Bab 001: Apa Bedanya Aku Baca atau Tidak?
Pulpen hitam itu diletakkan tepat di depan Arga Pratama.
Di atas meja kayu jati ruang kerja Rumah Anggrek, selembar perjanjian perceraian sudah terbuka pada halaman terakhir. Nama Kiara Hartono tercetak rapi di sebelah kiri. Nama Arga Pratama menunggu di sebelah kanan, kosong, seolah dua tahun hidupnya hanya tinggal satu garis tanda tangan.
Ruangan itu terlalu sunyi.
Dari luar jendela, halaman Kebayoran Baru terlihat basah setelah hujan pagi. Anggrek putih di teras masih meneteskan air. Di dalam, pendingin ruangan bekerja tanpa suara, tetapi udara di antara mereka tetap terasa berat.
Kiara duduk di seberangnya dengan blazer abu-abu dan rambut terikat rapi. Wajahnya tenang, wajah yang biasa muncul di halaman bisnis sebagai CEO termuda PT Hartono Group. Hanya jarinya yang mengkhianati dia. Ujung jarinya terus menekan sudut map kulit di meja.
"Kamu bisa baca dulu," katanya pelan.
Arga menatap halaman itu sebentar.
Perjanjian pranikah. Pemisahan harta penuh. Kompensasi Rp 2 miliar setelah masa pernikahan dua tahun berakhir. Denda Rp 1 triliun jika ia menuntut harta keluarga Hartono atau mempermalukan nama keluarga.
Semua sudah ia tahu.
Selama dua tahun, keluarga Hartono memastikan ia tahu posisinya tanpa perlu membaca satu pasal pun.
Di ruang makan, Ratna Hartono pernah berkata di depan sepupu-sepupu Kiara, "Menantu nggak punya kerjaan, numpang makan, numpang tidur. Setidaknya bantu angkat galon."
Di acara keluarga, Bimo Hartono tidak pernah memperkenalkan namanya. Ia cukup berkata, "Ini suaminya Kiara." Bagi Bimo, Arga hanya aksesori yang kebetulan berdiri di belakang putrinya.
Pada Lebaran tahun lalu, Galang Hartono melempar kunci mobil ke dadanya. "Bisa nyetir, kan? Jangan cuma bisa cuci piring."
Arga melakukan semuanya.
Menyetir. Mencuci piring. Membawa koper. Menunggu di parkiran. Menunduk ketika orang-orang tertawa.
Tidak sekali pun ia membantah.
Hari ini, mereka pikir masa sabarnya habis karena mereka yang mengusirnya.
Mereka salah.
Arga mengambil pulpen.
Kiara mengangkat wajah. "Arga."
Ujung pulpen sudah menyentuh kertas.
"Baca atau tidak baca, apa bedanya?" suara Arga datar. "Hasilnya yang kalian mau tetap sama."
Goresan tanda tangannya turun tanpa ragu.
Satu garis.
Dua tahun selesai.
Kiara menatap tanda tangan itu cukup lama. Bibirnya bergerak sedikit, seperti ada kalimat yang hampir keluar, tetapi mati sebelum menjadi suara. Ia mengambil map itu, menutupnya, lalu menggesernya ke sisi meja.
"Dokumen ini akan disimpan kuasa hukum dulu," katanya. "Proses pengadilan belum diajukan hari ini."
Arga mengangguk. "Aku tahu."
Di Indonesia, tanda tangan bukan akta cerai. Pengadilan belum memutuskan apa pun. Secara hukum, pernikahan mereka masih hidup, hanya napasnya dibuat sangat pelan.
Kiara membuka aplikasi bank di ponselnya.
Beberapa detik kemudian, ponsel tua Arga bergetar di saku celananya.
Transfer masuk.
Rp 3.000.000.000.
Angka itu muncul di layar dengan dingin. Tiga miliar. Satu miliar lebih banyak dari isi perjanjian.
Arga menatap angka itu. Lalu menatap Kiara.
Kiara tidak menatap balik.
"Itu bukan dari keluarga," katanya. "Dari rekening pribadi saya."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu pendek, tetapi membuat jemari Kiara berhenti.
Di luar sana, ia bisa memotong negosiasi bernilai triliunan rupiah dengan satu kalimat. Di depan Arga, untuk menjelaskan tambahan satu miliar, ia justru seperti kehilangan bahasa.
"Kamu tinggal di rumah ini dua tahun," jawabnya akhirnya. "Kamu... tetap membantu banyak hal."
Arga hampir tersenyum.
Membantu banyak hal.
Itu cara paling mahal untuk mengatakan maaf tanpa mengucapkan maaf.
"Terima kasih," katanya.
Kiara mengangkat wajah. Untuk sesaat, sesuatu di matanya retak oleh rasa bersalah yang terlalu lama disimpan di tempat gelap.
"Setelah ini," kata Kiara, "sopir bisa mengantarmu."
Kalimat itu pelan.
Tetapi cukup.
Arga mengerti.
Ruangan itu membiarkannya pergi begitu saja. Tak satu tangan pun menahan, tak satu suara pun memanggilnya tinggal.
