Indonesia
NovelToon NovelToon

I'M A Villain

malam yang mengubah segalanya

Jakarta, Desember 2012.

Malam tahun baru.

Duar.. duar .... duaarrrr....

Dentuman suara letusan kembang api bersautan saling sambar di langit malam. Kilauan pecahan kemercik sinaran api yang cantik silih berganti di udara malam yang sangat meriah.

Begitu ramai. Alun-alun kota Jakarta di penuhi lautan manusia yang berdesakan. Parkiran kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi area. Berbagai macam manusia dengan rupa, warna kulit, agama dan suku, berbaur menjadi satu. Alun-alun kota di penuhi lautan manusia dari berbagai penjuru.

Banyak di antaranya pasangan sejoli, anak muda, pasutri, bahkan anak-anak yang tampak ceria menyaksikan pemandangan tersebut sambil bersorak.

Malam ini, aku ingin sekali bebas, tanpa ada yang mengatur, atau mencegahku pergi.

Namun, keramaian dan meriahnya malam tahun baru itu malah menjadi malam yang penuh kepahitan untukku. Malam itu, benar-benar mengubah segalanya dalam hidupku.

******

 Saat itu, aku hendak menyaksikan malam puncak tahun baru bersama teman-temanku di bundaran HI kota Jakarta. Aku sudah bersiap berangkat. Pakaian serba rapi, rok pendek selutut motif kotak-kotak dengan balutan kemeja putih dan rambut hitam panjangku terurai cantik. Aku duduk di pinggir teras sambil memasang sepatu putih.

Tiba-tiba sebuah panggilan telpon dengan bertuliskan nomer asing di layar, masuk. Handphoneku di atas tas bergetar hebat. Aku hanya melirik ke layar dari jauh. Panggilan entah dari siapa tak begitu ku hiraukan. Tidak ada namanya, pikirku itu hanya panggilan spam atau iseng saja. Aku kembali memasukan hp kedalam tas kecil yang ku letakkan di atas ubin.

Truuurrrrttt ... Truuurrrrrttt ... Truuurrrrrttt...

Handphone ku bergetar kuat lagi, memang sengaja aku silent, hanya mode getaran. Niatku ingin bebas malam ini, tanpa ada satupun gangguan. Namun, panggilan itu tak henti, handphoneku terus berdering. Aku mulai risih dan berniat membanting ponsel itu.

*****

Aku, seorang remaja berusia 14th yang baru beberapa bulan lulus SMP, aku tidak punya orang tua lagi. Saat usiaku 8 tahun, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan kerja di salah satu kantor pemerintah. Keduanya tidak selamat, kini aku hanya hidup berdua dengan seorang kakak perempuan, yang kini bekerja di luar negeri sebagai seorang konsultan ahli gizi di salah satu perusahaan makanan instan di New York.

Dreeeeetttt .... Dreeettt ... Dreeetttt ...

Handphone ku kembali bergetar.

Aku mengangkat hp tersebut dan melihat ke arah layarnya.

Keningku mengkerut, "Siapa sih yang nelpon malam-malam begini?"

Aku sedikit risih dengan panggilan itu dan menggerutu halus.

Setelah berkali-kali panggilan tersebut ku abaikan, aku jadi penasaran. Hatiku terbesit, apa jangan-jangan itu panggilan penting. Aku buru-buru mengangkat panggilan itu.

"Halo ... "

Tanpa jeda, suaraku langsung di sambut oleh suara berat seorang pria.

"Apa benar ini Irish vanderick?"

Pertanyaan itu membuat jantungku berdebar. Aku berhenti bernafas beberapa detik. Suaranya terdengar berat dan serius. Tiba-tiba seseorang yang tak ku ketahui siapa, mengetahui namaku. Dari nada bicaranya menggunakan bahasa asing. Aku mencoba menjawab sebisanya.

"Ya benar,"

"Kami sudah mengirimkan email, dan tiket ke Los Angeles, pesawat anda akan terbang dalam waktu 2 jam lagi. Segera bersiap untuk menjemput jenazah saudara anda, Isha Vanderick."

