Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Hidup Kembali

Kesempatan hidup Kembali

Bab 1

Karin meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Rasa nyeri saat tubuhnya menghantam bebatuan di dasar jurang masih begitu nyata, seolah peristiwa itu baru saja terjadi beberapa detik yang lalu.

Namun pemandangan di hadapannya membuat napasnya tercekat. Sebuah cermin besar memantulkan sosok wanita muda berusia sekitar dua puluh tahun dengan rambut hitam panjang tergerai. Wajah itu begitu dikenalnya.

Itu adalah dirinya. Dirinya... di masa muda.

Dengan tangan gemetar, Karin menyentuh pipinya. Kulit itu terasa hangat. Ia lalu mencubit pipinya sendiri.

"Aduh..."

Rasa sakit itu nyata.

Ini bukan mimpi.

Karin mundur selangkah hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Bukankah ia telah mati? Ia masih mengingat dengan jelas saat tubuhnya terjatuh ke jurang dan kesadarannya perlahan menghilang.

"Apa... ini benar-benar nyata?" gumamnya lirih.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat. Potongan demi potongan kenangan bermunculan seperti gulungan film. Kehidupannya saat berusia dua puluh tahun kembali memenuhi ingatannya. Semua terasa begitu jelas.

Tanpa berpikir panjang, Karin berlari menuruni tangga. Begitu sampai di ruang tamu, langkahnya terhenti. Di sana, kedua orang tuanya sedang duduk bersama seorang tamu dari rumah sebelah. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

Papa...

Mama...

Mereka masih hidup.

Kerinduan yang selama bertahun-tahun ia pendam seketika menyeruak memenuhi dadanya.

Namun rasa haru itu berubah menjadi sesak ketika pandangannya jatuh pada sosok pria muda yang duduk di hadapan ayahnya.

Gio!

Pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Pria yang menyeret keluarganya ke dalam penderitaan, membuatnya dihina, direndahkan, kehilangan segalanya, hingga akhirnya hidup terlunta-lunta seorang diri.

Kebencian yang selama ini terpendam kembali menyala.

"Karin, kenapa hanya berdiri di situ? Ayo, sini," panggil Hesti dengan senyum hangat.

Senyum yang begitu Karin rindukan. Namun begitu mata mereka bertemu, air mata Karin tak lagi bisa dibendung.

"Hiks..."

"Loh, kok malah nangis? Ada apa?" tanya Hesti panik.

"Ada apa dengan Karin, Ma?" Pak Wirawan ikut berdiri.

Karin menatap kedua orang tuanya bergantian.

Di kehidupan sebelumnya, ayahnya mengembuskan napas terakhir dalam keadaan sakit-sakitan, tubuhnya kurus tinggal tulang. Kini lelaki itu tampak sehat dan penuh semangat.

Dadanya terasa semakin sesak.

"Papa... Mama..."

Tangisnya pecah.

Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia telah kehilangan mereka begitu lama? Bahwa setelah mereka meninggal, ia harus bertahan hidup sendirian menghadapi dunia yang begitu kejam.

"Mama urus Karin dulu," ujar Pak Wirawan kepada tamunya. "Maaf ya, Gio. Niatnya mau berkenalan, malah Karin tiba-tiba menangis."

"Tidak apa-apa, Om. Mungkin Karin sedang kurang sehat," jawab Gio sopan.

"Maaf ya, Nak Gio," kata Hesti.

"Silakan, Tante."

Hesti segera menghampiri putrinya yang masih berdiri di tangga. Ia memeluk Karin erat sebelum menuntunnya menuju kamar.

"Ayo, kita ke kamar dulu."

Begitu duduk di tepi ranjang, Hesti mengusap lembut rambut putrinya.

"Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba menangis?"

Karin langsung memeluk ibunya sekuat tenaga. Pelukan yang selama ini hanya bisa ia rindukan akhirnya kembali ia rasakan. Kenangan pahit saat kehilangan kedua orang tuanya terus berputar di kepalanya.

Bersamaan dengan itu, kebencian terhadap orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya kembali membara.

Termasuk Gio.

Saat itulah Karin benar-benar sadar. Ia telah kembali ke masa lalu. Tuhan telah memberinya kesempatan kedua.

Dan kali ini...Ia tidak akan membiarkan takdir yang sama terulang.

Hesti membalas pelukan putrinya sambil mengusap punggungnya perlahan. Ia membiarkan Karin menangis hingga emosinya mereda.

