jalur energi mantranya dan dengan sengaja menyuntikkan "kode rusak" ke dalam struktur api tersebut. Ia mengubah rute sasarannya menjadi sebuah *loop* mati.
Kael mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jari. *Execute.*
*Pft.*
Sebuah percikan api yang sangat kecil, seukuran kepala korek, muncul di udara selama sepersekian detik. Api itu bahkan tidak sempat menyentuh boneka target sebelum akhirnya padam menjadi seuntai asap tipis yang menyedihkan.
Keheningan melanda ruangan itu selama dua detik, sebelum akhirnya meledak oleh tawa yang riuh. Para bangsawan muda memegangi perut mereka, menunjuk ke arah Kael yang masih berdiri dengan tangan terangkat.
Therion menggelengkan kepalanya dramatis, mencoret sesuatu di perkamennya dengan kasar. "Luar biasa. Bahkan seorang petani tanpa bakat sihir bisa memantik api lebih besar dari itu. Alat ukur *mana* bahkan tidak repot-repot menyala." Therion menatap Kael dengan tatapan jijik. "Kapasitas sihir: Nol. Eksekusi: Gagal total. Kau memalukan sejarah akademi ini, Vance. Kau dibuang ke Kelas F. Pergi dari hadapanku."
Kael menundukkan kepalanya, mengambil langkah mundur seolah-olah beban rasa malu menghancurkan harga dirinya. Namun, di balik poni rambutnya yang menutupi mata, Kael tersenyum tipis. Sangat tipis.
*Kelas F.* Terletak di sayap bangunan tua di ujung akademi. Sebuah area terbuang di mana sistem perlindungan magis dan *firewall* kerajaannya belum pernah diperbarui selama lebih dari dua ratus tahun. Sistem di sana pasti penuh dengan celah kerentanan dan protokol yang kedaluwarsa. Kael kini memiliki akses masuk ke jaringan akademi, dan tidak ada satu pun radar musuh yang akan mencurigai keberadaannya. Semuanya berjalan persis seperti yang ia jadwalkan.
Tinggi di atas ruangan ujian, tersembunyi di balik bayangan balkon pengamat, seorang wanita berpakaian gelap berdiri bersedekap. Elara Vane menatap tajam ke arah sosok Kael yang berjalan meninggalkan arena. Tidak seperti para penguji dan bangsawan di bawah sana, Elara tidak tertawa. Alisnya berkerut dalam.
Matanya terpaku pada kristal pengukur *mana* raksasa di sebelah boneka target. Bagi mata awam, kristal itu sekadar tidak merespons. Tetapi Elara, yang telah menghabiskan seluruh hidupnya meneliti anomali, melihat hal lain. Selama tepat satu detik penuh—saat Kael menjentikkan jarinya—seluruh matriks cahaya di dalam kristal itu membeku secara paksa. Alat pengukur magis paling canggih di akademi itu sempat *hang* dan kehilangan fungsinya secara total, sebelum melakukan *restart* mandiri.
"Anomali macam apa yang baru saja kau tulis ulang ke dalam realitas kita, Kaelen Vance?" bisiknya pelan, matanya tak lepas dari pintu keluar tempat Kael baru saja menghilang.
Pintu kayu ek raksasa menuju Sayap Selatan berderit keras saat Kael mendorongnya. Tidak ada engsel magis berlapis emas di sini, hanya besi berkarat dan pelitur yang mengelupas. Udara berbau apek perkamen basah dan aroma samar ozon—tanda dari sirkuit sihir yang sudah bocor dimakan usia.
Di atas pintu reyot di ujung lorong, sebuah ukiran kusam bertuliskan: **KELAS F - Remedial & Anomali**.
Kael menatap bingkai pintu itu sejenak. Mata abu-abunya tidak melihat serbuk debu, melainkan jaring-jaring benang *mana* kelabu yang saling tumpang tindih. Sistem keamanan magis ruangan ini tidak memiliki enkripsi.
*Terlalu banyak celah,* batin Kael. Ia memutar kenop pintu dan melangkah masuk.
**"BENTAR, BENTAR! INI MELENCENG! AWAS!"**
Sebuah jeritan melengking menyambutnya. Baru satu detik Kael berdiri di dalam ruangan, sebuah bola angin seukuran kepala manusia melesat tak terkendali dari sudut kelas, berputar tidak stabil langsung ke arah wajah Kael.
