Indonesia
NovelToon NovelToon

GODJEK

Ketampanan yang Sia-Sia

Knalpot motor Honda Supra Fit keluaran tahun 2006 itu terbatuk-batuk, mengeluarkan asap tipis sewarna abu-abu monyet, sebelum akhirnya lepas sepenuhnya dari leher mesin dengan bunyi KLANG-PRANG! yang memekakkan telinga.

​Raka Prasetya menghela napas panjang. Pria itu menepikan motornya di bahu jalan layang Non-Tol Antasari yang sedang terik-teriknya. Dengan gerakan perlahan yang terlihat amat dramatis, dia melepas helm ink-nya yang kacanya sudah baret-baret karena sering tergores stang motor lain di parkiran.

​Begitu helm itu terlepas, beberapa pasang mata dari pengendara mobil yang terjebak macet di sebelahnya langsung tertuju pada Raka. Rambut hitamnya yang sedikit basah oleh keringat jatuh dengan acak-acakan yang justru terlihat estetis di dahinya. Rahang tegas, hidung mancung lurus, dan sepasang mata elang yang tajam namun tampak lelah. Jika Raka memakai setelan jas mahal di dalam sebuah drama Korea, dia adalah tipe CEO muda yang dingin yang siap membeli seluruh gedung di kawasan SCBD.

​Sayangnya, dia tidak sedang memakai jas. Raka memakai jaket ojek online hijau yang warnanya sudah memudar menjadi hijau lumut kelaparan, lengkap dengan noda bekas kecap siomay di bagian lengan kanan. Ketampanan kelas atas itu langsung anjlok bebas ke kerak bumi begitu dia berjongkok dan memungut knalpotnya yang panas menggunakan kresek bekas gorengan.

​"Kenapa setiap kali gua mau nyari duit halal, takdir selalu ngajak berantem, sih?" gumam Raka pada diri sendiri. Suaranya yang berat dan deep—yang biasanya bisa membuat mahasiswi semester awal gemetaran—kini hanya terdengar merana di pinggir jalan raya.

​Hari ini adalah hari terburuk dalam kalender kerja Raka sebagai driver ojol. Sejak jam enam pagi hingga jam dua siang, dia baru mendapatkan dua orderan. Yang pertama adalah mengantar bapak-bapak seberat seratus dua puluh kilo ke pasar ikan, dan yang kedua adalah membelikan pembalut titipan seorang mbak-mbak kosan yang salah pin lokasi hingga Raka harus berputar arah sejauh lima kilometer. Tabungannya di rekening tinggal delapan belas ribu rupiah. Dompetnya bahkan lebih tipis daripada selembar tisu dibagi dua.

​Raka menatap layar ponselnya. Aplikasi ojek online reguler miliknya masih berputar dengan tulisan "Mencari Pesanan..." yang sangat tidak membantu.

​"Kalau sampai jam tiga gak ada tarikan, gua terpaksa buka puasa pake promag lagi," Raka mengeluh, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan.

​Tiba-tiba, layar ponsel Raka yang retak di bagian sudut kiri bawah itu berkedip-kedip hebat. Layarnya mendadak berubah menjadi hitam pekat, sebelum sebuah logo baru muncul di tengahnya. Logo itu berbentuk kepala motor ojol tradisional, tetapi di atasnya bertengger sebuah lingkaran cahaya malaikat (halo) berwarna emas neon.

​BZZZZT!

​Ponselnya bergetar begitu kuat hingga tangan Raka hampir kesemutan. Sebuah kotak dialog berwarna merah darah muncul dengan tulisan teks berhuruf Gothic yang sangat tidak santai.

​[PEMBERITAHUAN SISTEM: KUALIFIKASI TERPENUHI!]

​Pengguna: Raka Prasetya (Status: Tampan tapi Kere Parah).

Aplikasi "GODJEK" (God-Level Ojek System) telah berhasil diinstal secara paksa ke dalam perangkat Anda.

Mulai detik ini, performa hidup Anda diukur berdasarkan Rating & Review Bintang 5.

​Raka mengerjapkan matanya. Dia memukul-mukul bagian belakang ponselnya ke telapak tangan, mengira layarnya sedang terkena virus akibat kemarin dia salah mengeklik link download anime bajakan. "Wah, rusak nih HP. Mana gak ada duit buat servis ke Roxy."

​Namun, suara itu tidak keluar dari pengeras suara ponselnya. Suara itu menggema langsung di dalam kepalanya dengan nada suara perempuan yang sangat ramah, sangat profesional, layaknya Customer Service bank swasta, tetapi kalimatnya sungguh biadab.

​"Selamat siang, Mitra Raka! Anda mendapatkan satu pesanan darurat khusus kategori 'Penyelamatan Visual Kelas Kakap'. Waktu Anda untuk menekan tombol 'Terima' adalah sepuluh detik," suara itu bergema di gendang telinga Raka.

​"Hah? Pesanan apa? Virus sialan, keluar dari HP gua!" Raka panik, jarinya sibuk menekan tombol power berkali-kali untuk mematikan ponselnya, namun layar itu tetap bergeming.

​Di layar, angka hitung mundur mulai berjalan dengan warna merah menyala.

​09...

08...

07...

​"Peringatan kepada Mitra Raka," suara CS ramah itu kembali terdengar, kali ini dengan intonasi yang sedikit lebih tajam. "Jika Anda tidak mengambil orderan ini dalam waktu 10 detik, sistem akan memberikan penalti instan. Motor bebek Supra Fit Anda yang knalpotnya copot itu akan diubah secara permanen menjadi sepeda roda tiga Barbie warna merah muda legendaris."

​Raka terbelalak. "Eh, bentar! Jangan main-main lu ya! Ini motor satu-satunya peninggalan buat nyari makan!"

​03...

02...

​Bayangan dirinya yang bertubuh tegap, berwajah tampan bak aktor papan atas, namun harus menggenjot sepeda roda tiga kecil berwarna pink sambil membawa helm ink butut di tengah jalanan Sudirman langsung terlintas di benak Raka. Itu bukan sekadar penalti ekonomi, itu adalah pembunuhan karakter dan harga diri secara total.

​"IYA GUA AMBIL! GUA AMBIL, SIALAN!" teriak Raka frustrasi sambil menekan layar ponselnya dengan kasar.

​TING-TONG!

​Sebuah bunyi lonceng yang sangat merdu terdengar, disusul dengan kembang api digital yang meledak-ledak di layar ponselnya.

​[ORDERAN BERHASIL DITERIMA!]

