Bab 001 - Dua Garis Biru
Ponsel Arya Pratama bergetar di lantai kos-kosan.
Sekali.
Dua kali.
Tujuh panggilan tak terjawab.
Arya membuka mata dengan kepala berat. Kamar sempit itu masih bau kopi sachet dan mi instan semalam. Kipas angin tua berputar pelan di atas kasur busa. Di sudut kamar, laptop tua dan tumpukan berkas skripsi menunggu seperti tagihan.
Layar ponsel menyala lagi.
Kirana Putri Ayu.
Rasa kantuk Arya langsung hilang separuh.
Di Universitas Surya Laut, Kirana dikenal satu kampus. Mahasiswi manajemen, IPK tinggi, wajah sering muncul di poster acara fakultas. Banyak laki-laki mengejarnya dari jauh. Denny Hartono, anak orang kaya itu, bahkan sudah dua semester mengirim bunga dan hadiah.
Kirana menolak semuanya.
Lalu tiga bulan lalu, setelah acara fakultas, Arya dan Kirana melakukan satu kesalahan yang tidak pernah mereka bicarakan lagi dengan jelas.
Tangan Arya dingin. Ia menekan tombol panggil.
Panggilan langsung diangkat.
"Arya?"
Suara Kirana serak dan gemetar.
"Kirana, kamu kenapa? Ada apa?"
Ia mendengar napas Kirana tersendat.
"Kamu bisa ke RS Darmo sekarang?"
Arya duduk tegak. "Rumah sakit? Kamu sakit?"
"Datang saja. Tolong. Aku takut."
Arya menyambar jaket, dompet, dan kunci motor. Ia hampir tersandung ember cucian di dekat pintu.
"Bismillah," gumamnya, lalu keluar.
Honda Beat tuanya susah menyala. Arya memutar gas dua kali sampai mesin batuk dan hidup. Ia langsung menembus jalan pagi Surabaya. Lampu merah, angkot, motor ojek online, semua terasa menghalangi.
Di kepalanya hanya ada satu nama.
Kirana.
Mereka tidak pernah mengumumkan hubungan itu. Kirana terlalu terkenal. Arya terlalu biasa. Mereka hanya bertemu diam-diam setelah kelas, makan bakso di dekat kampus, lalu pulang sebelum terlalu banyak mata melihat.
Pagi ini, semua rahasia itu terasa rapuh.
Arya memarkir motor di halaman RS Darmo Surabaya, lalu masuk hampir berlari.
"Mas, cari siapa?" tanya perawat di meja administrasi.
"Kirana Putri Ayu. Dia telepon saya."
Perawat mengetik sebentar. "Poli kandungan, lantai dua. Jangan lari di koridor ya, Mas."
"Makasih, Mbak."
Kata "poli kandungan" membuat langkah Arya berat.
Di lantai dua, beberapa perempuan hamil duduk bersama suami atau keluarga. Ada yang memegang buku kontrol, ada yang mengelus perut sambil tersenyum kecil.
Kirana duduk sendirian di ujung bangku.
Cardigan kremnya kusut. Matanya merah. Kedua tangannya menggenggam benda kecil berwarna putih.
Arya berhenti di depannya.
"Kirana."
Begitu melihatnya, air mata Kirana jatuh.
"Aku telat," bisiknya.
Arya menelan ludah. "Telat... apa?"
Kirana mengangkat tangan.
Di telapak tangannya ada test pack.
Dua garis biru.
Jelas.
Arya menatap benda itu. Dadanya seperti ditindih batu.
Skripsi, wisuda, pulang ke Solo, membuat Bapak Hendra dan Ibu Sri bangga, semuanya mendadak menjauh.
Tabungannya tidak sampai Rp 2.000.000. Uang kos bulan depan saja masih ia hitung. Motor sering mogok. Pekerjaan belum ada. Gelar belum di tangan.
Kirana juga punya beban yang lebih berat. Ia anak tunggal dari Ibu Ratna Sari di Malang. Ibunya menjual kue bertahun-tahun agar Kirana bisa kuliah di Surabaya. Kalau kabar ini sampai ke kampus atau ke Malang, hidup Kirana akan habis dimakan gosip.
"Aku sudah pakai dua kali," kata Kirana lirih. "Hasilnya sama."