Di sudut ruangan, seorang remaja laki-laki berambut ikal meringkuk di bawah meja, menutupi kepalanya dengan tas kulit. "Kita bakal mati! Tolong bilang ini nggak bakal meledak!"
Waktu seakan melambat bagi Kael. Di pandangan Kael, bola angin itu bukanlah ancaman mematikan; itu hanyalah sebongkah paket data dengan koordinat X dan Y yang salah ketik.
Ibu jari Kael bergeser satu milimeter, menyentuh cincin perak di jari telunjuknya. *Override,* perintah Kael dalam hati.
Tanpa kilatan cahaya atau gema mantra, Kael membelokkan "alamat" target bola angin tersebut di udara. Tepat lima sentimeter sebelum menghantam hidung Kael, bola angin itu berbelok tajam dengan sudut 90 derajat yang menyalahi hukum fisika. Benda itu menghantam sebuah ember pel di sudut ruangan hingga pecah, menumpahkan air kotor ke lantai.
Remaja di bawah meja perlahan mengintip. "Woah... astaga," ia merangkak keluar, membersihkan debu dari jubah abu-abunya. "Gila, gue kira lo bakal rata sama lantai tadi! Anginnya tiba-tiba belok sendiri? Hoki banget lo, sumpah!" Ia mengulurkan tangan yang gemetar. "G-gue Bax. Spesialis... eh, ledakan tak terduga."
Kael melirik tangan Bax yang terjulur, lalu menatap residu *mana* dari mantra Bax yang berhamburan liar di udara.
"Struktur mantramu terlalu longgar. Kau membuang empat puluh persen energi di titik pelepasan. Tidak efisien," ucap Kael datar. Suaranya tenang, nyaris seperti mesin otomatis yang membacakan laporan kerusakan.
Bax menarik tangannya, menggaruk kepalanya. "Hah? Struktur apa?"
"Dimengerti," balas Kael singkat. Kael berjalan melewati remaja itu, memilih kursi di baris paling belakang yang letaknya tepat di atas titik buta formasi sihir pengawas ruangan ini.
Begitu duduk, Kael tidak mengeluarkan buku. Ia menyandarkan punggungnya, membiarkan jari-jarinya mengetuk pelan tepi meja kayu. *Tap. Tap. Tap.* Ia mulai memetakan jalur jaringan magis akademi dari terminal barunya ini.
Bax menelan ludah. "Oke... orang aneh baru masuk," bisiknya.
Sementara itu, di luar ruangan, tanpa Kael atau Bax sadari, sebuah gagak ilusi dengan mata semerah saga bertengger di dahan pohon kering. Melalui mata gagak tersebut, jauh di dalam perpustakaan tua, Elara Vane sedang duduk mencatat sesuatu di perkamennya dengan senyum miring.
*"Angin tidak membelok secara instan tanpa gangguan spasial,"* gumam Elara. Ujung bulu angsanya menari di atas perkamen. *"Variabel yang sangat, sangat menarik."*
Malam merangkak turun menyelimuti Akademi Sihir Aethelgard. Di saat para murid bangsawan di asrama elit terlelap di atas kasur berlapis bulu angsa, Kaelen Vance masih terjaga di dalam kamarnya yang sempit dan berdebu di sayap asrama Kelas F.
Tidak ada penerangan magis di kamar itu. Kael duduk bersila di atas lantai kayu yang berderit, menatap ke arah dinding kosong. Jari telunjuk dan tengahnya mengetuk lutut secara ritmis.
Bagi mata biasa, kamar itu gelap gulita. Namun di mata Kael, ruangan itu dipenuhi oleh benang-benang cahaya kelabu yang bersilangan. Itu adalah sirkuit sihir dasar akademi. Infrastruktur jaringan tua yang ditinggalkan.
Kael memutar perlahan cincin perak di jari manisnya. Dia mulai mengirimkan ping pasif, sebuah gelombang mana yang sangat kecil dan tidak berbahaya, sekadar untuk memetakan topologi jaringan di sekitarnya. Gelombang itu merayap menyusuri dinding, merambat melalui lantai, dan menembus fondasi bangunan.
Data mulai mengalir masuk ke dalam ingatan Kael. Sistem keamanan akademi ini dibangun seperti kue lapis yang berantakan. Para pendahulu terus menambahkan mantra pertahanan baru di atas mantra lama tanpa pernah membersihkan kode aslinya. Hasilnya adalah sebuah firewall raksasa yang tampak tebal dari luar, namun penuh dengan celah keamanan di bagian dalam.