​Nama Pelanggan: Alya Nindita (Kategori: Mahasiswi Kedokteran Cantik/Butuh Pertolongan Segera).*

​Lokasi Penjemputan: Gang Senggol Buntu, Sektor 4 (Daerah Rawan Tawuran & Begal).*

​Misi: Antar Nona Alya menembus barikade tawuran dan kejaran begal malam dengan selamat tanpa ada lecet seujung kuku pun.*

​Hadiah Awal (Dipinjamkan Sementara): Knalpot Karismatik (Item Unik) & Skill: Charm of the Streets.*

​Raka ternganga membaca detail orderan tersebut. "Tunggu dulu... Gang Senggol Sektor 4? Itu kan daerah yang kalau siang aja polisi mikir dua kali buat masuk, apalagi ini udah mau sore? Terus ini apa? Hadiah dipinjamkan?"

​Sebelum Raka sempat protes lebih jauh, kresek hitam berisi knalpot motornya yang berada di tanah tiba-tiba memancarkan cahaya keperakan. Knalpot Supra butut yang tadinya berkarat, penyok, dan penuh oli hitam itu mendadak berganti wujud. Besinya berubah menjadi krom mengilap yang sangat bersih, bahkan saking mengilapnya, Raka bisa melihat pantulan wajah gantengnya dengan sangat jelas di permukaan besi tersebut.

​Lebih gilanya lagi, knalpot itu melayang sendiri dan terpasang secara otomatis ke leher mesin motor Supra-nya dengan bunyi KLIK yang sangat presisi.

​VROOOMMM!

​Motor Raka tiba-tiba menyala sendiri tanpa perlu diengkol. Suara mesin yang biasanya terdengar seperti mesin jahit rusak berumur seratus tahun, kini berubah drastis menjadi suara raungan mesin superbike empat silinder berkapasitas 1000cc yang sangat padat, berat, dan... seksi. BRUMMM! BRUMMM!

​"Ini... ini beneran motor gua?" Raka terbata-bata, menyentuh jok motornya yang mendadak terasa lebih empuk.

​Tidak hanya itu, sebuah kehangatan aneh tiba-tiba mengalir dari stang motor masuk ke dalam lengan Raka, menjalar hingga ke dadanya. Kepala Raka mendadak dipenuhi oleh ribuan baris kalimat rayuan gombal, teknik melirik yang mematikan, serta cara berbisik yang bisa membuat seorang biarawati meragukan imannya.

​[Sistem: Skill 'Charm of the Streets' (Aktif Sementara)! Anda kini memiliki pesona jalanan yang tidak bisa ditolak oleh makhluk hidup apa pun yang memiliki hati nurani.]

Raka memegangi kepalanya yang agak pusing akibat transfer informasi instan tersebut. "Apa-apaan ini... 'Neng, bapak kamu tukang kebun ya? Soalnya kamu telah menanamkan benih cinta di hatiku...' Hah?! Kenapa otak gua isinya ginian semua?!" Raka bergidik ngeri dengan isi pikirannya sendiri.

​Namun, waktu tidak menunggunya. Di sudut atas layar ponsel, sebuah peta navigasi dengan garis bercahaya emas menunjukkan jalan pintas menuju lokasi Alya. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari tempatnya berdiri.

​"Bintang lima... demi bintang lima dan demi menyelamatkan motor gua dari kutukan sepeda Barbie," Raka meyakinkan dirinya sendiri. Dia memakai kembali helmnya, menaiki motor Supranya yang kini bersuara garang, lalu menarik gas.

​ZUUUT!

​Motor bebek tua itu melesat ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal, meninggalkan kepulan debu dan puluhan pengendara mobil yang melongo melihat sebuah Supra Fit melaju secepat mobil balap Formula 1.

​Sementara itu, tiga kilometer dari sana, atmosfer di sekitar Gang Senggol benar-benar sedang mencekam.

​Matahari mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang di antara dinding-dinding batako yang penuh dengan coretan pilox. Di ujung gang buntu itu, seorang gadis muda berdiri dengan punggung menempel erat pada tembok. Dia adalah Alya Nindita. Wajahnya yang putih bersih tampak pucat pasi, beberapa anak rambutnya menempel di dahi karena keringat dingin. Alya mengenakan kemeja putih khas mahasiswi koas kedokteran dan rok sepan hitam yang kini sedikit kotor. Tas ranselnya dia dekap erat di depan dada seolah itu adalah satu-satunya perisai yang dia miliki.

​Di depannya, sekitar lima langkah jaraknya, tiga orang pria berbadan tegap dengan pakaian rombeng sedang menyeringai. Salah satu dari mereka memutar-mutar sebuah celurit kecil di jarinya, sementara yang lain memegang balok kayu dengan paku yang menonjol di ujungnya. Mereka adalah komplotan begal lokal yang memanfaatkan momen tawuran antar-warga yang sedang pecah di jalan utama untuk menjebak korban yang tersesat.

​"Aduh, Neng Cantik... ngapain main ke sini sore-sore? Nyasar ya?" kata si bos begal, seorang pria dengan tato kalajengking di lehernya yang baunya seperti campuran alkohol murah dan keringat tiga hari tidak mandi. "Sini, tasnya abang bawain. HP-nya juga sekalian, biar abang yang jagain."

​"J-jangan mendekat!" suara Alya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Dia merutuki dirinya sendiri karena tadi terlalu percaya pada aplikasi peta di ponselnya yang menyarankan jalan pintas ini untuk menghindari macet tawuran di depan kampus. Sekarang, dia justru terjebak di gang buntu tanpa ada orang yang bisa menolongnya.

​"Jangan teriak, Neng. Di luar lagi rame orang bacok-bacokan. Gak bakal ada yang denger," kata begal kedua sambil melangkah maju, tangannya terjulur untuk merebut tas Alya.

​Alya memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap untuk skenario terburuk dalam hidupnya. Dia berdoa dalam hati, berharap ada keajaiban yang datang, meskipun dia tahu di tempat sekotor ini, keajaiban adalah barang yang sangat langka.

​VROOOOOOOOOMMMMM!!!

​Tiba-tiba, sebuah suara raungan mesin yang sangat menggelegar memecah kesunyian gang. Suara itu begitu bertenaga, seolah-olah ada seekor monster besi raksasa yang sedang mengamuk di ujung jalan. Tiga begal itu tersentak dan menoleh ke belakang dengan panik.

​Dari tikungan gang, sebuah motor meluncur dengan kecepatan tinggi. Motor itu melakukan teknik drifting yang sangat mulus di atas tanah berpasir, memutar bodi motornya seratus delapan puluh derajat sebelum berhenti tepat di antara Alya dan ketiga begal tersebut. Debu-debu beterbangan, menciptakan efek dramatis seperti kemunculan pahlawan di film-film aksi.

​Namun, begitu debu itu agak menipis, seringai kebingungan muncul di wajah para begal.

​"Hah? Ojol?" celetuk si bos begal dengan nada tidak percaya.

