Indonesia
NovelToon NovelToon

Ma Chérie, Don'T Run!

Prolog

Angin malam di atas kota New York berembus dingin, membawa serta gemerlap cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh menembus langit kelabu. Di dalam sebuah penthouse mewah bernuansa monokrom yang mendominasi lantai paling atas sebuah menara di Manhattan, seorang pria berdiri tegak di balik dinding kaca raksasa.

​Hades Sterling. Namanya saja sudah cukup membuat para raksasa bisnis di Wall Street bergidik ngeri. Pria berdarah campuran Yunani-Italia-Amerika itu memiliki pahatan wajah bak dewa Yunani kuno, rahang nya tegas, hidung mancung sempurna, serta sepasang mata kelabu sedingin es yang mampu membekukan siapa pun dalam sekali tatapan. Ia adalah perwujudan dari kekuasaan mutlak, kekayaan tak berbatas, dan sifat tanpa ampun. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang berani menentangnya, kecuali satu wanita mungil yang saat ini sedang berada ribuan mil jauhnya dari pelukannya.

​Hades menyesap bourbon mahalnya dalam keheningan, sementara pikirannya melayang pada sosok istri yang begitu ia puja sekaligus ia awasi di setiap detik napasnya. Ma chérie, panggilan kesayangan yang hanya berhak didengar oleh wanita itu seorang.

​Di balik sifatnya yang dingin, kejam, dan tidak tersentuh oleh dunia luar, Hades adalah pria yang akan berubah menjadi makhluk paling lunak, paling penurut, dan paling berbahaya di muka bumi ini jika menyangkut sang istri Persephone Sinclair atau sekarang disebut Persephone Sterling.

Di belahan bumi yang lain, tepatnya di dalam lorong keberangkatan VIP sebuah bandara internasional yang sibuk di Eropa, kekacauan tengah terjadi berkat dua orang wanita berdarah dingin dalam hal menghabiskan uang namun berhati kekanak-kanakan.

​"Tyche! Kau yakin tas edisi terbatas ini tidak akan hancur jika dimasukkan ke dalam kabin jet pribadi?" teriak seorang wanita berambut lurus panjang berwarna chesnut brown dengan nada melengking penuh drama.

​Wanita itu adalah Persephone Sinclair atau yang akrab dipanggil Percy. Dengan tinggi badan yang mungil, kulit seputih porselen, sepasang mata amber yang berbinar nakal, bibir kecil ranum yang selalu merenggut manja, serta dua buah lesung pipi manis yang tercetak di kedua pipinya setiap kali ia tersenyum lebar, Percy adalah definisi nyata dari bencana berjalan. Ia adalah tipe wanita yang oleh para awak media sosial dijuluki sebagai 'cegil' cewek gila yang tidak pernah bisa diam, hobi melakukan hal-hal ekstrem, dan sama sekali tidak memedulikan statusnya sebagai seorang istri sah dari penguasa imperium Sterling.

​Di sampingnya berdiri Tyche Vance, sahabat setianya yang juga berasal dari kalangan konglomerat elit Amerika. Tyche mendengus pelan sambil merapikan mantel bulunya, namun matanya ikut berbinar menatap puluhan kantong belanjaan berlabel brand ternama dunia yang berserakan di atas koper-koper mewah mereka.

​"Percy, kita baru saja membuat seluruh petugas bea cukai keringat dingin karena menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk memilih syal sutra di Milan, dan sekarang kau masih meributkan tas?" balas Tyche dengan nada jengkel yang dibuat-buat, meski ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya. "Jika suami dinginmu itu tahu kita baru saja memborong setengah butik di Paris lalu terbang ke sini hanya untuk makan malam, ia pasti akan mengirim pasukan khusus untuk menyeretmu pulang ke mansion."

​Mendengar nama sang suami disebut, mata amber Percy melebar seketika. Ada sedikit debar ketakutan yang merayap di dadanya bukan karena Hades akan menyakitinya secara fisik, melainkan karena ia tahu persis apa arti kepulangan. Jika ia tertangkap basah oleh Hades, pria posesif dan overprotective itu dipastikan akan mengurungnya kembali di dalam mansion megah mereka, menjauhkannya dari dunia luar, dan menjadikannya ratu yang dikurung dalam sangkar emas.