Terlalu banyak node yang terbuka, gumam Kael pelan. Suaranya tenggelam dalam kesunyian malam. Jika aku ingin mengakses arsip inti tanpa memicu alarm, aku butuh terminal dengan izin admin tingkat menengah. Kelas F tidak memiliki akses sejauh itu.
Peta jaringan di kepalanya menunjukkan sebuah titik buta besar di pusat akademi. Titik itu terhubung langsung dengan sistem utama, namun lalu lintas datanya sangat sepi. Lokasinya berada di Perpustakaan Lama.
Tanpa membuang waktu, Kael bangkit berdiri. Dia mengenakan jubah hitam sederhananya dan menyelinap keluar kamar. Langkahnya tidak bersuara, meniru cara kerja paket data siluman yang menyusup di bawah radar pemindai.
Perpustakaan Lama akademi adalah bangunan melingkar yang terasing dari gedung utama. Udara di sana berbau kertas lapuk, kayu kering, dan tinta yang mengering. Saat Kael mendorong pintu besarnya, tidak ada penjaga yang menahan. Sistem penguncinya mengandalkan pembaca sidik mana, yang dengan mudah dimanipulasi Kael dengan mengubah frekuensi energi di ujung jarinya agar cocok dengan kunci tersebut.
Bagian dalam perpustakaan dipenuhi rak-rak raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kristal baca berukuran besar yang bertindak sebagai terminal indeks. Itulah target Kael.
Dia baru saja mengambil tiga langkah mendekati terminal itu ketika telinganya menangkap suara bisikan panik dari balik rak bagian sejarah kuno.
Tolong jangan meledak, tolong jangan meledak, bacaannya dari kiri ke kanan atau atas ke bawah sih?
Kael menghela napas panjang tanpa suara. Tingkat efisiensi operasinya baru saja menurun drastis. Dia mengenali suara itu.
Dari balik rak, Bax muncul dengan rambut ikalnya yang masih berantakan. Remaja itu memegang sebuah perkamen kusam dengan tangan gemetar. Di depan dada Bax, sebuah pusaran mana berwarna merah menyala mulai terbentuk, berputar dengan kecepatan yang tidak stabil. Suhu ruangan melonjak naik.
Bax sedang mencoba mempraktikkan sihir pemanas ruangan, namun sintaks mantranya terbalik. Pusaran merah itu membesar, berderak mengancam akan melepaskan gelombang panas yang bisa membakar seluruh isi perpustakaan.
Alarm keamanan pasif di langit-langit mulai berkedip pelan. Jika pusaran itu meledak, sistem keamanan pusat akan menyala, dan posisi Kael akan terbongkar.
Vance! seru Bax panik saat melihat Kael berdiri di sana. Lo ngapain di sini?! Eh, lupakan! Tolong gue! Ini nggak mau mati!
Kael tidak panik. Dia berjalan santai mendekati Bax. Matanya memindai pusaran merah tersebut. Enam puluh persen energi terbuang sia-sia karena tabrakan perintah di dalam inti mantra.
Diam, ucap Kael datar.
Kael mengangkat tangan kanannya. Dia tidak mencoba memadamkan api itu dengan sihir air, karena benturan dua elemen akan menciptakan ledakan uap yang mengaktifkan sensor gerak. Alih-alih merusak, Kael memilih untuk meretas.
Cincin di jarinya berputar selaras dengan aliran pusaran itu. Kael mencegat jalur energi dari perkamen Bax, lalu melakukan override pada protokol tujuannya. Dia mengalihkan rute panas tersebut, menyalurkannya dengan mulus ke dalam sebuah bola dunia kuno berbahan kuningan yang tergeletak di meja terdekat.
Dalam sekejap mata, pusaran merah itu menghilang tanpa suara. Bola kuningan di atas meja kini bersinar merah terang, menyerap seluruh panas hingga ruangan kembali ke suhu normal.
Alarm di langit-langit kembali meredup.
Bax jatuh terduduk di lantai, memeluk perkamennya sambil terengah-engah. Gila... lo lakuin itu lagi. Lo beneran batalin sihir gue tanpa merapal mantra pelindung? Lo ini sebenarnya siapa sih?