Ia berdiri, mengambil ransel tua yang sejak pagi sudah bersandar di dekat kaki kursi. Ransel itu kecil, pudar, dan hampir kosong. Dua kaus. Satu jaket lusuh. Satu dompet. Satu ponsel.
Itulah semua barang yang menurut keluarga Hartono ia miliki.
Kiara ikut berdiri, tetapi hanya sampai di belakang meja.
"Arga," panggilnya lagi.
Ia berhenti di ambang pintu.
"Hati-hati."
Arga menoleh sedikit. "Kamu juga."
Ia berjalan keluar melewati koridor marmer Rumah Anggrek. Dua pelayan menunduk canggung. Seorang satpam di dekat pintu utama membuka pintu lebih cepat daripada biasanya, mungkin karena hari ini semua orang sudah tahu: si numpang akhirnya pergi.
Arga melangkah ke halaman.
Di belakangnya, pintu rumah besar itu tertutup pelan.
Di dalam ruang kerja, Kiara masih berdiri dengan map perceraian di meja. Ponselnya berdering sebelum ia sempat menarik napas.
Nama ayahnya muncul di layar.
"Ya, Pak?"
Suara Bimo Hartono masuk tanpa salam. "Kiara, besok malam kamu datang ke ulang tahun Rendra Kusuma di Hotel Mulia. Jangan bawa Arga. Urusan kalian sudah selesai, kan?"
Kiara menggenggam ponsel lebih erat. "Baru tanda tangan perjanjian. Belum ada putusan pengadilan."
"Jangan main istilah hukum sama Papa. Intinya, kamu sudah bebas. Rendra tertarik padamu. Kusuma Group bisa jadi mitra penting kalau kamu pintar membawa diri."
Kiara memejamkan mata.
Di meja, tinta tanda tangan Arga bahkan belum kering.
"Jadi karena ini perceraian harus hari ini?" suaranya turun, dingin.
Di ujung telepon, Bimo terdiam setengah detik. Lalu ia berkata lebih keras, "Ini demi keluarga. Jangan keras kepala. Arga itu tidak memberi apa-apa untuk hidupmu."
Kiara melihat ke pintu yang baru dilewati Arga.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajah CEO termuda di Sudirman tampak benar-benar lelah.
Sementara itu, di luar pagar Rumah Anggrek, Arga berhenti di bawah pohon tanjung. Hujan sudah berhenti. Jalanan Kebayoran Baru mengilap, memantulkan mobil-mobil mahal yang lewat tanpa peduli.
Ia mengeluarkan ponsel tua dari saku.
Kontak yang ia tekan tidak memiliki nama lengkap. Hanya satu kata.
Gacrux.
Panggilan tersambung pada dering pertama.
"Bos."
Satu kata itu menghapus seluruh suara Rumah Anggrek dari belakangnya.
Arga memandang pagar tinggi keluarga Hartono. "Aku masih hidup."
Di seberang sana, Gacrux tidak bertanya mengapa. Orang seperti dia tidak membuang waktu untuk hal yang sudah jelas.
"Dikonfirmasi."
Arga memasukkan tangan kiri ke saku. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara ban mobil di aspal basah.
"Dan PT Kusuma Group akan lenyap."
Hening sebentar.
Lalu Gacrux menjawab, "Dosier Kusuma sudah lengkap. Kredit macet, laporan keuangan ganda, pembayaran ke pejabat pengadaan, semua ada. Tinggal perintah."
"Tahan sampai besok malam."
"Dipahami."
Arga memutus panggilan.
Ia berjalan tanpa menoleh lagi.
Sore berubah menjadi malam ketika sebuah mobil hitam tanpa logo berhenti di depan sebuah gerbang tertutup di Menteng. Gerbang itu terbuka tanpa bunyi. Di baliknya berdiri Villa Puncak, rumah pribadi dengan halaman luas, kaca tinggi, dan helipad kecil yang basah oleh sisa hujan.
Lampu-lampu Jakarta menyala jauh di bawah sana, seperti lautan emas yang tidak pernah tidur.
Seorang kepala rumah tangga membungkuk ketika Arga turun.
"Selamat datang kembali, Pak Arga."
Arga hanya mengangguk. Ransel tuanya masih menggantung di satu bahu, tampak aneh di tengah lantai batu mahal dan dinding kaca raksasa. Ia naik ke ruang kerja lantai dua, menaruh ransel itu di sofa, lalu berdiri di depan jendela.
Di atas meja, sebuah tablet sudah menyala.
Cakra Capital - Quarterly Report.
Angka utama di halaman pertama tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana dengan tenang, seperti sesuatu yang tidak perlu membuktikan diri.
Net asset value: Rp 180 triliun.
Ponselnya kembali bergetar.
Gacrux.
"Bos, laporan kuartal sudah dikunci. Bu Dinda meminta konfirmasi akhir sebelum rilis internal. Semua struktur tetap atas nama Cakra Capital. Nama Anda bersih dari dokumen publik."
"Bagus."
"Ada satu hal lagi."
Arga menatap pantulan dirinya di kaca. Kaos murah. Jaket lama. Wajah laki-laki yang dua jam lalu baru ditandatangani keluar dari sebuah pernikahan seperti barang rusak.