Arya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Kirana menggigit bibir. "Kalau kamu mau pergi, pergi sekarang. Aku tidak akan mengejar."
Kalimat itu menusuk.
Kirana sudah menyiapkan diri untuk ditinggalkan.
Arya meraih test pack itu. Tangannya masih gemetar.
"Kamu sudah periksa ke dokter?"
Kirana berkedip. "Belum. Aku tidak berani masuk sendiri."
Arya berjongkok di depannya. Ia menggenggam tangan Kirana. Dingin.
"Dengar aku," katanya. "Aku tidak akan pergi."
Bibir Kirana bergetar.
"Arya, kamu belum tahu ini seberat apa."
"Aku tahu aku belum siap. Aku tahu aku belum punya uang. Aku tahu Bapak dan Ibu akan kecewa. Aku juga tahu ibumu bisa hancur kalau tahu dengan cara yang salah."
Kirana menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan Arya.
"Aku takut," bisiknya.
"Aku juga."
Kirana mengangkat wajah.
Arya menatap matanya. "Tapi aku tidak akan lari."
Udara di depan mata Arya bergetar.
Panel transparan muncul di tengah pandangannya.
【Sistem Ayah Level Dewa telah aktif.】
Arya membeku.
Ia melirik Kirana. Gadis itu masih menangis dan tidak melihat apa pun.
Panel itu berkedip.
【Host terkonfirmasi: Arya Pratama.】
【Identitas baru: calon ayah.】
Jantung Arya berdebar keras.
Sistem?
Belum sempat ia berpikir, baris baru muncul.
【Tindakan terdeteksi: memilih bertanggung jawab dalam krisis keluarga pertama.】
【Hadiah awal diberikan.】
【Saldo rekening Bank Nusantara bertambah: Rp 200.000.000.】
Ponsel Arya bergetar.
Ia mengeluarkannya.
Bank Nusantara
Dana masuk: Rp 200.000.000
Saldo tersedia: Rp 201.438.750
Arya hampir menjatuhkan ponsel.
Dua ratus juta Rupiah.
Jumlah itu cukup untuk biaya dokter, vitamin, makanan sehat, kontrakan yang layak, dan semua kebutuhan darurat yang sejak tadi membuat dadanya sesak.
Panel sistem belum berhenti.
【Ensiklopedia Kehamilan Lengkap telah diunduh ke memori host.】
Informasi masuk cepat ke kepala Arya.
Folat. Trimester pertama. Mual pagi. Risiko anemia. Jadwal kontrol. Tanda bahaya perdarahan. Batas kafein. Nutrisi. Istirahat.
Kekacauan di kepalanya mulai tersusun.
【Penguatan fisik dasar: 100% selesai.】
Panas mengalir dari dada ke seluruh tubuhnya. Sakit kepala hilang. Napasnya lebih dalam. Tangan yang tadi gemetar menjadi stabil.
"Arya?" Kirana menatapnya cemas. "Kamu kenapa?"
Arya menyimpan ponsel. Ia belum bisa menjelaskan sistem itu. Ia juga belum tahu apakah ia sedang gila.
Yang jelas, uang itu nyata.
"Kita periksa dulu," katanya. "Biaya dokter, vitamin, apa pun yang kamu butuhkan, aku urus."
Kirana menatapnya lama. "Kamu serius?"
"Serius."
"Arya, masalahnya lebih besar dari biaya."
"Aku tahu." Arya menggenggam tangannya lebih kuat. "Ini soal kamu, bayi kita, dan keluarga kita nanti. Aku belum punya semua jawaban. Mulai hari ini, aku cari satu per satu."
Kirana menutup mulut. Tangisnya pecah lagi.
Kali ini Arya tidak panik.
Ia duduk di sampingnya, membiarkan Kirana bersandar sebentar di bahunya. Tidak lama. Cukup agar napasnya lebih teratur.
Panel sistem muncul lagi.
【Misi utama dimulai: Menjadi Ayah Terkuat.】
【Tahap pertama: lindungi ibu dan janin.】
【Catatan: hadiah mengikuti tingkat tanggung jawab nyata host. Tidak ada hadiah untuk niat kosong.】
Arya membaca kalimat terakhir itu dengan mata tajam.
Baik.