Kau memasukkan variabel elemen sebelum menentukan koordinat spasialnya, jawab Kael dingin, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Bax. Itu kesalahan dasar pemula. Sangat tidak efisien. Pergi dari sini sebelum penjaga berpatroli.
Bax mengangguk cepat, merapikan barang-barangnya, lalu berlari keluar perpustakaan tanpa menoleh ke belakang.
Kael kembali memutar tubuhnya menghadap terminal kristal, bersiap untuk melanjutkan proses peretasannya. Namun, sebuah suara tepuk tangan pelan, tajam, dan lambat terdengar dari arah tangga spiral di lantai dua yang gelap.
Plok. Plok. Plok.
Pengalihan rute spasial tanpa adanya gangguan residu mana. Tidak ada gesekan elemen. Tidak ada sisa energi yang terbuang ke udara. Suara seorang wanita memecah keheningan, menggemakan nada sarkastis yang elegan.
Dari balik bayangan rak di lantai dua, Elara Vane melangkah maju. Cahaya remang-remang menyinari separuh wajahnya. Matanya yang tajam menatap Kael dengan rasa ingin tahu yang tak tertutupi.
Kau tahu, Kaelen Vance, ucap Elara, menyandarkan lengannya di pagar pembatas kayu. Aku menghabiskan tiga tahun meneliti anomali pembelokan mana, dan tidak ada satu pun pakar di akademi ini yang percaya bahwa hal itu mungkin dilakukan tanpa lingkaran transmutasi raksasa. Namun kau, seorang siswa buangan berkapasitas mana nol, baru saja melakukannya dua kali dalam sehari dengan santai.
Kael tidak mundur. Wajahnya tetap sedatar papan ketik. Dia menatap balik wanita itu, mengukur tingkat ancamannya.
Elara tersenyum miring, sebuah senyuman yang lebih terlihat seperti seringai predator yang menemukan mangsa langka.
Jadi, lanjut Elara perlahan. Subjek gagal macam apa kau ini sebenarnya?
Kael menatap wanita di lantai dua itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Otaknya bekerja cepat, mengkalkulasi variabel ancaman. Elara Vane. Peneliti anomali. Seorang bangsawan terasing yang memiliki akses penuh ke seluruh arsip di gedung ini. Di mata Kael, Elara bukanlah ancaman fisik; dia adalah Administrator Sistem yang memegang kunci enkripsi tingkat tinggi.
Aku bukan subjek gagal, jawab Kael datar. Suaranya membelah kesunyian perpustakaan, tenang dan tanpa intonasi. Aku hanya menolak menggunakan sistem yang dirancang dengan sangat buruk.
Elara tertawa pelan. Tawanya terdengar renyah namun tajam. Dia menuruni tangga spiral perlahan, jubah gelapnya berdesir menyapu anak tangga kayu. Dia berhenti tepat dua meter di hadapan Kael, menatap pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sistem yang buruk? ulang Elara, menaikkan sebelah alisnya. Kau baru saja menyebut sihir leluhur Aethelgard yang diagungkan selama ribuan tahun sebagai sistem yang buruk? Jika Master Therion mendengar ini, kau akan digantung di alun-alun akademi sebelum fajar.
Kael melirik ke arah meja kerja Elara di sudut ruangan. Di atasnya, tumpukan perkamen berserakan, penuh dengan coretan diagram sirkuit mana yang rumit. Tinta di beberapa bagian masih basah.
Mereka memuja ledakan besar dan membuang sembilan puluh persen energi mereka ke udara kosong. Itu bukan keagungan. Itu inefisiensi, balas Kael. Matanya kini terpaku pada satu perkamen besar yang dipenuhi lingkaran sihir tumpang tindih. Kau sedang mencoba menyatukan anomali pembelokan spasial dengan teori kompresi mana. Sudah berapa lama kau terjebak di persamaan baris ketujuh itu?
Langkah Elara terhenti. Seringai di wajahnya memudar seketika, digantikan oleh tatapan waspada yang dingin. Bagaimana kau bisa tahu sejauh mana penelitiku dari jarak sejauh ini?
Kael berjalan mendekati meja tersebut. Elara tidak mencegahnya, terlalu diliputi rasa penasaran yang mengalahkan kewaspadaannya. Kael menunjuk ke salah satu simbol di tengah perkamen.