"Kamu sudah lebih tenang?" tanyanya lembut.

Karin mengangguk sambil menghapus sisa air mata.

"Maaf, Ma. Tadi Karin cuma sakit perut, jadi nggak kuat menahannya."

"Itu saja?" Hesti bertanya penuh khawatir.

"Iya. Sekarang sudah mendingan."

Hesti mengembuskan napas lega.

"Syukurlah. Sebenarnya Mama dan Papa ingin mengenalkanmu pada anak teman Papa. Dia baru pindah ke rumah sebelah setelah ayahnya meninggal."

Karin tentu sudah mengetahui semuanya. Ia pernah menjalani hari ini. Ia juga tahu bahwa candaan tentang perjodohan yang sebentar lagi terlontar akan berubah menjadi kenyataan.

Beberapa bulan kemudian mereka menikah. Dan setahun setelahnya...Hidupnya berubah menjadi mimpi buruk.

Tidak.

Kali ini ia harus menghentikannya sejak awal.

Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Ma..."

"Iya?"

"Sebenarnya Karin juga ingin mengenalkan seseorang kepada Mama dan Papa."

Hesti tampak terkejut.

"Siapa?"

"Pacar Karin."

Hesti membelalakkan mata.

"Pacar?"

"Iya. Dia sedang liburan ke luar kota. Kalau sudah pulang, Karin akan mengajaknya ke rumah."

Itu bohong.

Namun Karin mengatakannya dengan begitu tenang hingga Hesti sama sekali tidak meragukannya.

Setidaknya, jika Mama percaya ia sudah memiliki kekasih, tidak akan ada lagi pembicaraan soal perjodohan dengan Gio.

Hesti tersenyum sambil mengusap pipi putrinya.

"Ternyata putri Mama diam-diam sudah punya pacar."

Karin tersenyum kecil.

"Karin sudah besar, Ma."

"Siapa namanya?"

Senyum Karin langsung membeku. Ia sama sekali tidak menyiapkan nama.

Otaknya bekerja keras mencari satu nama yang paling mudah diingat.

Lalu...

Sebuah wajah muncul dalam ingatannya.

Kai.

Pemuda berandal di masa kuliahnya. Badboy yang terkenal dingin, cuek, dan sering dicap playboy.

Aneh.

Padahal selama kuliah, Kai tidak pernah sekalipun mengganggunya.

"Iya... namanya Kai."

"Kai?"

"Iya. Nanti Karin kenalkan kalau dia sudah pulang."

Hesti mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah. Mama jadi penasaran dengan pemuda yang berhasil mencuri hati anak Mama."

Karin hanya ikut tersenyum. Di dalam hatinya, ia berharap kebohongan kecil itu cukup untuk mengubah masa depan. Karena kali ini...Ia tidak akan membiarkan Gio menghancurkan hidupnya lagi.

-

-

-

Bersambung...

Giorgino

Bab 2

Karin menarik napas panjang sebelum melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Tangannya terasa dingin, meski udara pagi cukup hangat. Setiap langkah yang ia ambil membuat jantungnya berdetak semakin cepat.

Hari ini...

Ia kembali bertemu dengan pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Dulu, ia menyambut perkenalan itu dengan senyum malu-malu. Ia percaya bahwa Gio adalah pria baik yang dikirim Tuhan untuk mendampinginya. Bahkan ketika ayahnya bercanda soal perjodohan, pipinya sempat memerah karena malu.

Kini semua terasa begitu menjijikkan. Karin tahu bagaimana pria itu perlahan memperlihatkan sifat aslinya setelah mereka menikah. Kata-kata manis berubah menjadi hinaan. Perhatian berubah menjadi kekangan. Cinta berubah menjadi penderitaan yang tak pernah berakhir.

"Semua itu tidak akan terjadi lagi," gumam Karin dalam hati.

Ia menggenggam erat pegangan tangga, seolah sedang menguatkan dirinya sendiri.

Begitu tiba di ruang tamu, Pak Wirawan langsung menoleh.

"Karin, kamu sudah baikan, Sayang?" tanyanya penuh perhatian.

Karin memaksa dirinya tersenyum.

"Sudah, Pa."

"Syukurlah." Wajah Pak Wirawan tampak lega. "Tadi Papa sampai khawatir."

Hesti menepuk pelan bahu putrinya.

"Tuh, Papa sampai tidak tenang gara-gara kamu."

Mendengar perhatian sederhana itu, hati Karin kembali terasa hangat. Sudah berapa lama ia tidak merasakan kasih sayang seperti ini?