"Katakan."
"Rendra Kusuma mengadakan pesta ulang tahun besok malam. Lusa, mungkin sudah tidak ada yang bisa dirayakan lagi."
Arga diam.
Di bawah langit Jakarta, pria yang dipanggil benalu oleh keluarga istrinya berdiri di atas salah satu rumah paling sunyi di Menteng.
Mereka mengenalnya sebagai menantu yang tidak punya apa-apa.
SCBD mengenalnya sebagai bayangan yang tidak pernah muncul.
Para veteran tertentu mengenalnya sebagai mantan Letnan Kolonel Kopassus yang namanya dikunci negara.
Dan di balik layar Cakra Capital, hanya sedikit orang yang tahu nama satu itu.
Acrux.
Arga menutup laporan kuartal.
"Besok malam," katanya, "biarkan dia meniup lilin dulu."
Bab 002: Pesta Keluarga Kusuma
Besok malam itu datang bersama hujan tipis dan lampu-lampu mahal Hotel Mulia Senayan.
Kiara Hartono turun dari Alphard hitam di depan lobi utama. Gaun hitamnya sederhana, bahunya tertutup blazer tipis, rambutnya disanggul rendah. Ia tidak terlihat seperti perempuan yang datang untuk merayakan ulang tahun seseorang. Ia terlihat seperti CEO yang dipaksa menghadiri rapat beracun.
Bimo Hartono turun di sisi lain, memasang senyum yang terlalu cepat.
"Kiara, jangan bikin suasana kaku," katanya sambil membenarkan kancing jas. "Rendra itu pewaris tunggal PT Kusuma Group. Kalau hubungan kita dengan Kusuma baik, posisi Hartono juga aman."
Ratna Hartono menatap putrinya dari ujung kepala sampai kaki. "Malam ini kamu senyum. Jangan pasang wajah seperti sedang dipaksa."
"Memangnya saya tidak dipaksa?" tanya Kiara.
Ratna mendesis pelan. "Jangan mulai."
Bimo segera menengahi. "Papa dan Mama cuma mengantar. Setelah itu kami ada urusan dengan Bu Agung. Rendra sudah menunggu di ballroom."
Kiara berhenti di bawah cahaya lobi. "Jadi kalian benar-benar meninggalkan saya di sini?"
"Kamu bukan anak kecil," jawab Bimo. "Dan kamu sudah tidak perlu memikirkan Arga."
Nama itu jatuh di antara mereka.
Kiara menggenggam clutch-nya lebih erat. Sehari lalu, Arga keluar dari Rumah Anggrek membawa ransel tua. Sehari lalu, ia tidak menahan laki-laki itu. Sekarang keluarganya mengantarnya ke pesta laki-laki lain seolah dua tahun pernikahan hanya noda kecil di kertas keluarga Hartono.
"Belum ada putusan pengadilan," kata Kiara.
Ratna memutar mata. "Lagi-lagi itu. Yang penting semua orang tahu kalian sudah selesai."
Di pintu ballroom, seorang pria berjas putih menyambut mereka dengan senyum lebar.
Rendra Kusuma.
Usianya awal tiga puluhan, wajah rapi, jam tangan mahal, dan kepercayaan diri yang terlalu sering dibiarkan menang. Di belakangnya berdiri dua pria bertubuh besar dengan setelan gelap. Bukan pengawal resmi hotel. Orang pribadi.
"Kiara," Rendra berkata, suaranya hangat seperti iklan. "Akhirnya datang juga."
Ia menoleh kepada Bimo dan Ratna. "Pak Bimo, Bu Ratna, terima kasih sudah mengantar."
Bimo tertawa kecil. "Kami serahkan Kiara sebentar ke Mas Rendra. Mohon dijaga."
Kalimat itu membuat perut Kiara mengeras.
Rendra menangkap perubahan di wajahnya, tetapi hanya tersenyum lebih dalam. "Tentu. Saya akan jaga dengan sangat baik."
Lima menit kemudian, Bimo dan Ratna sudah pergi.
Ballroom Hotel Mulia Senayan berkilau. Lampu kristal menggantung di atas meja bundar. Musik jazz mengalir pelan. Orang-orang dari lingkar bisnis Jakarta berdiri dalam kelompok kecil, saling menyapa dengan gelas tinggi di tangan. Nama Kusuma malam itu membuat semua orang tersenyum lebih patuh.
Rendra membawa Kiara ke meja utama.
"Saya dengar urusanmu dengan menantu numpang itu sudah selesai," katanya.
Kiara meletakkan clutch di atas meja. "Itu urusan pribadi saya."
"Pribadi?" Rendra tertawa pelan. "Kiara, semua orang di ruangan ini tahu siapa dia. Laki-laki tanpa pekerjaan, tinggal di rumah mertua, hidup dari uang istri. Jujur saja, saya tidak mengerti kenapa kamu tahan dua tahun."
Kiara menatapnya dingin. "Kalau tujuanmu malam ini menghina seseorang yang tidak ada di ruangan ini, saya pulang."
Ia hendak berdiri, tetapi Rendra mengangkat tangan.