Kau membuat aliran datamu, maksudku, aliran manamu berputar dalam lingkaran tertutup. Kau mengharapkan tekanan yang tercipta akan membelokkan ruang, kata Kael, jarinya menelusuri garis tinta tersebut. Tapi kau lupa memberi jalur keluar. Itu menciptakan penumpukan memori. Hasilnya? Setiap kali kau mencoba mempraktikkannya, mantramu akan membeku sendiri sebelum dieksekusi.
Napas Elara tertahan. Mata wanita itu membesar. Itulah tepatnya yang terjadi setiap kali dia mencoba eksperimen tersebut di laboratorium bawah tanah. Mantranya selalu mati mendadak, seolah tertelan ketiadaan.
Lalu apa yang salah? tanya Elara, suaranya kini kehilangan nada merendahkan, berganti dengan kehausan akademis yang murni.
Kau memasukkan perintah eksekusi sebelum protokol persiapannya selesai, jawab Kael tenang. Pindahkan simbol penyelarasan elemen ini ke luar lingkaran utama. Beri jeda satu detik sebelum eksekusi. Biarkan sistem bernapas.
Elara dengan cepat meraih pena bulunya. Dia mencoret bagian yang ditunjuk Kael dan memindahkannya sesuai instruksi. Elara memejamkan mata, mengalirkan sebersit mana kecil ke dalam perkamen itu. Alih-alih meledak atau membeku seperti biasa, perkamen itu melayang pelan sejauh tiga sentimeter dari meja, lalu perlahan kembali turun dengan mulus. Ruang di atas meja baru saja melengkung dengan sempurna tanpa ada suara sedikit pun.
Sempurna. Elara menatap perkamen itu dengan napas tersengal. Tiga tahun, gumamnya. Tiga tahun aku memecahkan kepala untuk teori ini, dan seorang siswa buangan Kelas F menyelesaikannya dalam tiga detik.
Elara memutar tubuhnya, menatap Kael dengan pandangan baru. Bukan lagi sebagai anomali yang harus diteliti, melainkan sebagai entitas yang setara.
Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini, Kaelen Vance, kata Elara, suaranya kembali tajam dan profesional. Kau memberiku jawaban pencerahan. Apa yang kau inginkan sebagai imbalannya? Uang? Perlindungan dari faksi bangsawan yang mengincarmu?
Akses, jawab Kael seketika.
Alis Elara kembali bertaut. Akses?
Gedung ini memiliki arsip terlarang di lantai bawah tanah, tempat cetak biru pertahanan akademi disimpan. Terminal di Kelas F tidak memiliki otoritas untuk menembus ke sana, jelas Kael datar. Aku butuh pinjaman identitas sihirmu. Stempel admin tingkat tinggi milikmu.
Elara tertawa sinis. Kau memintaku menyerahkan kunci ke jantung rahasia akademi kepada seorang siswa tahun pertama? Itu pengkhianatan tingkat tinggi.
Dan apa yang kau pelajari di meja ini juga dianggap sihir terlarang oleh kuil utama, balas Kael tanpa ragu. Kita berada di area abu-abu yang sama. Kau adalah gerbangku menuju informasi, dan aku adalah pemecah kode bagi kebuntuan penelitianmu. Sebuah transaksi yang saling menguntungkan.
Keheningan menyelimuti perpustakaan tua itu. Hanya terdengar detak jam pasir di sudut ruangan. Elara menatap mata abu-abu Kael, mencari kebohongan atau niat heroik yang naif. Dia tidak menemukan apa pun. Hanya ada kalkulasi dingin yang menyerupai jurang tak berdasar.
Menarik, bisik Elara akhirnya. Sangat menarik.
Elara mengangkat tangan kanannya, melepaskan sebuah cincin bermata batu obsidian dari jari telunjuknya. Dia melemparkan cincin itu kepada Kael. Kael menangkapnya dengan sigap.
Itu adalah kunci akses tingkat tiga. Jangan sampai ketahuan oleh penjaga, atau aku akan bersumpah bahwa kau mencurinya dariku dan aku akan menonton eksekusimu sambil minum teh, ucap Elara dengan senyum miring.
Dimengerti, balas Kael singkat. Dia menyimpan cincin obsidian itu ke dalam saku jubahnya.
Tanpa mengucapkan basa-basi atau salam perpisahan, Kael berbalik dan berjalan keluar dari perpustakaan, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Elara menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Tangannya kembali menyentuh perkamen penelitiannya. Malam ini, sebuah protokol baru baru saja disepakati. Dan Aethelgard tidak akan pernah sama lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!