Ia akan membuktikannya dengan tindakan.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
"Kirana Putri Ayu?" panggil seorang perawat.
Kirana tersentak.
Arya berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan.
"Ayo."
Kirana memandang tangan itu. Ragu masih ada, takut juga masih ada. Namun kali ini ia meraihnya.
Mereka berjalan ke ruang pemeriksaan.
Sebelum masuk, Kirana berhenti.
"Arya."
"Ya?"
"Kalau dokter bilang aku benar-benar hamil..."
"Aku tetap di sini."
Kirana menunduk. Suaranya hampir habis.
"Tapi, Arya... Mama akan membunuhku kalau dia tahu."
Bab 002 - Aku Tidak Akan Lari
"Tapi, Arya... Mama akan membunuhku kalau dia tahu."
Kirana mengucapkan kalimat itu tepat di depan pintu ruang pemeriksaan.
Arya tidak langsung menjawab. Ia melihat tangan Kirana yang masih menggenggam ujung cardigan. Buku jarinya pucat.
Ia meraih tangan itu.
"Kita dengar dokter dulu," katanya. "Setelah itu, aku yang bicara denganmu. Satu per satu."
Perawat di dalam ruangan menunggu. Kirana menarik napas, lalu masuk bersama Arya.
Dokter jaga pagi itu perempuan berusia sekitar empat puluh tahun. Di papan namanya tertulis Dokter Maya. Wajahnya tenang, suaranya lembut, gerakannya rapi.
"Silakan duduk. Keluhannya apa?"
Kirana menunduk. Arya mengambil alih.
"Dok, test pack dua kali positif. Dia telat haid. Kami ingin memastikan."
Dokter Maya menatap Kirana, lalu mengangguk. Ia tidak menghakimi. Sikap itu membuat bahu Kirana sedikit turun.
"Kita periksa urine dulu, lalu kalau perlu USG awal. Usia kehamilan masih sangat muda biasanya belum terlalu jelas, tapi tanda awal bisa kita lihat."
Arya mengangguk. "Baik, Dok."
Sambil menunggu hasil tes urine, Kirana duduk di kursi panjang kecil dekat dinding. Matanya kosong menatap lantai.
Arya duduk di sampingnya.
"Kalau hasilnya positif..." Kirana berhenti.
"Aku tetap di sini."
"Kamu sudah bilang itu."
"Aku akan bilang lagi sampai kamu percaya."
Kirana menoleh. Matanya basah, tapi napasnya mulai teratur.
"Arya, hidupmu bisa hancur."
"Hidupku sudah berubah sejak tadi." Arya menatap pintu ruang laboratorium kecil. "Sekarang tinggal pilih berubah jadi pengecut atau jadi laki-laki yang bertanggung jawab."
Kirana menggigit bibir.
Pintu terbuka. Perawat menyerahkan kertas kecil kepada Dokter Maya.
Dokter membaca, lalu memandang mereka berdua.
"Hasilnya positif."
Kirana memejamkan mata.
Arya merasakan tangannya diremas kuat.
Dokter Maya melanjutkan, "Dari riwayat telat haid, kemungkinan sekitar enam minggu. Kita lakukan USG transvaginal atau jadwalkan ulang untuk kontrol lebih jelas. Karena ini masih awal, yang penting sekarang istirahat, makan teratur, asam folat, dan jangan stres berat."
Kata "enam minggu" membuat ruangan terasa hening.
Enam minggu.
Di kepala Arya, angka itu langsung diikuti informasi dari sistem. Trimester pertama. Janin sangat rapuh. Stres berat bisa memperburuk mual, tidur, tekanan darah. Asam folat perlu segera dimulai.
"Dok, untuk asam folat dosis hariannya berapa?" tanya Arya.
Dokter Maya sedikit terkejut. "Biasanya 400 mikrogram per hari untuk awal. Nanti saya tuliskan resep. Ada riwayat anemia?"
Kirana menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Dok."
"Kita bisa cek darah di kunjungan berikutnya. Untuk hari ini, tenangkan diri dulu."
Arya mengeluarkan ponsel. "Dok, kapan kontrol berikutnya?"
"Satu sampai dua minggu. Kalau ada flek, nyeri perut hebat, muntah parah, atau pusing berat, langsung kembali ke IGD."