"Je ... jenazah ... A ... apa yang ... " aku tergagap setelah mendengar kabar mengejutkan tersebut. Begitu tiba-tiba, tanpa aba-aba.

"Ya ... Isha Vanderick.. ditemukan meninggal dunia empat hari yang lalu, dalam keadaan yang kurang baik. "

"A.. apa ... maksudnya? Bagaimana mungkin? Siapa yang meninggal? Tolong jelaskan!"

Nada bicaraku meninggi, aku ingin kejelasan, tapi penelpon itu hanya menyampaikan sedikit dari informasi yang bisa ku cerna.

"Setengah jam lagi akan ada yang menjemput anda untuk ke bandara, bersiaplah nona!"

Kata-kata itu lebih tepatnya adalah perintah, bukan informasi. Aku masih terkejut. Otakku berhenti berfikir.

"Hei ... katakan ... apa ... "

"Jangan sampai terlambat, jika anda ingin bertemu jenazah."

Tuuutttt ....

Secara sepihak panggilan itu di matikan. Belum sempat aku bertanya lebih lanjut. Hatiku seketika kacau. Tak sempat bertanya apapun atau tau kejelasan apapun lagi, panggilan itu mengubah seluruh rencanaku. Aku panik, memikirkan menjemput jenazah kakakku sendiri.

"Apa yang terjadi ...?"

Dadaku penuh sesak, pikiranku tak karuan, air mataku perlahan jatuh berlinang. Aku bingung, apa yang harus aku persiapkan secara mendadak ini.

Aku buru-buru masuk ke kamar dan mengemas beberapa pakaian. Pikiranku benar-benar berantakan, entah apa yang ku dengar barusan. Bagaimana mungkin tanpa kabar apapun, tiba-tiba saudaraku satu-satunya meninggal? Dan aku di minta untuk menjemput jenazah kakakku di LA.

Ya tuhan, aku kacau sekali. Aku terburu-buru mencari koper. Aku isi dengan beberapa pakaian dan perlengkapan mandi. Aku juga membawa beberapa document penting, sekiranya nanti akan di perlukan. Saat menata pakaian di dalam koper, aku tak lupa membawa fotoku bersama kakak saat di taman hiburan.

Itu adalah foto saat aku berusia sepuluh tahun. Satu-satunya kenangan terakhir bersama saudara perempuanku. Hampir empat tahun kakak tidak pernah pulang ke Jakarta, setiap di tanya dia hanya mengatakan kalau tidak bisa cuti. Aku yang hanya anak kecil baginya, harus percaya dengan semua bualan itu.

Beberapa detik memandangi foto tersebut, tiba-tiba air mataku berderai. Aku teringat akan kebersamaan kami. Hatiku benar-benar hancur. Aku sungguh tidak tau apa-apa. Kenapa tiba-tiba kakak meninggalkan aku selamanya. Aku tak ingin percaya perkataan orang tersebut, tapi tidak mungkin itu bualan.

Aku terduduk sambil memeluk foto itu, benakku hanya terbayang saat terakhir kakak pergi ke bandara sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Selama ini aku hidup di biayai kakak, dan aku menumpang di rumah tante sebelah ibu.

Aku menangis tersedu-sedu, bayangan wajahnya selalu ada di pikiranku.

"Kakak, apa ... apa yang terjadi? Aku tidak percaya.. .. tidak mungkin kakak pergi meinggalkan aku sendiri."

Air mataku jatuh membasahi lantai. Aku masih tersedu-sedu. Antara ingin percaya dan syok, panik, semua menjadi satu. Wajahku berantakan. Hanya air mata yang tampak membasahi pipi.

Titiit .... titit ..... Sebuah klakson mobil terdengar nyaring dari lantai bawah.

"Iris ... jemputannya sudah siap. Segera turun, nak ... !" panggil tanteku dari lantai bawah.