​"Makanya kita harus terus bergerak, Tyche!" bisik Percy panik namun penuh semangat, menarik koper-kopernya dengan langkah tergesa. "Selama aku belum tertangkap, aku akan travelling sejauh mungkin! Dunia ini terlalu luas untuk dilewatkan hanya dengan duduk manis di samping Hades yang menatapku seolah aku adalah permata paling rapuh di dunia!"

​Kedua wanita itu tertawa renyah, melangkah dengan gaya bak supermodel yang baru saja turun dari panggung runway, meninggalkan kekacauan administratif bandara yang mencakup koper-koper berlebih, teriakan staf maskapai, hingga kehebohan para paparazzi lokal yang gagal mengambil foto mereka karena dikawal ketat oleh pengamanan rahasia.

Kembali ke New York, di dalam ruang kerja pribadi Hades yang bernuansa gelap dan elegan, suara ketukan pintu berbunyi tiga kali sebelum seorang pria berpostur tegap melangkah masuk dengan ekspresi lelah bercampur pasrah.

​Dionisos Volkov. Teman sekaligus tangan kanan paling setia Hades.

​"Tuan," ucap Dionisos dengan nada datar, melaporkan situasi terbaru sambil meletakkan sebuah tablet di atas meja kerja mahoni. "Nyonya besar dan Nona Vance baru saja membuat kehebohan di bandara internasional Eropa. Mereka memborong seluruh stok musiman sebuah brand mewah dan menyebabkan penundaan jadwal penerbangan selama dua puluh menit karena Nyonya menolak meninggalkan toko sebelum mendapatkan warna tas yang ia inginkan."

​Hades tidak bergeming. Ia hanya melirik layar tablet yang menampilkan foto Percy tengah tertawa lebar sambil menenteng kantong belanjaan bersama Tyche. Sudut bibir pria itu sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang teramat misterius, sebuah senyuman yang hanya diperuntukkan bagi sang istri.

​"Biarkan dia," ucap Hades dengan suara baritonnya yang berat dan dingin. "Selama ia tidak melanggar batas yang telah ku tentukan."

​"Batas?" Dionisos mengangkat alisnya. "Maksud Anda, larangan memakai pakaian terbuka, bikini, atau mendekati pria lain?"

​"Ya," jawab Hades singkat, namun sorot mata kelabunya berubah menjadi tajam menusuk. "Pastikan tidak ada satu pun pria hidung belang yang berani mendekatinya di sana. Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk membereskan kekacauan finansial dan administratif yang ia buat, Dionisos."

​"Baik, Tuan. Saya akan segera membereskannya seperti biasa," balas Dionisos menghela napas panjang dalam hati. Menjadi pengawal bayangan bagi istri bos besar mereka adalah pekerjaan paling menegangkan sekaligus melelahkan di dunia.

​Namun, kekacauan yang diciptakan Percy bukanlah satu-satunya masalah yang harus dihadapi lingkaran terdekat Hades. Di tempat lain di kota yang sama, seorang wanita dengan gaun malam merah menyala sedang menatap pantulan dirinya di cermin rias mewah.

​Iris Montgomery. Aktris papan atas Hollywood yang kecantikannya dipuja jutaan pasang mata. Namun di balik kesuksesannya di dunia hiburan, Iris menyimpan obsesi yang membara dan destruktif terhadap Hades Sterling. Ia tidak pernah terima kenyataan bahwa ada wanita lain yang berhasil mendampingi sang miliarder, terlebih karena status pernikahan Hades dan Percy sengaja disembunyikan dari publik luas dan hanya diketahui oleh segelintir kalangan elit atas.

​Dengan senyuman penuh perhitungan, Iris sering sengaja mendekati area-area eksklusif tempat relasi bisnis Hades berada, membiarkan para pemburu berita mengambil foto mereka dari sudut tertentu, lalu menyebar rumor licik seolah-olah dirinyalah wanita yang sedang menjalin hubungan spesial dengan sang penguasa Sterling Global. Iris tahu betul bahwa Hades tidak pernah mengeluarkan bantahan resmi di media massa, bukan karena Hades peduli padanya, melainkan karena Hades menganggap rumor murahan seperti itu tidak layak untuk disentuh atau ditanggapi olehnya.