"Baik. Saya catat."
Dokter Maya memandang Arya lebih lama. "Kamu suaminya?"
Kirana kaku.
Arya menjawab tanpa ragu, "Saya ayah dari anak ini, Dok. Untuk urusan resmi keluarga, kami akan selesaikan secepatnya."
Kirana menoleh cepat.
Dokter Maya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menulis resep dan memberi mereka map kecil berisi hasil pemeriksaan.
"Jaga dia. Kehamilan awal perlu pendampingan. Jangan biarkan dia menghadapi ini sendirian."
"Saya paham."
Arya menerima map itu dengan dua tangan.
Di luar ruang pemeriksaan, Kirana berhenti di koridor. Ia menatap map di tangan Arya seolah benda itu lebih berat dari batu.
"Jadi... benar."
"Benar."
Kirana tertawa kecil. Suaranya patah. "Aku hamil."
Arya menyimpan map ke dalam tasnya. "Kita beli obat dulu. Setelah itu makan."
"Aku tidak lapar."
"Kamu harus makan. Dokter bilang jangan telat makan."
"Kamu mendadak cerewet."
"Mulai hari ini, aku punya alasan."
Kirana menatapnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya bergerak sedikit.
Mereka turun ke apotek rumah sakit. Arya membayar resep tanpa menghitung ulang uang di dompet. Notifikasi saldo tadi masih menempel di kepalanya seperti angka yang menyala.
Rp 200.000.000.
Uang itu tidak menghapus ketakutan Kirana. Tidak membuat Ibu Ratna langsung menerima. Tidak menyelesaikan kampus, keluarga, dan gosip.
Namun uang itu memberi Arya ruang bernapas.
Ruang untuk bertindak.
Setelah obat dibungkus, Arya membawa Kirana keluar dari rumah sakit.
"Kita ke mana?" tanya Kirana.
"Warung Nasi Campur Pak De."
Kirana berkedip. "Sekarang?"
"Kamu pernah bilang kalau panik, nasi campur Pak De bisa bikin dunia sedikit masuk akal."
Kirana terdiam.
Warung itu hanya sepuluh menit dari RS Darmo. Tempatnya sederhana, meja plastik, kipas dinding, kaca etalase penuh ayam suwir, telur pindang, sambal, tahu, dan serundeng. Pak De yang menjaga warung mengenali Kirana.
"Lho, Mbak Kirana. Pagi-pagi sudah datang? Sama Mas Arya?"
Kirana cepat mengusap mata. "Iya, Pak De."
Arya memesan dua porsi. Untuk Kirana, ia minta nasi setengah, ayam, telur, sayur, dan sambal dipisah. Ia juga mengambil air mineral sebagai pengganti es teh manis yang biasa Kirana pesan.
Kirana memperhatikannya.
"Kamu kok tahu aku harus mengurangi pedas?"
Arya hampir tersedak napas sendiri. Sistem di kepalanya terlalu berguna sampai ia lupa terlihat aneh.
"Tadi dokter bilang jangan bikin perutmu kaget," jawabnya cepat.
Kirana menerima alasan itu.
Mereka duduk di sudut warung.
Beberapa menit pertama, hanya suara sendok dan piring yang terdengar. Kirana makan sedikit demi sedikit. Arya tidak memaksa. Ia hanya mendorong gelas air mineral lebih dekat.
Setelah tiga suap, Kirana meletakkan sendok.
"Arya, aku takut Mama kecewa."
"Dia pasti kecewa."
Kirana menatapnya, terluka.
Arya menatapnya lurus. "Dia pasti butuh waktu. Aku akan datang ke Malang, minta maaf langsung, lalu jelaskan rencanaku."
"Rencana apa?"
Arya membuka catatan di ponselnya. Dalam perjalanan dari rumah sakit ke warung, ia sudah menulis cepat.
"Pertama, kontrol kehamilan rutin. Aku yang antar. Kedua, vitamin dan makanan. Ketiga, tempat tinggal yang lebih aman. Kosmu terlalu sempit dan orang mudah bertanya. Keempat, aku bicara dengan orang tuaku. Setelah itu kita bicara dengan Ibu Ratna."
Kirana menatap daftar itu.
"Kamu membuat rencana?"