Rupanya tante sudah di beri tahu oleh penelpon tadi tentang kabar duka itu. Aku yang sempat tak percaya akan kabar itu jadi semakin bingung dan panik.

"Apa ... jemputan? Secepat itu?"

Benar saja, belum sempat aku merapikan wajahku yang kusut, jemputan dari telpon tadi sudah datang dan menunggu di bawah beberapa menit yang lalu. Aku bergegas. Tanpa bertanya apapun aku langsung masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu melesat di jalan.

Mengidentifikasi jenazah

Westwood Lost Angeles, California.

Ronald Reagan Medical Center UCLA.

Sesampainya di rumah sakit ternama di Los Angeles, aku langsung di sambut oleh seorang pria paruh baya yang tampak gagah dan kekar dengan pakaian rapi di depan pintu RS. Pria itu berkacamata hitam, wajahnya lugas dan dingin. Di kupingnya mengenakan earphones portable yang tampak sangat canggih.

 Aku langsung diantar menuju kamar mayat. Setiap langkahku gemetar gugup. Aku bernafas cepat, begitu sampai di sana aku seakan tak berani melangkahkan kakiku masuk lebih dalam ke kamar tersebut. Langkahku terhenti di depan pintu. Seolah tubuhku tak ingin bergerak, kakiku terpaku di depan pintu yang sudah terbuka lebar menyambutku.

Jantungku tiba-tiba berdebar tak karuan, detaknya lebih kencang dari sebelumnya, tubuhku rasanya mulai menggigil, apa yang aku hadapi, rasanya aku tak ingin menyaksikan sesuatu yang ada di dalam sana. Isi hatiku ingin menolak, otakku ingin berpaling dari ini semua, namun jiwa ini masih penasaran. Siapakah gerangan di balik sosok kain putih yang terbaring di atas tempat tidur besi itu.

Setiap langkah kakiku gemetar mendekati tubuh yang tak bernyawa di hadapanku. Aku tak berani membuka kain penutupnya, rasanya aku tak siap untuk menerima kenyataan. Tanganku tarik ulur hendak menggapai kain tersebut. Gigiku tiba-tiba merapat. Mataku menyipit. Nafasku seakan sesak.

"Nona, segera identifikasi! Apakah benar ini adalah Isha Vanderick? jika setelah memverifikasi, harap tanda tangani surat pernyataan dan jenazah bisa dibawa pulang."

Kata-kata tersebut seolah menyambar dadaku, aku tak bisa menjawab. Air mataku terus mengalir, raut wajahku berubah menjadi pucat pasi. Aku tak berani bersuara, gigiku merapat menahan tangis. Aku sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya, saat kedua orang tuaku meninggal, hingga butuh waktu lama untukku menghilangkan rasa trauma.

Lalu kini aku harus dihadapi dengan kenyataan yang lebih pahit lagi, rasanya aku tidak sanggup. Tapi aku harus melakukannya untuk mengenali siapa sosok di balik kain putih ini. Perlahan kakiku melangkah mendekati jenazah tersebut. Aku memberanikan diri untuk menggapai ujung kain dan membuka penutupnya, dan begitu kain terbuka.

Aaaaaaarrrrrrggghh..... Aaaaaaaa. Aku menjerit dan berteriak sejadi-jadinya. Aku terhuyung hingga menabrak dinding lemari es tempat penyimpanan mayat.

"Tidak ... tidak! Bagaimana mungkin, tidak mungkin! ini bukan Kak Isa, ini pasti orang lain."

Aku langsung menjerit histeris. Nafasku sesak, seolah ada benda padat yang menyumbat di batang leherku. Aku kesulitan bernafas. Mataku liar. Aku tak percaya apa yang ku lihat. Aku tak ingin mengakui apa yang menimpaku ini.

Aku menangis terisak. Raunganku memecah kesunyian di dalam kamar mayat. Pilu suaraku, tak tertahan. Aku tak sanggup lagi menahan tangis.