​Namun bagi Iris, diamnya Hades adalah celah untuk terus memprovokasi dan mencoba merusak hubungan sang miliarder dengan istrinya yang misterius.

Tidak jauh dari lingkaran persaingan sosialita dan dunia hiburan tersebut, ada satu nama lagi yang selalu menikmati permainan berbahaya Hefaistos Alistair.

​Mantan rekan bisnis sekaligus saingan abadi Hades. Hefaistos adalah pria ambisius yang selalu merasa berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Hades. Apa pun yang diinginkan Hefaistos, Hades selalu selangkah lebih maju, termasuk dalam hal mendapatkan wanita. Dan sialnya, diam-diam Hefaistos menyimpan ketertarikan yang hampir mendekati kegilaan kepada Persephone Sinclair.

​Bagi Hefaistos, Percy adalah satu-satunya kelemahan Hades Sterling yang paling nyata. Ia sengaja sering memancing emosi Hades, melanggar batas-batas kesabaran sang miliarder, dan melempar tatapan penuh tantangan dalam setiap pertemuan bisnis kelas atas. Hefaistos tahu persis bahwa setiap kali ia mencoba mendekati lingkaran Percy, ia sedang bermain dengan api neraka. Namun sensasi dari bahaya itu sendiri memberinya kepuasan tersendiri, meskipun pada akhirnya ia selalu berakhir di pihak yang kalah telak di bawah cengkeraman kekuasaan Hades.

Kembali di bandara Eropa, Percy memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah membaca pesan singkat tanpa nama yang masuk pesan berisi peringatan halus namun tegas mengenai jam malam yang harus ia patuhi. Ia tahu betul siapa pengirim di balik pesan tak bernama itu.

​Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu, waktu bermainnya tidak akan selamanya aman. Suaminya yang posesif, dingin, dan kejam itu tidak akan tinggal diam lebih lama lagi. Hades sedang membiarkannya berlari, memberinya kebebasan semu untuk menjelajahi dunia bersama Tyche, sebelum akhirnya pria itu sendiri yang akan turun tangan, menjemputnya, dan membawanya pulang ke dalam pelukan posesif yang tidak akan bisa ia hindari lagi.

​"Tyche," bisik Percy pada sahabatnya dengan mata amber yang berbinar penuh adrenalin, saat mereka melangkah masuk ke dalam kabin jet pribadi menuju destinasi pelarian mereka selanjutnya. "Kita harus terbang lebih cepat. Sebelum monsterku datang menangkapku."

​Dan di ujung dunia yang lain, sang penguasa bayangan hanya tersenyum dingin di balik meja kerjanya, membiarkan burung kecilnya terbang sebebas mungkin, karena ia tahu persis di mana sarang itu berada dan sang istri tidak akan pernah bisa benar-benar lepas darinya.

BAB 1

Jet pribadi jenis Bombardier Global 7500 itu membelah langit malam Eropa, membawa dua sosok wanita yang tidak pernah mengenal kata lelah dalam kamus hidup mereka. Di dalam kabin mewah yang dipenuhi aroma parfum diptyque dan selimut kasmir mahal, Percy duduk bersila di atas sofa kulit putih. Di hadapannya, sebuah meja mini dipenuhi dengan layar tablet, brosur resor ski eksklusif di Courchevel, dan kartu kredit hitam tanpa batas limit.

​"Percy, kau benar-benar gila," cibir Tyche sambil menyesap champagne Dom Pérignon dari gelas kristal. Ia melirik sahabatnya yang kini mengenakan hoodie kebesaran berlogo brand jalanan ternama, kontras dengan wajah cantiknya yang terpulas riasan natural. "Kita baru saja mendarat di Swiss dua hari lalu, menghabiskan setengah juta dolar untuk koleksi musim dingin, dan sekarang kau ingin kita terbang ke Pegunungan Alpen Prancis hanya karena kau melihat foto cokelat panas di Instagram?"

​Percy mendengus manja, bibir kecil ranumnya mengerucut lucu sementara lesung pipinya tenggelam dalam di kedua sisi pipinya. "Bukan hanya karena cokelat panas, Tyche! Salju di Courchevel sedang turun dengan lebat, dan aku butuh udara segar sebelum Hades menemukanku!"