Di kehidupan sebelumnya, setelah kedua orang tuanya meninggal, tidak ada lagi yang menanyakan apakah ia sudah makan, apakah ia sedang sakit, atau sekadar memastikan dirinya baik-baik saja.

Tanpa sadar, matanya kembali memanas.

Tidak.

Ia tidak boleh menangis lagi.

Hari ini adalah awal kehidupan barunya.

"Karin," ujar Pak Wirawan sambil tersenyum, "kemari. Papa mau kenalkan seseorang."

Pandangan Karin perlahan beralih.

Seorang pria bertubuh tinggi berdiri dari sofa. Wajahnya tampan, kulitnya bersih, dan senyumnya terlihat begitu ramah. Orang yang tidak mengenalnya pasti akan mengira ia pria sempurna.

"Giorgino," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan. "Panggil saja Gio."

Karin menatap tangan itu selama beberapa detik.

Dulu, ia pernah menggenggam tangan yang sama saat mengucapkan janji suci pernikahan. Tangan yang sama pula yang pernah mendorongnya hingga jatuh.

Ia masih bisa mengingat rasa sakit itu.

Dengan susah payah Karin mengendalikan emosinya. Ia pun mengulurkan tangan sekadarnya.

"Karin."

Sentuhan mereka hanya berlangsung sesaat sebelum Karin segera menarik tangannya kembali. Sikap dingin itu membuat Gio sedikit terkejut, tetapi ia tetap mempertahankan senyumnya.

Pak Wirawan tidak menyadari keanehan itu. Beliau justru mempersilakan semua orang duduk kembali.

Suasana ruang tamu perlahan kembali hangat. Pak Wirawan mulai mengenang persahabatannya dengan mendiang Ibnu Bastian, ayah Gio.

"Papa dan ayahmu dulu sering pulang kerja bareng," cerita Pak Wirawan sambil tertawa. "Kalau sudah ngobrol, bisa lupa waktu."

"Ibu juga sering cerita begitu," jawab Gio sopan.

"Beliau sering menyebut Om sebagai sahabat terbaiknya."

Pak Wirawan tampak terharu.

"Ayahmu orang baik."

"Iya, Om."

Hesti ikut tersenyum.

"Kami sedih sekali waktu mendengar beliau meninggal."

"Terima kasih, Tante."

Gio menjawab dengan suara pelan.

Karin hanya diam.

Semua yang dilakukan Gio terlihat begitu sempurna.

Cara berbicaranya.

Cara tersenyumnya.

Cara menghormati orang tua.

Tak ada satu pun yang terlihat mencurigakan.

Persis seperti dulu.

Itulah sebabnya seluruh keluarganya tertipu.

Tak lama kemudian, Pak Wirawan menepuk bahu Gio.

"Kalau Om punya menantu seperti kamu, Om pasti senang."

Karin langsung menegang.

Kalimat itu...

Tidak berubah sedikit pun.

Sama persis seperti yang pernah ia dengar bertahun-tahun lalu.

"Sudah tampan, pintar, sopan lagi," lanjut Pak Wirawan sambil tertawa.

Gio ikut tertawa.

"Om bisa saja."

"Lho, memang kenyataannya begitu."

"Kalau memang berjodoh, saya juga senang."

"Tidak!"

Suara Karin memecah suasana.

Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju kepadanya.

"Karin?" Hesti tampak bingung.

Karin menarik napas.

Ia tidak boleh membiarkan candaan itu berkembang seperti kehidupan sebelumnya.

"Karin sudah punya pacar."

Ucapan itu membuat Pak Wirawan mengernyit.

"Kamu bilang apa?"

"Karin sudah punya pacar, Pa."

Pak Wirawan spontan menoleh kepada Hesti.

Hesti mengangguk pelan.

"Tadi Karin sudah cerita sama Mama."

Pak Wirawan tampak tidak percaya.

"Lho, sejak kapan?"

Karin tersenyum tipis.

"Belum lama."

"Kenapa Papa baru tahu?"

"Soalnya Karin belum sempat cerita."

Pak Wirawan menggeleng sambil tertawa kecil.

"Anak Papa ternyata sudah besar."

Sementara itu, Gio masih menatap Karin. Tatapannya sulit diartikan. Ia tidak tampak kecewa. Justru terlihat semakin tertarik.

"Sayang sekali," ujar Pak Wirawan kepada Gio.

Namun Gio hanya tersenyum santai.