 Sesosok mayat di balik kain putih itu tampak bukan seperti saudaraku. Aku tak mengenalinya, tapi kenyataan pahit memukulku sadar. Bagaimana mungkin aku tak mengenali saudaraku sendiri?

Tanda lahir di bawah telinganya itu jelas kak Isha. Anting-anting yang dia gunakan, itu adalah kado ultahnya empat tahun lalu yang aku berikan.

"Aaaarrrhhhgggg.... kakak ... kakak ... kenapa ... kenapa ini bisa menimpa kakakku, apa salah kak Isha ... kenapa dia harus mati mengenaskan seperi ini?"

 Aku tersungkur ke lantai, aku benar-benar syok. Aku menutup kedua telingaku. Aku tak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh dokter dan juga laki-laki yang membawaku tadi. Aku tak mendengar jelas apa ucapan mereka, tiba-tiba kepalaku pusing, tubuhku seperti mengambang di tengah lautan. Aku hampir kehilangan kesadaran.

Aku tidak tahu apa yang kulihat ini, ini tampak seperti permainan perasaan. Egoku menolak kenyataan, tapi hati tak bisa bohong.

Seorang mayat perempuan dengan keadaan yang sangat mengenaskan dan mereka mengatakan itu adalah saudaraku. Bagaimana mungkin? Aku tak ingin percaya kenyataan.

"Nona ... jika kau tidak kuat silakan keluar! tapi kau harus mengidentifikasi mayat ini agar prosedurnya bisa kami lakukan dengan cepat." Tegas pria tadi sembari memberikan sebuah catatan kematian padaku.

 Aku menyeka air mataku, perlahan aku mengatur nafas. Aku menepis berkas yang di serahkan sambil maju beberapa langkah.

Setelah menenangkan diri beberapa detik. Aku memberanikan diri lagi mendekati mayat tersebut. Air mataku tak henti mengalir. Aku sesegukan sesekali.

 Benar saja, dia adalah kakakku, aku menggapai tangan mayat yang menjuntai sambil memegangi gelang favoritnya. Aku masih tak percaya, bagaimana bisa seorang kakak berusia 33 tahun yang katanya pergi ke Los Angeles untuk menjadi seorang konsultan tapi kini dia terbaring tanpa nyawa bahkan dengan keadaan yang sangat mengenaskan.

Pria tadi membukakan seluruh kain penutup, dan dokter visum membacakan hasil autopsi dengan jelas. Aku hanya bisa menangis mendengarnya, sambil menahan rasa geram yang tak tertahan. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Gigiku mengertak. Telingaku hampir tak mampu mendengar penjelasan dokter. Tapi aku harus kuat, aku ingin tau dengan jelas, penyebab kematian kakaku.

 Tubuhnya dipenuhi luka tusuk, menurut keterangan dokter, hasil visum menunjukan terdapat 40 tusukan serius di seluruh tubuhnya, hingga mengalami pendarahan hebat. Ia bahkan mengalami pelecehan seksual berat secara berulang.

Di perkirakan kakak sudah berhari-hari di sekap dan di lecehkan. Mendengar hal tersebut aku mengerang menahan suara jeritanku. Aku menatap tajam ke arah tubuhnya yang membiru pucat. Tubuhku menggigil hebat menahan emosi. Aku menggigit bibirku agar tak bersuara. Pandangan mataku tak fokus. Aku tak ingin menatap ke arah luka-luka itu.

 Lehernya mengalami tujuh sayatan persisi sehingga memutus saluran nafasnya. Jelas saja itu adalah sayatan seorang ahli. Lidahnya terpotong, wajahnya memar bengkak seperti dipukul oleh benda tumpul berulang kali, sebagian rambutnya hilang, mungkin bekas dijambak oleh seseorang secara paksa hingga tercabut, dan matanya telah hilang satu.

"Ya Tuhan .... apa ini dokter ...kenapa???"

Aku terkulai lemas, tak sanggup aku mendengar lebih lanjut. Air mataku seketika kering. Nafasku tersengal.