​Di atas motor bebek Supra Fit yang bodinya sudah agak longgar dan diikat karet ban di beberapa bagian itu, duduk seorang pria dengan jaket hijau pudar. Pria itu mematikan mesin motornya. Suara raungan knalpot mewah tadi langsung lenyap, berganti dengan kesunyian yang canggung.

​Raka melepas helmnya lagi. Dia menatap ketiga begal itu, lalu melirik ke arah Alya yang berada di belakangnya. Monolog batin Raka langsung berteriak histeris: Busret, ini mahasiswi kedokterannya spek bidadari begini! Benar-benar sistem gak main-main kalau nyari pelanggan!

​"Mbak Alya ya? Yang pesen Godjek?" tanya Raka dengan nada sesantai mungkin, meskipun tangannya sebenarnya agak gemetaran melihat celurit di tangan si begal.

​Alya ternganga. Dia melihat ponsel di tangannya. Di sana tertera nama driver: Raka Prasetya (Supra Fit B 4607 TFR). "I-iya, Mas... tapi kok bisa masuk ke sini? Ini kan dikepung begal!" Alya panik, buru-buru memperingatkan.

​Si bos begal tertawa terbahak-bahak hingga giginya yang ompong kelihatan. "Hahaha! Pahlawan kesiangan! Oy, Ojol tampang artis! Lu salah masuk panggung ya? Nyawa lu mau gua taruh di mana hari ini?"

​Begal kedua maju sambil mengacungkan balok kayunya. "Serahin motor lu, serahin dompet lu, terus lu boleh pergi sambil merangkak!"

​Raka menelan ludah. Dalam kondisi normal, Raka pasti sudah memutar motornya dan kabur secepat mungkin sambil berteriak minta tolong. Namun, begitu dia berniat untuk mundur, sebuah getaran hangat kembali menyengat dadanya dari arah stang motor. Skill Charm of the Streets miliknya terpicu secara paksa oleh sistem.

​Mata Raka mendadak berubah. Sorot matanya yang tadi penuh ketakutan, kini berubah menjadi sangat sayu, penuh karisma, dan terkesan sangat misterius. Tubuhnya bergerak sendiri di luar kendalinya. Dia turun dari motor dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah dia sedang berjalan di atas catwalk Paris Fashion Week, bukan di gang becek penuh sampah.

​Raka melangkah mendekati si bos begal yang memegang celurit.

​"Mas... apa kamu tidak lelah?" kata Raka tiba-tiba. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat, lembut, dan memiliki gema seksi yang aneh.

​Si bos begal mengerutkan kening, langkahnya terhenti. "Hah? Lelah apa maksud lu?!"

​Raka tidak berhenti berjalan hingga jarak mereka hanya tinggal satu jengkal. Raka kemudian mengangkat tangan kanannya, mengabaikan celurit tajam yang berada di depan dadanya. Dengan jari-jarinya yang panjang dan rapi, Raka menyentuh dagu si bos begal yang kasar berjanggut itu, lalu mengangkatnya sedikit agar mata mereka saling bertatapan secara mendalam.

​"Lelah menyembunyikan luka di balik tajamnya besi itu," bisik Raka dengan tatapan mata yang begitu intens, seolah dia bisa melihat langsung ke dalam lubuk jiwa si begal. "Aku tahu, jalanan ini dingin. Tapi apakah hatimu harus ikut membeku? Celurit ini bisa melukai tubuh orang lain, tapi... siapa yang akan menyembuhkan luka di hatimu yang merindukan kasih sayang yang tulus?"

​Alya yang berada di belakang Raka langsung membekap mulutnya sendiri dengan mata membelalak sempurna. Ini... ini ojol lagi ngapain?! Kok malah ngegombalin begal?! batin Alya menjerit antara bingung, syok, dan terpesona melihat garis rahang Raka dari samping.

​Begal kedua dan ketiga yang tadinya siap memukul Raka, mendadak menurunkan senjata mereka. Mereka saling berpandangan, lalu menatap Raka dan bos mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​Si bos begal yang disentuh dagunya oleh Raka mendadak tubuhnya menjadi kaku. Tatapan mata Raka yang menggunakan kekuatan sistem itu seperti sebuah laser yang menembus seluruh pertahanan mentalnya. Kilasan masa lalunya yang kurang kasih sayang dari orang tua, sering ditolak cewek saat remaja, dan terpaksa jadi kriminal karena tuntutan ekonomi tiba-tiba berputar di otaknya.

​"M-Mas..." suara si bos begal mendadak bergetar. Celurit di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah dengan bunyi dentang pelan.

​"Menangislah jika itu berat," lanjut Raka, memberikan senyuman tipis yang sangat mematikan, lengkap dengan kedipan mata sebelah yang dipaksakan oleh sistem. "Jalanan punya banyak cerita, tapi hari ini, biarkan aku menjadi pendengar setiamu."

​BRET!

​Pertahanan mental si bos begal runtuh sepenuhnya. Pria bertato kalajengking itu langsung berlutut di depan Raka, memegangi celana jins Raka yang sudah robek di bagian lutut, lalu menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang kehilangan balonnya.

​"HUWAAAAAAA!!! MAS OJOL!!! KOK LU BISA TAHU?! GUA SEBENARNYA CUMA MAU DIHARGAIN, MAS!!! GUA CAPEK JADI ORANG JAHAT!!!" raung si bos begal dengan air mata dan ingus yang bercucuran rata.

​Begal kedua ikut menjatuhkan balok kayunya dan berlutut di samping bosnya sambil sesenggukan. "Gua juga, Mas! Gua jadi begal cuma buat beli susu anak gua, tapi gua selalu ngerasa berdosa setiap malam! Huuuu..."

​Begal ketiga bahkan sudah bersimpuh sambil memeluk ban depan motor Supra Fit Raka. "Motor ini... motor ini suaranya mengingatkan gua pada rahim ibu gua yang hangat... Mas Ojol, tolong bimbing kami ke jalan yang benar!"

​Raka yang jiwanya masih sadar di dalam tubuhnya sendiri sebenarnya ingin berteriak: Kalian apa-apaan, sih?! Lepasin celana gua! Najis banget ini ingus semua! Sistem sialan, ini kekuatan macam apa yang lu kasih ke gua?!

​Namun, secara fisik, Raka hanya tersenyum bijak, menepuk-nepuk pundak si bos begal dengan penuh wibawa. "Sudah, sudah. Sekarang, tugas kalian adalah membantu jalanku. Aku harus mengantar putri cantik ini ke tujuannya dengan aman. Bisakah kalian melakukannya?"

​Si bos begal langsung berdiri tegak, menghapus air matanya dengan lengan baju, lalu memberi hormat militer kepada Raka. "SIAP, KAPTEN! Apapun demi Mas Ojol! Jangankan gang ini, satu kecamatan bakal kami amankan!"