"Maaf. Saya hanya bicara apa adanya." Senyumnya tidak hilang. "Duduklah. Setidaknya minum dulu. Malam ini ulang tahun saya."
Seorang pelayan datang membawa nampan. Rendra mengambil segelas sampanye, lalu mengambil botol air mineral berlabel hotel untuk Kiara.
"Saya tahu kamu tidak suka minum alkohol saat acara bisnis," katanya. "Air mineral saja."
Kiara tidak langsung menyentuhnya.
Rendra tertawa. "Kamu curiga pada saya?"
"Saya terbiasa curiga pada pria yang terlalu yakin semua orang harus menerima niat baiknya."
Untuk sesaat, mata Rendra mengeras.
Lalu ia kembali tersenyum.
"Kamu menarik, Kiara. Itu sebabnya saya menyukaimu."
Di sisi ballroom, salah satu pria Rendra memberi isyarat kecil kepada pelayan. Gerakannya nyaris tidak terlihat. Botol air mineral yang semula berada di nampan berganti dengan botol lain saat pelayan berbalik melewati dekorasi bunga.
Di lantai dua hotel, di ruang kontrol servis yang lampunya dibuat redup, seorang teknisi shift malam menerima amplop tipis dari pria berkemeja hitam.
"CCTV koridor suite lantai dua belas delay tiga menit," kata pria itu datar.
Teknisi menelan ludah. "Ini melanggar SOP."
"SOP tetap jalan. Hanya maintenance log. Tiga menit."
Pria berkemeja hitam itu bukan staf hotel. Ia bagian dari tim Gacrux.
Sementara itu, di parkiran basement, dua orang lain sudah memotret pelayan yang menukar botol. Satu sampel air cadangan masuk ke kantong bukti kecil tanpa menarik perhatian siapa pun.
Arga Pratama tidak datang ke pesta.
Tetapi matanya sudah berada di sana.
Di ballroom, Kiara akhirnya membuka tutup botol.
Ia minum dua teguk.
Rendra memperhatikan gerakan tenggorokannya dengan sabar.
Sepuluh menit kemudian, suara di sekitar Kiara mulai memanjang. Lampu kristal yang semula jelas berubah menjadi lingkaran kabur. Ia menekan pelipis, mencoba berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?" Rendra bertanya.
Nada suaranya terlalu siap.
Kiara mundur setengah langkah. "Saya mau pulang."
"Kamu pucat. Mungkin terlalu lelah." Rendra memberi isyarat kepada dua pengawalnya. "Saya sudah siapkan suite untuk istirahat sebentar."
"Tidak."
Kiara berbalik, tetapi lututnya melemah. Ia menahan tubuh pada tepi meja. Beberapa tamu melihat, namun hanya saling menatap. Tidak ada yang ingin mencampuri urusan pewaris Kusuma Group.
Rendra mendekat dan menurunkan suara. "Jangan keras kepala. Tidak ada yang akan menolongmu di sini kalau saya bilang kamu mabuk."
Kiara menampar tangannya ketika ia mencoba memegang siku.
Tamparan itu tidak keras. Tetapi cukup untuk membuat wajah Rendra berubah.
"Bawa dia," katanya dingin.
Dua pengawal bergerak.
Di tengah kabut yang makin tebal, Kiara meraba ponsel di clutch-nya. Jarinya gemetar. Layar ponsel menyala. Daftar kontak terakhir terbuka karena kebiasaan.
Nomor paling atas masih tersimpan dengan satu nama.
Suamiku.
Ia sendiri lupa kapan terakhir kali menggantinya.
Panggilan tersambung.
Di dalam lift menuju suite lantai dua belas, Kiara menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya pecah, hampir tidak menjadi kata.
"Suamiku... jemput aku."
Di Villa Puncak, Arga sedang berdiri di depan meja kerja ketika ponsel tuanya bergetar.
Ia melihat nama di layar.
Suamiku.
Untuk satu detik, seluruh ruangan terasa diam.
Lalu suara Kiara masuk, lemah, basah oleh ketakutan yang ia paksa telan.
"Jemput aku..."
Mata Arga berubah.
Tidak ada ledakan. Tidak ada teriakan.
Hanya sesuatu yang dingin turun ke wajahnya, seperti pintu baja yang menutup dari dalam.
"Lokasi."
Di ujung panggilan, hanya terdengar suara lift, napas berat, dan tawa laki-laki yang terlalu dekat.
Arga menekan tombol lain.
"Gacrux."
"Bos, kami sudah bergerak. Target menuju suite dua belas nol delapan. Bukti botol sudah diamankan. Kamera koridor masuk mode maintenance dalam tiga menit."
"Sebelas menit."
"Dipahami."
Arga mengambil jaketnya.
Sebelas menit kemudian, pintu suite 1208 terbuka dari luar.
Kuncinya sudah tidak berguna.
Rendra berdiri di dekat sofa, satu tangan menggenggam pergelangan Kiara. Kiara setengah sadar, tubuhnya merosot, tetapi matanya masih berusaha tetap terbuka. Dua pengawal sudah terkapar di lantai koridor, masing-masing memegang leher dan perut, tidak ada yang sempat berteriak.