​Ia mendadak bergidik ngeri, membayangkan sepasang mata kelabu milik suaminya yang tajam menusuk. Meskipun ia mencintai Hades setengah mati mengingat bagaimana pria itu adalah pusat dari seluruh semestanya sifat posesif dan overprotective sang suami adalah jenis teror tersendiri yang manis sekaligus mencekam. Bagi Percy, dunia luar adalah taman bermain, dan pelukan Hades adalah sangkar emas paling indah yang sangat ingin ia hindari untuk sementara waktu.

​"Kau pikir dia tidak tahu tempat-tempat peristirahatan elit seperti ini?" Tyche mengangkat sebelah alisnya, menatap Percy dengan tatapan tajam memperingatkan. "Hades Sterling memiliki setengah saham dari properti di sana, Percy. Kau sedang berlari langsung ke sarang singa."

​"Justru itu seninya!" tawa Percy pecah, amber matanya berbinar penuh kenekatan. "Selama singa itu masih duduk di ruang kerjanya di Manhattan dan membiarkanku bernapas, aku akan menikmati setiap detik kebebasan ini!"

​Tanpa mereka ketahui, di belahan bumi yang lain, singa yang dimaksud sama sekali tidak tinggal diam.

Di dalam sebuah ruangan kendali pribadi yang tersembunyi di bawah lantai dasar mansion Sterling di New York, layar monitor besar menampilkan pergerakan koordinat GPS dari jet pribadi yang ditumpangi oleh sang istri.

​Dionisos Volkov berdiri tegap di depan layar tersebut, sementara Hades duduk di kursi kerjanya dengan jemari mengetuk-ngetuk permukaan meja secara berirama. Suasana di dalam ruangan itu begitu dingin hingga nyaris membeku.

​"Mereka mengubah rute penerbangan ke Prancis, Tuan," lapor Dionisos dengan nada profesional yang menyembunyikan rasa was-was. "Nyonya besar tampak menikmati perjalanannya bersama Nona Vance."

​Hades mendongak. Sudut bibir pria itu tertarik ke atas membentuk senyuman tipis yang berbahaya. "Biarkan dia menikmati salju putihnya, Dionisos. Udara dingin di sana akan membuatnya merindukan kehangatan pelukanku."

​"Apakah saya perlu menyiapkan tim pengamanan tambahan di Courchevel?" tanya Dionisos.

​"Tidak perlu," jawab Hades dingin. "Cukup pastikan tidak ada pria lain dalam radius seratus meter yang berani menatapnya lebih dari tiga detik. Jika ada yang melanggar, kau tahu apa yang harus dilakukan terhadap bisnis mereka."

​"Baik, Tuan." Dionisos mengangguk paham. Di dunia bawah maupun atas, kekuasaan Hades tidak berdarah-darah secara harfiah, tetapi hancurnya sebuah perusahaan dalam semalam adalah tanda peringatan mutlak dari sang penguasa Sterling Global.

​Sementara itu, ribuan mil dari ketenangan dingin sang miliarder, dunia hiburan tengah digemparkan oleh sebuah berita utama di majalah gosip internasional.

​“Bintang Hollywood Iris Montgomery Terlihat Keluar dari Gedung Sterling Global Bersama Sang Miliarder Misterius?”

​Judul artikel tersebut terpampang besar di layar ponsel milik Iris Montgomery. Aktris berambut pirang platinum itu tersenyum puas di depan cermin ruang rias studionya. Ia sengaja mengatur agar fotografer bayaran mengambil gambar saat ia keluar dari lobi gedung perkantoran Hades meskipun pada kenyataannya, ia hanya datang untuk mengantar dokumen fiktif demi bisa masuk ke area privat tersebut, dan Hades bahkan sama sekali tidak turun tangan menemuinya.

​Namun bagi Iris, narasi adalah segalanya. Ia tahu betul bahwa pernikahan Hades dan Percy dirahasiakan dari publik. Dengan menyebar rumor secara berkala, ia berharap bisa memancing kemarahan sang istri misterius, atau setidaknya memaksa Hades untuk memberikan pengakuan publik yang bisa ia manfaatkan untuk menghancurkan rumah tangga mereka dari dalam.