​Begal kedua langsung mengambil celuritnya kembali, tetapi kali ini posisinya bukan untuk merampok. Dia berdiri di depan sebagai pembuka jalan. "Semuanya awas! Jalur suci Mas Ojol mau lewat! Yang berani ganggu, gua tebas lu pada!"

​Alya yang menyaksikan seluruh kejadian supernatural-komedi ini dari awal sampai akhir merasa otaknya sudah tidak berfungsi dengan benar. Dia adalah mahasiswi kedokteran yang rasional, terbiasa dengan sains dan logika. Tapi melihat tiga begal sadis mendadak tobat dan berubah menjadi bodyguard ojol hanya karena sebuah kalimat gombalan jalanan... ini adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah dia lihat seumur hidupnya.

​Raka berbalik, menatap Alya, lalu menyodorkan helm cadangan yang talinya sudah agak berserabut. Karisma sistemnya masih aktif sekitar tiga puluh persen. "Silakan naik, Nona Alya. Perjalanan kita mungkin agak sedikit bergelombang, tapi aku jamin, perlindunganku jauh lebih pasti daripada masa depan mantanmu."

​Wajah Alya mendadak merona merah sehangat kepiting rebus. Dia menerima helm itu dengan tangan gemetar, memakainya, lalu naik ke jok belakang Supra Fit Raka. Begitu dia duduk, dia bisa mencium aroma parfum murah Raka yang entah kenapa terasa sangat maskulin di hidungnya.

​"M-Makasih ya, Mas Raka..." bisik Alya pelan, menyembunyikan wajahnya di balik punggung tegap Raka.

​"Pegang yang erat, Neng. Kita akan menembus badai," kata Raka dengan nada keren.

​Raka menyalakan mesin motornya. VROOOOOOMMM! Suara mesin superbike itu kembali menggelegar. Tiga begal tadi berlari di depan motor Raka bagaikan pasukan vanguard presiden, membuka jalan, mengusir kelompok tawuran yang sedang melempar batu di ujung gang, dan memastikan motor Raka bisa melaju tanpa hambatan sedikit pun.

​Sepanjang jalan keluar dari daerah konflik itu, Raka tidak henti-hentinya berteriak di dalam hati, bersyukur sekaligus mengutuk aplikasi misterius yang kini tersemat di kantong celananya. Satu hal yang pasti: hidupnya sebagai ojol tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama

Aroma tajam gas air mata langsung menusuk hidung begitu motor Honda Supra Fit milik Arya meluncur keluar dari kungkungan Gang Senggol. Di depan mereka, pemandangan sore hari Jakarta sudah berubah menjadi neraka kecil yang absurd. Kepulan asap hitam pekat membubung dari ban-ban bekas yang dibakar di tengah jalan, sementara bunyi KLANG-PRANG! dari botol sirup kosong dan batu kali yang beraduan dengan aspal saling bersahutan.

​Dua kelompok massa berbaju rombeng sedang asyik baku hantam. Ada yang mengacungkan gir motor yang diikat tali rafia, ada yang membawa bambu runcing, dan beberapa remaja di barisan belakang sibuk menyulut petasan kembang api ke arah lawan.

​Arya Prasetya, yang saat itu jiwanya masih terjebak di dalam tubuhnya yang bergerak sendiri akibat sistem, menjerit histeris di dalam batinnya. Gua emang kere, gua emang butuh duit buat bantu Bapak sama Ibu, tapi gua gak mau mati konyol jadi korban salah sasaran di sini! Sialan, ini aplikasi macam apa sih?! Apa HP gua kena hack malware Rusia?!

​Pikiran Arya berputar cepat. Dia benar-benar bingung setengah mati. Aplikasi di ponselnya tadinya adalah aplikasi ojol reguler yang biasa dia pakai mencari nafkah sehari-hari. Namun, tampilan yang sekarang menyala di stang motornya benar-benar gila. Di layar retak itu, titik penjemputan Alya Nindita ditandai dengan ikon perisai emas, dan jalur evakuasinya bercahaya neon terang. Arya yakin, di ponsel Alya, gadis itu pasti hanya melihat peta ojol biasa dengan tarif standar belasan ribu rupiah. Pelanggannya tidak tahu kalau driver yang menjemputnya sedang dipaksa oleh suara gaib di dalam kepala untuk melakukan aksi teatrikal tingkat tinggi.

​"Mas Arya! Di depan buntu! Mereka nutup jalan pake separator busway!"

​Teriakan Alya dari jok belakang memecah kepanikan batin Arya. Detik itu juga, Arya merasakan sebuah sensasi yang mendadak membuat seluruh sirkulasi darahnya berdesir hebat.

​Karena pengereman mendadak akibat kerumunan massa di depan mereka, tubuh Alya terdorong ke depan dengan keras. Punggung tegap Arya—yang terbentuk atletis alami karena tahunan membantu Ibunya mengangkat galon air isi ulang—langsung menangkap benturan yang sangat empuk, padat, dan hangat dari dada gadis itu. Tekanan yang begitu nyata itu membuat napas Arya sempat tercekat di tenggorokan. Wangi parfum premium Alya—campuran aroma vanila mahal dan bunga melati yang segar—mendadak merangsek masuk ke dalam sela-sela helm baret Arya, mengalahkan bau asap ban terbakar di sekitar mereka.

​Kedua tangan Alya yang mulus merayap maju, mencengkeram erat pinggang Arya. Melalui jaket ojolnya yang tipis dan sudah memudar, Arya bisa merasakan jari-jari lentik Alya yang gemetar, menempel begitu lekat pada otot perutnya yang keras. Goncangan motor yang tidak stabil membuat dada ranum Alya berulang kali bergesekan dengan punggung Arya, menciptakan gelombang getaran aneh yang mendadak memicu hormon maskulin Arya hingga bergejolak hangat di area bawah perutnya.

​Aduh, Neng... lu meluknya kencang banget. Gua cowok normal yang dididik sopan santun sama Bapak, tapi dalam situasi tawuran begini pun iman gua bisa goyang kalau ditempel spek bidadari begini! monolog Arya, berusaha keras menahan fokusnya agar tidak salah fokus pada kehangatan intim yang menempel di punggungnya.

​Namun, Skill: Charm of the Streets yang dipinjamkan sistem kembali mengambil alih kendali pita suaranya. Alih-alih berteriak ketakutan seperti ojol normal, Arya justru memiringkan kepalanya sedikit, memberikan sudut rahang tegasnya yang menawan, lalu berbisik dengan nada suara yang begitu berat, dalam, dan penuh karisma protektif.

​"Jangan khawatir, Nona Alya. Separator busway hanyalah pembatas beton buatan manusia, bukan pembatas takdir kita yang tertulis di langit. Pejamkan matamu, dan biarkan aku menjadi sayapmu sore ini."