"Kalau aku hanya bilang bertanggung jawab tanpa rencana, kamu boleh marah."
Kirana menunduk. Air matanya jatuh lagi, kali ini pelan.
"Aku kira kamu akan panik lalu menghilang."
"Aku memang panik."
"Tapi kamu masih di sini."
"Aku masih di sini."
Kirana menggenggam sendok sampai gemetar. "Anak ini..."
Arya menunggu.
"Anak ini benar-benar anak kita."
Arya merasakan dadanya sesak. Ia mengangguk.
"Iya. Anak kita."
Pada saat itu, panel sistem muncul.
【Tindakan terdeteksi: menerima kehamilan dan menyusun rencana tanggung jawab.】
【Evaluasi: komitmen nyata tahap awal.】
【Hadiah diberikan: Toyota GR Supra.】
【Lokasi kendaraan: Area parkir B, RS Darmo Surabaya.】
Arya berhenti mengunyah.
Sendoknya menggantung di udara.
"Arya?" Kirana mengernyit. "Kamu kenapa lagi?"
"Aku..." Arya menelan nasi dengan susah payah. "Aku perlu ke toilet sebentar."
Kirana menatapnya curiga.
"Sebentar saja."
Arya berdiri, membayar makanan di kasir, lalu keluar dari warung. Begitu di luar, ia hampir berlari kembali ke RS Darmo.
Area parkir B ada di sisi belakang gedung.
Di sana, di antara mobil keluarga dan beberapa sedan dokter, sebuah Toyota GR Supra warna abu-abu metalik terparkir dengan tenang.
Plat nomor sudah terpasang.
Kunci mobil ada di saku jaket Arya.
Ia merogoh saku dengan tangan kaku. Benar. Sebuah smart key hitam dengan logo Toyota berada di sana.
Arya menekan tombol.
Lampu mobil berkedip.
"Ya Allah..."
Ia berdiri beberapa detik, memandang mobil itu. Tadi pagi ia datang dengan Honda Beat tua yang suara mesinnya memalukan. Sekarang sistem memberinya mobil yang bahkan Denny Hartono pun akan lirik dua kali.
Panel kecil muncul lagi.
【Catatan: gunakan hadiah untuk melindungi keluarga. Hindari pamer kosong.】
Arya menarik napas.
Pesan itu jelas.
Mobil ini alat.
Ia kembali ke warung dengan langkah yang dipaksa normal.
Kirana sudah berdiri di depan warung, memegang kantong obat dan tas kecilnya.
"Toiletnya jauh sekali?"
"Agak."
"Kamu pucat."
"Nanti aku jelaskan." Arya mengambil kantong obat dari tangannya. "Ayo, aku antar pulang."
"Naik motor?"
Arya diam sebentar.
"Ada kendaraan lain."
Kirana menyipitkan mata.
Mereka berjalan kembali ke RS Darmo. Ketika tiba di Area parkir B, langkah Kirana melambat.
Matanya tertuju pada GR Supra abu-abu itu.
Arya menekan tombol kunci.
Lampu mobil berkedip.
Kirana berhenti total.
"Arya..."
Arya membuka pintu penumpang untuknya.
Kirana tidak langsung masuk. Ia menatap mobil itu, lalu menatap Arya.
"Mobil ini dari mana?"
Bab 003 - Istana di Atas Awan
"Mobil ini dari mana?"
Kirana berdiri di samping Toyota GR Supra abu-abu itu dengan kantong obat di tangan. Wajahnya masih pucat setelah dari rumah sakit, tetapi matanya sekarang tajam.
Arya menutup pintu penumpang yang tadi ia buka.
"Ada beberapa hal yang belum bisa aku jelaskan rapi," katanya. "Yang bisa aku pastikan, mobil ini aman. Suratnya lengkap. Aku tidak mencuri, tidak berutang ke rentenir, dan tidak ikut hal ilegal."
Kirana menatapnya lama.
"Kamu sadar jawaban itu terdengar aneh?"
"Sadar."
"Sangat aneh."
"Aku tahu."
Kirana menarik napas. Ia melihat logo Toyota di depan mobil, lalu melihat Honda Beat tua Arya yang terparkir jauh di sisi lain halaman. Perbedaan keduanya terlalu kasar untuk diabaikan.