​"Nikmati permainan kecilmu sementara waktu, Nyonya Sterling," gumam Iris tajam sambil merapikan gaun sutranya. "Sebentar lagi, singgah sana mu akan runtuh."

​Di tempat terpisah, di sebuah ruang klub eksklusif berlampu temaram di London, Hefaistos Alistair menyesap wiskinya dalam-dalam. Di hadapannya, seorang informan membisikkan informasi terbaru mengenai keberadaan Persephone Sinclair di Prancis.

​Hefaistos menyeringai lebar. Ia tahu betul betapa rapuhnya batas kesabaran Hades Sterling. Setiap kali ia mendekati lingkaran Percy bahkan hanya dengan mengirimkan bunga anonim atau sekadar memantau pergerakan wanita itu ia sedang menabur garam di atas luka sang miliarder.

​"Hades selalu mendapatkan apa yang ia inginkan," bisik Hefaistos pada dirinya sendiri dengan kilat mata penuh ambisi dan kebencian yang mendalam. "Tetapi kali ini... aku ingin melihat apakah singa itu mampu melindungi ratunya ketika badai benar-benar menghantam."

​Di atas Pegunungan Alpen yang membeku, Percy tertawa lepas di atas papan seluncur saljunya, sama sekali tidak menyadari bahwa jaring laba-laba perlahan-lahan mulai menutup di sekelilingnya, dan sang suami yang paling ia takuti sekaligus cintai sedang bersiap melangkah keluar dari bayang-bayang untuk menjemputnya pulang.

Angin salju berembus kencang, menghantam kaca jendela chalet mewah berlantai tiga yang terletak di lereng pegunungan bersalju Courchevel, Prancis. Di dalam ruangan yang menghangat oleh perapian batu besar, Percy duduk berselimutkan kain kasmir tebal sambil menyeruput cokelat panas yang mengepulkan uap tipis. Lesung pipinya tampak jelas, namun bibir kecil ranumnya mengerucut kesal menatap layar ponselnya.

​"Tyche! Lihat ini!" seru Percy, melemparkan ponselnya ke atas sofa hingga mendarat tepat di pangkuan sahabatnya yang sedang sibuk mengecek daftar belanjaan daring.

​Tyche mengerjap, lalu mengambil ponsel tersebut. Layar itu menampilkan artikel gosip terbaru dengan tajuk utama yang mencatut nama aktris ambisius Iris Montgomery dan bayangan Hades Sterling di lobi gedung perkantoran utama.

​"Lagi?" Tyche menghela napas panjang, memutar bola matanya jengah. "Aktris murahan itu benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain membuat skandal murahan setiap minggu. Apakah dia tidak tahu bahwa suamimu bahkan mungkin tidak tahu di lantai berapa wanita itu berdiri di gedung tersebut?"

​"Bukannya itu masalahnya!" Percy mendengus, matanya yang berwarna amber menyipit tajam, memancarkan api kecil kecemburuan yang sengaja ia sembunyikan di balik topeng acuh tak acuh. "Masalahnya adalah Hades tidak pernah mengeluarkan satu patah kata pun bantahan di media! Kenapa dia membiarkan wanita silikon itu berkeliaran dengan membawa nama Sterling? Kalau dia mau, dia bisa melenyapkan karier Iris dalam waktu lima detik!"

​Tyche tertawa kecil, menyandarkan punggungnya pada sofa empuk. "Kau kenal suamimu, Percy. Hades adalah tipe pria yang tidak akan menurunkan harga dirinya hanya untuk menanggapi sampah. Bagi Hades, dunia luar tidak berhak tahu apa pun tentang kehidupan pribadinya terkecuali fakta bahwa kau adalah satu-satunya kelemahannya."

​Mendengar kata 'kelemahan', Percy terdiam. Ada desir aneh di dadanya. Rasa takut yang selalu membayangi setiap kali ia kabur untuk travelling sebenarnya berpangkal dari sana ia tahu persis betapa berbahayanya cinta Hades. Pria itu tidak sekadar menyayanginya Hades memuja, mengurung, dan menuntut kepemilikan mutlak atas setiap jengkal napasnya. Dan di balik sifatnya yang cegil, hobi menghamburkan uang, dan kenekatannya melintasi berbagai benua, Percy sangat mencintai pria dingin itu hingga ia sering merasa sesak sendiri.