​"M-Mas Arya... dalam kondisi dikepung begini kok masih sempet-sempatnya ngomong puitis begitu?!" jerit Alya. Wajahnya yang putih bersih mendadak merona merah padam, sangat kontras dengan rasa takutnya. Pipinya yang halus kini bersandar sepenuhnya di punggung Arya, mencari perlindungan. Deru napas Alya yang memburu dan terasa hangat kini menerpa ceruk leher belakang Arya, membuat bulu kuduk ojol tampan itu merinding diselimuti gairah tersembunyi yang tertahan.

​Di depan mereka, tiga begal yang tadi bertobat di Gang Senggol benar-benar melaksanakan tugas mereka sebagai vanguard dengan dedikasi luar biasa. Si bos begal bertato kalajengking berlari paling depan tanpa rasa takut. Dia memutar-mutar celuritnya di udara hingga membentuk lingkaran besi berkilau.

​"WOIIII KELOMPOK TAWURAN KERE! JALUR SUCI MAS OJOL GANTENG MAU LEWAT! YANG GAK MAU BERTOBAT, MINGGIR LU PADA!" raung si bos begal, air mata sisa pertobatannya masih membasahi pipinya yang bopeng.

​Begal kedua dan ketiga bertindak seperti perisai hidup di sisi kiri dan kanan. Mereka menangkap balok kayu yang melayang dari arah tawuran dengan tangan kosong, lalu melemparkannya kembali dengan kekuatan penuh. "Ayo Mas Ojol! Lari yang cepat! Amankan Neng Cantik itu!" teriak mereka bersahutan.

​"Pegangan yang erat, Neng! Kita terbang!" seru Arya, jiwanya berteriak pasrah sementara tangannya menarik tuas gas Supra Fit sedalam mungkin.

​VROOOOOOOOOOMMMMM!!!

​Knalpot Karismatik hasil pinjaman sistem itu kembali meraung dahsyat, mengeluarkan suara knalpot racing motor sport 1000cc yang menggetarkan kaca-kaca ruko di pinggir jalan. Motor bebek tua itu melesat lurus menuju separator busway setinggi satu meter yang memblokade jalan. Alih-alih menginjak rem, sistem Godjek memaksa Arya mengarahkan roda depannya menuju sebuah ban bekas yang sedang menyala terbakar, menggunakannya sebagai landasan lompat alami.

​ZUUUUUUUUUT!

​Motor Honda Supra Fit keluaran tahun 2006 itu terbang melayang di udara.

​Alya memekik pelan, secara refleks memeluk tubuh Arya dengan sangat erat dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arya. Seluruh lekuk tubuh bagian depannya menempel tanpa celah pada punggung dan pinggang Arya. Sentuhan intim yang begitu intens di tengah udara itu membuat jantung Arya berdegup dua kali lebih cepat. Selama beberapa detik yang rasanya berjalan lambat, mereka melayang di langit sore Jakarta yang kelabu, dengan latar belakang ledakan petasan kembang api warna-warni yang saling bersahutan di bawah mereka. Pemandangan itu sungguh luar biasa indah dan romantis, sangat mirip dengan adegan film Hollywood, jika saja motor yang mereka naiki tidak memiliki sayap bodi yang bergetar hebat dengan bunyi klek-klek-klek akibat bautnya yang kendur.

​BRAKK!

​Arya mendarat dengan sangat mulus di jalur khusus busway yang kosong melompong di seberang barikade. Keajaiban sistem membuat suspensi motor bebeknya mendadak terasa seempuk mobil sedan mewah kelas atas, sehingga pantat indah Alya tidak mengalami benturan keras di jok belakang.

​Di belakang mereka, tiga begal tadi melambaikan tangan dengan penuh haru di tengah kepulan asap gas air mata. "Dadaaaah Mas Aryaaaa! Bimbing kami lewat jalur langit, Mas!" suara mereka perlahan menghilang seiring menjauhnya motor Arya.

​Begitu keluar dari zona tawuran, Arya terus memacu motornya membelah jalanan Jakarta yang mulai diguyur rintik hujan tipis. Rintik air yang dingin membasahi pakaian mereka, membuat kemeja putih tipis yang dikenakan Alya mulai agak basah dan melekat erat di tubuhnya. Arya bisa merasakan hawa dingin dari tubuh Alya yang bergetar kecil, memaksanya untuk semakin merapatkan tubuhnya pada punggung tegap Arya yang hangat. Kehangatan tubuh Arya seolah menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Alya di sore yang dingin itu.

​Tiga puluh menit kemudian, motor Supra Fit itu berhenti dengan perlahan di depan sebuah rumah mewah dua lantai di kawasan elite Kebayoran Baru. Pagar hitamnya yang tinggi menjulang, dengan papan nama kuningan bertuliskan: Kediaman Prof. Dr. dr. Handoyo, Sp.B. Suasana di sini begitu sunyi, tertib, dan hanya dihiasi suara gemercik air mancur dari arah taman depan.

​Arya memutar kunci kontak ke posisi OFF. Begitu mesin mati, Knalpot Karismatik yang tadinya mengilap seperti krom premium tiba-tiba memancarkan cahaya perak tipis, sebelum akhirnya kembali berubah menjadi besi berkarat yang lehernya disumpal bungkus plastik bekas gorengan. Skill Charm of the Streets di kepala Arya padam seketika. Jiwa ojol miskinnya yang pragmatis dan penuh beban hidup langsung kembali seratus persen.

​Arya buru-buru melepas helmnya, lalu menoleh ke belakang dengan wajah cemas yang dibuat-buat, meskipun ketampanannya tetap tidak bisa disembunyikan. "Mbak Alya! Mbak gak apa-apa, kan? Gak ada yang lecet? Aduh, maaf banget ya tadi jalurnya agak ekstrem sampai terbang begitu. Tolong banget ya Mbak, jangan kasih saya bintang satu. Akun saya bisa langsung disuspen sama kantor pusat kalau dapet bintang satu," mohon Arya dengan tampang memelas. Karisma alpha-male yang menawan tadi lenyap, digantikan oleh potret ojol biasa yang takut tidak bisa setor uang belanja ke ibunya besok.

​Alya turun dari motor secara perlahan. Dia melepas helm cadangan milik Arya yang ukurannya agak kebesaran, lalu mengibaskan rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Rintik hujan yang membasahi kemeja putihnya membuat pakaian dalam berwarna gelap di balik kemejanya terlihat samar-samar, sebuah pemandangan sensual yang membuat mata Arya secara refleks melirik ke bawah sebelum dia buru-buru memalingkan wajahnya dengan telinga yang memerah panas akibat gejolak gairah muda.

​Alya menatap Arya dengan tatapan yang sangat dalam. Matanya yang indah tampak berbinar, memandangi setiap jengkal wajah tampan Arya yang kini tampak basah oleh rintik hujan dan keringat.

​"Mas Arya..." panggil Alya dengan suara yang agak serak namun terdengar sangat seksi di telinga Arya.