"Arya, pagi tadi kamu masih datang naik motor."
"Aku juga masih kaget."
Kirana hampir marah, lalu melihat tangan Arya yang menggenggam kantong obatnya. Ia ingat Arya duduk di depan dokter, mengaku sebagai ayah dari anak itu tanpa suara gemetar.
Amarahnya turun sedikit.
"Kamu janji tidak membahayakan aku?"
"Aku janji."
"Dan tidak membahayakan bayi?"
"Itu yang paling aku jaga."
Kirana akhirnya masuk ke mobil. Ia duduk kaku seperti takut menyentuh jok kulitnya. Arya menutup pintu pelan, lalu berjalan ke sisi pengemudi.
Saat mesin GR Supra menyala, Kirana memegang sabuk pengaman dengan kedua tangan.
"Kita ke mana?"
"Kontrol lebih jelas. Bab tadi dokter bilang perlu USG awal. Aku cari klinik yang bisa menerima sekarang."
"Kamu sudah cari?"
"Sudah."
Kirana menatapnya. "Sejak kapan kamu secepat ini?"
Arya memasukkan gigi dan keluar dari parkiran. "Sejak kamu bilang aku akan jadi ayah."
Klinik Bunda Sehat berada di ruko bersih dekat pusat kota. Ruang tunggunya tenang, dengan poster perkembangan janin minggu ke minggu di dinding. Kirana berhenti lama di depan gambar kecil bertuliskan usia enam minggu.
Ukurannya hanya seperti kacang.
Arya berdiri di sampingnya.
"Sekecil itu?" bisik Kirana.
"Sekitar itu."
"Tapi hidupku sudah jungkir balik."
"Hidup kita."
Kirana menoleh. Kali ini ia tidak membantah.
Nama mereka dipanggil oleh perawat. Dokter Widya, dokter kandungan di klinik itu, menyambut mereka dengan senyum profesional.
"Selamat pagi. Dari catatan yang Mas kirim, test urine positif dan perkiraan enam minggu, ya?"
"Iya, Dok," jawab Arya. "Kami ingin memastikan kondisi awalnya."
Dokter Widya memeriksa data, lalu mulai bertanya tentang siklus haid, mual, pusing, pola makan, riwayat penyakit, dan obat yang sudah diberikan.
Kirana menjawab pelan. Arya mencatat semua di ponsel.
Ketika dokter menyebut asam folat, Arya bertanya, "Kalau mual pagi mulai berat, batas kapan harus kembali ke klinik? Dan untuk makanan tinggi zat besi, ada pantangan khusus di trimester pertama?"
Dokter Widya mengangkat alis.
"Mas Arya belajar dari mana?"
Kirana ikut menatapnya.
Arya menahan ekspresi. "Saya baca cepat setelah dari rumah sakit."
"Bacanya cukup serius." Dokter Widya tersenyum tipis. "Bagus. Banyak calon ayah datang hanya duduk diam."
Kirana menunduk. Jari-jarinya bermain di tali tas, tetapi pipinya sedikit hangat.
USG awal dilakukan dengan hati-hati. Layar hitam putih itu menunjukkan titik kecil di dalam rahim Kirana. Dokter Widya menunjuk dengan ujung pena.
"Kantong kehamilannya sudah terlihat. Untuk detak jantung, kita cek lagi di kontrol berikutnya. Saat ini sesuai usia awal. Yang penting jangan stres berat."
Kirana tidak bicara. Air matanya jatuh lagi.
Arya menggenggam tangannya.
Di layar itu, masa depan mereka tampak kecil sekali.
Kecil, tetapi nyata.
Setelah konsultasi selesai, Arya membayar biaya klinik dan mengambil jadwal kontrol. Saat mereka keluar ke parkiran, panel sistem muncul.
【Tindakan terdeteksi: menyelesaikan pemeriksaan kehamilan awal dan memahami kebutuhan ibu-janin.】
【Hadiah diberikan: Apartemen Grand Surya Residence, Tower A Lt.16.】
【Hadiah tambahan: Mercedes-Benz S-Class S680.】
Arya berhenti di tengah langkah.
Kirana menoleh. "Ada apa?"
Panel terus berkedip.