Rendra menoleh.
Untuk sesaat ia tidak mengenali pria berjaket lama di ambang pintu.
Lalu ia tersenyum sinis. "Oh. Si menantu numpang."
Arga masuk.
Langkahnya tidak cepat. Justru terlalu tenang.
"Lepaskan dia."
Rendra tertawa, tetapi tawanya berhenti ketika Arga sudah berada di depannya.
Tidak ada gerakan besar.
Hanya tangan Arga meraih pergelangan Rendra, memutar setengah lingkaran, lalu menekan ke arah yang salah.
KRAK.
Suara itu pendek.
Rendra jatuh berlutut dengan teriakan yang membuat suite itu bergetar.
"Tanganku! Tanganku!"
Arga tidak menatap wajahnya. Ia menangkap tubuh Kiara sebelum perempuan itu jatuh, melepas jasnya, lalu menutup bahu Kiara dengan gerakan hati-hati.
Kiara membuka mata sedikit. Fokusnya pecah, tetapi ia mengenali suara itu.
"Arga..."
"Aku di sini."
Tiga kata itu membuat tubuhnya berhenti melawan.
Di lorong suite, beberapa tamu keluar dari kamar lain. Ada yang mengangkat ponsel, tetapi layar mereka hanya menangkap punggung Arga, wajah Kiara yang tertutup jas, dan Rendra yang berlutut sambil memegang tangan kanannya.
Tidak ada yang berani menghalangi.
Nama Kusuma besar, tetapi rasa takut yang dibawa Arga malam itu lebih sunyi dan lebih dekat.
Di lift, Kiara menggigil. Arga menahan kepalanya di bahunya agar tidak terbentur dinding. Gacrux muncul sebentar di pintu lift servis, menyerahkan kantong bukti kecil.
"Botol, gelas, rekaman pelayan, semua aman."
"Simpan."
"Rendra?"
Arga melihat angka lantai turun satu per satu. "Dia masih bisa meniup lilin dengan tangan kiri."
Gacrux tidak tersenyum. "Dipahami."
Pukul lewat tengah malam, mobil hitam berhenti di depan Rumah Anggrek.
Arga menggendong Kiara melewati pintu utama. Pelayan yang berjaga hampir menjatuhkan nampan ketika melihat keadaan nona rumahnya. Ratna tidak ada. Bimo tidak ada. Rumah besar itu, seperti biasa, sangat pandai kosong pada saat paling penting.
Arga membawa Kiara ke kamarnya.
Ia tidak menyalakan semua lampu. Hanya lampu meja. Ia mengambil air hangat, membantu Kiara minum sedikit demi sedikit, lalu memeriksa napas dan denyut nadinya dengan dua jari. Stabil. Pengaruh obat itu membuat kesadarannya jatuh, tetapi tanda vitalnya belum menunjukkan bahaya langsung.
Kiara setengah membuka mata.
"Jangan pergi," bisiknya.
Tangan Arga berhenti di tepi selimut.
Satu detik.
Dua detik.
"Tidur dulu," katanya pelan. "Aku tunggu sampai kamu aman."
Ia duduk di kursi dekat ranjang sampai napas Kiara menjadi teratur.
Pukul tiga lewat enam menit, ponselnya bergetar.
Bimo Hartono.
Arga menerima panggilan di balkon kamar Kiara.
Suara Bimo meledak sebelum ia bicara. "Apa yang kamu lakukan? Kamu melukai anak tunggal Kusuma! Kamu tahu akibatnya untuk keluarga Hartono?"
Arga menatap halaman gelap Rumah Anggrek.
"Putri Anda hampir diculik dari hotel."
"Jangan memutarbalikkan fakta! Rendra bilang kamu menyerang dia tanpa alasan. Keluarga Kusuma murka. Hartono bisa tamat!"
Arga menutup mata sebentar.
Di kamar belakangnya, Kiara tidur dengan wajah pucat. Di telepon, ayahnya lebih takut pada Kusuma daripada pada apa yang terjadi kepada putrinya sendiri.
"Pak Bimo," kata Arga, "jaga Kiara."
"Kamu dengar Papa atau tidak? Kamu harus minta maaf. Besok pagi kamu datang ke Kusuma dan berlutut kalau perlu."
Arga menurunkan ponsel dari telinganya.
Lalu mematikan panggilan.
Beberapa jam kemudian, sebelum matahari naik, pesan itu sudah beredar di grup-grup bisnis Jakarta.
Kusuma senior memberi ultimatum.
"Dalam 48 jam, Hartono harus menyerahkan orang itu, atau angkat kaki dari Jakarta."
Bab 003: Kejatuhan Kusuma
"Dalam 48 jam, Hartono harus menyerahkan orang itu, atau angkat kaki dari Jakarta."
Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada hujan yang turun di Jakarta.
Pagi setelah pesta Rendra Kusuma, grup WhatsApp pengusaha, broker saham, pengacara korporat, sampai ibu-ibu arisan Kebayoran Baru membicarakan hal yang sama. Keluarga Kusuma marah. Pewaris tunggal mereka pulang dari Hotel Mulia dengan tangan kanan digips dan wajah pucat karena menahan malu.