"Dari hasil visum, tampaknya mata korban di tusuk dengan besi panas. Karena daging di pinggiran bola matanya tampak hangus terbakar."

"Cukup ... cukup dokter ... aku tak ingin mendegar lebih lanjut. Bagaimana bisa sekejam itu?"

 Bagaimana mungkin kematian tersebut bisa didapati oleh seorang konsultan? Aku benar-benar tidak percaya, apa yang kulihat ini? Tangisku semakin pecah, aku menarik kakiku yg terasa berat, aku memeluk mayat kakak dengan sekuat tenaga.

 Aku meraung, menangis sejadi-jadinya memeluk mayat yang hampir tak di kenali itu. Dokter dan pria yang membawaku tadi mencoba memisahkan aku dan mayat kakakku. Mereka menarik pinggang dan tanganku agar melepaskan mayat tersebut. Tapi aku tak ingin melepasnya.

 "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa seperti ini? siapa yang tega melakukan ini?"

 Aku terus-menerus mempertanyakan hal tersebut, aku bertanya kepada lelaki yang membawaku tadi sambil terus memukulnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi kepada kakakku? Kenapa dia bisa mati seperti ini? jelas ini bukan kecelakaan kerja, ini adalah pembunuhan!! Pembunuhan yang benar-benar terencana dan biadaaab!!"

"Apa tidak ada yang bisa menjelaskan??!!" suaraku menggelegar menggetar di ruang mayat tersebut.

 Seketika keadaan hening. Hanya kehampaan suara orang-orang yang tersirat. Tidak ada jawaban. Hanya bisu. Aku terduduk lemah tanpa daya.

"Apa kalian tidak akan bicara ...??"

Kebenaran yang tersembunyi.

Setelah usai menyuarakan unek-unek di hatiku, aku sedikit tenang. Tapi hanya kebisuan yang ku dapati. Tak ada satupun di antara mereka yang mau menjelaskan sesuatu kepadaku.

"Keadaan sudah begini kalian masih saja diam. Apa salah kak Isha sampai ada yang tega membunuhnya dengan keji seperti ini?"

Aku terduduk lemas di lantai. Suara tangisku tersendat. Aku menatap hampa kearah laki-laki yang membawaku tadi.

Melihatku hampir hilang harapan, pria tadi lalu memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang bernama Johanes, atau kerap dipanggil Jojo. Dia adalah seorang pria berusia 38 tahun yang mengaku sebagai rekan kerja kakakku. Penampilannya bukan sepeti orang kantoran, lebih tepatnya seperti Bodyguard orang kaya.

Aku hanya menggeleng pelan. Aku duduk di kursi depan pintu kamar mayat. Aku pasrah. Aku hanya melihat dari jauh, beberapa orang petugas medis membersihkan tubuh kakakku dan membungkusnya dengan kain putih. Mengemas jenazah kakak dengan rapi.

"Sebelum aku memperkenalkan diri lebih jauh, sebaiknya jenazah kakakmu segera dikemas dan dimakamkan dengan layak. Jika di bawa pulang ke Indonesia, itu akan membutuhkan waktu dan pengurusan surat yang berbelit dari duta Indonesia. Sebaiknya di makamkan di sini saja."

"Aku tidak perduli, Sir. Aku ingin kakkaku pulang. Dimakamkan di samping kedua orang tuaku. Bagaimanapun caranya kau harus membantu kepulangan mayat ini,"

"Baiklah, kami akan memulai prosedurnya. "

Mendengar ucapan tersebut aku pun mengangguk, walaupun sesungguhnya air mata ini tak bisa kubendung lagi. Aku masih saja menangis, mengigat luka yang di terima kakaku. Aku terduduk di depan kamar mayat itu dengan posisi jongkok, lutut panjangku menutupi wajahku yang sembab.