【Dokumen kepemilikan tersimpan di brankas unit. Akses penghuni telah aktif.】
【Lokasi kendaraan tambahan: basement penghuni Grand Surya Residence.】
Arya menutup mata sebentar.
GR Supra saja belum bisa ia jelaskan. Sekarang sistem memberinya apartemen dan Mercedes.
"Arya?"
Ia membuka mata. "Kirana, aku ingin menunjukkan satu tempat."
"Tempat apa?"
"Tempat yang lebih aman untuk kamu tinggal."
Kirana langsung tegang. "Arya, aku belum bilang setuju pindah."
"Aku tahu. Lihat dulu. Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pilihan lain."
Apartemen Grand Surya Residence berdiri tinggi di kawasan yang bersih dan dijaga ketat. Pos keamanan di gerbang memeriksa kendaraan, lalu palang terbuka setelah nama Arya muncul di sistem penghuni.
Kirana menatap layar kecil di pos satpam.
"Namamu sudah ada?"
"Sepertinya begitu."
"Kamu benar-benar harus menjelaskan semuanya."
"Aku akan jelaskan sejauh yang bisa aku jelaskan."
"Jawabanmu makin membuatku takut."
"Kalau kamu takut, pegang tanganku."
Kirana menghela napas, tetapi tangannya tetap mencari tangan Arya.
Lift membawa mereka ke Tower A Lt.16. Pintu unit terbuka setelah Arya menempelkan kartu akses yang entah sejak kapan ada di dompetnya.
Lampu menyala otomatis.
Ruang tamu luas terbentang di depan mereka. Jendela besar menghadap kota Surabaya. Ada tiga kamar, dapur bersih, sofa baru, meja makan, dan satu kamar kecil dengan dinding warna lembut yang sudah disiapkan sebagai kamar bayi.
Kirana melangkah masuk tanpa suara.
Ia berhenti di depan kamar bayi.
Di sudut ruangan ada ranjang bayi putih yang masih kosong.
Tangannya naik menutup mulut.
"Arya..."
"Aku tidak mau kamu kembali ke kos sendirian," kata Arya. "Terlalu banyak orang bisa bertanya. Di sini ada keamanan, lift akses, parkiran tertutup. Kamu bisa istirahat."
"Ini terlalu besar."
"Masalah kita juga besar."
Kirana menoleh. Air matanya menggenang lagi.
"Kamu bicara seperti semuanya bisa kamu atur."
"Belum. Tempat tinggal, kontrol dokter, makanan, obat, dan keamananmu bisa aku mulai dari sekarang."
Kirana melihat kamar bayi itu lagi.
Lama.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Untuk sementara," katanya. "Aku tetap harus mengambil barang di kos."
"Aku antar."
"Dan aku tetap mau penjelasan."
"Kamu akan dapat."
Di ruang kerja kecil dekat kamar utama, Arya menemukan amplop cokelat di dalam laci. Isinya sertifikat unit, kartu akses cadangan, bukti pembayaran IPL setahun, dan dua BPKB kendaraan. Nama Arya Pratama tercetak jelas di setiap lembar.
Tangannya sempat berhenti di atas dokumen Mercedes-Benz S-Class S680.
Kirana melihat dari ambang pintu.
"Ada lagi?"
Arya menutup amplop pelan. "Ada mobil lain di basement."
Kirana memijat pelipis. "Aku butuh duduk."
"Kamu memang harus duduk."
"Arya."
"Iya?"
"Aku percaya kamu menjaga aku. Untuk penjelasan uangnya, aku belum percaya penuh."
"Adil."
Kirana menatapnya, lalu masuk ke kamar tanpa menambah pertanyaan.
Malam itu, setelah Kirana tidur di kamar utama karena kelelahan, Arya berdiri di balkon. Di bawah sana, lampu kota Surabaya menyala seperti barisan api kecil.
Panel sistem muncul lagi.
【Status ayah: Tahap awal.】
【Tugas lanjutan: siapkan rumah aman, jaga emosi ibu, hadapi keluarga.】
Arya membaca baris terakhir lebih lama.
Hadapi keluarga.
Di dalam kamar, ponsel Kirana menyala di meja.
Mama.
Nama itu berkedip beberapa kali.
Kirana yang baru terlelap membuka mata. Begitu melihat layar, wajahnya langsung kehilangan warna.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!