​"I-iya, Mbak?" Arya menelan ludah dengan susah payah, mengencangkan jaket ojolnya sendiri untuk menyembunyikan getaran di dadanya.

​Sebuah senyuman manis nan menggoda mengembang di bibir tipis Alya. Dia melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga wangi tubuhnya kembali menguar kuat. "Mas Arya itu... ojol paling aneh, paling nekat, tapi juga paling jantan yang pernah aku temui seumur hidup."

​Alya merogoh tas ranselnya yang setengah basah, lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah—seratus ribu rupiah—dan menyelipkannya langsung ke telapak tangan Arya. Saat jemari mereka bersentuhan, Alya sengaja menggeser ibu jarinya pelan di punggung tangan Arya, memberikan sentuhan halus yang membuat bulu roma Arya berdiri.

​"Ini buat ongkosnya. Kembaliannya ambil aja buat beli knalpot baru atau... buat beli parfum yang lebih mahal supaya pas aku peluk lagi nanti, baunya lebih enak," bisik Alya dengan kedipan mata yang sangat menggoda. "Dan satu lagi... aku udah kasih rating."

​TING-TONG!

​Ponsel di saku celana jins Arya bergetar hebat. Suara asisten sistem wanita yang ramah namun berwibawa kembali bergema langsung di kepalanya.

​"Selamat kepada Mitra Arya! Anda telah menyelesaikan Misi Penyelamatan Visual Kelas Kakap dengan hasil Sempurna! Pelanggan Alya Nindita memberikan Rating Bintang 5 dengan ulasan: 'Ojolnya ganteng parah, pelukannya hangat, bisa bikin tobat begal pake gombalan, dan motornya bisa terbang. Highly recommended untuk dipeluk sepanjang jalan!'"

​"Menghitung Reward... Selesai! Karena ini adalah Bintang 5 pertama Anda di dalam sistem GODJEK, Anda mendapatkan hadiah permanen berikut:"

​[REWARD UTAMA: HP 'GOD-PHONE 13 PRO MAX' (Item Unik)]

Deskripsi: Smartphone khusus sistem yang tidak bisa rusak, anti-air, tidak perlu di-charge selamanya, dan memiliki sinyal gaib yang tembus hingga ke dasar neraka atau puncak khayangan.

​[REWARD BONUS: SKILL PERMANEN: 'MATA DEWA DOMPET KOSONG']

Deskripsi: Memungkinkan Pengguna untuk melihat nominal isi rekening bank atau jumlah uang tunai milik siapa pun hanya dengan menatap dahi mereka selama 3 detik.

​Arya berdiri terpaku di samping motornya. Sebelum dia sempat memikirkan apa itu fungsi 'Mata Dewa Dompet Kosong', pandangannya secara tidak sengaja tertuju pada dahi mulus Alya yang sedikit basah oleh air hujan. Arya menatapnya selama tiga detik penuh tanpa berkedip.

​BZZZT!

​Sebuah teks holografis berwarna hijau neon tiba-tiba muncul mengambang tepat di atas dahi Alya, hanya bisa dilihat oleh mata Arya.

​[Nama: Alya Nindita]

[Isi Gopay/OVO: Rp 4.250.000]

[Saldo Rekening BCA: Rp 145.230.000]

[Catatan Sistem: Anak tunggal dari Prof. Handoyo, dokter spesialis bedah terkaya di Jakarta. Uang jajan bulanannya bisa digunakan untuk membeli motor Supra Fit baru sebanyak 20 unit secara tunai.]

​Arya hampir saja tersedak air liurnya sendiri melihat deretan angka nol yang berbaris rapi di atas dahi gadis itu. Busret! Ini cewek bukan cuma cantik spek bidadari, tapi kaya rayanya gak ngotak! Pantesan aroma tubuhnya bau-bau duit premium! batin Arya menjerit iri bercampur kagum.

​"Mas Arya? Kok malah bengong melihat dahi aku begitu? Ada sesuatu ya di wajah aku?" tanya Alya sambil meraba dahinya sendiri, merasa heran dengan tatapan intens Arya yang seolah ingin menembus kulitnya.

​"Eh? Ah, enggak kok, Mbak! Dahinya... eh maksud saya, wajah Mbak bersih banget, gak ada kotoran," kata Arya buru-buru mengalihkan pembicaraan sambil memasukkan uang seratus ribu itu ke kantong celananya dengan tangan gemetar. "Makasih banyak buat uang dan bintang limanya, Mbak Alya. Ini sangat berarti buat kelangsungan perut saya hari ini."

​Alya terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat renyah dan sensual di telinga Arya. Gadis itu membalikkan badannya untuk berjalan menuju pintu gerbang rumahnya yang megah, namun setelah mengambil beberapa langkah, dia kembali berhenti. Rintik hujan membuat pakaian putihnya semakin menempel, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping dengan sangat jelas. Dia menoleh ke arah Arya dengan tatapan menggoda.

​"Mas Arya..."

​"Ya, Mbak?"

​"Kalau nanti aku pesen ojol lagi... apa bisa langsung request driver-nya Mas Arya? Jujur, aku agak ketagihan dibonceng sama Mas," tanya Alya, bibirnya yang dilapisi lipstik tipis sedikit terbuka, memancarkan ketegangan romantis yang pekat di antara mereka di bawah guyuran hujan sore.

​Arya memberikan senyuman terbaiknya—senyuman jantan alami tanpa bantuan sistem yang bisa membuat pertahanan hati cewek mana pun runtuh. "Tenu saja, Mbak Alya. Aplikasi ojol saya selalu aktif khusus untuk Mbak. Jangankan menembus tawuran warga, menembus masa lalu Mbak yang sepi pun saya siap melayani."

​Alya menggigit bibir bawahnya pelan, tampak sangat tersipu mendengar jawaban Arya. Dia melambaikan tangannya yang mungil sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam gerbang rumahnya yang mewah.

​Arya menghela napas panjang, menatap uang seratus ribu di kantongnya dengan perasaan lega yang luar biasa. Dia melihat sebuah smartphone baru berwarna emas mewah—God-Phone 13 Pro Max—telah terpasang secara ajaib di holder stang motornya, menggantikan HP lamanya yang retak.

​"Uang seratus ribu ini pas banget buat modal Ibu belanja sayur besok, sisa ongkosnya bisa gua pake buat beli bensin pertalite full tank," gumam Arya tersenyum tulus. Meskipun sistem memberinya keajaiban ponsel dewa, mentalitas Arya tetaplah anak berbakti yang mengutamakan keluarganya di atas segalanya. Dengan hati yang ringan, Arya memutar arah motornya, melesat pulang menembus sore Jakarta untuk menyerahkan hasil keringatnya malam ini kepada sang ibu tercinta.

Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa

​Matahari pagi baru saja mengintip di sela-sela kabel listrik yang semrawut di atas gang pemukiman padat penduduk di daerah Tambora. Arya terbangun bukan karena suara alarm ponselnya, melainkan karena suara bapaknya yang sedang sibuk mengajak ngobrol burung perkututnya yang sudah tiga tahun tidak pernah mengeluarkan suara satu ketukan pun.

​"Ayo dong bunyilah, min-minimal berdehem gitu kayak bapak-bapak komplek," terdengar suara Pak Surya dari arah teras rumah yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu.

​Arya bangkit dari kasur lantai tipisnya sambil meregangkan otot-ofot tubuhnya. Dia hanya mengenakan kaos kutang putih dan celana pendek kain. Di balik pakaian sederhananya itu, tubuh Arya tampak sangat proporsional. Otot dada dan lengannya yang kencang terbentuk bukan karena olahraga di pusat kebugaran mahal, melainkan karena hasil bertahun-tahun membantu ibunya mengangkat galon air isi ulang dan mendorong motor Supra-nya yang hobi mogok. Wajah bangun tidurnya, dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan rahang tegas yang dihiasi bayangan jenggot tipis, terlihat begitu menawan. Jika ada agensi model yang tersesat ke gang ini, Arya pasti sudah dikontrak menjadi bintang iklan parfum internasional.

​Namun, ketampanan kelas atas itu langsung buyar saat ibunya, Bu Aminah, masuk ke kamar sambil membawa sapu lidi.

​"Arya! Sudah jam enam lewat, ayo bangun! Itu motor sudah di-lap sama Bapak. Hari ini narik lagi, kan? Ini Ibu sudah buatkan nasi timbel pakai lauk sambal teri sama tahu potong," kata Bu Aminah dengan suara keibuannya yang renyah. Beliau menaruh sebuah bungkusan daun pisang yang rapi di atas meja kayu kecil.

​Arya tersenyum, hatinya mendadak hangat. Dia melangkah mendekati ibunya, lalu mencium tangan wanita yang wajahnya sudah dihiasi kerutan-kerutan halus itu. "Iya, Bu. Kemarin Arya dapet bonus seratus ribu dari penumpang. Uangnya sudah Arya taruh di bawah taplak meja makan buat tambahan beli beras."

​Bu Aminah tertegun sejenak. Matanya menatap Arya dengan binar penuh rasa syukur dan haru. Beliau mengelus pipi anak laki-lakinya itu dengan lembut. "Anak pintar... Meskipun kita hidup pas-pasan, yang penting uang yang kamu bawa pulang itu halal dan berkah, ya. Jangan pernah serakah di jalanan."

​"Siap, Bos Besar," canda Arya sambil memberi hormat militer yang membuat ibunya tertawa pelan.

​Di luar, Pak Surya yang melihat Arya sudah rapi memakai jaket ojol hijau lumutnya langsung menurunkan burung perkututnya. Pria tua itu menepuk pundak Arya dengan tangannya yang kasar. "Le, ingat pesan Bapak. Di jalanan itu kamu ketemu banyak orang. Ada yang baik, ada yang lagi pusing, ada yang galak. Kamu harus tetap sopan. Ketampananmu itu cuma bungkus, tapi isi di dalamnya—kejujuran dan caramu menghargai orang lain—itu yang bikin kamu jadi laki-laki sejati."

​Arya mengangguk dalam-dalam. Kata-kata bapaknya selalu menjadi obat penenang di tengah kerasnya jalanan ibu kota. "Iya, Pak. Arya berangkat dulu. Doakan hari ini akunnya gacor."

​Dua puluh menit kemudian, Arya sudah memarkirkan motor Supra Fit-nya di bawah pohon beringin rindang di samping Warkop Mbak Sri. Tempat ini adalah Markas "PODOMORO", basecamp para driver ojol lokal untuk melepaskan penat sembari menunggu notifikasi pesanan masuk.

​"Waaaaah, si Ganteng Tambora baru dateng nih!" seru Bang Jay, driver senior yang rambutnya sudah memutih setengah, sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam. "Gimana kemarin, Ya? Katanya lu dapet orderan terbang melompati tawuran? Beneran lu pake khodam penglaris dari daerah Banten yang gua saranin?"

​Arya terkekeh sambil duduk di bangku panjang kayu, meletakkan helmnya. "Kagak ada khodam-khodaman, Bang Jay. Itu murni karena motor Supra gua lagi kesurupan aja kemarin."

​Di sudut lain, Dedi "Gacor" sedang sibuk menatap tiga buah ponsel yang dijajarkan di atas meja warkop. Tangannya bergerak cepat menekan tombol refresh. "Gua heran sama lu, Ya. HP lu merek apaan sih itu? Kemarin gua lihat mengkilap banget kayak emas murni. Terus sinyalnya penuh mulu padahal kita lagi di bawah pohon beringin yang biasanya bikin HP lemot. Bagi-bagi dong apk mod-nya!"

​Arya hanya bisa tersesat dalam senyum kecut di balik cangkir kopi hitamnya. Dia melirik ke arah stang motornya, di mana ponsel gaib God-Phone 13 Pro Max terpasang dengan kokoh. Hanya mata Arya yang bisa melihat bahwa layar ponsel itu sedang menampilkan hitungan mundur performa mingguan dan statistik "Poin Kepuasan Bidadari". Arya masih mengira aplikasi ini adalah semacam program eksperimental rahasia milik pemerintah yang salah sasaran masuk ke ponselnya. Dia belum sepenuhnya paham mengapa takdir memilih dirinya.

​"Mas Arya... kok kopinya cuma diminum dikit? Mau Mbak buatin susu jahe biar makin berstamina main di jalanan?" goda Mbak Sri, sang pemilik warkop, sambil menyandarkan tubuhnya di meja counter dengan pose yang sengaja dibuat agak manja. Kemeja batiknya yang agak ketat sedikit memperlihatkan lekuk dada dan pinggulnya yang berisi.

​Arya buru-buru memalingkan wajahnya, menyeka dahi dengan canggung. "Gak usah, Mbak Sri. Kopi hitam aja cukup kok, makasih banyak."

​Bang Jay dan Dedi langsung tertawa terbahak-bahak melihat Arya yang selalu salah tingkah jika digoda wanita. "Lu mah lempeng banget jadi cowok, Ya! Padahal kalau lu mau, janda kembang komplek ini udah lu dapet dari kemarin-kemarin!" ledek Bang Jay.

​[PERUBAHAN SUDUT PANDANG: POV ALYA NINDITA]

​Sementara itu, beberapa kilometer dari basecamp ojol, di dalam sebuah kamar tidur yang luas dan bernuansa merah muda pastel di kawasan Kebayoran Baru, Alya Nindita sedang duduk di tepi ranjang king size-nya. Di tangannya, sebuah ponsel pintar berlogo buah apel tergenggam erat. Layarnya sedang menampilkan halaman riwayat transaksi aplikasi ojek online miliknya.