Di Rumah Anggrek, Bimo Hartono tidak tidur.
Teleponnya terus berbunyi. Bankir yang biasanya menyapanya dengan hangat mendadak hanya berkata, "Kami lihat situasi dulu, Pak." Rekan bisnis yang dulu mengejar makan siang bersamanya sekarang tidak mengangkat panggilan.
Ratna menangis di ruang keluarga.
"Kita tamat, Bimo. Kita benar-benar tamat. Kenapa orang itu harus melukai Rendra?"
"Dia sudah keluar dari rumah ini," Bimo membentak. Suaranya retak. "Dia harus tanggung sendiri."
Kiara berdiri di dekat tangga, masih pucat. Efek obat semalam belum hilang sepenuhnya, tetapi matanya sudah jernih. Ia mendengar mereka membicarakan Arga seolah laki-laki itu bukan orang yang menggendongnya pulang ketika semua orang lain meninggalkannya.
Ponsel Bimo akhirnya tersambung ke nomor Arga.
"Kamu datang ke Rumah Anggrek sekarang," kata Bimo tanpa salam. "Kamu tahu apa yang sudah kamu buat?"
Suara Arga di seberang tenang. "Kiara sudah bangun?"
"Jangan pura-pura peduli. Keluarga Kusuma meminta kamu diserahkan. Kalau kamu punya sedikit saja rasa tahu diri, kamu datang, minta maaf, lalu berlutut."
Hening.
Bimo mengira panggilan terputus.
Lalu Arga berkata, "Berlutut."
"Apa?"
"Itu yang akan mereka lakukan."
Panggilan mati.
Bimo menatap layar ponsel seperti baru saja ditampar.
Sore itu, keluarga Hartono memaksa Kiara menelepon Arga lagi.
"Kamu yang minta dia datang," kata Ratna. "Dia selalu mendengarkanmu, kan? Panggil dia. Kita serahkan baik-baik sebelum Kusuma benar-benar menghancurkan kita."
Kiara menatap ibunya lama.
"Semalam aku hampir dibawa ke kamar hotel oleh Rendra."
Ratna menghindari tatapannya. "Mama tidak bilang Rendra benar. Tapi masalahnya sekarang lebih besar dari itu."
Lebih besar.
Bagi keluarga ini, reputasi selalu lebih besar daripada tubuh putrinya sendiri.
Kiara menekan nomor Arga.
Panggilan tersambung.
"Kamu mau aku datang?" tanya Arga.
Kiara menggenggam ponsel. Pertanyaan itu bukan, "Mereka mau apa?" Bukan, "Apa Kusuma menekan kalian?" Ia bertanya padanya. Hanya padanya.
Di belakang Kiara, Bu Agung Hartono duduk tegak di kursi utama. Rambut putihnya disanggul rapi, tongkat kayu berada di samping lutut. Semua orang menunggu Kiara mengucapkan kalimat yang akan menyeret Arga kembali sebagai kambing hitam.
Kiara menarik napas.
"Kalau kamu datang," katanya pelan, "jangan datang untuk mereka."
Arga datang malam itu.
Ia memasuki Rumah Anggrek dengan jaket lama yang sama. Tidak ada pengawal. Tidak ada mobil mencolok. Hanya langkah tenang di lantai marmer.
Galang Hartono berdiri paling depan. "Akhirnya berani muncul juga."
Bimo menunjuk wajah Arga. "Besok pagi kita antar kamu ke Kusuma. Kamu minta maaf. Apa pun syarat mereka, kamu terima."
Kiara turun dari tangga sebelum Arga menjawab.
Ia berdiri di depan Arga.
Satu gerakan sederhana.
Tetapi selama dua tahun, ia belum pernah melakukannya.
Ratna membelalak. "Kiara, minggir."
"Tidak."
Bu Agung mengetukkan ujung tongkat ke lantai. "Kamu tahu apa artinya melindungi dia?"
Kiara tidak menoleh. "Saya tahu apa artinya tidak meninggalkan orang yang menolong saya."
Arga menatap punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak tanda tangan itu, sesuatu di dadanya bergerak.
Ia melihat jam di pergelangan tangan.
"Sembilan jam lagi baru buka pasar," katanya.
Tidak ada yang mengerti.
Galang tertawa kasar. "Apa hubungannya pasar saham dengan tulang Rendra?"
Arga tidak menjawab.
Pukul 09.55 keesokan paginya, seluruh keluarga Hartono berkumpul di ruang keluarga Rumah Anggrek.
Televisi menyala di kanal bisnis. Ponsel mereka terbuka pada aplikasi saham. Di meja, cangkir kopi dibiarkan dingin. Kiara duduk di ujung sofa, masih mengenakan kemeja rumah, wajahnya pucat tetapi matanya terus menatap layar.
Arga duduk di kursi samping jendela.
Ia memegang secangkir kopi seolah pagi itu hanya pagi biasa.
Ratna meliriknya dengan benci. "Masih bisa minum kopi."
Arga tidak menanggapi.
Di layar televisi, pembawa berita tiba-tiba berhenti membaca naskah biasa.