BAB 2

Sebelum Percy sempat membalas ucapan sahabatnya, suara ketukan pintu utama chalet berbunyi nyaring. Dua kali ketukan tegas, disusul oleh suara derit pintu yang terbuka secara perlahan tanpa menunggu izin dari penghuninya.

​Tyche langsung menegakkan tubuhnya, sementara Percy terlonjak berdiri dari sofa, jantungnya mendadak berdegup kencang hingga menembus tulang rusuk. Aroma maskulin yang tajam bercampur bourbon dan dinginnya salju langsung menyergap udara ruangan tersebut aroma yang sangat ia kenali di luar kepala, aroma yang selalu membuatnya gemetar antara rindu dan teror murni.

​Dari balik bayang-bayang pintu yang terselimuti kabut salju luar, sesosok pria berpostur tinggi tegap melangkah masuk. Mantel panjang hitam miliknya basah oleh kepingan salju, memperlihatkan bahu bidang dan siluet tubuh bak dewa Yunani.

​Hades Sterling.

​Pria itu tidak membawa pengawal, tidak membawa pasukan. Ia datang seorang diri, namun kehadirannya seketika membuat seluruh ruangan terasa menyusut dan kehilangan oksigen. Sepasang mata kelabu sedingin es itu langsung terkunci pada sosok mungil Percy yang berdiri mematung di dekat perapian.

​"Ma chérie..." suara bariton itu terdengar rendah, berat, dan begitu mematikan di tengah kesunyian chalet.

​Percy menelan ludah susah payah. Kaki mungilnya mundur selangkah secara otomatis, sementara lesung pipinya mendadak lenyap digantikan oleh ekspresi panik murni. "H-Hades..." cicitnya pelan, nyaris tak terdengar di atas suara deru angin salju di luar.

​Di ambang pintu, tepat di belakang Hades, Dionisos Volkov muncul sekilas sebelum menarik diri dan menutup pintu dari luar, meninggalkan sang miliarder berhadapan langsung dengan istri buronannya. Sementara itu, di sudut ruangan, Tyche buru-buru membereskan tas tangannya, melemparkan pandangan penuh simpati sekaligus geli kepada Percy seolah berkata, 'Good luck, darling, your time is up' sebelum bergegas melangkah keluar lewat pintu samping menuju kamar tamu.

Hades melangkah maju perlahan, setiap jejak sepatunya di atas lantai kayu terdengar bagai hitungan mundur bagi Percy. Wajah tampan tanpa cela itu tampak sangat tenang, namun di balik tatapan kelabunya, badai kemarahan dan kerinduan tengah bergolak hebat.

​"Kau berlari cukup jauh kali ini," bisik Hades, suaranya begitu dekat ketika pria itu akhirnya berdiri tepat di hadapan Percy. Tingginya yang jauh menjulang membuat Percy terlihat begitu mungil, bagai boneka porselen di bawah bayang-bayang raksasa.

​"Aku... aku hanya ingin mencari udara segar!" bela Percy dengan nada tinggi yang dibuat-buat garang, meskipun kedua tangannya sudah meremas ujung hoodie nya erat-erat karena gugup. "Dunia ini luas, Hades! Kenapa kau harus menyusulku ke tengah salju sialan ini?!"

​Hades tidak langsung menjawab. Perlahan, tangan besar dan hangat pria itu terulur, menyentuh helaian rambut panjang berwana chesnut brown milik istrinya yang sedikit berantakan, lalu turun meraba pipi putih Percy yang merona merah karena dingin. Sentuhan itu lembut, teramat lembut, kontras dengan reputasinya sebagai pria paling kejam di Amerika. Namun cengkeraman tangan sebelahnya di pinggang Percy tidak memberikan ruang untuk melarikan diri sedikit pun.

​"Karena di luar sana, ada banyak serigala kelaparan yang mencoba mendekati apa yang sepenuhnya milikku," bisik Hades tepat di dekat telinga Percy, suaranya berubah menjadi lebih gelap. "Termasuk aktris murahan yang memanfaatkan bayang-bayangku di media, dan pria-pria sialan yang mengira mereka bisa mencuri perhatianmu."

​Mata amber Percy melebar. "Kau... kau tahu soal Iris?"