Tak lama kemudian datang lagi seorang pria tua kisaran umur 50 tahunan menggunakan jas rapi berwarna coklat muda dan topi koboinya. Ia ditemani oleh beberapa Bodyguard yang tampak sangat terlatih di sampingnya. Aku semakin menggelengkan kepala pelan. Aku sudah menduga, pasti ada sesuatu yang besar tersembunyi.

Tak lama, Pak Jojo pun memberi hormat kepada pria tersebut. Aku semakin penasaran. Sebenarnya ada apa ini? Mereka pun lalu duduk di dekatku.

"Nona ... perkenalkan, ini adalah ketua Asosiasi."

"Asosiasi?" jawabku dengan cepat sembari berdiri di hadapan pak Jojo. "Apa maksudnya? Aku hanya ingin tahu kenapa kakakku bisa mati mengenaskan seperti ini? Apa yang terjadi? Saat ditelepon, kalian hanya memberitahu kalau dia mengalami kecelakaan kerja, aku hanya tahu kakakku bekerja sebagai konsultan ahli gizi, tapi kenapa seorang konsultan bisa mati seperti ini? Ini .... ini seperti ... (suaraku berhenti) .. ini adalah pembunuhan brutal!" ujarku ngos-ngosan.

Aku terduduk lagi dan menangis. Setelah beberapa detik, aku pun tenang. Pria tua itu mulai bersuara.

"Kakakmu bukanlah seorang konsultan seperti yang kau tahu. Dia adalah seorang mata-mata terbaik dari asosiasi yang bernama Phantoms."

Seketika mendengar jawaban tersebut aku langsung berdiri menghampiri pria tua yang bicara di depanku.

"Phantoms, asosiasi apa itu? Sebenarnya apa yang selama ini kakakku sembunyikan? dan aku tidak tahu,"

"Seseorang yang bekerja sebagai mata-mata atau Phantoms, identitasnya akan disembunyikan. Seluruh identitasnya baik itu dari dunia sekalipun keluarganya hanya sedikit yang tahu, itu demi keamanan. Namun kami tidak menyangka, kalau nasib kakakmu begitu tragis,"

"Apa yang terjadi kepada kakakku, kenapa dia sampai bisa seperti ini? aku tahu kalau menjadi mata-mata itu memang adalah pekerjaan yang sangat berat dan berbahaya, aku sering menontonnya di televisi dan itu sangat membahayakan nyawa."

"Baiklah, kami akan menjelaskan kepadamu secara detail. Kau berhak mengetahui karena kau adalah saudaranya, tapi ingat! percakapan ini hanya pernah kau dengar sekali dan tidak akan pernah keluar lagi, apalagi didengar oleh orang lain!"

"Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada kakakku."

Pandangan mataku tajam, aku menjadi sangat serius. Mereka lalu membawaku ke dalam ruangan sepi, tepatnya di dalam bagian kamar mayat yang tersembunyi. Para pengawal berjaga di tiap sudut. Keamanan di periksa berulang kali.

Aku tahu, kebenaran yang akan ku ketahui itu sangat rahasia. Aku melihat beberapa orang keamanan yang mematikan cctv dan menghapus jejak. Mereka mengelilingiku bagai tawanan. Aku merasa bagai seekor semut di antara kawanan serigala beringas. Aku sedikit takut, tapi hatiku takkan goyah. Aku ingin tahu kebenarannya.

*****

Pria tua itu bernama Christopher atau sering dikenal dengan nama Cp. Ia lalu menceritakan bahwa kakakku direkrut menjadi seorang mata-mata sekitar lima tahun lalu. Kakakku menjadi Phantoms paling terlatih di dalam asosiasi. Dia adalah satu-satunya wanita yang layak di sebut mahakarya, bisa delapan bahasa, menguasai IT, obat-obatan dan ilmu bela diri. Di dalam asosiasi, bakatnya yang luar biasa membuat Isha menjadi satu-satunya agen wanita yang di segani.