"Tidak apa-apa, Om."

Ia menoleh kepada Karin.

"Janur kuning belum melengkung."

Karin menatap tajam.

"Artinya?"

"Artinya, sebelum menikah, semua orang masih punya kesempatan."

Ucapan itu terdengar seperti candaan. Namun bagi Karin, itu terdengar seperti ancaman. Ia mengepalkan kedua tangannya di balik gaun.

Dalam hati ia bersumpah. Sekalipun harus berbohong seumur hidup...

Ia tidak akan menikah dengan pria itu lagi.

"Kalau soal jodoh," kata Pak Wirawan mencoba mencairkan suasana, "biar Karin yang memilih."

"Iya, Om."

Gio mengangguk.

"Tapi saya tidak mudah menyerah."

Karin memalingkan wajah.

Muak.

Ia benar-benar muak melihat pria itu.

Obrolan kemudian beralih ke pekerjaan Gio.

Pria itu menceritakan kariernya yang sedang berkembang, rencana bisnisnya, hingga impiannya membangun perusahaan sendiri.

Pak Wirawan tampak kagum.

"Wah, masih muda sudah punya target sebesar itu."

"Harus bekerja keras, Om."

"Bagus."

Hesti ikut mengangguk.

"Anak muda memang harus punya cita-cita."

Karin hanya tersenyum hambar.

Ia tahu semua cerita itu. Karena dulu ia pernah mempercayainya.

Di balik semua mimpi besar itu, Gio hanyalah pria ambisius yang rela mengorbankan siapa saja demi kepentingannya sendiri. Bahkan keluarga istrinya.

-

-

-

Tak terasa hampir dua jam mereka mengobrol. Gio akhirnya berdiri.

"Kalau begitu saya pamit dulu, Om... Tante."

"Sampaikan salam Tante buat ibumu."

"Pasti, Tante."

Gio melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti. Ia menoleh kepada Pak Wirawan dan Hesti.

"Om... Tante..."

"Iya?"

"Kalau suatu saat saya mengajak Karin jalan-jalan, boleh?"

Pak Wirawan dan Hesti saling berpandangan. Lalu keduanya melihat ke arah Karin.

"Kalau itu," ujar Hesti lembut, "lebih baik tanya langsung sama Karin."

Gio tersenyum.

"Baik."

Ia menatap Karin lurus-lurus.

"Bagaimana?"

"Minggu depan ada pameran buku."

"Mau ikut denganku?"

Karin menatap balik tanpa berkedip. Tatapan mereka saling bertemu beberapa detik.

Suasana mendadak terasa menegangkan.

"Maaf."

Suara Karin terdengar dingin.

"Aku tidak pernah pergi berdua dengan laki-laki selain pacarku."

Untuk pertama kalinya, senyum Gio memudar.

Hanya sesaat.

Kemudian ia kembali tersenyum.

"Kalau begitu..."

"Aku akan menunggu sampai pacarmu benar-benar muncul."

Setelah berpamitan, Gio akhirnya keluar dari rumah. Suara pintu yang menutup membuat Karin mengembuskan napas panjang. Ia berhasil mengubah satu kejadian. Namun masalah baru kini menantinya.

Karena mulai hari ini, ia benar-benar membutuhkan seorang pria yang bersedia berpura-pura menjadi kekasihnya.

Kalau tidak...Gio tidak akan pernah berhenti mengejarnya.

Dan entah mengapa, di tengah kebingungan itu, satu nama kembali muncul di kepalanya.

Kai.

Pemuda paling menyebalkan yang pernah ia kenal semasa kuliah.

Mungkin...

Hanya mungkin...

Dialah satu-satunya orang yang bisa membantunya mengubah takdir.

-

-

-

Bersambung...

Pertemuan Pertama

Bab 3

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membangunkan Karin yang semalaman hampir tidak bisa memejamkan mata.

Setiap kali menutup mata, wajah Gio selalu muncul di benaknya. Disusul kenangan-kenangan pahit yang ingin ia lupakan.

Ia masih mengingat malam ketika Gio mulai berubah. Semua bermula dari kata-kata kasar, kemudian bentakan, hingga perlakuan yang perlahan menghancurkan harga dirinya. Namun yang paling menyakitkan bukanlah perlakuan itu. Melainkan kenyataan bahwa kedua orang tuanya ikut menjadi korban.

Karin menggenggam selimut hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi lagi."

Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berdiri di depan cermin. Wajah muda yang sehat kembali menatapnya.