"Berita terbaru dari sektor konglomerasi. Dua bank besar nasional dikabarkan tidak memperpanjang fasilitas kredit sindikasi PT Kusuma Group setelah temuan pelanggaran covenant internal."
Bimo berdiri.
"Apa?"
Galang buru-buru membuka ponsel. "Saham Kusuma belum buka. Ini rumor."
Pukul 10.07.
Delapan menit setelah perdagangan berjalan, layar aplikasi saham berubah merah.
KUSM -19%.
Auto reject bawah.
Terhenti.
Ruang keluarga sunyi selama tiga detik.
Lalu semua orang bicara bersamaan.
"Tidak mungkin!"
"Ini cuma koreksi!"
"Telepon broker!"
Bimo sudah menempelkan ponsel ke telinga. "Pak Surya, ini apa? Kenapa bank memutus kredit Kusuma?"
Suara di seberang cukup keras sampai Kiara mendengarnya.
"Pak Bimo, kami juga baru dapat. Ada dosier masuk ke beberapa bank sejak subuh. Data utang tersembunyi, laporan keuangan ganda, dan pembayaran mencurigakan ke proyek pengadaan."
Bimo memucat.
Pukul 11.03.
Kilas berita kedua muncul.
"OJK dan Kejaksaan Agung disebut menerima laporan anonim terkait dugaan pemalsuan laporan keuangan PT Kusuma Group. Pihak Kusuma belum memberi keterangan resmi."
Ratna menjatuhkan cangkir.
Porselen pecah di lantai.
"Anonim?" Galang menatap layar. "Siapa yang berani menyerang Kusuma?"
Arga menyesap kopi.
Kiara melihat gerakan itu.
Terlalu tenang.
Pukul 11.27, laporan itu berubah menjadi bahan bakar.
Akun-akun bisnis di X mulai mengunggah potongan dokumen yang disensor sebagian. Ada tabel pinjaman antar-anak perusahaan. Ada invoice proyek yang tanggalnya tidak masuk akal. Ada nama rekening penampung yang muncul berulang dalam tiga transaksi berbeda.
Satu portal berita menulis judul pendek:
Kusuma Group Diduga Menyembunyikan Utang Lewat Anak Usaha.
Judul itu dibagikan ribuan kali dalam dua puluh menit.
Bimo membaca layar ponselnya dengan tangan gemetar. "Ini bukan rumor lagi."
Bu Agung mengambil ponsel dari tangan Bimo dan membaca sendiri. Wajah tuanya tidak berubah, tetapi seluruh keluarga tahu ia sedang menghitung. Jika Kusuma jatuh, siapa yang ikut terseret? Jika Hartono terlihat terlalu dekat, bank mana yang akan ikut menahan fasilitas?
"Hapus semua foto semalam," perintahnya.
Ratna tersentak. "Foto apa?"
"Foto Kiara dengan Rendra. Foto kalian di Hotel Mulia. Jangan sampai ada yang mengaitkan Hartono dengan Kusuma hari ini."
Kiara merasakan sesuatu yang dingin menekan dadanya.
Semalam, mereka menyerahkan dia kepada Rendra seperti hadiah diplomatik.
Hari ini, mereka berebut menghapus bukti bahwa hadiah itu pernah ada.
Pukul 12.16.
Video dari depan kantor pusat PT Kusuma Group mulai beredar. Puluhan pemasok berkumpul di lobi, menuntut pembayaran invoice yang tertunda. Seorang pria paruh baya berteriak di depan kamera, "Kalau kredit mereka diputus, kami mau uang kami sekarang!"
Kusuma yang semalam memberi ultimatum kepada seluruh Jakarta mendadak harus menjawab orang-orang yang selama ini mereka tunda.
Pukul 12.44, bank ketiga mengeluarkan pernyataan resmi.
Tidak panjang. Hanya kalimat korporat yang kering: fasilitas kredit tertentu sedang ditinjau ulang sesuai kewajiban manajemen risiko dan kepatuhan.
Tetapi di pasar, bahasa kering kadang lebih mematikan daripada makian.
Ditinjau ulang berarti tidak ada uang baru.
Tidak ada uang baru berarti pemasok panik.
Pemasok panik berarti proyek berhenti.
Proyek berhenti berarti jaminan ikut dipertanyakan.
Dalam satu jam, apa yang semalam disebut "kemarahan Kusuma" berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih brutal: semua orang ingin keluar sebelum pintu tertutup.
Galang berkeringat di pelipis. "Tapi Kusuma punya aset. Mereka tidak mungkin jatuh hanya karena laporan."
Kiara menjawab tanpa menoleh, "Konglomerat tidak jatuh karena tidak punya aset. Mereka jatuh ketika tidak ada yang percaya aset itu cukup untuk menutup utang."
Arga memandangnya sebentar.
Jawaban itu tepat.
Kiara masih Kiara. Tajam, bahkan ketika semua orang di rumahnya sedang sibuk menyelamatkan muka.
Pukul 13.40.
Harga obligasi Kusuma di pasar sekunder jatuh. Grup bisnis berubah dari takut menjadi panik. Beberapa pesan masuk ke ponsel Bimo. Orang-orang mulai bertanya apakah Hartono masih punya hubungan dengan Kusuma.