​"Aku tahu segalanya tentang apa pun yang menyangkut dirimu, Ma chérie," balas Hades dingin. Sudut bibir pria itu terangkat miring, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat lutut Percy terasa lemas. "Dan sekarang, masa percobaanmu telah habis. Waktu bermain di luar dunia kita sudah selesai."

​"Tidak! Tunggu, Hades...aku belum sempat belanja tas edisi terbatas di Paris...mpph!"

​Protes Percy terhenti seketika saat bibir dingin namun menuntut itu menepis seluruh kata-katanya dalam sebuah ciuman yang dalam, penuh posesif, dan sarat akan kerinduan yang membakar. Tidak ada perlawanan. Tubuh mungil Percy melemas di dalam dekapan kuat sang suami, menyerah sepenuhnya pada kehangatan dan rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh monster bermata kelabu tersebut.

​Di luar, badai salju semakin menggila di atas Pegunungan Alpen, tetapi di dalam pelukan Hades Sterling, Persephone tahu bahwa pelariannya telah resmi berakhir untuk selamanya.

​"Tidak! Kumohon, Hades, sebentar saja!" Percy meronta kecil di dalam dekapan erat sang suami, matanya yang berwarna amber berkaca-kaca memancarkan permohonan paling memelas yang ia miliki. Lesung pipinya terbenam dalam kerutan sedih, sementara bibir kecil ranumnya terus bergerak merajuk. "Tyche sudah berjanji akan menemaniku ke Milan minggu depan! Kita baru dua minggu di luar, Hades! Dua minggu! Di rumah mansion itu sangat membosankan, tidak ada yang bisa kuajak bicara selain pelayan dan tembok marmer!"

​Hades sama sekali tidak bergeming. Pria itu tetap berdiri tegak bagai patung marmer hitam, kedua lengannya melingkar posesif di pinggang ramping Percy tanpa berniat sedikit pun melonggarkan cengkeramannya. Tatapan mata kelabunya menatap lurus ke arah sang istri, tajam, menusuk, dan sama sekali tidak menyisakan celah untuk negosiasi.

​Suasana di dalam chalet mendadak berubah hening, menyisakan suara deru angin salju yang menghantam kaca jendela luar.

​Dengan suara bariton yang rendah, dingin, dan mengiris udara tanpa ampun, Hades berucap, "Cukup, Ma chérie. Jangan memancingku."

​Percy menelan ludah keluh mendengar nada suara itu, nada suara mutlak yang menjadi tanda bahaya tertinggi dari sang penguasa Sterling.

​"Sekali aku berkata pulang, tetap pulang," lanjut Hades tanpa nada tinggi, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti vonis mati. "Jangan membuat aku melakukan hal yang akan kau sesali, Persephone."

​Mendengar nama lengkapnya disebut dengan cara yang begitu dingin, seluruh tubuh Percy langsung menegang kaku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia tahu persis apa arti ancaman halus di balik kalimat itu. Hades tidak sedang bercanda. Jika ia terus membangkang, pria itu tidak akan ragu untuk memborgolnya secara harfiah, menyeretnya ke jet pribadi, dan mengunci pintu mansion mereka rapat-rapat tanpa memberinya izin untuk melihat dunia luar selama berbulan-bulan ke depan.

​Kepanikan dan rasa takut yang nyata akhirnya meredam sifat 'cegil' dalam diri Percy. Ia terdiam seribu bahasa, bahunya yang mungil merosot pasrah.

​Melihat istrinya bungkam dengan mata amber yang mulai meredup, ekspresi Hades sedikit melembut. Jemari besar pria itu terulur menyentuh rahang halus Percy, mengusap pipinya dengan kelembutan kontras yang hanya diberikan kepada wanita itu seorang. "Anak pintar," bisik Hades pelan di dekat bibirnya. "Kemasi barang-barangmu. Jet kita bersiap dalam satu jam."

​Percy menggigit bibir bawahnya, tidak berani melawan lagi. Dengan langkah lesu dan kepala tertunduk, ia beranjak pergi dari hadapan suaminya, berjalan menuju kamar tidur untuk mengemas seluruh barang belanjaannya, menyadari bahwa liburan gilanya telah resmi berakhir di bawah cengkeraman sang singa mutlak.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!