Usia dua puluh tahun. Usia ketika hidupnya seharusnya dipenuhi mimpi, bukan penyesalan.

"Terima kasih..."

Entah kepada siapa ucapan itu ditujukan.

Mungkin kepada Tuhan. Karena telah memberinya kesempatan kedua.

-

-

-

Di ruang makan, aroma nasi goreng buatan Hesti memenuhi ruangan.

"Kamu bangun juga," sapa Hesti sambil meletakkan sepiring telur dadar di meja.

"Selamat pagi, Ma."

"Selamat pagi."

Pak Wirawan yang sedang membaca koran mengangkat kepalanya.

"Hari ini kuliah, kan?"

"Iya, Pa."

"Semangat."

Ucapan sederhana itu membuat hati Karin kembali menghangat.

Dulu ia sering menganggap perhatian kecil kedua orang tuanya sebagai hal biasa.

Kini, setelah kehilangan mereka, setiap kata terasa begitu berharga.

"Mama buat bekal buat kamu," ujar Hesti.

"Ma, Karin sudah kuliah."

"Memangnya anak kuliah tidak boleh dibawakan bekal?"

Pak Wirawan tertawa.

"Mama mu memang begitu."

Karin ikut tertawa kecil.

"Terima kasih, Ma."

Hesti mengusap pelan pipi putrinya.

"Jangan lupa makan siang."

"Iya."

Untuk sesaat Karin hanya memandangi kedua orang tuanya. Dalam hati ia berjanji akan menjaga senyum mereka selama mungkin.

-

-

-

Perjalanan menuju kampus terasa berbeda. Jalanan yang dulu begitu akrab kini terasa asing sekaligus penuh kenangan.

Karin sengaja memilih naik angkutan umum. Ia ingin menikmati setiap sudut kota yang pernah menjadi bagian dari masa mudanya.

Saat kendaraan berhenti di depan gerbang kampus, napasnya tertahan.

Gedung fakultas masih berdiri megah. Lapangan tempat mahasiswa berkumpul masih ramai. Bahkan penjual es teh di depan gerbang masih orang yang sama.

"Benar-benar kembali..."

gumamnya lirih.

"Karin!"

Seseorang memanggil dari belakang.

Karin menoleh.

Seorang gadis berambut sebahu melambaikan tangan sambil berlari kecil menghampirinya.

"Nia."

Nama itu keluar begitu saja dari bibir Karin.

Nia justru berhenti.

"Kok kamu tahu namaku?"

Barulah Karin sadar.

Di masa ini mereka bahkan belum akrab.

Mereka baru beberapa kali bertemu di kelas.

"E... waktu orientasi, aku dengar teman-teman manggil kamu."

"Oh..."

Nia tersenyum.

"Aku kira kita sudah pernah kenalan."

Karin mengembuskan napas lega.

"Hari ini kelas jam berapa?" tanya Nia.

"Jam delapan."

"Sama. Yuk bareng."

Mereka berjalan berdampingan memasuki area kampus.

Nia ternyata cerewet, persis seperti yang diingat Karin. Ia bercerita tentang dosen yang galak, tugas yang menumpuk, hingga kantin baru yang makanannya murah.

Karin hanya sesekali menanggapi. Pikirannya justru sibuk mengingat sesuatu.

Hari ini...

Bukankah ada kejadian besar?

Ia mencoba mengingat tanggal.

Lalu matanya membelalak.

Hari ini adalah hari ketika nama Kai mulai dikenal seluruh kampus.

Brak!

Suara benturan keras terdengar dari arah parkiran. Disusul teriakan beberapa mahasiswa.

"Berantem!"

"Cepat lihat!"

Mahasiswa yang berada di sekitar koridor langsung berlarian menuju sumber suara.

Nia ikut penasaran.

"Ayo!"

Karin mengangguk.

Meski sudah mengetahui apa yang akan terjadi, ia tetap mengikuti kerumunan.

Semakin dekat, suara keributan semakin jelas.

"Berani sekali kamu melawan senior!"

"Bukannya melawan."

Suara seorang pria terdengar datar.

"Aku cuma tidak suka melihat kalian memalak mahasiswa baru."

Kalimat itu membuat langkah Karin terhenti.

Kai.

Di tengah kerumunan berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi dengan seragam yang sedikit kusut. Rambut hitamnya tampak berantakan. Dan tatapannya dingin.