Bu Agung yang sejak pagi diam akhirnya membuka suara.
"Jangan jawab siapa pun."
Suaranya masih tenang, tetapi ujung jarinya mencengkeram kepala tongkat.
Pukul 14.08.
Televisi menayangkan gambar yang membuat seluruh ruangan berhenti bernapas.
Kusuma senior keluar dari gedung kantor pusatnya dengan dua penyidik. Tidak diborgol, tetapi jelas dikawal. Wajahnya merah gelap. Di belakangnya, Rendra Kusuma muncul dengan tangan kanan digips, matanya liar, berusaha menghindari kamera.
Judul berjalan di bawah layar:
Kejaksaan Agung minta keterangan pendiri PT Kusuma Group terkait laporan suap dan manipulasi laporan keuangan.
Ratna menutup mulut.
Galang berbisik, "Kejatuhan Kusuma..."
Beberapa detik kemudian, kamera menangkap Rendra.
Tangan kanannya dibalut gips putih sampai pergelangan. Wajahnya pucat. Ketika seorang wartawan bertanya apakah benar ia hadir bersama Kiara Hartono semalam, pengacaranya langsung mendorong mikrofon menjauh.
"Tidak ada komentar."
Tetapi cukup.
Nama Kiara mulai muncul di kolom komentar.
Ratna panik. "Kenapa mereka menyebut Kiara?"
Kiara mengambil ponselnya. Satu klip pendek dari Hotel Mulia sudah beredar: dirinya berjalan di sisi Rendra sebelum acara dimulai. Tidak ada gambar suite. Tidak ada bukti obat. Hanya cukup untuk membuat publik bertanya mengapa CEO Hartono Group berada di pesta Kusuma tepat sebelum badai.
Bimo hampir menjatuhkan ponsel. "Ini bisa menyeret kita."
"Baru sekarang Papa sadar?" tanya Kiara.
Bimo menatapnya, tetapi tidak punya kalimat untuk membalas.
Di sudut ruangan, Arga mengetik satu pesan singkat ke Gacrux.
Tahan bukti hotel. Jangan rilis kecuali mereka menyentuh Kiara.
Balasan datang cepat.
Dipahami.
Entah siapa yang pertama kali menyebut kata itu di media sosial, tetapi dalam satu jam, semua orang memakainya.
Kejatuhan Kusuma.
Pukul 15.00, kapitalisasi pasar mereka sudah menguap lebih dari separuh di hitungan psikologis investor. Saham tidak bisa jatuh lebih jauh hari itu karena aturan BEI menahannya, tetapi kepercayaan tidak punya auto reject bawah.
Kepercayaan jatuh tanpa lantai.
Di Rumah Anggrek, suasana berubah aneh.
Pagi tadi, mereka ingin menyerahkan Arga.
Siang tadi, mereka yakin Hartono akan hancur.
Sore itu, mereka menatap layar televisi dengan mata basah. Mereka merasa selamat.
"Kita... tidak perlu menyerahkan dia?" Ratna berbisik.
Bimo menelan ludah. "Kusuma sendiri yang tamat."
Galang tertawa kering, terlalu keras, terlalu gugup. "Ya sudah. Berarti masalah selesai. Kita beruntung saja."
Beruntung.
Kiara menoleh ke Arga.
Laki-laki itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan sangat pelan.
Ia berdiri.
"Aku pergi."
Galang, mungkin karena malu pada rasa takutnya sendiri, melangkah ke depan dan menghalangi pintu.
"Hei. Jangan sok gaya. Kusuma kena masalah tidak membuatmu jadi pahlawan. Kalau keberuntungan tidak datang, kita semua sudah mati gara-gara kamu."
Arga menatapnya.
"Minggir."
"Atau apa?"
Tamparan itu datang begitu cepat hingga tidak ada yang sempat melihat ayunan tangannya.
PLAK!
Galang terpental setengah langkah dan punggungnya menghantam kusen pintu. Kepalanya miring, telapak tangan menempel di pipi yang langsung memerah.
Seluruh ruangan mati.
Ratna tidak berani berteriak.
Bimo tidak berani maju.
Bu Agung menatap Arga dengan mata menyipit. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang salah ukuran di dalam rumahnya.
Arga melewati Galang tanpa menoleh.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Gacrux masuk.
PKPU sudah diajukan. Pak tua sudah menandatangani pengakuan. Selanjutnya?
Arga berhenti di ambang pintu.
Ia menoleh ke ruang keluarga.
Orang-orang yang semalam ingin menyerahkannya berdiri di sana, dengan wajah yang belum tahu apa pun. Belum tahu siapa yang menggerakkan bank. Belum tahu siapa yang mengirim dosier. Belum tahu bahwa pria yang mereka sebut benalu baru saja menghapus ancaman terbesar mereka sebelum makan siang.
Kiara menatap punggungnya.
Pertanyaan itu hampir keluar dari bibirnya.
Siapa sebenarnya kamu?
Tetapi Arga sudah membalas pesan.
Tidak ada.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!