Saat pertama kali bergabung dalam Phantoms dia berhasil mencetak prestasi dengan menyelesaikan misi perdamaian luar negeri. Tak lama dia pun di berikan misi khusus untuk mengawasi projeck besar yang melibatkan seluruh tatanan negeri.

Sebuah bisnis keluarga ternama yang di curigai mempunyai bisnis super ilegal. Bisnis itu sendiri mampu menopang keuangan negara Amerika. Isha menyusup kesana, menyamar sebagai pekerja salah satu pabrik yang di awasi biro hukum.

Dari hasil penyelidikannya, Isha berhasil membongkar beberapa senjata selundupan dan pabrik bodong yang hanya merupakan kedok. Yang mengejutkan adalah bisinis itu hanya milik satu keluarga, yang bernama Starlings Groups. Perusahaan yang bergerak dalam industri mesin, medis, plastik, dan technology. Tapi semua itu hanyalah bisnis kecil mereka.

Dibalik nama Starlings tersimpan banyak rahasia kelam. Mereka mempunyai bisnis senjata ilegal, narkotika, penjualan bom, dan perdagangan organ manusia. Entah apa yang di temukan Isha, sampai ia mengalami keadaan yang sangat buruk hingga merenggut nyawanya.

Dalam empat tahun terakhir, banyak agent yang di kirim untuk menjadi mata-mata, tapi tak satupun yang pernah kembali. Hanya Isha satu-satunya yang berhasil di temukan walaupun dalam keadaan yang sangat memilukan.

"Apa itu artinya kalian tau, siapa pelakunya?" Aku bertanya dengan nada setengah lemas.

 Aku begitu marah mendengar cerita tersebut, tapi aku berusaha meredam emosiku.

"Ya ... kami sangat tahu." jawab tuan Cp.

"Lalu kenapa? Kenapa mereka tidak di tangkap dan di pejarakan?"

"Itu percuma nona, "

"Apa hukum hanya berlaku bagi orang lemah dan miskin? Bagi orang-orang seperti mereka hukum tidak berani menyentuhnya? Lalu apa gunanya organisasi kalian?"

"Tutup mulutmu! Jika kau tidak mengetahui apapun sebaiknya jangan bicara sembarangan!" Sentak pak Jojo panas kepadaku membuatku terperanjat. Ya, aku agak keterlaluan dalam berbicara.

"Tenanglah Jojo, biar aku jelaskan." sahut pak Cp dengan tenang. "Mereka bukan keluarga sembarangan nona, kakakmu sudah di temukan meninggal sekitar empat hari yang lalu. Begitu kabar ini muncul kami sudah merilis beberapa tersangka, dan polisi bergerak cepat. Tapi kekuasaan mereka terlalu kuat. Para tersangka di manipulasi, sementara pelaku aslinya hidup bebas."

"Apa ... tidak bisa di bawa ke pengendalian tinggi?"

"Itu percuma, jika itu kami lakukan, maka mereka akan memutar balikkan fakta. Mereka pasti akan membunuh karakter kakakmu sebagai wanita murahan,"

"Lalu kenapa Organisasi Phantoms diam saja? Apa kalian tidak bisa melakukan apapun?"

" jika kami membongkar kedok organisasi maka bukan hanya kakakmu tapi seluruh anggota Phanthoms akan mati. Apa kau sangat tidak tahu bahwa organisasi ini sangat rahasia? organisasi Phantom didirikan langsung oleh menteri pertahanan dan ini hanya diketahui oleh staff dan jajaran saja." Ujar pak Cp dengan nada menekan.

"Jika organisasi terlibat terlalu jauh, maka sistem pemerintahan akan terguncang. Yang akan terjadi bukan hanya ketidak stabilan, tapi pemusnahan oleh keluarga Starling. Di balik keluarga itu terdapat dukungan yang sangat besar. Bahkan membayangkannya saja kami tidak sanggup. Bekingan itulah yang di selidiki kakakmu. " Tambah pak Jojo.

"Kalau begitu, kakakku, apakah tidak akan mendapat keadilan yang pantas?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!