Di depannya, berdiri tiga mahasiswa bertubuh besar. Salah seorang dari mereka mencengkeram kerah baju Kai.

"Kamu cari mati!"

Bugh!

Sebuah pukulan melayang. Namun Kai menghindar dengan mudah. Dalam satu gerakan cepat, ia memutar tubuh lawannya hingga pria itu terjatuh keras ke aspal.

Semua yang menyaksikan terkejut. Dua senior lainnya langsung maju bersamaan.

Kai tetap tenang.

Ia menghindari satu pukulan, menangkis pukulan berikutnya, lalu mendorong salah satu lawannya hingga menabrak temannya sendiri.

Bruk!

Keduanya jatuh bersamaan. Sorak kagum terdengar dari berbagai arah.

"Hebat..."

"Itu Kai, kan?"

"Pantas saja banyak yang takut sama dia."

Karin memperhatikan tanpa berkedip. Di kehidupan sebelumnya, ia hanya mendengar gosip bahwa Kai suka berkelahi. Tidak ada yang pernah menceritakan penyebabnya.

Ternyata...

Kai berkelahi karena membela mahasiswa baru.

Seorang anak laki-laki bertubuh kurus yang sejak tadi gemetar akhirnya memberanikan diri mendekat.

"Kak... terima kasih."

Kai hanya melirik sekilas.

"Lain kali jangan kasih uang ke mereka."

"Iya, Kak."

"Lapor kalau diancam."

Anak itu mengangguk berkali-kali.

Melihat kejadian itu, hati Karin sedikit tersentuh. Selama ini semua orang hanya melihat Kai sebagai pembuat onar. Padahal tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Tak lama kemudian beberapa dosen datang.

"Ada apa ini?"

Kerumunan langsung bubar. Ketiga senior yang tadi berkelahi berdiri dengan wajah kesal.

"Semuanya ikut ke ruang dekan!"

Kai mengangkat tasnya yang jatuh. Tanpa membantah, ia mengikuti dosen itu.

Saat melewati kerumunan...Tatapannya bertemu dengan Karin.

Entah mengapa, Kai menghentikan langkahnya. Mereka saling memandang beberapa detik.

"Kita pernah bertemu?" tanya Kai.

Karin terdiam.

Belum.

Seharusnya mereka memang belum pernah berbicara.

"Belum."

Kai mengangguk pelan.

"Maaf."

Ia kembali berjalan meninggalkan tempat itu.

Nia langsung menyenggol lengan Karin.

"Astaga."

"Kamu ditanya Kai."

"Iya."

"Katanya dia itu dingin sama semua orang."

Karin hanya tersenyum kecil.

Ia juga heran. Mengapa Kai tiba-tiba menyapanya?

-

-

-

Sepanjang perkuliahan, pikiran Karin sulit berkonsentrasi. Wajah Kai terus terbayang.

Bukan karena ketampanannya. Melainkan karena kenyataan bahwa semua gosip tentang pria itu ternyata tidak sepenuhnya benar.

Mungkin...

Orang-orang hanya melihat akibatnya. Bukan penyebabnya.

Saat jam kuliah berakhir, Karin dan Nia berjalan menuju gerbang kampus. Namun langkah Karin kembali terhenti.

Di bawah pohon mahoni yang rindang, ia melihat seseorang sedang berdiri sambil bersandar pada sebuah mobil hitam. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan senyum yang begitu dikenalnya.

Gio.

Jantung Karin langsung berdegup keras.

"Apa yang dia lakukan di sini?"

Nia ikut menoleh.

"Kamu kenal?"

Karin belum sempat menjawab.

Gio sudah lebih dulu melambaikan tangan.

"Karin!"

Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arah mereka.

Gio berjalan menghampiri dengan senyum ramah.

"Aku kebetulan ada urusan di dekat sini," katanya. "Sekalian ingin memastikan kamu sudah sampai kampus dengan selamat."

Ucapan itu terdengar manis. Namun Karin tahu, semuanya hanyalah alasan.

Pria itu mulai mengejarnya.

Dan yang membuatnya semakin gelisah...

Dari kejauhan, Kai yang baru keluar dari gedung fakultas tanpa sengaja melihat pemandangan itu. Tatapannya bergantian mengarah kepada Gio dan Karin.

Untuk pertama kalinya, wajah Kai yang selalu datar memperlihatkan sedikit rasa penasaran.

Sementara Karin hanya bisa menghela napas pelan. Masalahnya ternyata datang lebih cepat daripada yang ia duga.

-

-

-

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!