​Mata indahnya menatap foto profil seorang driver bernama Arya Prasetya. Di foto itu, Arya tampak tersenyum canggung ke arah kamera dengan latar belakang tembok semen yang belum dicat, namun struktur wajahnya yang sempurna tetap terlihat begitu menawan.

​Alya menyentuh bibir bawahnya sendiri dengan ujung jari telunjuknya. Pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin sore di tengah guyuran hujan rintik-rintik. Kehangatan punggung tegap Arya, aroma tubuhnya yang maskulin bercampur wangi matahari yang anehnya sangat menenangkan, serta caranya berbisik dengan nada protektif yang begitu jantan di tengah kepungan tawuran warga... semuanya masih terekam jelas di benak Alya.

​Jantung Alya mendadak berdegup dua kali lebih cepat hanya dengan mengingat momen saat tubuhnya menempel tanpa celah di punggung Arya ketika motor bebek itu terbang melewati barikade separator beton. Kulitnya terasa berdesir, memberikan sensasi hangat yang belum pernah dia rasakan dari pria-pria kaya atau sesama mahasiswa kedokteran yang selama ini mencoba mendekatinya. Pria-pria itu biasanya hanya pamer mobil mewah atau kekayaan orang tua mereka, sangat berbeda dengan Arya yang mempertaruhkan nyawanya dengan berani demi keselamatan seorang pelanggan yang baru ditemuinya.

​"Arya Prasetya..." bisik Alya pelan, sebuah senyuman tipis yang penuh kerinduan mengembang di wajah cantiknya yang tanpa riasan. "Kenapa seorang ojol bisa punya karisma yang sekuat itu, sih? Kamu itu... sebenarnya siapa?"

​Alya menghela napas panjang, merapatkan kedua lututnya ke dada, lalu menyembunyikan wajahnya yang merona merah panas di balik bantalnya. Dia merasa sedikit malu pada dirinya sendiri karena telah memikirkan seorang driver ojol dengan cara yang begitu intim dan bergairah sepanjang malam.

​[KEMBALI KE POV ARYA]

​Di bawah pohon beringin Markas "PODOMORO", kedamaian Arya mampus seketika.

​BZZZZT!

​Ponsel gaib di stang motornya bergetar dengan frekuensi yang sangat kuat, hingga cangkir kopi di tangan Arya ikut bergetar. Suara asisten sistem wanita yang super ramah namun terdengar sangat mengancam kembali bergema secara eksklusif di dalam gendang telinga Arya.

​"Selamat pagi, Mitra Arya! Waktu bersantai Anda di bawah pohon keramat telah habis. Sistem GODJEK mendeteksi adanya pesanan premium yang baru saja masuk ke server reguler dari pelanggan cantik pilihan takdir! Waktu Anda untuk menekan tombol 'Terima' adalah sepuluh detik..."

​Arya mengumpat dalam hati, buru-buru meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan bunyi TAK! yang membuat Bang Jay dan Dedi tersentak bingung. "Ada apa lu, Ya? Akun lu jebol?" tanya Dedi.

​"Kagak, Bang! Gua dapet tarikan darurat!" seru Arya berbohong.

​Di dalam kepalanya, suara sistem kembali melanjutkan dengan nada yang mendadak berubah menjadi sangat sensual sekaligus penuh jika diabaikan. "Peringatan kepada Mitra Arya: Jika Anda sengaja mengabaikan atau menolak pesanan ini, sistem akan mengaktifkan Mode Penalti Instan. Celana pendek jins yang Anda kenakan saat ini akan diuapkan secara gaib, dan tubuh Anda akan dipaksa mengenakan rok mini ketat bermotif macan tutul seksi milik biduan dangdut keliling di depan rekan-rekan ojol Anda sekarang juga."

​Keringat dingin langsung mengucur deras di punggung Arya. Membayangkan dirinya yang bertubuh kekar dan tampan harus berdiri di depan Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri sambil memakai rok mini macan tutul adalah sebuah mimpi buruk yang bisa menghancurkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang pria sejati.

​"AMBIL! GUA AMBIL, JANGAN MACEM-MACEM LU SAMA ROK MACAN TUTUL!" teriak Arya histeris di dalam batinnya sambil jarinya menghantam layar God-Phone miliknya dengan kecepatan cahaya.

​TING-TONG!

​[ORDERAN KEDUA BERHASIL DI-INTERSEP & DI-UPGRADE!]

​Nama Pelanggan: Citra Kirana (Kategori: CEO Muda Cantik / Korban Penindasan Gengsi).

​Lokasi Penjemputan: Lobi Utama Grand Indonesia Mall (Kawasan Lobi Eksekutif Menara BCA).

​Misi: Menjelma menjadi pacar sewaan kelas atas untuk menyelamatkan Nona Citra dari intimidasi dan kesombongan mantan tunangannya dalam waktu 5 menit!

​Hadiah Awal (Dipinjamkan Sementara): Kekuatan: Karbo-Kinesis (Kemampuan mengendalikan kalori, lemak, dan kandungan karbohidrat makanan secara instan lewat tatapan mata).

​Arya ternganga menatap deskripsi misi di layar ponselnya. "Citra Kirana? CEO muda di Grand Indonesia? Terus ini apa lagi... Karbo-Kinesis? Mengendalikan kalori makanan secara instan buat apa di mall mewah?!" Arya menggelengkan kepalanya dengan pasrah, merasa logika dunia ini sudah benar-benar bergeser sejak aplikasi ini terpasang di HP-nya.

​Arya buru-buru memakai helm ink bututnya, mengambil bungkusan nasi timbel buatan ibunya yang penuh doa itu dan memasukkannya ke dalam bagasi motor bawah jok, lalu menghidupkan mesin Supra Fit-nya. Meskipun Knalpot Karismatiknya sudah berubah kembali menjadi besi berkarat, mesin motor itu entah bagaimana tetap terasa sangat responsif dan bertenaga berkat sisa energi sistem kemarin.

​"Bang Jay, Dedi, Mbak Sri! Gua cabut duluan ya! Ada panggilan negara di pusat kota!" seru Arya sambil menarik tuas gasnya kuat-kuat.

​"Yo! Hati-hati di jalan, Ya! Jangan lupa sapa khodam lu kalau ketemu di jalan!" teriak Bang Jay melambaikan tangan.

​Motor bebek tua itu melesat membelah jalanan Tambora, menuju kawasan megah Grand Indonesia Mall di pusat Jakarta. Arya merapatkan jaket ojolnya yang mulai diterpa angin kencang, bersiap menghadapi badai kesalahpahaman, komedi absurd, dan tensi romansa baru yang jauh lebih panas bersama sang CEO cantik bertubuh molek yang sedang menunggunya di lobi mewah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!